{JEON FAMILY STORIES S2} THE SMART TAYA NUNA (JUNGKOOK’S POV)

{JEON FAMILY STORIES S2} THE SMART TAYA NUNA (JUNGKOOK’S POV)

JFS SEASON 2

ANDITIA NURUL / G / FICLET / FAMILY / (BTS) JUNGKOOK, YOU, (OC) TAYA & (OC) JEONGSAN / {JEON FAMILY STORIES S2} THE SMART TAYA NUNA (JUNGKOOK’S POV)

 

“Nuna, tolong bantu Jeongsan menulis angka-angka.”

“Ish! Nuna mau menonton, Jeongsan! Masa begitu saja tidak bisa, sih?”

“Tapi, Jeongsan, kan, balu belajal menghitung, Nuna. Jeongsan sudah menulis sampai angka tujuh, Jeongsan tidak tahu angka selanjutnya apa.”

“Delapan, astaga!”

Aku berbaring di sofa ruang keluarga, baru saja pulang bekerja, lalu mandi sore. Niatnya ingin beristirahat, chatting dengan kakak-kakakku di Bangtan sambil menikmati setoples biskuit cokelat. Namun, keributan yang terjadi di sekitar, membuat perhatianku teralihkan.

Dengan bibir yang cemberut, mata yang berkaca-kaca dan raut wajah yang menggariskan kekecewaan, Jeongsan melangkah gontai ke arahku. Aku tidak punya pilihan selain mengambil posisi duduk, memberinya tempat untuk duduk di tempatku.

Kulirik Taya yang duduk di karpet, menonton kartun. “Nuna tidak mau mengajar Jeongsan, ya?”

Jeongsan memilih untuk menjawab pertanyaanku dengan anggukan, alih-alih kata “iya”.

“Ya, sudah. Kalau begitu, belajar sama Appa saja, ya?”

Lagi, Jeongsan hanya bisa mengangguk.

Sebenarnya, aku yang tadi menyuruh Jeongsan untuk meminta dibantu mengerjakan tugas pada kakak perempuannya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin memberi tahu secara tidak langsung pada Jeongsan bahwa selain aku dan kamu, dia masih punya kakak perempuan yang bisa diandalkan. Sewaktu ia seusia Jeongsan, dia sudah bisa berhitung hingga seratus, berbeda dengan Jeongsan yang … yah, mungkin agak sedikit payah dalam hal hitung-menghitung.

Taya memang anak yang cerdas. Namun, dia galak. Bahkan dari seumur Jeongsan, galaknya sudah terlihat. Saat ini, usianya bahkan belum genap sembilan tahun, tapi duh … ucapannya itu seperti kembang api, meledak-ledak. Aku tidak bisa bayangkan seperti apa jadinya nanti jika ia sudah remaja dan mengalami yang namanya pre menstruasi syndrome.

Bukan seperti kembang api lagi, tapi bom.

Bom atom.

Mengingatkanku pada seseorang yang berada di dapur saat ini.

Bukan kamu, kok.

***

“Sepertinya aku perlu bicara dengan Taya.”

Kau yang sedang mencuci piring, mengalihkan sebentar pandanganmu ke arahku yang masih duduk di meja makan, menikmati hidangan pencuci mulut berupa pudding. “Memangnya ada apa dengan Taya?”

“Kau tidak perhatikan dia itu bersikap cukup galak pada adiknya?”

“Aku tahu,” sahutmu. “Aku sudah berapa kali memperingatkannya agar jangan membentak Jeongsan kalau Jeongsan nakal, tapi … Taya sepertinya tidak mau mendengarkan ucapanku,” tuturmu. “Mungkin kalau kamu yang bicara, dia akan dengar.”

“Ya, semoga saja.”

“Heran,” lanjutmu saat menerima piring kotor bekas pudding yang kuberikan padamu, “dia itu kenapa bisa galak, ya? Turunan dari siapa, sih?”

Ya Tuhan, kau masih bertanya Taya galak itu turunan dari siapa?

“Yang jelas, sifat pemarahnya itu tidak turun dariku.”

Lantas, aku buru-buru meninggalkan dapur.

***

Taya sedang membaca catatan, entah pelajaran apa, saat aku masuk ke kamarnya. Selain cerdas, Taya juga rajin. Kadang-kadang, aku berpikir bahwa di masa depan, Taya mungkin bisa menjadi seorang wanita karir yang sukses. Ia bisa bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan kedudukan yang tinggi sebelum usianya menginjak empat puluh tahun.

Ehm, seperti ayahnya.

Padahal, seingatku, dulu waktu sekolah aku tidak pintar-pintar amat. Aku juga tidak begitu rajin. Mungkin aku hanya beruntung menjadi seorang Manajer Humas di usiaku yang ke-34 … hahaha.

“Ada apa, Appa?” Taya memutar posisinya agar menghadapku yang duduk di tepi tempat tidurnya.

“Taya sudah pernah dengar orang-orang berkata bahwa Taya anak yang cerdas?”

Sejenak gadis kecil berambut panjang itu memerhatikanku, lalu mengangguk. “Ibu guru pernah mengatakan itu pada Taya. Beberapa orangtua teman Taya juga pernah mengatakan itu. Appa dan Eomma juga.”

“Tapi, Taya pernah berpikir Taya diberi kecerdasan oleh Tuhan agar Taya bisa membantu orang lain? Membantu adik Jeongsan, misalnya.”

Gadisku tidak bersuara. Ia hanya menatapku seolah tidak tahu harus berkata apa atau … ia baru saja menyadari sesuatu.

“Taya, dengarkan Appa.” Nadaku terdengar serius, bahkan terlalu serius untuk seorang gadis berusia delapan tahun sepuluh bulan. “Menjadi orang cerdas itu bagus, tapi … apa gunanya menjadi cerdas kalau tidak bisa membantu orang lain?”

“…”

“Appa tidak menyuruh Taya membantu orang lain dalam hal buruk seperti memberi contekan, tapi …” aku sengaja membuat jeda beberapa detik, membiarkan otaknya mencerna ucapanku sedikit demi sedikit, “dengan mengajari orang lain sampai dia mengerti.”

“…”

“Sebenarnya, tadi Appa tidak suka Taya tidak mau membantu adik Jeongsan yang kesulitan mengerjakan tugasnya. Jeongsan pasti akan senang sekali kalau Nuna-nya yang mengajarinya.”

“…”

“Jeongsan juga sering bilang loh kalau Taya itu pintar. Jeongsan juga pernah bilang kalau dia mau seperti Taya Nuna, nilai-nilai tugasnya selalu seratus. Di pikiran Jeongsan, Taya Nuna itu sangat keren karena Taya Nuna pintar.”

“…”

“Lain kali, kalau adik Jeongsann meminta pertolongan Taya Nuna, ditolong, ya? Siapa lagi yang akan menolong adik Jeongsan kalau bukan Taya Nuna?”

Kulihat raut wajah gadisku berubah sendu. Kelihatannya dia mulai memahami apa yang aku katakan padanya barusan. Melihatnya seperti itu, kujulurkan tanganku ke depan, memancingnya mendekat padaku. Taya beringsut ke arahku dengan kepala yang agak menunduk. Seseorang sepertinya telah menyesali perbuatannya. Begitu gadis kecilku berdiri di antara kedua pahaku, kubelai rambut panjang sepunggungnya penuh sayang.

“Maafkan Taya, Appa,” lirihnya.

Kuusuk rambutnya lembut sambil berkata, “Ya, tapi lain kali Taya tidak boleh seperti tadi, ya?”

Taya mengangguk pelan.
Kutarik tangannya agar ia lebih dekat denganku. Sepersekian detik kemudian, kukecup dahinya, kemudian menyandarkan kepalanya di dahiku. Aku lantas berucap lembut di telinganya, ucapan yang pernah dikatakan ayahku—kakeknya—padaku, “Tuhan memberimu kelebihan agar kamu bisa membantu orang lain menutupi kekurangannya. Taya harus ingat itu.”

-THE END-

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s