30 DAYS CUPID [Chap. 13A-Road to Ending]

30 DAYS CUPID [Chap. 13A-Road to Ending]

30 DAYS CUPID

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship, Romance||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (A-Pink) Bomi, (OC) Min Chanmi & (OCs) Taehyung-Jungkook’s classmates||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

HAPPY READING \(^O^)/


Langit terlihat berwarna jingga, tanda matahari sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Jungkook dan Shina duduk di masing-masing ayunan di sebuah taman bermain yang tidak jauh dari rumah Chanmi. Beberapa anak kecil masih terlihat bermain-main di sana, berkejaran ke sana kemari.

“Shina-ssi,” panggil Jungkook, “seandainya… kau dan Bomi menyukai 1 laki-laki yang sama, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jungkook memulai pembicaraan. Kedua matanya memandang lurus ke depan, tidak ingin membuat kontak mata dengan gadis manis yang berada di sebelahnya.

Mendengar pertanyaan yang diajukan Jungkook, Shina menoleh ke arah pemuda. Untuk sesaat, ia membiarkan kedua matanya menatap lekuk sempurna wajah Jungkook dari samping. Lalu, sepersekian detik kemudian, ia ikut mengalihkan pandangannya ke depan dan berkata, “Kau mau menanyakan pendapatku tentang apa yang terjadi padamu dan Taehyung, hah?”

“Menurutmu begitu?” sahut Jungkook.

“Ya.”

“Lantas, apa jawabanmu?” Jungkook menoleh ke arah Shina.

Shina balas menoleh ke arah pemuda itu. “Kalau aku berada di dalam posisimu, aku tidak akan mengalah hanya karena Taehyung adalah sahabatku. Antara perasaan dan persahabatan itu beda, Jungkook!” tegas Shina.

“Begitu menurutmu?”

Shina agak terkejut mendengar komentar Jungkook. Kesannya, Jungkook terlalu meremehkan pendapatnya. “Lalu, bagaimana kalau… kau terpaksa harus mengalah karena sesuatu yang lebih penting dari perasaanmu?”

Gadis manis itu mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu?”

“Hidupmu,” jawab Jungkook. “Bagaimana kalau kau terpaksa mengalah untuk menyelamatkan hidupmu?”

Shina semakin mengernyitkan dahinya. “Kau ini bicara apa, hah? Sebenarnya apa lagi yang kau sembunyikan, Jungkook?” tanya Shina agak kesal. “Kau taruhan dengan Taehyung, begitu maksudmu?”

Jungkook tertawa samar. “Taruhan? Untuk hal seperti ini? Tidak. Aku tidak begitu bodoh mempertaruhkan hidupku untuk hal seperti ini.”

“Lalu, sebenarnya apa maksudmu? Aku tidak mengerti, Jungkook.”

Pemuda berambut merah marun itu menghela napas. “Kau tahu, Shina? Terkadang ada sesuatu yang lebih baik menjadi rahasia,” balas Jungkook. “Aku cuma ingin mengatakan kalau… aku memang menyukaimu, tapi… aku harus mundur—”

“Karena Taehyung?” potong Shina. “Kau mengalah karena Taehyung, kan!?”

“Ada alasan lain yang lebih penting dari sekedar alasan Taehyung menyukaimu. Lagi pula, seharusnya kau sadar, Shina. Dibanding orang sepertiku, kau lebih pantas mendapatkan orang yang jauh lebih baik,” kata Jungkook. “Ya, seperti Kim Taehyung.”

Shina mengembuskan napas. “Kenapa kau seperti ini padaku, hm?” tanyanya dengan suara serak. Kedua mata indah gadis itu bahkan terlihat berkaca-kaca. “Menurutmu, Kim Taehyung adalah orang yang pantas untukku. Tapi, apa kau pernah memikirkan perasaanku, hm? Aku hanya menyukaimu,” ucap Shina dengan penekanan pada setiap kata aku-hanya-menyukaimu. “Apa kau tidak pernah memikirkan itu?” lirihnya.

Jungkook terdiam sejenak. Ya, apa dia pernah memikirkan perasaan Shina? Selama ini dia hanya berpikir bagaimana untuk menyelesaikan misi keempatnya. Selama ini Jungkook hanya memikirkan bagaimana menyatukan Shina dan Taehyung. Selama ini dia hanya berpikir bagaimana agar ia tetap menjadi manusia.

“Kau tidak pernah memikirkan perasaanku, bukan? Karena itu kau mudah sekali mengatakan bahwa Taehyung adalah orang yang pantas untukku.” Sebulir air mata mengalir di pipi kiri gadis itu. “Aku sangat senang setelah tahu ternyata kau menyukaiku. Tapi, setelah aku tahu kalau… kau mau mengalah demi Taehyung dan alasan lain yang kau sembunyikan, itu lebih menyakitkan dari pada apa yang pernah kau lakukan padaku di ruang kesehatan dulu.”

Jungkook mengembuskan napas, mendongakkan kepala memandang langit yang mula berwarna biru gelap. “Kau pikir hanya kau yang merasa sakit di sini, Shina-ssi? Kau, aku, Taehyung, kupikir kita bertiga merasa sakit hati karena hal ini,” ujar Jungkook.

Shina terdiam. Hanya air mata yang mengalir di kedua pipinya yang mampu mengatakan bahwa… saat ini gadis manis itu sedang sedih.

“Dengarkan aku, Shina~” Jungkook masih berbicara. “Aku tahu ini sulit, tapi… kupikir kau… harus melupakan perasaanmu padaku. Aku juga akan melakukan hal yang sama.”

“Kau bodoh, Jungkook,” gumam Shina. Kedua tangan gadis itu bergerak menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.

Jungkook tertawa samar. “Ya. Kau benar. Aku bodoh. Karena itu, jangan sia-siakan perasaanmu untuk orang bodoh sepertiku,” sahut Jungkook.

Shina mengembuskan napas sembari mendongakkan kepalanya untuk menahan air matanya agar tak jatuh dari pelupuk. Beberapa detik kemudian, gadis itu mencoba tertawa. “Kau tahu, Jungkook-ssi? Kau laki-laki paling jahat yang pernah aku temui,” sahut gadis itu.

“Maafkan aku~” gumam Jungkook.

Keduanya lantas terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasan di sekitar pun sudah mulai sepi. Anak-anak yang tadi bermain entah sejak kapan tidak berada di taman itu lagi. Lampu-lampu taman bahkan sudah mulai menyala, menerangi taman bermain yang hanya ada Jungkook dan Shina saat ini.

Jungkook mengembuskan napas. Ucapan Shina yang mengatakan bahwa diirnya adalah laki-laki paling jahat mungkin ada benarnya. Ini sudah kedua kalinya, dia membuat gadis yang sama merasakan sakit hati di waktu yang belum cukup 1 bulan.

Ya, aku pikir… aku memang sangat jahat pada Shina.

Sedangkan gadis manis yang duduk di sebelahnya agak menundukkan kepala, menatap jemari yang ia mainkan sendiri. Tidak sadar gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya, sebisa mungkin menahan agar air matanya tidak mengalir, paling tidak… jangan sampai ia menangis tersedu-sedu di depan Jungkook.

“Mau aku antar pulang?” tanya Jungkook kemudian, berdiri dari ayunan yang didudukinya, memandang ke arah Shina di dekatnya,

Perlahan, Shina mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Jungkook. “Kau benar-benar sangat jahat kalau kau tidak mengantar seorang gadis pulang di saat malam seperti ini, Jungkook!” Shina mencoba bercanda, memaksakan dirinya tertawa.

Jungkook mengulum senyum. “Ayo. Aku antar kau pulang.” Dan entah ini memang disengaja atau Jungkook mungkin ia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, tetapi tangan kanan pemuda berambut merah marun itu terulur di depan wajah Shina.

Terkejut?

Tentu saja Shina terkejut. Namun, ia tidak mau uluran tangan itu menganggur begitu lama di hadapannya. Sedetik kemudian, Shina menyambut uluran tangan itu, lantas berdiri dari duduknya.

Dan keduanya pun berjalan kembali menuju halte dengan tangan yang saling bertautan. Samar-samar terukir senyum di wajah mereka. Masing-masing tahu, tautan tangan itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya.Seperti sebuah perjanjian bahwa… setelah tautan tangan itu terlepas, perasaan mereka kepada satu sama lain pun… akan dilepaskan.

@@@@@

Langit telah gelap ketika Jungkook keluar dari bis yang membawanya ke halte terdekat dari rumahnya. Tugasnya sudah selesai. Gadis manis itu, Oh Shina, telah tiba dengan selamat di rumahnya. Turun dari bis, pemuda itu berjalan kaki menuju rumahnya, di bawah lampu-lampu yang menyala temaram di sisi kiri dan kanan badan jalan sambil tangan kirinya memegang salah satu tali ransel yang tersampir di bahunya.

Kedua kaki pemuda itu nampak bergerak cepat. Tentu saja. Ia harus segera tiba di rumah jika tidak ingin membuat noona-nya bertambah cemas. Tadi saja, saat mengantar Shina pulang, Jungkook harus me-reject 2 kali panggilan dari Junmi.

Jarak antara Jungkook dengan rumahnya tidak begitu jauh lagi. Namun…, seketika Jungkook menghentikan langkahnya begitu… melihat ada seseorang yang berdiri di depan pagar rumahnya, tepat di depan bel. Orang tersebut tampak ragu untuk meneka tombol bel yang berada persis di depannya. Beberapa kali Jungkook melihat orang itu hendak menekan tombol, namun bergegas ia menarik kembali jarinya. Jungkook tahu orang itu. Ya. Tidak salah lagi. Pasti… dia!

“Kim Taehyung?” Jungkook menghampiri orang tersebut, berdiri sekitar 2 langkah di belakangnya.

Sontak, orang itu membalik tubuhnya, menghadap Jungkook. Seketika kedua bola matanya membulat melihat Jungkook berada di hadapannya. Ya, dia… Kim Taehyung.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jungkook kemudian.

Taehyung nampak salah tingkah. Ia mengira… Jungkook berada di dalam rumah. “Ah, itu… anu…” Taehyung menggaruk-garuk sisi kiri kepalanya, “Aku permisi dulu!” Dan dengan satu gerakan cepat, Taehyung melintas di sebelah Jungkook, ingin melarikan diri, tapi…

“Hei! Kim Taehyung! Tunggu!” Jungkook lekas mengerjarnya, berdiri menghadang jalan Taehyung. “Kau mau kemana, hah?” tanyanya.

Pemuda berambut light caramel itu mengalihkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Jungkook.

“Kau mau menemuiku, kan?” tanya Jungkook lagi.

Taehyung tidak menjawab.

“Hei! Taehyung-ah,” Jungkook mendorong pelan bahu kiri Taehyung, “Kenapa kau tidak menjawab, hah?”

“A-anu… itu… tadi… aku hanya kebetulan lewat sini,” jawab Taehyung canggung, masih mengalihkan wajahnya dari Jungkook.

“Benarkah?” Jungkook sengaja menggoda pemuda di hadapannya. Entah kenapa, dia yakin kalau Taehyung ingin datang menemuinya. “Lalu, kenapa berdiri di depan rumahku?”

Sekali lagi Taehyung menggaruk sisi kiri kepalanya yang tidak gatal. “I-itu… aku… anu… aku…” Taehyung terdiam sejenak, terlihat bingung ingin mengatakan apa, lantas… “aku ingin mengambil komikku yang ada padamu!” Akhirnya kali ini ia melihat wajah Jungkook.

Jungkook terbatuk pelan mendengar kelanjutan kalimat Taehyung. Hah! Mungkin dia saja yang terlalu percaya diri bahwa Taehyung ingin berbaikan dengannya. Nyatanya, Taehyung hanya ingin mengambil komik yang ada padanya.

“Komikmu ada di rumahku,” sahut Jungkook, menunjuk ke arah rumahnya.

“Ka-kalau begitu… pergi ambil!” titahnya dengan nada sinis yang agak dipaksakan.

“Kau… mau menunggu di sini atau—”

“Aku tunggu di sini!” potong Taehyung cepat, kembali mengalihkan wajahnya dari Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu mengangguk pelan sambil berkata, “Baiklah. Aku akan mengambilkan komikmu.”

Jungkook berlari menuju rumahnya, sementara Taehyung memilih berdiri sambil menyandarkan punggungnya pada tembok rumah tetangga Jungkook. Tidak butuh waktu lama, pemuda berambut merah marun itu kembali sambil membawa beberapa komik milik Taehyung yang belum sempat di kembalikannya.

“I-ini komikmu. Maaf, aku terlambat mengembalikannya,” kata Jungkook, menyodorkan 4 buah komik yang dipegangnya pada Taehyung.

Agak kasar, Taehyung mengambil komik miliknya dari tangan Jungkook. “Ha-harusnya… harusnya kau cepat mengembalikannya,” sahut Taehyung lagi, masih dengan nada sinis yang dipaksakan.

“I-iya. Maafkan aku, Taehyung-ah.”

Keduanya lantas terdiam. Taehyung… tidak tahu harus bagaimana membalas ucapan Jungkook. Pemuda itu agak memalingkan wajahnya, menghindari pandangan Jungkook padanya. Tidak lama, Taehyung berdehem singkat, kemudian bertanya, “Kau dari rumah Chanmi?”

“Iya,” jawab Jungkook. “Kenapa kau tidak datang? Aku dan Chanmi sudah menghubungimu.”

“Ada yang aku kerjakan.”

“Apa?”

“Kau tidak perlu tahu!”

“Oh~” gumam Jungkook pelan.

“Kenapa pulang sampai malam begini?” tanya Taehyung lagi.

Jungkook terdiam sejenak. Apa… dia perlu mengatakan kalau… dia pulang terlambat karena… harus mengantar Oh Shina!? Tapi, kalau dia mengatakan itu, apa Taehyung…

“Kau mengantar Shina pulang, kan?” celetuk Taehyung, melihat ke arah Jungkook dan mendapati pemuda berambut merah marun itu membulatkan kedua matanya, terkejut.

“Bagaimana kau—”

“Aku melihatmu berjalan dari halte di dekat rumah Shina ke rumahnya sambil berpegangan tangan,” jawab Taehyung, lalu memaksakan dirinya tersenyum. Ia lantas mengembuskan napas dan berkata, “Kau dan Shina… pacaran, ya, sekarang?”

“Apa? Tidak! Kau salah!” elak Jungkook cepat. “Aku dan Shina sama sekali tidak menjalin hubungan apapun. Sungguh! Aku tidak bohong.”

“Lantas…, kenapa kalian berpegangan tangan?”

“I-itu… karena…”

“Sudahlah,” potong Taehyung, “Kalau kau dan Shina sekarang pacaran, aku ucapkan selamat,” katanya, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Jungkook.

“Tidak, Taehyung-ah. Aku tidak berpacaran dengan gadis itu,” elak Jungkook sekali lagi. Dia bahkan menolak untuk menjabat tangan Taehyung. “Aku… aku sengaja memegang tangannya sebagai salam perpisahan.”

Taehyung mengernyitkan dahinya, bingung dengan ucapan Jungkook. “Maksudmu?”

“Aku sudah bicara dengan Shina. Aku bilang padanya kalau aku… aku akan mengubur perasaanku padanya,” lirih Jungkook.

“Kau… melakukan itu karena aku?” tanya Taehyung.

Jungkook tersenyum simpul, lantas menggeleng pelan. “Meskipun kau tidak menyukai Shina, aku akan tetap mengubur perasaanku padanya.”

“Kenapa? Bukankah ini pertama kalinya kau—”

“Ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan padamu. Yang jelas, dalam diriku, aku merasa yakin kalau Shina bukan gadis yang diciptakan. Dia diciptakan untuk orang lain,” potong Jungkook. “Mungkin saja kau,” lanjutnya.

Taehyung terkejut mendengar beberapa kata terakhir yang baru saja keluar dari mulut Jungkook. “Apa? Tidak mungkin! Jangan bicara macam-macam, Jeon Jungkook!”

Pemuda berambut merah marun itu tertawa samar. “Sudahlah. Aku tahu kau sangat menyukai gadis itu,” ujar Jungkook. “Mungkin… kau perlu mengungkapkan perasaanmu sekali lagi padanya,” lanjut pemuda itu.

“Apa?”

“Aku tahu kau masih sangat menyukainya. Tidak perlu kau sembunyikan!” ujar Jungkook, menepuk pelan pundak kiri Taehyung, lantas berjalan meninggalkan pemuda itu.

Ya, Kim Taehyung. Aku sudah melepas Shina.

@@@@@

Sepulang dari rumah Jungkook, Taehyung langsung masuk ke dalam kamarnya, melemparkan komiknya begitu saja ke atas meja, namun sayangnya mereka—komik-komik itu—tidak mendarat dengan selamat, malah jatuh ke lantai. Beruntung, saat menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, tubuh Taehyung mendarat dengan selamat di atas benda berbentuk persegi yang empuk itu.

Pemuda berambut light caramel itu memandang langit-langit kamarnya. Terdiam sejenak sembari memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu. Oke, jujur saja, tadi… dia datang ke rumah Jungkook bukan untuk mengambil komik-komiknya, tapi… dia ingin berbicara sesuatu. Namun, melihat Jungkook dan Shina berjalan dari halte, terlebih mereka saling berpegangan tangan itu… membuatnya merasa… ada sesuatu yang sakit di dalam dirinya.

Awalnya, dia mengira Jungkook dan Shina telah pacaran, karena itu… ia tetap saja ke rumah Jungkook. Ternyata… mereka—Jungkook dan Shina—berpegangan tangan itu cuma… sekedar ‘salam perpisahan’.

Senang?

Oke. Taehyung tidak akan bohong kali ini!

Dia… cukup senang dengan kenyataan Jungkook yang melepas Shina. Tapi, di satu sisi, dia juga… merasa tidak enak. Hei! Jungkook… masih sahabatnya—meski orang itu telah mengecewakannya. Agak aneh rasanya jika dia senang, sementara Jungkook… harus sakit hati. Tapi…

“Arrrghhh!” Taehyung mengerang pelan sambil mengacak surai light caramel-nya, frustasi.

Taehyung semakin bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dia masih menyukai Shina, masih, tapi… dia berpura-pura seolah… dia tidak lagi menyukai gadis manis itu. Dengan sok kuatnya, dia bahkan memberi selamat kepada Jungkook karena menyangka sahabatnya itu pacaran dengan Shina.

Apa… dia harus mengikuti ucapan Jungkook, hm?

Mengatakan cintanya sekali lagi pada gadis manis itu.

Tapi, meskipun Jungkook sudah melepas Shina, apakah… gadis itu… juga telah melakukan hal yang sama? Melepas Jeon Jungkook.

Atau paling tidak… Shina, mau… memberi kesempatan untuknya.

“Sudahlah. Aku tahu kau sangat menyukai gadis itu.”

“Mungkin… kau perlu mengungkapkan perasaanmu sekali lagi padanya.”

“Aku tahu kau masih sangat menyukainya. Tidak perlu kau sembunyikan!”

“Arrgghh! Jeon Jungkook, kenapa harus Oh Shina yang menjadi gadis yang kau suka, hah?”

@@@@@

“Hari ini kau naik bis saja, Kim Taehyung. Appa mau memakai motormu ke kantor. Kau tahu kan, kemarin mobil appa masuk bengkel.”

Kalau bukan karena hal itu, Taehyung tidak mungkin duduk sendirian di halte bis dekat rumahnya. Wajahnya tertekuk, bibirnya mencebik dengan mata yang memandang bosan jalan raya di depannya. Entah untuk keberapa kalinya Taehyung melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Ayolah. Bis yang biasa mengantarnya ke sekolah tidak pernah selambat ini!

Pemuda berambut light caramel itu lantas melihat-lihat sekitar. Mencari sesuatu yang menarik perhatiannya sampai… tanpa sengaja kedua matanya menangkap sosok gadis berseragam kuning-hitam yang berjalan ke arahnya—tepatnya ke arah halte dimana ia berada.

Uh? Bukankah… itu Oh Shina?

Taehyung mulai panik sendiri. Biasanya… Shina berangkat ke sekolah di antar oleh eomma-nya. Kenapa sekarang… dia naik bis? Dan kenapa harus di hari ini, hah? Aish!

Gadis manis itu telah tiba di halte bis. Untuk beberapa saat ia bersitatap dengan Taehyung, mengangguk pelan, lantas berjalan menuju sisi lain halte. Kedua mata Taehyung bergerak mengikuti ke arah mana gadis itu berjalan, hingga gadis itu duduk di ujung lain bangku halte. Tepat di saat Shina menoleh ke arah Taehyung, pemuda itu langsung mengalihkan wajahnya, pura-pura tidak melakukan apa-apa.

Perlahan-lahan, udara terasa berat di kedua bahu Taehyung. Hanya berdua dengan Shina di halte bis membuatnya benar-benar merasa kikuk, tidak tahu harus bagaimana. Bahkan deru kendaran yang melintas di depan sana seperti tidak terdengar oleh telinganya.

“Kenapa kemarin tidak datang ke rumah Chanmi?” tanya Shina mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku. Gadis itu menoleh ke arah Taehyung, memandang pemuda itu dari tempatnya duduk.

Taehyung agak terkejut mendengar Shina bertanya padanya. Dengan gaya kikuk ia menjawab, “A-anu… a-ada sesuatu yang aku kerjakan.”

“Oh~”

Suasana kembali canggung. Respon singkat dari Shina membuat Taehyung tidak tahu harus membalas apa. Lagi pula, apa yang harus dibalas dari sebuah kata ‘oh’? Ck!

“Jungkook~” Tanpa sadar keduanya mengucap nama Jungkook bersamaan. Sama-sama ingin memulai pembicaraan yang dimulai dengan nama pemuda berambut merah marun itu.

“Kau saja duluan,” sahut Shina cepat.

Pemuda berambut light caramel itu menggeleng. “Tidak kau saja duluan.”

“Kau saja.”

“Kau—” Taehyung tidak menyelesaikan ucapannya, seketika tersadar, kalau seperti ini terus, kapan selesainya? “Baiklah. Aku saja,” ucap Taehyung kemudian.

Shina hanya mengangguk.

Taehyung berdehem sejenak, lantas menghela napas panjang sebelum mulai berbicara. “Ehm, Jungkook, bagaimana hubunganmu dengannya? Apa… sudah baikan?” tanya Taehyung.

“Begitulah~” jawab Shina. “Kau sendiri?”

“Y-ya. Ku-kurang lebih, begitu juga,” sahut Taehyung. “Eung~, ke-kemarin… kemarin aku tidak sengaja melihat kau pulang dengan Jungkook,” ucap pemuda berambut light caramel itu lagi.

Mendengar itu, Shina seketika salah tingkah. “Ja-jadi, kau… melihat…” Shina nampak tidak berani meneruskan kalimatnya.

Pemuda di ujung sana itu mengangguk. “Ya. Aku melihat kau dan Jungkook… berpegangan tangan.”

Shina menelan ludah. Oke. Pembicaraan ini membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

“Tidak apa-apa. Aku… bertemu Jungkook semalam. Dia… sudah menjelaskan semuanya,” lanjut Taehyung.

“Jadi, kau sudah tahu kalau…” Lagi-lagi Shina tidak berani meneruskan ucapannya. Beruntung, Taehyung mengerti.

“Ya,” sahutnya singkat.

Shina menghela napas panjang. “Aku dan Jungkook sudah berjanji tidak akan menjalin hubungan apa-apa selain pertemanan. Itu saja. Tidak lebih.”

“Ya. Jungkook sudah mengatakan itu padaku.”

Untuk kedua kalinya Shina menghela napas panjang. “Aku tidak menyangka kalau akan seperti ini, Taehyung-ssi,” ujar gadis itu.

“Y-Ya, aku juga,” sahut Taehyung. “Aku tidak menyangka kalau… aku dan Jungkook akan… menyukai gadis yang sama.”

Keduanya kembali terdiam. Atmosefer kecanggungan itu kembali terasa di pundak masing-masing. Huff, sampai kapan mereka harus berdua seperti ini? Kenapa bis belum juga datang?

Namun tepat di saat itu, Taehyung langsung bernapas lega begitu melihat bis yang akan ditumpanginya nampak dari kejauhan. Meski masih beberapa puluh meter di sana, Taehyung telah berdiri, mendekat ke tepi trotoar. Dia sudah tidak tahan lagi berada di suasana canggung seperti ini. Paling tidak, di dalam bis akan ada banyak orang dan… yang paling penting, dia bisa duduk berjauhan dengan Shina.

Begitu bis berhenti dan pintunya terbuka, Taehyung bergegas naik. Buru-buru pemuda itu mencari bangku kosong yang tersisa di antara bangku-bangku yang telah terisi oleh penumpang. Beruntung, masih ada 2 bangku kosong yang tersisa. Taehyung lekas duduk nyaman di salah satu bangku itu sampai… ia menyadari sesuatu. Hanya ada 2 bangku kosong yang tersisa di bis ini dan salah satu dari bangku itu telah didudukinya. Sementara di halte ini, ada 2 orang yang naik—ia dan Shina. Jadi, bangku kosong yang di sebelahnya itu…

“Boleh aku duduk di sini?” Shina sudah berdiri di sebelah bangku itu, meminta izin—hal seharusnya tidak perlu dilakukannya mengingat bis ini adalah fasilitas umum—pada Taehyung.

Dengan canggung, pemuda itu mengangguk.

Ah, mau tidak mau… dia harus duduk bersebelahan dengan Shina.

@@@@@

Jungkook duduk di sana, di bangkunya, sambil menggambar sesuatu di bagian belakang buku tulisnya. Entah, pagi ini dia memang iseng menggambar sesuatu di bukunya atau… ia sekedar mencari kesibukan untuk… membuatnya… tidak terlalu memikirkan kenyataan bahwa… waktunya tersisa 1 hari lagi.

Yap. Tanpa terasa hari ke-29 ini telah tiba. Padahal, rasanya baru kemarin Jungkook menjadi seorang cupid-30-hari. Hahaha! Bohong! Sejujurnya, Jungkook merasa masa hukumannya ini terlalu lama. Sekarang telah hari ke-29, namun Jungkook merasa ia telah menjalani hukuman ini selama 290 hari. Berlebihan? Tidak juga. Mengingat betapa susahnya hukuman ini.

Terlebih, untuk target terakhir.

Mungkin… hanya keajaiban yang bisa menyelematkan Jungkook dari hukuman ini. Bagaimana tidak? Shina dan Taehyung, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa… hubungan keduanya sudah membaik. Bahkan, hubungannya dengan Taehyung pun… ah, ia sendiri tidak begitu berani mengatakan bahwa ia sudah baikan dengan Taehyung. Pemuda berambut light caramel itu… beberapa kali masih berbicara ketus padanya, bahkan… sampai saat ini, Taehyung belum kembali ke bangkunya, bangku yang berada di sebelah Jungkook.

“Ehm, ehm!”

Saking asiknya menggambar, Jungkook sampai tidak sadar bahwa… seseorang telah duduk di sebelahnya, di bangku Taehyung. Tapi, setelah suara deheman yang berat itu mengetuk gendang telinganya, pemuda berambut merah marun itu baru menoleh dan… seketika terkejut melihat siapa yang duduk di sana.

“Taehyung-ah?” serunya. Oke. Mimik yang gembira melihat sang pemilik bangku telah kembali ke tempatnya itu tidak bisa disembunyikan dari wajah Jungkook. “Kau… duduk di situ lagi?”

Sambil memandang ke depan, Taehyung menjawab dengan nada datar yang dipaksakan, “Iya. Tapi, jangan senang dulu. Aku kembali duduk di sini karena tidak enak pada Dabin.”

Jungkook tersenyum samar. Dia yakin, kali ini… Taehyung pasti sudah tidak marah padanya. “Terima kasih,” gumam Jungkook.

“Tidak usah berterima kasih,” sahut Taehyung, “Aku tidak memberikan apa-apa padamu!” ucapnya masih dengan nada datar. Terlihat gengsi mengakui kalau… ya, sejujurnya dia sudah tidak begitu kecewa lagi pada Jungkook. Dan, sedetik kemudian, diam-diam pemuda berambut light caramel itu tersenyum.

See?

Dia memang hanya gengsi!

@@@@@

Sakit perut!

Itu yang membuat Taehyung duduk di tepi tempat tidur di ruang kesehatan sekolah.

“Sudah kubilang, kan!? Tteokbokki Bibi Nam itu pedas sekali. Kau tidak akan tahan,” komentar Jungkook, duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur.

“Aku tahu. Aku sedang sangat berselera memakan makanan pedas hari ini. Karena itu aku memakan tteokbokki Bibi Nam. Aku tidak tahu kalau lambungku ternyata… sesensitif ini. Padahal sejak beberapa hari lalu aku juga sering makan makanan pedas, tapi tidak apa-apa,” jelas Taehyung membela diri dari ucapan Jungkook.

Ya, situasi sepertinya sudah mulai membaik, setidaknya untuk hubungan persahabatan Jungkook dengan Taehyung.

“Karena itu kau sakit perut, Kim Taehyung! Kau terlalu berlebihan!”

Taehyung mendengus. “Hei! Hei! Kita baru saja baikan dan kau sudah mulai menasehatiku macam-macam,” tegur Taehyung kesal.

Ya! Kalau bukan aku yang menasehatimu, siapa lagi, hah?”

“Tapi, kau—”

“Hei, kalian berdua!” celetuk Suster Ham, “Kalau mau bertengkar, jangan di sini!” tegurnya, sontak membuat kedua pemuda itu terdiam.

“Ini semua gara-gara kau, Jungkook!” ujar Taehyung dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Suster Ham, melotot kesal ke arah Jungkook.

“Apa? Enak saja. Ini salahmu!” balas Jungkook, dengan suara pelan juga.

Beberapa detik kemudian, suara bel tanda jam istirahat pertama berakhir pun terdengar.

“Heh! Sudah bel. Kau tidak mau ke kelas?” tanya Jungkook, berdiri dari duduknya.

Taehyung menggeleng dengan tangannya memegang perutnya. “Tidak. Perutku masih tidak nyaman.”

“Oh. Ya sudah. Aku kembali ke kelas kalau begitu.”

“Ya. Terima kasih sudah menemaniku ke ruang kesehatan.” Jungkook mengangguk pelan, berpamitan kepada Suster Ham, lantas keluar dari ruang kesehatan. Sepeninggal Jungkook, Taehyung langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, memejamkan kedua matanya.

Hmph~ perutnya terasa seperti dikuras di dalam.

@@@@@

“Taehyung-ssi, kau tidak apa-apa aku tinggal sendirian sebentar, hm? Kepala sekolah memanggilku untuk menemani beliau ke acara seminar kesehatan,” tanya Suster Ham kepada Taehyung yang baru saja keluar dari toilet, berjalan ke tempat tidur.

“Oh, iya, Suster Ham. Tidak apa-apa,” balas pemuda itu.

“Baiklah kalau begitu,” kata Suster Ham. “Jangan lupa minum air, hah. Jangan sampai kau dehidrasi,” pesan Suster Ham.

“Ya~”

“Aku pergi dulu.”

“Ya. Hati-hati, Suster Ham.”

Setelah Suster Ham pergi meninggalkannya sendirian di ruang kesehatan, Taehyung bergegas menarik gorden putih yang mengelilingi tempat tidur. Sambil menunggu keadaannya membaik dan menunggu pergantian jam pelajaran, lebih baik dia tidur. Toh, jarang-jarang dia bisa tidur di jam begini.

“Hoaaah~”

Taehyung memejamkan matanya, bersiap untuk tidur, namun… sayup-sayup ia mendengar suara langkah memasuki ruang kesehatan. Suster Ham? Tidak mungkin. Bukankah… suster itu baru saja pergi? Atau mungkin… ada sesuatu miliknya yang ketinggalan di ruang kesehatan?

“Uh? Pintu ruang kesehatan tidak terkunci, tapi… dimana Suster Ham?”

Taehyung tersentak mendengar suara itu. Seketika kedua matanya terbuka, begitu… suara Shina memasuki kedua lubang telinganya.

“Lalu, bagaimana, hah? Aaah, tanganku perih sekali, Shina-ya~” Terdengar suara seseorang meringis kesakitan.

Yoon Bomi?

“Iya, iya. Sebaiknya kau bersihkan dulu jarimu yang berdarah itu di kamar mandi. Aku sedang mencarikan betadine untuk lukamu.”

Beberapa saat kemudian, tidak terdengar obrolan lagi, melainkan… suara guyuran air di dalam kamar mandi. Taehyung masih terbaring di atas tempat tidur menyimpulkan kalau… yang berada di dalam kamar mandi itu adalah Bomi. Aish! Kenapa mereka berdua ada di sini, hah? Apa mereka tahu kalau aku di ruang kesehatan?

“Aduuh~ perihnya~~” Terdengar suara Bomi yang masih meringis.

“Duduk di sini. Biar aku oleskan betadine di lukamu.”

Untuk beberapa saat, tidak terdengar suara apapun, hingga… “Aww! Pelan-pelan, Shina. Perih!” jerit Bomi.

Di balik gorden putih itu, diam-diam Taehyung tertawa mendengar si gadis cerewet dan menyebalkan itu berteriak kesakitan.

“Tahan sebentar, Bomi-ya,” sahut Shina.

“Uuh~ perihnya~”

“Nah. Sudah selesai,” kata Shina. “Ayo kembali ke kelas.”

Taehyung bernapas lega, kedua gadis itu akan pergi dari ruang kesehatan. Setidaknya, kedua gadis itu tidak tahu Taehyung berada di ruangan yang sama dengan mereka. Apa lagi Bomi. Ah, bisa-bisa si cerewet itu menuduhnya macam-macam kalau sampai dia menemuka Taehyung di sini.

Tapi…, baru beberapa detik Taehyung bernapas lega mendengar Shina yang mengajak Bomi keluar dari ruangan, namun… Bomi malah berkata, “Tidak usah terlalu cepat kembali ke kelas, hm. Memangnya kau tidak pusing melihat rumus-rumus yang diberikan Jo Sonsaengnim? Duduklah di sini sebentar, mumpung kita diberi izin keluar dari kelas~”

Taehyung mendengus. Ck! Yoon Bomi! Mau apa dia berlama-lama di sini, hah?

“Tapi, kau harus bertanggung jawab kalau Jo Sonsaengnim memarahi kita karena terlalu lama di ruang kesehatan.”

“Tenang saja. Kau kan sedang mengobatiku. Katakan saja kau kesulitan mencari betadine, kapas atau apalah.”

“Ck! Kau ini sedang malas belajar, ya?”

“Bukannya malas, tapi cerdas memanfaatkan kesempatan!” kata Bomi. “Oh ya, aku tidak melihat Suster Ham. Dimana dia?”

“Entahlah. Pintu ruang kesehatan tidak dikunci. Mungkin saja dia sedang tidur di situ.”

“Di balik gorden putih itu.”

“Tentu saja. Hanya di situ tempat tidur ruang kesehatan!”

Masih di balik gorden yang tertutup, Taehyung menelan ludah. Mampus! Bagaimana kalau kedua gadis itu menyibak tirai putih ini? Akan sangat mengejutkan kalau ternyata yang mereka lihat adalah… Taehyung, bukan Suster Ham.

“Ngomong-ngomong, Shina,” ujar Bomi, “Sepertinya…, Taehyung dan Jungkook sudah baikan, ya?”

Seketika Taehyung mengambil posisi duduk begitu mendengar Bomi menyebut namanya—juga nama Jungkook.

“Ya. Sepertinya begitu. Taehyung sudah duduk di bangkunya semula,” balas Shina.

“Lantas…, bagaimana hubunganmu dengan mereka?” Bomi bertanya lagi. Sementara di balik tirai, Taehyung mempertajam pendengarannya.

“Baik. Sepertinya, sudah tidak ada masalah lagi.”

“Sepertinya?”

“Entahlah, Bomi. Aku dengan Jungkook, hubungan kami sudah membaik… meski, ya… seperti yang kau tahu, dia… tetap pada pendiriannya.”

“Maksudmu?”

“Kemarin, saat mengantarku pulang dari rumah Chanmi, kami sudah berjanji akan mengubur perasaan masing-masing.”

“Kau berjanji seperti itu?” Taehyung bisa menebak bahwa Bomi sedang terkejut saat ini.

“Ya. Seperti yang pernah kau bilang, mungkin… aku tidak berjodoh dengannya,” lirih Shina. Taehyung yang mendengar kalimat itu… hanya bisa menghela napas panjang. Hah~ ini pasti berat untuk Shina.

“Lantas, apa lagi yang dikatakan Jungkook padamu kemarin?”

“Dia juga membicarakan Taehyung.”

Si pemilik nama terlihat semakin penasaran di balik tirai putih itu. Uh, apa yang dikatakan Jungkook tentangnya pada Shina?

“Dia membicarakan si anak aneh itu?”

Kalau bukan karena ingin mengetahui apa yang dikatakan Jungkook, mungkin sekarang Taehyung sudah keluar dari tirai dan memarahi Bomi karena mengatainya anak aneh. Ck! Enak saja Yoon Bomi itu bicara! Dasar gadis cerewet!

“Ya.”

“Apa yang dia katakan?” Bomi terdengar semakin penasaran.

“Secara tidak langsung, dia memintaku untuk… memikirkan Taehyung. Maksudku, memikirkan kebaikan-kebaikan Taehyung selama ini padaku. Dia mengatakan kalau… Taehyung sengaja menjadi Tuan Mawar karena dia ingin mengalihkan perhatianku dari sakit hati saat Jungkook pertama kali menolakku. Taehyung sengaja melakukan itu karena… dia tidak mau aku terlalu tenggelam dengan perasaan sakitku.”

Di balik tirai, Taehyung hanya diam terpaku di atas tempat tidurnya. Teringat semua usahanya mengalihkan perhatian Shina, menemani gadis itu saat Jungkook membuatnya menangis dan… ah, terlalu banyak yang ia lakukan untuk Shina. Tapi sepertinya, tidak ada satu pun yang bernilai di mata gadis manis itu.

“Begitu?”

“Ya,” sahut Shina.

“Lalu…, bagaimana perasaanmu pada Taehyung sekarang?”

Tidak seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, kali ini… Shina terdiam. Entah, sedang memikirkan jawaban atau… memang ia tidak mau menjawab. Sedangkan Taehyung, pemuda itu terlihat sangat penasaran dengan jawaban Shina. Debar jantungnya bahkan semakin bertambah cepat setiap detiknya, menunggu jawaban Shina.

“Oh Shina? Yoon Bomi? Apa yang kalian lakukan di sini?” Terdengar suara Suster Ham. Sontak Taehyung mendecak kesal. Ah, Shina dan Bomi pasti akan segera pergi dari ruang kesehatan.

“Ah, Suster Ham,” gumam Bomi, “Ini. Jari Bomi teriris cutter. Tapi, aku sudah mengobatinya,” jelas Shina.

“Oh ya sudah. Kalian segeralah kembali ke kelas. Sudah tidak ada yang perlu diobati, bukan?”

“Ya, Suster Ham,” sahut Shina dan Bomi bersamaan. “Kami permisi~”

Dan suara langkah yang menjauh dari ruang kesehatan itu menandakan bahwa… Taehyung gagal mendengar jawaban dari Shina. Padahal…, Taehyung ingin sekali mendengar jawaban dari gadis manis itu.

Ya, seperti apa perasaan Shina padanya… sekarang?

-TaehyungBelumCebok-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

A/N: Yaaa~~! Minggu depan (kalo gak ada halangan buat nge-posting) udah chapter terakhir >.<

 Oh ya, minggu depan juga kemungkinan FF ini sedikit terlambat untuk di-posting. Tapi, aku usahakan kok agar FF ini tetap di-posting hari Selasa depan. Kalo ngga, ya, kemungkinan Rabu… hehe. Maaf ya~

Iklan

6 thoughts on “30 DAYS CUPID [Chap. 13A-Road to Ending]

  1. Sebelumnya mau ngakak dulu boleh ya? Hahahahaha… this is amazing! Si tuyul aneh itu bisa galau juga -_- Oh my baby, betapa berat posisimu… huhuhuhu~
    Pokoknya ini awesome-lah!
    2 chapter lagi, ya? Ah! Nggak nyangka cepet banget.

  2. haihai/?
    pas baca bagiannya jungkook-shina tiba2 melow sendiri/? ngenes amat jungkook wkwk /digampar
    taehyung gengsi hanzer ngakak XD
    lucu/? unyu gitu wkwk XD ga sabar baca chapter terakhir
    fighting!

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s