{JEON FAMILY STORIES S3} MIDDLE CHILD

{JEON FAMILY STORIES S3} MIDDLE CHILD

 

YOUR POV-

NUNA! HYUNG! JANGAN BERISIK!!!”

Aku sedang berada di ruang tengah ketika kudengar Taya meneriakkan nama Jeongsan di lantai atas. Aku tidak tahu apa yang mereka ributkan kali ini. Mereka berdua nyaris seperti Tom dan Jerry yang sedang ditonton Jungwoo di televisi—Taya adalah Tom, Jeongsan adalah Jerry.

“Tucin (kucing) datuh (jatuh), Eomma.” Jungwoo menunjuk televisi. Tom jatuh setelah dijahili Jerry.

“Iya, kucingnya jatuh,” ulangku sambil memakaikan celana padanya.

“JEONGSAAAAN!!!”

NUNA!” Aku menegur lagi.

“JEONGSAN NAKAL, EOMMA!”

Jungwoo menunjuk ke atas. “Nuna libut.”

Jungwoo telah selesai berpakaian. Aku hendak mengembalikan bedak dan minyak telon ke dalam kamar ketika Jeongsan melompat dari tangga, nyaris menabrakku. Ia lantas berlari kencang menuju kamarnya yang berhadapan langsung dengan tangga. Aku baru mau melangkah saat Taya juga melompat dari tangga, mengejar Jeongsan sambil berteriak.

“JEONGSAAAAN!!!”

Aku beruntung memiliki jantung yang kuat. Kalau tidak, aku pasti sudah mati karena kegaduhan sore ini.

Ya! Ya! Ada apa ini?”

“Jeongsan mengambil cat airku, Eomma!” sambar Taya.

“JEONGSAN?”

Pintu kamar Jeongsan terbuka. Kepalanya muncul dari balik pintu. “Aku cuma mau pakai sebentar, Nuna!”

“Kau kan cuma mau pakai buat main-main! Aku masih mau memakainya untuk tugas sekolahku!”

Aku mendengus. Bukan pertama kalinya mereka bertengkar karena cat air. Berbeda dengan Taya yang memang bergabung di klub melukis di sekolah, Jeongsan hanya memakai cat air untuk bermain.

“Jeongsan, kembalikan cat air Taya Nuna,” ujarku.

Kulihat putraku memberengut, lalu mengeluarkan beberapa bungkus cat pasta dari kantung celananya. Alih-alih mengembalikannya dengan baik, Jeongsan malah melemparkan cat-cat itu ke lantai. Sejurus kemudian, ia membanting pintu kamarnya.

“Bandel!” Taya memukul daun pintu kamar Jeongsan.

“Ya! Ya! Ada apa ini?” tanya Jungkook yang baru tiba di rumah. Seraya melonggarkan dasinya, priaku itu lantas bertanya lagi, “Kenapa cat lukismu berantakan, Jeon Taya?”

“Bukan aku! Tuh! Jeongsan!” adunya sembari berjongkok untuk memungut cat-cat pastanya di lantai.

Priaku hanya menghela napas panjang. Taya yang baru selesai memungut barang-barangnya, dengan langkah lebar, tegas, dan cepat, bergerak menuju kamarnya. Aku turut menghela napas panjang. Anak-anak ini.

Appa, Eomma, tucinnya catit (sakit) pala.” Sekali lagi Jungwoo bersuara sambil menunjuk layar televisi. Tom, entah karena apa, terlihat kesakitan. Burung-burung kecil berputar-putar di sekitar kepalanya.

Eomma juga sakit kepala karena kakak-kakakmu, Jeon Jungwoo.”

***

“AAAA!!! JUNGWOO MAU! JUNGWOO MAU!!!”

Hah! Teriakan apa lagi itu?

“JUNGWOO MAU, JONGCHAN HYUNG!!! HUWAAAAA!!! EOMMAAAAAA!!!”

“JEON JEONGSAAAAAAN!!!” Aku yang sedang menyiapkan makan malam, berteriak lagi.

“AKU JUGA MAU MAIN INI, JUNGWOO!”

“JUNGWOO MAUUU!!!”

Aish! Jungkook mana, sih?

YA! YA! Ada apa ini ribut-ribut?” Aku baru tiba di ruang tengah ketika kulihat suamiku berdiri di ambang pintu kamar kami, menegur dua orang putra kami yang sedang memperebutkan robot-robotan.

“Jungwoo mau,” adu Jungwoo.

“Aku juga mau main robot-robotan ini, Appa,” timpal Jeongsan tak mau kalah.

“Jeongsan Hyung mengalah sama adik Jungwoo,” celetukku.

Jeongsan yang memegang robot, sekali lagi menunjukkan wajah memberengutnya. Dia terlihat tidak mau memberikan benda yang berada di tangannya pada adiknya.

“Jungwoo mau, Eomma.” Jungwoo menghampiriku, menunjuk robot yang ada di tangan kakaknya.

“Jeongsan?” Aku dan Jungkook bersuara nyaris bersamaan.

“INI AMBIL!!!” Jeongsan membanting robot itu ke atas karpet, tepat di dekat kaki adiknya. Aku dan Jungkook terkejut. Tangisan Jungwoo meledak.

“JEON JEONGSAN!” Nada Jungkook meninggi.

“Ambil semuanya! Jeongsan tidak punya apa-apa di rumah! Semua yang di rumah punya Taya Nuna sama Jungwoo … huhuhuhu!”

Sementara aku berusaha menggendong Jungwoo, meredakan tangisannya, kulihat Jeongsan-ku juga mengalirkan air mata di sana.

Appa sama Eomma cuma sayang sama Nuna dan Jungwoo. Appa dan Eomma tidak sayang Jeongsan … huhuhu!”

Aku dan Jungkook saling berpandangan. Kutahu dia juga merasa bersalah dan menyesal sudah membentak Jeongsan.

“Jeongsan cuma pinjam cat air sebentar. Jeongsan cuma mau main robot-robotan sebentar … huhuhu. Kenapa Jeongsan tidak boleh main dengan barang-barang di rumah … huhuhu? Kapan giliran Jeongsan … huhuhu?” Jeongsan mengusap air mata yang telah membanjiri wajahnya. “Appa dan Eomma jahat!”

Aku dan Jungkook saling berpandangan lagi.

Seakan mengerti, Jungkook menghampiri Jeongsan dan menggendongnya menuju kamar. Kulihat Jeongsan mengamuk, menangis meraung-raung sambil memukul tubuh ayahnya, minta diturunkan.

Selama menjadi orang tua, aku paling takut mendengar kata-kata itu. Appa dan Eomma jahat.

Aku … merasa gagal menjadi seorang ibu.

***

-JK’s POV-

Jeongsan masih memberontak, memukul-mukul tubuhku saat aku menggendongnya menuju kamarnya. Suara tangisannya masih terdengar kendati aku memintanya untuk diam.

Appa dan Eomma jahat!”

Appa dan Eomma cuma sayang pada Taya Nuna dan Jungwoo!”

Appa dan Eomma tidak sayang pada Jeongsan!”

Batinku tergores saat kata-kata itu keluar dengan mudah dari mulut Jeongsan. Semacam ada perasaan gagal menjadi orang tua, menjadi ayah yang baik. Aku selalu tahu menjadi orang tua bukanlah perihal mudah meski aku sudah berusaha melakukannya sebaik mungkin. Nyatanya, menurut Jeongsan, aku dan ibunya tidak sayang padanya. Bukankah itu sebuah penilaian yang buruk?

Oke. Kuakui, terkadang aku lebih condong memperhatikan Taya. Dia anak pertama. Dia kakak. Aku memiliki harapan besar padanya agar bisa menjadi panutan bagi Jeongsan dan Jungwoo. Begitu pun kamu. Mungkin di mata Jeongsan, kamu terlihat lebih condong pada Jungwoo yang belum bisa apa-apa.

Jeongsan yang menjadi anak tengah … merasa tersisihkan.

Ya! Ya! Kenapa Jeongsan bicara seperti itu? Itu tidak benar. Appa dan Eomma menyayangi Jeongsan juga.”

“Bohong! Appa bohong! Appa dan Eomma tidak sayang pada Jeongsan … huhuhu.”

Bahu dan dadaku sudah terasa sakit karena pukulan Jeongsan.

“Ya, sudah. Appa dan Eomma minta maaf kalau membuat Jeongsan merasa tidak disayangi. Appa dan Eomma sayang pada Jeongsan, sama seperti Appa dan Eomma menyayangi Taya Nuna dan Jungwoo.” Aku berusaha menyeka air mata yang benar-benar membanjiri wajahnya.

Appa bohong.”

Meski kalimat itu masih terdengar, tetapi tangisannya perlahan mereda.

“Tidak. Tidak. Appa dan Eomma tidak bohong. Appa dan Eomma juga sayang Jeongsan. Jeongsan hanya belum mengerti.”

Jagoanku tidak membalas ucapanku lagi. Dia kini hanya menangis tersedu-sedu dalam gendonganku.

Aku tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi anak tengah—posisi yang membuatmu punya kakak dan adik. Mungkin itu yang membuatku tidak mengerti apa yang dirasakan Jeongsan. Kupikir, aku harus lebih banyak mencari tahu tentang ini pada “anak tengah” yang kukenal. Ah, kapan-kapan aku harus mengobrol dengan Kyuhyun Hyung. Dia anak tengah.

Tangisan Jeongsan sudah reda. Namun, tangannya masih melingkar di leherku. Kepalanya masih bersandar di dadaku. Tak lama, kamu membuka pintu kamarnya, memanggil kami untuk makan malam.

“Cha. Jagoan, mau makan, hm?” bisikku di telinganya.

“Mau. Tapi disuap,” lirihnya.

Aku menatapmu yang masih berdiri di pintu. Kamu menghela napas.

“Ya, sudah. Appa suap.”

=THE END=

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s