{JEON FAMILY STORIES S2} THE SECOND WEDDING

{JEON FAMILY STORIES S2} THE SECOND WEDDING

JFS SEASON 2

ANDITIA NURUL / PG-13 / VIGNETTE / ROMANCE, FAMILY / (BTS) JUNGKOOK, YOU, (OC) JEON TAYA & (OC) JEON JEONGSAN / {JEON FAMILY STORIES S2} SECOND WEDDING

Pukul enam sore dan aku masih bergulat di dapur untuk menyiapkan makan malam. Bukan makan malam biasa, melainkan makan malam istimewa sebagai bentuk perayaan hari ulang tahun pernikahanku yang kesepuluh dengan seorang pria bernama Jeon Jungkook.

Ya, 20 Agustus tahun ini, pernikahan kami genap berusia sepuluh tahun. Sungguh, waktu begitu cepat berlalu. Aku masih ingat seperti apa gaun pengantin yang aku kenakan di hari yang bahagia itu. Aku masih ingat betapa gugupnya saat berjalan menyusuri karpet menuju Jungkook yang berdiri di depan altar. Aku masih ingat setampan apa Jungkook dalam balutan tuksedo putihnya. Aku masih ingat segugup apa diriku saat mengucap janji suci untuk mencintai Jungkook dalam suka dan duka, setia padanya hingga maut yang memisahkan. Aku masih ingat saat Jungkook menyematkan cincin di jari manisku sebagai simbol pengikat di antara kami. Dan, aku masih ingat seperti apa rasanya … ciuman pertama kami sebagai sepasang suami-istri.

Jangan tanya soal malam pertama kami.

Aku tidak akan membahasnya!

“Eomma, apalagi yang harus Taya siapkan?”

Aku tidak sendirian membuat perayaan ini. Gadisku sudah bisa diandalkan untuk membantu menata meja makan, bahkan mencuci sayur untuk bahan sup. Sembari membalur ayam dengan tepung—persiapan untuk membuat ayam krispi kesukaan Taya dan Jeongsan, aku menengok ke arah meja makan. Empat mangkuk nasi dan gelas sudah siap di sana. Mangkuk untuk sup juga sudah tertata di tengah meja makan.

“Serbetnya belum ada, Sayang. Ambil di lemari cokelat itu, ya.”

“Iya~”

Taya beranjak menuju lemari tempat aku menyimpan serbet, taplak meja makan, lap, dan kain pelapis. Aku kembali fokus membalur dua potong paha ayam dan dua potong dada ayam dengan tepung ketika …

“Wah! Malam ini makan besar, ya.”

… Jungkook pulang dari kantor.

Aku menoleh ke asal suara dan kutemukan Jungkook berdiri di dekat meja makan. Priaku masih mengenakan kemeja hijau muda dengan dua kancing bagian atas yang sudah ia lepaskan, lengkap dengan tangan kemeja yang ia gulung hingga sebatas siku. Senyumnya merekah, sepasang matanya berbinar. Oh, dia memang sangat senang jika ada acara makan malam istimewa.

“Duh, repot-repot segala menyiapkan semua ini.” Jungkook tahu-tahu berdiri di belakangku, memelukku, dan mencium pipiku manja.

“Dih, Appa genit.”

Ya, siapa lagi kalau bukan Taya yang berteriak seperti itu. Untungnya, Jeongsan terlalu sibuk memirsa DVD power ranger yang sengaja kuputar agar ia tidak mengganggu di dapur.

Jungkook hanya meloloskan tawa mendengar komentar putrinya.

“Sebaiknya kau pergi mandi, Jeon-a. Jangan sampai acara makan malam istimewa kita rusak karena kau bau badan,” ujarku.

“Memangnya aku sebau itu?”

Alih-alih menjawab, aku malah berkata, “Sudah, mandi sana. Ajak Jeongsan juga. Dia belum mandi.”

Jungkook lantas melepaskan pelukannya dari tubuhku. “Iya, aku pergi mandi sekarang. Jeon Jeongsan, ayo mandi dengan Appa.”

***

Ayam krispi, daging panggang, sosis panggang, dan telur gulung yang kubuat sejak sore, tidak ada yang tersisa. Entah apa yang terjadi dengan nafsu makan Jungkook, Taya, dan Jeongsan malam ini, tetapi aku bersyukur mereka bertiga makan dengan lahap—aku lebih bersyukur lagi karena aku tidak perlu memakan sisa makanan Jeongsan yang bisa membuat program dietku gagal.
Baru saja selesai mencuci peralatan memasak dan peralatan makan, aku beranjak meninggalkan dapur. Biasanya, tempat berkumpul setelah makan malam adalah ruang keluarga, tetapi tidak ada siapa-siapa di sini. Televisi pun dalam keadaan mati. Kendati demikian, suara tawa dan percakapan hangat terdengar dari dalam kamar.

“Kalian sedang membicarakan apa?” Aku bersuara sebagai tanda bahwa aku telah hadir di dalam kamar, ingin bergabung dengan mereka yang duduk di atas tempat tidur.

“Ah, mempelai wanitanya sudah datang.”

Mempelai wanita?

Gadis kecilku tahu-tahu turun dari tempat tidur, berlari menghampiriku. Buah cinta pertamaku dengan Jungkook itu lantas meraih tanganku, menuntunku ke tempat tidur, lantas menyuruhku duduk bersebelahan dengan ayah mereka.

“Ada apa ini?” Aku menoleh ke arah Jungkook, bingung dengan apa yang Taya dan Jeongsan persiapkan.

“Mereka ingin melihat kita menikah,” Jungkook menyahut.

“Melihat kita menikah? Maksudnya?”

“Taya dan Jeongsan kan belum lahir ketika Eomma dan Appa menikah,” Taya menjelaskan. “Taya dan Jeongsan ingin melihat Eomma dan Appa melakukan pernikahan.”

“Kan bisa nonton videonya, Sayang. Taya dan Jeongsan kan sudah melihatnya.”

“Sudahlah, Sayang,” bisik Jungkook. “Biarkan mereka melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Anggap saja ini bagian dari perayaan ulang tahun pernikahaan kita yang kesepuluh.”

Aku menghela napas. “Ya, sudah.”

Setelah menghabiskan beberapa menit persiapan, acara “pernikahan”-ku dengan Jungkook akan dimulai. Tidak ada tamu, tidak ada musik pengiring pengantin, tidak ada hiasan bunga-bunga. Hanya dua buah bantal yang ditumpuk di hadapanku dan Jungkook, juga Jeongsan dalam balutan kemeja ayahnya. Ya, malam ini, Jeon kecil kami akan bertindak sebagai orang yang akan mengambil sumpah pernikahan.

“Jeon Jungkook …”

“Jeon Jungkook,” Jeongsan bersuara setelah Taya membisikkan sesuatu di telinganya.

“… bersediakah kamu menikahi Cho Junmi …”

“… belsediakah kamu—uh, nuna bilang apa?” Jeongsan menoleh ke arah kakak perempuannya, menggaruk-garuk kepalanya, bingung.

Aku dan Jungkook kompak meloloskan gelak tawa. “Anak-anak kita lucu sekali, Jeon~” gumamku, memeluk lengan Jungkook seraya menyandarkan kepalaku di pundaknya.

“Ish! Nuna bilang ‘menikahi’, Jeongsan,” Taya agak membentak. “Ulang!”

Jeongsan memanyunkan bibirnya, tetapi tidak punya pilihan selain menuruti ucapan kakaknya. “Jeon Jungkook, belsediakah kamu …”

“… menikahi Cho Junmi …”

“… menikahi Cho Junmi …”

“… dan menemaninya …”

“… dan menemaninya …”

“… dalam suka ataupun duka?”

“… dalam suka ataupun duka?”

Aku terkikik geli mendengar Jeongsan berbicara seperti itu. Kendati tubuh mungilnya hanya dibalut kemeja putih milik ayahnya—sebagai pengganti jubah, ia tampak serius mengucapkan setiap kata yang dibisikkan kakaknya.

“Ya, saya belsedia.” Jungkook ikut terkekeh, sengaja mengikuti cara bicara Jeongsan yang cadel.
Aku tertawa lagi.

“Cho Junmi …”

“Cho Junmi ….” Kali ini Jeongsan menyebut namaku.

“… bersediakah kamu …”

“… belsediakah kamu …”

“ … menikah dengan Jeon Jungkook …”

“ … menikah dengan Jeon Jungkook …”

“… dan mencintainya …”

“… dan mencintainya …”

“ … dalam sehat ataupun sakit?”

“ … dalam sehat ataupun sakit?”

Aku menoleh ke arah Jungkook, tersenyum geli. “Ya, tentu saja bersedia.”

Seumur hidup, aku tidak pernah sekalipun membayangkan acara “pernikahan kedua” dengan Jungkook. Alih-alih berselimutkan suasana sakral yang terbalut ketakziman dan diiringi doa dari orang-orang terdekat, pernikahan kedua ini terasa lebih santai—mungkin pengaruh dari orang yang bertugas mengambil sumpah hehehe. Tidak ada jantung yang berdegup tak beraturan karena gugup, hanya ada tawa bahagia.
Yang lebih penting dari itu, pernikahanku dan Jungkook kali ini disaksikan oleh kedua buah cinta kami.

“Sekarang, Appa silakan memberikan kadonya,” ujar Taya, membuatku tercengang.

“Tunggu! Kado? Kado apa?” Aku panik. Apakah ada acara tukar kado di antara aku dan Jungkook? Astaga! Aku tidak punya kado yang bisa kuberikan kepada suamiku.

“Appa bilang, Appa punya kado untuk Eomma. Ini sebagai ganti acara pemasangan cincin.”

“Jeon-a,” nada suaraku masih terdengar panik, “kenapa kau tidak bilang bahwa kau punya kado untukku? Aku kan tidak punya sesuatu untuk diberikan padamu.”

Beberapa saat lalu, Jungkook turun dari tempat tidur, beringsut menuju tas kerja yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Dari tas itu, kulihat dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna merah yang cukup besar. Mungkin isinya kalung atau gelang.

“Tidak apa-apa. Aku memang sengaja menghadiahkan ini untukmu.” Jungkook kembali duduk di sebelahku.

Disaksikan oleh Taya dan Jeongsan, Jungkook membuka penutup kotak perhiasannya. Ada sebuah kalung emas dengan liontin JJ yang dibentuk sedemikan rupa di sana.

“Biar aku pakaikan,” ujar Jungkook.

Kurapikan rambut panjangku yang terurai untuk memudahkan Jungkook mengalungkan hadiahnya di leherku. Beberapa saat kemudian, kutemukan liontin JJ itu menghiasi dadaku.

“JJ?” gumamku.

“Jungkook-Junmi, Junmi-Jungkook, Jeon Jungkook. Terserah kamu mau mengartikannya sebagai apa. Yang jelas, itu sebagai pengingat bahwa kau itu milik siapa.”

Aku tersenyum, tertawa samar. “Tanpa perlu diingatkan, aku juga tahu aku ini milik siapa,” tuturku. “Milik Jeon—”

“Jeon Jeongsan!” Tahu-tahu Jeongsan berteriak, melompat kepangkuanku. Aku nyaris terdorong ke belakang andai aku tidak cukup sigap dengan serangan anak bungsuku yang tiba-tiba.

“JJ juga bisa jadi nama Jeongsan, Appa, Eomma. Jeon Jeongsan.”

“Ish!” Taya memukul pelan punggung adiknya. “Jeongsan merusak suasana, ih!”

“Taya~” Jungkook menegur.
Gadisku langsung memasang wajah cemberut.

“Jadi,” aku segera mengambil alih, “setelah ini, apa lagi? Acara pernikahan Appa dan Eomma sudah selesai?”

“Belum, Eomma,” Taya menggumam. “Eum, sekarang giliran pengantin pria yang dibolehkan mencium pengantin wanita.”

“Uh?” Kubulatkan kedua mataku. “Memang harus ada acara seperti itu?”

“Bukannya memang ada acara seperti itu, Eomma?”

“Iya, sih, tapi—tunggu!” Aku merasa ada sesuatu yang aneh. “Jeon-a, kau kan yang menyuruh Taya untuk mengatakan itu?” Aku menengok ke arah suamiku, memandangnya penuh selidik. Tidak mungkin Taya-ku akan berkata seperti itu jika bukan—

“Yee! Sok tahu! Aku tidak menyuruh Taya seperti itu. Iya, kan, Ta—”

“Appa bohong!” Jeongsan berteriak … lagi. “Tadi Jeongsan dengal Appa menyuluh Taya Nuna mengatakan itu sebelum Eomma masuk ke kamal. Kata Bu Gulu, anak baik tidak boleh bohong. Appa bukan anak baik. Lapol Halmeoni, lho.”

TUH, KAAAAAN!!!

“Jadi, kau kan yang menyuruh Taya?”

Menggaruk tengkuknya seraya memamerkan sebuah senyum canggung, Jungkook menyahut, “Iya, sih.”

Aku mencebik. “Tidak. Tidak ada ciuman!”

“Yaah, Eomma,” Taya menggumam, kecewa.

“Taya dan Jeongsan masih kecil. Tidak boleh melihat yang seperti itu!”

“Sudah lihat di video pernikahan Appa dan Eomma!”

Wajahku seketika memerah. “Ma-maksud Eomma, tidak boleh melihat yang seperti itu secara langsung, di depan mata. Tidak boleh!”

“Yah, Eomma~”

“Sayang,” Jungkook meraih tanganku, “lakukan saja.”

“Apa? Kau gila apa? Kau mau menciumku di depan anak-anak yang masih di bawah umur. Kau—”

“Chup~”

Ucapanku terhenti kala Jungkook tiba-tiba mengecup bibirku. DIA MENGECUP BIBIRKU DI DEPAN TAYA DAN JEONGSAN! ASTAGA!!!

“Sudah,” ucapnya santai begitu mengakhiri kecupan singkatnya. “Tapi, Taya dan Jeongsan tidak boleh melakukan hal seperti itu pada teman, ya. Hanya pada suami atau istri kalian nanti.”

Dengan kedua pipi yang bersemu merah, kedua tangan yang ditangkupkan ke wajah seolah ia baru saja melihat adegan romantis dari film Princess kesukaannya, Taya berkata, “Iya, Appa.”

“Awas kalau Appa tahu kalian mencium orang lain seperti itu. Hanya boleh dengan suami atau istri kalian, oke?”

“Tapi, Appa …” Jeongsan menggumam, “kemalin Jeongsan mencium orang lain yang bukan isteli. Apa Jeongsan akan dihukum?”

Aku dan Jungkook saling berpandangan.

“Siapa?” sambarku cepat. “Memangnya Jeongsan mencium siapa kemarin?”

Mungkinkah ini akibat dari public display of affection yang sering aku dan Jungkook lakukan di rumah? Maksudku, ya, kadang-kadang sih aku dan Jungkook menunjukkan sisi romantis penuh kasih sayang kami di depan anak-anak. Tapi …

“Lho? Jeongsan kan mencium Eomma kemalin,” sahutnya polos. “Eomma kan bukan isteli Jeongsan, tapi isteli Appa.”

SIAL!

KALAU YANG ITU BEDA CERITA, JEON JEONGSAN!!!

AISH! Anak ini bikin kaget saja.

-THE END-

A/N: Sooo, guys, ini sebenarnya adalah hari peringatan dua tahun gue ngebias Jeon Jungkook. Jadi, ya, awal waktu suka BTS, gue ngebias Bang Seokjin. Tapi setelah album Dark and Wild brojol, gue resmi pindah bias ke Jungkook ehehehe. Karena D&W rilis tanggal 20 Agustus, anggap saja di hari itu juga gue nikah/? sama Jungkook

Iklan

2 thoughts on “{JEON FAMILY STORIES S2} THE SECOND WEDDING

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s