{JEON FAMILY STORIES} OUR FAMILY (LAST PART!!!)

{JEON FAMILY STORIES} OUR FAMILY (LAST PART!!!)

59203151-368-k398336.jpg

G / VIGNETTE / FAMILY & FLUFF / (BTS) JUNGKOOK & YOU /

Mission completed!

Dua malaikat kecilku telah terlelap di dalam tidurnya setelah kuhabiskan sisa energi mereka hari ini dengan menemani keduanya bermain sebelum tidur. Bukan permainan berat yang mengeluarkan keringat, sih. Hanya permainan sederhana, saling menggelitiki satu sama lain. Bahkan Jeongsan yang belum berusia satu tahun pun sudah pandai menggelitiki telapak kakiku dan kakak perempuannya.

Gelak tawa yang beberapa puluh menit lalu membungkus ruangan, kini telah digantikan oleh suara dengkur halus. Taya terbaring di sisi kanan kasur, tempat Jungkook tidur biasanya. Terbalut tubuhnya oleh piyama merah muda dengan gambar Princess Aurora di bagian depannya. Wajahnya terlihat begitu berseri, entah apa yang sedang dimimpikannya. Ah, mungkin ia bermimpi menjadi seorang Princess di sebuah negeri antah berantah.

Lantas, jagoan di keluarga ini, si Jeon kecil, Jeongsan. Ia tampak menggemaskan sebab ia terlelap dengan mulut yang bergerak samar. Tingkahnya itu membuatku tersenyum kecil lantaran kupikir ia tengah bermimpi meminum sebotol susu. Padahal, sebelum ia tidur, ia sempat meminum ASI. Jangan-jangan dia masih lapar. Duh, dia seperti Jungkook saja. Lapar dan lapar terus … hihi.

“Pantas saja sepi. Sudah tidur rupanya.” Jungkook memasuki kamar, bergerak ke tepi kanan kasur, tempatnya yang sudah dikuasai Taya. “Taya tidur dengan kita lagi, hm?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk. Tadi dia bilang, “Eomma harus melarang Appa, ya, kalau Appa mau memindahkan Taya ke kamar.”

“Ya ampun, anak ini,” gumam Jungkook, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lantas mengangkat tubuh Taya, memosisikan tubuh putrinya sedikit ke tengah agar menyisakan sedikit ruang kosong di tepi kasur untuk dirinya.

Hela napas lega terdengar di udara ketika Jungkook berhasil membaringkan tubuhnya.

“Pertandingan bolanya sudah selesai, hm?” tanyaku.

Sejenak Jungkook mengubah posisinya menjadi miring menghadapku, menggunakan salah satu tangannya untuk menyangga kepalanya, kemudian menjawab, “Belum. Pertandingannya tidak seru!”

“Oh~” Hanya itu yang lolos dari mulutku.

“Kau …, kenapa belum tidur, hm?”

“Belum mengantuk,” jawabku. “Lagi pula, aku suka memandangi anak-anak saat mereka terlelap begini. Manis-manis, ya?”

Ayah mereka tertawa pelan di sana. “Siapa dulu, dong, yang bikin. Kita.”

Gantian aku yang tertawa pelan. Dalam hati mengiyakan, tetapi malu untuk menyuarakan. Lamat-lamat kupandangi wajah kedua buah hatiku bersama Jungkook satu per satu. Betapa mereka berdua lebih mirip ke ayahnya dibanding ibunya. Terkadang membuatku merasa iri sebab akulah yang mengandung mereka, tetapi begitu lahir, eh, malah mirip Jungkook.

“Kamu ingat, tidak? Beberapa tahun lalu, di keluarga ini, hanya kita berdua,” tutur Jungkook tiba-tiba.

Aku tersenyum kala Jungkook membuatku mencungkil kenangan saat kami baru membentuk keluarga ini. Sebuah keluarga yang memiliki seorang pemimpin pekerja keras seperti Jeon Jungkook di dalamnya, putri sulung yang serba ingin tahu seperti Taya dan bayi kecil menggemaskan seperti Jeongsan. Sedikit pun aku tidak pernah menyesal menjadi bagian dari keluarga ini, kendati aku tidak tahu, seperti apa diriku di mata mereka.

Istri yang cemburuankah?

Ibu yang cerewetkah?

Atau …, ibu yang penuh kasih sayang?

Entahlah.

“Aku masih ingat,” kata Jungkook memulai ceritanya, “di awal pernikahan, kita berdua hanya tinggal di rumah sewa. Waktu itu, aku hanya seorang staf biasa.”

Oh, ya, itu adalah saat-saat tersulit bagi kami dalam membangun keluarga ini. Begitu menikah, aku dan Jungkook sepakat untuk segera hidup mandiri. Hanya Jungkook yang bekerja kala itu. Kendati aku ingin membantunya mengumpulkan uang untuk mendirikan sebuah rumah, ia tetap melarangku. Terlebih, empat bulan setelah kami menikah, aku hamil. Jungkook semakin melarangku untuk bekerja.

“Kau tidak perlu bekerja. Hidupmu adalah tanggung jawabku sekarang. Lebih baik kau tinggal di rumah, menjaga apa yang sudah kita miliki saat ini terutama bayi kecil yang masih ada di dalam perutmu ini, paham?” ucap Jungkook saat itu.

Betapa aku berterima kasih sebab ia memilihku untuk mendampinginya di saat-saat susah seperti waktu itu.

“Lalu, setahun kemudian, Taya lahir,” Jungkook lanjut bercerita. “Itu hal yang paling menyenangkan di dalam hidupku karena aku resmi menjadi seorang appa. Namun di saat yang sama, hal itu juga membuatku cemas.”

Kedua alisku bergerak mendekat. “Cemas? Cemas kenapa?”

Tangan Jungkook yang bebas, bergerak membelai kepala Taya. “Waktu itu, aku masih sangat muda. Aku cemas tidak bisa menjadi appa yang baik untuknya. Aku tidak tahu bagaimana membesarkan seorang putri yang Tuhan titipkan pada kita.”

Ketujuh belas otot di sekitar bibirku bergerak membentuk kurva senyum. “Kamu telah menjadi appa yang baik untuknya. Untuk Jeongsan juga.”

“Syukurlah kalau begitu. Kupikir tidak.”

Dia selalu seperti itu, mengira dirinya belum memberikan yang terbaik. Padahal, apa yang ia berikan kepada kami sejatinya lebih dari apa yang kami harapkan. Aku ingat, dua tahun setelah Taya lahir, kami pindah ke rumah ini. Bagiku, itu termasuk cepat sebab kuperhitungkan, keluarga ini baru bisa memiliki rumah sendiri sekitar empat-lima tahun kemudian.

Itu berkat kerja keras Jungkook yang turut diberi berkah oleh Tuhan.

Rumah ini pun tidak langsung seperti ini, pertama kalinya. Sekali lagi, aku harus pandai-pandai mengatur uang yang Jungkook percayakan padaku untuk mengisi rumah ini dengan segala perabot yang kami butuhkan.

Sungguh, empat tahun awal pernikahan kami merupakan saat-saat yang berat. Jeongsan beruntung lahir kala keluarga ini benar-benar sudah siap menerima anggota baru.

“Engh … huhu.”

Suara Jeongsan terdengar, agak membuatku terkejut, tetapi segera kuusap-usap lembut lengannya agar ia kembali terlelap.

“Sepertinya kita terlalu berisik,” ujar Jungkook.

“Nyamuk,” tuturku. “Ada nyamuk yang mengigit Jeongsan tadi.”

“Oh.”

Kesenyapan menyelimuti atmosfer di dalam kamar kami. Kutengok jam dinding, pukul sebelas lewat dua puluh menit. Namun, aku sedikit pun belum merasakan kantuk menyapa. Apa sebaiknya aku pergi membuat susu hangat, ya? Kalau terlambat tidur, bisa-bisa besok aku—

“Akh! Astaga! Ya Tuhan.”

“Kau kenapa?” Seketika aku terpekik mendengar Jungkook mengaduh kesakitan. Begitu kutengok, kutemukan ia menekuk lutut dan membungkukkan punggung, terlihat seperti posisi janin dalam kandungan. Kedua tangannya menutup sesuatu yang berada di antara kedua pangkal pahanya.

“Taya menendang ‘adikku’.”

“Pfft.”

“Dia mimpi menjadi pemain sepakbola atau Princess liar yang suka menendang apa saja, hah? Duh sakitnya.”

Aku berusaha untuk tidak terbahak. Ya, Tuhan. “Mungkin dia bermimpi mendapat pesan dari Eomonim, ‘kalau Appa-mu macam-macam, tendang saja adiknya’.”

Embusan napas keras meluncur dari kedua lubang hidung Jungkook. “Aku tidak macam-macam tadi,” tukas Jungkook membela diri. “Bagaimana kalau ‘adikku’ tidak bisa bekerja dengan baik lagi, huh? Tendangan Taya tadi kencang sekali.”

“Kau berlebihan. Pasti masih bisa bekerja. Takut sekali,” responsku.

“Menurutmu begitu?” Entah kenapa, nada itu terdengar bersemangat. “Bagaimana kalau kita—ya, kau tahulah maksudku.” Jungkook menaik-turunkan kedua alisnya secara cepat.

Kuputar kedua bola mataku, jemu. “Untuk apa? Kemarin, kan, sudah.”

“Untuk memastikan ‘adikku’ masih bisa ‘berkebun’.”

“Apa aku belum mengatakan kalau siang tadi aku datang bulan, hm?” kataku. “Lagi pula, kau bilang pengaman yang kau gunakan semalam, itu yang terakhir kau punya. Gawat kalau kita berhubungan dan itu-mu tinggal. Memangnya kau sanggup membiayai segala keperluan kehamilanku lagi?”

Jungkook terdiam sejenak.

“Ingat, lho, cicilan mobil kita belum lunas dan kebutuhan Jeongsan terhadap popok dan makanan pendamping ASI masih banyak!”

Hela napas pasrah itu meluncur dari mulut Jungkook.

“Iya, iya. Astaga. Sekarang minta ‘itu’ jadi banyak yang perlu dipikirkan, ya? Rasanya ingin kembali ke awal pernikahan saja.”

“Ey! Waktu itu, kan, kita memang menginginkan kehadiran anak kecil di tengah kita, Jeon-a. Sekarang sudah ada dua. Apalagi, hm?”

“Iya. Aku paham,” katanya, pasrah. “Sudah, ah. Aku mengantuk. Mau tidur. Kau juga tidurlah. Kau pasti lelah seharian mengurus rumah dan anak-anak,” tuturnya.

“Baiklah.”

“Selamat tidur.”

Jungkook mengubah posisinya berbaring menghadap langit-langit kamar. Kedua matanya mulai terpejam, pelan-pelan menuju alam mimpi. Sesaat kupandangi satu per satu wajah-wajah pulas suami dan kedua anakku. Tak bisa berhenti mengucap terima kasih kepada Tuhan karena telah menghadirkan mereka di dalam kehidupanku.

Aku pun menyusul Jungkook, membaringkan tubuhku menghadap langit-langit kamar usai kupadamkan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Sebelum mataku benar-benar terpejam, kusempatkan membalas satu kalimat yang Jungkook ucapkan sebelum ia terlelap.

“Selamat tidur juga, Jeon-a. I love you.”

“I love you, too. Ayo, bercinta di alam mimpi.”

What the ….

Di saat itu juga, kuharap Taya menendang ‘adiknya’ sekali lagi.

-THE END-

Note:

Annyeong, Eonni, Oppa.

Taya di sini karena diminta oleh penulis untuk menyampaikan beberapa hal. Seperti yang tertera pada judul, part ini adalah part terakhir dari Jeon Family Stories. Tadinya, si penulis berencana untuk mengakhiri FF ini di part ke-50, lalu dia berubah pikiran lagi dengan berencana untuk mengakhiri FF ini tepat di saat Appa ulang tahun. Namun ternyata, kondisi memaksa si penulis untuk mengakhiri seri ini tepat di part ke-40.

Mewakili penulis, Taya benar-benar meminta maaf kepada seluruh pembaca setia FF ini karena part terakhir ini terkesan mendadak. Berharap semoga kalian tidak marah atau kecewa pada penulisnya. Pun kalau terpaksa kecewa atau marah, sekali lagi penulisnya hanya bisa meminta maaf.

Sebenarnya, ada dua alasan yang membuat si penulis mengakhiri FF ini. Pertama, seperti yang telah Taya katakan sebelumnya, FF ini telah berjumlah 40 puluh part. Menurut penulisnya, itu adalah jumlah yang cukup panjang untuk sebuah judul FF. Penulisnya takut kalian merasa bosan dengan FF ini jika part-nya terlalu banyak. Namun sekiranya para pembaca belum merasa bosan, Taya sedang membujuk penulis untuk membuat SEASON 2 dari Jeon Family Stories. Ada yang mau membantu Taya membujuk penulisnya?

Lantas, alasan yang kedua, ini lebih ke real life si penulis. Belakangan penulis merasa down, capek dan bingung. Yah, baperan gitulah. Maklum, penulisnya sedang mencari jati diri/? (padahal dia sudah tua, tapi masih labil ckckckck). Secara tidak langsung, itu mempengaruhi mood penulis dalam beraktivitas, termasuk menulis.

Karena ini adalah part terakhir, sebelum mengakhiri part ini, sekali lagi mewakili penulis, Taya mau mengucapkan terima kasih untuk pembaca yang setia memberi komentar dan like / vote terhadap FF ini. Komentar kalian adalah vitamin bagi penulis sehingga dia bisa menulis cerita tentang keluarga Taya ini hingga part 40.

Dan untuk pembaca yang selama ini belum pernah komentar, untuk satu part ini saja, tolong ‘perlihatkan’ dirimu kepada Taya dan penulisnya. Tinggalkan jejakmu di kolom komentar part ini. Sebab kemungkinan untuk hadirnya season kedua masih 50:50, jadi ada baiknya jika kita saling menyapa walau hanya satu kali.

Oke. Sekali lagi, mewakili penulis, Taya mengucapkan terima kasih kepada para pembaca FF ini. Kalau selama ini ada beberapa bagian dari FF ini yang kurang memuaskan, penulisnya minta maaf. Dia hanya penulis yang masih belajar untuk menulis sesuatu yang kiranya bisa menghibur—syukur-syukur jika kalian bisa mendapat pengetahuan dari tulisannya … hehe.

Untuk season kedua, terealisasi atau tidaknya akan penulisnya sampaikan nanti. Ini bergantung dari kerja sama kita membujuk tante penulisnya (penulis: siapa yang bilang gue ‘tante’ weeeh?).

Dan jika benar si penulis akan membuat season kedua, maka kemungkinan akan terbit setelah lebaran, bisa juga lebih cepat. Tapi, ini jika kalian belum bosan bertemu dengan Taya, adik Jeongsan, Appa Jungkook dan Eomma Junmi, ya, hehehehe. Kalau sudah bosan, nanti Taya bilang ke tante penulisnya supaya bergegas membuat cerita dengan judul yang baru.

Well, ini saja yang mau Taya sampaikan.

Semoga kita bisa bertemu di Season Dua.

Dadah~~ ^^/

Iklan

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s