{JEON FAMILY STORIES S2} IN TAE SAMCHEON’S HOUSE – BANGTAN’S YOUTH (TAYA’S POV)

{JEON FAMILY STORIES S2} IN TAE SAMCHEON’S HOUSE – BANGTAN’S YOUTH (TAYA’S POV)

JFS SEASON 2

PG-13 / FAMILY / (BTS) JUNGKOOK, (OC) JEON TAYA, (OC) JEON JEONGSAN, (BTS) TAEHYUNG, (OC) KIM TAEJOON (TAE’S SON) & (OC) KIM TAERIN (TAE’S DAUGHTER) / {JEON FAMILY STORIES S2} IN TAE SAMCHEON’S HOUSE – BANGTAN’S YOUTH (TAYA’S POV)

 

-Taya’s POV

“Hyung, aku titip anak-anakku, ya.”

“Tenang saja. Taya dan Jeongsan sudah aku anggap seperti anak-anakku sendiri. Aku akan mengurus mereka dengan baik. Kau urus saja pria tuna asmara bermarga Jung itu. Kasihan. Sudah tiga puluh tujuh tahun, belum menikah juga.”

“Kuadukan ucapanmu pada Hoseok Hyung.”

“Ey! Jangan begitu dong. Kau sudah beranak dua, Jeon. Hampir tiga kalau istrimu tidak keguguran. Berhentilah menjadi tukang ngadu seperti bocah!”

“Iya, iya. Oh, omong-omong, istrimu mana?”

“Di dalam. Dia sedikit sibuk dengan pekerjaan ibu-ibu. Sudah, sana! Sebaiknya kau pergi sekarang. Hoseok Hyung pasti sudah gelisah menunggu sendirian.”

“Ya, sudah, Hyung. Aku berangkat dulu. Taya, Jeongsan, jangan nakal di rumah Taehyung Samcheon.”

“Iya, Appa~”

Aku dan Jeongsan melambaikan tangan kepada Appa kami—Jeon Jungkook—yang baru saja beranjak meninggalkan rumah Taehyung Samcheon. Ya, sore ini appa menitipkan aku dan adik laki-lakiku di rumah Taehyung Samcheon—salah satu sahabat baiknya. Penyebabnya, Appa dan Eomma sedang sibuk mencarikan jodoh untuk Hoseok Samcheon—sahabat baik Appa yang lain. Sore ini, Appa dan Eomma ingin memperkenalkan seorang wanita yang bekerja di butik Ara Imo, teman Eomma.

“Ayo, Taya, Jeongsan, masuk. Di dalam ada Taejoon dan Taerin. Kalian bisa bermain bersama.”

Aku dan Jeongsan pun mengekor Taehyung Samcheon memasuki rumahnya. Rumah yang tidak begitu besar, tetapi nyaman sebab di dalamnya tidak begitu banyak barang. Rumah yang ideal untuk bermain kejar-kejaran … hahaha.

Ini pertama kalinya Appa dan Eomma menitipkan aku dan Jeongsan pada Taehyung Samcheon. Biasanya, kami dititipkan di rumah Ara Imo atau Kyuhyun Samcheon. Sayangnya, sejak dua hari yang lalu, Ara Imo dan keluarganya sedang berada di luar negeri. Sementara itu, istri Kyuhyun Samcheon sedang sakit. Tidak mungkin menitipkan aku dan Jeongsan di sana. Kyuhyun Samcheon akan sangat kerepotan nanti.

Sebenarnya, sih, yang kudengar dari pembicaraan Appa dan Eomma di mobil, Taehyung Samcheon adalah satu-satunya orang yang saat ini bisa dititipi dua orang anak kecil. Seokjin Samcheon sedang sibuk dengan kafenya. Istri Yoongi Samcheon sepertinya akan kerepotan jika harus mengurus empat orang anak kecil sendirian. Dan, Jimin Samcheon beserta istrinya sedang ada di Busan.

Benar-benar hanya Taehyung Samcheon yang tersisa.

Tidak mungkin menitipkan aku dan Jeongsan pada Namjoon Samcheon, dia jauh sekali di Amerika sana.

***

Ruang keluarga rumah Taehyung Samcheon telah berubah berantakan seperti kapal pecah, tetapi Taehyung Samcheon tampak baik-baik saja dengan hal itu. Saat ini, Taehyung Samcheon sedang sibuk memandikan Taejoon dan Taerin. Taehyung Samcheon bilang, Hyejin Imo sebenarnya sedang tidak ada di rumah. Hyejin Imo sedang pergi reuni dengan teman-teman SMA-nya.

“Terus, kenapa Samcheon bilang kepada Appa bahwa Hyejin Imo ada di rumah?”

“Itu supaya Appa-mu mau menitipkan kau dan Jeongsan di sini. Kalau dia tahu hanya Samcheon seorang, dia pasti tidak mau. Samcheon suka kalau rumah Samcheon ramai. Taya dan Jeongsan jangan bilang hal ini kepada Appa, ya?”

Mau tidak mau, aku dan Jeongsan mengiyakan.

Aku dan Jeongsan sedang berada di ruang keluarga ketika para pemilik rumah sedang membersihkan badan mereka. Jeongsan seperti di rumah, asik memirsa serial power ranger, sedangkan aku … aku sedang melihat-lihat sebuah album foto. Album yang berisi foto-foto ketika Taehyung Samcheon, Appa, dan paman-paman Bangtan lainnya masih muda.

“Taehyung Samcheon tampan, ‘kan?”

Aku terlonjak sebentar ketika suara berat Taehyung Samcheon tahu-tahu terdengar di telingaku. Aku menengok ke arahnya, mendapati Taehyung Samcheon berjalan memutari sofa, lalu duduk di sebelahku.

“Taya penasaran dengan album ini, Samcheon, jadi Taya lihat-lihat,” jelasku, bukannya menjawab pertanyaan Taehyung Samcheon tadi. “Ini foto-foto waktu Tae Samcheon, Appa, dan paman-paman Bangtan masih muda, ‘kan?”

“Iya,” Tae Samcheon menyahut. “Ini waktu Appa Taya masih kelas tiga SMA. Hanya foto iseng-iseng untuk kenang-kenangan.” Tae Samcheon tertawa.

Foto iseng?

Taya malah merasa foto ini niat sekali dibuat. Bayangkan saja kostum dan riasannya sampai sebegitunya. Appa memakai jas, pakai lensa mata palsu pula. Appa bahkan memakai pewarna kelopak mata. Seperti Eomma saja.

Eomma sudah tahu soal ini belum, ya?

“Coba lihat, ini Appa-mu.” Taehyung menunjuk foto seorang laki-laki yang mengenakan jas berwarna biru tua.

“Appa-ku tampan sepelti vampil.”

Entah sejak kapan Jeongsan turut serta melihat album foto di pangkuanku. Jemari mungilnya menunjuk ke salah satu foto Appa.

“Appa-ku juga tampan sepelti vampil.”

Taerin, anak perempuan Taehyung Samcheon yang baru berusia tiga tahun, juga bersuara.

“Appa-ku yang tampan, Taelin-a!” seru Jeongsan.

“Appa-ku, Jeongsan Oppa!” balas Taerin.

“Appa-ku!”

“Appa-ku!”

“Appa-ku!”

“Appa-ku!”

“Ap—”

“BOWOWOW!” Taehyung Samcheon menaikkan volume suaranya. “Oke, dua-duanya tampan, oke? Kalian berdua jangan berisik!”

Jeongsan dan Taerin pun diam.

“Kalian berempat duduk di sini, ya. Jangan bertengkar. Aku akan membuatkan makan malam untuk kalian.”

“Ah, tidak usah membuatkan makanan untukku dan Jeongsan, Samcheon,” ucapku cepat. “Eomma sudah membuatkan kami makan malam. Ada di tas.”

“Eomma kalian membuat apa?”

Aku mengendikkan bahu. “Tidak tahu, Samcheon. Taya tidak lihat tadi Eomma membuat apa.”

“Samcheon lihat, ya?”

Aku mengangguk saja.

Lantas, Taehyung Samcheon bergerak ke tempat tasku dan tas Jeongsan berada, di atas meja di sudut ruangan, tidak jauh dari lemari televisi. Kulihat Taehyung Samcheon membuka tasku lebih dulu, mengeluarkan kotak bekal berwarna merah muda dari sana.

“Nugget?” gumam Tae Samcheon setelah membuka penutup kotak bekalku.

Ia lantas melakukan hal yang sama pada kotak bekal biru milik Jeongsan.

“Nugget juga?” Tae Samcheon menggeleng-gelengkan kepalanya. “Taya, Jeongsan, kalian makan masakan Samcheon saja, ya. Nugget itu tidak baik untuk anak-anak seperti kalian. Banyak bahan kimia. Lebih aman jika memakan masakan Samcheon.”

“Jangan! Taejoon ingin pesan makanan saja, Appa. Eomma juga tadi bilang pesan makanan saja. Jangan Appa yang membuat makanan,” sela Taejoon.

“Sudahlah. Jangan dengarkan kata Eomma-mu. Untuk apa memesan makanan di luar. Appa lihat kulkas kita masih penuh dengan bahan masakan. Harusnya kau belajar hidup hemat, Kim Taejoon!”

Aku dan Jeongsan hanya bisa memerhatikan percakapan dua orang itu sambil berharap semoga Tae Samcheon menuruti keinginan Taejoon.

“Kita akan makan masakan Chef Kim Taehyung,” putus Tae Samcheon, kemudian bergerak ke dapur.

Sejujurnya, aku merasa khawatir ketika Taehyung Samcheon mengatakan hal itu padaku. Bukan apa-apa, hanya saja …, aku pernah mendengar Appa bercerita kepada Eomma bahwa Tae Samcheon paling buruk dalam hal memasak. Dia sangat payah membuat makanan yang bisa dimakan oleh manusia.

Duh, bagaimana ini?

***

Tae Samcheon membawa masakan yang sudah dibuatnya di ruang keluarga. Pasalnya, Tae Samcheon ingin memperlihatkan sesuatu kepada aku, Jeongsan, Taejoon, dan Taerin. Taehyung Samcheon sudah menyiapkan errr … apa, ya, itu? Nasi, ikan, dan sup yang kelihatan seperti …

“Appa, ini bukan air cucian piring, ‘kan?” Taejoon menceletuk.

Ya, seperti air cucian piring.

“Tentu saja bukan. Kenapa kau bicara seperti itu kepada Appa, Kim Taejoon?”

Penampilannya saja sudah tidak meyakinkan. Bagaimana rasanya, ya?

“BLEEEH~!”

Aku baru saja melihat Jeongsan dan Taerin melepehkan sup itu.

“Appa, acin (asin)~” ujar Taerin dengan mimik wajah yang lucu karena keasinan.

“Masa, sih?” Tae Samcheon mengambil mangkuk sup Taerin, “Tadi Appa kasi turun garamnya cu—WAKS! Asiiin~” Gantian Tae Samcheon yang memejamkan mata, tidak sanggup menahan rasa masakan yang dibuatnya sendiri.

Segera saja kujauhkan sup itu dari hadapanku. Duh! Benar-benar tidak meyakinkan.

“Terus bagaimana, Appa? Taejoon tidak mau makan makanan ini!”

“Taelin juga!”

“Jeongsan juga!”

Mendengar tiga orang lainnya berkata seperti itu, mau tidak mau aku pun ikut berkata, “Taya juga tidak mau makan.”

“YAAA! Kalian semua. Aish!” Tae Samcheon menggaruk-garu kepalanya, frustrasi.

“Taejoon mau makan ayam krispi, Appa!”

“Taelin juga!”

“Jeongsan juga!”

Lagi, mendengar tiga orang lainnya berkata seperti itu, mau tidak mau aku pun ikut berkata, “Taya juga, Samcheon.”

Sebaiknya berkata seperti itu daripada mati kelaparan atau memakan makanan yang tidak bisa dimakan oleh manusia ini.

Kulihat Tae Samcheon menghela napas pasrah. Kasihan juga melihatnya seperti itu. “Baiklah, kita akan makan ayam krispi.”

“YEEEE~~~!!!”

***

Sambil menunggu kedatangan ayam krispi, Tae Samcheon memperlihatkan kepada aku, Jeongsan, Taejoon, dan Taerin sesuatu. Tae Samcheon bilang, video itu adalah sebuah film pendek yang ia, appa-ku, dan paman-paman Bangtan lainnya buat sewaktu muda.

Di video, Appa, Tae Samcheon, dan paman-paman Bangtan lainnya terlihat memasuki sebuah … eum … museum?!

“Yoongi Samcheon!” Taerin berteriak ketika melihat Yoongi Samcheon masuk ke tempat itu sambil mengendarai sepeda.

“Ahahaha.” Tawa Jeongsan dan Taejoon lepas begitu Yoongi Samcheon memukul kepala Jimin Samcheon.

Tidak lama, kamera mengarah pada Seokjin Samcheon yang …

“Whoaa, tampan sekali~” Refleks, kami berempat bergumam.

“Appa masih lebih tampan, Taejoon, Taerin,” tegur Tae Samcheon di belakang.

Video masih berlanjut dan kami masih setia menyaksikan. Sesekali berteriak begitu Appa kami terlihat di layar atau paman-paman Bangtan lainnya tampak keren di video itu. Ini hanya perasaanku saja atau video ini … eum, bagaimana mengatakannya, ya? Terlalu—

“Woah! Appa telbang, Nuna! Appa telbang!” Jeongsan berteriak heboh karena Appa tampak terbang di dalam sebuah ruangan berwarna biru di video itu. “Tae Samcheon, bagaimana Appa bisa telbang? Kenapa Appa tidak pelnah bilang kalau dia bisa telbang?”

“Itu … Appa-mu diikat dengan tali, Jeongsan. Talinya saja yang tidak terlihat. Makanya Appa-mu seperti sedang terbang.”

Kami kembali fokus menonton. Ketika video memperlihatkan tayangan Jimin Samcheon yang matanya ditutup dengan pita hitam yang panjang, dan pita hitam itu terikat pada pintu, kami serempak merasa kasihan. Sepanjang video, Jimin Samcheon tampak paling menderita. Dipukul oleh Yoongi Samcheon, terus matanya ditutup dan diikat. Kasihan sekali Jimin Samcheon.

Beberapa saat setelah itu, terlihat adegan Yoongi Samcheon sedang memainkan sebuah piano di dalam sebuah ruangan bernuansa hitam dengan sebuah benda raksasa di atasnya. Musiknya terdengar menyeramkan sekali. Seperti musik di film-film horor yang biasa ditonton oleh Appa dan Eomma di rumah.

“Siapa itu? Siapa itu?” Pertanyaan itu terdengar ketika selembar kain terangkat dan memperlihatkan seseorang.

Hoseok Samcheon?

Namjoon Samcheon?

“Woaah! Setan!” Taejoon sontak berteriak begitu sebuah patung raksasa dengan sayap berwarna hitam terpampang nyata di layar.

“Ya! Ya! Seokjin Samcheon kenapa mendekati setannya, Appa?” Taerin bertanya.

“Sst! Diam dulu, Taerin.”

Lantas beberapa detik kemudian …

“WAAAA!!!” Kami berteriak saat Seokjin Samcheon mencium … patung itu.

“APPA-KU! ITU APPA-KU!” Taerin berteriak karena sepersekian detik kemudian, wajah seseorang yang tadi tertutup kain telah tampak. Dia adalah Tae Samcheon.

Tepat di saat itu, entah kapan datangnya, suara Hyejin Imo terdengar. “Ya! Ya! Ada apa ini teriak-teriak? Taerin-a, kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu?”

“Itu Eomma! Appa tadi teltutupi kain. Telus ada luka di punggung Appa.”

“Kamu memperlihatkan apa kepada anakmu, sih?” Hyejin Imo bertanya pada Tae Samcheon. Lantas, begitu melihat aku dan Jeongsan, ia berkata, “Oh, Taya, Jeongsan, kapan kalian datang? Mana Appa dan Eomma kalian?”

“Appa dan Eomma—” Aku baru mau menjawab, tetapi Tae Samcheon lebih dulu menjelaskan.

“Jungkook dan Junmi sedang menjadi mak comblang untuk Hoseok Hyung. Jadi, mereka menitipkan anak-anak mereka di sini.”

“Kok Junmi tidak bilang apa-apa padaku?” Hyejin Imo bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Tae Samcheon mengendikkan kedua bahunya. “Entahlah. Tadi cuma Jungkook yang turun dari mobil mengantar anak-anaknya padaku.”

Hyejin Imo menghela napas. “Ya, sudah. Oh, ya, apa kalian sudah makan?”

Kompak, kami berempet menggeleng.

“Ya! Kenapa kau belum memberi anak-anak makan, sih?”

“Aku sudah menelepon restoran cepat saji untuk mengantar ayam krispinya ke sini. Pengantarnya saja yang belum tiba,” Tae Samcheon menyahut.

Heol, andai Hyejin Imo tahu bagaimana Tae Samcheon “meracuni” kami dengan garam tadi. Ckckckck.

“Ya, sudah. Kalian tunggu saja ayam krispinya, ya. Hyejin Imo mau ke dalam sebentar.”

Hyejin Imo beranjak ke dapur. Dan, seperti mengingat sesuatu, Tae Samcheon melompat dari sofa, menyusul istrinya ke dalam. Tampaknya, Tae Samcheon belum membersihkan dapur saat dia memasak tadi.

“ASTAGA, KIM TAEHYUNG, APA YANG KAU LAKUKAN PADA DAPURKU???”

Aku, Jeongsan, Taejoon, dan Taerin saling berpandangan. Tidak lama, Taejoon berkata, “Ayo main di luar. Sepertinya akan terjadi perang di antara Appa dan Eomma-ku.”

Appa …

Eomma …

Taya mau pulang ….

-THE END-

Iklan

2 thoughts on “{JEON FAMILY STORIES S2} IN TAE SAMCHEON’S HOUSE – BANGTAN’S YOUTH (TAYA’S POV)

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s