{JFamz’s Stories} WORK HARD

{JFamz’s Stories} WORK HARD

image

Author: Anditia Nurul || Rating: PG-13 || Length: Ficlet || Genre: Fluff, Marriage-Life, Family || Casts: (BTS) Jungkook & You || Disclamer: I own nothing but storyline || A/N: Edited! Sorry if you still got typo.

HAPPY READING \^O^/

“Kenapa kau belum tidur?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Jungkook ketika kubukakan pintu untuknya yang pulang bekerja saat kebanyakan orang sudah tertidur lelap.

“Aku menunggumu pulang,” jawabku, mengambil tas kerja dari genggamannya, juga jas kerja yg beberapa saat lalu ia sampirkan di sikunya yang tertekuk.

Seraya melepaskan kancing kerah kemeja putihnya dan melonggarkan dasi merahnya, lelaki yang berjalan di sisi kiriku, hendak menuju kamar, berkata dengan nada teguran, “Ya! Sekarang sudah malam sekali, Sayang. Sudah pukul 12 lewat.”

“Tidak apa-apa. Bukankah sudah tugas seorang istri untuk menunggu suaminya pulang, hm?” balasku. “Omong-omong, kau sudah makan? Mau kubuatkan sesuatu?”

“Kalau tidak merepotkan, aku ingin makan ramyeon. Aku sedikit lapar,” jawabnya, mengelus-elus perutnya sambil menyengir.

“Hanya ramyeon? Oke. Itu sama sekali tidak merepotkan,” kataku. Tepat di saat itu, kami sudah berada di dalam kamar. Kuletakkan tas kerja Jungkook di tempat biasanya, lalu kusampirkan jasnya pada gantungan baju. Sementara itu, Jungkook tengah melepas satu per satu kaus kaki, dasi dan pakaiannya. “Sambil menunggu ramyeon-mu, sebaiknya kau mandi. Kau bau keringat,” candaku, mengeluarkan piyama berbahan satin berwarna merah dari lemari untuk Jungkook kenakan nanti.

Tahu-tahu lelaki yang telah enam tahun menjadi suamiku itu memelukku dari belakang dan berkata, “tapi baunya seksi, kan?”

Ingin tersenyum mengiyakan, sebenarnya. Namun, sengaja kutahan dan memilih untuk berputar menghadapnya. “Tidak seksi sama sekali!” imbuhku, menjulurkan lidah sekilas ke arahnya untuk meledek. “Sudah. Aku mau memasak untukmu. Sekarang, pergilah mandi, Tuan Jeon,” titahku, melepaskan diri dari pelukannya.

“Bikin ramyeon yang enak, ya, Nyonya Jeon.”

Sekitar sepuluh menit kemudian, kudapati ayah dari putri kecilku sedang lahap menikmati ramyeon instant yang kubuat. Aku curiga, dia belum makan malam lantaran memilih untuk bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Aku menyukai pria yang bekerja keras untuk keluarganya, tetapi… jika terlalu bekerja keras seperti yang ia lakukan… aku juga cemas. Bagaimana kalau nanti ia jatuh sakit? Membayangkannya saja sudah membuat hatiku pilu.

Usai menyantap ramyeon, Jungkook beranjak ke ruang keluarga.
“Sampai kapan kau akan kerja lembur seperti ini?” Tanyaku setelah kubersihkan peralatan makannya. Duduk tepat di sebelah kiri lelaki berpiyama merah itu, menemaninya menonton berita malam di tengah ruangan yang hanya disinari cahaya yang berasal dari televisi.

“Masih dua hari lagi. Ada banyak laporan yang harus diselesaikan lebih cepat dari waktunya karena direktur membutuhkannya untuk pertemuan dengan klien di Jepang,” jelasnya seraya melihat ke arahku.

Kuhela napas panjang. “Begitu, ya?”

Seolah mengetahui kecemasanku, lelaki itu meraih tangan kananku dan mengelusnya pelan sembati berkata, “Aku tidak akan sakit. Tenang saja.”

Hah. Bagaimana aku bisa tenang kalau kau terlalu memaksakan dirimu bekerja?

“Omong-omong, bagaimana sekolah Taya hari ini?”

“Hari ini dia diajari menggambar. Dia sangat senang karena gurunya bilang gambarnya bagus sekali.”

“Tentu saja hasil gambarnya bagus, dia kan putriku. Dia pasti mewarisi bakat menggambar dariku.”

Sekali lagi ingin tersenyum. Aku tahu betul Jungkook pandai menggambar. Ia bahkan pernah membuat sketsa wajahku saat berupaya untuk menarik perhatianku saat kami hanya sebatas teman dahulu. Namun, sekali lagi kusentil dahinya dan berkata, “Ya, ya. Terus saja berkata seperti itu, Tuan Serba Bisa.”

Dia lantas mengelus rambutnya ke belakang, bersikap sok angkuh yang malah terlihat kekanakan di mataku. Astaga, Jungkook, sekarang kau pria beranak satu, tahu!

Tidak lama setelah pembicaraan tentang Taya, lelaki itu kembali fokus menyaksikan berita malam dan aku masih setia duduk di sebelahnya. Lama, hingga rasa kantuk perlahan menyerangku, membuatku menguap beberapa kali dalan kurun waktu sepuluh menit terakhir. Apa Jungkook belum mau tidur, hah?

Aku menoleh ke sisi kananku dan–ya, Tuhan, kudapati priaku terlelap. Bagaimana ini? Berat badannya tidak seringan Taya yang masih bisa kugendong masuk ke dalam kamar.

Tidak punya pilihan lain, aku menyingkir dari sofa dan membaringkan tubuh Jungkook. Mengalas kepalanya dengan bantal sofa yang tidak jauh dariku. Tubuhnya yang tinggi membuat kakinya melewati sofa. Hah… akhirnya, posisi tidurnya sudah benar.

Aku lantas masuk ke dalam kamar dan keluar membawa selembar selimut untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin dan gigitan nyamuk. Setelah kupastikan Jungkook benar-benar bisa tertidur nyaman di sofa, sejenak kupandangi wajahnya di antara cahaya temaram layar televisi yang masih menyala.

Ah, ia benar-benar nampak kelelahan.

Sepersekian detik kemudian, kukecup dahinya yang kerap menjadi sasaran sentilanku, lalu berkata, “Terima kasih telah bekerja keras untukku dan Taya.”

-THE END-

Iklan

2 thoughts on “{JFamz’s Stories} WORK HARD

  1. Aku nggak bisa bayangin itu jungkook.. aku bayanginnya Taehyung… anakku namanya rita..
    Akhir akhir ini mereka bekerja keras buat comebacknya..

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s