{JOEN FAMILY STORIES S3} JUNGWOO’S DONGSAENG (MIXED POV

{JOEN FAMILY STORIES S3} JUNGWOO’S DONGSAENG (MIXED POV

-JK’S POV-

Aku masuk ke kamar, baru saja selesai menemani Jeongsan mengerjakan tugas sekolahnya sambil chatting dengan kakak-kakakku di grup chat Bangtan. Kudapati Jungwoo duduk di atas tempat tidur seraya memegang sebuah boneka bayi laki-laki. Boneka pemberian Jimin Hyung yang entah ada sebab apa, datang-datang saat makan malam dan membawa boneka untuk Jungwoo.

Padahal dia kan tahu Jungwoo itu anak laki-laki.

Kenapa memberikan boneka untuknya?

Sementara itu, kulihat kau baru selesai mengganti pakaian. Berjalan menuju kamar mandi saat aku menghampiri Jungwoo dan bonekanya.

“Appa, adik Jungwoo.” Jungwoo memperlihatkan boneka bayi laki-laki berwarna cokelat itu seraya memperkenalkan bahwa itu adiknya.

“Itu bukan adik, Jungwoo,” responsku, “itu boneka.”

“Adik Jungwoo,” tegasnya.

“Tapi, itu boneka.”

“Adik Jungwoo, Appa.”

“Boneka bayi.”

Salah satu kegiatan menyenangkan sejak keberadaan Jungwoo adalah menggoda Jungwoo. Sifatnya yang egois entah kenapa membuatku terpancing. Serius! Adik apanya? Itu cuma boneka yang dibeli Jimin Hyung di sebuah toko boneka.

“Adik Jungwoo.”

“Ya! Warna matanya saja beda. Jungwoo warna hitam, Appa warna hitam, Eomma warna hitam, Nuna warna hitam, Hyung warna hitam. Masa adik Jungwoo warna matanya cokelat?”

Mata Jungwoo mulai berkaca-kaca dan raut wajahnya mulai tidak enak untuk dilihat. Jika aku menggodanya sekali lagi, dia pasti akan menangis. “Eomma~” gumamnya pelan dengan bibir yang bergetar.

Belum kugoda saja, dia sudah menangis duluan.

“Aaah, Appa mau ke kamar mandi, aaah~”

Buru-buru aku meninggalkan Jeon kecil kita sebelum kau kembali padanya, dan dia mengadu.

***

-YOUR POV-

“CKLEK!”

Jungkook tiba-tiba saja masuk ke kamar mandi saat aku sedang berkumur-kumur, barusan selesai menyikat gigi. Tadi, aku masih sempat melihatnya mengenakan kaus putih saat masuk ke kamar. Sekarang, kulihat kaus putih itu sudah ia tanggalkan.

“Ada apa?” tanyaku. Aku masih bisa mencium bau segar dari odol yang kupakai.

Aku dan Jungkook berdiri berhadapan. “Tidak apa-apa. Aku hanya membicarakan sesuatu saja.”

“Kalau mau bicara, kenapa tidak tunggu setelah aku keluar dari kamar mandi, sih? Kan sebentar lagi aku selesai. Tidak usah menyusulku segala, kan?”

“Yang mau kukatakan belum pantas didengar oleh Jungwoo.”

Pandangan matanya yang—uh, bagaimana mengatakannya, ya? Itu pandangan yang biasa kulihat saat dia ingin membicarakan sesuatu yang ‘menggoda’. Didukung dengan pernyatannya barusan—belum pantas didengar oleh Jungwoo. Omongannya pasti menjurus ke arah yang tidak-tidak.

“Tahu tidak, Jungwoo bilang padaku, boneka yang diberikan Jimin Hyung padanya itu adalah adiknya.”

“Iya, dia katakan padaku tadi. Terus?”

“Sepertinya …,” aku mendengar adanya perubahan nada suara, “Jungwoo mau punya adik, Sayang. Tapi, masa adiknya boneka, sih?”

Aku tahu arah pembicaraan ini. “Kamu … mau berbicara tentang anggota keluarga baru lagi?”

“Buat Jungwoo. Bukan buatku.”

Alasan.

Aku menghela napas. “Jeon, kamu tahu kan waktu mengandung Jungwoo, kondisiku seperti apa? Waktu melahirkan Jungwoo juga seperti apa? Kalau mau minta jatah, tidak usah bawa-bawa nama Jungwoo.”

“Yaaa~!”

“Aku tahu kamu. Tidak perlu terlihat seperti ‘ayah yang pengertian’ kalau di balik itu sebenarnya kau mau minta jatah!”

“Kalau kamu mengerti, jadi …” untuk kesekian kalianya Jungkok mengimpit tubuhku tiba-tiba, “bisakah kuambil sekarang?”
Percayalah, permintaan izinnya itu hanya sebuah formalitas belaka sebab kuizinkan ataupun tidak, Jungkook tetap akan melakukan apa yang ingin dia lakukan padaku. Pertanyaannya belum kuiyakan, tapi kedua tangannya telah merengkuhku ke dalam pelukannya. Pun, kecupan-kecupan mulai terasa di belakang telingaku.

“Jeon?”

Aku berusaha menghindarkan tubuhku dari serangan kecupan yang bertubi-tubi. Namun, ini selalu menjadi hal sulit, terlebih saat kelinci-yang-sedang-dikuasai-nafsu ini mengencangkan pelukannya di pinggang.

“Jeon …, please, we need to—mmh.”

Kecupan di belakang telinga itu berpindah ke bibir. Otakku menyuruh untuk segera berhenti, tetapi tubuhku malah mencoba untuk mengkhianati. Pertentangan untuk melanjutkan atau menghentikan segala aktivitas membuatku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku perempuan normal.
Saat suamiku mengajakku melakukan “sesuatu” seperti sekarang, apalagi dia telah dan masih memberi serangan yang membuat hormone tertentu di dalam tubuhku meningkat, aku ingin membalas perbuatannya. Akan tetapi, di sisi lain, Jungwoo-ku sendirian di luar—oke, dia ditemani bonekanya. Dia mungkin sudah mengantuk, mau tidur.

“Jeon, aku—mmh … nggh …”

Salah satu tangan nakalnya meremas bokongku. Tanpa sadar membuatku meloloskan lenguhan.

“EOMMA!”

Teriakan putra kecilku terdengar.
“Jeon … hhh, Jungwoo berteriakhh ….”

Kecupan itu berpindah ke bahu kiri dan tangannya mulai menyelinap ke dalam pakaianku. “Bilang padanya, Appa sedang berusaha membuatkan adik untuknya.”

Apa-apaan?

“Jeon, phleasehh …, Jungwoo mencariku.” Aku memukul pundaknya.

“EOMMA!!!”

“Jheoon, Jungwoo membutuhkanku.”

Kecupan-kecupan itu tidak terasa lagi. Begitu juga dengan pergerakan tangan nakalnya. “Aku juga membutuhkanmu,” tuturnya. Terdengar egois memang.

“Ya! Jungwoo itu anakmu.”

“Tapi, aku suamimu.”

“Aku mau membuatkan susu untuk Jungwoo.”

“Ya! Kau pikir appa-nya Jungwoo juga tidak mau susu?”

Ish! Maksudnya apa, sih? Dasar!

“Aku harus menidurkan Jungwoo sekarang!”

“Kau juga harus menidurkan Jungkook kecil yang sudah terlanjur bangun.”

Aku memukul dadanya lebih keras daripada pukulanku pada pundaknya. Dia ini bisa saja menentang setiap ucapan yang kukeluarkan. Kalimat pertentangannya seperti itu pula. Ck!

“Jangan bicara macam-macam, ah. Lepaskan aku. Aku mau keluar.”

Kuraih kedua tangannya, melepaskannya dari tubuhku. Jungkook masih sempat mencuri cium pipi kiriku saat aku beranjak ke pintu, keluar dari sana. Kulihat Jungwoo-ku masih duduk di atas tempat tidur. Melihatku, dia langsung mengeluarkan pernyataan bahwa dia mau minum susu.

“Iya. Jungwoo tunggu sebentar.”

Aku beringsut ke dapur, membuatkan susu botol untuk Jeon kecil. Begitu aku kembali, Jungkook baru keluar dari kamar mandi. Tangannya basah. Hmmm? Aku menatapnya sekian detik. Sungguh tidak bermaksud apa-apa, tapi dia lebih dulu berkata, “Apa? Aku hanya selesai cuci tangan. Tidak melakukan apa-apa.”

“Siapa juga yang menuduhmu melakukan apa-apa, hm?”

Bersamaan dengan Jungkook, kuhampiri Jungwoo. Dia langsung merebahkan tubuhnya begitu memegang botol susu yang kuberikan padanya. Aku pun berbaring di sebelahnya, bersiap untuk tidur. Jungkook melakukan hal yang sama, tapi …

“Ya, Jeon Jungwoo?”

Jungwoo tidak menyahut, tetapi menoleh ke arah ayahnya.

“Tadi Appa hampir membuat adik untukmu. Tapi, karena kau berteriak, adiknya tidak jadi.”

Jungwoo melepaskan botol susu dari mulutnya.
“Aaaa … buat adik Jungwoo!”

Ha?

“Kau dengar, kan? Bukan aku yang minta, lho.” Jungkook melihat ke arahku, terkekeh sendiri.

Kuambil boneka milik Jungwoo, lalu kulemparkan ke arahnya.

“Aaa, Eomma!” Jungwoo memekik. “Adik Jungwoo.”

=THE END=

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s