{JFamz’s Stories} HAPPINESS IN YOUR FEAR

{JFamz’s Stories} HAPPINESS IN YOUR FEAR

image

Author: Anditia Nurul || Rating: G || Length: Ficlet || Genres: Fluff, Family || Casts: (BTS) Jungkook, Reader & (OC) Jeon Taya || Disclaimer: I own nothing but storyline and the OC || A/N: Edited! Sorry if you still get typo(s).

HAPPY READING \(^O^)/

Sejatinya, setiap orang terlahir dengan rasa takut terhadap sesuatu atau beberapa hal. Aku, misalnya. Aku takut pada cicak, aku takut pada suara guntur yang menggelegar di tengah hujan lebat—terlebih jika terjadi pada malam hari, termasuk takut kehilangan orang-orang yang kusayangi—oke, kupikir yang terakhir itu, semua orang menakutinya.

Aku beruntung, di antara semua ketakutanku… tidak ada satu pun yang mengarah ke fobia atau takut berlebihan—entahlah, kupikir ketakutanku pada hewan kecil yang merayap di dinding itu bukanlah suatu fobia. Bahkan, ketakutanku pada suara guntur bisa teratasi, meski itu dengan bantuan Jungkook. Ia punya caranya sendiri untuk menolongku dari ketakutan yang tercipta akibat dentuman keras di langit yang seolah membuat langit akan runtuh. Sebuah keping CD berisi rekaman yang merupakan perpaduan suara hujan lebat, guntur, halilintar dan beberapa alat musik diberikan Jungkook padaku beberapa minggu setelah kami menikah, begitu ia sadar telah menikahi seorang perempuan yang takut terhadap suara halilintar.

“Kuharap dengan mendengar ini, kau tidak takut lagi begitu terjadi hujan lebat dan suara guntur terdengar.”

Itu yang dikatakan Jungkook saat memberikan kepingan CD padaku. Aku langsung mendengarkan suara di dalam kepingan tersebut begitu aku tiba di rumah. Dan…, ya, aku menyukai komposisinya. Entah bagaimana cara lelaki itu membuat satu rekaman dari beberapa suara menyeramkan, menjadi sebuah melodi yang indah. Aku masih ingat, aku begitu terhanyut dengan melodi yang terdengar dari rekaman itu, lantas… begitu melodi indahnya berhenti, suara Jungkook terdengar. Laki-laki itu mengatakan satu kalimat yang sampai hari ini masih kudengar, bahkan kujadikan salah satu kalimat untuk membangkitkan keberanianku. Dan, kalimat itu adalah…

“HUWAA!!! EOMMA!!! HUHUHUHUHU”

Lampu tiba-tiba saja padam di saat aku dan Jungkook tengah menonton usai menikmati makan malam, sedangkan Taya bermain sendirian di dalam kamarnya. Hanya sepersekian detik setelah seluruh ruangan di dalam rumah bermandikan kegelapan, Taya berteriak dan menangis kencang. Sudah kuduga.

“Aku akan mengambil senter,” kata Jungkook.

Kurasakan lelaki berdiri dari duduknya serta kupastikan lelaki itu berjalan sembari meraba-raba sekitar lantaran salah satu tangannya menyentuh sekilas puncak kepalaku. Sekitar satu menit, sebuah cahaya terlihat. Jungkook segera menyorot senter ke arah kamar gadis kecil yang masih menangis ketakutan, sedangkan aku bergegas beranjak menuju kamar itu. Menyibak tirai bergambar Disney Princess, kuhampiri Taya yang duduk di antara boneka dan juga peralatan masak plastik yang berserakan di sekitarnya. Jungkook yang berdiri di ambang pintu bersama senter di tangan membuat suasana di dalam kamar berselimut cahaya kekuningan.

“Ssh. Jangan takut, Sayang. Eomma di sini.”

Taya langsung beranjak memelukku, menyandarkan kepalanya pada bahu kananku.

“Takut,” gumamnya pelan dengan suara yang masih terisak dan tubuh mungil yang masih bergetar.
Aigoo, putri kecilku benar-benar ketakutan. Lantas, kubawa Taya keluar dari kamarnya, bergabung bersama appa-nya yang lebih dulu duduk di sofa. Ia masih sesenggukan kendati tubuhnya tidak bergetar ketakutan lagi. Dengan suara teramat pelan, kuberitahu Jungkook untuk melakukan sesuatu. Meski aku ibunya, namun kuakui, Jungkook lebih tahu cara membuat Taya ceria kembali.

“Taya sayang, mau appa tunjukkan sesuatu?”

Taya segera menoleh begitu mendengar suara appa-nya. Bergerak melepas pelukannya pada leherku, kemudian duduk di pangkuanku.

“Apa, Appa?” tanyanya.

Sembari kuseka wajah mungil yang cantiknya dari air mata yang membasahi kedua pipi putih bersihnya dengan tangan kananku, Taya dengan serius memperhatikan apa yang tengah dilakukan appa-nya. Jungkook mengatur posisi senter sedemikian rupa sehingga cahayanya mengarah pada area dinding kosong yang tidak jauh dari pintu kamar Taya. Ah, aku tahu ini. Meniru bentuk binatang dengan tautan jari-jari, bukan? Dan, seperti yang sudah kuduga, belum cukup sepuluh menit, Taya yang tadinya membuat rumah penuh dengan suara tangisan, kini gelaknya yang terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

“Ya! Ya! Burungnya duduk di atas kepala appa!” serunya dengan kedua telapak tangannya yang ia letakkan di atas kepala Jungkook yang duduk melantai. Tergambar siluet berupa seekor burung yang berada di atas kepala Jungkook.

“Waduh! Awas, nanti burungnya buang kotoran di atas kepala appa,” balas Jungkook, membuatku menggelengkan kepala, tertawa samar. Apa-apaan dia berkata seperti itu?

Waktu terus bergulir di tengah lampu yang masih padam. Masih kusaksikan pertunjukkan pasangan appa dan  anak perempuannya menautkan jari-jarinya sedemikian rupa. Sungguh, mereka berdua sangat cocok satu sama lain.

“Ya! Taya juga membuat kelinci, Appa,” rengek Taya usai ia melihat appa-nya membentuk siluet hewan kesukaannya. Dengan telaten Jungkook membantu Taya menautkan jemari mungilnya.

“Jarinya dibeginikan, Sayang. Jari di tangan yang satunya seperti ini dan… jjaja~”

“YEE!!! KELINCI!!!” Lalu, Taya melompat-lompat dengan tautan jarinya yang membentuk siluet kepala kelinci dengan kedua telinga yang berdiri.

Setengah jam waktu telah berlalu dalam kegelapan, namun lampu tak kunjung menyala. Kulihat Taya mulai lelah bermain, beringsut menghampiriku sambil mengucek-ngucek mata sebelah kirinya.

“Mau tidur, hm?” Tidak menjawab, namun gadis kecil itu bergerak menaiki sofa, membaringkan kepalanya begitu saja di atas pahaku. Kuberikan satu botol susu cokelat yang sebelumnya telah kubuatkan untuknya, seketika langsung diminumnya. Tidak lama Jungkook pun turut bergabung duduk di sofa, menyingkirkan kedua tungkai Taya dari sofa untuk diletakkan di atas pahanya.

“Taya, coba lihat appa!”

Kupikir Jungkook akan melakukan sesuatu lagi untuk membuat Taya kembali bermain, namun nyatanya…

“BOOO~!”

“APPA~!!!”

“BUKH!”

“AKH! Wajah appa jadi jelek!”

Sebuah gelak yang cukup keras lolos dari mulutku. Bagaimana tidak? Jungkook malah mengambil senter dan meletakkannya tepat di bawah wajahnya, kemudian mengeluarkan suara ‘boo’. Tentu saja Taya ketakutan, meski ia tahu bahwa orang yang berpura-pura menjadi hantu itu adalah appa-nya. Refleks, gadis kecilku melemparkan botol susunya ke wajah appa-nya, sukses menghantam hidung mancung Jungkook. Pfft.

“Appa jangan menakut-nakuti Taya,” pinta gadis kecil itu.

“Appa pikir Taya sudah tidak takut gelap. Ternyata masih takut, ya?” tanya Jungkook seraya memberikan kembali botol susu yang telah menghantam wajahnya kepada si pemilik. Taya mengangguk dengan dot di mulutnya.

Lalu, Jungkook mengatakan kalimat yang pernah ia katakan padaku, “Kau tahu, Sayang? Ada hal menyenangkan di balik sesuatu yang kau takuti. Kau hanya perlu menemukannya.”

-THE END-

Iklan

4 thoughts on “{JFamz’s Stories} HAPPINESS IN YOUR FEAR

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s