{JEON FAMILY STORIES S2} THE MONSTER’S VOICE (MIXED POV)

{JEON FAMILY STORIES S2} THE MONSTER’S VOICE (MIXED POV)

JFS SEASON 2

ANDITIA NURUL / PG-15 / VIGNETTE / FAMILY, ROMANCE, COMEDY/? / (BTS) JUNGKOOK, YOU, (OC) JEON TAYA & (OC) JEON JEONGSAN / I OWN NOTHING BUT OCs AND STORYLINE

-Your POV-

Aku bergerak ke kamar mandi setelah kuganti kaus dan rok selutut yang aku kenakan dengan tank top berwarna peach dan celana panjang berwarna krem. Kuambil sikat gigi dan odol, melakukan rutinitas pembersihan mulut sebelum beranjak tidur.

Aku tengah menggosok gigi ketika kulihat melalui cermin wastafel, priaku berdiri di ambang pintu kamar mandi. Dalam balutan kaus tanpa lengan dan celana panjang hitam, priaku itu beringsut ke arahku, seketika melingkarkan kedua lengan dengan bisep yang terbentuk sempurna itu di pinggangku.

“Anak-anak sudah tidur, hm?” tanyaku usai kubasuh mulutku yang dihiasi busa di beberapa bagian.

“Ya. Adik Jeongsan sudah tidur, Taya Nuna juga sudah tidur,” jelasnya.

“Oh, kalau begitu, salah satu di antara kita harus tidur di lantai atau di kamar Taya.” Aku membalik tubuhku menghadapnya setelah kuselesaikan kegiatan menyikat gigi, membuat pelukannya terlepas. “Tempat tidur kita terlalu sempit untuk empat orang.”

Priaku mendengus pelan, “Iya. Nanti aku akan tidur di kamar Taya.” Jungkook mengalah.

“Ya, sudah. Kalau begitu menyingkirlah karena aku mau tidur.”

“Jangan tidur dulu. Ini baru pukul sepuluh malam. Masa kau mau langsung tidur?”

“Aku sudah mengan—”
Ucapanku terpotong lantaran Jungkook membungkam mulutku dengan sebuah ciuman yang mendadak. Ish! Dia kenapa?

“Apa yang—”

Aku baru hendak berbicara begitu ia melepas ciumannya beberapa saat, tetapi ia memaksaku menelan kata-kata yang tidak sempat terlontar dari mulutku. Diisapnya bibir bagian bawahku, membuatku nyaris kehilangan akal.

“Jeon-a, menyingkir dari situ. Aku mau—mmh.”

Jungkook menghimpit tubuhku di antara tubuhnya dengan wastafel. Kendati kedua tanganku mampu mendorong tubuhnya menjauh, hal itu hanya berlangsung sekian detik hingga ia kembali menghimpitku dan melanjutkan pekerjaannya—mencumbu setiap inci kulit leherku.

“Jeon-a, please, aku—ngh.”

Aku berusaha keras menahan diriku untuk tidak tenggelam dalam aktivitasnya lantaran takut anak-anak mendengar sesuatu yang belum pantas untuk mereka dengar. Ya, kau tahu, suara-suara semacam desahan, lenguhan dan erangan. Bukankah hal-hal seperti itu tidak pernah luput dari—ya, kau tahu, permainan antara suami-istri.

“Jeon-a, aku tidak mau kita berisik.” Itu satu-satunya kalimat lengkap yang berhasil kukeluarkan dari mulutku sejak Jungkook mengajakku “berkebun”.

Priaku berhenti sejenak, membiarkan netra kami bertemu. Tidak lama, ia berkata, “Tidak akan berisik kalau—” dia membungkam mulutku dengan mulutnya, lantas, “kita seperti tadi.”

“Iya. Tapi, aku—”

Ayah dari anak-anakku seperti tidak mengerti maksudku. Alih-alih berhenti, dia malah melanjutkan “proses bercocok tanam”. Mati-matian aku menolak, mengendalikan mulutku untuk tidak bersuara terlampau keras saat Jungkook melakukan sesuatu yang mampu membuatku meloloskan segala desahan, lenguhan dan erangan.

Dan aku tahu aku harus bekerja ekstra keras saat Jungkook mulai menurunkan kedua tali pakaianku. Oh, tidak! Apa ada yang punya lakban atau semacamnya? Aku … pasti akan bersuara keras kalau tidak segera kututup mulutku.

***

-Taya’s POV-

“Nuna?”

Pendengaranku menangkap sebuah suara.

“Taya Nuna.”

Suara Jeongsan.

“Taya Nuna, bangun.”

Apa dia tidak tidur?

“Nuna …, hiks … Jeongsan mau pipis, Nuna.”

Kali ini Jeongsan bersuara sembari menarik-narik tanganku.

“Bangunkan eomma, Jeongsan-a,” gumamku, setengah sadar.

“Eomma tidak ada, Nuna,” sahutnya.

“Bangunkan appa saja.”

“Appa juga tidak ada … hiks.”

Eh? Eomma dan Appa tidak ada?

“Nuna, ayo bangun. Jeongsan mau pipis, tapi ada suala aneh di kamal mandi. Jeongsan takut, Nuna.” Tarikan yang terasa di tanganku semakin keras. “Ayo, Nuna. Banguuuun!”

Aku tidak punya pilihan selain segera mengumpulkan nyawaku dan menuruti keinginan Jeongsan untuk menyudahi acara tidurku. Begitu terbangun, kudapati wajah adik lelakiku telah kumal sebab air mata yang seka di kedua pipinya. Eomma tidak terlihat di tempat tidur—seperti yang dikatakan Jeongsan. Appa pun tidak terlihat tidur di lantai—biasanya begitu jika aku menumpang tidur di kamar ini.

“Jeongsan mau pipis, Nuna, tapi ada suala aneh di kamal mandi. Jeongsan takut.”

Keningku mengerut. “Suara aneh bagaimana?”

Tak ayal, Jeongsan menarikku turun dari tempat tidur, mendekat ke kamar mandi. Akibat menahan pipis, langkahnya menjadi sedikit aneh.

“Nuna diam. Nanti akan ada suala aneh. Suala monstel.”

Ya, Jeongsan selalu menyebut segala suara aneh dengan suara monster, meskipun sebenarnya itu bukan suara monster. Aku pun diam, menajamkan pendengaran demi mendengar suara macam apa yang didengar Jeongsan dari ka—

“Aah … aah … mmh … ngh ….”

ASTAGA!

“Itu sualanya, Nuna. Itu suala monstelnya.” Jeongsan menarik-narik lengan bajuku. “Bagaimana ini, Nuna? Jeongsan mau pipis, tapi ada monstel di dalam kamal mandi. Appa dan Eomma juga tidak ada.”

Itu bukan suara monster, Jeon Jeongsan! Itu suara Eomma.

“Jeongsan mau pipis, Nuna!” Adik kecilku menuntut.
Selain kamar mandi di dalam kamar Eomma dan Appa, masih ada satu kamar mandi lagi di dapur. Tapi …

Aku menoleh ke arah pintu, melihat situasi di luar melalui ventilasi kamar. Gelap. Ruang keluarga diselimuti kegelapan. Dan …, aku takut gelap. Duh! Bagaimana ini?

“Nuna! Jeongsan sudah tidak tahan!” Kulihat Jeongsan merapatkan pahanya yang terbalut celana piyama, kedua tangannya menutup sesuatu yang berada di antara kedua pangkal pahanya. “Jeongsan ingin pipis, Nuna.”

Aku melihat-lihat sekitar, mencari botol atau semacamnya untuk menampung air pipis Jeongsan. Namun, yang kutemukan di dekat kamar mandi hanya sebuah keranjang pakaian kotor yang berisi kemeja kerja yang dikenakan appa hari ini. Hah, sepertinya tidak ada cara lain. Daripada Jeongsan pipis di lantai, lebih baik …

“Jeongsan pipis saja di situ, di keranjang pakaian kotor.”

“Tapi, ada baju appa, Nuna.”

“Tidak apa-apa. Besok Eomma akan mencucinya.”

“Tapi, nanti appa malah, Nuna.”

“Kalau Jeongsan pipis di lantai, nanti Eomma yang marah, lho. Lebih seram Eomma yang marah atau Appa yang marah?”

“Eomma,” Jeongsan menyahut polos. Semua orang di rumah ini tahu, Eomma sangat menyeramkan kalau sedang marah. Appa saja takut.

“Ya, sudah. Jeongsan pipis saja di baju Appa,” kataku menegaskan.

Tidak lama kemudian, adik Jeongsan benar-benar membasahi baju kotor appa dengan air pipisnya.

***

-Jungkook’s POV-

Jarum pendek pada jam dinding yang terpajang di ruang makan tengah menunjuk angka enam, sedangkan jarum panjangnya menunjuk angka empat. Masih mengenakan pakaian semalam—baju tanpa lengan dan celana panjang, aku duduk menikmati beberapa potong roti bersama Taya yang masih terbalut piyama merah mudanya. Sementara itu, kau beranjak ke kamar usai menyiapkan sarapan, hendak membangunkan Jeongsan sekaligus mengambil pakaian kotor.

“Appa, besok Taya ada praktek melukis,” tutur Taya di sela-sela kegiatan sarapan kami. “Taya tidak punya perlengkapan untuk melukis.”

“Taya mau pergi membeli bersama Eomma atau Appa saja yang belikan?” tanyaku, paham maksudnya. Ya, sudah menjadi tendensi bagi Taya untuk mengadukan segala kekurangan perlengkapan sekolahnya padaku.

“Appa saja.”

Tumben.

“Baiklah.”

Tepat di saat itu, kau datang membawa pakaian kotor yang kau ambil dari keranjang pakaian di kamar. Namun, kau yang berkata “Jeon-a, kemejamu kok bau pesing? Kau makan apa sampai keringatmu sebau itu, hm?” membuatku mengerutkan kening.

“Bau pesing bagaimana? Aku tidak makan makanan yang macam-macam kemarin.”

Lantas, kau menyodorkan kemeja yang kukenakan kemarin ke depan hidungku. Kuendus bau pakaian itu dan—WHAT THE! KENAPA BAU PESING?

“Bau pesing, ‘kan?”

“Iya, tapi … sumpah, keringatku tidak sebau itu.”

“Tapi ini buktinya, Jeon-a. Mungkin kemarin kau mandinya tidak bersih,” ujarmu, lalu beranjak menuju tempat mesin cuci berada. Aku benar-benar berani sumpah, bau keringatku tidak sebau itu. Mandiku juga sudah sangat bersih kemarin. Tapi, kenapa pakaianku bau pesing, ya?

“Appa?”

Di tengah misteri pakaian-bau-pesing, Jeongsan yang baru bangun dari tidurnya, menyambangi dapur. Jalannya terhuyung-huyung sebab masih setengah sadar, langsung menyandarkan kepalanya pada bahu kananku begitu aku mendudukkanya di pangkuanku. Jeon kecil sedang melanjutkan tidurnya yang terpotong.

“Ya~, Jeongsanie, cuci muka dulu, baru sarapan.” Suaramu terdengar di antara suara mesin cuci.

“Ayo, cuci muka dulu.” Aku berdiri dari dudukku, menggendong Jeongsan menuju kamar mandi. Kubasuh wajah mungilnya dengan air, menyingkirkan kotoran di mata dan sekitar mulutnya. Juga, kupinta ia untuk berkumur dengan air yang kutadah dengan telapak tanganku.

“Appa?” Jeongsan bersuara ketika aku menyeka air di wajah mungilnya.

“Ya?”

“Tadi malam, Jeongsan mendengal suala aneh dali kamal mandi.”

Suara aneh?

Dari kamar mandi?

“Memangnya … suara yang Jeongsan dengar, seperti apa?”

“Sualanya sepelti ini ‘a … a … em … em …’ begitu, Appa,” tuturnya polos. “Itu suala monstel, ‘kan, Appa?”

“Jeon Jungkook!”

Aku terkesiap. Benar-benar kaget dengan suaramu yang terdengar di tengah pembicaraanku dan Jeongsan. Melalui cermin wastafel, kulihat kau menatapku tajam, seperti monster yang siap memakan mangsanya. Mampus! Sepertinya kau mendengar apa yang aku dan Jeongsan bicarakan.

“Eomma, semalam Jeongsan mendengal suala monstel di kamal mandi!” Jeongsan berteriak, seolah seluruh dunia harus tahu di kamar mandinya ada monster. “Itu suala monstel apa, ya, Appa, Eomma?” tanyanya, memandangi aku dan ibunya bergantian.

“Jawab, Jeon Jungkook!” tuntutmu.

Curang! Selalunya menyerahkan pertanyaan yang sulit dijawab kepadaku.

“Suala apa, Appa?”

“Itu … suara … eum …” aku melirikmu, menemukan tatapan tajam yang menuntutku untuk memberi jawaban yang tepat, “eum … suara monster kelinci-babi betina.”

“Hiyy. Menyeramkan!” Jeongsan langsung memelukku, ketakutan.

Aku menjeling ke arahmu, ingin tahu seperti apa reaksimu. “Jeon Jungkook, malam ini kau tidur di sofa!” desismu, kejam. Hiks.

-THE END-

Iklan

2 thoughts on “{JEON FAMILY STORIES S2} THE MONSTER’S VOICE (MIXED POV)

  1. *speechless
    duhb gak tau akunya hrus komen gimana kak.
    pengen ngakak iya.. pengen tutup mata iya. pengen uyel2 jeongsan iya. pengen ngepuk2in jungkook iya.. ah complicated bgt deh kak smuanya.. hehhe

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s