{JEON FAMILY STORIES S2} THE WEDDING

{JEON FAMILY STORIES S2} THE WEDDING

JFS SEASON 2

PG13 / VIGNETTE / {JEON FAMILY STORIES S2} THE WEDDING

Hoseok dan Nayeong akan menikah.

Ya, mereka akan menikah sekitar satu minggu lagi.

Sebagai orang yang mempertemukan mereka, tentu aku turut merasa senang. Apalagi, saat ini Nayeong memintaku membantu mengurus perihal pernikahannya. Ah, rasanya begitu bahagia bisa mengambil peran untuk mempersiapkan sebuah acara sakral yang tidak lama lagi dihelat.

“Jadi, bagaimana persiapan acara pernikahan Hoseok Hyung dan Nayeong sampai hari ini, Nyonya Jeon?”

Aku berada di ruang tamu, sedang mengelompokkan undangan berdasarkan pembagian yang telah diberikan Nayeong padaku. Kelompok teman sekolahnya, teman kampusnya, teman kerjanya, keluarga, juga kenalan-kenalannya yang lain.

“Tinggal menyebarkan undangan-undangan ini saja, Tuan Jeon.”

Jungkook duduk di sofa seberang, mengambil salah satu undangan berwarna merah muda yang masih tercecer di atas meja. Entah undangan atas nama siapa.

“Pink? Apa Nayeong suka warna pink atau karena kau yang memilih desain undangan ini untuknya?”

“Dua-duanya. Nayeong suka warna pink dan aku juga suka. Karena itu, aku memilih desain undangan berwarna pink karena aku yakin Nayeong pasti suka.”

Nayeong memberikan kuasa penuh untukku dalam memilih desain undangan. Itu bukan hal sulit lantaran aku dan Nayeong memiliki selera yang sama. Kami menyukai warna-warna yang lembut dan hal-hal imut dan lucu. Desain undangan yang kupilihkan berwarna pink dengan konsep pop up—ketika undangannya dibuka, maka karikatut bergambar pasangan yang mengenakan pakaian pengantin akan berdiri di dalam undangan.

Lucu, pokoknya.

“Eum, Sayang~?”

“Ya?” Aku fokus dengan hal yang tengah aku kerjakan.

“Aku sudah mentransfer uang belanja bulan ini ke rekeningmu.”

Aku menghentikan kegiatanku sebentar sebab teringat sesuatu. “Ya, aku sudah tahu. Tadi notifikasinya sudah masuk di ponselku,” ujarku. “Tapi …, kenapa jumlahnya lebih banyak dari biasanya? Kau mendapat kenaikan gaji atau mendapat bonus dari perusahaan?”

Sebuah senyum terukir di wajah tampan suamiku. “Aku sengaja. Aku ingin kau membeli gaun baru untuk pernikahan Hoseok Hyung dan Lee Nayeong.”

Mendengar itu, aku tidak kuasa menahan pergerakan ketujuh belas otot-otot mulutku. “Duh, kau tahu saja kalau aku sudah lama tidak beli gaun baru.”

“Tentu saja. Gaun-gaunmu yang lama pasti sudah sempit semua. Mana cocok dengan tubuhmu yang sekarang?!”

Apa-apaan itu? Baru saja dia membuatku tersenyum dengan uang tambahan untuk membeli gaun baru, tahu-tahu secara tidak langsung dia ingin berkata kalau berat badanku naik, ya?

“Kau mau mengatakan kalau sekarang aku gendutan, ya?”

“Tidak,” Jungkook menyahut dengan polosnya. “Tapi, memang gaun-gaunmu sudah sempit semua, ‘kan? Lagi pula, kau ini istri seorang manajer. Masa gaunmu hanya itu-itu saja? Nanti dikira aku suami yang tidak bisa membelikan gaun baru untuk istrinya.”

Aku tertawa. Kadang-kadang, aku tidak mengerti jalan pikiran suamiku sendiri. Dia ternyata berpikir sejauh itu.

“Baiklah. Aku akan membeli gaun baru yang tampak mewah supaya suamiku yang seorang manajer ini tidak malu.”

Jungkook bangkit dari duduknya, lalu berkata, “Beli yang warna pink! Aku tidak mau kau beli gaun berwarna lain. Harus pink!”

Keningku mengernyit. “Kenapa harus?”

“Kau lebih cantik saat memakai warna pink.”

***

Hari pernikahan Hoseok dan Nayeong telah tiba. Acaranya akan diselenggarakan di sebuah hotel milik Paman Nayeong pukul sepuluh, sekitar satu jam lagi. Aku sudah tidak sabar ingin tiba di sana dan melihat seperti apa penampilan Nayeong dengan gaun yang aku pilihkan untuknya. Meski aku sudah melihatnya saat fitting, tapi aku yakin rasanya akan jauh berbeda saat Nayeong memakai gaun itu lengkap dengan riasan pengantinnya.

Sementara Jungkook berpakaian dengan anak-anak di kamar Taya, aku sedang sibuk merias diriku di kamar kami. Bukannya melepas tanggung jawab sebagai seorang ibu, tapi … aku percaya Jungkook bisa membantuku mengurus anak-anak di saat seperti ini. Lagi pula, dia hanya mengenakan setelan jas. Mudah. Berbeda denganku yang harus mengenakan gaun. Harus merias wajah pula.

Omong-omong, saat ini aku telah mengenakan gaun yang kubeli berkat uang yang diberikan Jungkook padaku. Sebuah gaun berwarna merah muda dengan kain brokat. Lengannya panjang beraksen puff dengan bagian bahu yang agak lebar. Di bagian pinggang, ada mutiara-mutiara—yang jelas, ini mutiara-mutiara imitasi—yang dipasang berkeliling. Taya bilang, gaun baruku hampir terlihat seperti gaun princess, hanya lebih pendek. Ya, panjangnya hanya sampai setengah betisku.

“Sayang, apa kau sudah siap?”

Jungkook masuk ke kamar, berdiri tepat di belakangku. Melalui cermin, aku melihat priaku membalut tubuhnya dalam pakaian serba hitam. Oh, apakah secara tidak langsung dia ingin menunjukkan bahwa dia suami yang paham seperti apa istrinya. Dia sungguh tahu aku sangat suka ketika ia mengenakan pakaian serba hitam. Man in black concept suits him so much.

“Sedikit lagi,” sahutku. Ya, tinggal mengenakan lipstick dan memakai hiasan leher, lalu semuanya selesai. “Ah, tolong tarikkan zipper gaunku.”

Aku nyaris lupa bahwa zipper gaunku belum ditarik. Sedari tadi memperlihatkan punggung juga tali bra. Untung tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya dalam waktu singkat, gaunku telah terpasang dengan benar. Well, tadinya kupikir Jungkook akan macam-macam saat menarik zipper gaunku. Sepertinya, dia sedang dalam keadaan “off” … hihi. Baguslah kalau begitu.

Aku mengambil salah satu lip cream dari kotak berisi kumpulan lipstick dan lip cream yang kupunya. Aku hendak mengoleskan lip cream ke bibir ketika Jungkook tiba-tiba menahan tanganku. “Ya! Jangan pakai warna itu!”

“Kenapa? Aku suka warna ini.”

Barusan, aku mengambil lip cream berwarna pink nude, warna yang memang sering kupakai dari warna-warna lainnya.

“Tidak. Hari ini pakai warna yang lebih terang!”

Ucapannya itu terdengar seperti sebuah perintah dibanding permintaan. Jemarinya bahkan bergerak mengambil satu per satu lipstick dan lip cream-ku, memeriksa warna-warnanya. Hampir dua menit terlewat sampai Jungkook menyodorkan sebuah lipstick padaku.

“Pakai yang ini.”

Lipstick berwarna hot pink yang jarang sekali aku pakai lantaran warnanya begitu menantang, menurutku. Itu juga bukan lipstick pembelian, tetapi lipstick pemberian dari Ara Eonni. Karena tahu aku menyukai warna pink, jadi … dia memberikan lipstick itu padaku. Padahal, dia tidak tahu saja kalau aku tidak begitu suka warna pink terang.

“Kenapa bukan warna lain saja?”

Priaku menggeleng. “Aku ingin melihat bibirmu berwarna seperti ini.”

***

Pernikahan Hoseok dan Nayeong tidak lama lagi akan dilaksanakan. Seluruh tamu yang telah hadir, duduk berenam di setiap satu meja bundar yang tertata di sisi dan kanan red carpet yang memanjang di tengah ruangan. Jungkook duduk bersama kakak-kakak Bangtan-nya di meja sebelah. Sementara itu, aku duduk semeja dengan istri-istri mereka. Anak-anak ada yang bergabung bersama dengan ibunya, ada yang bersama dengan ayahnya. Jeongsan-ku sungguh sangat cerdas memilih duduk bersama ayahnya di sana … hihihi. Namun, Taya-ku—

“Ah, sudah dimulai.”

Musik pengiring terlantun ke seluruh penjuru ruangan seiring seorang wanita dalam balutan gaun putih menyusuri karpet merah bersama ayahnya menuju seorang pria yang berdiri di ujung karpet. Di depan wanita itu, ada Taya-ku yang bertugas menaburkan kelopak-kelopak bunga mawar di dalam keranjang. Jungkook di meja sebelah tampak sibuk memotret putrinya dengan kamera ponselnya.

Lee Nayeong tampak begitu berkilau hari ini. Gaun putihnya memang hanya memiliki model yang sederhana, tetapi Ara Eonni telah mengatasinya dengan memberikan hiasan-hiasan berupa permata imitasi di bagian pergelangan lengan, bagian pinggang, lalu menaburkan manik-manik kecil di bagian dada.

Melihat Nayeong seperti ini, aku … kembali mengingat diriku ketika berada di posisi Nayeong. Aku dan Jungkook menikah pada bulan Agustus, saat itu masih musim panas. Pesta pernikahan kami diadakan di Busan. Jungkook secara khusus meminta itu pada orang tuaku. Pesta pernikahan kami tidak semewah pesta pernikahan Hoseok dan Nayeong. Keungan Jungkook masih terbatas kala itu.

Lagi pula, aku mengerti bahwa kemewahan dalam sebuah pesta pernikahan bukanlah sebuah keharusan. Yang penting, acaranya berlangsung khidmat dan pasangan mempelai mendapat restu dan doa yang baik dari semua orang.

Nayeong telah berdiri bersisian dengan Hoseok. Tidak lama lagi keduanya akan berjanji di hadapan Tuhan, di hadapan para tamu, untuk saling mencintai dalam kondisi apa pun. Hoseok mulai mengucapkan sumpahnya. Tepat di saat itu, aku menoleh ke arah suamiku. Dan, aku tidak tahu apakah ini sebuah ikatan batin atau sebuah kebetulan, tetapi Jungkook juga melihat ke arahku.

Lalu, kami berdua saling berpandangan untuk beberapa detik dan tersenyum.

Kupikir, dia juga sedang mengingat masa ketika ia berdiri di posisi Hoseok.

Saat itu, Jungkook mengenakan jas berwarna putih. Dirinya saat itu masih tergambar jelas di dalam ingatanku. Dia tampak gagah, tampan, dan berkharisma. Terlebih saat ia mengucapkan sumpahnya dengan mantap. Saat itu, usianya baru dua puluh empat tahun. Dia baru bekerja selama satu tahun. Akan tetapi, dia sudah nekat ingin menikahiku.

Aku tidak cantik, sebenarnya. Kadang Jungkook juga mengatakan hal itu, dan ya, aku mengakuinya. Cukup membuatku terkejut sebab ia tetap memilihku meski di luar sana, ada banyak sekali teman-teman wanitanya yang jauh lebih cantik. Dan setiap aku menyinggung soal itu, jawabannya selalu sama.

“Mereka memang lebih cantik, tapi aku cintanya sama kamu.”

Sangat gombal sekali, bukan?

“Eh! Anak-anak tidak boleh lihat! Tidak boleh lihat!” Ibu-ibu di sekitarku mulai heboh menutupi mata anak-anak mereka, begitu juga dengan para ayah di meja sebelah lantaran Hoseok dan Nayeong sedang berciuman di depan sana. Jungkook terlihat menutupi hampir setengah wajah Jeongsan karena telapak tangannya yang cukup besar. Putraku sampai-sampai ingin segera menyingkirkan tangan ayahnya dari wajahnya.

Tidak lama, Jeongsan beranjak dari pangkuan ayahnya, lantas berjalan menghampiriku. Lalu, dengan wajah seolah dia baru saja merasakan penderitaan yang teramat sangat, ia mengadu, “Eomma, Appa jahat! Masa tadi muka Jeongsan ditutup sampai Jeongsan tidak bisa belnapas.”

Ck! Jeon Jungkook!

***

“Jeongsan tadi bilang kamu jahat.”

Aku dan Jungkook baru saja keluar dari toilet—toilet yang berbeda, tolong jangan berpikir macam-macam—setelah menemani Taya dan Jeongsan buang air kecil, sekalian memperbaiki riasanku. Taya dan Jeongsan telah lebih dulu beranjak lantaran tidak sabar bermain bersama anak-anak lainnya, meninggalkan aku dan ayah mereka menyusuri lorong menuju ruang utama.

“Uh? Memangnya aku jahat kenapa?” tanya Jungkook sembari mengelap tangannya dengan sapu tangan.

“Waktu tadi kau menutup matanya, kau juga menutup hidungnya. Dia jadi tidak bisa belnapas.” Aku sengaja mengikuti cara bicara Jeongsan yang cadel.

Priaku tertawa kecil. “Aku tidak sengaja soal itu.”

Ya, tentu harus begitu. Awas saja kalau sengaja!

Aku dan Jungkook masih menyusuri lorong, sesekali memberi salam atau tersenyum kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan kami. Ah, bahkan Yoongi dan istrinya pun terlihat berjalan menuju toilet. Sudah waktunya bagi anak perempuan mereka untuk mengganti popok, kata mereka.

“Sekarang tinggal Namjoon saja yang belum menikah, ya,” aku bersuara.

“Ya. Ah, tapi dia bilang dia sudah punya pacar yang superseksi di L.A sana,” Jungkook menyahut.

“O, ya?”

“Begitu yang dia bilang.”

“Kalau begitu, dia tinggal meresmi—uh?”

Saat kami berjalan sambil mengobrol, aku tidak sengaja menoleh ke arah cermin yang berada di sisi kiriku. Ya, sekadar memastikan bahwa riasanku tadi baik-baik saja. Namun di saat itu, aku … melihat Jungkook sedang memandangku dengan tatapan yang—bagaimana menjelaskannya, ya?

Bukan sebuah tatapan biasa, bukan pula kerling jalang menyebalkan, tapi … tatapan yang menyiratkan bahwa … ada kekaguman yang ia rasa ketika melihatku. Ah, apa benar begitu, ya?

“Kenapa kau melihatku seperti tadi?” tanyaku begitu menangkap basah dirinya sedang menatapku.

“Ah, tidak. Bukan apa-apa.” Dia menggaruk tengkuknya. Apaan, sih? Pakai canggung segala.

Aku mendengus pelan. “Ya, sudah.” Aku berjalan meninggalkannya, sengaja bersikap seolah aku sedang kesal.

Namun baru dua langkah, Jungkook segera meraih tangan kananku. Aku terkejut, sebentar. Aku memandang ke arahnya, tetapi ia malah memandang lurus ke depan. Akan tetapi, seolah paham apa yang sedang aku pikirkan, ia pun berkata, “Hari ini kamu sama cantik seperti saat kita menikah dulu.”

-THE END-

Hai, maaf ya minggu lalu ga update. Lagi di luar kota, file FF ini ga kebawa di hape.

Btw, akhirnya JHope ga mblo lagi wkwkwk.

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s