{JEON FAMILY STORIES S2} MY APPA (MIXED POV)

{JEON FAMILY STORIES S2} MY APPA (MIXED POV)

JFS SEASON 2

G / FAMILY / (BTS) JUNGKOOK, YOU & (OC) JEON TAYA / {JEON FAMILY STORIES S2} MY APPA (MIXED POV)

 

-Taya’s POV

Ke gedung bertingkat ini lagi.
Rasanya sudah lama sekali tidak ke sini.

“Ayo, Taya.”

Lamunanku terbuyar begitu Appa mengajakku masuk ke gedung bertingkat tempatnya bekerja sebagai seorang manajer. Appa memegang tanganku, menuntunku menuju lift yang akan membawa kami ke lantai lima, lantai bagian humas.

“Wah, hari ini Taya ikut dengan Appa, ya?”

“Tumben Taya ke sini, ada apa?”

“Taya, sudah lama sekali tidak datang ke sini, Sayang.”

“Taya sudah besar, ya? Cantik sekali.”

Dalam perjalanan menuju lift, kami beberapa kali berhenti lantaran teman-teman Appa yang mengenalku, datang menyapaku. Beberapa dari mereka mengelus kepalaku, bertanya banyak hal, bahkan ada yang mengajakku mampir ke ruangannya jika aku bosan berada di ruangan Appa. Aku senang karena teman-teman Appa di sini sangat baik.

Aku dan Appa pun masuk ke kabin lift. Appa menyempatkan diri mengecek penampilannya melalui cermin yang berada di sisi kiri lift. Hari ini, Appa-ku mengenakan kemeja berwarna merah marun yang ditutupi dengan jas berwarna hitam, lengkap dengan dasi yang berwarna senada. Appa menyisir rambutnya dengan model yang memperlihatkan dahinya. Kata Eomma, “Dahi Appa bisa menjadi tempat yang bagus untuk mendaratkan pesawat-pesawatan milik Jeongsan.”

Appa tidak tahu Eomma pernah berkata seperti itu padaku. Ups!

“Ting!”

Lift berhenti sebentar di lantai dua. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, lebih tinggi dari Appa, memasuki lift.

“Oh, Jungkook-ssi, hari ini kau membawa putrimu?”

“Iya,” Appa menyahut. “Taya, beri salam kepada Mingyu Ajussi.”

Aku membungkukkan tubuhku pada Paman Mingyu. Dia salah satu manajer di sini, sama seperti Appa. Aku tidak tahu dia manajer di bagian mana, tetapi dia selalu pergi ke luar negeri bersama Appa. “Selamat pagi, Ajussi.”

“Ya, selamat pagi juga,” dia menyahut. “Hari ini kenapa ikut dengan Appa, Sayang?”

“Mau mengerjakan tugas sekolah, Ajussi.”

“Oh, ya? Tentang apa?”

“Menulis tentang keseharian Appa.”

“Ooh, jadi, hari ini Taya mau melihat apa saja yang dilakukan Appa di kantor, ya?”

“Iya, Ajussi.”

Ya, hari ini aku ikut Appa ke kantor untuk mengerjakan tugas yang diberikan wali kelas. Taya dan teman-teman diminta untuk membuat karangan tentang keseharian ayah masing-masing. Tentu saja Taya harus menulis sesuatu yang bagus tentang Appa sebab nanti karangan ini akan dibacakan di depan Ibu Guru dan teman-teman.

Orang-orang harus tahu kalau Appa Taya itu hebat.

“Selamat pagi, Manajer Jeon. Oh, ada Taya juga. Selamat pagi, Taya.” Seorang gadis berdiri di balik meja yang tidak jauh dari pintu ruangan Appa, memberi salam. Dia adalah Bona Eonni, kakak yang selalu membantu Appa di kantor—begitu kata Appa.

“Selamat pagi, Eonni,” balasku.

“Pagi, Bona. Apa agendaku hari ini?” Appa bertanya.

Bona Eonni lekas mengambil satu buah buku bersampul merah bertuliskan “Agenda Manajer Humas” di bagian depannya. Ia lantas membacakan satu per satu jadwal harian Appa hari ini: rapat dengan seluruh staf bagian Humas, pertemuan dengan Mister Jo, dan pembahasan perilisan produk baru bersama Direktur Utama Manajer Produksi, dan Manajer Pemasaran.

Terdengar membosankan. Huft.

***

Aku telah berada di dalam ruang kerja Appa. Ruang kerja yang luas, hampir seluas ruang keluarga di rumah. Meja kerja Appa berhadapan dengan pintu masuk, lengkap dengan papan bertuliskan “Manajer Jeon” di atasnya. Di sisi kanan meja kerja Appa, ada satu set sofa tamu berwarna hitam-merah. Di belakangnya ada lemari berisi banyak bundel warna-warni dengan tulisan-tulisan yang tidak kupahami.

Sejak masuk di ruang kerja, aku hanya memandangi Appa dari salah satu sofa tamu. Appa sedang menandatangani sesuatu yang sudah tersedia di mejanya begitu ia duduk. Tidak lama, Appa menelepon, lalu Bona Eonni masuk ke ruangan. Appa berbicara sebentar pada Bona Eonni, kemudian menyerahkan sesuatu yang tadi ditandatanganinya.

“Taya, mau keluar, tidak? Di luar sudah ada Rana Eonni dan Junsu Oppa, lho,” tawar Bona Eonni.

Aku menggeleng. “Tidak sekarang, Eonni. Nanti saja.”

Selain Bona Eonni, aku juga berteman dengan Rana Eonni dan Junsu Oppa. Keduanya juga orang yang selalu membantu Appa, bahkan beberapa kali mereka bertiga datang ke rumah untuk membawa sesuatu dari kantor yang sangat dibutuhkan Appa.

“Taya, kalau bosan, nyalakan televisi saja, tidak apa-apa,” kata Appa sembari membuka laptopnya.

“Tidak, Appa. Nanti saja.”

Aku kan ke sini mau mengerjakan tugas, Appa, bukan menonton televisi.

Appa mulai mengerjakan sesuatu di laptopnya. Appa tampak serius. Beberapa kali kulihat, keningnya mengerut. Dia mengerjakan sesuatu yang sulit, sepertinya. Meskipun begitu, Appa terlihat berbeda saat bekerja di kantor dan di rumah.
Kalau di rumah, heol … Appa sangat kacau. Hanya mengenakan baju kaus, celana pendek. Rambutnya juga acak-acakan, belum lagi jika ditemani lagu ciptaan Namjoon Samcheon atau Yoongi Samcheon, woaah, dia akan berteriak-teriak sendirian.

Kalau di kantor, Appa terlihat sangat bagaimana-mengatakannya-ya? Sangat keren, juga tampan. Mungkin karena pakaian yang ia gunakan, juga tatanan rambutnya yang rapi. Belum lagi cahaya matahari yang menembus jendela di belakang Appa, waaah, Eomma harus lihat betapa tampannya Appa sekarang.

“Taya?”

“Ya?” Aku menatap Appa.

“Bisakah kau berhenti melihat Appa seperti itu, Sayang? Appa jadi kurang fokus diperhatikan seperi itu.”

Aku tertawa. “Appa sangat tampan. Eomma harus lihat!”

Gantian Appa yang tertawa. “Ah, Appa tahu Appa tampan. Semua orang tahu.”

Hmm … mulai.

“Taya mau keluar dulu,” kataku, sebelum Appa tidak jadi bekerja dan malah sibuk memuji dirinya.

***

-Jungkook’s POV

Pukul delapan malam lewat sekian menit, aku masih duduk di teras belakang sambil mendengar beberapa lagu baru yang diciptakan Namjoon Hyung. Semalam dia mengirimiku sebuah e-mail berisi file lagunya. Dia bilang, dia mengirimkan file itu juga kepada anggota Bangtan lainnya.

Aku terkesiap ketika kamu tiba-tiba datang membawa secangkir cokelat hangat yang baru saja kau letakkan di hadapanku. Lantas, kau menarik salah satu earphone yang terpasang di telingaku dan berkata, “Coba baca ini!”

Kau memperlihatkan sebuah buku tulis padaku. Buku tulis milik putri kita. Aku tahu sebab aku yang membelikan buku tulis untuknya, buku yang di bagian depannya bergambar Disney Princess.

“Ini apa?” tanyaku, memperbaiki posisi dudukku seraya melepas earphone-ku yang satu lagi.

Seiring buku itu berpindah ke tanganku, kau menjawab, “Taya sedang menulis ini sampai dia ketiduran di meja belajarnya.”

“Ha? Kau sudah memindahkannya ke tempat tidur?”

Aku mengangguk. Kuhela napas lega, lantas, kubaca tulisan yang tertera di halaman buku itu.

“Appa – Jeon Taya.

Appa-ku bernama Jeon Jungkook, usia 34 tahun. Sehari-harinya, Appa bekerja sebagai manajer humas. Dia berangkat ke kantor setiap pukul delapan, lalu pulang ke rumah jam lima sore. Appa seorang pekerja keras. Di kantor, dia mengerjakan banyak hal dengan wajah yang sangat serius. Orang-orang yang membantu Appa di kantor berkata bahwa Appa adalah bos yang baik dan tidak suka marah-marah. Bos Appa juga berkata bahwa Appa adalah karyawan yang pintar dan rajin. Meskipun aku tidak tahu maksudnya apa, tapi Bos Appa bilang bahwa Appa adalah salah satu anak emas di tempat Appa bekerja.

Di rumah, Appa adalah seorang ayah yang selalu membantuku mengerjakan tugas. Appa juga selalu membantu adik Jeongsan menggambar. Appa juga selalu membantu Eomma mencuci piring. Tapi, Appa juga sering mengganggu Eomma sampai Eomma marah-marah.”

“Aku akan menyuruh Taya menghapus bagian ‘marah-marah’ begitu dia bangun besok,” celetukmu.

“Kenapa? Biar saja,” timpalku, langsung disambut sebuah pukulan yang tidak begitu keras di lengan.

“Appa juga sangat disayang banyak orang. Aku, Eomma, adik Jeongsan, Halmeoni, Harabeoji, juga teman-teman Appa semasa muda sampai sekarang, paman-paman Bangtan. Taya senang memiliki Appa seperti Jeon Jungkook.

Appa sangat …”

“Taya sepertinya masih mau menulis sesuatu, tetapi dia ketiduran,” katamu begitu aku selesai membaca.

“Kau punya pulpen, tidak?”

Keningmu berkerut. “Kau mau apa?”

“Kau tidak usah tahu. Kau punya pulpen, tidak?”

Kau mendengus. “Taya punya. Mau aku ambilkan?”

“Ya, tolong.”

Tidak lama kemudian, kau pun kembali dengan sebatang pulpen di tanganmu.

“Kau mau apa, sih?” tanyamu, penasaran.

“Menyelesaikan tulisan Taya.”

“Ha?”

Aku lantas melanjutkan tulisan Taya yang—katamu—belum selesai itu.

Appa sangat …

“Tampan,” tulisku. “Selesai.”

“Ya!” Sekali lagi kau memukul lenganku. “Apa-apaan, sih, menulis seperti itu. Kalau gurunya baca, kan—”

“Loh? Tidak apa-apa, kan? Gurunya tidak tahu kalau yang menulis “tampan” itu adalah aku. Lagi pula, aku yakin Taya akan menulis seperti itu.”

“Kenapa kau bisa yakin?”

“Dia bilang sendiri di kantor tadi. Dia terus memerhatikan aku sampai aku salah tingkah sendiri. Terus, dia bilang, ‘Appa sangat tampan. Eomma harus lihat!’.”

“Oh, ya? Apa kau setampan itu?”

“Ya! Kau tidak perlu mengelak. Putrimu sendiri bahkan sudah mengakuinya!”

Kau lantas merebut pulpen dari tanganku, juga mengambil buku tulis Taya dari hadapanku. Kulihat kau mau menulis sesuatu juga di sana.

“Ya! Kau mau menulis apa?”

“Aku hanya mau menulis satu hal yang dilupakan Taya tentang Appa-nya.”

“Apa?”

“Appa-ku juga sangat mesum.”

“YAAA~!!!”

-THE END-

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s