THE 14 [Chap. 2]

THE 14 [Chap. 2]

THE 14

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13 s/d PG-15||Length: Multichapter/Vignette(s)||Genre: Romance,Friendship, Comedy||Main Characters: (EXO) Xiumin/Minseok-Ahn Sohee, (EXO) Tao-(F(X)) Amber, (EXO) Kris-(SNSD) Jessica||Additional Character: (BAP) Youngjae|| DiscIaimer: ni adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/judul/karakter/tempat/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. All of the stories is mine. The characters belong to God, himself/herself, his/her parents and his/her agency||Warning: FF ini sudah diedit, tapi mungkin masih ada typo(s) yang nyempil. (Mungkin) Ada karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan. Don’t like the pairing? Don’t read! Don’t like the plot? Just stop reading dan please don’t leave a bashing.

HAPPY READING \(^O^)/

14 April—Black Day

Kau terlihat sangat sibuk membuat kopi untuk para tamu yang datang ke cafe tempat kau bekerja sebagai barista. Dengan telaten menuangkan cairan berwarna hitam ke dalam setiap cangkir yang tersusun rapi di depanmu. Begitu semua cangkir terisi, kau menekan bel di atas meja sebagai tanda kau memanggil temanmu yang bertugas sebagai pelayan untuk mengantar minuman tersebut ke meja pelanggan.

Berbeda dengan hari biasanya, hari ini kebanyakan pelanggan yang datang ke cafe mengenakan pakaian berwarna hitam. Pada awalnya kau bingung, mengapa hari ini orang-orang tampak senang memakai pakaian berwarna gelap itu, sampai akhirnya kau sadar bahwa hari ini adalah tanggal 14 April. Black Day.

“Satu kopi americano.” Terdengar suara seorang wanita yang memesan saat kau tengah sibuk meracik minuman kopi untuk pesanan meja nomor 5.

Ne, tunggu seben—” Kau tidak jadi meneruskan ucapanmu begitu melihat siapa gadis yang memesan. “Sohee-ssi? Aigoo, lama tidak bertemu.”

Gadis yang berdiri di hadapanmu—juga mengenakan pakaian berwarna hitam—pun ikut terkejut saat melihatmu. “Minseok-ssi!? Aigoo, kita benar-benar lama tidak bertemu,” serunya.

Kau tidak bisa menyembunyikan perasaan senangmu begitu melihat gadis itu berdiri di hadapanmu. Tidak banyak yang berubah dari gadis berwajah imut itu. Hanya model rambut dan penampilannya saja yang berubah. Gadis itu… kini terlihat jauh lebih dewasa dibanding saat terakhir kali kau melihatnya, saat malam perpisahan SMA, 7 tahun lalu.

“Jadi, kau bekerja di sini, hm?” tanya gadis itu membuyarkan lamunanmu.

Ne,” jawabmu sembari kembali meracik kopi. “Bagaimana kabarmu, Sohee-ssi? Aku dengar, setelah lulus SMA kau kuliah di luar negeri.”

Ahn Sohee, nama gadis itu, tersenyum. “Ne, aku memang kuliah di luar negeri, tapi sekarang aku sudah selesai.”

Kau menekan bel lagi, tanda kopi untuk pesanan meja nomor 5 telah siap untuk dihidangkan di meja pelanggan. “Oh, begitu,” komentarmu. “Oh, ya, Sohee-ssi, mianhae, kau bisa duduk di meja kosong yang berada di sudut sana?” Kau menunjuk ke arah sepasang bangku kosong di sudut belakang sebelah kiri cafe, “Ada pelanggan yang antri di belakangmu,” lanjutmu merasa tak enak.

Gadis itu terkejut, lantas salah tingkah. Berbicara denganmu membuat ia lupa untuk duduk setelah memesan kopi. “Ah, ne. Mianhae, Minseok-ssi.”

Gwaenchana. Nanti aku temani setelah aku buatkan kopi pesananmu. Sebentar lagi shift kerjaku selesai.”

Sohee mengangguk pelan, lalu beranjak ke arah meja yang kau tunjukkan padanya. Usai melihat gadis itu duduk dengan nyaman di tempat yang kau sarankan, kau kembali meracik kopi untuk pesanan selanjutnya.

Sekitar 10 menit kemudian, jam kerjamu selesai. Usai mengganti seragam kerja dengan kaos yang kau kenakan saat datang ke cafe pagi tadi—dan kebetulan kaos itu berwarna hitam, kau menghampiri Sohee yang tengah menikmati kopi americano buatanmu yang tersaji di hadapannya sejak 5 menit yang lalu.

“Sohee-ssi~” panggilmu riang, lalu duduk di bangku kosong yang berhadapan dengan gadis itu.

“Jam kerjamu sudah selesai?” tanyanya. Kau mengangguk. “Sudah berapa lama kau bekerja di sini?” tanyanya lagi.

“Sejak kita lulus SMA.”

Gadis itu membulatkan kedua mata bulatnya. “Jadi, kau tidak kuliah?”

Kau tertawa kecil. “Aku kuliah setelah setahun bekerja di sini. Karena itu, sampai sekarang aku masih kuliah karena harus membagi waktu,” jelasmu. “Bagaimana denganmu? Apa pekerjaanmu sekarang?”

“Ah, aku sekarang bekerja sebagai fashion designer,” jawabnya. Kau ingat betul bahwa dulu, Sohee sangat suka menggambar desain-desain pakaian di setiap lembar belakang buku tulisnya.

“Jadi, sekarang cita-citamu sudah tercapai, eoh!?”

Sohee tersenyum malu seraya mengangguk. “Ya, begitulah,” balasnya singkat. “Oh, ya, apa selama 7 tahun ini kau bertemu dengan teman-teman SMA?”

Kau tersenyum. “Hanya beberapa yang pernah bertemu denganku semenjak lulus SMA,” jawabmu. “Kau masih ingat Hongki?”

“Hongki yang selalu meledek kalau kita adalah saudara kembar yang terpisah, eoh!?” Sohee memastikan.

Kau mengangguk sambil tertawa. “Ne. Sekarang dia menjadi manajer hotel.”

Aigoo, sekarang dia sudah sukses, eoh!? Dasar anak itu. Dulu dia sangat menyebalkan,” ujar Sohee. Gadis itu tertawa dan kau juga ikut tertawa mengingat bagaimana Hongki meledek kau dan Sohee dulu.

Ya, siapa siswa kelas 2.3 di Anyang High School yang tidak mengenal ‘pasangan kembar yang terpisah’, Minseok dan Sohee. Kau dan gadis yang duduk berhadapan denganmu. Julukan itu diberikan Hongki pada kau dan Sohee karena wajah kalian yang mirip. Terlihat seperti saudara kembar, namun kenyataannya bukan.

Sohee sangat tidak menyukai julukan itu. Bahkan dulu, ia sempat memarahimu karena kau malah terlihat menyukai julukan menyebalkan yang diberikan Hongki kepada kalian berdua. Kau punya alasan tersendiri akan hal itu.

Kata orang, jika seorang lelaki dan seorang perempuan memiliki wajah yang hampir mirip, mereka jodoh.

Ya. Itu kata orang. Benar atau tidak, kau tidak tahu. Namun, kau tahu pasti bahwa… ya, sejak dulu dirimu menyukai gadis yang wajahnya mirip denganmu ini. Bisa terbayang jika kau dan Sohee menikah, mungkin wajah anak kalian akan seperti wajah kalian juga… hehehe.

“Aku dengar, sebentar lagi dia akan menikah dengan Seolhyun, adik kelas kita.”

Entah untuk keberapa kalinya, Sohee terkejut mendengar ucapamu. “Seolhyun, adik kelas kita yang sejak dulu dikejar oleh Hongki?” Kau mengangguk. Sohee menutup mulutnya tidak percaya. “Perjuangan yang tidak sia-sia. Akhirnya si makhluk aneh itu mendapat gadis pujaannya.”

Ne. Aku juga kaget saat mendengar kabar itu dari Seohyun,” sahutmu.

Sohee menyesap kopinya yang tersisa setengah cangkir. “Seohyun. Maksudmu…, Seo Johyun? Bagaimana kabar gadis itu?”

“Seminggu lalu dia datang ke tempat ini bersama suaminya.”

Mwoya? Seohyun sudah menikah? Dengan siapa?”

“Jung Yonghwa. Kau masih ingat dia, kan?” tanyamu.

Sohee mengangguk. “Ne, tentu saja. Dia si ketua OSIS itu, kan!?”

Ne. Sekarang Seohyun sedang hamil 4 bulan.”

Jinccaro?” Lagi-lagi Sohee hanya bisa terkejut. Terlalu lama di luar negeri membuat gadis itu benar-benar kehilangan kontak dengan teman-temannya di Korea. Begitu pulang, rata-rata temannya sudah punya pasangan.

Ne,” jawab Minseok. “Bagaimana denganmu?” tanyamu kemudian.

Sohee menatapmu bingung. “Bagaimana apanya?”

Kau menghela nafas sembari menyandarkan punggungmu pada sandaran kursi. Menatap gadis yang tengah menyesap kopinya. “Apa kau sudah menikah? Mm… punya pasangan mungkin.”

Seketika gadis itu tertawa kecil mendengar ucapanmu sambil meletakkan kembali canngkirnya di atas meja. Begitu tawanya reda, ia berkata, “Memang aku terlihat seperti gadis yang memiliki pasangan, eoh!? Kau tidak lihat aku memakai baju hitam hari ini?”

“Maksudmu, kau sedang merayakan Black Day ini seperti para single lainnya?”

Gadis itu mengangguk sembari tersenyum. “Bagaimana dengan kau? Apa kau memakai baju hitam karena ikut merayakan hari ini atau…?”

“Sama,” jawabmu tidak bermaksud bohong. Meski kau sempat melupakan hari ini adalah Black Day, tapi kau tahu betul bahwa kau adalah seorang pria yang belum mempunyai pasangan.

“Haha… kalau begitu, kau mau menghabiskan hari ini denganku, eoh!? Terlalu lama di luar negeri, aku jadi lupa jalan di Seoul.”

Kau terkekeh. “Baiklah, aku mau menjadi tour guide-mu hari ini asalkan kau mau memenuhi satu syaratku. Bagaimana?”

“Syarat apa?” tanya gadis itu polos.

“Kau mau makan jjajangmyeon bersamaku setelah kita pulang dari sini? Aku lapar.” Gadis itu terkekeh mendengar ucapanmu, membuatmu ikut terkekeh bersamanya. Tidak lama kemudian, ia mengangguk.

“Baiklah, Baozi. Sebagai sesama single dan sebagai kembar yang baru bertemu lagi, aku akan menemanimu merayakan Black Day.”

Ya, dan aku harap ini Black Day terakhir yang aku rayakan. Semoga saja, tahun depan aku bisa merayakan Valentine Day bersamamu, Ahn Sohee.

@@@@@

14 Mei—Rose Day

Hari ini matahari bersinar sangat cerah secerah suasana hatiku. Berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelasku yang pintunya sudah nampak di tempat aku berjalan. Kulihat beberapa teman sekelasku duduk di bangku taman di depan kelas, beberapa di antaranya berdiri koridor. Ada juga yang sibuk keluar masuk ke kelas.

Kulirik jam tangan berwarna hitam yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Sudah pukul 7 lebih 10 menit. Anak itu pasti sudah berada di kelas. Aku tersenyum singkat, lantas mempercepat langkahku menuju kelas yang di bagian atas pintunya terpajang sepotong papan bertuliskan ‘Kelas 1.4’

Setibanya di kelas, aku terkejut melihat bangku yang berada di depan bangkuku masih kosong. Aneh sekali. Padahal, anak itu selalu lebih dulu datang dari pada aku. Ah, mungkin saja hari ini dia terlambat bangun pagi.

“Amber belum datang, eoh!?” tanyaku memastikan kepada teman sekelas yang bangkunya berada di sebelah kananku, Youngjae, sembari menunjuk ke arah bangku kosong di hadapanku.

Lelaki itu menatapku. “Sudah kuduga kau pasti ketinggalan berita.”

Gantian aku yang menatap lelaki itu heran. “Berita apa?”

“Semalam Amber kecelakaan dan sekarang dia sedang dirawat di Seoul Hospital.”

Aku terkejut. “Jeongmal? Sejak kapan kau tahu, eoh!? Kenapa kau baru memberitahuku? Kenapa tidak ada orang lain yang memberitahu hal itu padaku?”

Aku mulai sewot. Aku teringat pembicaraanku semalam dengan Amber. Bagaimana bisa Youngjae lebih dulu tahu hal ini dari padaku aku, eoh? Jangan-jangan… gosip yang kukatakan kepada Amber semalam itu benar.

Yongjae mendengus. “Aku berusaha menghubungimu berkali-kali semalam. Tapi, nomormu tidak aktif, Huang Zi Tao!” ujarnya membela diri.

Seketika aku menepuk dahiku. Terasa sedikit sakit karena tanpa sengaja aku menepuknya agak keras. “Ah, ne. Aku lupa. Semalam aku menon-aktifkan handphone-ku karena—” Aku tidak jadi meneruskan kalimatku mengingat penyebab aku menon-aktifkan nomorku masih sedikit berkaitan dengan gosip antara dia dan Amber.

“Karena apa?” Tapi, aku sudah berhasil membuat seorang Youngjae penasaran.

“Bukan apa-apa,” balasku cepat. “Oh, ya, kenapa Amber bisa kecelakaan, eoh? Apa dia tabrakan atau—” tanyaku mengalihkan fokus pembicaraan pada topik semula.

Ne, tabrakan. Amber tidak sengaja melintas di jalan berlubang sampai di terbalik dan jatuh dari motornya.”

“Lalu, bagaimana keadaannya? Apa dia terluka?”

Yongjae menghela nafas sejenak. “Di kepalanya ada benjol yang cukup besar karena terbentur di aspal. Helmnya terlepas ketika dia jatuh. Semalam dia sempat muntah, karena itu orang-orang membawanya ke rumah sakit. Takut terjadi sesuatu di dalam kepalanya.”

“Hanya itu?”

“Ada luka lecet di bagian bahu kanan dan pinggang kanannya.”

“Lalu?”

“Hanya itu,” jawab Youngjae. “Oh, ya, sepulang sekolah nanti, aku dan beberapa teman mau menjenguk Amber. Kau mau ikut?”

“Ng, sepertinya tidak. Mungkin lain kali. Hari ini aku ada urusan,” kilahku.

“Urusan apa? Apa hal itu lebih penting dari pada sahabatmu yang terbaring di rumah sakit, eoh?” tanya Yongjae ingin tahu.

“Ah! Aku lupa, hari ini ada ulangan biologi, kan? Aku belum belajar,” sahutku tiba-tiba, hanya untuk mengalihkan fokus pembicaraan sebelum Youngjae tahu aku berbohong padanya. Kukeluarkan buku cetak biologi dari dalam tas, membukanya, lantas berpura-pura membaca. Hal ini cukup berhasil membuat Youngjae beranjak dari bangkunya menuju keluar kelas.

Sambil menatap—catat: HANYA MENATAP—tulisan-tulisan yang berbaris membentuk rangkaian kalimat demi kalimat di permukaan halaman buku biologi, pikiranku menerawang pada kejadian semalam. Kejadian yang membuatku merasa bersalah karena… mungkin saja penyebab Amber kecelakaan adalah… karena pertengkaran kecil kami semalam.

“Apa? Kata siapa aku menyukai Youngjae? Sinting! Kau ini kan laki-laki, kenapa kau mendengarkan gosip tidak jelas seperti itu?” omel Amber ketika aku meneleponnya hanya untuk memastikan apakah benar gosip yang aku dengar siang tadi. Dia, Amber Josephine Liu, pacaran dengan Park Youngjae.

Ya! Aku hanya memastikan apakah itu benar atau tidak. Kau tidak perlu bicara sewot seperti itu!” balasku.

“Aku bukannya sewot, Huang Zi Tao! Aku kesal. Kenapa sahabatku malah percaya gosip tidak jelas seperti itu,” sahut Amber membela diri.

Di dalam kamar, aku yang duduk di tepi tempat tidur, lantas beranjak menuju jendela. Membuka daun jendela yang tertutup dengan tangan kananku karena tangan kiriku memegang handphone yang merapat ke telinga kiri, membiarkan udara malam keluar masuk kamarku. “Aku bukannya percaya gosip itu, Amber. Aku hanya memastikan. Bisa saja kan kau benaran pacaran dengan Youngjae tanpa memberitahu aku!”

Kudengar gadis itu tertawa. “Astaga, Tao! Kenapa kau berpikiran buruk padaku seperti itu, eoh!? Lantas, apa yang akan kau lakukan kalau seandainya aku benar-benar pacaran dengan Youngjae tanpa memberitahumu? Kau mau menyuruhku putus dengan Youngjae?”

Seketika aku berkata, “Ne!” Lalu buru-buru meralat ucapanku, “Aniya, maksudku, aku tidak akan menyuruhmu melakukan itu. Aku… aku… aku akan—”

Kudengar gadis tomboy itu mendengus. “Sudahlah! Aku tidak mau dengar. Sekarang aku bosan. Aku mau jalan-jalan di luar!”

Mwo? Kau mau kemana? Aku belum selesai berbica—”

“Sampai jumpa, Huang Zi Tao.”

Dan, gadis itu memutuskan panggilanku. Dasar anak menyebalkan. Awas saja kalau kau membohongiku. Aku benar-benar akan menyuruhmu putus dengan Youngjae kalau kau terbukti berpacaran dengannya tanpa meminta persetujuanku. Sampai kapanpun, kau hanya boleh bersama Hwang Zi Tao, Amber Josephine Liu!

Suara berisik teman-teman yang masuk ke dalam kelas membawaku kembali ke dunia nyata. Kulihat Youngjae yang menjadi topik pembicaraan kami semalam, berjalan ke arah bangkunya dengan santai. Ia sempat melempar senyum padaku saat kedua mata kami bertemu. Kau tidak boleh mengambil Amber dariku, Park Youngjae!

Beberapa menit kemudian, Jung Sonsaengnim, guru biologi tampak memasuki kelas. Beliau bahkan belum duduk di kursi guru, tetapi beliau malah mengatakan, “Simpan buku paket dan buku catatan biologi kalian di depan. Kita akan segera ulangan harian!”

Jincca!  

Hari ini aku akan mati karena tidak ada Amber yang akan memberiku contekan!

Dan aku akan melewati hari ini dengan sangat bosan karena anak itu malah tega membiarkanku sendiri. Argh! Kenapa kau harus kecelakaan, Amber?

Sepulang sekolah, aku berencana berangkat ke Seoul Hospital. Tentu saja aku tidak bersama Youngjae dan beberapa teman lain yang ikut bersamanya. Aku hanya pergi seorang diri, sengaja memberiarkan Youngjae dan yang lainnya duluan agar aku punya waktu lebih banyak bersama dengan Amber.

Dari sekolah, aku berjalan menyusuri emperan toko menuju halte yang letaknya entah kenapa lumayan jauh dari sekolah. Sedikit merasa aneh karena sejak pagi tadi—ah, tidak, maksudku sejak beberapa hari yang lalu, toko-toko ini menjual berbagai macam mawar. Bahkan ada yang memberikan diskon 40% jika membeli sebuket mawar.

Apa sebaiknya aku membawa bunga untuk Amber. Kan lumayan, aku bisa hemat uang jajan. Tapi…, setahuku gadis itu tidak begitu menyukai bunga. Ah! Sudahlah! Dia akan menyukai bunga mawar jika aku yang membawanya.

Kuputuskan untuk masuk ke salah satu toko bunga yang memberikan diskon. Kudapati berbagai jenis bunga, termasuk bunga mawar dalam berbagai warna. Kuakui, bunga mawar memang terlihat sangat indah. Tidak salah jika kebanyakan perempuan menyukai bunga itu. Entah kenapa Amber malah kurang menyukainya. Dasar laki-laki jadi-jadian!

“Mau membeli bunga mawar untuk siapa?” tanya seorang wanita yang menghampiriku. Aku yang sedang bingung ingin membelikan bunga warna apa untuk Amber, sedikit terkejut dibuatnya.

“Bagaimana Anda bisa tahu aku mau membeli bunga mawar?”

Gantian wanita itu yang terkejut. “Tentu saja aku tahu. Hari ini kan Rose Day,” jawabnya. Aku bahkan baru tahu bahwa 14 Mei adalah Rose Day. Aku pikir toko-toko ini kelebihan stok bunga mawar sehingga mengadakan diskon. “Ng, Anda ingin membeli bunga mawar untuk siapa? Biar saya bantu memilihkan warna,” tawar wanita yang aku perkirakan usianya 8 tahun lebih tua dariku.

“Ng…, untuk sahabatku.”

“Kalau begitu,” sahut si wanita sembari menjulurkan tangan kanannya untuk meraih salah satu dari 8 warna bunga mawar yang dijual di tokonya, “Berikan mawar berwarna kuning untuknya~” lanjutnya.

Aku mengernyitkan dahiku. Sejujurnya, aku ingin memberikan bunga berwarna merah atau berwarna biru untuk Amber. Dia kan menyukai warna-warna itu, bukannya warna kuning. “Apa tidak bisa bunga mawar yang lain?”

“Kenapa? Tidak suka warnanya? Bunga mawar warna kuning ini melambangkan persahabatan sejati. Cocok jika ingin kau berikan kepada sahabatmu.”

“Maksud Anda?”

Wanita itu tersenyum. Tahu bahwa pengetahuanku mengenai warna bunga mawar dan arti dibaliknya itu sangat dangkal, bahkan tidak ada.

“Setiap warna bunga mawar punya maknanya masing-masing,” ucapnya. Tidak lama, wanita itu menjelaskan setiap warna bunga mawar berserta maknanya. Beruntung, aku masuk ke toko ini. “Jadi, Anda ingin warna apa?” tanya wanita itu mengakhiri penjelasannya.

Aku terdiam sejenak, lantas berkata, “Aku mau semua warnanya satu-satu.”

Untuk sesaat, wanita itu tampak bingung dengan keputusanku, namun detik berikutnya ia hanya tersenyum dan mengangguk paham. Tidak butuh waktu lama, sebuket bunga dengan 8 macam warna mawar telah berada di tanganku. Usai membayar harga bunga diskon itu, aku langsung bergegas menuju Seoul Hospital.

Setibanya di Seoul Hospital, aku melihat Youngjae dan beberapa teman lain baru saja keluar dari kamar Amber yang aku tanyakan pada resepsionis rumah sakit. Aku benar-benar beruntung hari ini. Aku datang tepat di saat teman-teman sudah pulang.

Setelah sengaja menyembunyikan diri agar tidak ketahuan bahwa pagi tadi aku membohongi Youngjae, aku langsung bergegas ke kamar rawat inap Amber begitu kupastikan Youngjae dan teman-teman lain keluar dari rumah sakit.

“Uh, Tao-ya?” Amber yang saat itu sedang berbaring sambil menoton televisi, lengkap dengan kepalanya yang dililit perban berwarna cokelat, terkejut melihat kedatanganku. “Youngjae dan yang lainnya baru saja pulang,” tambahnya.

Aku berjalan menghampiri Amber sambil melihat-lihat sekitar. Hanya ada gadis itu di ruangan ini. “Kau sendirian? Dimana eomma-mu?” tanyaku seraya duduk di kursi yang berada di sebelah kanan tempat tidur Amber. Memangku buket bunga yang sejak tadi aku pegang.

Eomma sedang makan siang di kantin,” jawabnya.

“Oh,” balasku singkat. “Ng, bagaimana keadaanmu?”

Gadis itu tersenyum. “Kepalaku masih sedikit pusing. Tapi secara keseluruhan, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”

Gojitmal! Kata Youngjae, kau muntah semalam.”

Lagi, gadis itu tersenyum. “Ne, aku memang sempat muntah semalam. Tapi, hari ini aku tidak muntah. Mungkin besok aku sudah bisa keluar dari rumah sakit,” jelasnya. “Oh, ya, apa itu bunga untukku?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan sembari menunjuk ke arah buket bunga yang ada di pangkuanku.

“Ah, ne. Ini bunga untukmu. Hari ini adalah Rose Day, makanya aku memberimu bunga mawar,” sahutku, lalu memindahkan bunga dari pangkuanku ke pangkuan Amber.

Gadis itu terkekeh. “Jadi, kau tahu kalau hari ini adalah Rose Day, eoh!? Aku pikir kau membeli mawar untukku karena ada diskon.” Entah kenapa ucapan Amber membuatku sedikit terbatuk. Memang benar, sih, aku membelikan bunga mawar untuknya karena ada diskon. Tapi, Amber tidak boleh tahu ini dan kau tidak boleh—sangat tidak boleh—memberitahukan hal ini padanya jika kau tidak mau mendapat tendangan maha dahsyat dari seorang Tao!

“Kau pikir aku pelit, eoh!?” komentarku. “Oh, ya, aku sengaja memberimu 8 macam bunga mawar karena masing-masing warna mawar punya warnanya masing-masing.”

Amber menatapku tidak percaya. “Oh, ya? Apa kau tahu?”

Dengan penuh percaya diri aku menjelaskan arti dari setiap warna bunga mawar pada Amber. “Mawar kuning melambangkan persahabatan, mawar berwarna ungu melambangkan kesempurnaan, mawar berwarna oranye melambangkan kekaguman, mawar berwarna peach melambangkan keabadian, mawar berwarna pink melambangkan penghargaan dan kelembutan, mawar berwarna biru melambangkan perasaan yang tidak mudah diungkapkan, mawar putih melambangkan kemurnian dan mawar merah,” aku mengambil mawar merah yang sudah tak berduri itu dari buketnya, lalu dengan gaya yang dibuat seolah pangeran yang hendak memberi bunga kepada tuan putri, aku melanjutkan ucapanku, “Melambangkan cinta sejati yang penuh ketulusan.”

Kulihat Amber tertawa kecil. “Apa maksudmu bersikap seperti itu, eoh?” tanyanya. Mungkin ia berpikiraku sedang bercanda dengan sikapku tadi, sayangnya… dia salah. Aku serius.

“Aku ingin mengatakan bahwa… aku mencintaimu, Amber-ah.”

Gadis itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, membuatku ragu apa dia benar-benar sakit atau tidak. “Lelucon yang bagus, Tao-ya!”

Sudah kuduga.

Dengan mimik wajah serius terbaik yang aku punya, aku berkata, “Aku tidak sedang melontarkan lelucon, Amber-ah. Aku serius. Sebelum kau direbut Youngjae, kau… mau kan menjadi kekasihku?”

Seketika Amber terdiam. Dia terkejut, tentu saja. Lelaki yang selama ini ia anggap sahabatnya ternyata menyimpan perasaan padanya. Oke, Amber, aku memaklumi itu. Tapi, bisakah… kau menjawab perasaanku secepatnya?

Dan tiba-tiba gadis itu mengambil mawar dari tanganku seraya berkata, “Baiklah. Sebelum mawar merah ini kau buang ke tempat sampah, aku akan menerimamu sebagai kekasihku.”

@@@@@

14 Juni—Kiss Day

Sore itu angin bertiup lembut di pertengahan tahun. Sebuah mobil audi berwarna hitam terparkir manis di halaman parkir sebuah gedung kantor, di antara beberapa mobil yang juga terparkir dengan rapi. Di luar mobil itu, seorang pria yang  mengenakan kaos putih polos yang ditutupi dengan varsity berwarna biru menyandarkan punggungnya pada sisi kiri mobil. Berdiri di sana sambil memainkan kunci mobil, menunggu seseorang di dalam kantor itu datang menghampirinya.

“Kris-ah!” Pria jangkung itu menoleh ke asal suara begitu mendengar suara lembut seorang wanita menyebut namanya. Kedua mata pria bernama Kris itu melihat sesosok wanita cantik berambut panjang sepunggung dengan tubuh kurus yang dibalut setelah kemeja dan berwarna peach. “Sudah lama menungguku, eoh?” tanya wanita itu ketika ia berdiri di hadapan prianya.

“Tidak,” jawab Kris. “Bagaimana? Apa pekerjaanmu sudah selesai?”

Ne,” jawab wanita itu singkat.

“Kalau begitu, ayo ke rumahku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

Wanita itu tersenyum. “Jadi, itu alasan kenapa kau mau meninggalkan lukisanmu dan menjemputku, eoh!?”

Kris tertawa kecil. “Sekali-kali menjemput seorang putri cantik bernama Jessica tidak akan membuat lukisan di rumahku menangis,” candanya. Wanita bernama Jessica itu tertawa. “Masuklah ke dalam mobil,” ujar Kris.

Jessica menganyunkan kaki jenjangnya menuju sisi lain mobil. Masuk ke dalam mobil milik kekasihnya yang sehari-hari bekerja sebagai seorang pelukis. Duduk di jok yang bersebelahan dengan Kris yang duduk di balik kemudi. Tidak lama kemudian, pelahan Kris melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir gedung tempat wanitanya bekerja sebagai seorang sekretaris.

Dalam perjalanan, Jessica sengaja menyalakan MP3 Player di dashboard mobil, membiarkan suara merdu Marion Elise Raven dan Marit Elisabet Larsen atau M2M menyanyikan lagu Kiss Me. Sesekali Jessica dan Kris bersenandung mengikuti lirik lagu tersebut.

“Oh, ya, kau tahu hari ini adalah Kiss Day, Kris?” tanya Jessica di antara lagu yang mengalun.

Kris yang tengah asik menyetir, mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Jessica, lantas sepersekian detik kemudian kembali fokus melihat jalanan di depan. “Aniya. Memangnya ada hari seperti itu, eoh!?”

Jessica menepuk dahinya pelan. “Ah, ne. Aku lupa kau bukan orang Korea,” sahutnya. “Di Korea, tanggal 14 Juni diperingati sebagai Kiss Day,” jelas Jessica. “Sebenarnya, setiap tanggal 14 setiap bulannya ada perayaan-perayaan khusus.”

Masih menyetir, Kris berkata, “Oh, ya? Orang Korea kreatif, ya?!”

Jessica terkekeh. “Biasa. Trik pengusaha agar barang-barang mereka laku.”

Kris tertawa mendengar komentar kekasihnya itu. “Lalu, bagaimana dengan Kiss Day? Apa itu juga trik pasar?” tanyanya, lalu tertawa.

Jessica ikut tertawa mendengar pertanyaan bodoh dari kekasihnya. “Memangnya ada diskon untuk ciuman, eoh!?”

“Yaaa, siapa tahu ada ciuman gratis,” celetuk Kris asal. Berhasil membuatnya mendapatkan pukulan pelan di lengan dari Jessica.

“Apa maksudmu? Dasar otak mesum!”

Kris tidak menanggapi ucapan wanitanya. Hanya terkekeh sejenak, lalu kembali fokus menyetir. Begitu juga dengan Jessica. Wanita itu kembali asik menenggelamkan dirinya dalam lantunan lagu yang terputar di MP3 player mobil.

Sekitar 5 menit kemudian, mobil audi itu terparkir di halaman sebuah rumah berukuran sedang yang dari luar tampak seperti bangunan kuno di Venesia. Kris sengaja membuat rumah yang tampak ‘berseni’ seperti itu mengingat ia sangat mencintai hal berbau seni, terutama melukis.

Jessica berjalan mengikuti Kris memasuki rumah tersebut. Mendapati begitu banyak lukisan-lukisan yang terpajang di dinding, hasil karya kekasihnya. Sementara Kris beranjak ke dapur, membuat minuman untuk Jessica, wanita itu asik melihat satu per satu lukisan kekasihnya.

Wow! Tidak kusangka Kris sepandai ini dalam hal menggores warna di atas kanvas.

Jessica lantas terdiam di depan sebuah lukisan pemandangan alam dengan teknik penggunaan warna yang menurutnya sangat bagus. Pemandangan setangkai bunga teratai yang dikelilingi rawa. Cantik sekali.

“Kau suka lukisan itu?” Suara Kris yang berat sontak membuat Jessica terkejut. Seketika gadis itu menoleh ke arah Kris yang telah berdiri di sebelahnya sambil membawa dua cangkir teh yang salah satunya kini berpindah ke tangan Jessica.

Wanita itu menyeruput sedikit teh hangat buatan Kris yang agak kelebihan gula. “Ne. Penggunaan warna yang indah, Kris.”

“Lukisan ini terinspirasi dari lukisan Claude Oscar Monet. Aku menyukai cara ia menggunakan warna pada setiap lukisannya.”

Jessica mengernyit. “Aku baru mendengar nama pelukis itu,” sahutnya, menoleh ke arah Kris seolah meminta penjelasan lebih.

Kris balas menoleh ke arah wanitanya. “Dia pelukis asal Perancis yang beraliran impresionis. Pelukis alam terbaik abad ke-19. Aku sangat menyukai karya-karyanya. Karena itu, aku membuat lukisan ini untuk mempelajari teknik ia menggunakan warna. Cara ia memindahkan keindahan alam ke atas selembar kertas kanvas sangat bagus.”

Jessica tersenyum. “Aku tidak mengerti apa itu impresionis dan semua penjelasanmu tadi. Tapi, aku tahu kalau kau pasti sangat mengagumi pelukis itu.”

Kris terkekeh pelan mendengar ucapan jujur wanitanya, lantas mengangguk pelan.

“Oh, ya, tadi…, kau bilang ada sesuatu yang ingin kau tunjukkan padaku. Nah, apa yang ingin kau tunjukkan?” tanya Jessica, tiba-tiba mengingat tujuan Kris menjemputnya dan membawa ia ke tempat ini.

“Ikut aku,” perintah Kris.

Masih memegang cangkir teh, Jessica mengikuti arah Kris berjalan. Melewati ruang tengah yang juga penuh dengan kanvas yang terpajang di dinding. Bahkan, ada beberapa yang disusun bertumpuk di sudut ruangan saking seringnya Kris membuat lukisan.

Kris lantas membawa wanitanya memasuki sebuah ruangan kecil yang masih terdapat lukisan di dindingnya. Di tengah ruangan itu, ada sebuah kanvas yang ditutupi kain berwarna hitam. Di sekitar kanvas yang disandarkan pada penyangga, terdapat sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat kuas yang tersusun asal di dalam sebuah benda mirip gelas. Lalu di dekatnya terdapat papan dan beberapa kaleng warna cat lukis yang tersusun acak.

“Di sini biasanya aku membuat lukisan~” ujar Kris memulai pembicaraan.

“Ya, aku bisa tahu itu sejak pertama kali masuk ke ruangan ini,” sahut Jessica.

Kris lantas mengambil cangkir yang sejak tadi dipegang oleh Jessica, meletakkan cangkir tersebut juga cangkir miliknya di atas lemari kabinet setinggi pinggang Jessica di dekat pintu masuk ruangan itu. Tidak lama, Kris meraih tangan kanan Jessica, mengajak wanita itu menghampiri lukisan yang tertutup kain di tengah ruangan.

“Ini lukisan terbaruku. Aku ingin memberikannya padamu,” kata Kris begitu ia dan Jessica berdiri di hadapan kanvas yang masih tertutupi selembar kain hitam.

“Boleh aku singkirkan kain penutupnya, Kris?” Jessica menoleh ke arah sang pelukis, meminta izinnya untuk melihat seperti apa lukisan terbaru yang dibuat oleh pria itu.

“Tentu saja.”

Sepersekian detik kemudian, Jessica menyingkirkan kain penutup yang menghalangi ia untuk melihat lukisan di permukaan kanvas itu. Dan…, betapa terkejutnya ia begitu melihat lukisan wajahnya yang berada di permukaan kanvas. Terlihat mirip dan tentu saja terlihat sangat cantik.

“Kris, ini—” Jessica tidak tahu harus meneruskan kalimatnya seperti apa. Ia terlalu bahagia terhadap kejutan yang diberikan Kris padanya.

Kris tersenyum. “Ne, itu lukisan wajahmu. Aku sengaja membuatnya karena selama 2 bulan kita berpacaran, aku belum pernah memberikan hadiah apapun untukmu. Dan, lukisan ini aku buat untukmu.”

Jessica menoleh ke arah Kris, begitupun Kris balas menoleh ke arah wanitanya. Mendapati kedua mata wanitanya tampak berkaca-kaca. Biasa wanita. Sedih atau senang, air mata tidak akan pernah jauh dari mereka.

Gomawo, Kris. Ini indah sekali. Aku sangat menyukainya.”

“Aku senang kau menyukainya.”

Dan tiba-tiba saja Jessica memeluk prianya. Menyampaikan ucapan terima kasih yang sangat banyak melalui pelukan hangatnya. Sementara itu, Kris hanya tersenyum. Perlahan membelai lembut rambut wanita yang dicintainya. Tidak lama kemudian, Jessica melepas pelukannya, mendongak untuk menatap wajah tampan kekasihnya yang begitu dekat, lantas memerintahkan pria itu untuk, “Tutup matamu sekarang.”

“Uh? Wae?”

“Pokoknya tutup saja!” paksa Jessica.

“Baiklah, baiklah. Aku akan menutup mataku.”

Begitu Kris memejamkan kedua matanya, perlahan Jessica sedikit menjinjitkan kakinya. Sedikit demi sedikit mendekatkan bibirnya ke bibir lelaki di hadapannya hingga beberapa detik kemudian, ia merasakan sesuatu yang lembut di bibirnya. Hanya sebuah ciuman singkat, kurang dari 5 detik.

Happy Kiss Day, Kris,” ucap Jessica setelah mengakhiri ciumannya, lengkap dengan pipi yang merona merah.

Kris tersenyum. “Happy Kiss Day too, Jessica.”

@@@@@

14 Juli—To Be Continue

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Iklan

5 thoughts on “THE 14 [Chap. 2]

    1. Iya, ada. Ini eonni dapat dari artikel di google, kok. Katanya di Korea, setiap tanggal 14 itu ada perayaan2 khusus gitu.
      Iya nih. 14 april buat para jomblo .___.

      Gomawo udah RC, saeng ^^

  1. Woaaah, aku mau nunggu bagian Oh Sehun 😀
    Selalu bagus kok buatan eonni 😀 Selain itu aku selalu dapat pengetahuan dari semua FF yg eonni tulis 😀 Maaf, tadi ada typo. Nggak apa-apa sih, typo itu penyedap wkwkwk

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s