LOVE RACE [Chap. 7]

LOVE RACE [Chap. 7]

LOVE RACE

Author: Jinho48 & Anditia Nurul || Rating: PG 13 || Length: Chaptered || Genre: Hate/Love, Action, Romance, Family, Friendship || Main Characters: (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Sena || Additional Characters: XXXX || Disclaimer: We own nothing but storyline and the OC || A/N: Edited! Sorry if you still get typo(s).

…”

HAPPY READING \(^O^)/

-Author POV-

“HOI! KIM TAEHYUNG!”

Di saat Taehyung dan Sena tengah asik mengobrol, terdengar teriakan yang amat menggelegar dan pastinya membuat seluruh pasien di taman menoleh pada orang yang meloloskan teriakan itu dari mulutnya. Tidak perlu melihat siapa yang berteriak, Taehyung sudah hapal suara itu.

“Uh? Daehyun Sunbae?” gumam Sena yang membuat Taehyung mengerutkan keningnya. Gadis itu pun mengerti dan menjelaskan.

“Baekhyun Sunbae dan Daehyun Sunbae datang,” jelas Sena. Sontak membuat pemuda golden brown itu menolehkan wajah ke asal suara.

“Bagaimana kabarmu hari ini, adikku?” Baekhyun berada di depan Taehyung, membungkukkan tubuhnya untuk menyejajarkan posisi sang adik dengannya.

“Kau bisa lihat sendiri, kan?”

“Ey! Apa kau marah karena ini adalah kali pertama aku datang menjengukmu?”

“Aku bahkan tidak pernah berharap kau datang menjengukku.”

“Ya! Bicara apa kau?”

“Sudah! Sudah!” ujar Sena akhirnya. “Taehyung-a, sudah waktunya kau kembali ke kamar. Ayo…” Sena hendak beranjak untuk mendorong kursi Taehyung ketika Daehyun tiba-tiba mencegat tangan gadis itu.

“Aku mau bicara dengan Taehyung sebentar,” ujarnya. “Hanya kami berdua!”

“Kalian mau bicara apa? Apa aku tidak bo—”

Sena hendak menemani Taehyung. Namun, Baekhyun malah menarik Sena dan berkata, “Ayo, Sena. Daehyun bisa mengantar Taehyung kembali ke kamarnya.”

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

Lelaki berkulit gelap itu tersenyum menyeringai. “Santai, Kim Taehyung. Tidak usah terburu-buru.”

“Cepatlah! Aku masih harus istirahat, Jung Daehyun!” kata Taehyung dengan nada tinggi, memandang lelaki yang berdiri di hadapannya itu dengan tatapan kesal.

Daehyun mendecih samar. “Baiklah. Baiklah. Kau yang minta aku untuk segera mengatakan ini.”

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Aku hanya ingin mengingatkan tentang taruhan yang pernah kita buat, Taehyung. Kau pasti masih ingat, bukan?”

“Ya, aku ingat.”

“Jadi, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?”

“Ya.”

“Bagus.”

“Tapi, aku tidak mau melakukannya!”

“Kau bilang apa?”

“Aku tidak mau menjauhi Oh Sena. Aku tidak mau melepaskan gadis itu!”

“Kau gila! Jangan coba-coba untuk melanggar janjimu, V! Bukankah kau seorang pria sejati, hm? Pria sejati selalu menepati kata-katanya.”

“Aku tahu. Dan aku tetap tak akan menyerahkan Sena padamu. Aku terpaksa melanggar janji demi gadisku.”

“Sialan kau!” umpat Daehyun dan hampir saja dia melayangkan pukulan ke wajah rivalnya itu. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk memukul Taehyung melihat kondisi pemuda pemilik senyum kotak itu masih lemah.

“Cih! Kenapa tidak jadi? Kau takut ‘kan? Kau takut Sena marah padamu dan membencimu,” ledek Taehyung sembari tertawa.

“Shut up your mouth, Loser!” bentak Daehyun sembari menaham amarahnya.

Taehyung mendecih sekali lagi, kemudian beranjak menggerakan kursi rodanya menuju kamarnya.

Taehyung lebih dulu tiba di kamar inapnya, sedangkan Daehyun berjalan tidak jauh di belakang.

“Eoh, kalian sudah selesai bicara? Apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak berkelahi ‘kan?” tanya Sena bertubi-tubi.

“Bukan sesuatu yang besar, Sena-ya. Tenang saja, kami tidak berkelahi,” jawab pemuda berkulit tan dengan nada sesantai yang ia bisa. Sena hanya menganggukkan kepalanya, lalu membantu Taehyung kembali ke kasurnya dan dibantu juga oleh Baekhyun. Manik legam milik Daehyun hanya mengamati pergerakkan Sena dan Taehyung.

“Sena-ya?”

“Hm, waeyo, Oppa?”

“Maukah kau menemaniku pergi? Sebentar saja,” pinta Daehyun lirih. Sena, Taehyung, dan Baekhyun menatap Daehyun dengan tatapan aneh bercampur bingung.

“Tidak! Sena tidak boleh pergi kemana pun. Dia akan tetap di sini untuk menemaniku.” cegat Taehyung yang membuat Daehyun melemparkan tatapan sengit ke arahnya.

Gadis itu tak langsung menanggapi permintaan kakak seniornya itu. Ia hanya diam sembari menatap Daehyun dan Taehyung secara bergantian. Sungguh, dia bingung harus bagaimana sekarang. Ingin menolak tapi tidak enak. Tapi, jika ia menerima permintaan sunbae-nya, bagaimana dengan kekasih pura-puranya itu? Tidak mungkin ia mempercayakan pria itu pada Baekhyun.

“Err… maafkan aku, Daehyun Oppa. Aku mendapat amanah dari ibunya Taehyung untuk menjaga Taehyung jadi aku tidak bisa pergi kemana pun. Maafkan aku, Oppa.”

Daehyun menatap kecewa ke arah adik kelasnya itu. Kemudian, ia tersenyum—tepatnya memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Cepatlah sembuh, Taehyung-a,” ujar pemuda berkulit tan itu, lalu ia meninggalkan kamar rawat Taehyung dengan menyisahkan keheranan di benak Taehyung, Sena, dan Baekhyun.

“Kau dengar itu, Sena, Hyung? Dia bilang cepatlah sembuh padaku. Whoa, apa otaknya bermasalah?” tanya Taehyung heran.

“Entahlah, Tae. Aku juga bingung. Kenapa dia bilang begitu? Kenapa dia tidak bilang, ‘cepatlah mati, Kim Taehyung!’?”

Seketika pemuda berambut golden brown itu memasang wajah poker face sementara gadis bersurai hitam di sebelahnya langsung menggeplak kepala sunbae-nya yang kelewat idiot. Heol! Mana ada kakak yang mengatakan hal seperti itu? Rivalnya saja mengatakan cepat sembuh. Ck, ck, Taehyung rasa otak kakaknyalah yang bermasalah. Sena juga menganggap Baekhyun sudah tidak waras.

“Sudahlah, kau keluar saja! Aku mau tidur!” usir Taehyung lalu membenamkan diri di balik selimut hangatnya.

“Araseo. Hm, jaga adikku baik-baik, Sena-ya! Aku akan menjaga Daehyun saja. Sampai nanti!” ujar Baekhyun lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.

@@@@@

-Sena POV-

Hari ini Taehyung sudah boleh pulang ke rumah. Aku dan Baekhyun Oppa diminta untuk menjemputnya di rumah sakit, sedangkan orang tuanya menyiapkan sesuatu di rumah. Dengan segera Baekhyun Oppa mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, kudapati Taehyung yang sudah menunggu di pintu utama. Langsung saja ku hampiri dia dan dia tersenyum ke arahku.

Tunggu! Dia tersenyum tulus ke arahku. Wow! Sejak kapan? Biasanya dia tersenyum remeh, senyum menyebalkan atau senyum yang dibuat-buat. Ckck, mungkin otaknya sudah tidak waras karena terlalu lama di rumah sakit. Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Juga aku tersenyum ke arah perawat yang menemaninya. Aku segera mendorong kuri roda Taehyung ke arah mobil Baekhyun Oppa.

Pemuda berkulit putih susu itu tersenyum manis pada adiknya yang membuat sang adik merasa mual. Apalagi Baekhyun Oppa juga tersenyum genit ke arah perawat yang tadi menemani Taehyung. Aku hanya terkekeh meilhatnya. Lantas, perawat itu membantu Baekhyun Oppa untuk memindahkan Taehyung ke dalam mobil. Aku membungkuk untuk berterima kasih lalu segera duduk di samping Taehyung.

“YA! Kalian kira aku supir kalian, eoh? Sena, pindah ke sebelahku!” ujar Baekhyun Oppa tak terima. Aku tertawa, sedangkan Taehyung memutar bola matanya malas. Dia memberiku isyarat agar menuruti protesan dari kakaknya itu. Keke, sepertinya dia sedang malas berdebat dengan sang kakak.

“Baiklah. Aku akan pindah ke depan.”

Aku pun keluar dan pindah ke sebelah Baekhyun Oppa. Lalu ia segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit ini.

Selama perjalanan kami hanya diam sehingga suasana menjadi hening dan canggung. Aku ingin memecahkan suasana ini namun aku tidak tahu harus bagaimana. Tidak ada topik yang bisa ku bicarakan dengan mereka. Keduanya selalu bertolak belakang dan aku malas mendengar mereka berdebat nantinya karena sangat susah melerai mereka berdua. Kakak-beradik yang aneh memang.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Baekhyun Oppa berdering. Ia pun memelankan laju mobilnya dan segera mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya. Aku menatap Taehyung yang tampaknya tak peduli dan aku pun melakukan hal yang sama. Ku alihkan pandanganku keluar jendela. Hingga akhirnya aku mendengar ia mengucapkan nama ‘Daehyun Oppa’. Aku mulai tertarik dengan percakapannya.

“Mwo? Daehyun menghilang? Apa maksudmu, Youngjae-ya?”

“…”

“Jinja? Kau dan Himchan Hyung sudah coba mencarinya di tempat-tempat favoritnya, eoh?”

“…”

“Aish! Menyebalkan! Tunggu aku di basecamp! Ajak Yonghwa Hyung sekalian! Kita cari bocah hitam itu.”

“…”

“Oke, sampai nanti!”

PIP

Aku langsung melayangkan tatapan bertanya pada Baekhyun Oppa yang tampak cemas. Ia mempercepat laju mobilnya. Taehyung pun menatap kakaknya dengan tatapan penasaran. Apa maksudnya tadi? Daehyun Oppa menghilang? Yang benar saja! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin bertanya tapi melihat raut Baekhyun Oppa membuatku mengurungkan niat.

“Apa yang terjadi?”

Hah? Itu bukan aku yang bertanya. Yang barusan bertanya itu Kim Taehyung. Astaga!

“Daehyun menghilang. Sudah tiga hari ini dia tidak pulang ke rumah dan dua hari ini dia tidak memberki kabar apapun.”

“Tiga hari yang lalu? Saat oppa dan Daehyun Oppa mengunjungi Taehyung kan?”

“Iya. Saat itu aku menyusulnya. Dia pergi ke lintasan balap dan aku menemaninya hingga larut malam. Kupikir dia pulang ke rumah. Tapi ternyata tidak. Hyung-nya begitu khawatir saat ini.” Lantas kami bertiga terdiam sebelum Baekhyun Oppa kembali membuka suara. “Tae-ya, sialnya aku juga mencemaskan Daehyun. Aku minta maaf karena tidak bisa menemanimu di rumah hari ini. Sena, tolong jaga Taehyung! Kalau perlu panggil teman-temanmu agar tidak kesepian. Daehyun sangat penting bagiku.”

Taehyung membulatkan matanya. Begitu pula denganku. Baekhyun Oppa meminta maaf? Wow! Ini aneh. Ada apa sebenarnya dengan mereka? Hari ini sama-sama anehnya. Tapi aku bisa melihat pancaran kesedihan dan kecemasan dalam nada dan raut wajah Baekhyun Oppa. Sebegitu berhargakah Jung Daehyun di mata seorang Byun Baekhyun? Bahkan Baekhyun Oppa lebih menyayangi Daehyun Oppa ketimbang Taehyung.

“Hyung, sepenting itukah seorang Jung Daehyun di matamu? Apa dia sangat berharga bagimu?”

Seketika Baekhyun Oppa menghentikan laju mobilnya. Padahal jarak menuju kediamannya tidak jauh lagi. Kulihat ia mencengkram stirnya kuat-kuat lantas ia berbalik ke arah Taehyung. Matanya berkaca-kaca. Hal itu berhasil membuat Taehyung dan aku terkejut. Ini pertama kalinya bagiku melihat Baekhyun Oppa seputus asa itu. Biasanya dia selalu ceria. Seakan-akan hidupnya bebas dari masalah.

“Dia… dia sangat berharga bagiku, Tae. Sebelum ayahku menikah dengan ibumu, kami sudah bersahabat. Ayah tidak pernah merestui persahabatan kami tapi aku tidak peduli dan tetap bersahabat dengannya. Karena hanya dia yang mengerti diriku semenjak ibuku meninggal. Aku benar-benar menyayanginya. Yah, kau akan tahu sendiri nanti mengapa ia begitu berarti bagiku,” lirih Baekhyun Oppa dengan air mata yang mulai mengalir di kedua belah pipinya. Ia pun menundukkan kepalanya.

Lantas ia menghapus air matanya dengan segera. Dia mendonggak dan kembali menatap Taehyung. “Kumohon mengertilah, Tae! Jangan membuatnya terluka lebih dalam lagi!” pintanya yang membuat Taehyung menatap kakaknya dengan pandangan yang sulit di artikan.

Kemudian Baekhyun Oppa melajukan mobilnya menuju ke rumah. Setelah itu ia membantuku untuk menurunkan Taehyung dan membawakan tas adiknya. Tiba di dalam rumah, kami di sambut oleh orang tua dan sahabat-sahabatnya Taehyung. Perlahan Baekhyun Oppa menjauh ketika orang tuanya sibuk memberi selamat kepada adiknya. Aku menatapnya dengan tatapan sendu.

@ @ @ @ @

Acara untuk menyambut kembalinya Taehyung kembali ke rumah telah selesai. Hanya sebuah acara sederhana, sekadar untuk memberi semangat kepada Taehyung agar kesehatannya lebih cepat pulih. Aku senang Taehyung telah kembali ke rumah, aku senang kondisinya jauh membaik, aku senang dia sudah bisa tertawa lebar. Hanya saja…

“Oh Sena?”

Aku sedang duduk di kusen jendela salah satu kamar di rumah Taehyung, sedang memandang ke arah taman di samping rumah lelaki itu ketika kudengar seseorang menyebut namaku. Kutolehkan wajahku ke asal suara, ada Taehyung di sana. Ia berdiri di depan pintu, kepalanya melongok melalui celah yang tercipta lantaran daun pintu yang telah ia dorong ke belakang.

“Boleh aku masuk?” tanyanya.

“Masuk saja. Kamar ini masih bagian dari rumahmu, bukan?”

Seraya melangkah masuk, lelaki itu membalas ucapanku, “Aku tahu. Tapi, di dalam kamar ini kan ada orang. Bukankah akan lebih sopan jika aku meminta izin untuk masuk, hm?”

Aku sengaja tidak menanggapi ucapan Taehyung barusan dan memilih bertanya, “Ada apa?”

Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke arahku sambil kuputar posisi dudukku di kusen jendela sehingga posisi kami berhadapan. Kutatap intens lelaki yang masih terlihat lemah itu, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

“Tidak apa-apa. Hanya ingin menemanimu saja. Sebagai tuan rumah, bukankah seharusnya seperti itu, hm? Siapa tahu kau bosan.”

Aku hanya menghela napas panjang mendengar ucapannya.

“Apakah tadi… kau sedang memikirkan sesuatu?”

Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.

“Memikirkan Jung Daehyun?” tebak Taehyung.

Kualihkan pandanganku darinya ke arah taman yang berada di balik bahuku. Jujur saja tebakan Taehyung benar. Kendati aku senang kondisinya telah baik-baik saja, tetapi… di sisi lain, aku mencemaskan Daehyun Oppa. Bagaimana pun… dia…

“Kau mencemaskannya?”

“Hah?” Kembali kutatap wajah Taehyung.

“Apa kau mencemaskan keberadaan Jung Daehyun, hm?” ulangnya.

Untuk kedua kalinya kuhela napas panjang. Sekali lagi memandang Taehyung tepat di depan matanya dan kutemukan sorot yang menuntutku untuk segera menjawab pertanyaan itu.

“Mungkin, iya,” jawabku.

Sejurus kemudian, hanya suara pergerakan detik jam yang terdengar di antara sayup-sayup suara teriakan Ibu Taehyung yang memanggil lelaki itu untuk segera turun meminum obatnya.

Tidak lama, Taehyung berdiri dari duduknya, mengayunkan kedua tungkainya menghampiriku dan bertanya, “Kau menyukainya?”

“Me-menyukai Daehyun?” ulangku memastikan.

“Ya,” sahut Taehyung yang telah berdiri tepat di hadapanku. “Apa kau menyukai Jung Daehyun?” ulangnya. Ia sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajahku, membuatku refleks menjauhkan wajahku darinya. Sejenak tubuhku kehilangan keseimbangan karena reaksi yang tiba-tiba itu, aku nyaris jatuh dari kusen jendela, namun Taehyung lekas menarik tanganku dengan keras sehingga kedua kakiku menjejak lantai kamar dan… masuk ke dalam pelukan lelaki itu. “Jawab pertanyaanku, Oh Sena,” bisik lelaki itu tepat di telinga kiriku.

Darahku berdesir, pun bulu-bulu halus di sekitar wajah dan tanganku meremang kala mendengar suara Taehyung yang… entah mengapa terdengar agak menakutkan.

“Jawab, Sena.” Taehyung mempererat genggaman tangannya pada salah satu pergelangan tanganku.

“Tae-Taehyung-a, kau menyakitiku,” cicitku.

Untuk sesaat, Taehyung tidak bereaksi seolah ia tidak mendengar ucapanku. Namun perlahan, ia melonggarkan genggamannya, lantas melepasku dari pelukannya. Dipegangnnya kedua bahuku sembari kedua matanya menatap kedua mataku dalam-dalam.

“Jawab aku. Tolong,” pinta Taehyung lirih.

Sejujurnya, aku tahu jawaban dari pertanyaan ini. Sungguh. Aku bisa menjawabnya… hanya saja… aku tidak tahu mengapa aku merasa ragu. Aku menyukai Jung Daehyun—maksudku, aku… mungkin hanya menganggapnya sebagai kakak atau… ah, kenapa aku bingung seperti ini?

Aku menyukai Jung Daehyun.

Tapi…, sepertinya aku juga mulai menyukai…

“Aku menyukaimu, Oh Sena. Dan, aku tidak mau dengar kau mengatakan kalau kau menyukai Jung Daehyun.”

WHAT?

@@@@@

“Ya! Kau mau ke mana, Oh Sena?”

Pagi-pagi sekali, aku telah bangun dan mempersiapkan diri untuk beranjak dari rumah Taehyung. Kumasukkan beberapa potong baju ke dalam ransel sebagai bekal jika hari ini… aku masih takut untuk kembali ke rumah. Namun, tepat di saat aku hendak membuka pintu kamar, daun pintu itu telah lebih dulu didorong oleh seseorang dari luar. Dia Kim Taehyung.

“Kurasa aku sudah cukup lama tinggal di rumah ini, Kim Taehyung. Sudah waktunya aku pergi,” jawabku. “Menyingkirlah dari situ,” pintaku kepada Taehyung yang berdiri di ambang pintu.

“Memangnya kau sudah baikan dengan ayahmu? Belum, kan? Kau mau tinggal di mana?” tanyanya. Aku bisa menangkap nada cemas itu.

“Kau tidak perlu tahu. Bukan urusanmu.”

“Ya! Kau tidak bisa seperti itu, Oh Sena. Aku kekasihmu dan aku—”

“Cukup!” potongku. Kutegakkan leherku sehingga aku bisa melihat wajahnya. “Kita sudah bukan sepasang kekasih lagi, Kim Taehyung. Kau jelas sudah kalah dengan permainan yang kau buat. Dan, aku bukan kekasihmu lagi sekarang.”

Benar, bukan? Sejak Taehyung mengaku kalah semalam, aku tahu bahwa permainan ini telah resmi berakhir. Aku… aku sudah bukan kekasihnya dan dia pun begitu. Jadi, untuk apa aku tinggal di sini lagi? Aku tidak punya hak, bukan? Sekarang, aku bukan siapa-siapanya. Bahkan untuk seorang teman pun… entahlah.

“Menyingkirlah, Kim Taehyung. Kau menghalangi jalanku. Aku harus pergi se—”

“Tunggu!” Lelaki itu masih mencegatku. “Baiklah. Aku mengerti. Permainan ini selesai dan sebagai pemenangnya, kau boleh melepaskan diri dariku, tapi…”

Taehyung tiba-tiba terdiam.

“Tapi, apa?” tanyaku.

“Apa kau tidak menyimpan sedikit pun perasaan terhadapku, hah?”

“Aku…”

Lidahku seketika terasa kaku ketika aku hendak melanjutkan ucapanku. Perasaan bingung itu kembali menghampiriku. Aku sendiri tidak tahu seperti apa perasaanku saat ini. Aku sendiri tidak yakin. Tapi…

“Oh Sena?”

“Maafkan aku, Kim Taehyung.”

Mau tidak mau, aku mendorong lelaki itu agar menyingkir dari pintu. Begitu ia mundur, aku bergegas keluar dari kamar, berjalan cepat menuju pintu depan.

Maafkan aku, Kim Taehyung.

@@@@@

-AUTHOR’S POV-

Jam dinding yang terpajang di ruang makan telah menunjuk pukul tujuh pagi. Ibu Taehyung tampak sibuk menyiapkan roti untuk sarapan orang-orang rumah. Tiga gelas susu, satu gelas jus dan satu gelas kopi telah tertata di depan masing-masing kursi.

“Taehyung-a!” Wanita paruh baya itu berteriak.

Beberapa saat kemudian, laki-laki muda itu berjalan menghampiri meja makan, menarik kursi yang berhadapan dengan ibunya dan duduk di sana. Laki-laki itu diam, memandang segelas susu favoritnya tanpa menaruh minat untuk segera meminumnya. Dan, ibunya menyadari hal itu.

“Ya! Kenapa kau lesu begitu, hah?” tanya Ibu Taehyung yang tidak tahu apa-apa. “Ada yang sakit, hm?”

Taehyung hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Lalu, kenapa, hm?” tanya beliau lagi. “Oh, ya, omong-omong mana Sena? Panggil dia ke sini. Dia pasti sudah lapar. Semalam dia hanya makan sedikit.”

“Dia sudah pergi.”

Tangan kanan Ibu Taehyung berhenti bergerak mengoles selai di atas selembar roti. Kedua matanya langsung beralih menatap Taehyung yang kini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Jangan berkata sembarangan, Kim Taehyung! Bagaimana mungkin Sena pergi tanpa pamit, hm?”

Taehyung menghela napas panjang. “Memang seperti itu kenyataannya, Eomma. Sena sudah pergi dari rumah pagi tadi. Kalau eomma tidak percaya, eomma boleh melihatnya di kamar sekarang!”

Ibu Taehyung menghela napas pelan, lalu diletakkannya pisau selai di atas toples selai. Melihat reaksi Taehyung barusan, beliau tahu bahwa Taehyung berkata jujur. Gadis itu benar-benar pergi dari rumah.

“Apa karena itu kau terlihat lesu?” Ibu Taehyung mencoba menebak.

Taehyung hanya mengalihkan wajah dari tatapan intens ibunya.

“Sebenarnya ada apa, hah? Kenapa Sena pergi dari rumah?”

“Ceritanya panjang.”

“Eomma punya banyak waktu untuk mendengar ceritamu.”

@@@@@

Sebuah mobil sedan melaju di salah satu ruas jalan di Kota Seoul. Ibu Taehyung tampak duduk di balik setir mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu. Usai mendnegar cerita dari puteranya, wanita paruh baya itu menghubungi Sena, menanyakan di mana keberadaan gadis itu. Sena belum pulang ke rumahnya. Dan saat ini, gadis itu duduk di salah satu bangku taman di tepi sungai Han.

Memandang ke arah sungai, gadis itu mencoba menerka apa yang ingin dibicarakan Ibu Taehyung dengannya. Apakah… Ibu Taehyung tahu tentang permainan yang dibuat oleh anaknya atau…

“Sena-ya?”

Suara keibuan itu membuat Sena membuyarkan lamunannya. Ditolehkan kepalanya ke asal suara dan didapatinya Ibu Taehyung tengah tersenyum tulus padanya.

“Maaf membuatmu menunggu, Sena-ya,” ujar Ibu Taehyung. “Omong-omong, boleh ajumma duduk?”

“Tentu saja,” sahut Sena.

Ibu Sena pun duduk di sebelah gadis itu. Sejenak memandang gadis itu seolah memastikan Sena baik-baik saja setelah beberapa jam pergi dari rumahnya.

“Ajumma mau bicara apa denganku?”

“Ini soal… Taehyung.”

Ibu Taehyung berkata bahwa ia telah mengetahui apa yang terjadi di antara puteranya dan gadis di sebelahnya. Tentang permainan itu, tentang pacaran pura-pura dan… tentang perasaan Taehyung.

“Jika ajumma ingin membujukku untuk menyukai Taehyung, aku…”

“Tidak,” potong Ibu Taehyung. “Ajumma ke sini bukan untuk membujukmu menyukai Taehyung. Meski Taehyung adalah anak ajumma, ajumma tahu perasaan tidak pernah bisa dipaksakan. Ajumma juga pernah muda, Sena.”

“Lalu?”

“Apakah ajumma sok tahu jika ajumma menebak kalau kamu sedang kebingungan? Kau bingung dengan perasaanmu, dengan apa yang sedang terjadi di sekitarmu? Apakah tebakan ajumma salah?”

Sena hanya mematung mendengar ucapan Ibu Taehyung. Tidak ada yang salah dari tebakan wanita paruh baya itu. Tapi, bagaimana beliau bisa tahu? Apakah… apakah tertulis jelas di dahi gadis itu atau—hei, ini bukan ikatan batin, kan?

Gadis itu tersenyum, kemudian mengangguk. “Tidak ada yang salah dengan tebakan ajumma.”

Ibu Taehyung tersenyum. “Kalau kau butuh teman untuk berbagi cerita atau berkeluh kesah, ajumma bisa menjadi temanmu. Kau tidak usah sungkan, meskipun sekarang kau bukan kekasih Taehyung lagi.”

“Jeongmal?”

“Tentu saja.”

Seolah ada angin sejuk bertiup ke arah Sena. Gadis itu merasa menemukan sesuatu yang sudah lama diinginkannya. Perhatian dari seseorang yang bisa ia anggap sebagai ibu baginya. Dan itu, ia dapat dari Ibu Taehyung.

“Omong-omong, setelah ini, kau mau ke mana, Sena?” tanya Ibu Taehyung kemudian.

Gadis itu menggidikkan kedua bahunya. “Aku tidak tahu ajumma.”

“Bagaimana kalau kembali ke rumah ajumma?”

“Tidak. Tidak, Ajumma, terima kasih,” tolak Sena. “Mungkin… sekarang sudah waktunya untuk kembali ke rumah. Mungkin… appa sudah memaafkanku.” Sena tersenyum, tepatnya memaksakan dirinya tersenyum untuk menyembunyikan perasaan cemas yang menyelimuti benaknya.

“Baiklah. Kalau begitu, ajumma akan mengantarmu ke rumahmu.”

Sena dan Ibu Taehyung beranjak dari taman. Keduanya masuk ke dalam mobil, kemudian melaju menuju rumah Sena. Keduanya masih mengobrol sepanjang perjalanan, sesekali Sena menyela untuk menunjukkan jalan menuju rumahnya. Tidak butuh waktu lama, dari kejauhan, Sena bisa melihat pagar rumahnya. Rumah yang telah berhari-hari tidak ditinggalinya.

Mobil sedan Ibu Taehyung berhenti tepat di depan pagar rumah gadis itu.

“Ajumma, terima kasih telah mengantarku sampai di sini,” ujar Sena setelah ia keluar dari mobil.

“Apa ajumma perlu menemanimu untuk bertemu dengan appa-mu?”

Sena menggeleng sambil tersenyum. “Tidak perlu, Ajumma. Aku akan baik-baik saja.”

“Baiklah. Kalau begitu sampai bertemu lagi, Sena. Sering-seringlah menghubungi ajumma atau sekadar main ke rumah, oke?”

Sena hanya membalas kalimat itu dengan sebuah anggukan.

Dan, tepat di saat itu…

“Sena? Apakah itu kau?”

Suara berat seorang pria terdengar. Sena tahu itu suara appa-nya. Buru-buru appa Sena menghampiri gadis yang masih berdiri di depan pagar. Dipeluknya penuh kerinduan anak gadis satu-satunya.

“Kau datang bersama siapa? Astaga. Appa sudah lama mencarimu. Kau susah dihubungi karena kau meninggalkan ponselmu. Tapi, syukurlah kalau kau baik-baik saja,” ujar Appa Sena. “Selama ini kau tinggal di mana, hah?”

Melihat appa yang tampak mengkhawatirkannya, Sena merasa lega. Appa-nya bahkan mungkin telah lupa tentang balapan dan motor itu. Sambil tersenyum, Sena berkata untuk menjawab pertanyaan appa-nya, “Aku tinggal di rumah Kim Ajumma.”

Appa Sena hendak memberi salam kepada Ibu Taehyung. Namun, di saat keduanya bertatapan mata, keduanya serempak bergumam, “Kau?”

TaehyungBelumCebok-

Iklan

6 thoughts on “LOVE RACE [Chap. 7]

  1. Andwe.. ini nggak boleh terjadi.. semoga bapaknya sena sama emaknya taehyung mantan pacar …

    masak iya daehyun sama baekhyun saudaraan.. hedeeh. Kenapa aku ngrasain kayak gitu ya??

    sena sama taehyung kayaknya bakalan jadian nih nnti..

    Tiba tiba aku kepingin ada acara perjodohan .. haha

      1. Perjodohan hooh bener .. nggak tahu. Kepikiran aja.

        Perjodohan sena sama jimin mungkin … biar tambah jeder tu 2 orang.

  2. Yah taetae buat permainan dia sendiri yg kalah:3 haha..
    Eonni ditunggu kelanjutan nyaaa… 😊 *secepatnya yak* hehe

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s