{JEON FAMILY STORIES S2} CHEER UP, BABY

{JEON FAMILY STORIES S2} CHEER UP, BABY

JFS SEASON 2

ANDITIA NURUL / G / FICLET / FAMILY / (BTS) JUNGKOOK, YOU, (OC) JEON TAYA & (OC) JEON JEONGSAN / {JEON FAMILY STORIES S2} CHEER UP, BABY

“Aku sudah selesai.”

Ini bukan kali pertama Jungkook terlihat tidak nafsu makan sejak mengalami mimpi buruk beberapa hari yang lalu. Dia hanya makan satu mangkuk nasi, tidak tambah satu-dua kali seperti biasa. Ujung-ujungnya, makanan yang kubuat banyak yang tinggal. Termasuk daging panggang yang sengaja kubuat untuk meningkatkab nafsu makannya, sama sekali tidak berhasil.

Begitu Jungkook beranjak dari ruang makan, gadisku lekas bertanya, “Eomma, Appa kenapa? Appa jadi aneh belakangan ini.”

“Iya, Eomma. Kenapa Appa jadi malas makan? Appa juga jalang menemani Jeongsan belmain lagi. Appa malah sama Jeongsan, ya?” Jeon kecil kami pun turut bertanya-tanya tentang sikap ayahnya.

“Appa pernah bermimpi buruk, Sayang, dan Appa sepertinya terlalu memikirkan mimpinya.”

“Memangnya …, Appa memimpikan apa Eomma?” tanya Taya.

“Entahlah,” aku menyahut. “Appa tidak menceritakannya dengan jelas pada Eomma.”

“Ayo, ajak Appa jalan-jalan, Eomma!” seru Jeongsan tiba-tiba. “Appa kan suka mengajak kita jalan-jalan kalau sedang tidak belsemangat!”

Sejenak aku terdiam mendengar ucapan putraku. Dia benar. Cara Jungkook menghibur kami biasanya dengan mengajak kami jalan-jalan keliling kota. Itu ide yang bagus. Semoga Jungkook mau.

*

“Kau mau aku yang menyetir?” tanyaku begitu Jungkook duduk di balik kemudi dengan tampang lesu.

Priaku menggeleng. “Tidak perlu, aku bisa. Kalian mau ke mana?”

“Tempat bermain!” Dua bocah yang duduk di belakang berteriak.

“Ya! Ya! Harusnya Appa yang pilih dong,” kataku, menengok ke belakang. “Kita kan ke luar untuk mengajak Appa jalan-jalan. Appa mau ke mana?”

“Mmm … ya, sudah, taman bermain saja.”

“YEEY!!!”

Jungkook lantas melajukan mobil ke sebuah taman bermain indoor. Sepanjang perjalanan, aku sengaja memutar lagu–lagu anak-anak yang juga Jungkook hafal. Bertiga dengan anak-anak, kami bernyanyi dengan riang gembira. Harapannya, sih, Jungkook juga mau turut bernyanyi. Akan tetapi, priaku terlampau serius mengemudikan mobil. Atau terlalu serius memikirkan mimpinya.

Sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami tiba di taman bermain indoor. Jeongsan segera menarik ayahnya menuju arena boom boom car.

“Ayo, Appa. Jeongsan mau main mobil-mobilan.”

“Jeongsan saja yang main, ya. Appa akan melihat Jeongsan dari sini.”

“Tapi, Appa–”

“Jeon-a,” aku menarik Jungkook, berbisik padanya, “temani Jeongsan, ya. Kau butuh hiburan dan Jeongsan membutuhkan ayahnya. Main, ya?”

Jungkook-ku mengangguk dengan begitu lesunya. Berbanding terbalik dengan Jeongsan-ku yang tersenyum begitu ceria. Sementara itu, Taya-ku telah beranjak menuju wahana komedi putar yang tidak jauh dari wahanan boom boom car.

Sambil mengawasi Taya yang bermain sendiri, sesekali aku mengalihkan pandangan ke arah Jungkook dan Jeongsan. Wajah Jungkook sudah sedikit berekspresi–kendati itu ekspresi panik setiap kali ia membantu Jeongsan mengarahkan stir dan berujung menabrak mobil lain. Jeongsan dan Jungkook lebih dulu selesai dengan boom boom car-nya, menunggu Taya sebelum kami berempat menaiki wahana bianglala.

Memandang seluruh wahana yang ada di taman bermain ini dari kabin bianglala merupakan hal yang baru bagiku. Biasanya, aku hanya membiarkan Jungkook, Taya, dan Jeongsan yang naik. Namun kali ini, aku sengaja turut serta sebab ingin membuat suasana di dalam kabin lebih hidup. Ayah mereka … terlihat belum bisa melakukan itu.

“Eomma! Eomma! Setelah ini, kita ke lumah hantu, ya,” usul Jeongsan.

“Memangnya Jeongsan berani?”

“Belani!” tutur jagoan kecilku terdengar angkuh. Duh, Jungkook sekali gayanya.

“Jeongsan, di sana ada hantu, lho~” Kakaknya menakut-nakuti.
“Hantunya nanti memakan Jeongsan seperti ini … booo~” Taya menaikkan kedua tangannya, lengkap dengan jari-jari seolah cakar.

“Booo … aku mau makan Jeongsan~” Aku ikut-ikutan.

“Appa~!” Jeongsan yang kebetulan duduk bersebelahan dengan ayahnya, seketika mengadu, memeluk lengan ayahnya. Aku dan Taya saling berpandangan, tertawa cekikikan.

“Begitu saja takut … huuu~” ledek Taya.

“Appa~” Jeongsan mengadu lagi.

“Taya~” Jungkook bergumam.

“Maaf, Appa.”

Setelah beberapa putaran, wahana pun berhenti. Kami berempat segera turun.

“Mau main lagi atau mau jajan dulu?” tawarku. Dua wahana kupikir sudah cukup membuat makan malam di perut tidak bertahan.

“Jajan, Eomma. Lapal.”

Jeongsan ini seperti Jungkook kedua. Cepat lapar.

Kupinta kedua anakku dan ayah mereka untuk duduk di salah satu bangku, sedangkan aku beranjak mencari jajanan. Hanya sebentar, lalu aku kembali menemui mereka dengan membawa dua bungkus kentang goreng, sebungkus nachos, dan sebungkus sosis pedas.

“Loh? Taya dan Jeongsan mana?” Aku terkejut sebab begitu aku kembali, hanya ada Jungkook di bangku yang tadi.

“Di sana.” Jungkook menunjuk ke arah panggung boneka yang tidak jauh dari bangku.

Kuberikan bungkusan berisi nachos dan sosis pedas pada Jungkook. Kemudian bergerak menghampiri kedua buah hatiku yang asik menyaksikan pertunjukkan boneka–bercerita tentang Mulan, putri raja yang pemberani. Kuberikan masing-masing bungkusan kentang goreng dan botol air minum kepada mereka, lalu bergegas keluar dari sekerumunan anak-anak yang menonton.

“Tumben makan nachos,” Jungkook menyeletuk sembari menikmati sosis pedasnya.

“Entahlah. Tiba-tiba saja ingin makan nachos,” aku menyahut. “Tolong bukakan saus kejunya.”

“Aneh. Biasanya juga tidak suka makan nachos, apalagi pakai saus keju.”

Aku menerima bungkusan saus keju yang sudah terbuka, menjawab “Mungkin bawaan adik bayi.”

“Adik bayi?” Jungkook memegang pundakku, memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya.

Memandangku dengan kedua mata bulat berbinarnya, priaku bertanya, “Kau … hamil?”

“Jalan dua bulan,” jawabku.

“Ya~, kenapa kau tidak bilang?” gerutunya. Aku sengaja tidak menjawab. Tidak lama, kurasakan telapak tangan Jungkook mengelus lembut bagian perutku, “Ya, Sayang, masa Eomma tidak bilang-bilang kalau kamu sudah ada di dalam perut Eomma. Eomma jahat sekali, ya?”

Lagi-lagi, aku tidak merespons ucapannya. Terlampau sibuk mengamati wajah priaku yang kini berseri-seri. Senyum menawan miliknya sudah kembali.

Syukurlah.

Beberapa menit kemudian, Taya dan Jeongsan menghampiri kami, meminta tisu untuk membersihkan jari-jari mungil mereka dari bubuk bumbu kentang goreng yang tersisa. Namun, mendapati wajah ayah mereka begitu bahagia, sang kakak berkata, “Appa kelihatan bahagia sekarang, ada apa?”

Sambil membantu Jeongsan membersihkan jari-jarinya, kudengar Jungkook berkata, “Taya, Jeongsan, sebentar lagi kalian akan mendapat adik.”

Senyum di wajah Jungkook masih mengembang, berbanding terbalik dengan senyum di wajah Taya yang pelan-pelan memudar.
“Adik? Adik itu apa?” tanya Jeongsan, polos.

Priaku baru mau menjawab, tahu-tahu Taya mendahuluinya, “Itu loh Jeongsan, monster kecil keriput.”

What?

“Hiyyy, Jeongsan tidak mau punya adik.”

Jungkook menggumam kesal, “Jeon Tayaaaaaa~”

-THE END-

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s