{JEON FAMILY STORIES} PRPPOSE (MIXED POV)

{JEON FAMILY STORIES} PRPPOSE (MIXED POV)

59203151-368-k398336.jpg

PG-13 / VIGNETTE / ROMANCE, FAMILY & A BIT COMEDY / (BTS) JUNGKOOK, YOU, (OC) JUNG HANA & (OC) KIM TAERA /

“Wah! Aku tidak menyangka, Yoongi yang kukenal sebagai orang yang dingin, ternyata bisa seromantis itu,” komentarku setelah Hana, teman sekampusku dulu, bercerita tentang piano yang berdiam diri di sudut ruang keluarga di rumahnya. Piano yang menjadi saksi bisu ketika Yoongi—suami Hana dan juga sahabat Jungkook—melamarnya.
Saat ini, aku sedang berada di rumah Hana. Sekadar datang berkunjung membawakan bingkisan dari Jepang, sekaligus mengajak Jeongsan bermain dengan Hyunsik, anaknya dengan Min Yoongi.

“Ya. Dia sebenarnya orang yang sangat perhatian di balik sifat cueknya,” kata Hana.

Kami berada di ruang tengah, duduk di atas sofa. Bercerita sambil mengawasi Hyunsik dan Jeongsan yang bermain robot-robotan di atas karpet yang tidak jauh dari kami.

“Duh, irinya,” gumamku. “Seandainya, Jungkook melamarku dengan cara seperti itu, pasti menyenangkan.”

Hana tertawa kecil. “Memangnya ada yang salah dengan cara Jungkook melamarmu, hm?”
“Pokoknya ada!” tukasku.

“Ya!” Hana memukul pelan pahaku. “Kau harus menceritakan bagaimana Jungkook melamarmu. Kau sudah merahasiakan itu sejak enam tahun lalu, kau tahu?”

“Sekali rahasia, tetap rahasia, Jung Hana,” balasku, meraih segelas sirup yang disediakan Hana, kemudian meneguk isinya.

“Ya! Aku sudah menceritakan tentang bagaimana Yoongi melamarku. Harusnya, kau membalas ceritaku,” tuntut Hana. “Ayolah. Enam tahun itu waktu yang cukup lama untuk menyimpan sebuah rahasia. Ceritakan padaku sekarang, ya? Ya? Ya?” Ibu satu anak itu memandangku penuh harap.

Aku menghela napas. “Baiklah, akan aku ceritakan. Tapi, kau harus berjanji tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun.”

“Aku berjanji.”

Dan aku mulai menceritakan kisah yang terjadi enam tahun silam.

***

“Junmi-ya! Selamat, ya!” Datang-datang, Kim Taera, seorang teman kursus jahit, seketika menghampiriku dan memberiku sebuah pelukan, lengkap dengan sebuah ucapan selamat.

“Ha? Selamat untuk apa?” tanyaku bingung. Aku yakin, belakangan ini aku tidak pernah menjadi juara di kejuaran manapun. Termasuk kejuaraan makan ayam krispi yang kuikuti di sebuah restoran cepat saji, dua minggu yang lalu.

“Jungkook sepertinya akan melamarmu,” kata Taera antusias.

“Ha? Jangan bohong! Mana mungkin dia akan melamarku secepat ini? Jangan berkata sembarangan!” balasku. Jungkook baru diterima bekerja sebagai seorang staf setahun yang lalu. Terlalu cepat jika dia memutuskan untuk menikahiku sebab kupikir dia akan menabung dulu sembari menyempatkan diri membahagiakan orang tuanya dengan hasil keringatnya.

“Astaga! Kau tidak percaya padaku? Kemarin aku melihat kekasihmu itu di toko perhiasan.
Dan, kau tahu? Dia membeli sebuah cincin! Cincin itu sudah pasti akan dia gunakan untuk melamarmu.”

“Tidak mungkin. Paling, dia membeli cincin untuk ibunya. Lagi pula, Jungkook belum mengatakan apa-apa padaku.

“Tidak! Tidak! Aku yakin dia akan melamarmu. Aku berani bertaruh!” seru Taera, semakin antusias. “Aku yakin, dalam waktu dekat, Jungkook akan mengajakmu bertemu. Di saat itu, dia akan melamarmu.”

“Sok tahu!”

“Aku yakin, Cho Junmi,” kata Taera. “Aku akan mentraktirmu selama sebulan, jika dugaanku salah.”

“Oke,” ujarku begitu saja.

“Tapi, kalau aku benar, kau yang harus mentraktirku selama sebulan. Deal?” Taera menjulurkan tangannya untuk kujabat sebagai tanda setuju dalam taruhan ini.

“Deal.” Aku menjabat tangannya.

Dan, kesepakatan itu telah terjadi.

Bersamaan dengan itu, ponsel di dalam saku celanaku berdering. Kurogoh saku untuk meraih ponsel yang tengah bergetar itu, membaca tulisan yang tertera di layar: Hidung Besar calling.

Uh? Jungkook?

Panjang umur. Baru saja aku dan Taera membicarakannya.

“Apa kau sibuk sore ini?” tanya Jungkook setelah kusapa dirinya.

“Tidak,” sahutku. “Kenapa?”

“Kita bertemu sore ini, ya.”

Aku menoleh ke arah Taera yang rupanya telah mengamati aku sejak tadi. Oh Tuhan, bagaimana dugaan Taera bisa setepat ini? Jungkook menghubungiku dan meminta untuk bertemu.

“Sayang?” Suara Jungkook terdengar. “Bisa, tidak?”

“A-ah, i-itu—ya, tentu saja, aku bisa,” sahutku, melirik Taera yang mulai melukiskan senyum kemenangan di wajahnya.

“Oke. Di taman biasa, ya? Jam lima.”

“O-oke.”

Begitu Jungkook memutuskan panggilannya, Taera langsung memegang kedua bahuku, menatap mataku lamat-lamat dan berkata, “Persiapkan dompetmu, Junmi-ya.”
Sh*t!

***

-Jungkook’s POV-

Aku duduk di bangku taman tempat aku dan Junmi biasanya bertemu. Di tanganku, ada sebuah cincin yang akan kugunakan untuk … melamarnya nanti. Ya, aku akan melamarnya. Mengesahkan hubungan kami dalam ikatan suci pernikahan.

Lima menit sebelum pukul lima. Ah, aku datang terlalu cepat, sepertinya. Mungkin ini efek dari keantusiasanku ingin melihat reaksinya. Sebab, sedikit pun aku tidak memberi tanda bahwa aku akan melamarnya.

Sambil menunggu, kunikmati lollipop yang kubeli di salah satu gerobak penjaja permen dan balon untuk menghilangkan kegugupanku. Entahlah, saat ini rasanya lebih mendebarkan dibanding saat aku memintanya menjadi kekasihku dulu. Padahal sejatinya, jika aku melamarnya nanti …, aku yakin dia tidak akan menolak. Namun tetap saja, aku merasa … gelisah.

“Jeon-a?”

Hanya ada satu orang di muka bumi yang memanggilku seperti itu. Tentu saja orangnya adalah … Cho Junmi. Buru-buru aku berdiri, memasukkan cincin itu di dalam saku. Lamaran ini harus menjadi kejutan.

“Sudah lama kau berada di sini, hm?” tanyanya begitu ia berdiri di hadapanku.

“Tidak juga,” sahutku. “Omong-omong, tumben hari ini kau memakai dress. Biasanya memakai kaus, celana jeans dan converse sialan itu.”

Gadisku memberengut. “Kau tidak suka aku berdandan sedikit feminin seperti ini?”

“Bukan begitu,” kataku. “Aku hanya terkejut kau tampil berbeda sore ini.”

“Kejutan!” serunya riang.

Aku terkekeh.

“Omong-omong,” kata Junmi, “apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya. “Kita bertemu untuk membicarakan sesuatu, ‘kan?”

“Sok tahu!” balasku. “Aku meminta bertemu karena ini waktunya untuk kita bertemu, bukan? Hari ini hari Sabtu, lho, Sayang,” elakku. Tidak mungkin, kan, jika aku mengatakan begitu saja tentang acara lamaran yang sudah kupersiapkan.

“Iya, sih,” gumamnya. “Lalu, kita mau ke mana sekarang?”

“Ayo, jalan-jalan.”

***

-Your POV-

Nyaris dua puluh menit aku dan Jungkook berjalan-jalan mengitari taman, tetapi belum ada tanda-tanda ia akan mengeluarkan cincin atau apalah itu sebagai pertanda dia akan melamarku. Apakah dugaan Taera meleset atau … Jungkook hanya sedang mengulur waktu karena gugup?

Duuuh, pakai gugup segala. Hihihi.

“Jeon-a?” panggilku setelah sekitar satu menit lalu Jungkook menyudahi ucapannya.

“Ya?”

“Minggu depan, seorang temanku akan menikah, lho,” kataku, memberi kode. Kuharap dia mengerti.

“O-oh, ya? Wah! Makan gratis. Kau diundang, kan?”

Dasar kelinci tukang makan!

“Iya, aku diundang,” sahutku datar. “Lalu, kita kapan, yaaaaa?” tanyaku akhirnya, dengan nada yang dibuat-buat.

Ayolah, Jeon. Buktikan kalau dugaan Taera itu benar. Buktikan! Aku ikhlas kalau harus mentraktir Taera selama sebulan, yang penting kau melamarku. Aku ikhlaaaaaas.

“Kapan, yaaa?” Jungkook malah menggoda balik.

Hah! Sepertinya, Taera memang salah duga. Jungkook belum akan—

“Bagaimana kalau sekarang?”

“Ha?” Aku berhenti, segera menoleh ke arah Jungkook. “Tadi kau bilang apa?” tanyaku, hendak memastikan bahwa indra pendengaranku masih berfungsi dengan sangat baik.

Jungkook tersenyum. “Bagaimana kalau aku melamarmu sekarang?”

Dan tanpa kuduga, Jungkook langsung berlutut di hadapanku. Jantungku berdetak cepat. Oh Tuhan, akhirnya kekasihku melamar juga. Taera, kau benar. Kau benar! Jungkook ternyata akan melamarku.

Jungkook meraih tangan kananku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya merogoh saku celana. Oh, ya, cincin. Jungkook pasti akan mengeluarkan cincin yang dia beli kemarin. Aaaa, tidak lama lagi jari manisku akan terhias cincin.

Tapi ….

Kenapa lama sekali Jungkook mengeluarkan cincinnya?

“Jeon-a, ada apa?” tanyaku.

Kekasihku itu tersenyum. Senyum yang kutahu adalah senyum yang dipaksakan. Jelas, aku melihat kepanikan di wajahnya, terlebih tangan kanannya yang sungguh sibuk merogoh hingga ke bagian dalam.

“Jeon?” panggilku. “Pasti ada yang salah, ya?”

Tebakanku sepertinya benar sebab Jungkook langsung menundukkan kepalanya. Tidak lama, ia berdiri. Tangannya masih menggenggam tanganku. Lantas, dengan nada lesu, Jeon Jungkook berkata, “Ini tidak seperti yang kurencanakan, Junmi-ya. Tapi …,” ia kembali berjongkok di hadapanku dan berkata, “maukah kau menikah denganku?”

Kalimat itu keluar bersama setangkai lollipop yang ia keluarkan dari sakunya. Ya, SETANGKAI LOLIPOP, BUKAN CINCIN!

Aku belum sempat menjawab, tapi Jungkook sepertinya mengerti dengan mimik wajah terkejut bercampur heran yang kuperlihatkan padanya. “Maaf, aku melamarmu dengan setangkai lolippop, bukannya cincin. Sebenarnya, aku sudah mempersiapkan cincin, tapi … sepertinya cincin itu jatuh entah di mana.”

HAAAA?

“Jadi,” Jungkook mengigit bibir bawahnya ragu, “apa kau mau menerima lamaranku, meski hanya dengan setangkai lollipop?”

Aku terdiam. Kecewa, sejujurnya. Bayang-bayangku akan sebuah cincin yang menghiasi jari manisku setelah ini, sirna sudah. Sungguh! Bagaimana bisa ia menghilangkan cincin itu?

“Junmi-ya?”

Namun, ini bukan tentang cincin, jika dipikir sekali lagi. Ini … tentang sebuah keinginan pria ini mempersuntingku. Jadi, meskipun bukan cincin ….

“Ya, tentu saja aku mau menikah denganmu.”

Sebuah hela napas lega bersama seulas senyum terukir di wajahnya. “Terima kasih. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

***

Hana tergelak begitu kuakhiri ceritaku. Ya, aku tahu, acara lamaranku sungguh terkesan bodoh. Ketika gadis lain dipinang dengan cincin atau sebuah lagu, aku … dipinang dengan setangkai lollipop.
Sungguh … berbeda sekali.

“Lalu, lollipop itu masih kau simpan?” tanya Hana.

“Untuk apa aku menyimpannya, hm? Lolipop itu sudah habis kumakan di hari Jungkook melamarku.”

Dan Hana lagi. “Dasar! Kupikir, Jungkook bukan orang yaang ceroboh.”

“Dia lebih ceroboh dari yang bisa kau bayangkan.”

-THE END-

Iklan

One thought on “{JEON FAMILY STORIES} PRPPOSE (MIXED POV)

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s