{Jeon Family Stories} ONE DAY WITH APPA (TAYA’S POV)

{Jeon Family Stories} ONE DAY WITH APPA (TAYA’S POV)

image

Author: Anditia Nurul || Rating: G || Length: Ficlet || Genres: Fluff, Family || Casts: (OC) Jeon Taya, (BTS) Jungkook & You || Disclaimer: I own nothing  but storyline and the OC || A/N: Edited! Sorry if you got typo(s).

HAPPY READING \(^O^)/

“Appa~ bangun~!”

“Appa~!”

“APPA~ BANGUUUUN~~!!!”

Akhirnya aku berteriak karena appa sedikit pun tidak bergerak saat aku membangunkannya secara ‘baik-baik’.  Appa yang terbaring di sisi kiriku langsung mengambil posisi duduk begitu teriakanku menembus gendang telinganya.

“Ada apa, Sayang? Kenapa membangunkan appa?” tanyanya appa setengah sadar. Aish!

“Susu.”

“Hah?”

“Susu! Taya mau minum susu!” ulangku dengan nada menuntut.

“Ah, iya, iya. Susu, ya!?”

Appa-ku, Jeon Jungkook, bergerak menyingkap selimut yang menutupi kedua kakinya. Sejenak ia duduk di sisi ranjang dan…

“ASTAGA, SAYANG! KENAPA KAU TERLAMBAT MEMBANGUNKAN APPA?”

… dia tiba-tiba berteriak setelah melihat jam di atas nakas.

Panik, appa langsung merengkuh tubuh kecilku dengan kedua tangan kekarnya, kemudian membawaku ke depan pintu kamar mandi di dalam kamarnya. Masih dalam keadaan panik, appa melepas piyamaku sambil berkata, “Taya, bisa mandi sendiri, kan, Sayang? Bisa, kan?”

“Iya, Appa.”

“Sekarang Taya pergi mandi dan appa akan membuatkan sarapan untuk kita. Setelah itu, appa akan mengantar Taya ke sekolah seperti biasa, oke?”

“Oke.”

“Anak pintar,” puji appa, mengusuk rambutku yang memasang sudah kusut setelah tidur. Tidak lama kemudian, appa berlari keluar dari kamar.

Hah, sepertinya Taya akan terlambat ke sekolah.

@

Sejak semalam, eomma tidak ada di rumah. Dia berada di rumah Kyuhyun Ajussi, kakak laki-laki eomma, karena istri Kyuhyun Ajussi akan—mungkin sekarang telah—melahirkan. Karena itu, hanya ada aku dan appa di rumah. Dan…, ini pertama kalinya aku hanya tinggal berdua dengan… appa.

“Hari ini Taya pakai seragam warna apa, Sayang?” tanya appa setelah membantuku menyeka tubuhku dengan handuk dan mengoleskan minyak telon. Sementara itu, Appa juga telah selesai mandi dan kini hanya mengenakan handuk dan kaos oblong putih.

“Warna biru, Appa,” jawabku.

Dalam balutan handuk, kuperhatikan appa yang membuka lemari bajuku. Kedua tangannya sibuk mencari seragam berwarna biru di antara beberapa seragam sekolah, beberapa gaun dan beberapa baju terbaik yang digantung di sana.

“Duh, di mana eomma meletakkan seragam birumu, Taya?” Appa menggumam.

“Tidak tahu, Appa.”

Tidak berhasil menemukan seragamku di lemari satunya, appa membuka lemari bajuku yang lain. Lemari tempat pakaian sehari-hari. Aku hanya bisa diam menyaksikan appa membongkar apa yang telah disusun rapi oleh eomma di sana. Dan, tidak lama…

“Astaga! Appa baru ingat!”

Lagi, appa tiba-tiba lari dan kurang dari satu menit, ia kembali dengan seragam biru yang dicarinya, sampai-sampai isi lemari bajuku berantakan. Eomma bisa mengamuk kalau melihat ini.

“Eomma bisa mengamuk kalau melihat kamarmu sekarang,” gumam Appa, buru-buru memakaikanku baju.

Tuh, kan? Appa saja tahu.

Yang pasti, bukan Taya yang akan dimarahi, loh, Appa.

Seragam biruku telah membalut tubuh mungilku. Appa lantas mengambil sisir, lantas merapikan rambut panjangku. Aku tahu appa adalah orang yang serba bisa—begitu yang pernah dikatakan eomma padaku, jadi… aku penasaran… appa akan membuat rambutku seperti apa, ya, hari ini?

“Aigoo, apa yang harus appa  lakukan dengan semua ini?”

Appa malah terkejut melihat laci tempat eomma menyimpan semua ikat rambut, jepitan, bando, bandana dan hiasan rambut lainnya. Semuanya sudah terpisah dalam setiap keranjang-keranjang kecil di dalam laci.

“Hari ini rambut Taya mau diapakan, Sayang?” tanya appa.

“Dikuncir dua, Appa. Satu di sini,” aku menunjuk sisi kanan kepalaku, “satu di sini,” lanjutku sembari menunjuk sisi satunya. “Pakai ikat rambut yang bunga-bunga itu, Appa,” tambahku.

Mengikuti perintahku, appa mulai menyisir rambutku dan membaginya menjadi dua bagian. Sejauh ini, appa cukup terlihat meyakinkan, tapi beberapa saat kemudian… aku harus menarik kata-kataku.

“Appa…, yang sebelah kanan terlalu tinggi, yang kiri terlalu rendah,” protesku, hampir menangis melihat rambutku di cermin.

Sejenak appa melihat hasil pekerjaannya pada cermin di hadapanku, lalu berkata, “Ah, iya, iya, maafkan appa, Sayang. Sebentar, ya, appa perbaiki.

Hah~

Inikah yang eomma sebut dengan Jeon Jungkook, si Tuan Serba Bisa?

@

Astaga! Apa ini?

Aku kecewa sekali melihat imbalan dari usaha kerasku menarik kursi meja makan dengan kedua tangan, bahkan bersusah payah memanjatnya untuk melihat makanan apa yang ada di atas meja. Sepotong roti berwarna kehitaman berada di atas piringku, bersebelahan dengan susu cokelat di dalam gelas plastik berwarna merah muda. Kulihat lagi sepotong roti kehitaman lainnya berada di dalam kotak bekalku yang belum ditutup.

EOMMAAAA~

“Haduh, maaf, ya, Sayang. Rotinya jadi agak gosong begitu. Tapi, masih enak, kok, dimakan,” ujar Appa yang menyambangi dapur setelah memakai pakaian kerjanya. Nampak repot dengan dasinya. “Dimakan, ya?”

Ha?

Makan roti gosong ini?

Appa yang benar saja?

@

“Taya, ayo gosok gigi, cuci kaki.”

Kudengar teriakan appa dari dalam kamarnya. Aku beranjak dari sofa di ruang keluarga, masuk ke dalam kamar dan menghampiri appa yang telah berdiri menungguku di depan kamar mandi. Appa terlihat mengenakan piyama, itu artinya dia juga sebentar lagi akan tidur.
Aku berdiri di sebelah appa, menunggunya memberikan pasta gigi dengan odol rasa stroberi padaku. Appa lantas membantuku naik ke atas kursi plastik yang berada di sebelahnya.

“Pegang wastafelnya, Sayang. Nanti Taya jatuh.”

Tangan kiriku memegang pinggiran wastafel dan tangan kananku mulai menggerakkan sikat gigi untuk membersihkan barisan gigi susu di dalam mulutku mengikuti arahan dari appa.

“Sikat gigi depan, sikat gigi samping kiri, sikat gigi samping kanan.”

Terdengar suara sikat gigi yang menyikat gigi-gigi kami di antara arahan appa. Lalu, di saat kutahu sudah waktunya untuk berkumur-kumur, appa tiba-tiba berkata padaku, “Taya, lihat ini!”

Aku memutar tubuhku ke arah appa sehingga kami berhadapan. Di tangan appa kini ada dua sikat gigi—satunya lagi sikat gigi milik eomma dan…

“Kau lihat? Appa menyikat gigi memakai dua penyikat gigi.”

Aku terdiam melihat aksi appa-ku. Dia benar-benar menyikat giginya dengan dua penyikat gigi. Mulut appa sampai terbuka benar-benar lebar ketika ia menyikat gigi kiri dan kanannya. A-appa, apa kau baik-baik saja?

Aku selalu mendengar eomma mengatakan ini pada appa ketika appa melakukan tindakan konyol. Eomma bilang, ‘Taya itu masih kecil, tapi dia lebih pintar dari pada kau.’

Sepertinya itu benar. Aku lebih pintar dari appa.

Appa idiot!

Tapi, di saat yang sama, eomma juga tertawa melihat kekonyolan appa. Dan, saat ini, aku juga seperti itu.

“Hahaha… muka appa jelek!”

Aku tahu ini. Acara menyikat gigi sebelum tidur atau saat kami mandi bersama biasanya akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.

“Sekarang Taya bantu appa menyikat gigi depan, Appa.”

Appa membungkukkan tubuhnya yang tinggi sehingga wajahnya sejajar dengan wajahku. Kugosok gigi kelincinya itu dengan sikat gigiku yang kecil.

“Sikat… sikat… sikat gigi kelinci appa~” Aku bersenandung kecil.

Jika bersama eomma, aku biasanya hanya menghabiskan sedikit waktu untuk menyikat gigi. Kalau bersama appa…, rasanya lama, tapi lebih menyenangkan.

@

“Sekarang Taya tidur, ya?”

Aku dan appa telah berbaring di atas tempat tidur di dalam kamarnya. Sambil meminum susu melalui dot, appa menyanyikanku lagu yang menurutnya akan membuatku tertidur.

“Appa?” panggilku, memiringkan tubuhku, berhadapan dengan appa yang juga memiringkan posisi tidurnya ke arahku. “Eomma kapan pulang?”

“Besok pagi, Sayang. Kenapa? Taya tidak suka tinggal berdua dengan appa?”

“Bukan begitu, Appa. Taya senang kok tinggal dengan appa?”

“Yang benar? Meskipun appa memanggang roti sampai hangus atau tidak tahu cara mengikat rambut Taya, hm?”

“Tidak apa-apa. Kata eomma, appa selalu bekerja keras untuk membut Taya senang karena appa menyayangi Taya. ”

“Eomma bilang begitu, Sayang?”

Aku mengangguk.

“Taya sayang Appa.”

Kulihat appa tersenyum lebar sehingga gigi-giginya yang telah disikat dengan sangat bersih itu terlihat. Sambil mengusuk rambutku, appa lalu berkata, “Appa juga sayang Taya.”

-THE END-

Iklan

4 thoughts on “{Jeon Family Stories} ONE DAY WITH APPA (TAYA’S POV)

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s