THE WEDDING CONTRACT [Chap. 2]

THE WEDDING CONTRACT [Chap. 2]

THE WEDDING CONTRACT-SUYU

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi & (Girl’s Day) Yura||Additional Characters: (OC) Yura’s Parents, (Secret) Zinger, (OC) Kang Ajussi-Ajumma|| Disclaimer: I own nothing but storyline. The original version is casted By (SuJu) Yoongi & OC||A/N: Edited! Sorry for the typo(s) & bored plot. Don’t like the pairing? Don’t read! Don’t like the plot? Just stop reading!

HAPPY READING \(^O^)/

Next Morning

-Still Yura’s POV-

“GDEBUK!”

“Aww!”

Kugosok wajahku yang tanpa sengaja ‘mencium’ lantai karena aku jatuh dari tempat tidur. Lekas kembali ke tempat tidur, duduk di atasnya. Masih menggosok wajahku yang terasa sedikit nyut-nyutan, aku melihat ke arah sofa tempat dimana Yoongi tidur.

Lelaki itu tidak ada di sana. Kalau begitu, dia pasti orang yang berada di dalam kamar mandi. Terdengar suara gemericik air shower menghiasi pagi yang cerah ini.

“CKLEK!”

Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Seketika aku menarik selimut, berbaring, kemudian menutupi seluruh tubuhku dengan selimut tersebut. Terdengar Yoongi bersenandung pelan.

“Lalala~ lalala~ lalala~”

Bisa-bisanya dia santai seperti itu setelah kejadian semalam. Kejadian dimana kami… ehm… berciuman. INGAT! HANYA BERCIUMAN! TIDAKLEBIH! Arrgh! Pokoknya, gajinya bulan ini akan aku potong 50%!

“Hei! Kim Yura, aku tahu kau sudah bangun. Apa kau tidak kepanasan menutupi seluruh tubuhmu dengan selimut, eoh?” tegurnya.

Uh? Dia sudah tahu rupanya.

Apa dia mendengar aku terjatuh dari tempat tidur,eoh?

Sontak aku pun menyibak selimutku dan sepersekian detik kemudian, aku mengambil posisi duduk. Aku melihat ke arahnya, berdiri di depan cermin sembari sibuk memberikan gel pada rambutnya.

“Ya, ya. Aku sudah bangun,” kataku sedikit ketus.

Yoongi terkekeh. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak, eoh?”

Hih! Pertanyaan basa-basi.

“Untuk apa kau tahu?”

“Kenapa? Apa aku tidak boleh tahu, eoh!?” ujarnya.“Asal kau tahu, Nona Kim, tidurku semalam nyenyak sekali~”

Apa Lelaki ini sengaja menggodaku, eoh? Mau mengingatkanku pada kejadian semalam? Kejadian yang seharusnya tidak boleh aku lakukan dan tidak akan pernah aku lakukan bersama Lelaki seperti Yoongi! Cuih!

Aku beranjak dari tempat tidurku, menghampirinya. Dia menoleh padaku. “Asal kau tahu, Tuan Min, semalam aku bermimpi buruk!” sahutku ketus, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

@@@@@

A Week Later

Aku sedang berusaha untuk melupakan Mark yang sekarang telah menikah dengan kekasihnya, Emily. Kemarin, ia sempat menghubungiku melalui video call, memperlihatkan jari manis kanannya yang telah dihiasi sebuah cincin.

Sakit rasanya melihat Mark kini bersama dengan perempuan yang dicintainya. Sementara aku? Ya, aku masih terperangkap dalam selembar surat kontrak pernikahan dengan Min Yoongi. Entah kapan aku bisa menemukan Lelaki yang lebih baik dari Mark dan segera menceraikan Yoongi.

Hah~

“Yura-ya, aku pulang, ya. Terima kasih atas pakaiannya~” ucap Zinger, sahabatku, yang baru saja usai membeli sebuah gaun dari butikku. Kuantar wanita itu hingga ke pintu butik, melihat ia melambaikan tangan padaku.

“Hati-hati, Zinger-ah.”

Kulihat wanita itu tersenyum padaku, lalu masuk ke dalam taksi. Ia masih menyempatkan diri melambaikan tangannya padaku ketika taksi yang ditumpanginya melaju pelan. Aku hendak masuk ke dalam butik, namun… ekor mataku tanpa sengaja menangkap sosok yang aku kenal sehingga membuatkuk embali berdiri di ambang pintu butikku.

Hei! Bukankah itu Yoongi?

Tapi, siapa wanita yang bersamanya, eoh?

Pakai acara rangkul-rangkul mesra segala.

Apa mungkin wanita itu kekasihnya, eoh?

Hmph~

On the night

At home

“Apa? Masih kurang? Baiklah, besok kau mau beli apa,hm? Biar oppa yang belikan.”

Suara itu terdengar ketika aku memasuki kamarku. Baru saja pulang dari butik setelah seharian bertemu pelanggan, membantu mereka tampil cantik dengan pakaian yang berada di butik. Aku melirik ke arah sofa—asal dari suara itu, mendapati Yoongi tengah duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil berbicara dengan seseorang melalui telepon.

“Tentu saja. Apa yang tidak oppa belikan untuk wanita yang paling cantik di hati oppa, hm?” kata Yoongi, lalu terkekeh.

Astaga, tidak kusangka aku menikah dengan lelaki seperti ini.

Aku pun berjalan ke arah lemari pakaian, tidak peduli dengan apa yang dilakukan Yoongi. Mengeluarkan pakaian tidur, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti pakaianku. Keluar dari kamar mandi, aku masih mendapati Yoongi menelepon.

“Apa? Kau sudah mau tidur? Oppa bahkan belum puas mendengar suaramu.”

Ha? Belum puas? Astaga, memang siapa yang menelepon? Aku saja yang biasanya mengoceh selama 5 menit, dia sudah menggerutu panjanglebar.

“Ah, baiklah. Sampai jumpa besok, Baby. Selamat tidur~”

Yoongi memutuskan panggilannya dengan seseorang. Kulihat wajahnya tampak berseri-seri. Hah, seperti yang barusan meneleponmemang kekasihnya.

“Kekasihmu, eoh?” tanyaku, duduk di bangku yang berhadapan dengan cermin untuk membersihkan make-up dari wajahku.

“Bukan urusanmu, oke!?” balas Yoongi. Aku melihat ke arahnya sekilas. Huh! Mengikuti kata-kata yang biasanya aku ucapkan. Dasar!

“Oh, ya, tadi sore aku melihatmu di Myeongdong. Wanita itu… wanita yang menelepon barusan, kan?” tanyaku lagi.

“Oh! Jadi tadi sore aku melihatku, eoh?” Aku mengangguk tanpa melihat ke arahnya. “Hehehe… wanita yang bersamaku itu cantik, kan?”

Cantik, sih, iya. Tapi…, aku masih jauh lebih cantik dari wanita itu.

“Yaaa… dia memang terlihat cocok untukmu. Kelihatannya dia masih muda. Anak SMA, eoh?”

“Ya.”

Astaga. Sudah tukang gombal, dia bahkan memacari gadis SMA yang tidak berdosa. Ya Tuhan, lelaki macam apa kau, Min Yoongi?

“Hei! Kenapa kau menatapku seperti itu, eoh? Ada yang salah?” tegur Yoongi saat aku menatapnya tak percaya.

Aku menggeleng cepat.

“Oh, ya, besok aku mau keluar lagi,” serunya.

“Dengan wanita yang barusan menelepon?”

“Ya.”

“Terserah kau saja.”

“Oke. Aku mau tidur. Selamat malam, Nona Kim,” ucap Yoongi, terdengar seperti meledekku. Ia pun merebahkan tubuhnya pada sofa. Mulai memejamkan matanya hingga… beberapa menit kemudian kulihat ia tersenyum sambil tertidur.

Huh! Memimpikan wanita tadi, eoh, Min Yoongi?

@@@@@

Three Days Later

Aku duduk di tepi tempat tidurku. Memperhatikan lelaki yang tengah sibuk merapikan baju dan rambutnya di depan cermin. Menyemprotkan parfum yang… err… baunya bisa tercium dari jarak 5 meter. Huh! Nyaris membuatku pingsan.

“Jadi, malam ini kau mau pergi kemana lagi, eoh?”

Lelaki itu menoleh ke arahku sejenak, lantas kembali melihat pantulan wajahnya di cermin. “Hanya jalan-jalan di sekitar Sungai Han,” jawab Yoongi.

Dalam seminggu ini, sudah 3 kali dia keluar malam bersama dengan wanita yang aku lihat tempo hari. Lelaki ini apa tidak mengerti kalau gadis itu masih SMA? Pasti banyak tugas dari sekolah. Lagi pula, kenapa gadis itu malah menerima ajakan Yoongi, eoh? Memang apa enaknya jalan dengan lelaki seperti ini?

Astaga.

Ish! Kau kenapa mengomel sendiri seperti ini, Yura-ya?

“Bagaimana? Penampilanku sudah bagus, eoh?” tanya Yoongi, berbalik menghadapku sembari memperlihatkan penampilannya.

Kupandang ia dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. “Ya, bagus,” jawabku seadanya.

Dia tersenyum, lalu tertawa kecil. “Okay. Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan kunci pintu kamarnya karena kemungkinan malam ini aku pulang agak telat.”

“Ya, ya. Sudah sana pergi!” ujarku sedikit ketus, beranjak dari tepi tempat tidur, mendorong tubuh Yoongi ke arah pintu. SetelahYoongi keluar, lekas aku menutup pintu kamar, kemudian berjalan kembali kearah tempat tidur.

Duduk di atas tempat tidur beralaskan seprei berwarna ungu muda, kuraih remot yang tergeletak di atas meja, menekan tombol power untuk menyalakan TV yang terletak di dekat sofa tempat tidur lelaki itu. Menekan tombol, berpindah dari chanel satu ke chanel lainnya.

Aish! Kenapa tidak ada satu pun acara yang bagus,eoh?

Aku terus menerus menekan tombol remot sampai… aku berhenti pada sebuah chanel TV yang tengah menayangkan drama lama. My Girl. Apakau pernah menonton drama itu? Drama yang dibintangi Lee Dongwook, Lee Junki dan Lee Soyeon. Sebuah drama yang… mengisahkan tentang… err… kau tahu, sesuatu yang berhubungan dengan kontrak.

Dan entah kenapa… hal itu membuatku tergerak untuk melangkahkan kaki ke arah lemari pakaianku. Membuka daun pintunya, lalu…berjongkok untuk mengambil sesuatu yang aku selipkan di bawah tumpukan pakaian lama di rak bawah lemari. Sebuah amplop berwarna cokelat berukuran sedang yang berisi… surat kontrakku dengan Min Yoongi.

Kututup pintu lemari, kemudian melangkah menuju tempat tidur. Duduk di atasnya sembari mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop tersebut. Yap, inilah surat kontrakku dengan Min Yoongi. Surat yang menyatakan bahwa hubungan pernikahan kami hanyalah kontrak belaka. Tidak lebih.

“Kkwak jaba nal deopchigi jeone
Nae mami neol nochigi jeone
Say what you want
Say what you want
Niga jinjjaro wonhaneun ge mwoya.”

Suara itu membuat terkejut.

Tunggu. Itu kan… nada dering ponsel Yoongi!? Sepertinya… dia lupa membawa HP-nya. Dasar Lelaki ceroboh. Huh! Paling yangmenelepon itu kekasihnya. Biarkan saja.

Kembali aku melihat surat kontrak pernikahan yang ada di tanganku. Surat yang sangat penting. Entah bagaimana jadinya kalau appa tahu tentang ini. Mungkin… namaku akan dicoret dari daftar penerimawarisan. Hah~

“Kkwak jaba nal deopchigi jeone
Nae mami neol nochigi jeone
Say what you want
Say what you want
Niga jinjjaro wonhaneun ge mwoya.”

Ish! Suara itu lagi.

Sedikit kesal, aku beranjak dari tempat tidurku. Mencari dimana letak benda yang masih berdering tersebut.

Oh! Rupanya tertinggal di meja riasku.

Bomi’s calling.

Itu tulisan yang tertera di layar saat kupegang ponsel milik lelaki itu.

“KLIK!”

Ku-reject panggilan dari seseorang bernama Bomi.

Lagi, aku kembali berjalan menuju tempat tidur. Duduk di tepinya sembari mengutak-atik ponsel milik Yoongi. Ya. Ya. Aku akui aku sedikit penasaran dengan Yoongi. Tapi ingat, hanya SEDIKIT PENASARAN.

Sasaran pertamaku di ponsel Yoongi adalah… inbox-nya. Sayangnya…, yang muncul adalah tulisan… empty.

Sial! Dia sudah mengosongkan inbox-nya.

Aku masih penasaran. Keisenganku masih berlanjut. Jemariku seperti tidak ingin berhenti mengutak-atik isi dari ponsel suami kontrakku. Hingga… aku masuk ke dalam galeri fotonya. Begitu banyak foto di dalam. Foto dirinya, dia dan temannya dan… dia dengan… Bomi. Aku tidak tahu sejak kapan mereka berpacaran, tapi… sepertinya sudah sangat lama.

Hah~ apa mungkin Yoongi tidak memberitahu Bomi kalau… dirinya sudah menikah, eoh?

Ah! Ya. Tidak mungkin dia mengatakan hal itu pada Bomi. Yoongi pun pasti menunggu cerai dariku, kemudian menikahi Bomi dengan uang hasil dari pekerjaannya sebagai suami ‘kontrak’. Ya, ya, ya… pemikiranyang bagus, Min Yoongi.

Aku tahu kau sekarang!

“Kkwak jaba nal deopchigi jeone
Nae mami neol nochigi jeone
Say what you want
Say what you want
Niga jinjjaro wonhaneun ge mwoya.”

Nama wanita itu tertera lagi di layar ponsel.

Hah! Dasar wanita tidak sabaran.

“Halo~” Sengaja aku menjawab panggilannya.

“Halo. Apa Yoongi Oppa ada?” tanyanya. Dari suaranya…, ya sepertinya wanita ini wanita yang manja. Memang cocok dengan Yoongi yang sok manis. Cuih!

“Yoongi sudah pergi sejak tadi. Kau tunggu saja, oke!?”

“Oh~ ya,” katanya. “Mm… kalau boleh tahu, aku bicara dengan siapa?” tanyanya terdengar hati-hati. Aku tersenyum sinis.

“Selingkuhannya,” jawabku, lalu memutuskan panggilan dari Bomi. Hahaha. Akan ada lelaki yang dituduh sebagai buaya darat malam ini. Lalalala~

-End Of Yura’s POV-

@@@@@

-Yoongi’s POV-

“Sayang~” Aku menghampiri Bomi yang tengah duduk manis di bangku taman tempat kami janjian untuk berkencan.

Gadis manis itu berdiri, kemudian menoleh padaku. Aku sedikit terkejut karena ia menatapku sinis. Jelas sekali nampak kilatan emosi di kedua matanya. Entah apa yang terjadi.

“Dimana ponselmu?” tanyanya, membuatku bingung.

Uh? Untuk apa dia mencari ponselku?

“Dimana ponselmu, Min Yoongi?” desaknya.

Seketika aku meraba setiap kantong baju dan celanaku. Eh? ponselku! Dimana ponselku? Kenapa tidak ada? Aish! Sepertinya tertinggal di kamar Yura.

“Se-sepertinya… sepertinya ketinggalan di rumah, Sayang~” jawabku, lalu menyengir lebar.

“IYA! TINGGAL DI RUMAH SELINGKUHANMU, KAN?”

Kedua mataku membulat. “A-Apa? Selingkuhan? Hei! Kau bicaraapa, eoh?”

Sontak, Bomi memukulku dengan clutch bag ungu miliknya. Membuatku berteriak meminta ampun dan sukses menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar kami.

“AKU MENELPONMU DAN YANG MENJAWABNYA ADALAH WANITA! DIA BILANG DIA SELINGKUHANMU! KAU MASIH MAU BERBOHONG PADAKU, MIN YOONGI?” maki Bomi sambil terus memukulku dengan clutch bag miliknya.

Ini pasti kelakuan Kim Yura!

“DASAR BUAYA DARAT! MENYEBALKAN!”

“Hei! Bomi-ya! Stop! Hentikan! Ya! Kau salah paham!”

Bomi pun menghentikan aksi gilanya memukuliku.“MULAI SEKARANG, KITA PUTUS!” Dan, sepersekian detik kemudian, Bomi pun beranjak dari hadapanku.

AISH! INI SEMUA SALAH, KIM YURA!

DIA PASTI WANITA YANG MENGAKU SELINGKUHANKU!

AWAS KAU, KIM YURA!

Tiba di rumah, bergegas aku berjalan menuju kamar. Beruntung, Yura tidak mengunci pintu kamar seperti apa yang aku katakan padanya sebelum aku berangkat. Begitu masuk, kudapati wanita-yang-mengaku-selingkuhanku tengah tertidur lelap. Di dekat tubuhnya, terdapat ponselku yang tergeletak.

Sudah kuduga!

Grr… Kim Yura! Bisa-bisanya kau tertidur lelap seperti itu setelah berhasil merusak hubunganku dengan Bomi! Tidak akan kubiarkan! Aku akan membalas perbuatanmu! Tunggu saja!

-End Of Yoongi’s POV-

@@@@@

Next Morning

-Yura’s POV-

“AAAAAA!!!”

Disaster!

Bencana!

Sebuah bencana besar terjadi saat aku baru saja bagun dari tidurku. Entah apa yang terjadi semalam—padahal aku merasa baik-baiksaja, namun… tahu-tahu begitu aku melihat wajahku di cermin, KENAPA ADA BANYAK CORETAN LIPSTIK?

Di kedua belah pipiku terdapat gambar lingkaran spiral. Belum lagi di dahiku terdapat totol-totol kecil berwarna merah juga, persis seperti orang yang terkena cacar. Di bagian bawah hidungku terdapat gambar kumis. Dan, terakhir, di bawah kedua mataku terdapat sesuatu berwarna kemerahan. Aku persis seperti Jigsaw sekarang.

“HAHAHAHA!” Tiba-tiba saja terdengar gelak tawa dari seseorang di dalam kamar. Aku menoleh ke arah satu-satunya tersangka yang tertawa di atas penderitaanku ini. MIN YOONGI!

“HEI! INI PASTI PERBUATANMU, KAN?” Aku berjalan dengan langkah lebar menghampirinya. Ia semakin tertawa. Entahlah. Melihat wajahku yang ‘hancur’ dari jarak dekat seperti sekarang mungkin sangat lucu baginya!

“BERHENTI TERTAWA!” bentakku. Perlahan, Yoongi pun meredam tawanya. “Hei! Kenapa kau mencoreti wajahku seperti ini, eoh? Memang aku salah apa padamu?”

Sontak, Yoongi berdiri. “Heh! Kim Yura! Aku tidak akan mencoreti wajahmu kalau kau tidak menjawab panggilan Bomi dan mengaku sebagai selingkuhanku!”

Gantian aku yang tertawa kecil.

“Kenapa kau tertawa, hah? Apa itu lucu? Apa merusak hubungan orang itu lucu, hah? Kau tidak tahu akibat dari perbuatanmu itu? Bomi memutuskan hubungan denganku!”

Eh?

Pu-putus?

Seketika, perasaan bersalah menggelayuti benakku. Aku… aku memang bermaksud untuk mengerjai Yoongi. Ta-tapi…, tapi… tidak sampai sejauh itu juga akibatnya.

“Kenapa diam? Kau senang kalau sekarang aku putus dengan kekasihku, eoh? Kau senang?” bentak Yoongi. Untuk pertama kalinya kulihat ia begitu marah. Terlihat… sedikit menyeramkan juga.

“Sekarang kau puas, kan? Dasar!” ujarnya sinis, lalu beranjak menuju kamar mandi.

Bagaimana ini?

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku… aku kan tidak bermaksud untuk membuatnya putus hubungan dengan kekasihnya. Aish! Bagaimana ini?

Sejak keluar dari kamar mandi, mengganti piyama dengan baju kaos hingga tiba waktunya sarapan bersama appa dan eomma, Yoongi tidak berbicara sepatah kata pun padaku. Membuatku semakin merasa bersalah dan…bingung harus berbuat apa.

“Semalam eomma Boyoung menelepon appa. Katanya, Boyoung telah melahirkan bayi laki-laki,” cerita appa membuka percakapan saat sarapan.

“Benarkah? Wah, syukurlah~” gumam eomma.

Boyoung adalah saudara sepupuku yang berada di Ulsan. Dia menikah setahun yang lalu. Syukurlah, tahun ini dia sudah memiliki seorang bayi.

“Kapan kalian menyusul?” tanya appa, berhasil membuatku tersedak nasi goreng. Buru-buru aku meminum segelas air yang beradadi dekatku, bergegas meredam kepanikan eomma yang kaget melihatku tersedak.

Yang benar saja!

Masa aku harus punya bayi dengan suami kontrakku?

“Aish! Appa-ya, kau ini membuat Yura kaget,” gerutu eomma.

“Kenapa? Appa hanya bertanya, tidak mengagetkannya,” balas appa. Tidak kupedulikan perdebatan kecil di antara appa dan eomma. Yang aku pedulikan adalah… lelaki yang tengah sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Seolah ia tidak mendengar ucapan appa barusan.

“Bagaimana menurutmu, Yoongi-ya? Kapan kau dan Yura bisa memberi kami cucu?” tanya appa lagi.

Aish! Appa ini benar-benar.

Yoongi tidak langsung menjawab pertanyaan appa. Menelan kunyahannya terlebih dulu, kemudian berbicara, “Entahlah, Appa. Semuanya bergantung pada kehendak Tuhan. Kami sudah berusaha,” jawabnya, membuatku bingung.

Kenapa dia mendadak religius dan bijak seperti ini,eoh?

Dan…, kata-katanya tadi: ‘Kami sudah berusaha’. Berusaha apa? Berusaha agar pernikahan kontrak ini tidak ketahuan, eoh?

“Ah, ya. Benar katamu,” balas appa.

Sejak pertama kali bertemu, appa dan Yoongi itu…err… entah kenapa begitu ‘klop’ dalam pembicaraan. Entah apa yang dilakukanYoongi pada appa-ku sehingga kelihatannya… appa begitu percaya padanya.

Hah~

“Oh, ya, “ kata appa lagi, “Yura-ya, malam ini kau dan Yoongi bisa kan mewakili appa dan eomma ke acara ulang tahun pernikahan Manajer Kang dengan istrinya?”

“Eh? Kenapa?”

Appa dan eomma malam ini akan berangkat ke Amerika. Ada beberapa hal yang harus diurus di sana.”

Amerika? Kalau begitu…, appa akan bertemu denganMark di sana. Aish, Yura-ya! Untuk apa mengingat Lelaki yang sudah menjadi suami orang lain, eoh? Lupakan Mark!

“Bagaimana? Kau dan Yoongi tidak ada acara malam ini, kan?”

“Kalau aku sih… bisa, Appa. Kalau Yoongi—” Aku melirik Yoongi di sebelahku.

“Aku juga tidak ada acara,” sambung Yoongi tanpa menoleh ke arahku, malah melihat ke appa.

“Baguslah. Kalau begitu, kalian berdua harus bersiap malam ini. Acaranya jam 7 di ballroom Seoul Hotel.”

Setelah menghabiskan sarapannya, appa pun beranjak dari meja makan. Bersiap untuk berangkat ke kantornya. Sementara itu, Yoongi beranjak ke kamar seperti biasa. Eomma yang menyadari sikap Yoongi yang tidak biasa itu pun bertanya padaku.

“Apa… kau dan Yoongi ada masalah, eoh?”

Aku menggeleng. “Tidak. Mungkin… dia masihmengantuk,” jawabku. Eomma hanya ber-oh saja. Tidak lama kemudian, aku pun menyusul Yoongi ke kamar. Di sana, kudapati ia sedang berpakaian rapi. Sepertinya ingin keluar.

“Kau mau kemana?” tanyaku.

Dia tidak menjawab. Ish! Baru beberapa saat lalu dia bersikap layaknya orang dewasa yang bijak. Kenapa sekarang dia bertingkahseperti anak kecil? Menyebalkan! Memang seberapa cintanya dia ke wanita bernama Bomi itu sampai tingkahnya aneh begini setelah diputuskan? Menyebalkan!

Setelah ia selesai berganti pakaian, ia mengambil gitarnya, lalu berkata, “Aku mau ke studio untuk menyelesaikan jingle song perusahaan appa-mu.”

“Tapi…, kau jangan lama-lama. Kau ingat kan kalau—”

“Ya, aku tahu. Tidak usah kau ingatkan!” balasnya sedikit ketus.

Tanpa ucapan pamit yang riang seperti biasa, Yoongi pun keluar dari kamar sambil menjinjing gitarnya. Hmph~

-End Of Yura’s POV-

@@@@@

-Yoongi’s POV-

Suasana ballroom Seoul Hotel begitu mewah dan ramai ketika aku dan Yura telah tiba di sana. Dengan tubuh yang dibalut satu setel tuxedo, aku berjalan sembari menggandeng lengan Yura yang tubuh rampingnya dibalut longdress berwarna biru kobalt dengan hiasan manic berwarna keemasan di bagian lehernya.

“Ah~ ini dia putri presdir yang cantik, Kim Yura~”ucap seorang pria tua sembari menghampiri Yura dengan riangnya. Di sebelahnya, berdiri seorang wanita tua yang merangkul lengannya.

“Manajer Kang bisa saja memuji,” balas Yura,lalu tersenyum. Oh, jadi ini pasangan yang merayakan ulang tahun pernikahanke-50? Manajer Kang dan istrinya. Ya, tampaknya mereka memang pasangan yang sangat serasi.

“Dan kau pasti adalah anggota baru keluarga Kim, Min Yoongi,” kata pria tua itu lagi sambil mengulurkan tangan kanannya padaku untuk dijabat. Aku tersenyum, lalu menjabat tangannya. “Aku Kang Daewoo, Manajer SDM di Kim Group,” ucapnya memperkenalkan diri. Ya, ini pertama kalinyaaku bertemu dengan beliau. Saat acara pernikahan dan ketika aku berkunjung keperusahaan, pria tua ini sedang berada di luar negeri.

“Selamat ulang tahun pernikahan, Kang Ajussi dan Kang Ajumma. Semoga pernikahan kalian terus bertahan sampai maut memisahkan,”doa Yura.

“Ya. Kalian juga,” balas Kang Ajussi.

Haha… pernikahan kami hanya akan bertahan sampai Yura bertemu dengan orang yang dicintainya, Kang Ajussi. Kau tidak tahu itu.

“Oh, ya, Yura-ya, apakah orang tuamu sudah berangkat ke Amerika?” tanya istri Manajer Kang.

“Belum, Ajumma. Appa dan eomma berangkat jam setengah 11 nanti malam. Mereka berdua menitip salam untuk Ajussi dan Ajumma.”

“Oh, ya. Semoga perjalanan mereka lancar dan mereka tiba dengan selamat.”

“Terima kasih,” balas Yura.

Tidak lama setelah itu, Kang Ajussi pun mempersilakan kami untuk duduk dan mencicipi hidangan yang sudah mereka sediakan. Selama acara, aku hanya duduk diam. Sementara itu, Yura asik mengobrol dengan beberapa orang dari kalangan perusahaan dan juga putri-putri dari para manajer di Kim Group.

Hah~ terserah saja.

Aku juga sedang malas berbicara dengannya.

“Hei! Kenapa kau diam saja, eoh?” tanyanya. Entah sudah berapa kali kudengar pertanyaan ini keluar dari mulutnya semenjak kami berangkat karena sepanjang perjalanan menuju tempat ini, aku terus diam.

“Kau mau pulang?” tanyanya lagi.

“Ya,” jawabku singkat.

Kulihat ia menghela nafas, tampak sedikit kecewa. Entahlah. Mungkin ajakannya tadi hanya sebuah umpan agar aku berbicara. Beberapa detik kemudian, ia berdiri dari duduknya.

“Baiklah kalau begitu,” katanya.

Kuikuti ia yang mulai beranjak dari meja tempat kami mencicipi hidangan makan malam. Berjalan menghampiri pemilik acara untuk berpamitan. Setelah itu, kami pun melangkah menuju halaman parkir hotel.

-End Of Yoongi’s POV-

-Yura’s POV-

Mobil sedang hitam milik appa yang dikemudikan oleh Yoongi pun melaju dengan kecepatan sedang di atas badan jalan Kota Seoul. Kedua mataku menatap lurus ke arah depan. Sesekali disilaukan oleh cahaya lampu yang terbias di kaca mobil. Sementara lelaki di sebelahku terus saja diam. Selama beberapa jam terakhir, dia hanya mengeluarkan 2 huruf dari mulutnya: YA!

“Hei! Kau masih marah padaku soal kejadian semalam,ya?” tanyaku, menoleh ke arahnya. Sejak tadi aku pun mengajaknya berbicara,tapi… dia tetap saja diam.

Aku menghela nafas.

“Baiklah. Aku tahu perbuatanku sudah keterlaluan. Maafkan aku. Aku tidak tahu akan seperti itu jadinya.”

“….”

Yoongi pura-pura tidak mendengar ucapanku. Malah fokus menyetir. Aish! Apa yang harus aku lakukan?

“Baiklah. Aku tahu kau masih marah padaku.”

“CKIIIT!”

Aku terkejut. Tiba-tiba saja Yoongi menghentikan mobilnya di tepi jalan. Tepatnya di sekitar pusat pertokoan. Sontak, aku menoleh ke arahnya. Melihatnya penuh tanya.

“Aku mau beli minum sebentar. Aku haus,” ucapnya,menoleh ke arahku, kemudian keluar dari mobil. Ya, terang saja dia haus. Selama di acara Kang Ajussi, dia hanya minum segelas sirup. Kurang dari 10 menit,Yoongi pun kembali dengan membawa beberapa kaleng minuman yang berada di dalam plastik dengan label sebuah minimarket di dekat sini. Meletakkan plastik tersebut di atas dashboard mobil yang berada di depan.

“Minum saja kalau kau haus,” ucapnya tanpa melihatke arahku. Beberapa detik kemudian, ia pun melajukan mobil.

Sambil menyetir, sesekali ia meneguk isi jus kaleng miliknya. Sementara itu, aku meminum lemon tea sambil sesekali melihat kearahnya. Mungkin…, sekarang dia tidak begitu marah lagi padaku.

Appa dan eomma sepertinya sudah berangkat ke bandara,” ucapnya. “Kau mau ke bandara untuk mengantar mereka?” tanya Yoongi.

“Tidak usah,” jawabku.

Ya, sepertinya dia… memang tida begitu marah lagi padaku. Akhirnya, dia mengajakku bicara.

“Aku mau singgah di suatu tempat sebentar. Tidak apa-apa, kan?” tanyanya.

Aku melihat jam yang berada di dashboard mobil. Baru pukul 9 lewat 10 menit. Belum terlalu malam. “Ya.”

Yoongi sedikit menambah kecepatan mobil. Entah, dia mau singgah dimana. Aku mengiyakan saja. Mungkin ia butuh menyegarkan dirinya dengan udara malam. Hingga, sekitar 5 menit kemudian, Yoongi pun memberhentikan mobil di tepi Sungai Han.

Lelaki itu keluar dari mobil sambil membawa kaleng minumannya. Bersandar pada kap depan, memandang ke arah sungai yang tampak indah karena hiasan lampu-lampu di jembatan. Aku pun menyusul Yoongi—walau sebenarnya hal ini membuatku merasa dingin karena gaunku yang tanpa lengan, ikut menyandarkan bagian bawah tubuhku pada kap mobil.

“Maaf karena sikap kekanak-kanakanku pagi tadi,”ucap Yoongi, MASIH tidak melihat ke arahku.

Aku menoleh ke arahnya, mendapati ia tengah meneguk minuman miliknya. “Iya, tidak apa-apa. Aku pantas mendapatkan itu,” balasku. “Maaf juga karena… membuatmu putus dengan Bomi. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Tidak apa.” Yoongi akhirnya menoleh ke arahku. “Sebenarnya, aku juga sudah lama ingin putus dengannya. Dia manja dan terlalu cerewet.”

“Aku juga seperti itu, kan?” celetukku, berhasil membuat Yoongi terkekeh.

“Kau sadar diri juga ternyata,” ucapnya. Aku pun ikut terkekeh. Merasa tidak kreatif karena sejak tadi, aku hanya mengikuti apa yang Yoongi lakukan.

Kami berdua pun terdiam. Hanya terdengar deru kendaraan yang melintas di atas jembatan juga suara angin malam yang berhembus, membuatku kedinginan. Kuletakkan kaleng minumanku di bagian kap mobil yang rata agar isinya tidak tumpah, kemudian kugosok-gosokkan kedua telapak tangnku, lalu mengelusnyap pada permukaan kulit lenganku. Kehangatannya tidak seberapa, tapi…sudahlah.

“Pakai ini.” Tiba-tiba saja Yoongi menyodorkan jasnya padaku. Entah kapan ia melepaskan benda itu dari tubuhnya. Yang tersisa kini hanya kemeja putih dan dasi kupu-kupu merahnya.

“Tapi—”

“Tidak apa. Pakai saja. Kau lebih membutuhkannya dari pada aku.”

Aku memperhatikannya sejenak. Ia menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar aku mengambil benda yang sejak tadi ia julurkan. Sepersekian detik kemudian, kuambil jas miliknya, mengenakan benda itu ditubuhku.

“Terima kasih.”

“Ya, sama-sama.”

Aku pun terdiam. Tidak tahu harus membalas apa atau…membicarakan apa lagi.

“Yura-ya, menurutmu… kapan kontrak di antara kita akan berakhir?” Aku masih menatap Yoongi yang menghadapkan wajahnya ke arah sungai.

“Memangnya… kenapa? Kau… ingin kontrak kita segera berakhir?” Aku malah balik bertanya.

“Bukan begitu,” Yoongi menundukkan kepalanya,menatap bibir kaleng minumannya, “Aku… hanya sedikit merasa cemas. Bagaimana kalau kita ketahuan sebelum kontrak di antara kita berakhir? Menurutmu, apa yang akan terjadi setelah itu?”

Aku diam sejenak memikirkan kata-kata Yoongi. Jika hubungan kami ketahuan sebelum aku memutuskan kontrakku dengan Yoongi, sudah pasti kedua orang tuaku akan marah padaku. Aku sendiri tidak bisa menebak‘hukuman’ apa yang akan diberikan oleh appa. Tapi…, kalau Yoongi, mungkin dia akan diusir dari rumah.

Hah~ entahlah!

Aku belum dan tidak begitu ingin memikirkan hal tersebut saat ini.

Ya, aku harap semoga hubungan kami tidak ketahuan sebelum waktunya.

“Sudahlah. Yang akan menerima hukuman paling beratdari appa pasti aku. Kau tidak usah cemas begitu. Yang jelas, kalau hal itu benar-benar terjadi, kau tidak usah takut mengenai gajimu. Aku akan tetap membayarnya, oke?”

“Tentu saja kau harus membayarnya. Kau pikir gampang berakting sebagai suamimu, eoh?”

Aku terkekeh. “Ya. Aku tahu.”

Setelah mengobrol dan menikmati pemandangan malam Sungai Han, Yoongi pun mengantarku pulang. Ditemani lantunan lagu lawas barat yang diputar melalui MP3 player di dashboard mobil, aku tertidur sejenak. Meminta Yoongi membangunkanku begitu kami tiba di rumah.

“Yura-ya, bangun~” Aku merasa baru memejamkanmata, tahu-tahu… ternyata kami telah tiba di depan rumah. Mendengar suara Yoongi, aku pun terbangun.

“Ah, sudah sampai, ya~?!” tanyaku dalam keadaansetengah sadar.

“Ya,” ucap Yoongi, “Tapi, ada yang aneh, Yura-ya. Kenapa mobil appa masih ada, eoh? Seharusnya, sekarang mereka di bandara, kan? Malah, seharusnya mereka sudah take off ke Amerika.”

Kulirik jam di pergelangan tanganku.

Benar kata Yoongi. Seharusnya mereka sudah berada di pesawat sekarang. Kenapa…, mereka belum berangkat? Atau…, mungkin terjadi sesuatu.

“Sebaiknya kita cepat masuk. Mungkin terjadi sesuatu,” kataku.

Bergegas aku dan Yoongi keluar dari mobil. Melangkah menuju pintu rumah. Kuketuk pintu berwarna kecoklatakan itu sedikit keras hingga… tidak lama kemudian Bibi Seo—pembantu rumah, membukakan pintu.

“Apa appa dan eomma belum berangkat ke bandara, Bibi Seo?” Aku langsung menyambar Bibi Seo dengan sebuah pertanyaan.

Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. “I-iya,Nona,” jawabnya. “Oh, ya, nona, Tuan Besar meminta Anda dan Tuan Muda Min untuk ke ruang kerjanya.”

Aku dan Yoongi terkejut. Saling memandang satu sama lain. Perlahan, aku mulai merasa cemas. Banyak pertanyaan bergelayutan di pikiranku. Tentu saja. Tumben appa meminta aku dan Yoongi untuk bertemu dengannya di ruang kerja.

“Menurutmu, apa yang ingin dibicarakan oleh appa,eoh?” tanya Yoongi ketika kami berjalan menuju ruang kerja appa. Aku tahu dia juga pasti merasa cemas.

Aku menggidikkan bahu. “Mana aku tahu.”

Tiba di depan pintu ruang kerja appa, aku mengetuk pintu. Terdengar suara appa mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam ruangan tempat dimana ia menghabiskan sebagian besar waktunya ketika berada di rumah.

Begitu aku membuka pintu, kudapati appa tengah duduk di kursinya. Memandang tajam ke arah kami. Tatapan appa tampak… begitu berbeda malam ini. Tajam. Serius. Dan, sedikit menakutkan.

“Ke-kenapa appa belum berangkat ke Amerika?” tanyaku basa-basi ketika aku dan Yoongi berdiri di depan meja kerja appa. Beliau menatap aku dan Yoongi bergantian.

“Ada urusan yang lebih penting di sini dibanding dengan urusan di Amerika,” jawab appa dingin.

Aku menelan ludah. Se-sebenarnya, apa yang terjadi?

-TBC (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Iklan

One thought on “THE WEDDING CONTRACT [Chap. 2]

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s