{JEON FAMILY STORIES S3} APPA’S ANGER (MIXED POV)

{JEON FAMILY STORIES S3} APPA’S ANGER (MIXED POV)

A/n: Aku hampir lupa kalo ini hari Jumat wkwk. Maaf agak telat. Happy reading.

Jeongsan! Jungwoo! Jangan berisik. Appa sedang kerja.”

Aku tengah merekap barang yang kujual bulan ini saat dua jagoanku bermain kejar-kejaran, mengeluarkan suara yang berisik. Keduanya bermain di ruang tengah, di depan televisi. Sementara itu, Jungkook berada di ruang tamu, menyelesaikan pekerjaan yang dia bawa dari kantor. Biasanya, dia bekerja di dalam kamar, tetapi malam ini dia dibantu oleh dua orang stafnya sehingga dia memutuskan untuk “pindah ruang kerja”.

Priaku bercerita bahwa ada sedikit masalah dengan laporan pertanggungjawaban keuangan di divisinya. Jadi, sebagai manajer, dia tentu punya tanggung jawab untuk menyelidiki kesalahan dan memperbaikinya.

Ya! Jeongsan Hyung, jangan ajak adik Jungwoo main kejar-kejaran, ah. Main yang lain saja.”

Jujur, aku sedikit pusing dengan dua bocah yang berkeliaran di sekitarku saat aku sedang sibuk menghitung. Tadinya ingin merekap di kamar saja, tetapi dua monster kecil ini harus diawasi agar tidak mengganggu Jungkook dan rekannya.

“Ayo, Jungwoo, kita main robot-robotan.”

Kualihkan sejenak atensiku pada Jeongsan. Si Ranger Merah itu membuka boks mainan yang kuletakkan di dekat lemari televisi, mengeluarkan dua buah robot dari sana. Satu robot memang miliknya, satu robot lagi milik Jungwoo. Begitu keduanya duduk di karpet, mulai memainkan robot yang mengeluarkan suara-suara aneh itu, aku kembali fokus dengan pekerjaanku.

Bulan ini cukup banyak penjualan dari online shop milik Ahra Eonni yang menjadi tanggung jawabku. Syukurlah, uang jajan bulan ini bertambah dari uang jajan bulan lalu hihihi. Tapi, tetap saja yang kusebut “uang jajan” ini, separuhnya harus aku sisihkan untuk masa depan anak-anak.

“JEONGSAN!!!”

Bentakan Jungkook membuatku mengalihkan fokusku. Kututup buku catatanku, lantas mengecek apa yang terjadi. Dan—oh, Tuhan! Aku melihat cangkir kopi di atas meja menjadi berantakan, membasahi beberapa lembar dokumen-dokumen milik Jungkook. Kulihat bola baseball milik Jeongsan tergeletak di dekat salah satu kaki meja.

“KAN SUDAH APPA BILANG, JANGAN MAIN LEMPAR-LEMPARAN!”

Kedua mata suamiku melotot pada putra pertamanya. Wajahnya terlihat sangar, tidak seperti Jungkook yang biasa. Dia bahkan berdiri dari duduknya. Sementara itu, suara isakan terdengar dari Jeongsan.

“MAKANYA, KALAU APPA BICARA ITU DIDENGARKAN!!!”

“Jeon-a!” Aku menegur, sengaja dengan volume yang lebih rendah agar priaku tidak semakin jengkel. “Jeongsan tidak sengaja.”

“Kamu juga! Kenapa tidak mengawasi anak-anak?”

Ya, Tuhan. Jungkook sepertinya benar-benar marah. Dia lupa kalau dua orang stafnya ada di sini.

Belum sempat kurespons kalimatnya, Jeongsan menangis. Lebih penting meredakan tangis Jeongsan daripada harus menanggapi kalimat suamiku. Terserah saja! Aku tidak suka siapa pun memarahi anakku, termasuk Jungkook!

“Huhuhuhu … huhuhu … huhuhu.”

Aku menggendong Jeongsan masuk ke kamarnya. Uh, Ya Tuhan, putraku sudah berat sekali rupanya. Aku nyaris tidak bisa menggendongnya. Tiba di kamarnya, Jeongsan masih menangis. Kepalanya masih bersandar di bahu kiriku. Aku bisa merasakan bajuku di bagian bahu menjadi basah.

“Ya, Jeongsan, sudah. Jangan menangis. Tadi Appa tidak serius memarahi Jeongsan.” Aku mengelus punggungnya.

“Jeongsan takut, Eomma … huhuhuhu. Jeongsan takut pada Appa … huhuhu. Appa jahat … huhuhu.”

“Karena Jeongsan nakal, makanya Appa marah. Lain kali, Appa bicara, harus didengar, mengerti?” tuturku. “Sudah. Jangan menangis. Ranger merah mana boleh menangis?”

Tangisan Jeongsan malah semakin kencang, berbanding lurus dengan pelukannya di leherku. Di saat yang sama, Jungwoo masuk ke kamar kakaknya, menyusulku.

Eomma Jungwoo,” ujarnya begitu melihat Jeongsan ada di pangkuanku, memelukku. Dia memanjat tempat tidur Jeongsan, berdiri di sebelahku dengan tangan mungilnya yang berusaha melepaskan tangan Jeongsan yang memeluk leherku. “Eomma Jungwoo.”

Aish! Jeongsan Hyung sedang menangis, Jungwoo. Jangan diganggu,” kataku padanya.

“Nanish? Jeongchan Hyung nanish?” ulangnya.

“Iya, Jeongsan Hyung menangis. Coba hibur dia.” Aku menuntun Jungwoo sekalian mengajarnya bicara. “Coba bilang, ‘Jeongsan Hyung jangan menangis’.”

“Jeongchan Hyung nanish. Jeongchan Hyung nanish,” katanya sambil menepuk-nepuk tanga Jeongsan.

Entah kenapa, aku merasa Jungwoo malah menyusuh kakaknya agar menangis lebih kencang.

“Jeongchan Hyung nanish. Nanish.”

***

-JUNGKOOK POV-

Appa, bangun! Sudah hampir pukul tujuh.”

Suara gadisku terdengar, menarikku dari alam mimpi. Aku menggeliat, menguap, kemudian membuka mata. Kutengok jam di atas nakas, lima belas menit lagi pukul tujuh. Ya Tuhan, sudah pagi saja. Masih ingin tidur.

Eomma sudah bikin sarapan. Appa cepat mandi, terus sarapan.”

Setengah malas, aku menegakkan tubuhku. Mataku seperti dipenuhi pasir. Aku benar-benar kurang tidur lantaran pekerjaan yang begitu banyak semalam. Ditambah lagi ulah Jeongsan yang membuat beberapa dokumen harus dirapikan lagi dari awal. Ck!

Setelah beberapa menit, dalam keadaan sudah mengenakan kemeja dan celana, aku beranjak ke dapur. Kudapati Taya sedang menyantap roti bakar, sedangkan Jungwoo menikmati sereal di bangku khusus bayinya. Susu cair kuah sereal yang ia suapkan ke mulutnya menetes di dagu. Sementara itu, kamu masih tampak berdiri di dekat kompor, menuangkan sesuatu dari panci ke mangkuk berukuran kecil. Bubur.

“Siapa yang mau makan bubur?” tanyaku.

“Jeongsan,” sahutmu. “Dia sakit. Badannya panas.”

Terbesit rasa bersalah di benakku. Semalam aku memarahinya. Mungkin karena itu dia jadi jatuh sakit.

“Dia takut karena aku marahi, ya?”

“Begitulah.”

Aku mengembuskan napas pasrah.

Kamu meletakkan bubur di meja agar uap panasnya cepat hilang. Pun, kamu mengeluarkan obat penurun panas dari lemari, meletakkannya di dekat mangkuk. “Kenapa diam saja? Ayo, sarapan. Sudah hampir pukul setengah delapan. Kau harus mengantar Taya ke sekolah.”

Aku menyantap roti bakar dan secangkir kopi yang sudah kamu siapkan. Begitu semuanya tandas, aku bergerak ke kamar Jeongsan. Aku ingin melihat kondisinya. Namun, putraku itu sedang terlelap saat aku masuk ke kamarnya. Sebuah plester penyerap panas terpasang di dahinya. Aku menyentuh pipi juga tangannya, sekadar mencari tahu sepanas apa tubuhnya.

Uuh, cukup panas. Mungkin 39 sampai 40 derajat.

Astaga.

***

Aku pulang dari kantor sedikit terlambat hari ini. Aku masuk ke rumah lewat pintu samping. Kuletakkan tas di sofa ruang tengah, berjalan ke dapur sebab suara ribut terdengar dari sana. Jungwoo sedang memukul-mukul mejanya dengan sendok makan.

“Uh? Sudah pulang?” Kamutampak terkejut. “Katamu pulang pukul delapan. Pekerjaanmu sudah selesai?”

“Um, begitulah,” sahutku sembari melepas satu per satu kancing kemejaku. “Jeongsan mana?”

“Di kamar.”

“Sudah makan?”

“Belum. Aku baru mau membawakan bubur untuknya.”

“Biar aku yang bawakan.”

Kamu menyuruhku mengganti pakaian terlebih dahulu, kemudian kembali ke dapur untuk mengambil makan malam Jeongsan. Sebuah nampan dengan mangkuk berisi bubur, segelas air putih hangat, dan sebotol obat penurun panas untuk anak kuantarkan ke kamar.

Saat aku masuk, Jeongsan sedang berbaring sambil memainkan figure ranger merah dan monster berwarna ungu—entah monster apa namanya. Namun melihatku, dia buru-buru melepaskan mainannya, kemudian menarik ujung selimut sehingga seluruh tubuhnya tertutupi. Kuletakkan nampan yang kubawa di atas nakas, lantas membujuknya.

Ya! Jagoan, sudah waktunya makan malam.”

Tidak ada pergerakan dari bawah selimut.

“Jeon Jeongsan, ayolah. Sudah waktunya makan. Kau harus minum obat kalau mau sembuh.”

Dia tampaknya tidak mau bicara denganku atau mungkin takut bicara padaku. Aku menghela napas.

“Ya! Jeon Jeongsan, tadi malam itu Appa tidak bermaksud membentak Jeongsan. Jeongsan kan tahu Appa sedang bekerja. Siapa pun bisa marah jika diganggu, kan? Taya Nuna biasanya marah kalau Jeongsan ganggu. Jeongsan juga marah kan kalau adik Jungwoo mengganggu Jeongsan bermain game atau menonton ranger?”

Pelan, aku menurunkan selimut yang menutupi kepalanya. Kami sempat berkontak mata, tetapi Jeongsan buru-buru mengalihkan wajahnya.

Appa minta maaf soal semalam. Maaf karena Appa sudah memarahi Jeongsan.”

Putraku memandang ke arah lain—arah mana pun selain aku.

Cha! Bangun. Jeongsan harus makan kalau mau sembuh.”

Tanpa berkata apa-apa, dia menuruti ucapanku. Aku membantunya mengambil posisi duduk, menyanggah punggungnya dengan bantal agar dia bisa bersandar dengan aman. Aku mengambil mangkuk bubur, menyuapkan sesendok untuknya.

“Yang semalam tidak usah dipikirkan lagi, ya?” ujarku, menunggu ia menelan bubur di dalam mulutnya sebelum kusuapkan lagi sesendok berikutnya.

Jeongsan mengangguk. Aku baru mau mengarahkan sendok ke mulutnya, putraku lebih dulu berkata, “Maaf Jeongsan sudah nakal, Appa.” Dia menundukkan kepalanya. “Jeongsan tidak sengaja.” Putraku memainkan jarinya.

Kuletakkan sendok di mangkuk, lantas tanganku yang kosong itu kugunakan untuk mengacak rambutnya dengan lembut. “Lain kali, kalau main harus hati-hati. Jangan sampai mengganggu orang lain, mengerti?”

“Iya, Appa.”

“Janji?” Kuarahkan tinjuku padanya.

Dia membenturkan tinju mungilnya pada tinjuk. “Janji, Appa.”

Cha! Ayo, makan lagi. Kau harus minum obat, lalu tidur supaya besok bisa berangkat sekolah.”

“Jeongsan tidak mau masuk sekolah besok, Appa.”

“Kenapa?”

“Ada tugas, tapi Jeongsan belum mengerjakannya.”

Ya Tuhan, anak ini.

-the end

Ps. Mari berteman 🙂
IG: anditianurul (personal) / jk.nuna (fanacc)
Line: anurulr
BBM: D53A51B9

Ga usah sungkan ya, saya ga galak kayak Junmi kok :v

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s