{JEON FAMILY STORIES} 14TH FEBRUARY 2016

{JEON FAMILY STORIES} 14TH FEBRUARY 2016

image

Author : Anditia Nurul || Rating: PG: 13 || Length: Ficlet || Genre: Family, A bit Comedy || Casts: (BTS) Jungkook & You || Disclaimer: I own nothing but storyline || A/N: Edited! Sorry for typo(s). Sorry ya lama untuk seri ini jedanya agak lama dari seri sebelumnya. Nunggu 14 Februari soalnya.

HAPPY READING \(^O^)/

Dia terbaring di sana, di atas tempat tidur. Wajahnya masih terlihat pucat kendati hari ini sudah hari ketiga ia jatuh sakit. Sudah bisa ditebak penyebabnya. Selain karena kelelahan karena bekerja, dia terkena demam lantaran beberapa hari yang lalu ia pergi ke sebuah waterboom bersama Taya. Begitu pulang, ia masih tampak sangat sehat, bahkan masih sempat memperlihatkan rekaman wajahnya saat dia meluncur pada salah satu perosotan sambil mengenakan pakaian renang hitam dan kacamata renangnya. Jangan tanya wajahnya seperti apa saat itu! The handsome Jeon Jungkook is gone.

Pada malam harinya, barulah ia mengeluh tidak enak badan. Tubuhnya bergetar—mengaku kedinginan, namun permukaan kulitnya terasa panas. Rona merah tak tampak pada kedua pipinya, pun bibirnya ikut memucat. Suhu tubuhnya naik sekitar dua derajat dari suhu normal. Meriang!

“Ah, kapan aku sembuh? Aku sudah tiga hari tidak masuk kantor. Pekerjaanku pasti menumpuk.”

Aku yang duduk di sebuah kursi di sebelah kanan tempat tidur, seketika menjulurkan tangan untuk mencubit hidung mancungnya gemas sambil berkata, “Makanya, jangan terlalu memaksa dirimu bekerja. Lihat, kan? Sekarang tubuhmu protes ingin mendapatkan istirahat.”

Kulihat priaku memanyunkan bibirnya usai kusingkirkan tanganku dari hidungnya. “Iya, iya. Aku tidak akan memaksa diriku lagi,” tuturnya pasrah. “Tapi, aku bosan di rumah terus,” gerutu si pasien cerewet itu.

“Kau pikir aku tidak bosan melihatmu di rumah? Aku juga bosan tahu!” ujarku.

“Ya! Ya! Kau berkata seperti itu, padahal pasti kau senang aku berada di rumah. Kau tidak perlu menderita karena rindu padaku.”

Sedang sakit, tapi dia masih sempat-sempatnya berkata seperti itu.

“Berisik,” ujarku, mencubit pelan pinggangnya.

Ia tertawa karena melihat rona merah muncul di pipiku. Sialan!

“Omong-omong, hari ini Hari Kasih Sayang, ya?”

“Eung.” Aku mengangguk. “Seharusnya aku mendapat sekotak cokelat, diajak makan malam romantis dan diberikan hadiah hari ini,” lanjutku. 

“Nanti kita bikin hari kasih sayang sendiri begitu aku sembuh,” balasnya.

“Kalau begitu, habiskan buburmu dan minum obat agar kau lekas sembuh,” kataku, menyodorkan sisa bubur yang belum ia habiskan, lalu berdiri dari dudukku.

“Ya! Kau mau ke mana?” teriak Jungkook begitu melihatku beranjak dari kursi.

“Buang air.”

“Keluarkan yang terbaik, ya?”

“Mau aku bawakan hasilnya, hah?”

“Tidak. Untukmu saja.”

“Sinting!”

Aku masuk ke dalam kamar mandi dengan hati-hati. Entah, ini sudah keberapa kalinya aku buang air kecil dalam beberapa jam terakhir. Begitu selesai, aku lekas berdiri, hendak menekan tombol flush, namun—ASTAGA! YANG BENAR SAJA?

Aku melihat ada darah di dalam jamban. Pun, terhirup aroma yang kukenali sebagai aroma dari air ketuban. Air ketubanku sudah pecah. Mampus! Bagaimana ini? Bukankah prediksi dokter, aku akan melahirkan di awal maret?

Astaga! Apa mungkin karena belakangan aku terlalu banyak pikiran atau kenapa? Aish! Bagaimana bisa mendadak begini?

“Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat begitu?” tanya Jungkook setelah aku keluar dari kamar mandi sambil menyentuh perutku.

Aku berjalan pelan-pelan ke sisi tempat tidur yang kosong sambil berkata, “Se-sepertinya aku akan melahirkan?”

“WHAAAT???” Jungkook berteriak.
Aku telah bersandar pada headbed saat kulihat Jungkook yang kini duduk di atas tempat tidur, dengan panik menekan serangkaian nomor telepon pada ponsel yang baru saja diambilnya di atas nakas.

“Tahan, Sayang. Aku sudah menelepon taksi! Sabar sebentar!” seru Jungkook heboh.

Ini… siapa yang akan melahirkan, siapa yang heboh?

@

Aku dan Jungkook telah berada di dalam sebuah taksi yang melaju kencang menuju sebuah rumah sakit bersalin tempat aku biasanya memeriksakan kandunganku. Beruntung, aku sudah menyiapkan segala hal yang harus dibawa Jungkook ke rumah sakit begitu aku akan bersalin sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun selain darah dan air ketuban yang membasahi bagian dalam taksi.

“Jungkook-a?”

“Hm?” sahut Jungkook yang duduk seraya merangkulku.

“Sakit,” gumamku seraya meremas pahanya untuk mengalihkan rasa sakitku.

“O-oke. A-Aku tahu kau sakit, tapi tunggu sebentar oke? Rumah sakitnya sudah dekat.”

“Cepat!” Aku semakin meremas pahanya.

“Tahan sebentar. Tahan. Kau tidak mau melahirkan di dalam taksi, kan?”

Langsung saja kupukul pahanya, melemparkan tatapan melotot ke arahnya. Kenapa dia malah berkata seperti itu?

“Ajussi, bisa cepat sedikit? Ibu-ibu ini sudah mau melahirkan, Ajussi,” kata Jungkook pada supir taksi.

Ibu-ibu?

Jungkook-a! Awas kau!

Aku baru bisa bernapas lega begitu taksi berbelok masuk ke dalam area rumah sakit bersalin. Jungkook membantuku keluar dari taksi, lantas memberikan sejumlah uang untuk membayar taksinya. Di saat itu, aku mendengar Jungkook berkata, “Kembaliannya untuk Ajussi saja. Ongkos untuk membersihkan taksi… hehehe.”

Kenapa dia masih sempat-sempatnya bercanda?

JUNGKOOK-A, ISTRIMU SUDAH MAU MELAHIRKAN!!!

@

Aku telah berada di dalam kamar bersalin, berjuang mengeluarkan bayi setelah melewati pembukaan demi pembukaan. Seorang dokter kandungan berdiri di depanku, memberi arahan kepadaku, juga kepada bidan yang membantunya.

“Ayo, Bu. Dorong terus, Bu.”

Itu suara sang dokter kandungan.

“Ayo, Sayang. Kau pasti bisa! Ayo! Ayo!”

Dan, itu suara Jungkook yang sekarang berdiri di dekat kepalaku.

“EEENNNGGGHH!!!” Aku mengedan.
Lalu, Jungkook bergerak cepat menuju tempat di mana bayiku akan keluar.

Oh! Dia sudah sangat sehat, rupanya.

“AYO, SAYANG! KEPALANYA SUDAH MULAI KELIHATAN, LOH! AYO, MENGEDAN LAGI! KAU PASTI BISA!”

Priaku di sana berteriak seperti seorang supporter.

Jungkook-a, kau ini sedang melihat istrimu melahirkan, BUKAN SEDANG MENONTON PERTANDINGAN OLAHRAGA!

“EEENNNGGGHH!!!”

“SEDIKIT LAGI, SAYANG! AYO! SEDIKIT LAGI! BERJUANGLAH SEDIKIT LAGI!”

Sesungguhnya aku ingin melemparkan sesuatu ke wajah Jungkook. SEBENARNYA SIAPA YANG MELAHIRKAN DI SINI? KENAPA SUARANYA LEBIH KERAS DIBANDING SUARAKU?

Astaga! Kuharap dokter dan bidan-bidan di sini tidak menganggap suamiku punya kelainan jiwa.

“BER-JU-ANG! BER-JU-ANG! BER-JU-ANG!”

Apa-apaan itu, Jungkook-a?

Kulihat Jungkook berdiri tidak jauh dari dokter kandungan, melihat apa yang biasanya para suami tidak mau atau tidak sanggup melihatnya. Tapi, dia di sana, berdiri menunggu bayi di dalam perutku keluar, lengkap dengan gaya a la supporter olahraganya.

“EEENNNGGGHH!!!”

Dan, tidak lama setelahnya… suara tangis itu terdengar.

@

Aku telah dipindahkan ke salah satu kamar inap. Ya, kini aku yang terbaring lemah di atas tempat tidur, sedangkan Jungkook duduk di kursi di sisi ranjang.

“Kau sudah memberi tahu istri Kyuhyun Oppa, hm?” tanyaku.

“Ya, aku sudah meneleponnya. Mungkin dia sudah berada di jalan dengan Taya,” jawab Jungkook. “Aku juga sudah mengirim pesan kepada kedua kakakmu di Jepang, orangtuamu dan orangtuaku di Busan.”

“Ah, begitu,” sahutku. “Omong-omong, kau sudah melihat bayi kita, hm?”

“Tentu saja,” sahut Jungkook riang. “Laki-laki! Bayi kita laki-laki.”

Aku tersenyum mendengarnya. Syukurlah, seperti yang kami harapkan.

“EOMMA~!!!”

Perhatianku lantas teralihkan oleh suara Taya yang baru saja datang bersama istri Kyuhyun Oppa. Gadis kecilku langsung menghampiriku, berdiri di dekat Jungkook. Ah, dia sudah resmi menjadi seorang nuna sekarang. Dia pasti tidak sabar ingin melihat adik laki-lakinya.

“Eomma, kenapa sekarang eomma yang sakit?” Pertanyaan pertama yang sungguh meleset dari dugaanku. Aku yang terbaring lemah di atas tempat tidur rupanya lebih membuatnya penasaran dibanding seperti apa wajah dari adik laki-lakinya. “Appa juga sedang sakit. Kalau appa dan eomma sakit, siapa yang akan menemani Taya bermain?”

Taya… hiks.

Kenapa masih memikirkan hal seperti itu, Nak?

“Tidak apa-apa. Appa sudah sembuh. Nanti appa yang menemani Taya bermain, oke?”

Gadis kecilku mengangguk-anggukan kepalanya, paham.

“Lalu, di mana adik bayi Taya?” tanyanya.

Jungkook mengangkat tubuh mungil Taya, mendudukkan gadis kecil itu di pangkuannya. “Ah, adik Taya sedang dibersihkan oleh…”

“Permisi?”

Seorang bidan yang kukenali sebagai salah satu bidan yang berada di ruang persalinan tadi, beringsut ke arah tempat tidur bersama bayi yang dibungkus selimut berwarna biru. Dalam sekejap, bayi laki-laki yang kini tengah meminum ASI-ku menjadi pusat perhatian. Taya tak henti menyuarakan bahwa adiknya lucu sekali. Pipinya berisi, membuatnya gemas ingin mencubit.

“Jangan, Taya. Adik bayi baru lahir, loh.” Aku melarangnya.

Putri kecilku merengut, namun selanjutnya ikut memperhatikan adiknya menyantap makanan pertamanya.

“Jeon-a?” Aku bersuara.

“Hm?”

“Mau kamu beri nama siapa, hm?”

Tangan Jungkook bergerak membelai lembut kepala anaknya yang lahir di tanggal 14 Februari. “Jeongsan. Namanya Jeon Jeongsan.”

-THE END-

Iklan

6 thoughts on “{JEON FAMILY STORIES} 14TH FEBRUARY 2016

  1. Hwaaaa udah lama bgt cari genre ff bts yang kaya gini ff nya seru jd grmes sendiri sama jeon familly reader baru nih di blog eonni sbenarnya nggk sengaja juga kebuka blog ini waktu dibukaa eehhh isi2 blog nya menarik2 semua terus gaya lenulisannya nggk ngebosenin
    *eonnifightng

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s