(IN)VISIBLE [Chap.3]

(IN)VISIBLE [Chap.3]

newmm

Rating: PG-13

Genre: Horor, Mistery, Friendship, School-life

Length: Multichapters

Main Characters: (B1A4) Gongchan & (SHINee) Taemin

Minor Characters: (OC) The ghostes, (OC) Gongchan’s appa, (EXO-K) Sehun, (OCs) Paran High School’s Teachers, (FT Island) Minhwan & (SuJu) Kyuhyun

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is purely mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her parents and his/her agency. OC is mine!

Summary: Gongchan tidak suka dengan penglihatannya yang ‘istimewa’ karena hal itu membuatnya selalu dibayang-bayangi oleh ‘sesuatu’ yang mengerikan yang bisa ia lihat, namun tidak bisa dilihat oleh orang lain. Suatu hari, ia pindah dari Suncheon ke Seoul. Menempati rumah baru dan belajar di sekolah yang baru yang ternyata… ‘dihuni’ oleh makhluk lain. Tapi, di Seoul pula-lah Gongchan bertemu dengan Taemin, namja yang juga memiliki penglihatan ‘istimewa’, sama seperti dirinya.

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

HAPPY READING \(^O^)/

-Taemin’s POV-

Sepeninggal Gongchan, aku masih duduk di tempatku. Masih melakukan hal yang sama, memandangi wanita dengan bunga daisy di tangannya dari kejauhan. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Aku sangat merindukannya. Aku sangat merindukan eomma-ku.

Tapi….

“Nyonya Lee, ayo kembali ke kamar. Sekarang waktunya untuk Nyonya Lee beristirahat.”

Kulihat seorang suster menghampiri eomma-ku. Menuntun beliau berdiri dari duduknya, kemudian berjalan memasuki gedung rumah sakit. Aku terus memperhatikan punggung eomma-ku sampai ia melewati pintu.

Kalau bukan karena aku, eomma… pasti tidak akan seperti ini.

Hhh~

Begitu eomma masuk ke dalam rumah sakit, aku pun beranjak. Sedikit kuperbaiki letak ransel di punggungku sambil berjalan keluar dari area rumah sakit. Berjalan di bawah sinar matahari yang cukup terik.

Aku melirik jam tangan digital berwarna biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. 03.21 p.m. Ah, pasti… hyung sudah ada di rumahnya saat ini. Dia pasti sudah pulang dari tempat kerjanya.

Untuk kedua kalinya, aku memperbaiki letak ransel di punggungku.

Aku mau ke rumah hyung.

Sedikit bersemangat aku melangkahkan kakiku menapaki trotoar. Berjalan sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarku. Ne, hyung-ku punya rumah sendiri. Tepatnya, sebuah rumah yang ia sewa untuk dirinya. Dia sengaja melakukan ini karena alasan pekerjaan.

Letak rumah hyung-ku tidak begitu jauh dari rumah sakit jiwa tempat dimana eomma dirawat. Sekitar lima menit berjalan kaki, akhirnya aku bisa melihat pagar rumah hyung-ku dari kejauhan. Tapi…, sepertinya dia sedang ada tamu. Sebuah mobil terparkir di depan pagar rumahnya.

Aku tetap berjalan hingga aku berhenti tepat di depan rumah hyung. Berdiri di dekat mobil. Hmm, mungkin… untuk saat ini… aku tidak bisa melihat hyung-ku. Kalau begitu, sebaiknya aku pulang. Lain waktu saja aku… ke sini lagi.

Kulangkahkan kakiku beranjak dari depan rumah itu.

Bogoshippo, hyung-ah~

-End Of Taemin’s POV-

@@@@@

-Gongchan’s POV-

“Tok… tok… tok….”

Appa mengetuk jendela mobil, jendela yang berada tepat di sampingku setelah beliau keluar terlebih dahulu. Aku masih duduk di dalam mobil, tidak berniat untuk segera keluar. Jujur, aku sedikit merasa kecewa.

Kenapa appa melakukan ini padaku?

Apa dia benar-benar menganggap aku sudah setengah gila hanya karena aku sering mengatakan padanya bahwa aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa ia lihat?

“Tok… tok… tok….”

Appa mengetuk kaca jendela mobil sekali lagi. Kupencet tombol di sebelahku hingga membuat kaca jendela tersebut turun.

“Cepat keluar dari mobil, Gongchan-ah!” perintah appa.

Aku memandang ke arah depan. “Sirheo!”

“Gong Chan-sik!” Nada suara appa meninggi.

Kualihkan pandanganku ke arah appa. “Wae?” tanyaku.

“Apanya yang ‘kenapa’?” tanya appa tidak mengerti atau… pura-pura tidak mengerti.

“Kenapa kau membawaku ke sini?”

Appa menghela nafas. “Karena kau memang harus dibawa ke sini, Gongchan-ah. Appa sudah tidak tahan dengan apa yang kau katakan tentang hantu-hantu yang selalu datang dan mengganggumu. Pasti ada sesuatu yang salah padamu,” kata appa.

“Apa kau menganggap aku gila, Appa?” tanyaku denga nada lirih.

Appa tidak menjawab pertanyaanku, malah berkata, “Jangan buang waktu, Gong Chan-sik! Lekas keluar!”

Aku memejamkan mataku untuk beberapa detik, mencoba untuk menenangkan pikiranku. Perasaan sedih sedikit menyelimutiku. Tentu saja, appa-ku sendiri bahkan menganggap aku gila. Cih!

Tidak punya pilihan lain, aku pun beranjak keluar dari mobil. Appa berjalan di depanku dan aku mengikutinya menapaki pekarangan rumah tersebut. Tiba di depan pintu, appa menekan bel.

“TING TONG~”

A few minutes later

Berbeda dengan anggapanku, ternyata… Dr. Cho masih muda. Mungkin… usianya hanya terpaut 6 atau 7 tahun dariku. Perawakannya tinggi dan agak kurus. Rambutnya ikal berwarna coklat. Wajahnya agak tirus, lengkap dengan sebuah kacamata yang menghiasi wajahnya.

Setelah berbicara beberapa menit dengan appa, Dr. Cho pun mengajakku masuk ke dalam ruang prakteknya. Appa sendiri masih duduk di ruang tamu. Memberikan waktu kepada Dr. Cho untuk memeriksaku.

“Silakan masuk,” katanya mempersilahkan. Kulangkahkan kakiku memasuki sebuah ruangan yang luasnya sekitar 1,5 kali kamarku. Ruangan tersebut didominasi warna cokelat. Di dalamnya terdapat sebuah meja kantor dan kursinya. Lalu, di dekat jendela, terdapat sebuah sofa panjang dan sebuah kursi yang diletakkan tidak jauh darinya.

“Kau mau duduk?” tanyanya. Aku yang berdiri di dekat jendela, melihat ke arah taman samping rumahnya pun menoleh dan kudapati ia sedang duduk di kursi yang berada di dekat sofa lengkap dengan sebuah buku catatan dan sebatang pulpen.

Ani,” jawabku singkat seraya mengalihkan kembali pandanganku ke arah luar jendela.

Geurae…, aku pikir kau bukan orang yang suka berbasa-basi, kan?” tanyanya.

Aku tidak menjawab. Tapi, ne, dia benar.

“Jadi…, kau mau menceritakan padaku tentang masalahmu?” tanyanya.

“Untuk apa menceritakan masalahku padamu?”

“Agar aku bisa membantumu. Appa-mu mempercayakan kau padaku.”

Aku mendengus. “Cih! Meskipun aku ceritakan, kau tidak akan percaya. Kau pasti akan beranggapan sama dengan appa-ku. Kau pasti akan berpikir bahwa aku ini gila.”

“Kalau begitu… ceritakan padaku apa yang terjadi padamu sebenarnya agar aku tidak menganggap kau gila.”

“Kau tidak akan percaya, jadi… percuma saja aku katakan pada—”

“Kalau aku berjanji akan percaya padamu, kau mau menceritakannya padaku?” potongnya.

Kutolehkan kepalaku ke arahnya. Menatapnya untuk beberapa saat. Dalam hati, sebenarnya aku ingin menceritakan apa yang aku alami padanya, tapi… aku juga sedikit ragu. Apakah dia benar-benar akan percaya padaku? Ataukah…, ucapannya tadi hanyalah… ‘umpan’ agar… aku mau bicara?

“Aku berjanji akan percaya padamu. Karena itu, ayo, ceritakanlah masalahmu padaku agar aku bisa membantumu,” bujuk Dr. Cho, menangkap keraguan dalam diriku.

Kualihkan pandanganku ke arah jendela.

“Apa kau pernah mendengar ada orang yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain?” tanyaku.

“Maksudmu… orang yang bisa melihat… hantu?” tanya Dr. Cho memastikan.

Aku mengangguk pelan. “Ne.”

“Apakah… kau seperti itu?” tanyanya. Terdengar sangat hati-hati.

Lagi, aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, lalu mengangguk. Kulangkahkan kakiku menghampirinya, lalu duduk di sofa yang berada di dekatnya.

“Teruskan ceritamu,” pinta Dr. Cho.

Aku menghela nafas. Sepersekian detik kemudian, aku pun mulai menceritakan hal-hal yang selama ini aku alami padanya. Sesekali kulihat ia mencatat pada buku yang telah ia siapkan sejak tadi. Sesekali pula ia bertanya untuk memperjelas maksud dari ceritaku.

“Bagaimana menurutmu, Dr. Cho? Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku, menyudahi ceritaku padanya.

Dr. Cho menghela nafas sembari membaca catatan yang dibuatnya kala mendengar ceritaku. Tidak lama kemudian, ia menatapku. “Bisakah kau mencoba untuk melawan rasa takutmu?” tanyanya.

“Aku sudah pernah melakukan hal itu. Tapi, aku tidak bisa. Setiap kali mereka muncul, aku… aku tidak bisa menahan rasa takutku.”

“Kalau begitu…,” kata Dr. Cho, “Kita harus lebih sering bertemu setelah ini. Aku ingin mempelajari kondisimu lebih dalam,” tambahnya.

Aku mengangguk.

Geurae, ayo kita temui appa-mu,” ajak Dr. Cho seraya berdiri dari duduknya.

“Tunggu!” cegahku sambil mendongak untuk melihat wajahnya. Dr. Cho mengurungkan niatnya untuk melangkah, sedikit menundukkan pandangannya untuk balas melihat ke arahku. “Kau… percaya padaku, kan, Dr. Cho?”

Dr. Cho tersenyum. “Bukankah aku sudah berjanji akan percaya padamu?”

Aku mengangguk lagi. Tidak lama setelah itu, aku pun mengikuti Dr. Cho keluar dari ruangannya, lalu menghampiri appa di ruang tamu.

Langit telah berwarna jingga ketika aku dan appa keluar dari rumah Dr. Cho. Berjalan menuju mobil tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut masing-masing. Masuk ke dalam mobil hingga mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah, aku dan appa tidak saling bicara.

Marah?

Jujur, sebenarnya aku tidak marah pada appa-ku. Hanya saja… aku kecewa padanya. Sepeninggal eomma, satu-satunya orang yang aku harap bisa percaya padaku adalah appa-ku. Tapi, kenyataannya?

Beliau malah membawaku ke seorang psikolog.

“CKIIIT!”

Appa menghentikan mobilnya, membuat lamunanku terbuyarkan. Begitu aku sadar…, ternyata kami sudah tiba di depan rumah.

“Dengar, Gongchan-ah,” kata appa setelah ia mencabut kunci mobilnya, “Appa melakukan ini demi kebaikanmu, ara? Appa tidak pernah sekalipun berpikir bahwa kau gila,” tambahnya.

Aku tidak membalas ucapannya.

Setelah itu, appa pun bergerak keluar dari mobil, berjalan menuju rumah. Sudah tahu kebiasaan ketika aku sedang marah. Berdiam diri di dalam mobil, duduk sambil menyandarkan kepala pada kaca jendela, menatap pantulan diriku pada kaca spion samping.

“Appa melakukan ini demi kebaikanmu, ara? Appa tidak pernah sekalipun berpikir bahwa kau gila.”

Dua kalimat yang diucapkan appa sesaat sebelum ia keluar dari mobil, kembali terlintas di benakku.

Kalau beliau tidak menganggap aku gila, lalu kenapa beliau tidak percaya padaku? Kenapa beliau membawaku ke seorang psikolog sampai-sampai…, sampai-sampai… aku harus menceritakan apa yang sebenarnya aku alami pada psikolog yang baru saja aku kenal?

Hal yang aku butuhkan saat ini hanyalah sebuah kepercayaan.

Tapi, appa tidak memberikan hal itu padaku.

Dan… dan satu-satunya orang ‘normal’ yang percaya padaku tentang hal ini adalah… psikolog itu.

Ne, aku harap dia benar-benar percaya padaku dan segera mencari cara untuk menolongku. Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu kalau aku sudah tidak tahan dengan penglihatanku yang seperti ini. Entah apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tidak tahu!

Kualihkan pandanganku dari kaca spion ke arah depan. Sedikit terkejut, lagi-lagi aku mendapati sosok pria kumuh yang memandangi rumahku. Setiap aku pergi atau pulang sekolah, aku selalu mendapati pria itu berdiri di tempatnya, melakukan hal yang sama.

Apa… jangan-jangan… dia… melihat sesuatu di rumah?

Ma-maksudku…, apa dia… juga bisa melihat ‘penunggu’ rumahku?

Aku menelan ludah.

Aku bergerak keluar dari mobil, kemudian berjalan menghampiri pria itu. Dia menoleh ke arahku begitu menyadari jarakku dengannya sudah dekat. Pria itu menatapku sedikit ketakutan. Mungkin mengira aku akan melakukan tindakan kasar untuk mengusirnya.

Tiba-tiba, pria itu kabur.

“Ya, Tuan! Tunggu! Jangan lari!” teriakku. Terlanjur, pria itu sudah jauh di sana.

Jincca!

Dengan perasaan sedikit kecewa, aku memutar balik langkahku, berjalan menuju rumah. Hmm… mungkin besok pria itu akan datang lagi ke tempatnya. Dia pasti tahu sesuatu tentang rumah ini.

@@@@@

“Aku mau pergi ke minimarket sebentar,” pamitku pada appa, beberapa saat setelah makan malam.

Appa yang saat ini sedang duduk di sofa, menonton tayangan berita di televisi pun membalas, “Ne.”

Dengan jaket berwarna abu-abu yang membalut tubuhku, aku pun berjalan keluar dari rumah. Berjalan kaki menyusuri jalan yang di sisi kanan kirinya terdapat beberapa lampu yang menyala temaram. Suhu udara cukup dingin malam ini, membuatku menyelipkan telapak tanganku pada saku jaket.

Sekitar 5 menit berjalan, akhirnya aku tiba di sebuah minimarket. Cepat aku masuk ke dalam tempat itu untuk menghangatkan suhu tubuhku sembari membeli peralatan melukis dan beberapa makanan untuk persedian perkemahan akhir minggu.

“Gongchan-ssi?” Seseorang menyebut namaku. Kutolehkan kepalaku ke asal suara dan kudapati salah seorang teman sekelasku.

“Uh? Sungjong-ssi,” balasku, lalu tersenyum.

“Membeli peralatan untuk tugas seni, eoh?” tanyanya, lalu mengambil sekotak cat air dari tumpukan kotak cat air di rak peralatan sekolah.

Aku mengangguk. “Ne.”

Setelah itu, Sungjong pun beranjak ke rak yang lain. Rak bumbu makanan tepatnya. Mungkin ia disuruh oleh eomma-nya untuk berbelanja. Dari rak peralatan sekolah, aku berjalan ke rak cemilan, memasukkan beberapa bungkus cemilan ke dalam keranjang yang aku tenteng sejak tadi.

Setelah itu aku pun berjalan menuju kasir. Di sana, aku bertemu dengan Sungjong lagi.

“Woo, beli persiapan untuk perkemahan akhir minggu juga, eoh?” celetuk Sungjong ketika melihat keranjangku yang penuh dengan bungkusan cemilan.

“Begitulah,” jawabku singkat.

Saat ini giliran Sungjong yang sedang dilayani oleh kasir. Sembari menunggu kasir menghitung jumlah yang harus ia bayarkan, Sungjong mengajakku mengobrol. Ya, topik obrolannya tidak jauh-jauh dari kegiatan perkemahan akhir minggu yang akan dilaksanakan 2 hari lagi.

“Sebenarnya, perkemahan ini ditujukan untuk siswa kelas 1 saja. Cuma…, mungkin supaya lebih akrab, siswa kelas 2 dan kelas 3 juga diikutkan,” kata Sungjong.

“Bukannya kelas 3 tidak diikutkan?” tanyaku heran.

Kata Taemin Sunbae seperti itu, kan?

“Bagaimana, ya? Kalau sunbaedeul di kelas 3, boleh ikut, boleh tidak. Yaaah, semacam tidak diwajibkan  maksudku… hehe. Tahu sendiri, kan!? Mereka harus lebih fokus pada ujian Negara,” ujar Sungjong.

Aku mengangguk.

Tidak lama setelah Sungjong, sekarang giliranku. Dengan lincah si noona kasir menghitung belanjaanku. Begitu selesai, aku segera membayar belanjaanku, kemudian keluar dari minimarket bersama Sungjong.

“Oh, ya, kau sudah memutuskan untuk masuk di klub mana? Kau… kau sudah tahu klub-klub apa saja yang ada di sekolah, kan?” tanya Sungjong. Kami berdua berjalan menyusuri jalan raya sambil memegang kantong belanjaan masing-masing. Rumah Sungjong searah dengan rumahku.

Ne,” kataku, “Aku masuk di klub biologi. Sehun mengajakku,” jawabku.

“Oh, begitu. Aku pikir kau belum masuk klub mana pun. Aku baru mau mengajakmu masuk klub matematika… hehehe.”

“Sayang sekali, kau keduluan Sehun,” balasku.

Sambil berjalan, aku terus berbicara dengan Sungjong. Masih banyak hal di sekolah yang belum aku ketahui, termasuk tentang hantu yeoja bunuh diri itu. Tapi…, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal-hal seperti itu. Ini sudah malam.

“Oh, ya, rumahmu di blok mana, Gongchan?” tanya Sungjong lagi.

“Mm… Blok B1 nomor A4,” jawabku.

Tiba-tiba Sungjong berhenti berjalan. Sontak membuatku ikut berhenti juga. Kulihat Sungjong menatapku terkejut.

“Sungjong-ah, gwaenchana?” tanyaku.

“Kau… tinggal di rumah itu?” Sungjong malah balik bertanya dengan nada tidak percaya. Aku mengangguk.

Ne. Waeyo?” tanyaku heran.

Sungjong menatapku beberapa saat, hingga sepersekian detik kemudian, mimik wajahnya berubah, seolah tidak terjadi apa-apa. “Ah, aniya. Lupakan! Oh, ya, rumah yang bercat ungu itu rumahku. Lain kali kau harus mampir, ara? Eomma-ku sangat suka membuat kue. Aku jamin kau pasti suka,” ucap Sungjong, lalu segera berlari ke rumahnya.

Tanpa sadar, kugaruk pipi kiriku dengan jari telunjuk.

A-Apa… apa di rumah itu memang ada sesuatu?

Dan…, apa mungkin Sungjong tahu apa yang ada di rumah itu?

“Uhuk!” Terdengar suara batuk. Lekas aku menoleh ke belakang, melihat siapa yang batuk itu. Tapi…, aku tidak melihat seorang pun di belakang. Tidak ada satu orang pun di jalan ini selain aku.

Merasa tidak enak, aku mulai melangkahkan kakiku. Kutajamkan pendengaranku dan kedua mataku sesekali bergerak memperhatikan sekitarku. Suasana begitu sepi di sini. Sangat sepi. Membuat jantungku berdetak cepat.

“KLONTANG~”

Suara kaleng yang jatuh.

Cepat kuhentikan langkahku, kemudian menoleh ke belakang. “Halo? Siapa di sana?” teriakku. Mataku memperhatikan jalan di belakang, namun tetap tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya… ada tiang lampu jalan.

Kuputar balik tubuhku, lalu mulai berjalan lagi. Berjalan lebih cepat sembari memeluk belanjaanku. Sesekali aku berlari kecil. Dan…, ya… memang terdengar suara langkah kaki seseorang selain aku.

Benar-benar ada orang yang mengikutiku.

Tapi, untuk apa?

Mau menculikku?

Aku semakin mempercepat langkahku. Tinggal 2 belokan lagi, aku akan tiba di rumah. Kaki kiri dan kananku terlihat seperti sesuatu yang saling adu cepat. Beberapa kali aku sengaja menoleh ke belakang dan mataku menangkap sekelebat bayangan seseorang.

Tidak salah lagi, ada seseorang yang mengikutiku.

Melihat rumah bercat abu-abu—rumahku, aku segera berlari. Kututup rapat-rapat pintu pagar yang tingginya hanya sebatas dadaku, kemudian berjalan menuju pintu. Aku masuk ke dalam rumah dalam keadaan nafas tersengal.

“Kau kenapa, eoh?” tanya appa yang masih duduk menonton televisi.

Aku menggeleng. “Hhh… A-Aniya.”

Setelah menjawab pertanyaan appa, aku bergegas menuju kamarku. Menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Kulangkahkan kakiku menghampiri meja belajar, meletakkan belanjaanku di sana. Tidak lama setelah itu, kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur, berbaling terlentang menghadap langit-langit kamar.

Siapa yang mengikutiku tadi?

Dan… untuk apa dia mengikutiku?

Mau menculikku dan meminta uang tebusan pada appa, eoh?

Aish! Jincca!

Baru berapa hari tinggal di Seoul, aku hampir diculik seperti ini!

@@@@@

“PRAAAANG!”

Aku menggeliat pelan di atas tempat tidur. Terbangun begitu mendengar suara sesuatu yang pecah. Kukerjap-kerjapkan mataku beberapa kali hingga nyawaku terkumpul sepenuhnya. Kuambil posisi duduk di atas tempat tidur, melirik jam yang berada di atas meja dekat lampu. Jam 00.12 a.m.

“Kau sebut ini makanan, eoh? Ini sampah!” Terdengar suara pria membentak seseorang.

Eh, suara siapa itu? Appa-kah?

“Huhuhu… mianhae yeobo. Mianhae.” Kali ini terdengar suara wanita yang meminta maaf sambil menangis.

Kulit dahiku berkerut. Siapa wanita itu? Tidak mungkin appa membawa seorang wanita ke rumah. Apa mungkin… itu suara dari tetangga? Tapi, kenapa kedengarannya begitu jelas?

“BUKH! BUKH! BUKH!”

Appo…, yeobo. Appo… huhuhu… appo….”

Ini bukan suara tetangga! Suara ini… suara ini… seperti… berasal dari… dapur!?

Ah! Tidak! Aku pasti salah! Ini pasti suara tetangga!

“Huhu… appoappo… yeobo… appo.”

“Kau istri tidak berguna! BUKH! BUKH!” Aku menelan ludah. Suara itu benar-benar berasal dari dapur di rumah.

Cepat aku kembali dalam posisi berbaring, menutup sekujur tubuhku dengan selimut. Nafasku kembali tersengal dan lagi-lagi jantungku berdetak cepat. Kumiringkan tubuhku ke arah kanan, lalu kugunakan bantal untuk menutupi telinga kiriku. Aku tidak ingin mendengar suara aneh itu!

Sambil menenangkan diri di dalam selimut, mulutku tidak henti berdoa pada Tuhan. Memohon untuk menghilangkan suara-suara aneh itu dari rumah. Sungguh, aku tidak ingin mendengar hal itu. Aku tidak ingin membuat diriku semakin tertekan. Sungguh.

Siapa pun, aku mohon hentikan suara itu.

“BRAAAAK!”

Pintu kamarku didobrak oleh seseorang. Sukses membuat jantungku semakin berdetak cepat dan kedua mataku melotot. Siapa yang membuka pintu kamarku?

“SREET!”

Selimutku disibak oleh seseorang, membuatku terkejut. Kubalikkan badanku dan kudapati sosok pria yang tidak aku kenal tengah menatapku geram sambil memegang sebuah gunting di tangan kanannya. Mau apa dia dengan gunting itu?

“BANGUN, ANAK NAKAL!” bentaknya padaku.

“Kau siapa, eoh?” tanyaku bingung.

Tanpa menjawab pertanyaanku, pria itu dengan kasar menarik bagian leher bajuku, membuatku dalam posisi duduk di atas tempat tidur. Apakah… apakah ini pria yang bersuara tadi?

“K-Kau mau apa, eoh?” tanyaku ketakutan. Pria itu tersenyum menyeringai.

Yeo-yeobo!”

Tiba-tiba, seorang wanita berambut panjang—yang juga tidak aku kenal—berdiri di ambang pintu, menatapku sayu. Wanita itu terlihat babak belur. Luka lebam tampak menghiasi beberapa bagian wajahnya. Bahkan…, dahi sebelah kirinya mengeluarkan darah.

Pria itu menoleh ke arah wanita tersebut.

“Kau boleh lakukan apapun padaku, tapi tolong jangan lukai Hyunwoo,” ucap wanita itu dengan nada memelas.

Hyunwoo?

Tunggu! Nama itu… nama itu tidak asing bagiku.

Dimana aku pernah mendengarnya?

Pria itu menoleh ke arahku, menatapku beberapa detik, lalu menoleh ke arah wanita itu lagi. “Jadi, kau ingin menukar nyawamu demi anak ini, eoh?” tanya pria itu.

Wanita itu mengangguk pelan. “Ne, aku mohon lepaskan dia. Jangan lakukan apapun pada anak kita,” ucap wanita itu sambil menangis.

“Anak kita?” ulang pria itu, “Hyunwoo bukan anakku! Hyunwoo adalah anakmu dan pria busuk itu, kan?” bentak si pria. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Jika aku bergerak, aku takut pria ini tiba-tiba menusukku dengan guntingnya. Hingga…, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah menyimak pembicaraan mereka dalam keadaan takut.

“Hyunwoo itu anakmu!” kata si wanita. “Dia anak kita,” lanjutnya lagi.

“Bukan! Kau bohong padaku! Kau kira aku tidak tahu kau pernah tidur dengan pria itu, kan? Dan Hyunwoo adalah hasil dari perbuatan kotor kalian! Aku tahu itu!”

“Hyunwoo anak kita, yeobo. Hyunwoo… anak kita,” ucap wanita itu, berusaha meyakinkan si pria.

Pria itu semakin terlihat geram. Ia menoleh padaku, menatapku dengan tatapan seolah ia ingin membunuhku. Dia pun mengangkat guntingnya, benar-benar terlihat ingin membunuhku. Dalam satu gerakan cepat, ia mengarahkan bagian tajam gunting tersebut ke arahku dan—

“AAAAAA!!!”

“GONGCHAN-AH! NEON GWAENCHANAYO? YA! GONG CHANSIK!” Kudengar teriakan seseorang. Aku terbangun.

Aish! Ternyata barusan hanya mimpi.

Neon gwaenchana?” Seorang namja duduk berjongkok di hadapanku. Taemin Sunbae.

Aku menggeleng pelan. “Aniya, Sunbae,” jawabku.

“Kenapa kau tidur di sini, eoh? Kalau kau sakit, pergi ke UKS atau izin pulang cepat saja,” nasehatnya.

Ne, Sunbae,” jawabku singkat.

Saat ini, aku berada di loteng tempat aku berbicara dengan Taemin Sunbae beberapa hari yang lalu. Aku sengaja ke tempat ini karena Moon Sonsaengnim tidak mengajar. Dari pada aku duduk diam di kelas, aku memutuskan untuk ke tempat ini. Tapi…, ternyata aku malah ketiduran dan mimpi buruk. Jincca!

“Kau… kau tadi mimpi buruk, ya? Suara teriakanmu keras sekali,” kata Taemin Sunbae seraya berdiri—menyelipkan kedua telapak tangan pada saku blazer-nya.

Duduk sambil bersandar pada dinding pembatas, aku mendongak untuk melihat wajah Taemin Sunbae, kemudian menjawab, “Ne.”

Taemin membalik tubuhnya, menyandarkan tubuh bagian depan pada dinding—masih dalam keadaan berdiri—dengan kedua tangan dilipat di atas dinding. “Tentang hantu?” tanyanya tanpa melihat ke arahku.

“Sepertinya… begitu,” jawabku ragu. Tidak lama setelah itu, aku pun berdiri di dekat Taemin Sunbae, menghadap ke arah lapangan basket. “Rumahku… ada ‘penunggunya’, Sunbae,” tambahku.

“Penunggu?” ulang Taemin Sunbae, melihat ke arahku.

Aku mengangguk. “Seorang wanita berambut panjang dan… anak kecil, Sunbae,” kataku, balas melihat ke arahnya. “Rumah yang dibeli appa dari seorang agent property. Menurut informasi dari agent property itu, rumah tersebut… ‘baik-baik saja’, tapi… aku malah merasa sebaliknya. Da-dan lagi…, aku rasa… Sungjong tahu sesuatu tentang rumah itu,” tambahku.

“Siapa Sungjong?”

“Teman sekelasku, Sunbae,” jawabku. “Semalam aku bertemu dengannya di mini market dekat rumah. Kami pulang bersama, tapi… begitu aku menyebut alamat rumahku… dia… terlihat aneh. Seperti… menyembunyikan sesuatu,” jelasku.

“Mungkin dia tahu sesuatu tentang rumahmu. Apa kau tidak menanyakannya?”

Aku mendesah pelan. “Aku sudah menanyakannya, Sunbae. Bahkan, pagi tadi pun… aku menanyakan hal itu. Sayangnya…, Sungjong tidak berniat memberitahuku apa yang ia ketahui tentang rumahku. Dia malah… mengalihkan topik pembicaraan,” jawabku. “Bagaimana menurutmu, Sunbae? Apa yang harus aku lakukan?”

Taemin Sunbae mengalihkan pandangannya ke arah depan. “Ada beberapa hal yang mungkin… sebaiknya tidak kau ketahui dan… kau harus membiarkannya tetap seperti itu,” jawabnya, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arahku.

Aku sedikit bingung. “Jadi…, menurutmu… sebaiknya aku diam saja, begitu? Bukan… mencari tahu apa yang terjadi di rumah itu sebelumnya?

Taemin Sunbae mengangguk. “Biarkan semuanya mengalir, Gongchan-ah. Cepat atau lambat, ‘mereka’ pasti… akan memberitahukan padamu tentang apa yang terjadi pada mereka.”

“Memberitahu aku?” tanyaku heran. Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Melihat mereka saja, aku sudah ketakutan setengah mati. Apalagi jika harus berbicara. Hah! Mungkin aku bisa jatuh pingsan.

Ne. Tidakkah kau berpikir bahwa… mereka menunjukkan diri padamu karena… mereka ingin meminta bantuanmu?”

Aku terdiam. Kubiarkan otakku mencerna ucapan Taemin Sunbae barusan. Benarkah seperti itu? Apa… apa maksud dari kemunculan ‘mereka’ karena… karena mereka ingin mengatakan sesuatu padaku?

Kalau benar…, apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku menatap Taemin Sunbae dalam-dalam. “Kalau benar mereka ingin meminta bantuanku, lalu—”

“TEEEEEEEEEET!”

Suara bel membuatku menghentikan ucapanku.

“Ah! Sudah waktunya masuk kelas,” gumam Taemin Sunbae seraya berbalik, kemudian melangkah menuju tangga.

“Tu-Tunggu, Sunbae. Ucapanku belum selesai,” ujarku, menyusul Taemin Sunbae yang telah menuruni tangga.

“Hari Senin saja, ara? Sekarang waktunya pulang. Aku harus cepat. Ada yang ingin aku kerjakan. Lagi pula, kau akan mengikuti perkemahan akhir minggu, kan? Lebih baik kau segera pulang dan bersiap-siap,” katanya, lalu berjalan meninggalkanku.

Aish! Jincca!

“KEPADA SELURUH SISWA KELAS 1 & 2 DIHARAPKAN UNTUK MENGIKUTI PEMBUKAAN PERKEMAHAN AKHIR PEKAN HARI INI PUKUL 16.30.”

Kulihat jam di pergelangan tangan kananku. Pukul 16.30 itu sekitar… 2 jam lagi. Ck! Sebaiknya…, sekarang aku ke kelas mengambil tas, kemudian… pulang. Huft, sekarang… aku harus fokus pada acara perkemahan sekolah.

@@@@@

Acara pembukaan baru saja selesai. Seluruh siswa pun kembali berkumpul dengan teman sekelas masing-masing, bekerja sama mendirikan tenda di atas area tanah kosong di bagian belakang sekolah.

“Ya! Gongchan-ah, tarik talinya lebih kencang,” tegur Sehun.

N-Ne,” ucapku singkat.

“Minhwan-ah, kau juga,” tambah Sehun.

Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku jarang, bahkan tidak pernah sama sekali mengikuti kegiatan sekolah seperti ini. Karena itu, disuruh mendirikan tenda pun aku tida bisa. Untungnya, beberapa teman sekelas yang sudah cukup dekat denganku, mau membantu. Lagi pula, mendirikan tenda memang harus dikerjakan bersama-sama, kan?

Langit mulai gelap ketika aku dan siswa-sisiwa lain di kelas 2.3 selesai mendirikan 4 buah tenda. Sembari menunggu Kim Sonsaengnim dan para siswi membuat makan malam, aku dan beberapa teman duduk di dalam sebuah tenda untuk siswa.

“Nanti malam pasti akan seru sekali,” ucap Minhwan memulai pembicaraan.

“Halah, bilang saja kau pasti mau menakut-nakuti siswi kelas 1, kan?” tebak Sehun. Minhwan terkekeh.

“Memang nanti malam… ada acara apa, eoh?” tanyaku.

Sehun dan Minhwan melihat ke arahku. “Jerit malam. Setelah makan malam nanti, para siswa akan dipisah berdasarkan klub yang mereka ikuti. Nah, disitulah para sunbae yang memegang ‘kendali’ hehehe,” jelas Minhwan.

“Kau tenang saja, Gongchan-ah. Klub biologi tidak ikut dengan kegiatan jerit malam, jadi… kau tidak usah takut, eoh,” kata Sehun.

“Aish! Klub biologi memang tidak menarik, Gongchan-ah. Lebih baik kau pindah ke klub-ku, eoh. Klub Musik,” ujar Minhwan, disambut tabokan yang cukup keras dari tangan Sehun. “Akh!” Minhwan meringis.

“Jangan dengarkan dia, Gongchan-ah,” ujar Sehun.

Minhwan mencibir. Tidak lama setelah itu, dia berkata, “Semoga saja nanti malam tidak ada kejadian seperti tahun lalu.”

Aku dan Sehun pun mengalihkan perhatian padanya.

“Kejadian apa?” tanyaku penasaran.

Minhwan melirik Sehun, seperti meminta persetujuan Sehun untuk menceritakan kejadian tersebut padaku. Namun, Sehun malah berdiri dari duduknya, kemudian beranjak keluar dari tenda seraya berkata, “Aku mau mengecek tenda yang lain.”

Tingkahnya sedikit aneh.

Aish! Gongchan-ah, kau memikirkan apa, eoh? Sehun kan ketua kelas. Sudah sewajarnya dia juga mengecek ketiga tenda kelas yang lain.

Sepeninggal Sehun, aku kembali mengulang pertanyaanku, “Minhwan-ah, tahun lalu ada kejadian apa, eoh?”

Minhwan mendekat padaku, kemudian memulai ceritanya. “Tahun lalu, saat acara perkemahan akhir minggu seperti sekarang, seorang siswi kesurupan!”

Kedua mataku melotot. “Kesurupan?” ulangku.

Minhwan mengangguk mantap, lalu berkata, “Ne. Siswi itu dirasuki hantu Soyeol Sunbae.”

“Soyeol Sunbae? Nugu?” tanyaku lagi.

“Kau tidak pernah mendengar cerita tentang kasus siswi bunuh diri di sekolah ini, eoh?” Minhwan balik bertanya dan pertanyaannya itu membuatku teringat pada sesuatu.

Siswi yang bunuh diri. Jangan-jangan…, Soyeol Sunbae yang dimaksud Minhwan adalah hantu perempuan yang aku temui di toilet beberapa hari yang lalu. Juga yeoja yang aku lihat di kuda-kuda koridor.

Sudah kuduga, pasti ada yang tidak beres di sekolah ini.

“Gongchan-ah, kau masih mendengar ceritaku, eoh?” Minhwan membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk sambil gelagapan. “N-Ne.”

Tidak lama setelah itu, Minhwan melanjutkan ceritanya. Kusimak ceritanya dengan seksama. Setidaknya, ada sedikit informasi yang aku ketahui tentang hantu itu. Karena, ada kemungkinan… ‘dia’ akan menampakkan dirinya padaku.

Dari cerita Minhwan, Shin Soyeol Sunbae seorang siswi yang cukup terkenal di kalangan namja. Bahkan, dia terpilih sebagai ‘the prettiest sunbae’ saat acara MOS tahun lalu. Beberapa bulan setelah kegiatan MOS diadakan, tersiar kabar kalau… Soyeol Sunbae hamil. Katanya…, dia dihamili oleh namjachingu-nya.

Aigoo, apa karena itu dia bunuh diri?”

Minhwan menggidikkan bahunya. “Nado molla. Bisa saja karena itu,” ucap Minhwan.

“Ya! Kalian berdua,” seseorang membuka pintu tenda. Sungjong. “Sudah waktunya makan. Ppalli! Nanti kalian tidak kebagian,” ucapnya, lalu beranjak.

“Tidak usah dipikirkan, Gongchan-ah. Semoga saja kejadian kesurupan itu tidak terulang lagi,” kata Minhwan seraya berdiri dari duduknya. “Kkaja, kita keluar.”

Aku pun berdiri, kemudian mengikuti Minhwan keluar dari tenda. Walaupun ia berkata, ‘tidak usah dipikirkan’, aku malah semakin memikirkan kejadian tersebut. Bagaimana kalau malam ini… ada yang kesurupan lagi. Atau yang lebih buruk, aku… bertemu dengan hantu Soyeol Sunbae.

Ah! Aku harap hal itu tidak terjadi.

@@@@@

Suasana makan malam yang terasa begitu menyenangkan untukku. Ne, lagi, ini pertama kalinya aku makan bersama dengan orang orang banyak di alam terbuka. Mengelilingi api unggun di tengah lapangan.

“Aaah~ kenyangnya~~” seru Minhwan yang duduk di sebelahku sambil mengelus-elus perutnya.

Tidak kupedulikan ucapan Minhwan yang mengatakan dirinya kekenyangan. Sibuk dengan sepiring nas beserta lauk-pauknya, hasil buatan Kim Sonsaengnim dan para siswi di kelas. Rasanya tidak terlalu buruk untuk makan malam di acara seperti ini.

Sambil mengunyah, sesekali aku melihat orang di sekitarku. Semuanya tampak menikmati acara makan malam ini. Tapi…, dimana orang itu? Sejak tadi…, keluar dari tenda… dia tidak pernah kelihatan.

“Ya! Minhwan-ah, apa kau melihat Sehun?” tanyaku, melihat ke arah Minhwan.

Namja yang tengah meneguk air dari botol plastik yang dipegangnya pun menoleh padaku. Tidak langsung menjawab, namun membiarkan air minumnya itu membasahi tenggorokannya terlebih dahulu. “Aniya. Sejak dia keluar dari tenda, aku tidak melihatnya.”

“Gongchan-ah, Minhwan-ah, apa kalian melihat Sehun?” Kali ini Kim Sonsaengnim yang bertanya. Beliau berdiri di depan kami, membuat kami mendongak untuk bisa melihat wajahnya.

Aniya, Sonsaengnim,” jawab Minhwan.

Sambil melihat-lihat sekitar, Kim Sonsaengnim pun berkata, “Kalau kalian melihatnya, suruh dia bertemu dengan Sonsaengnim, ara?”

Ne, Sonsaengnim.”

Kim Sonsaengnim pun beranjak. Walaupun belum cukup seminggu mengenalnya, tapi… hari ini aku merasa Sehun agak aneh. Kenapa dia tiba-tiba menghilang seperti ini? Dan lagi…, kenapa waktu itu…, waktu Minhwan mau menceritakan tentang kejadian tahun lalu, Sehun… seperti menghindar.

Apa… dia tahu sesuatu?

“Biar aku coba menghubungi anak itu,” kata Minhwan, lalu mengeluarkan HP dari saku jaketnya. Jari jempol kanannya dengan lincah menekan keypad, kemudian merapatkan HP-nya ke telinga kiri.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan hubungi beberapa saat lagi.”

“Nomornya tidak aktif,” seru Minhwan seraya memasukkan benda itu kembali ke dalam saku jaketnya. “Gongchan-ah, ppalli, habiskan makananmu. Setelah itu kita cari Sehun.”

Aku mengangguk. Sedikit terburu-buru aku menghabiskan makan malamku. Setelah itu, aku dan Minhwan beranjak ke tenda untuk mengambil senter, kemudian mulai mencari si ketua kelas, Oh Sehun.

Menyusuri koridor sekolah sambil memperhatikan siswa-siswi dari kelas yang masih menikmati makan malamnya. Beberapa di antara mereka juga berjalan menyusuri koridor, sepertinya menuju toilet atau tempat lain.

Keluar dari area tenda didirikan, aku dan Minhwan mulai menyalakan senter. Memeriksa bagian dalam deretan kelas 2 yang kami lewati dengan menyorotkan senter ke celah jendelanya.

“Aish! Sehun-ssi, eodigayo? Menyusahkan saja,” gerutu Minhwan. Hampir sepanjang pencarian, Minhwan terus menggerutu seperti itu.

Aku menyorotkan senter ke arah lain, arah yang berlawanan dengan arah sorotan senter Minhwan. Mencari-cari Sehun yang mungkin saja duduk di bangku taman di depan kelas. Tapi, sepertinya… dia tidak di sini.

“Ya! Kita cari di tempat lain,” ajakku.

Kami pun beranjak ke tempat lain, deretan kelas 3. Karena tempatnya sedikit jauh dari ‘peradaban’, aku sedikit merasa ketakutan ketika berjalan menyusuri koridornya.

“Ya! Menurut desas-desus yang beredar, Soyeol Sunbae kadang menampakkan dirinya sedang duduk di dalam kelasnya, lho.”

Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Minhwan. Kenapa dia malah menceritakan hal-hal menyeramkan di saat-saat seperti ini, eoh?

“Sebentar lagi kita lewat di kelasnya. Kelas 3.2,” ujar Minhwan sambil menyorotkan senternya pada papan kelas yang akan kami lewati, kelas 3.5. Sambil berjalan, Minhwan kelihatan sangat santai. Sempat terlintas di pikiranku, apa Minhwan ini orang yang pemberani?

Jincca!

Pengaruh ucapan Minhwan beberapa detik lalu, perasaan takut perlahan menyelimutiku. Entah…, ini perasaanku saja atau… angin tiba-tiba bertiup agak kencang saat ini. Kusorotkan senter ke arah pohon yang rantingnya bergerak-gerak ditiup angin. Menimbulkan suara gesekan dahan yang… menurutku sedikit seram.

“Sehun-ah, kau di sini, eoh?” Minhwan berteriak. Masih tetap berjalan dengan santai.

Kusorotkan senterku ke arah papan nama kelas. Kelas 3.3. Berarti—

“Ya! Sebentar lagi kita lewat di kelas 3.2,” kata Minhwan semangat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang ini.

Minhwan berjalan sedikit di depanku. Benar-benar sangat bersemangat ingin melihat keadaan di kelas 3.2 saat malam hari. Sementara itu, aku sengaja memperlambat langkahku. Sama sekali tidak berniat melewati kelas 3.2 itu.

Semakin dekat jarak antara aku dengan kelas 3.2 itu, jantung kembali berdebar kencang. Nafasku mulai tersengal dan keringat dingin perlahan mengucur di pelipisku. Minhwan berteriak memanggilku, menyuruhku mempercepat langkah agar bisa menghampirinya yang saat ini tengah mengintip ke dalam ruang kelas 3.2.

“Kelasnya kosong. Tidak ada penampakan,” ucapnya.

Aku sudah berdiri di samping Minhwan. Sengaja mengambil posisi membelakangi kelas. Pura-pura sibuk menyorotkan senter ke arah taman kelas 3.2. Beberapa detik kemudian, kurasakan Minhwan menarik-narik lengan bajuku.

“Ya! Ya! Kau lihat itu, Gongchan-ah? Ada sesuatu di dalam,” ujar Minhwan. Aku masih tetap tidak mau berbalik.

“Aku… aku mau mencari Sehun di kelas sebelah,” kataku, lalu beranjak menuju kelas 3.1, kelas paling ujung.

Tiba di kelas 3.1, aku langsung menyorotkan senterku ke dalam kelas dan… satu hal yang aku lihat sukses membuatku menjatuhkan senter yang aku pegang.

“Ya! Kau kenapa, eoh?” Minhwan menghampiriku.

Terburu-buru aku mengambil senterku yang terjatuh. “A-Aniya. G-Gwaenchana. Kkaja. Pergi dari sini. Sehun sepertinya tidak ada di sini,” ucapku, berbalik menyusuri koridor kelas 3, mendahului Minhwan.

Namja itu kemudian menyusulku, lalu bertanya, “Wae? Kau melihat sesuatu di dalam, eoh? Hantu Soyeol Sunbae?” tanyanya penasaran begitu ia berjalan di sampingku.

Sambil menunduk, aku menggeleng.

Tapi…, sejujurnya… apa yang dikatakan Minhwan benar. Aku… memang melihat Soyeol Sunbae di dalam. Duduk di meja baris ketiga yang berdekatan dengan jendela di sisi sebelah sana. Duduk dengan kepala menunduk. Rambut panjangnya sehingga aku tidak melihat wajahnya.

Mungkin… dia sebenarnya bukan di kelas 3.2, tapi… kelas 3.1.

Rumor tentang kelasnya saja salah, mungkin… rumor tentang alasan ia bunuh diri karena dihamili oleh namjachingu-nya… juga salah.

Entah apa yang dilihat oleh Minhwan di kelas 3.2 tadi. Mungkin…, dia hanya membual. Berniat menakut-nakutiku.

“Ya! Gongchan-ah, itu Sehun!” Minhwan menyorotkan senternya pada sosok namja yang duduk membelakangi kami. Seorang namja yang duduk di bangku yang berada di pinggir lapangan tenis. Di sana tidka terlalu gelap karena ada lampu taman yang menyala temaram.

Minhwan membuka mulut, berteriak memanggil Sehun, “SE—!@#$.”

“Tunggu!” Namun aku langsung membungkam mulutnya dengan telapak tanganku. Mungkin tidak cukup 2 detik aku membungkam mulutnya, Minhwan langsung menurunkan telapak tanganku, kemudian melihatku heran.

Waeyo?”

“Biar aku yang menemui Sehun. Kau kembali ke tenda saja,” kataku.

Wae?” Minhwan masih bertanya.

“Ada yang ingin aku bicarakan dengannya,” kataku, lalu mulai berjalan menghampiri Sehun. Aku sengaja melangkah perlahan, tidak ingin membuatnya terkejut dengan kehadiranku. Begitu jarak kami sudah dekat, barulah aku memanggilnya.

“Sehun-ah?”

Namja yang tengah duduk sambil menatap kedua kakinya pun menoleh padaku. Aku bisa menangkap ekspresi wajah datarnya di tengah penerangan yang tidak begitu baik.

“Apa yang kau lakukan di sini, eoh?” tanyaku basa-basi sembari mengambil tempat di sampingnya.

Namja itu kembali menatap kedua kakinya. Diam.

“Kim Sonsaengnim mencarimu tadi,” kataku. “Apa kau sudah makan, eoh?”

Sehun masih diam. Aku menghela nafas. Tidak lama setelah itu, aku pun berdiri.

“Ya, sudah. Aku mau kembali ke tenda. Kau tidak akan takut kan kalau hantu Soyeol Sunbae menganggumu?” Aku bermaksud menggodanya, tapi—

“JANGAN SEBUT NAMA ITU!” bentak Sehun. Pertama kalinya aku mendengar Sehun berbicara dengan nada bentakan seperti barusan. Aku terkejut.

Wae?” tanyaku kemudian. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu antara Sehun dan… Soyeol Sunbae.

Sehun perlahan mendongakkan kepalanya, melihatku yang sedang berdiri. “Duduklah,” ucapnya. Aku pun kembali duduk di tempatku semula.

“Apa… kau tahu sesuatu tentang… Soyeol Sunbae, Sehun-ah?”

Namja itu menatapku beberapa detik, kemudian mengangguk pelan. “Soyeol Sunbae adalah… mantan yeojachingu-ku.”

MWO?

TBC (>/\<)-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

A/N: Untuk hari Selasa tanggal 6 Agustus dan tanggal 13 Agustus, aku gak nge-post, ya? Berhubung di situ lagi musim mudik, otomatis dunia per-blog-an pasti sepi #sotoy. Chapter 4 dari FF ini baru aku publish tanggal 20 Agustus 2013.

Iklan

20 thoughts on “(IN)VISIBLE [Chap.3]

  1. huft, sukses sport jntung lg disini.. 😮
    aduh merinding dech baca’a..
    hmm, bisa diskip aja ga c bagian yg nyariin sehun di kelas 3??
    tuch kan, ngetik komen aja pk mrinding kaya gini.. x_x
    saeng tanggung jawab ya kl sampe malem ini Eonni ga bisa tidur.. >,<

  2. unni koment dulu yak xD.
    1. jujur ya unn, aku agak akward pas ngebayangin kyuhyun jadi dokter *ditimpuk unni* haha, entahlah jatohnya akward gtu soalnya kyu biasanya karakternya agak gmana gitu di ff2 lain. tapi, aku suka kayak nemu sisi lain kyu gtu.
    2. aw my lemon candy magnae, kamu muncul nak? kenapa sok misterius gitu gamau critain makna dibalik rumah gongchan? biasanya kan kamu suka menyingkap gosip :v
    3. sungjong, kyu, taemin, tehun, wkwkwk, unni demen narik magnae nih *kedip2* kalau siwan ama gongchan itu magnae atau bukan ya unn? aku gatau sih.
    finally, 4. unni, tanggal 20? kenapa lama sekali >.< padahal ini hot banget lanjutannya. huhu penasaran.
    fighting un~~

    1. 1. Iya. Banyak yang heboh(?) pas baca Kyu jadi dokter. Memang apa salahnya kalo dia jadi dokter> ._.a
      Ne~ Bosan ah kalo Kyu karakternya evil melulu -_-
      2. Hahaha… tuntutan skenarion. Sungjong laghi pengen main rahasia2an 😀
      3. Iya, memang di FF ini pemainnya magnae semua 😀
      Gongchan magnae. Siwan? Perasaan di FF ini gak ada yang bernama Siwan. Yang ada Minhwan, magnae FT Island.
      4. Heheh… iya, saeng. Mianhae ya~

        1. siwan zea yang mana aja aku gatau ._. wkwkw ak kurang knal zea unn. taunya kwanghee doang itupun gara2 dia kmaren ngalay bareng woohyun di twitter.

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s