(IN)VISIBLE [Chap.4]

(IN)VISIBLE [Chap.4]

newmm

Rating: PG-13

Genre: Horor, Mistery, Friendship, School-life

Length: Multichapters

Main Characters: (B1A4) Gongchan & (SHINee) Taemin

Minor Characters: (OC) The ghostes, (OC) Gongchan’s appa, (EXO-K) Sehun, (OCs) Paran High School’s Teachers, (FT Island) Minhwan & (SuJu) Kyuhyun

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is purely mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her parents and his/her agency. OC is mine!

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

HAPPY READING \(^O^)/

Hembusan udara malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam kemarin. Entahlah, apa memang benar seperti itu atau… hanya perasaanku saja. Langit malam pun tampak hitam gelap tanpa ada satu bintang pun yang menghiasinya. Cahaya lampu yang menyala temaram di sekitar kami—aku dan Sehun—hanya mampu memberi penerangan seadanya.

Setelah menceritakan hubungannya dengan Soyeol Sunbae, Sehun… diam kembali. Aku pun sengaja ikut diam. Membiarkan namja baik ini menyelami suasana sepi di sekitarnya. Kuharap, ia bisa tenang dan… berhenti menyalahkan dirinya tentang… kejadian tragis yang menimpa Soyeol Sunbae satu tahun yang lalu.

Dari cerita Sehun, Soyeol Sunbae meninggal bukan karena bunuh diri, tapi… dibunuh. Jasad Soyeol Sunbae digantung di kuda-kuda koridor hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi penyebab sebenarnya dari kematian Soyeol Sunbae.

“Setidaknya, seperti itu yang dikatakan ajussi-ku. Salah satu dari tim forensik yang mengotopsi jasad Soyeol Sunbae hari itu,” kata Sehun.

Namun, rumor yang beredar mengatakan bahwa Soyeol Sunbae sengaja bunuh diri karena… dirinya hamil. Tepatnya dihamili oleh pacarnya.

“Sungguh, Gongchan-ah, bukan aku orangnya! Bukan aku yang menodai Soyeol Sunbae!” ujar Sehun membela diri. Ne, sejujurnya aku memang tidak percaya jika Sehun orangnya walaupun… beberapa saat lalu aku sempat berpikir… dialah orangnya.

Saat ditemukan meninggal, Soyeol Sunbae memang tengah hamil. Sementara saat itu, Sehun dan Soyeol Sunbae baru berpacaran. Sepertinya, memang bukan Sehun yang melakukan hal itu. Hanya saja… dia berpacaran dengan Soyeol Sunbae di waktu yang tidak tepat.

“Lalu, apa orang-orang di sekolah tahu bahwa kau dan Soyeol Sunbae pacaran waktu itu?” tanyaku.

Sehun menggeleng. “Kami sengaja merahasiakan hubungan kami. Itu permintaan pertama Soyeol saat kami sepakat untuk menjalin hubungan.”

“Apa kau tidak curiga sedikit pun dengan permintaannya itu?”

Untuk kedua kalianya, namja bertubuh tinggi itu menggeleng. “Aku percaya padanya. Dia pasti punya alasan kuat sehingga ia meminta hubungan kami dirahasiakan.”

Aku menghela nafas.

Aku penasaran dengan permintaan Soyeol Sunbae. Kenapa dia meminta agar hubungan mereka dirahasiakan? Apa… ia sengaja melakukan ini untuk melindungi Sehun? Atau sebaliknya…, ia… memang berniat untuk menjebak Sehun? Menyuruh Sehun untuk bertanggung jawab atas janin yang ada di perutnya.

“Soyeol bukan bukan orang seperti itu, Gongchan. Aku tahu dia. Aku tahu dia berpacaran denganku tanpa maksud apa-apa selain karena ia memang merasa nyaman berada di dekatku.”

“Kalau begitu, apakah kau pernah mencari tahu tentang orang yang… menodai Soyeol Sunbae?”

Sehun mengangguk. Katanya, beberapa hari setelah jasad Soyeol Sunbae dimakamkan, Sehun mencari tahu tentang siapa namjachingu Soyeol Sunbae sebelum dirinya, siapa namja yang belakangan ini dekat dengan Soyeol Sunbae selain dirinya dan hal-hal lain yang berkaitan tentang itu. Tentu saja Sehun menanyakan semua pertanyaan tersebut pada beberapa teman dekat Soyeol Sunbae yang ia kenal.

“Lalu bagaimana? Apa kau berhasil mengetahui pria itu?” tanyaku penasaran.

Sehun menggeleng. “Aku tidak berhasil. Terlalu sedikit informasi yang aku dapatkan. Hanya saja…, ada beberapa orang yang aku curigai.”

Aku membulatkan kedua mataku. “Jincca? Bisa kau beritahu aku?”

Sehun menatapku beberapa saat. “Hah~, sudahlah, Chan-ah. Tidak usah kau pikirkan,” ucap Sehun sambil mengibaskan telapak tangan kanannya di depan wajahku. “Kkaja. Kembali ke tenda. Acara jerit malam sepertinya akan dimulai.”

@@@@@

Acara jerit malam terpaksa ditiadakan kali ini. Di luar sedang turun hujan. Sangat tidak mungkin jika memaksakan kegiatan itu diadakan. Terpaksa, acara jerit malam itu digantikan dengan acara memindahkan barang-barang dari tenda ke dalam kelas.

Karena hujan itu pula, para siswi dikumpulkan di aula 1 dan aula 2 untuk tidur di sana. Sementara para siswa tidur di kelas masing-masing. Sedikit merasa tidak adil. Tentu saja, para siswi tidur di aula yang dialasi dengan selimut dan beberapa karpet yang memang disediakan di aula, sedangkan kami, para siswa… harus menerima ketentuan tidur di atas meja kelas yang keras. Huh~

Saat ini, aku dan seluruh namja di kelas 2.3 baru saja selesai mengatur meja. Menyingkirkan kursi-kursi ke sisi kanan-kiri kelas dan menggunakan meja sebagai tempat tidur. Untungnya, di kelas 2.3 hanya ada 8 orang namja termasuk aku.

Waktu telah menunjukkan pukul 23.49. Aku dan ketujuh temanku pun bergegas naik ke atas meja, membaringkan tubuh di atasnya. Suasana di dalam kelas tidak begitu gelap sebenarnya. Lampu koridor di luar menyala cukup terang sehingga bias cahayanya menyinari sebagian ruang kelas.

“Ya! Yeorobun, kalau salah satu di antara kalian merasakan sesuatu yang aneh, segera bangunkan yang lainnya, ara?” pesan Minhwan sebelum namja itu membaringkan tubuhnya.

Ne~

Kurang dari setengah jam setelah koor-an ‘ne’ itu terdengar, suasana di dalam kelas mulai sepi. Tidak begitu sepi sebenarnya. Sesekali terdengar suara dengkuran halus dari salah satu atau… beberapa temanku yang telah tertidur.

Aku cukup heran.

Bagaimana bisa mereka tertidur lelap di tempat dan suasana seperti ini, eoh?

Maksudku, tempat tidur yang keras dan… suasana… yang ehm… horor. Hujan di luar masih mengguyur, sesekali disertai suara guntur yang membuatku menutup kedua telingaku. Aku benar-benar tidak bisa tidur di tempat seperti ini.

Aish!

“Chan-ah, kau belum tidur, eoh?” Terdengar suara bisikan dari Minhwan yang berbaring tepat di sampingku. Aku menoleh ke arahnya, menyorotkan sinar HP-ku ke wajahnya. Namja itu terlihat memejamkan mata, tapi aku rasa… ia tidurnya tidak begitu lelap. Dia menyadari aku terus saja bergerak-gerak gelisah.

Ne,” balasku dengan suara berbisik.

“Sudahlah. Kau tidak usah takut, eoh. Di sini ada 8 orang. Tidak akan ada hantu yang akan mengganggumu. Tidurlah,” bisiknya, masih dengan mata terpejam.

Ne.”

Aku menghela nafas. Kurapatkan jaket hitam yang membalut tubuhku. Perlahan, kupejamkan mataku. Mencoba untuk tidur. Paling tidak, membiarkan kedua mataku ini beristirahat sebentar.

Benar kata Minhwan. Tidak akan terjadi apa-apa.

A Few Minutes Later

Aku tidak tahu telah berapa menit waktu berlalu sejak aku memejamkan mataku, tapi… aku tidak kunjung tidur. Kuangkat sedikit tubuh bagian atasku, menyorotkan cahaya HP-ku kepada teman-teman yang berbaring di samping kiri dan kananku, Minhwan dan Sungjong.

Sungguh tidak bisa aku percaya, mereka tertidur. Yang lainnya juga. Aish! Jincca! Apa di tempat ini hanya aku sendiri yang tidak tidur, eoh?

Kurebahkan kembali tubuh bagian atasku. Kembali memejamkan mata. Untuk kedua kalinya berusaha untuk tertidur. Jujur, sebenarnya saat ini aku ingin sekali tidur, tapi… kedua mataku ini tidak mau berkompromi.

“Wush~”

Perlahan, kurasakan udara di sekitarku mulai dingin. Udara dingin yang kurasa bukan disebabkan oleh hujan di luar. Udara dingin yang terasa aneh kala menyentuh tiap inci kulit wajahku. Kupejamkan mataku semakin rapat. Bisa kurasakan jantungku berdetak semakin kencang dan semakin kencang begitu merasakan udara itu semakin dingin. Seperti menembus kulit, menusuk tulang.

Tuhan, aku tidak mau melihat hal ‘itu’ saat ini.

“Sring… sring… sring….”

Eh?

Itu… suara apa?

Kutajamkan pendengaranku. Suara itu…, suara itu terdengar seperti suara rantai yang diseret. Suara rantai yang banyak dan diseret di atas lantai koridor. Mulanya…, suara itu terdengar pelan. Namun, setiap detik berganti ke detik berikutnya, suara itu semakin terdengar jelas. Benar-benar sukses membuatku tidak bisa tidur.

“Sring… sring… sring….”

“Sring… sring… sring….”

“Sring… sring… sring….”

“Sring… sring… sring….”

“Sring… sring… sring….”

Detak jantungku semakin cepat mendengar suara itu semakin mendekat. Peluh pun mulai membasahi dahiku, terasa mengalir pelan menyusuri pelipisku. Nafasku mulai tersengal. Aku menelan ludah. Udara di sekitarku pun semakin terasa dingin. Gelap. Mencekam.

“Sring… sring… sring….”

Suara itu terdengar semakin dekat. Bisa aku pastikan dalam beberapa detik lagi suara itu akan lewat di depan kelasku.

Neon gwaenchana, Gongchan-ah?” tanya Minhwan sambil berbisik. Untuk kedua kalinya aku membuat namja ini terbangun.

Untuk kedua kalinya pula aku menoleh padanya sembari menyorotkan sinar HP-ku tepat ke wajahnya. “Apa kau tidak mendengar suara itu, Hwan-ah?”

“Suara apa?” tanya Minhwan heran. Aku menyuruhnya untuk diam. Menempelkan jemari telunjuk kiriku di bibir. Meminta Minhwan untuk ikut menajamkan pendengarannya seperti yang aku lakukan sejak tadi.

“Sring… sring… sring….”

Suara itu terdengar lagi.

“Apa kau dengar itu, Hwan-ah?” tanyaku antusias.

Minhwan bangun, mengambil posisi duduk. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Aku tidak mendengar apa-apa, Chan-ah.”

“Sring… sring… sring….”

Suara itu semakin dekat.

“Sring… sring… sring….”

Semakin dekat.

“Sring… sring… sring….”

Sangat dekat.

“Sring… sring… sring….”

Terlalu dekat.

DAAAN—Kudapati sesosok wanita berjalan terseok-seok menyusuri koridor kelasku. Sinar lampu koridor membuat sosoknya tampak sangat jelas. Sosok wanita berbaju terusan berwarna putih. Rambut hitamnya berantakan. Terus berjalan terseok-seok, membuat suara gesekan rantai dengan laintai itu terus terdnegar.

Apa salah satu kakinya diikat rantai?

Waktu terasa berjalan begitu lamban saat sosok hantu wanita itu menyusuri koridor kelasku. Aku ingin memalingkan pandanganku darinya, tapi… leherku seperti ditahan oleh sesuatu sehingga aku tidak bisa melihat ke arah yang berlawanan. Seolah, aku dipaksa untuk melihat sosok hantu wanita itu.

“Chan-ah, waeyo? Neon gwaenchanayo?” Minhwan mengguncang-guncang kedua bahuku.

“Ya! Gongchan-sik!”

Wanita itu telah melewati koridor kelasku. Suara gesekan rantai itu pun tidak terdengar lagi. Koridor kelasku benar-benar kosong saat ini. Tidak ada siapa-siapa di luar.

“Ya! Ya! Ada apa?” Kali ini suara Sehun terdengar.

Molla. Sepertinya Gongchan melihat sesuatu.” Kali ini suara Minhwan.

Aku tersadar. Aku melihat ke sekitarku dan kudapati ketujuh temanku terbangun, sedang menatapku sambil menyalakan senter yang berada di tangan masing-masing.

“Kau kenapa, Chan-ah?” tanya Sehun mewakili. Mereka semua menatapku penuh tanya.

Aku menggeleng. “A-Aniya. Gwaenchana. Mianhae telah membangunkan kalian,” ucapku.

Sehun menatapku curiga. “Kau yakin?”

Aku mengangguk. “Ne, Gwaenchana. Mianhae. Ayo, tidur kembali,” kataku. Sengaja merebahkan diri duluan, langsung memejamkan mata. Berharap semua temanku melakukan hal yang sama dan melupakan apa yang terjadi barusan.

@@@@@

“Engh~”

Aku menggeliat. Terjaga. Pelan, kubuka kedua mataku. Menengok ke kanan dan ke kiri, melihat kondisi teman-temanku. Ah, mereka telah tertidur kembali. Aku benar-benar merasa tidak enak karena sempat mengganggu tidur mereka.

“Haaah~”

Aku menguap. Kedua mataku sedikit mengeluarkan cairan. Aku terdiam beberapa detik. Menyesapi keheningan yang masih terasa. Hujan di luar telah berhenti entah sejak kapan. Namun, udara masih terasa dingin.

Tangan kananku bergerak merogoh saku jaketku. Mengeluarkan HP dari sana. Kutekan tombol di tengah, membuat lampu layarnya menyala.

02.32 a.m

Cih! Aku hanya tidur sekitar 1 jam lebih setelah kejadian mengerikan tadi. Aish! Jincca! Menyebalkan!

“Gongchan-ah?”

Eh? Suara siapa itu?

Aku mengambil posisi duduk. Kutekan sembarang tombol HP-ku sehingga layarnya menyala lagi, lalu kusorotkan ke setiap sudut kelas. Suara siapa barusan?

“Gongchan-ah, ke sini.”

Eh? Suara perempuan!?

“Gongchan-ah, ikuti suaraku, Gongchan-ah.”

M-Mwo? Me-mengikuti suara ini?

“Gongchan-ah?”

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi… suara itu membuatku terhipnotis. Bergerak turun dari meja perlahan, tidak ingin mengganggu teman-temanku untuk kedua kalinya.

“Gongchan-ah? Kkaja, Gongchan-ah.”

Semakin suara itu terdengar, aku merasa seperti kehilangan kendali atas diriku. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi… aku tidak tahu kenapa, aku tidak bisa melakukannya. Kedua kakiku terasa ringan melangkah mengikuti arah dimana suara itu berasal.

“Ayo, Gongchan-ah. Ppalli. Ikut aku.”

“Kriiieeet.”

Suara pintu yang berdecit terdengar saat aku membuka pintu kelas yang sengaja ditutup. Kulangkahkan kaki kiriku keluar dari ruang kelas. Berjalan perlahan menyusuri koridor. Semakin tenggelam dalam kendali suara yang terus terdengar itu.

“Gongchan-ah,  ikuti suaraku, Gongchan-ah.”

Semakin tenggelam.

“Gongchan-ah, ikuti suaraku, Gongchan-ah.”

Semakin tenggelam.

“Ayo, Gongchan-ah. Ppalli. Ikut aku.”

Tanpa aku sadari, aku sudah melangkah jauh dari kelas. Terus berjalan mengikuti suara yang terus terdengar di telingaku. Benar-benar hilang kendali atas diriku. Sampai sekarang pun aku bahkan tidak tahu itu suara siapa. Yang aku tahu… suara itu… suara perempuan.

Apakah suara wanita yang dirantai itu?

Atau… suara… Soyeol Sunbae.

Suara terdengar sangat jelas ketika aku berdiri di depan pintu laboratorium biologi. Tangan kananku bergerak memegang knop pintu, memutarnya ke kanan.

“CKLEK!”

Pintunya terbuka? Aneh!

Apa pintu ini tidak dikunci, eoh?

Begitu aku melangkah masuk ke dalam lab, suara itu tidak terdengar lagi. Entah ini sudah yang keberapa kalinya aku menggunakan HP sebagai alat yang bisa membantuku melihat di tengah kegelapan seperti saat ini. Lampu di koridor lab tidak bisa diharapkan. Terlalu redup. Mungkin… bohlamnya sudah 4 bulan tidak diganti.

“Apa ada orang di sini?” tanyaku.

Kuedarkan pandanganku memeriksa setiap sisi laboratorium. Berjalan menghampiri salah satu kursi, duduk di atasnya. Namun, tiba-tiba saja sebuah proyektor yang digantung di tengah ruangan menyala. Memantulkan gambar ke arah whiteboard di depanku.

Bagai menonton sebuah film di bioskop, ada kejadian yang tengah ditunjukkan padaku melalui proyektor itu. Kejadian yang berlatar tempat di laboratorium biologi ini. Ne, tidak salah lagi. Di dalam gambar tersebut sempat terlihat model bagian tubuh manusia.

Aku penasaran dengan siapa yang menyalakan proyektor ini secara tiba-tiba. Namun, aku… lebih penasaran dengan dua orang yang ditampilkan di dalam gambar yang tengah aku tonton. Seorang siswi berambut panjang dan… seorang pria yang… tidak asing di mataku.

“Jangan membohongiku, Soyeol!”

Jamkanman! Pria itu bilang apa? Shin Soyeol?

O-Omo… a-apa… apa suara yang memanggilku ke sini adalah suara Soyeol Sunbae?

“Aku tidak berbohong padamu! Aku hamil dan semua itu karenamu. Aku akan mengadukan perbuatanmu ini.”

Kulihat pria itu menjambak rambut panjang Soyeol Sunbae, menariknya sedikit ke belakang sehingga yeoja itu mendongak. Tampak wajah yeoja itu basah karena air mata.

“Kalau kau mau mengadukanku, Soyeol, aku akan membunuhmu!”

Terlihat jelas kilatan emosi di wajah pria itu.

“Bunuh saja! Kau pikir aku takut dengan ancamanmu, eoh? Aku tidak takut! Aku akan melaporkan perbuatan busukmu kepada kepala sekolah dan wali kelasku!”

“Cih! Kepala sekolah tidak akan percaya padamu!”

“Dia akan percaya! Aku punya buktinya!”

Pria itu membulatkan kedua matanya. Semakin menjambak rambut Soyeol Sunbae.

“Dimana kau simpan buktinya, Soyeol? Dimana? Katakan!”

“Aku tidak akan mengatakannya padamu! Aku akan menyimpan bukti itu sampai aku mengadukanmu ke kepala sekolah!”

“Jangan bodoh, Shin Soyeol! Kalau kau mengadukan hal itu kepada kepala sekolah, bukan hanya aku yang akan dikeluarkan! Kau juga!”

“Aku tidak peduli! Aku tidak peduli jika aku dikeluarkan dari sekolah ini!”

“Oh, ya? Kau benar-benar menantangku, Shin Soyeol. Kau tidak tahu siapa aku, eoh?”

“Ne! Aku tahu kau! Kau guru b*****k! Guru paling b*****k yang pernah aku kenal. Mana ada guru yang tega melakukan hal kotor itu pada muridnya, eoh? Mana ada?”

Omo! Jadi…, jadi pria itu yang menghamili Soyeol Sunbae?

“PLAAAAK!”

Jelas sekali pria itu tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Kedua matanya menunjukkan kilatan emosi. Kedua bahunya bahkan naik turun. Nafasnya tersengal-sengal. Sementara itu, Soyeol Sunbae mnyentuh pipi kirinya yang baru saja ditampar oleh pria itu. Tatapan matanya pun menunjukkan kilatan emosi, meskipun ia sedang menangis.

“KENAPA KAU PACARAN DENGAN ANAK KELAS SATU ITU, EOH? KENAPA KAU MEMILIH OH SEHUN? KENAPA BUKAN DENGANKU? AKU MENCINTAIMU, SHIN SOYEOL! AKU MENCINTAIMU!”

Aigoo. Sulit dipercaya.

BAGAIMANA KAU BISA TAHU?”

Soyeol Sunbae terlihat sangat terkejut. Aku sendiri ikut terkejut. Bukankah… tidak ada satu orang pun yang tahu hubungan Sehun dengan Soyeol Sunbae?

ITU BUKAN URUSANMU! YANG JELAS, AKU TAHU KALAU KAU BERPACARAN DENGAN ANAK BERWAJAH DATAR ITU! KENAPA, SOYEOL-AH? KENAPA KAU MEMILIH ANAK INGUSAN ITU? KENAPA BUKAN AKU?”

“APA KAU GILA, HAH? KAU INI GURUKU DAN AKU MURIDMU! APA KAU TIDAK BERPIKIR BAHWA STATUS KITA BERBEDA, HAH?”

“AKU TIDAK PEDULI! AKU TIDAK PEDULI DENGAN STATUS ITU! AKU TIDAK PEDULI KAU MURIDKU ATAU BUKAN!”

“Kau gila! Kau benar-benar gila.”

“Ne! Aku memang gila! Aku gila karenamu, Soyeol-ah!”

Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Sungguh tidak kubayangkan bahwa pria itu ternyata… aslinya seperti ini. Ternyata dugaanku memang benar. Pria itu… pria itu memang… tidak baik.

“Dengar! Kau sudah menghancurkan hidupku. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku benar-benar akan melaporkanmu pada kepala sekolah sekarang juga!”

Kedua mataku melihat adegan dimana Soyeol Sunbae mendorong pria itu keras-keras. Tidak lama kemudian, Soyeol Sunbae bergegas berjalan ke arah pintu laboratorium, membelakangi pria itu. Namun, tanpa ia ketahui, pria dengan cepat menarik tangan kanan Soyeol Sunbae hingga yeoja itu terjatuh di lantai.

“Ukh! Uhuk… uhuk… le-lepaskan… uhuk… uhuk!”

Pria kejam itu mencekik leher Soyeol Sunbae.

“Aku tidak akan melepasmu! Sudah kubilang, tidak akan kubiarkan kau mengadukan perbuatanku pada kepala sekolah atau siapapun!”

Kulihat Soyeol Sunbae berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan kekar pria itu. Lidah Soyeol Sunbae terjulur. Berusaha untuk mendapat asupan oksigen. Cukup sering kudengar ia terbatuk.

“Le-lepaskan! Uhuk… uhuk… lepaskan!”

Tapi, pria itu terlihat semakin memperkuat cekikannya pada leher jenjang Soyeol Sunbae. Kupalingkan pandanganku ke arah lain. Tidak sanggup melihat adegan pembunuhan yang tertera dengan jelas di hadapanku.

Beberapa puluh detik setelahnya, kembali aku melihat ke arah whiteboard. Kali ini  tertera gambar dimana pria itu memanggul jasad Soyeol Sunbae di bahu kanannya. Soyeol Sunbae sudah tewas. Pria itu berjalan ke arah gudang sekolah. Entah apa yang akan ia lakukan pada jasad itu.

“Huh! Menyusahkan saja!”

Pria itu menyandarkan jasad Soyeol Sunbae pada dinding bagian dalam gudang. Sementara, ia sendiri sibuk mencari sesuatu. Apa… jangan-jangan… dia… bermaksud untuk menghilangkan jejak? Ma-maksudku… apa… dia mau menggantung… jasad Soyeol Sunbae sehingga… orang-orang berpikir bahwa… Soyeol Sunbae meninggal karena bunuh diri?

CIH! DASAR LICIK!

“Akhirnya dapat!”

Benar dugaanku. Sudah kuduga pria kurang ajar itu mencari tali. Dengan begitu, dia bisa ‘cuci tangan’ dari kasus ini. Benar-benar ‘pintar’!

Pria itu kemudian memanggul kembali jasad Soyeol Sunbae menuju koridor tempat dimana aku melihat Soyeol Sunbae tempo hari. Jasad Soyeol Sunbae diletakkan begitu saja di lantai koridor, kemudian pria itu beranjak ke dalam kelas. Keluar dengan sebuah meja dan juga bangku.

Meja dan bangku dijadikan sebagai alat bantu agar ia bisa melaksanakan rencana jahatnya. Namun, tepat di saat dia baru saja selesai menggantung jasad Soyeol Sunbae, seorang siswa berbaju hijau lewat dan menangkap basah pria brengs*k tersebut.

Keduanya sempat bertatapan untuk beberapa detik, sampai akhirnya namja berbaju hijau tersebut memutuskan untuk kabur.

“YA! JANGAN LARI KAMU!”

Pria yang membunuh Soyeol Sunbae tersebut langsung mengejar si namja yang berbaju hijau.

“KLIK!”

“Eh?” Aku tersentak.

Kenapa proyektornya tiba-tiba mati? Ada apa, eoh?

Aku beranjak dari dudukku, berjalan ke bagian bawah proyektor yang digantung di tengah ruangan lab biologi tersebut. Apa hanya itu yang ingin diperlihatkan Soyeol Sunbae padaku? Jadi…, setidaknya… di sini… aku sudah tahu kalau… Sehun benar. Soyeol sunbae tidak meninggal karena bunuh diri, tapi… dibunuh. Sayangnya…, Sehun tidak tahu kalau… yang melakukan hal tersebut adalah… pria itu.

“Gongchan-ah?” Suara wanita itu terdengar lagi tepat di belakangku. Aku berbalik dan—

“AAAAAA!”

-End Of Gongchan’s POV-

@@@@@

-Taemin’s POV-

Matahari mulai menampakkan wajahnya di pagi ini. Langit yang membentang di atas sana dihiasi awan, membuat sinar matahari tidak begitu terik. Aku melangkahkan kakiku memasuki area sekolah. Setelah berjalan-jalan pagi, aku menyempatkan diri singgah di tempat ini untuk melihat suasana perkemahan akhir pekan.

Berjalan menyusuri koridor utama, melihat beberapa adik kelas yang duduk di taman depan kelas satu. Aku pun berbelok menuju area tempat dimana tenda didirikan. Hah, pasti semalam mereka tidak tidur di dalam tenda. Semalam kan… hujan.

Aku berhenti sejenak. Menyandarkan punggungku pada tiang koridor semabri melihat ke arah siswa-siswa yang sibuk membongkar tenda. Ah, ya, paling… jam 8 nanti, acara perkemahan akhir pekan akan ditutup.

“Ya! Apa kau sudah menemukan Gongchan?” suara seorang siswa yang kebetulan di sebelahku. Ia berbicara dengan seseorang yang ia hubungi melalui HP-nya. Aku tidak penasaran dengan siapa ia bicara, tapi… aku penasaran dengan ucapannya barusan.

‘Apa kau sudah menemukan Gongchan?’

Maksudnya…, apakah Gongchan… hilang?

Aku pun beranjak dari tempatku berdiri, mengikuti teman Gongchan barusan. Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi… ya, aku menguping pembicaraan teman Gongchan di depanku.

“Aish! Jinccaro! Semalam Sehun, pagi ini Gongchan! Ya, sudah. Kalau kau sudah menemukan Gongchan, cepat kabari aku atau Sehun, ara?”

Teman Gongchan itu pun memutuskan panggilannya. Tampak ia sibuk mencari keberadaan Gongchan saat ini. Tapi, kenapa Gongchan melakukan hal ini? Maksudku…, kenapa… dia menghilang seperti ini?

Aku melangkah meninggalkan teman Gongchan yang saat ini sedang berbicara dengan Kim Sonsaengnim. Kulangkahkan kakiku menuju loteng laboratorium komputer. Tempat yang… cukup sering dikunjungi Gongchan semenjak aku mengajaknya ke tempat itu. Tapi—

“Dia tidak ada! Aish!” gerutuku begitu kulihat tidak ada siapa-siapa di loteng tersebut.

Aku berjalan menghampiri tembok pembatas. Mengedarkan pandanganku ke segala arah. Aku berharap Gongchan berada di luar ruangan, sehingga aku bisa lebih mudah melihat keberadaannya dari sini, tempat paling tinggi di sekolah.

Pandanganku bergerak perlahan menyusuri setiap tempat di sekolah yang terlihat dari sini. Lapangan basket, lapangan upacara, lapangan voli, taman samping sekolah, apotik hidup, lapangan tenis dan—

Eh! Tunggu!

Kedua mataku menangkap sosok seseorang yang tertidur di atas bangku di tepi lapangan tenis. Kupicingkan mataku untuk melihat siapa orang tersebut. Sepertinya… namja. Apa mungkin… dia adalah… Gongchan?

Tanpa membuang waktu lagi, aku pun menuruni tangga. Berlari menuju lapangan tenis yang… letaknya sedikit jauh dari laboratorium komputer. Aku yakin pasti orang yang tertidur di atas bangku di lapangan tenis itu adalah Gongchan.

Ne, pasti dia!

Begitu tiba di lapangan tenis, aku langsung berjalan menuju bangku yang aku maksud sejak tadi. Semakin aku berjalan, semakin jelas bahwa orang yang tertidur di sana adalah Gongchan. Aku tahu potongan rambutnya.

Dan… ya, memang benar Gongchan.

Namja itu tertidur, tapi… mimik wajahnya agak aneh. Apa… ia sedang bermimpi sesuatu?

“Ya! Chan-ah, ireona!” tegurku.

Aku memang tidak berharap Gongchan akan terbangun dari tidurnya dalam satu kali teguran.

“Gongchan-ah, ireona!” ulangku. “Ya! Gong Chan-sik! Kenapa kau tidur di sini, eoh? Teman-temanmu mencarimu. Ya! Ireon—”

“AAAAA!!!”

Tiba-tiba saja ia bangun sambil berteriak.

Apa yang terjadi padanya?

-End Of Taemin’s POV-

-Gongchan’s POV-

“AAAAA!!!”

Aku terbangun. Langsung mengambil posisi duduk. Nafasku tersengal. Dahi dan leherku teras basah oleh keringat.

“Chan-ah? Gwaenchana?” Kutolehkan kepalaku kepada seseorang yang baru saja menanyakan keadaanku.

“Tae-Taemin Sunbae?” gumamku heran.

Neon gwaenchana?” ulangnya. Taemin Sunbae pun bergerak, mengambil tempat di sebelahku.

Nan… nan gwaenchana,” jawabku. “Apa yang kau lakukan di sini, Sunbae?” tanyaku.

“Justru aku yang seharusnya menanyakan hal itu padamu. Apa yang kau lakukan di sini, eoh? Kenapa kau tidur di sini? Teman-temanmu mencarimu!” katanya.

Aku diam sejenak sambil memperhatikan suasana di sekitarku.

Eh? Lapangan tenis?

Aneh!

Kenapa aku bisa berada di tempat ini, eoh?

Seharusnya… aku… berada di laboratorium biologi, kan?

A-Apa… apa yang semalam itu hanya mimpi?

Tapi, kenapa aku bisa berada di tempat ini?

“Chan-ah? Apa yang terjadi, eoh?” tanya Taemin Sunbae. Kembali aku menolehkan kepalaku padanya.

Aku menghela nafas, lalu menjawab, “Semalam… aku mendengar suara aneh, Sunbae. Suara perempuan.”

“Suara perempuan?”

Aku mengangguk. “Ne. Tepatnya…, suara Soyeol Sunbae.”

“Lalu?” Taemin Sunbae terlihat penasaran.

“Lalu, aku mengikuti suara itu sampai di laboratorium biologi dan… dan… di sana… Soyeol Sunbae… memperlihatkan kejadian yang sebenarnya.”

“Maksudmu… kejadian ia bunuh diri?”

Aku menggeleng.

“Apa maksudmu, Chan-ah?”

“Soyeol Sunbae bukan meninggal karena bunuh diri, Sunbae. Bunuh diri itu hanyalah kamuflase untuk menutupi kejadian yang sebenarnya.”

“Kejadian yang sebenarnya?”

Aku mengangguk. “Ne. Soyeol Sunbae sebenarnya dibunuh.”

Taemin Sunbae terkejut. “Aigoo. Dibunuh?”

Ne.”

“Oleh siapa?”

“Tapi, kau harus berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun,” kataku mengajukan syarat. Taemin Sunbae mengangguk.

Aku menghela nafas panjang. Tidak kusangkan jika orang itulah pembunuhnya. Benar-benar tidak bisa aku bayangkan jika sampai Sehun tahu.

“Sebenarnya… yang membunuh Soyeol Sunbae adalah—”

“GONGCHAN-AH!”

TBC (>/\<)-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Iklan

10 thoughts on “(IN)VISIBLE [Chap.4]

  1. aku tau aku tau aku tau.. #angkat tangan tinggi-tinggi
    yg ngebunuh Sonyeol pasti guru yg jadi pembina ekskul biologi ya??
    bener ga tuch??
    hmm, makin penasaran aja ma lanjuta’a, belum lg hantu cewe sama anak2 yg di rumah baru Gongchan, trs masalah Taemin juga..
    masih banyak yg belum terungkap..
    ayo ayo dilanjutkan kembali.. #dorong author ke depan laptop.. 😀

  2. entahlah unn, smakin kesini jalan critanya bener2 gabisa aku tebak, bner2 bikin pnasaran, but–aku udah bisa nebak siapa guru yang ngebunuh soyeol kkkk.
    gongchan kamu jangan ember, entar kena batu loh >.<
    tapi unn knapa welcome picnya harus myungzy ;__; jangan bilang unni shiperin mereka?
    yang diheader itu jinyoung sama siapa unn?
    haha, alamat blog bisa diganti? ciee unni namanya baru ihir *plak*

    1. Hahaha… iya, kah? Simpan di hati(?) sajalah kalo udah tau siapa gurunya.
      Ng…, dibilang nge-shipperin Myungzy gak juga sih sebenarnya. But, dari semua yeoja yang dipasangin sama abang ganteng, eonni emang paling demen sama Suzy. 😀 Tapi, Myungstal, Myungyeon, Myungeun juga suka kok. 😀
      Itu Jinyoung sama Jiyeon T-Ara. Tau, kan? Tau dong~ 😉
      Iya, pengen ganti. Ntar bikin selamatan. Datang, ya~~~ 😀

      1. eh unni ada email ga? pengen tawarin sesuatu.
        *die* unni kudu janji sama aku, jangan sampe pasangin sunggyu sama eunji -__-” apalagi hayoung *digebukin*
        tau sih tapi kurang apal mukanya ._.v oh maafkan saya.
        slametannya apa?

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s