{JEON FAMILY STORIES S2} MY SON

{JEON FAMILY STORIES S2} MY SON

G / VIGNETTE / FAMILY / {JEON FAMILY STORIES S2} MY SON

Aku yang akan menjemput Jeongsan hari ini. Sekalian aku mau ke tempat Ahra Eonni.”

“Oh, ya sudah kalau begitu.”

“Eum. Sudah, ya. Selamat bekerja.”

“Oke, Sayang. Jangan merindukanku, ya.”

“Rindu apanya? Sudah ah! Bye.”

Itu yang kukatakan pada Jungkook sekitar tiga puluh menit sebelum aku memutuskan untuk berkunjung ke butik Ahra Eonni. Aku sedang duduk di dalam taksi, dalam perjalanan menuju sekolah Jeongsan.

“ … pihak Kepolisian Seoul sedang berupaya untuk segera menangkap pelaku penculikan anak yang belakangan membuat resah para orang tua yang memiliki anak berusia sepuluh tahun ke bawah.”

“Kasus penculikan anak semakin sering saja terjadi belakangan ini. Saya merasa prihatin pada orang tua yang anaknya menjadi korban penculikan,” sopir taksi mengomentari berita yang berasal dari radio. “Orang-orang sekarang sungguh mengerikan. Anak-anak tidak berdosa pun dijadikan alat untuk mendapatkan banyak uang.”

Ya, belakangan memang marak diberitakan kasus penculikan terhadap anak kecil. Kasus terakhir yang kutonton di televisi adalah seorang gadis kecil berusia empat tahun diculik saat pergi berbelanja dengan ibunya.

“… untuk itu, Presiden Republik Korea Selatan menghimbau agar para orang tua senantiasa mengawasi anak-anaknya.”

“Saya juga merasa cemas dengan kabar ini, Ajussi. Saya punya dua anak yang masih kecil.”

“Semoga anak-anak Anda selalu dilindungi Tuhan, Nyonya.”

Aku mengamini.

Setelah beberapa menit perjalanan, taksi berhenti tepat di depan gerbang. Aku keluar, bergegas masuk ke area sekolah. Suasananya mulai agak sepi sebab bel pulang berdering sejak sepuluh menit yang lalu. Masih ada beberapa anak yang bermain di sekitar area bermain, tapi aku tidak melihat Jeongsan di sana. Mungkin dia di kelas atau di area bermain di belakang kelas.

“Uh? Nyonya Jeon?” Wali kelas Jeongsan melihatku.

“Apa kabar, Han Sonsaengnim? Di mana Jeongsan?”

Kedua bola mata Han Sonsaengnim membulat. “Bukankah tadi Jeongsan sudah dijemput?”

Gantian kedua bola mataku yang membulat. “Dijemput? Tidak! Aku yang akan menjemput Jeongsan hari ini. Aku sudah memberi tahu ayahnya sebelumnya.”

Perasaanku mulai tidak enak.

“Mungkin Nyonya bisa menghubungi Tuan Jeon dulu untuk mengkonfirmasi keberadaan Jeongsan.”

Dengan jantung yang berdegup kencang, kurogoh clutch bag-ku. Segera kuhubungi ayah dari anak-anakku, berharap Jeongsan benar bersamanya. Begitu aku mendengar ia menjawab panggilanku, tidak kuberi dia kesempatan menyapa sebab aku secepatnya bertanya, “Apa Jeongsan bersamamu?”

“Tidak,” sahutnya, berhasil membuat jantungku berdetak semakin tidak karuan. Oh, Tuhan. “Kenapa? Bukankah kau yang akan menjemputnya?”

“Itu masalahnya, Jeon-a,” suaraku bergetar, “Jeongsan tidak ada di sekolah.”

“Apa maksudmu? Dia tidak ada bagaimana?”

Aku bergerak menjauh dari wali kelas Jeongsan sambil berkata, “Ya, dia tidak ada di sekolah. Wali kelasnya bilang ada seseorang yang menjemputnya. Kalau bukan kau, lalu siapa?”

Aku tidak bisa menahan satu bulir air mataku untuk meleleh di pipi.

“Oke. Kau jangan panik, oke? Mungkin saja Taehyung Hyung yang membawa Jeongsan pulang. Aku akan menghubunginya.”

“Kabari aku secepatnya.”

Aku kembali menghampiri wali kelas Jeongsan, bertanya apa mungkin dia melihat siapa yang menjemput Jeongsan? Apa mungkin Taehyung, ayah Kim Taerin, yang membawa Jeongsan pulang? Namun, beliau menjawab tidak.
Ponselku berdering. Jungkook menghubungiku.

“Taehyung Hyung tidak membawa Jeongsan. Dia bilang, Jeongsan lebih dulu dijemput. Taeri bilang, Jeongsan dijemput oleh seorang pria tua. Apa mungkin ayahmu? Atau …, Kyuhyun Hyung?”

“Ya, sudah, aku akan menghubungi mereka.”

Skenario-skenario buruk mulai terangkai di dalam pikiranku. Aku takut Jeongsan menjadi korban penculikan anak. Aku tidak bisa membayangkan darah dagingku diperlakukan sangat buruk—diambil ginjalnya, paru-parunya, dan bagian tubuh lainnya. Ya Tuhan, tolong lindungi Jeongsan.

“Tidak. Aku tidak menjemput Jeongsan. Aku sedang berada di luar negeri sekarang. Memangnya ada apa?”

“Jeongsan tidak ada di sekolahnya, Oppa.”

Aku tidak bisa menahannya lagi. Air mataku mulai banyak mengalir.

Setelah berbicara dengan Kyuhyun Oppa, aku lekas menelepon ayahku. Siapa tahu saja dia yang datang menjemput Jeongsan. Namun, yang bisa kudapatkan hanya kekecewaan dan rasa cemas yang semakin menjadi. Aku masih belum tahu siapa yang menjemput Jeongsan.

Melihatku mulai menangis, wali kelas Jeongsan mengajakku ke ruang guru sembari menunggu Jungkook yang kupinta untuk datang ke sekolah Jeongsan. Untunglah, dia tidak sedang sibuk. Sungguh! Aku merasa sangat cemas.

Bagaimana kalau Jeongsan diculik?

Bagaimana kalau dia yang menjadi korban, sama seperti anak-anak yang telah hilang dan ditemukan dengan banyak luka jahitan di tubuh mereka.

Aku tidak mau Jeongsan-ku mengalami hal seperti itu.

Beberapa waktu berselang, Jungkook pun tiba. Priaku itu sempat mengomeli pihak sekolah lantaran tidak mengawasi murid-murid dengan benar, terlebih di saat-saat seperti ini—saat para penculik anak masih berkeliaran. Aku lekas meredakan kekesalannya, pun sekalian memintanya mengantarku pulang. Masalah ini sebaiknya dibicarakan di rumah.

“Satpamnya bilang, orang yang menjemput Jeongsan mengaku sebagai anggota keluarga Jeongsan,” ceritaku begitu aku dan Jungkook berada di mobil. “Tapi, aku sudah menghubungi keluarga yang kemungkinan menjemput Jeongsan, tapi tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa Jeongsan sedang bersama mereka.”

“Dia pasti penculik anak yang mengaku keluarga. Aish! Kenapa satpam sekolah mudah sekali percaya?” Jungkook memukul stirnya. “Kalau Jeongsan kenapa-napa, aku akan menuntut pihak sekolah.”

“Jeon-a.”

“Apa? Kau tidak setuju? Jeongsan hilang di sekolah. Pihak sekolah masih bertanggung jawab atas keselamatan anak kita.”

“Tapi, ini bukan waktunya untuk membicarakan hal itu. Yang terpenting sekarang, kita harus menemukan Jeongsan!” ujarku. “Aku takut anak kita kenapa-napa,” lirihku.

“Kau pikir aku juga tidak cemas, hah?”

Aku tidak menjawab, terlampau sibuk menyeka air mata yang kembali membanjiri kedua belah pipiku. Pandanganku mengarah ke luar jendela mobil, berharap melihat Jeongsan berada di jalan—entah dengan siapa. Sayangnya, sampai priaku membelokkan mobil memasuki halaman rumah, kami tidak menemukan—uh? Jeongsan?

“Itu Jeongsan, kan? Itu benar anak kita, kan?” seruku, kaget bercampur bahagia lantaran sosok mungil berseragam biru itu sedang bermain di teras.

Tapi, tunggu! Pria tua yang duduk di kursi teras itu …

“Kenapa Abeoji bisa ada di sini?” Jungkook bertanya, tapi terdengar bertanya kepada dirinya sendiri.

Buru-buru kami keluar dari mobil dan menghampiri kedua orang itu. Melihat aku dan Jungkook, Jeongsan berteriak, “Appa dan Eomma sudah pulang. Yey!”

“Abeoji? Sejak kapan Abeoji ada di Seoul? Kenapa tidak bilang kalau mau datang ke sini?”

Sementara Jungkook bertanya pada ayahnya, aku sibuk memeriksa kondisi Jeongsan. Dia baik-baik saja. Hanya … bau keringat.

“Abeoji mau membuat kejutan untuk kalian. Makanya Abeoji datang ke Seoul tanpa menghubungi kalian lebih dulu.”

“Tapi, kenapa tiba-tiba menjemput Jeongsan dan tidak menghubungi kami? Lagi pula, bagaimana Abeoji bisa tahu letak sekolah Jeongsan?”

“Ya! Ya! Jeon Jungkook, kau pikir Abeoji tidak tahu seperti apa Kota Seoul? Abeoji pernah lama tinggal di kota ini. Abeoji tidak menghubungi kalian karena ponsel Abeoji kehabisan baterai.”
Priaku mengusap wajahnya, frustrasi.

“Abeoji sudah membuat aku dan Junmi panik. Kami pikir Jeongsan diculik.”

“Ya! Siapa yang berani menculik cucuku? Aku akan menghajarnya.”

“Sudah! Sudah!” Aku memotong acara perdebatan antara ayah dan anak itu. “Abeonim, silakan masuk. Abeonim pasti lelah sekali.”

“Ah, kau benar, Junmi-ya.” Ayah mertuaku berdiri dari duduknya. Aku membiarkan beliau lebih dulu masuk ke rumah. Namun, beliau belum benar-benar masuk saat beliau berbalik sebentar, seperti melupakan sesuatu. “Jeon Jungkook, bawakan barang-barangku.”

Ayah mertua menunjuk beberapa karton berisi hasil kebun, juga tas pakaiannya. Banyak juga barang bawannya.

“Abeoji~” Jungkook mengeluh.

“Apa? Kau anakku, Jungkook. Kau harus menuruti perintahku.”
Kulihat Jungkook berjalan menghampiri barang-barang ayahnya. Lantas, dia berteriak memanggil Jeongsan.

“Iya, Appa?” Jeongsan yang berada di dekatku menyahut.

“Bantu Appa membawa barang-barang milik Harabeoji.”

“Tapi, Appa~”

“Apa? Kau anak Appa, Jeongsan. Kau harus menuruti perintah Appa.”

Aish! Mereka bertiga sama saja.

-THE END-

Iklan

One thought on “{JEON FAMILY STORIES S2} MY SON

  1. ahhhahaa. buah jatuh emang gak jauh dr pohonnya. udah panik eh trnyata kakeknya jeongsan yg jemput~~
    adek jeongsan yg sabar yah punya appa kayak jungkook.. hhihhi

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s