{JEON FAMILY STORIES S2} CRY CRY CRY

{JEON FAMILY STORIES S2} CRY CRY CRY

JFS SEASON 2

G / VIGNETTE / FAMILY / (BTS) JUNGKOOK, YOU, (OC) JEON TAYA & (OC) JEON JEONGSAN

Sebuah rumah dua tingkat di Yongsan-gu, memiliki empat kamar tidur, dan tiga kamar mandi.

Dari dua rumah yang menjadi kandidat, aku dan Jungkook sepakat memilih rumah berlantai dua di kawasan Yongsan. Meski awalnya aku kurang suka sebab rumah ini berlantai dua, tetapi dibandingkan dengan rumah-rumah lain, rumah ini yang lingkungannya paling baik menurutku dan Jungkook.

Toh, memilih lingkungan tempat tinggal juga tidak kalah pentingnya dengan memilih fisik rumah yang akan ditinggali, bukan?

Begitu Jungkook selesai mengurus segala administrasi yang berkaitan dengan kepemilikan rumah berikut tanahnya, maka Jungkook memutuskan untuk segera pindah. Tadinya, sih, aku mau pindah begitu musim dingin usai. Namun, ya, entah apa yang dipikirkan Jungkook. Dia pemimpin rumah tangga ini, jadi … kurasa dia sudah memikirkan baik-buruknya pindah di musim dingin.

“Sayang, apa kau masih butuh kardus untuk berkas-berkasmu? Kardus untuk mainan-mainan Jeongsan masih sisa.”

Pada suatu Minggu pagi, aku dan Jungkook memutuskan untuk mulai berkemas agar nanti tidak begitu repot. Aku masuk ke kamar, membawa kardus-kardus lipat tempat menyimpan barang-barang. Jungkook terlihat duduk di dekat meja kerjanya, memasukkan buku-buku koleksinya, juga berkas-berkasnya ke dalam kardus.

“Sudah cukup, kok, Sayang. Itu disimpan saja untuk pakaian-pakaian atau barang-barang lain. Barang-barang anak-anak sudah beres semua, ‘kan?”

“Eum. Barang-barang Jeongsan sudah beres. Taya masih membereskan barang-barangnya, nanti aku cek lagi.” Aku duduk di dekatnya, membantu priaku itu memasukkan buku-bukunya ke dalam kardus.

“Rasanya berat meninggalkan rumah ini, ya?”

Pertanyaan suamiku barusan membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya. Entah atas dasar apa ia bertanya demikian, tetapi … apa yang diucapkannya adalah benar.

“Ya,” sahutku singkat.

Rumah ini telah menjadi tempat berlindung kami dari terik matahari dan guyuran hujan selama delapan tahun. Aku masih ingat ketika pertama kali Jungkook membawaku pindah ke rumah ini. Dindingnya masih dihiasi wallpaper kusam, plafon di kamar Taya yang bocor, begitu juga dengan pipa di dapur.

“Masih ingat, tidak, hari pertama kita di rumah ini?” Jungkook tertawa kecil, sepersekian detik setelah mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya.

Aku turut tertawa samar. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan hari pertama kami tinggal di sini?

Hari yang penuh air mata.

***

Akhirnya, selesai juga menata ruangan-ruangan di rumah ini. Huft, lelah juga menggeser-geser kursi, mengatur perabotan, dan membersihkan setiap sudut ruangan. Namun syukurlah, mulai hari ini, aku, suamiku, dan putri kecil kami, tidak perlu tinggal di rumah sewa lagi. Keluarga kami sudah punya rumah sendiri.

“Kau belum tidur? Ini sudah jam delapan, lho.” Jungkook baru keluar dari kamar mandi, baru saja membersihkan tubuhnya setelah kegiatan kami seharian ini.

Aku yang duduk di tepi tempat tidur, menggendong putriku yang baru berusia dua tahun, menggeleng pelan. “Taya belum tidur,” sahutku.

Dengan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya, Jungkook duduk di sebelahku. Diamatinya putri kecil kami yang tersedu-sedu usai menangis nyaris sepanjang hari ini. Entah apa yang terjadi padanya. Mungkin dia tidak suka rumah ini atau … karena dia belum terbiasa.

Sembari menyeka rambutnya—membuatku bisa menghirup aroma sampo yang ia gunakan, Jungkook berkata, “Ya, sudah. Berikan Taya padaku. Sebaiknya kau mandi sekarang. Belum mandi, kan?”

“Kau pakai baju dulu. Masa mau menggendong Taya sambil handukan begitu, sih? Nanti kalau handukmu jatuh, bagaimana? Mata putriku nanti ternoda.”

Jungkook menghentikan kegiatannya menyeka rambut. “Kau ini bicara apa? Kalaupun Taya lihat, dia kan belum mengerti. Memangnya kamu? Yang sudah mengerti apa yang aku sembunyikan di balik handuk ini?” Dia terkekeh.

Dasar!

Kedua pipiku seketika memanas. “Sana, pakai baju dulu baru aku berikan Taya padamu!”

Jungkook pun menuruti perintahku. Ia beranjak memakai selembar kaus putih tanpa lengan, juga celana pendek setengah paha berwarna hitam. Begitu selesai, kubiarkan ia menggendong putri kecil kami.

“HUWAAAA!!!” Tangisan Taya meledak tiba-tiba.

“Ssh … ini Appa, Sayang. Ini Appa. Eomma mau mandi dulu, ya. Taya sama Appa dulu,” tutur Jungkook, berdiri sembari mengguncang-guncang pelan Taya di dalam gendongannya.

“Ah, biar aku gendong,” ujarku cemas, berniat untuk tidak mandi saja.

“Tidak usah. Aku bisa menenangkannya kok. Kamu mandi saja sana. Gerah, kan?”

Sejatinya, aku merasa ragu untuk meninggalkan Taya yang tidak dalam keadaan biasanya hari ini—rewel—bersama Jungkook. Kendati Jungkook sudah biasa menenangkan putrinya di rumah kami yang lama, tapi aku tidak yakin dia akan mampu melakukannya di rumah yang baru.

Aku menarik napas pelan. “Ya, sudah. Aku mandi dulu.”

***

Taya masih menangis begitu aku selesai mandi. Seperti dugaanku, ayahnya sama sekali tidak berhasil untuk menenangkannya.

“Mungkin dia lapar,” ujar Jungkook setelah aku mengambil Taya kecil dari gendongannya.

Aku mencoba memberi Taya ASI, tapi dia menolak. Susu botol pun begitu. Popoknya baru saja aku ganti, jadi dia tidak mungkin menangis karena merasa “kotor”. Duh, Taya, kamu kenapa, Sayang?

“HUWAAAAA!!!”

Tangisan Taya semakin kencang dan tidak ada tanda-tanda akan reda. Aku dan Jungkook benar-benar panik. Taya tidak pernah seperti ini sebelumnya.

“Jeon-a, lakukan sesuatu. Buat wajah lucu atau apalah. Coba buat Taya tertawa,” pintaku.

Ya, biasanya, Taya akan mengeluarkan tawa kecil setiap kali ayahnya membuat mimik wajah lucu, bermain ci-luk-ba, atau sekadar menyentuh ujung hidung Taya berkali-kali. Namun malam ini, tidak ada satu pun yang berhasil.

“Bagaimana ini, Jeon-a?” Saking paniknya, aku juga jadi ikut menangis.

“Bagaimana apanya? Kenapa kau juga ikut menangis?” Jungkook terlihat semakin panik.

“Taya tidak mau diam. Apa yang harus kita lakukan? Ini sudah hampir pukul sepuluh.” Aku masih berdiri, menggendong Taya sambil membelai punggung sempitnya sambil sesekali menyeka air mataku sendiri. Duh, Sayang, jangan menangis. “Lakukan sesuatu, Jeon-a!” tuntutku lagi.

Priaku menggaruk-garuk tengkuknya. Namun, tidak lama dia berkata, “Oke, aku akan mencoba menyanyi. Berikan Taya padaku.”

Taya kecil lantas berpindah ke dalam dekapan ayahnya, masih dengan suara tangisan yang membuatku dan Jungkook stres malam ini. Priaku mulai menyanyikan sebuah lagu mellow, entah lagu siapa. Aku sungguh berharap Taya akan tenang setelah mendengar suara ayahnya yang merdu.

Namun …, semua itu hanya harapan.

Hingga pukul sebelas malam, Taya masih terjaga dengan suara tangis kecil yang terdengar darinya.

“Jeon-a, sebaiknya kau tidur, biar aku yang menenangkan Taya.”

“Tapi, Sayang—”

“Tidak apa-apa. Kau tidur saja. Kau pasti sangat lelah.”

“Ya, sudah. Kita gantian. Kalau Taya masih belum tidur, bangunkan aku dua jam lagi, oke?” Jungkook mengelus kepalaku. Aku mengangguk. Lantas, sembari memegang tangan kecil putrinya, priaku berkata, “Taya, Sayang, tidur, ya. Kasihan Eomma.”

Percuma.

Taya tetap tidak tidur meski telah dibujuk ayahnya.

***

“Taya baru berhenti menangis dan tidur pukul dua pagi,” Jungkook bersuara.

Ya, Taya kami tertidur saat tiba giliran Jungkook untuk menjaganya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku dan Jungkook paham bahwa putri kami memiliki kencenderungan untuk sulit tidur di tempat yang baru. Hal tersebut bahkan masih berlanjut sampai Taya sudah sebesar sekarang. Namun sekarang tidak begitu parah seperti dulu. Setidaknya, di tempat yang baru, ia sudah bisa tidur kendati itu terjadi sebelum pukul dua belas.

Sungguh berbeda dengan aku, Jungkook, dan Jeongsan yang bisa tidur di mana saja dan kapan saja.

“Aku juga hampir menangis saat harus menjaga Taya sendirian.”

Kami berdua tertawa.

“Ya! Appa dan Eomma sedang membicarakan Taya, ya?”

Entah sejak kapan dia berada di kamar, tahu-tahu aku dan Jungkook mendengar nada protes dari putri kami. Begitu kami menoleh, kami menemukan Taya sudah berdiri tidak jauh dari kami bersama satu kotak berisi mainan yang mungkin dia dorong dari kamarnya.

Wajahnya cemberut.

Aku meraih tangannya, mendudukkan tubuhnya di pangkuanku.

“Iya,” aku menyahut. Seraya membelai rambut panjangnya, aku berkata lagi, “Appa dan Eomma membicarakan Taya yang dulu, waktu masih bayi, susah tidur saat kita baru pindah ke rumah ini. Eomma sampai menangis waktu itu. Appa juga hampir menangis, ya, kan, Appa?”

“Iya. Coba kalau Taya masih belum tidur sampai pukul tiga pagi. Appa benar-benar sudah menangis pasti.”

Aku dan Taya tertawa.

“Appa dan Eomma cengeng,” celetuknya.

“Tapi, nanti, begitu pindah ke rumah baru, Taya tidak boleh menangis lagi, mengerti?” Jungkook memperingati putrinya dengan nada bercanda.

“Iya, Appa.”

Dan, Jeongsan, lagi-lagi entah sejak kapan berada di dalam kamar, tahu-tahu menceletuk, “Kalau Jeongsan, boleh menangis, tidak, Appa?”

“Tidak!” Ayahnya menyahut. “Nanti di rumah baru, Jeongsan akan tidur sendiri, tidak tidur dengan Appa dan Eomma lagi. Dan, Jeongsan tidak boleh menangis.”

“Bagaimana kalau ada monstel, Appa?”

Huh! Monster lagi, monster lagi.

“Ya, kamu kalahkah saja sendiri, Jeongsan!”

Dan karena ucapan kakak perempuannya itu, Jeongsan tiba-tiba menangis.

“HUWAAAA … EOMMAAA!!!”

Duh!

-the end

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s