(IN)VISIBLE [Chap.9]

(IN)VISIBLE [Chap.9]

newmm

Rating: PG-13

Genre: Horor, Mistery, Friendship, School-life

Length: Multichapters

Main Characters: (B1A4) Gongchan & (SHINee) Taemin

Minor Characters: (OC) The ghostes, (SuJu) Kyuhyun, (OC) Gongchan’s appa, (EXO-K) Sehun, (OCs) Paran High School’s Teachers, (Boyfiend) Minwoo,  (Infinite) Sungjong, (FT Island) Minhwan & (Boyfriend) Jo Twins.

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is purely mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her parents and his/her agency. OCs are mine!

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

HAPPY READING \(^O^)/

“BERHENTIII!!!”

Sontak, Park Sonsaengnim, pria yang membunuh Soyeol Sunbae, menghentikan aksinya menghantamkan sebuah bangku ke tubuh Sehun. Ketiganya—Sehun, Minwoo dan Park Sonsaengnim—menoleh ke arah pintu. Ke arahku.

Di ruangan yang di dalamnya banyak kursi yang tidak terpakai lagi, kulihat Sehun dan Minwoo terduduk di lantai. Wajah mereka terlihat lusuh, bahkan terdapat beberapa luka lebam. Malah, yang lebih parah adalah Minwoo. Kedua tangannya diikat dengan seutas tali berwarna putih.

NEO!” geram Park Sonsaengnim. Adegan selanjutnya, ia melemparkan bangku tersebut ke sembarang arah, membuat bangku yang lapuk itu hancur. Dengan langkah lebar ia menghampiriku, menarik tangan kananku kasar hingga aku terjerembap ke lantai gudang yang sangat kotor. Aku hanya bisa melihat wajah Sehun dan Minwoo yang berada di depan secara bergantian.

“KAU MAU APA, ANAK BARU? KAU MAU APA, HAH? KAU MAU BERGABUNG DENGAN TEMAN-TEMANMU, HAH? KAU MAU MEMBANTU MEREKA MENGADUKAN PERBUATANKU, HAH? KAU MAU?” bentaknya seraya menginjak punggungku dengan kakinya. Aku terbatuk.

Dengan nafas yang tersengal, aku berkata, “Ne… hhh… kau benar. Aku akan mengadukan perbuatanmu kepada kepala sekolah.”

Injakannya di punggungku semakin keras, membuatku terbatuk untuk kedua kalinya. Sakit sekali. Rasanya air mataku ingin keluar, tapi… sebisa mungkin aku tahan. Dan tidak lama, terdengar suara tawanya yang  menggema ke setiap sudut gudang.

“HAHAHAHA,” tawa yang licik. Beberapa detik kemudian, kurasakan tangannya menarik rambutku kasar. “BERDIRI!” perintahnya seiring dengan ia berhenti menginjak punggungku. Pelan, aku pun berusaha berdiri. Pria itu pun membalik tubuhku sehingga kami berdiri berhadapan.

“BUKH!” Hanya dengan satu kali pukulan, ia berhasil membuatku jatuh terduduk di antara Sehun dan Minwoo.

Neon gwaenchana, Gongchan-ah?” bisik Sehun. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan.

Pria itu, Park Sonsaengnim, berjalan mondar-mandir di hadapan kami. Nafasnya memburu. Benar-benar terlihat sangat kesal. Tidak lama kemudian, ia berhenti, lalu memandang kami bertiga—Sehun, aku dan Minwoo—bergantian. Sedetik kemudian, ia berjongkok di hadapanku.

“Aku sering memperhatikan kau belakangan ini, anak baru!” katanya. “Ternyata benar dugaanku, kau menyelidiki kasus yeoja bunuh diri itu. Wae, eoh? Wae?” tanyanya.

“Kau tidak perlu tahu alasannya!” balasku sedikit membentak. Pria itu tertawa seperti orang gila, lalu sepersekian detik kemudian…

“PLAK!” Dia menamparku.

“JELAS AKU PERLU TAHU ALASANNYA! NEO! ANAK BARU YANG TAK TAHU APA-APA, SOK MENJADI DETEKTIF DAN BERUSAHA MENCARI INFORMASI TENTANG KASUS ITU!” Dia berteriak tepat di depan wajahku.

“Karena Shin Soyeol adalah sepupuku,” ucapku.

“Apa itu benar, Gongchan?” tanya Sehun di sebelahku, terdengar tidak percaya. Aku diam saja.

“OH~ JADI, KAU MASUK KE SEKOLAH INI UNTUK MENYELIDIKI KEMATIAN SEPUPUMU, EOH?” ujarnya. “LALU, KAU MENDEKATI SEHUN KARENA KAU TAHU DIA ADALAH NAMJACHINGU DARI SEPUPUMU, BEGITU?” Kedua matanya yang sejak tadi menatapku, sekilas melirik ke arah Sehun.

Aku diam saja.

“Tapi…, dari mana  kau tahu kalau Minwoo melihatku, hm? Dari mana kau tahu kalau dia melihatku ingin menggantung Soyeol di koridor sekolah, hah?” tanyanya. Nada suaranya mulai pelan, namun… jari telunjuk dan jari jempolnya menekan pipiku. Sedikit membuatku susah untuk berbicara.

Aku diam. Ekor mataku melihat ke arah Minwoo di sebelahku. Entah, mungkin merasa muak atau apa, ia pun melepaskan jemarinya dari pipiku. Ia pun berdiri.

“Kenapa kau membunuh Soyeol?” Tiba-tiba saja suara Sehun terdengar. Aku menoleh ke arahnya, mendapati namja itu menunduk. Lalu, terdengar suara pria itu lagi.

“Kenapa, hm? Kenapa aku membunuhnya?” Pria itu mengulang pertanyaan Sehun. Ia mengayunkan langkah ke depan Sehun, membungkuk di depan namja itu. Tangan kotornya menarik dagu Sehun kasar, membuat ia bisa melihat wajah datar Sehun.

“Kau tidak tahu betapa Soyeol menyukaimu, hm?!” ujar pria itu. “Dia memilihmu sebagai namjachingu-nya. Si anak berwajah datar ingusan yang tidak tahu apa-apa dibanding aku.”

Tangan kanan Sehun menampik tangan pria itu dari dagunya, lalu berkata, “Jadi karena kau cemburu padaku, eoh? Karena itu kau membunuh Soyeol?”

Pria itu tertawa. Entah apa yang lucu di sini. Gila!

“Benar. Aku cemburu padamu. Lalu, kenapa? Kau bangga, eoh? Kau senang? Kau senang karena kau si bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa bisa merebut hati seorang wanita dari aku, pria yang jauh… sangat jauh lebih baik darimu. Hm?”

Sehun terkekeh. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, namun… hal tersebut membuat pria itu geram. Kejadian yang sangat cepat. Tahu-tahu kulihat Sehun memalingkan wajahnya ke arahku setelah pipinya ditampar dengan sangat keras oleh pria itu.

“Aku tidak menyangka orang sepertimu bisa diangkat sebagai seorang guru,” ujar Sehun kemudian. “Sungguh memalukan seorang guru bertindak seperti ini pada murid-muridnya. Cih!”

Pria itu terlihat semakin geram. “APA KAU BILANG?”

“Apa kurang jelas, eoh?” Sehun menantang. “Aku bilang… orang sepertimu tidak pantas menjadi seorang guru! Kau menghamili muridmu sendiri! Kau membunuhnya! Kau mengancam Minwoo agar tidak membocorkan perbuatanmu! Dan sekarang, kau menyekap kami bertiga!”

“Itu karena kalian bertiga terlalu banyak tahu! Kalian bertiga terlalu mencampuri urusan orang lain!”

Sekali lagi Sehun mendecih. “Mencampuri urusan orang lain katamu?” ujarnya. Lalu, sepersekian detik kemudian, entah… Sehun mungkin sudah tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya, ia menerjang pria itu. Membuat pria itu terlentang di lantai, kemudian memukul wajahnya sampai 3 kali seraya berkata, “KAU MEMBUNUH SOYEOL! KAU MEMBUNUH YEOJACHINGU-KU! KAU MENGHAMILINYA! WAE, EOH? WAE? KALAU KAU MEMANG MENYUKAINYA, KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN HAL ITU PADANYA, HAH? KENAPA?”

Sehun hendak melayang satu pukulan lagi ke arah pria itu, tapi… aku mencegahnya. “Cukup, Sehun-ah!” Kuhampiri Sehun, lalu menahan tangan kanannya yang sudah terkepal. Sehun memandangku tajam, lalu sedikit kasar ia menghentakkan tangannya. “Jangan kotori tanganmu untuk membunuh pria ini!” kataku. Kulihat pria itu tampak kewalahan. Entah sekeras apa pukulan Sehun tadi.

Tatapan Sehun padaku masih tajam, namun perlahan… tatapan itu mulai sendu seiring dengan ia mengatur nafasnya yang tersengal. Tubuhnya masih menduduki tubuh pria tersebut. “Apa rencanamu, hah?” tanya Sehun.

“Laporkan perbuatannya kepada pihak sekolah dan pihak berwajib.”

“Tapi, kau tidak punya bukti!” balas Sehun. “Meskipun kau punya saksi, anak itu,” Sehun menunjuk Minwoo yang sejak tadi masih duduk di tempatnya, “Kau tidak bisa begitu saja menjebloskan pria ini ke penjara!”

“Aku punya,” jawabku singkat.

Gojitmal!”

Aku menghela nafas. “Apa aku terlihat sedang berbohong, eoh?” tanyaku sambil menunjuk wajahku sendiri. Sehun tidak menjawab. “Sudahlah! Sebaiknya kau ikat pria ini. Aku akan pergi menghubungi kepala sekolah,” ujarku, lalu menyerahkan seutas tali pada Sehun. Tali yang digunakan pria itu untuk mengikat Minwoo, tapi… aku lepaskan secara diam-diam saat pria itu sedang berbicara dengan Sehun tadi.

Namun, tiba-tiba saja, sebuah suara terdengar seiring dengan sosok pria lain muncul di ambang pintu, “Tidak perlu! Aku sudah mendengar semuanya.”

“Ke-kepala sekolah?” gumam Sehun.

Pria tua pun melangkah masuk ke dalam gudang. Menghampiri Park Sonsaengnim yang kedua tangannya sudah diikat dengan seutas tali.

“Jadi, Shin Soyeol sebenarnya tidak bunuh diri. Iya, kan?” tanya Kepala Sekolah kepada Park Sonsaengnim. Berjongkok di depan pria itu.

Hening.

Aku, Sehun dan Minwoo terus memperhatikan kepala sekolah dan pria itu. Namun, tidak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya. Entahlah. Aku tidak peduli. Yang jelas, kepala sekolah sudah mendengar ucapannya tadi dan… beliau tahu bahwa… kasus Soyeol Sunbae bukanlah kasus bunuh diri, tetapi… pembunuhan.

“Kalian bertiga,” panggil kepala sekolah.

Ne?”

“Bawa orang ini ke ruanganku.”

@@@@@

Pria itu telah berada di dalam ruang kepala sekolah bersama beberapa orang guru yang kebetulan hari ini mengadakan pelajaran tambahan di sekolah. Aku, Sehun dan Minwoo diminta untuk duduk di ruang konseling, menunggu polisi yang sudah dihubungi oleh kepala sekolah, untuk memberikan penjelasan yang lebih lanjut.

Di dalam ruang konseling, aku, Sehun dan Minwoo duduk di sebuah sofa panjang. Saling diam satu sama lain. Sesekali memandang papan-papan bertuliskan peraturan sekolah, visi-misi sekolah, sturuktur organisasi sekolah dan semacamnya.

“Kira-kira apa yang mereka lakukan di dalam?”

Sehun memulai percakapan. Aku menoleh ke arahnya, begitu pun Minwoo. Mendapati namja yang bertanya itu menatap lurus ke depan. Sejujurnya, aku tahu pasti bahwa… Sehun mengeluarkan pertanyaan itu hanya untuk mengungkapkan rasa penasarannya. Toh, dia tahu betul bahwa… pertanyaannya barusan tidak bisa kami—aku dan Minwoo—jawab karena kami pun tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan kepala sekolah.

“Hah~” Aku menghela nafas, lalu berdiri dari dudukku. Sedikit bosan, aku memutuskan untuk berjalan menuju pintu ruang konseling. Melihat ke arah pintu ruang kepala sekolah yang letaknya tidak begitu jauh. Tertutup rapat.

“Ehm!”

Aku tersentak kaget. Seketika aku menoleh ke belakang, mendapati Sehun berdiri di belakangku. Memperlihatkan mimik wajah khas miliknya. Sementara itu, Minwoo masih duduk di tempatnya, melihat ke arah kami—aku dan Sehun.

“Apa benar Soyeol adalah sepupumu?” tanya Sehun tanpa basa-basi.

Aku menghela nafas, lalu menggeleng. “Aniya. Tadi aku hanya berbohong.”

“Lalu…, apa alasanmu menyelidiki kasus ini?”

Tidak mungkin kalau aku mengatakan kalau… aku menyelidiki kasus ini karena ingin menolong Soyeol Sunbae. Dia tidak akan percaya. Ya, tentu saja. Karena setahu Sehun, aku tidak mengenal Soyeol Sunbae.

“Karena aku penasaran dengan ceritamu malam itu,” jawabku.

“Tidak mungkin,” elak Sehun. “Pasti… ada alasan lain, kan?” selidiknya.

“Mimpi.” Tahu-tahu namja itu, Minwoo, menceletukkan sebuah kata yang berhasil mengalihkan pandangan Sehun ke arahnya.

“Dia bilang, dia pernah memimpikan tentang kejadian terbunuhnya Soyeol Sunbae,” lanjut Minwoo. Sedetik kemudian, Sehun melihat ke arahku, meminta konfirmasi.

“Apa itu benar?”

Aku tidak mengelak. Memang kenyataannya, aku menyelidiki kasus ini karena dimintai tolong oleh Soyeol Sunbae melalui mimpi-mimpiku. “Ne,” jawabku. “Aku tahu Park Sonsaengnim adalah pelakunya karena Soyeol Sunbae memperlihatkan kejadian saat ia terbunuh melalui mimpi. Aku tahu Minwoo melihat kejadian itu pun melalui mimpi.”

“Jadi, itu sebabnya kau selalu menolak ketika kuajak pergi ke kantin, hm? Karena kau berusaha membujuk Minwoo agar mau memberikan informasi yang ia ketahui padamu. Iya, kan?”

Aku diam. Semua yang dikatakan Sehun barusan memang benar.

“Minwoo menceritakan semuanya padaku,” ujar Sehun lagi.

Mwo?” Aku melihat ke arah Minwoo.

Ne, aku menceritakan semuanya,” ujar Minwoo mengakui.

“Sepertinya, kau tidak tahu satu hal, Gongchan,” ujar Sehun, membuatku mengalihkan perhatianku padanya, “Aku dan Minwoo adalah sahabat. Dulu kami sekelas ketika kelas 1. Iya, kan, Minwoo?”

Namja bertubuh kurus itu mengangguk. Sangat membuatku bingung dengan kalimat Sehun ‘dulu kami sekelas ketika kelas 1’.

“Apakah kau—” Lagi, aku melihat ke arah Minwoo.

Seolah tahu apa yang ada di dalam pikiranku, namja itu mengangguk, kemudian berkata, “Ne. Seharusnya… tahun ini adalah tahun keduaku di Paran High School. Tapi, karena aku melihat Park Sonsaengnim melakukan hal itu, dia mengancamku. Aku sempat depresi karena hal itu. Dan akibatnya, berbulan-bulan aku tidak mengikuti kegiatan belajar di sekolah sampai akhirnya, aku dinyatakan tinggal kelas.”

Aku terdiam untuk beberapa saat.

Ah, ne. Kejadian terbunuhnya Soyeol Sunbae adalah satu tahun yang lalu dan waktu itu… Sehun adalah siswa kelas 1. Begitu juga dengan Minwoo—meskipun tahun ini, Minwoo pun masih berstatus siswa kelas 1. Aku sungguh tidak berpikir sampai ke arah situ.

“Lalu, apa ada orang lain yang tahu kau melihat Park Sonsaengnim melakukan hal itu, eoh? Orangtuamu, mungkin?” tanyaku pada Minwoo.

Namja itu menggeleng pelan. “Aniya. Setelah aku melihat kejadian, aku tidak pernah memberitahu siapapun. Aku menyimpan rahasia itu rapat-rapat karena… Park Sonsaengnim mengancam akan… melakukan hal yang sama padaku jika aku membocorkan hal ini.”

Oh, jadi… karena itu dia bersikeras menolak untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya padaku. Karena dia diancam akan dibunuh. Gila! Guru itu benar-benar gila!

“Ya! Kalian!” Seorang guru berjalan menghampiri kami.

Ne, Sonsaengnim?” balas Sehun.

“Kepala sekolah ingin bertemu dengan kalian. Polisi yang akan menangani kejadian ini sudah menunggu di ruangan beliau.”

Ne, Sonsaengnim.”

Bergegas kami bertiga mengambil tas masing-masing yang berada di sofa, lalu berjalan mengikuti guru tersebut menuju ruang kepala sekolah. Beberapa polisi tampak berdiri di depan ruangan beliau.

“Kalian bertiga masuklah,” kata guru tersebut setelah beliau membukakan pintu ruangan kepala sekolah kepada kami.

Aku menjadi orang yang pertama menjejakkan kaki pada lantai ruangan kepala sekolah. Berjalan menuju sebuah sofa panjang, seperti yang beliau perintahkan pada kami beberapa detik lalu. Memperhatikan satu per satu orang yang berada di dalam ruangan: kepala sekolah, pria itu dan… 2 orang polisi.

Uh~

Ini waktunya kami akan dimintai keterangan.

Hah~

@@@@@

Hari yang sangat panjang dan melelahkan. Tapi, akhirnya…, pria itu sudah menjadi tahanan polisi. Pengakuan Minwoo dan bukti yang disembunyikan oleh Soyeol Sunbae berhasil membuat pria itu mengakui perbuatannya di depan para polisi. Kesaksian kepala sekolah yang mendengar ucapan pria itu saat menyekap kami bertiga—aku, Sehun dan Minwoo—di gudang belakang sekolah pun semakin menguatkan semuanya.

Untunglah, saat itu kepala sekolah berkeliling memeriksa semua ruangan di sekolah sebelum beliau pulang. Kalau tidak, mungkin… saat itu kami bertiga sudah babak belur dihajar oleh pria itu.

Mungkin besok… nama Paran High School akan muncul di halaman pertama koran-koran yang ada di Seoul. Ne, sama seperti tahun lalu, kasus ‘bunuh diri’ Soyeol Sunbae menjadi headline di koran-koran. Begitu kata Sehun padaku.

Hmph~ case closed!

Ige museun iriya ireoke joheun nare

Ige museun iriya ireoke joheun nare

You! Baby i want you beautiful love (hey)

Wassup wassup tell me tell me wassup

Lamunanku terbuyarkan ketika mendengar HP-ku berdering. Aku yang saat ini sedang duduk di dalam bis—dalam perjalanan pulang, pun bergegas merogoh kantong kecil di bagian depan tasku.

Appa?

Ne, yoboseyo?” ucapku menjawab panggilan appa. Dia pasti mencariku.

“Kau sudah ada di rumah, Gongchan-ah?”

Eh? Apa dia belum pulang?

N-Ne,” jawabku.

“Malam ini appa lembur, ara. Kau tidak usah menunggu appa untuk makan malam.”

Aku mengangguk—meski aku tahu appa tidak melihatku, kemudian berkata, “Ne, Appa.”

“Ya, sudah. Hati-hati di rumah.”

Ne.”

Kumasukkan kembali HP-ku ke dalam tas setelah appa memutuskan panggilannya. Kualihkan pandanganku ke arah luar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang seolah membiaskan sinarnya masuk ke dalam mataku. Membuatku terdiam, tanpa memikirkan apapun.

Kurang dari 5 menit sejak appa menelpon, akhirnya aku tiba di halte yang paling dekat dengan rumah. Turun dari bis sambil menggendong tas di punggung. Berjalan menyusuri trotoar menuju rumah.

Sesekali, aku melihat ke arah deretan toko-toko yang berjejer rapi di sebelah kiriku. Membantu menghilangkan rasa bosan dalam perjalanan. Aku berbelok memasuki kompleks rumah. Terus berjalan sambil menyelipkan kedua telapak tanganku ke dalam saku blazer.

Ufh~ malam ini cukup dingin.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya rumahku terlihat. Kupercepat langkahku, tidak sabar untuk segera masuk ke dalam bangunan bercat abu-abu itu untuk menghilangkan rasa dingin dan lelahku. Setelah berjalan melintasi rumput halaman, aku pun tiba di teras. Lagi, kurogoh saku depan tasku. Namun, kali ini yang aku keluarkan bukanlah HP, melainkan kunci rumah.

“CKLEK!”

Aku pun berjalan memasuki rumah yang dalam keadaan gelap. Berjalan perlahan sambil meraba-raba dinding di sebelah kananku, mencari keberadaan steker lampu.

“PLASH!”

Dalam sekejap, ruang tamu menjadi terang setelah aku menekan steker. Terus berjalan menuju ruang keluarga. Menyalakan lampu di ruangan tersebut. Aku pun melangkah menuju kamarku, menyalakan lampu, kemudian melemparkan tasku ke arah tempat tidur. Sayangnya, benda itu mendarat dengan tidak selamat, malah terjatuh di atas lantai.

Aku menghela nafas panjang.

Beranjak meninggalkan kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air. Sedikit merasa gerah, kulepas begitu saja blazer yang sejak tadi aku kenakan. Meletakkannya di sembarang tempat. Setelah itu, kulepas 2 kancing atas seragam sekolah dan kulonggarkan dasiku.

“PLASH!”

Baru saja aku menekan steker untuk menyalakan lampu di dapur. Bergegas aku menghampiri kulkas, membuka pintunya. Tangan kananku terulur meraih sebotol air, membawa benda itu ke atas meja setelah aku menutup pintu kulkas.

“Blup… blup… blup….” Suara air yang aku tuang ke dalam gelas itu terdengar cukup nyaring di dapur. Lekas tangan kananku menyambar gelas tersebut, meminum air yang berada di dalamnya.

“Aah~” Seketika aku mendesah begitu air dingin membanjiri tenggorokan.

Untuk kedua kalinya aku menghampiri kulkas, membuka pintunya. Hendak menyimpan kembali botol air tersebut ke tempatnya semula, sekaligus ingin mengecek… apakah di dalam kulkas ada sesuatu yang bisa langsung aku makan.

Sayanganya… tidak ada.

Dengan keadaan perut yang sudah keroncongan seperti ini, rasanya aku malas memasak. Dan satu-satunya cara untuk mengatasi hal seperti ini adalah… men-delivery makanan cepat saji. Ada untungnya aku hidup di tahun 2013 seperti sekarang… haha.

Aku beranjak menghampiri telepon rumah. Menekan serentetan nomor layanan delivery sebuah rumah makan cepat saji. Berbicara sebentar dengan seorang wanita di seberang, memesan sejumlah makanan yang aku inginkan untuk membungkam perutku.

“Terima kasih atas pesanannya. Mohon tunggu sebentar,” kata wanita di seberang.

Ne,” balasku singkat, lalu memutuskan panggilanku.

Masih mengenakan seragam sekolah, aku berjalan menuju kamarku. Menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Memejamkan mata sejenak sembari menunggu makanan pesananku datang.

“Hiks… hiks… hiks….”

Sontak, aku membuka kedua mataku begitu suara tangisan terdengar. Seketika aku mengambil posisi duduk, memandang setiap sudut kamarku.

Oh, ayolah, tolong jangan muncul di saat-saat seperti ini.

“Hiks… hiks… hiks….”

Suara itu terdengar lagi. Sukses membuat bulu kudukku merinding.

Nu-nuguya?” tanyaku, masih terpaku di atas tempat tidur. Memandang sekitar.

“Hiks… hiks… hiks….”

Lagi-lagi, suara itu terdengar.

“Ya! Siapa yang menangis?”

Tidak ada jawaban. Tidak ada suara tangisan. Entahlah.

Untuk beberapa menit aku terdiam, menunggu suara tangisan itu terdengar lagi. Tapi, suara yang aku tunggu tidak terdengar.

“Ting… tong….”

Aku terperanjat. Jantungku berdetak cepat. Nyaris melompat dari tempat tidur saking kagetnya. Buru-buru aku sadar kalau suara barusan hanyalah suara bel. Uh, pasti itu makanan yang aku pesan.

Tanpa memikirkan apapun tentang suara tangisan beberapa saat lalu, aku bergegas mengambil dompet di dalam tasku, lalu berlari ke arah pintu depan.

“CKLEK!”

Aku pun membuka pintu, tapi—Uh? Tidak ada siapa-siapa di luar. Kutolehkan kepalaku ke arah kanan dan kiri untuk mengecek keadaan. Benar-benar tidak ada siapa-siapa. Kalau begitu, siapa yang menekan bel?

Aku mendengus. Mungkin aku salah dengar. Berbalik masuk ke dalam rumah, menutup pintu. Melangkah menuju ruang keluarga, menyalakan TV, lalu duduk di sofa. Jari jempolku sibuk memencet-mencet tombol remot. Mencari channel dengan tayangan menarik, menurutku.

“Ting… tong….”

Suara bel lagi.

Kali ini pasti tukang delivery!

Untuk kedua kalinya aku beranjak menuju pintu depan. Membuka pintu dan—Ck! Lagi-lagi tidak ada siapa-siapa? Aku pun berjalan ke sisi kiri dan kanan teras, memeriksa bagian samping rumah. Baru aku hendak melangkahkan kakiku berjalan menuju pintu, tiba-tiba saja terdengar suara gesekan ranting semak.

“Siapa di sana?” teriakku, melihat ke arah semak di samping kanan rumah yang sedikit bergoyang. “Ya! Apa ada orang di sana, eoh?”

Aku diam.

Tidak ada respon.

Ck! Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku masih diam. Melihat-lihat sekitar sambil berpikir apa yang harus aku lakukan. Aku harus memastikan kalau di sana ada orang atau… yang lainnya. Ya, kau tahu maksudku. Kedua mataku tertuju pada puluhan benda keras yang berjejer rapi di bagian depan teras. Batu-batu sungai berukuran sedang.

Bergegas aku menghampiri batu-batu tersebut, memungut 2 buah, lalu kembali ke tepi teras sebelah kanan. Tanpa menungu lama, aku melemparkan sebuah batu ke arah semak tersebut dan tiba-tiba saja… sesuatu melompat keluar dari semak.

“Meong~”

Huh! Sial! Aku pikir apa. Ternyata hanya seekor kucing berbulu abu-abu. Binatang itu pun berlari entah kemana ketika melihatku. Untunglah, itu hanya kucing, bukan—

“AAA!”

Mi-mianhamnida, mengejutkan Anda.”

Entah sejak kapan datangnya, tapi saat ku berbalik hendak masuk ke dalam rumah, seorang namja berseragam pelayan di rumah makan cepat saji yang aku telepon beberapa saat lalu, berdiri di depan teras sambil memegang sebuah kotak.

Aku menghela nafas panjang untuk menenangkan diri.

Gwaenchanayo,” balasku, berjalan menghampirinya.

“Ini pesanan Anda,” ujarnya, menyerahkan kotak tersebut padaku, “Dan, ini struknya,” lanjutnya seraya memberikan selembar kertas struk padaku. Kuletakkan kotak dan struk tersebut di kursi teras, lalu memberikan sejumlah uang kepada tukang delivery tersebut.

“Gamsahamnida.”

Dan, ia pun beranjak dari hadapanku.

Aku pun masuk ke dalam rumah, menutup pintu. Kulirik jam yang terpajang di dinding ruang tamu. Jam 8 lewat 10 menit. Huh, sudah semalam ini ternyata. Lekas aku berjalan menuju dapur. Sudah tidak sabar melahap makanan yang berada di dalam kotak yang tengah aku pegang.

Tapi—

“Ya! Nuguya?”

Ada seseorang di dapurku. Seorang pria berbaju kumuh. Duduk di dekat kaki meja sambil menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya.

Aigoo. Ini tidak mungkin.

Bagaimana dia bisa masuk ke rumah?

“Tuan Nam?” gumamku sambil berdiri di tempat. Tidak berani menghampiri pria yang duduk menyembunyikan kepala di antara kedua lututnya itu.

Pria itu tidak membalas ucapanku. Hanya berdiam diri dengan posisi seperti yang aku katakan tadi. Aku pun bingung harus berbuat apa. Ingin mendekati pria itu, tapi… aku juga takut kalau… ya, siapa tahu saja dia tiba-tiba menyerangku.

Lagi pula, yang tidak aku mengerti sampai sekarang adalah… sejak kapan ia berada di situ dan… bagaimana caranya dia masuk ke rumah?

Semua pintu dan jendela terkunci.

Aneh!

Atau mungkin… ada… pintu rahasia di rumah ini?

Haha, ayolah, Gongchan-ah! Jangan berpikiran yang aneh-aneh.

Pasti ada cara lain sehingga dia bisa masuk ke sini.

….

….

….

….

Ah! Gongchan-ah, baboya! Tuan Nam pasti masuk saat aku terlalu sibuk dengan semak di samping rumah tadi. Pasti di saat itu dia masuk. Pintu rumah memang kubiarkan terbuka saat itu.

Aish! Babo! Babo! Babo!

Ck! Sekarang bagaimana caranya supaya orang ini keluar dari rumah?

Bisa gawat kalau dia masih berada di sini saat appa pulang.

“Ya!” panggilku pada Tuan Nam. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Seperti patung, Tuan Nam tidak bergerak dan tidak bicara sedikit pun. Jinccaro!

“Istriku.”

Ah? Apa tadi dia mengucapkan sesuatu?

“K-Kau… kau bilang apa, Tuan Nam?”

Pria itu akhirnya mendongakkan kepalanya, menatapku dengan tatapan mata yang tajam, namun… kedua matanya itu berair. Ne, dia menangis. Beberapa detik kami saling berpandangan satu sama lain hingga Tuan Nam pun berkata, “Istriku. Dimana kau sembunyikan istri dan anakku?”

Ha? Dia bilang apa? Dia menuduhku menyembunyikan anak dan istrinya?

GILA! PRIA INI PASTI SUDAH GILA!

“Katakan dimana, hah? Dimana kau menyembunyikan mereka?” tanyanya sedikit memaksa.

“A-Aku—” ucapku agak ketakutan, “A-Aku tidak menyembunyikan istri dan anakmu. Me-mereka sudah… sudah meninggal,” jawabku.

Mimik wajahnya terkejut. Seperti tidak percaya bahwa istri dan anaknya telah meninggal. Padahal, dia sendiri yang membunuh mereka. Apa mungkin… Tuan Nam… hilang ingatan?

“Kau… kau membunuh mereka, iya, kan? KAU MEMBUNUH HARA DAN HYUNWOO, KAN?” geramnya.

GILA! ORANG INI BENAR-BENAR GILA!

Tiba-tiba saja ia menyerangku. Untungnya, aku bisa mengantisipasi gerakannya, sehingga aku bisa berlari menghindarinya. Tuan Nam terus berteriak seperti orang gila, menuduhku sebagai orang yang membunuh keluarganya.

“DUUKK!”

Tanpa sengaja kakiku menabrak kaki meja kecil tempat appa meletakkan telepon rumah. Membuatku tersungkur ke lantai.

“AKH!”

Aku berusaha berdiri secepat mungkin, tapi—GREP! Aku terlambat. Tuan Nam lebih dulu memegang kaki kananku. Pria gila itu menyeretku ke dapur seperti karung beras. Kasar! Membuatku kesakitan. Tubuhku bercucuran keringat. Jantungku berdegup kencang. Entah apa yang nanti akan dia lakukan padaku.

Di dapur, pria itu membanting kaki kananku. Menimbulkan bunyi yang cukup keras dan… sakit yang berhasil membuatku meringis. Sepersekian detik kemudian, tiba-tiba Tuan Nam mengambil pisau yang berada di dekatnya.

ASTAGA! APA DIA MAU MEMBUNUHKU?

“Kau,” ujarnya sambil menunjukku dengan pisau yang berada di tangan kanannya. Ujung pisau itu terlihat runcing. Pastinya akan sakit jika sampai benda itu berhasil menusukku. Tampak berkilat-kilat karena terpaan lampu. “Aku akan membunuhmu!”

MWOYA?

Aku berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkah hal yang paling berharga yang aku miliki. Nyawaku. Hanya saja, lagi-lagi aku terlambat karena… Tuan Nam lebih dulu berhasil meraih ujung seragam sekolahku. Ia menarikku kasar sehingga—entah untuk keberapa kalinya—aku jatuh ke lantai. Lekas ia duduk di atas perutku, mengangkat pisau itu ke udara dengan ujung yang mengarah padaku.

Tamatlah riwayatku!

-End Of Gongchan’s POV-

@@@@@

-Taemin’s POV-

Aku duduk melantai di depan pintu sebuah rumah. Rumah hyung-ku. Entah sudah berapa jam aku berada di tempat ini terhitung sejak aku pulang dari sekolah… sampai detik ini. Mungkin… sudah 4 atau 5 jam.

Rumah hyung-ku gelap. Tidak ada satu lampu pun yang menyala. Itu karena… dia belum pulang. Aku tidak tahu sebanyak apa pekerjaan hari ini sampai ia belum pulang, padahal… langit sudah gelap sejak beberapa jam yang lalu.

Aku juga tidak mauberanjak dari tempat ini sebelum melihatnya.

Entahlah.

Aku hanya ingin melihatnya dari jarak sedekat ini untuk terakhir kalinya karena… secepatnya aku akan mengakhiri semuanya. Ne, aku ingin segera menyelesaikan semua urusanku di sini sehingga aku bisa pergi dengan tenang.

Ya. Itu yang aku inginkan sejak 2 tahun lalu.

Sejak aku memutuskan untuk tidak menemui eomma.

Sejak aku memutuskan untuk tidak tinggal di rumah.

Sejak aku… sejak aku… akhirnya kesulitan untuk menemui mereka.

Karena… ya, karena kejadian 2 tahun lalu itu.

Kejadian yang masih menari-nari di pelupuk mataku. Kejadian yang masih berputar di kepalaku. Kejadian yang sampai sekarang membuatku berat untuk meninggalkan tempat ini tanpa mengucapkan kata maaf dan… terima kasih kepada… appa, eomma dan… hyung-ku.

Ne. Aku masih ingat kejadian 2 tahun lalu itu.

Saat eomma mengatakan kalau… aku gila karena aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat. Dan ujungnya, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan cara yang… ah, aku tidak tahu harus mengatakannya sebagai cara apa.

Cara yang tidak sopan?

Cara yang kasar?

Atau apa?

Ah! Aku tidak tahu.

Mungkin kau mengatakan kalau diriku adalah anak durhaka. Meninggalkan rumah setelah bertengkan dengan wanita yang melahirkan aku ke dunia. Membuat dia menangis karena aku tidak bisa menahan emosiku waktu itu. Bahkan…, aku membuat dia terjatuh karena… aku—tanpa sadar—mendorongnya saat ia mencegah aku pergi dari rumah.

Hah! Anak macam apa aku ini?

Belum lagi… aku tidak mendengarkan ucapan hyung-ku ketika dia membujukku untuk pulang ke rumah. Membujukku untuk melupakan kata-kata eomma hari itu. Membujukku untuk… tidak bunuh diri di jembatan hari itu.

Dan…, aku masih ingat janji hyung padaku. Janji yang ia buat saat akhirnya ia memutuskan untuk mengambil pendidikan sarjana yang… yang aku tahu sebenarnya tidak ia inginkan. Tapi, karena aku…, karena adiknya yang tidak tahu berterima kasih ini, dia akhirnya memilih untuk menjadi seorang psikiater.

Hyung akan membantumu untuk sembuh, Taemin-ah. Hyung janji.”

Seperti itu kalimat yang ia ucapkan padaku. Kalimat yang sempat membuatku tersinggung—sama seperti saat eomma mengajakku ke psikiater 2 tahun lalu. Ya! Aku tidak gila! Aku tidak punya kelainan mental atau apalah. Aku hanya punya ‘sedikit’ kelebihan di penglihatanku, meskipun itu memang membuatku… depresi.

Dan…, di saat hyung-ku sudah menjadi psikiater seperti saat ini, aku bahkan belum pernah dan… tidak akan pernah menjadi pasiennya.

“BRRRMMM~”

Deru mobil yang memasuki halaman rumah hyung-ku membuat lamunanku terbuyarkan. Mobil itu melaju pelan masuk ke dalam garasi yang berada di samping kiri rumah. Ah, itu pasti hyung!

Lekas aku beranjak dari teras, berjalan mendekati garasi. Mobil hyung-ku berhenti tepat di depan pintu garasi yang tertutup rapat. Lampu mobil itu menyorot ke arah pintu. Tidak lama kemudian, sesosok pria keluar dari mobil tersebut.

Ne, benar.

Pria itu adalah hyung-ku.

Kyuhyun Hyung.

-TBC >/\<-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Iklan

19 thoughts on “(IN)VISIBLE [Chap.9]

    1. aish, kenapa komen yg ini malah terkirim??
      dari kemarin mau komen gagal trus.. 😦
      ya udh dech lngsung aja ya, >,<
      tu kan bener, kyu tu hyung'a taemin.. 😀 #tepoktangansamakaki
      satu masalah udah bres, tinggal satu lagi dech yg hrs diselesein gongchan..
      btw masih ada satu yg blum terjawab nie,,
      taemin sebenernya juga udah mati belum c??
      wah, tu nasib gongchan gimana ya?? 'A'
      hahaha, mian banyak nanya.. ('o')v

  1. tuan nam ini psiko atau apa sebenarnya? untung dia bukan nambeb ku -__-” aku sebenarnya sedikit membayangkan kalau setelah kasus ini soyeol muncul dengan muka berdarah-darah tapi senyum ke gongchan sambil bilang thanks xD pasti lucu ya *oot, dibunuh*
    etapi kayaknya taemin misterynya jadi klimaks ya unn, twist nya dia kan?

    1. Tuan Nam-nya di sini psyco terus jadi gila 😀
      Haha… gak-lah. Kasihan amat si Woohyun kalo dia jadi psiko 😀
      Wahaha… eonni gak mikirin Soyeol-nya sampe ke situ sih 😀
      Iyaaaaa, saeng. Twist-nya dia *masihterobsesisamatwistending* 😀
      Gomawo udah RCL ^^

      1. tapi gpp sih unn malahan kalau nambeb psiko dia pantes *digampar* alay sih orangnya xD well tapi aku sayang.
        gpp unn, cerita kalau ada twistnya malah menarik haha

        1. iyasih ini aku juga lagi belajar, bikin drablle yang ada twist endingnya :3 lumayan membantu loh unn, mungkin unni mau nyoba kalau luang.

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s