REMEMBER

REMEMBER

REMEMBER

Rating: PG-13

Length: Oneshot

Genre: Romance, Drama

Main Characters: (SHINee) Jinki/Onew, (OC) Cho Sena & (SuJu) Sungmin

Minor Characters: All TRAX members, (SNSD) Sooyoung, (A-Pink) Bomi & (SuJu) Shindong

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is mine. Artist character belong to God, himself/herself, his/her parents and his/her agency.

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

HAPPY READING \(^O^)/

Hujan turun begitu deras dan tidak sedikit pun muncul tanda-tanda hujan ini akan segera reda. Aku merapatkan jaket yang aku kenakan. Brr… dingin. Aku bersiap untuk berlari ke arah halte bis dari gerbang kampus. Di sana juga terdapat beberapa mahasiswa di kampusku yang sedang menunggu hujan reda. Hana… dul… set…. Aku segera berlari sambil memeluk beberapa diktat agar tidak terkena air hujan.

“Love you more…love you more….”

Aku mendengar HP-ku berdering. Kupeluk diktat-diktatku dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan aku gunakan untuk merogoh HP di saku celanaku. Aku melihat tulisan yang tertera di layar : Nae Jagiya.

Yoboseyo?”

Yoboseyo. Apakah Anda Cho Sena?” Terdengar suara seorang lelaki di seberang sana, tapi itu bukan suara namjachingu-ku.

Ne. Mianhae,  Anda siapa? Dimana Sungmin Oppa?” tanyaku.

“Saya Shin Donghee, polisi lalu lintas. Sungmin-ssi sekarang berada di rumah sakit. Beberapa saat yang lalu ia mengalami kecelakaan. Sekarang keadaannya sangat kritis dan ia terus mengigau menyebut nama Anda. Bisakah Anda ke Seoul Hospital sekarang?”

“PRAAKKKK….”

Seperti ada petir yang menyambarku. HP yang aku genggam terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah bersama diktat-diktatku. Tubuhku bergetar hebat. Sungmin Oppa kecelakaan dan sekarang dia kritis. Aku seperti kehilangan kendali terhadap diriku. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah Sungmin Oppa. Tanpa pikir panjang aku berlari di tengah hujan menuju Seoul Hospital. Untunglah Seoul Hospital tidak begitu jauh dari kampusku. Ya Tuhan, jangan biarkan apapun terjadi pada Sungmin Oppa.

Dalam keadaan basah kuyup aku tiba di Seoul Hospital. Aku segera menelusuri lorong-lorong di rumah sakit itu, mencari ruang tempat Sungmin Oppa berada. Dari kejauhan aku melihat seorang polisi bertubuh gembul sedang berdiri di depan sebuah ruangan. Hm, mungkin dia polisi yang menelponku tadi!?

Mianhae, apakah Anda polisi yang menelponku tadi? Nan Sena imnida….”

Ne, saya yang menelponmu tadi. Ayo cepat masuk ke ruangan ini, Sungmin-ssi ada di dalam…,” ujarnya.

Segera aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan tersebut. Air mata yang sejak tadi aku tahan kini tumpah ketika aku melihat Sungmin Oppa dalam keadaan penuh dengan darah di kepala dan tubuhnya. Beberapa perawat dan seorang dokter sedang melakukan pertolongan terhadapnya.

“S-Sungmin Op-pa,” gumamku berdiri di tempat.

“Se-Sena… k-Kemari….” Aku mendengar mulut Sungmin Oppa menyebut namaku. Tangannya yang berlumuran darah berusaha melambai padaku. Para suster dan dokter yang menangani Sungmin Oppa menoleh padaku. Seorang suster segera menghampiriku dan membantuku berjalan menemui Sungmin Oppa.

Oppa-ya…, kenapa ini bisa terjadi pada oppa?” tanyaku sambil menangis. Sungmin Oppa menggenggam kedua tanganku.

Mianhae… hhhh… mianhae… hhh.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan.

Oppa, bertahanlah. Oppa harus kuat!” kataku. Air mataku semakin lancar saja membasahi kedua pipiku. Tiba-tiba aku merasa genggamannya semakin melemah dan nafasnnya pun semakin tersengal.

Oppa-ya… oppaoppa harus bertahan!” ucapku. Tak lama kemudian, Sungmin Oppa menghembuskan nafas terakhirnya.

ANDWAEEEEEEE!!!”

@@@@@

Sudah 1 tahun berlalu sejak kematian Sungmin Oppa. Semenjak kepergiannya, aku tidak pernah lagi berpacaran dengan siapa pun. Entahlah. Terasa sulit untuk berpindah ke orang lain.

“Sena-ya, bagaimana?” tanya Sooyoung, sahabatku di kampus.

“Eh? Bagaimana apanya, Sooyoung-ah?” Aku malah bertanya balik. Sooyoung menunjukkan wajah kesalnya padaku. Sementara sahabatku yang lain, Bomi, tersenyum kecut padaku.

“Ya! Jadi sejak tadi kau tidak mendengar apa yang aku dan Bomi bicarakan?” tanyanya kesal. Aku mengangguk.

“Ck! Biar aku tebak! Pasti kau sedang memikirkan Sungmin Sunbae lagi, kan?” Aku mengangguk pelan.

“Ya! Sena-ya, sampai kapan kau mau mengingat Sungmin Sunbae, eoh? Dia itu sudah—” Bomi yang sedikit emosi tidak berani melanjutkan kata-katanya.

Ne, aku tahu itu. Sudahlah, kalian tidak perlu mencampuri urusanku. Sekarang apa yang kalian diskusikan tadi?” Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Sooyoung dan Bomi tersenyum kecut.

“Tentang bazaar tahunan kampus kita…,” jawab Bomi seadanya.

Ah, bazaar kampus. Aku baru ingat kalau kemarin aku dan kedua sahabatku ini dipilih menjadi panitia bazaar tahunan yang akan diadakan 3 minggu lagi. Hah! Sialnya lagi, aku ditempatkan di seksi acara, sedangkan Sooyoung di seksi konsumsi dan Bomi di seksi dokumentasi.

“Kau sudah tahu siapa saja yang akan mengisi sesi hiburan di bazaar kita?” tanya Bomi padaku.

Molla.” Aku menggeleng. Aissh, seandainya Sungmin Oppa masih ada, aku bisa memintanya dan teman-temannya di Oppa Band—band kampus kami yang paling populer—untuk mengisi acara. Sebenarnya, aku bisa saja meminta Oppa Band tampil di bazaar, tapi—Aish! Lupakan Oppa Band, Sena!

“Ya! Kau belum mendiskusikannnya dengan teman-temanmu di seksi acara?” tanya Sooyoung. Aku menggeleng.

“Bagaimana bisa aku berdiskusi dengan mereka? Aku saja tidak tahu siapa yang masuk dalam seksi acara!” balasku.

“Dddrrrttt… dddrrrtt.”

Bomi menyadari HP-nya bergetar. Ia segera membuka tasnya dan mengambil HP-nya. Yeoja manis itu menekan tombol tengah dan membaca apa yang tertera di layar.

“Ya! Dosen Kim sebentar lagi masuk! Kkaja.”

Dan kalimat itu secara resmi mengakhiri pembicaraan tentang bazaar kampus. Hmm~

@@@@@

Setelah mata kuliah Dosen Kim berakhir, aku, Sooyoung dan Bomi menuju aula kampus. Di sana kami akan mendiskusikan tentang bazaar tahunan. Begitu kami tiba di depan pintu aula, kami segera  masuk dan duduk sesuai dengan seksi masing-masing.

“Ya! Kau Sena, kan?” Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh untuk mengetahui siapa orang yang menepuk bahuku itu. Heh?! Seorang namja.

Ne. Mianhae, nuguseyo?”tanyaku pada namja itu.

Nan Lee Jinki imnida. Kau bisa memanggil aku Jinki atau Onew…,” jawabnya, lalu tersenyum manis.

“Ah, ne…,” balasku. Namja itu kemudian menarik tanganku dan membawaku bergabung dengan teman-teman di seksi acara.

Chingudeul…, ini anggota kita satu lagi. Cho Sena dari Fakultas Hukum semester 3…,” ucapnya memperkenalkan diriku, sukses membuatku terkejut. Bagaimana bisa ia mengenalku sampai sejauh itu? Kami bahkan baru kenalan hari ini.

Sebenarnya namja ini siapa?

Jinki kemudian menyuruh kami semua berkumpul dalam satu forum. Rupanya dia ketua dari seksi acara. Dalam rapat tersebut banyak hal yang kami diskusikan, mulai dari MC, pengisi sesi hiburan dan lain-lain yang ada kaitannya dengan acara bazaar itu. Hampir 3 jam kami menentukan semuanya dan sialnya, aku ditugaskan untuk meminta Oppa Band menjadi salah satu pengisi sesi hiburan. Aissh!

“Oke… pertemuan hari ini cukup. Mohon kerjasama yang baik dari kalian semua…,” ucap Jinki Sunbae, mahasiswa fakultas seni semester 5, menutup forum.

Aku melangkah lemas keluar dari gedung aula. Sooyoung dan Bomi telah pulang sejak setengah jam yang lalu. Aigoo… sudah satu tahun sejak kepergian Sungmin Oppa, aku tidak pernah lagi menampakkan batang hidungku di depan anggota Oppa Band. Mereka semua mengingatkanku pada Sungmin Oppa.

-Flash back-

Aku berada di depan pintu ruangan khusus Oppa Band di bagian belakang gedung Fakultas Seni. Aku menunggu Sungmin Oppa selesai latihan. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu ruangan. Jaehoon Oppa!

Sedikit terkejut, namja itu berkata, “Ah, Sena-ya, apa yang kau lakukan di sini, eoh? Kenapa tidak langsung masuk?”

Aku tersenyum. “Gwaenchana, Oppa.”

“Lebih baik kau menunggu Sungmin di dalam, eoh. Sekalian kau bisa melihat dia latihan,” kata Jaehoon Oppa sambil menarik tanganku. Begitu aku masuk, Jaehoon Oppa menutup pintu dari luar. Entah ia mau pergi kemana.

Terdengar suara dram dan gitar yang menyatu membentuk alunan music ketika aku melangkah memasuki ruangan itu. Kulihat Sungmin Oppa sedang memetik gitar yang biasa dipakainya saat perform Oppa Band. Menyadari keberadaanku, ia menghentikan kegiatannya dan tersenyum padaku.

“Annyeong, Sena-ya!” sapa oppadeul di Oppa Band serempak.

“Annyeong, Oppadeul…,” balasku. Aku kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.

“Sena-ya, kau harus mendengarkan lagu baru Oppa Band!” seru Jungmo Oppa.

“Lagu baru? Siapa yang membuatnya?” tanyaku penasaran. Oppadeul senyam-senyum tidak jelas termasuk Sungmin Oppa.

“Yang membuatnya… Lee… Sung… Min…,” jawab Gura Oppa meniru gaya presenter di televisi. Sungmin Oppa tersenyum malu padaku.

“Jeongmal?”  tanyaku tidak percaya. Sungmin Oppa terlihat salah tingkah.

“Ne…,” seru mereka serempak.

“Sena-ya, sebaiknya aku antar kau pulang. Kau tidak usah mendengarnya!” kata Sungmin Oppa menghampiriku.

“Waeyo, Oppa? Aku ingin mendengar lagu ciptaanmu!” rajukku. Sungmin Oppa langsung menarikku keluar ruangan.

“Nanti aku akan mainkan lagu itu khusus untukmu.  Kau tidak usah mendengarnya sekarang, arasseo?” kata Sungmin Oppa.

“Geurae. Tapi, oppa harus memperdengarkan lagu ciptaan Oppa itu padaku. Yaksok?” Aku mengacungkan jari kelingking kananku.

“Yaksok!” balasnya sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku.

-End Of Flashback-

@@@@@

Keesokan harinya pada saat mata kuliah berakhir, aku memberanikan diriku untuk mendatangi anggota Oppa Band. Kini aku berdiri di depan ruangan Oppa Band. Aku mengangkat tangan kananku untuk mengetuk pintu. Aissh! Tidak bisa! Ottokhae? Apa aku suruh orang lain saja? Ya! Itu namanya tidak bertanggung jawab! Haah! Besok saja! Aku tidak siap hari ini.

Kulangkahkan kakiku menuju kantin tempat Sooyoung dan Bomi menungguku. Ketika aku melewati ruang musik, terdengar suara seseorang sedang menyanyi diiringi dengan dentingan piano. Aku merapatkan telingaku ke daun pintu. Suaranya sangat indah. Karena penasaran, aku memberanikan diri untuk mengintip. Perlahan aku memegang knop pintu dan membukanya sedikit. Hmm… seorang namja tapi wajahnya tidak begitu jelas.

“Love you more…love you more…”

Sial! HP-ku berdering. Aku segera membuka tasku dan merogohnya. Arrggh, HP-ku dimana kau berada? Dengan gelisah aku mengubek-ngubek isi tasku. Lucky! Akhirnya aku berhasil mendapatkan HP-ku.

“Ya! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya namja yang bermain piano tadi yang tak lain adalah Jinki Sunbae. Dia berdiri di ambang pintu sambil menatap curiga padaku. Sena babo!

“Ah? Eh? Mianhae, Sunbae…. Mianhae. Tadi aku kebetulan lewat dan HP-ku berbunyi. Makanya aku berhenti di sini untuk mengangkat telepon… hehe,” jawabku sambil cengengesan. “Mianhae kalau aku menganggu sunbae…. Mianhae,” tambahku, lalu membungkuk berkali-kali.

“Sena-ya, cukup. Nan gwaenchana. Oya, bagaimana? Kau sudah menemui sunbaedeul di Oppa Band?” tanyanya.

“Ah… itu… mm… aku belum menemui mereka. Sepertinya mereka tidak ada di ruangannya…,” jawabku bohong sambil menunjuk ruangan Oppa Band yang jaraknya 2 ruangan dari ruang musik.

“Oya, yang bermain piano di dalam itu Jinki sunbae, ya??”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Jinki Sunbae mengangguk, lalu menjawab, “Ne, waeyo? Permainan pianoku jelek, ya?” Aku mengeleng cepat.

Aniyo. Permainan piano sunbae sangat bagus…. Top!” jawabku semangat sambil mengacungkan kedua jempolku padanya. Dia tersenyum.

Jincca? Kau mau mendengarnya lagi?” tawarnya.

Ne…,” jawabku singkat. Ya, lumayan untuk hiburan.

Jinki Sunbae kemudian mengajakku masuk ke ruang musik. Ini pertama kalinya aku memasuki ruangan ini. Di tengah ruangan terdapat sebuah piano berwarna putih, di dindingnya bersandar beberapa alat music seperti bass, gitar listrik dan gitar akustik. Juga ada satu set drum dan keyboard.

Aku semakin memasuki ruangan itu. Mataku tertuju pada sebuah gitar akustik. Tanpa menghiraukan Jinki Sunbae yang sudah duduk di kursi pianonya, aku mendekati gitar itu. Aissh, apa yang aku lakukan? Aku bisa mengingat Sungmin Oppa lagi kalau aku mendekati gitar itu. Akhirnya, kuputuskan untuk menghampiri Jinki sunbae yang sedari tadi memanggilku.

“Kau boleh duduk di sampingku…,” katanya lembut sambil menggeser posisi duduknya sehingga ada sedikit tempat tersisa di kursi itu untukku. Aku pun duduk dan memperbaiki posisi dudukku. Jinki sunbae mulai menekan tuts piano dan mengeluarkan suara merdunya.

-Flashback again-

Aku baru saja pulang dari sekolah. Segera aku menuju rumah Sungmin Oppa karena dia telah berjanji akan mengajariku bermain gitar. Arrggh, kenapa Kwan Sonsaengnim memberi ujian bermain gitar agar bisa lulus pelajaran Seni, eoh? Huh! Lebih enak kelas 1 SMA dulu, seni rupa!

“Ting… tong….”

Aku memencet bel rumah Sungmin Oppa. Menunggu beberapa saat baru ada seseorang yang membukakan pintu.

“Ya! Kau tidak pulang ke rumahmu dulu?” Sungmin Oppa yang membuka pintu langsung menegurku saat melihat aku masih berpakaian seragam SMA ke rumahnya.

“Waeyo? Kalau aku pulang, bisa-bisa Kibum Oppa melarangku keluar lagi!” balasku mencari alasan. Mianhae Kibum Oppa, aku menjual namamu lagi.

“Aissh, geurae. Ayo masuk!” ajak Sungmin Oppa. Aku melangkah memasuki rumah Sungmin Oppa yang cukup luas untuk penghuninya yang hanya 4 orang. Ya, hanya Sungmin Oppa, Sungjin Oppa—adik Sungmin Oppa—dan kedua orang tua  mereka.

Sungmin Oppa menyuruhku duduk di ruang tamu, sedangkan ia berjalan ke kamarnya untuk mengambil gitar. Tak berapa lama kemudian, Sungmin Oppa kembali sambil menenteng gitar kesayangannya, lalu duduk di sofa yang ada di dekatku. Sungmin Oppa langsung menyuruhku memainkan gitar.

“Oppa-ya, aku sudah bilang, aku tidak bisa bermain gitar! Kenapa kau langsung menyuruhku?” protesku.

“Aku mau lihat sejauh mana kemampuanmu? Bukannya kau sudah diajar oleh gurumu di sekolah?” balasnya. Aku memanyunkan bibirku, lalu merebut gitar yang dipegangnya. Sena-ya, kau bisa!

“Jreeeng….” Aku mencoba sekali.

“Lanjutkan! Masa kemampuan hanya sampai di situ? Kau mempermalukan dirimu sebagai yeojachingu dari gitaris band terkenal di Myungji University!” ejeknya. Grrr….

“Jreeeeng~~~jreeeeng…jreeenngg..~~~jreeeng…~~~~” aku memainkan gitar dengan emosi. Huh! Dia mengejekku! Menyebalkan!

“Ya! Gitarku bisa rusak! Sudah cukup permainanmu!” Ia langsung merebut gitar dari tanganku. “Ckckck… kau ini benar-benar tidak tahu, ya?” gerutunya. “Kalau ingin bermain gitar, kau harus memainkannya dengan penuh perasaan…,” katanya kemudian. Sepersekian detik kemudian, dia langsung memperlihatkan kemampuannya bermain gitar padaku.

Aigoo… auranya terlihat sangat jelas saat memainkan gitar. Hmmm… tidak salah jika dia dipilih menjadi gitaris Oppa Band, padahal dia baru semester satu. Terlebih, aku tidak percaya kalau ternyata… Sungmin Oppa bisa tampak sangat berkharisma seperti ini. He’s just handsome and charismatic.

“EHEMMM!” Suara dehemannya itu membawaku ke permukaan setelah beberapa menit terhanyut dalam alunan gitarnya yang merdu.

“Kau sudah mengerti, kan? Sekarang kau coba sekali lagi!” Dia kembali menyerahkan gitar padaku.

“Jreeng~~” Aku mulai mencoba memainkan gitar ini dengan penuh perasaan. Sedikit-sedikit aku sudah bisa memainkannya dengan baik. Hah! Setidaknya aku bisa mendapatkan nilai standar dan tidak remedial dengan permainanku sekarang.

Tidak terasa waktu berlalu dan sekarang jam di dinding telah menunjukkan pukul 16.18. Gawat kalau aku tidak segera pulang, Kibum Oppa bisa memarahiku nanti!

“Sungmin Oppa, aku mau pulang sekarang!”pamitku sembari menyerahkan gitar ini kepada pemiliknya.

“Mm… ne,” ucapnya singkat. Aku segera berjalan ke pintu depan diikuti Sungmin Oppa di belakangku. Secepat mungkin memakai kaos kaki beserta sepatuku.

“Oppa, gamsahamnida~~~” ucapku sambil membungkuk 90 derajat.

“Hmm…. Lain kali, kau harus memperlihatkan permainan gitarmu padaku,” balasnya.

Aku mengacungkan kedua jempolku ke depan wajahnya seraya berkata, “Siiippp….”

“Sambil menyanyi, oke?” tambahnya. Berhasil membuatku membulatkan kedua mataku.

“Mwo? Oppa menyindirku? Oppa tahu kan suaraku jelek?” Dia tertawa cekikikan.

“Aigoo! Kau ini! Aku hanya bercanda, arasseo?” Aku mendengus sebal.

-End Of Flashback-

“Sena-ya!” Jinki sunbae membuyarkan lamunanku. Aku menjadi salah tingkah karena aku malah melamun, bukan memperhatikan permainan pianonya.

Ne, sunbae. Mianhae…,” ucapku kikuk.

“Kau melamun?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Kau ada masalah?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

“Lalu?”

Aniyo. Gwaenchana…. Mianhae, Sunbae, aku harus pergi sekarang! Sooyoung dan Bomi menungguku di kantin. Sampai jumpa…,” ucapku. Aku berjalan cepat menuju pintu keluar dan segera ke kantin.

@@@@@

Hari ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemui Oppa Band. Aissh! Kenapa Jinki sunbae memberikan tugas ini padaku? Huh! Sebelum mata kuliah berikutnya dimulai, aku segera menuju ruangan Oppa Band.

“Sena-ya!” seseorang memanggilku. Aku menghentikan langkahku, berbalik melihat siapa yang memanggilku.

“Jinki sunbae?” balasku. Jinki sunbae berlari dan sekarang berada di hadapanku.

“Kau mau menemui sunbaedeul di Oppa Band?” tanyanya. Aku mengangguk.

Geurae, aku akan menemanimu!” ucapnya lalu berjalan santai melewatiku.

SuSunbae!” panggilku. Jinki sunbae terus berjalan tanpa memperdulikan panggilanku. Terpaksa aku menyusulnya.

“Ya! Ada apa ini? Kenapa sunbae menemaniku? Harusnya sunbae membantu yang lain. Bazaar kita 10 hari lagi. Aku bisa melakukan ini sendiri, kok!” kataku panjang lebar. Jinki sunbae tersenyum.

Gojitmal! Aku tahu kau punya hal yang tidak mengenakkan antara kau dan sunbaedeul di Oppa Band,” balas Jinki sunbae, membuatku terkejut.

“Aku tahu akhir-akhir ini kau kebingungan karena aku menyuruhmu untuk meminta Oppa Band untuk mengisi acara di bazaar. Kau tidak bisa melakukan tugasmu ini dengan cepat karena setiap kali kau bertemu dengan Oppa Band, kau pasti mengingat… ehm… Sungmin Hyung,” tambahnya. Sekali lagi aku terkejut.

Sebenarnya Jinki sunbae ini siapa?

Kenapa dia bisa tahu tentangku sejauh itu?

Sunbae tahu darimana semua itu?” tanyaku bingung sekaligus penasaran. Dia menjelaskan dengan sangat tepat. Hah! Ini pasti ulah Sooyoung dan Bomi!

“Kita sudah sampai. Kalau tidak ingin masuk, kau tunggu saja aku di sini…,” ucap Jinki sunbae saat kami berada di depan pintu rungan Oppa Band. Aaah, Sena-ya, sampai kapan kau mau begini? Ayo, kau bisa!!

“Aku akan ikut!” ucapku tegas. Jinki sunbae menatapku, kemudian tersenyum.

“Ini baru Sena yang aku tahu!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku. Aku masih bingung dengan kata-katanya. Berarti Jinki sunbae sudah lama mengenalku?  Tapi, bagaimana bisa?

Aku dan Jinki Sunbae masuk ke dalam ruangan Oppa Band. Ketika kami masuk, Oppa Band sedang mengadakan latihan. Jungmo Oppa orang pertama yang menyadari keberadaan kami di ruangan itu. Ia kemudian memberi tanda untuk berhenti. Semua menatap ke arahku.

“Sena?!” gumam mereka hampir bersamaan. Aku hanya tersenyum simpul. Aku pun melihat sekeliling ruangan. Tidak begitu banyak yang berubah. Mataku kemudian terpaku pada foto poster Oppa Band yang terpampang begitu besar di dinding. Ada Sungmin Oppa di foto itu. Aku hendak keluar tapi Jinki Oppa mencegahku dengan langsung memegang tangan kananku.

Mianhamnida, Sunbaedeul, kami mengganggu latihan kalian…,”kata Jinki Sunbae. Jungmo Oppa pun berjalan mendekati kami.

Gwaenchana. Ada perlu apa kalian berdua kemari?” tanya Jungmo Oppa sambil menatapku. Aku menundukkan kepalaku.

“Mm… kami dari panitia bazaar tahunan kampus. Kami meminta kesediaan Oppa Band untuk mengisi acara hiburan di bazaar itu…,” jawab Jinki Sunbae. Jungmo Oppa menoleh ke belakang meminta pendapat para personil Oppa Band yang lain. Semuanya mengangguk setuju.

“Hmm… geurae. Kami akan tampil di bazaar tahunan itu, tapi sebelumnya kami ingin bicara dengan Sena sebentar. Jadi bisakah kau menunggu di luar?” kata Jungmo Oppa.

Jinki Sunbae mengangguk. “Ne. Sena-ya, aku tunggu di luar…,” ucap Jinki sunbae, lalu segera keluar dari ruangan.

Setelah Jinki sunbae keluar, Jungmo Oppa langsung menarikku untuk bergabung dengan Dongyup Oppa, Gura Oppa, Jaehoon Oppa, Youngsuk Oppa, Gyeongmin Oppa dan Inyoung Oppa. Namja itu menyuruhku duduk di kursi, lalu meminta Youngsuk Oppa mengambil sesuatu dari lemari tempat personel Oppa Band menyimpan tas mereka.

Sebuah handycam!

“Sena-ya, kenapa kau tidak pernah menemui kami lagi?” tanya Gyeongmin Oppa. Semua menatapku. Aku diam dan menundukkan kepalaku.

“Sena-ya, coba kau lihat ini…,” kata Jungmo Oppa sambil memberikan handycam yang dipegangnya kepadaku.

Ige mwoya?” tanyaku. Mereka semua diam. Aku menatap layar handycam itu dan tidak lama kemudian muncul wajah Sungmin Oppa yang sedang duduk di sebuah kursi berwarna merah sambil memangku gitar akustik kesayangannya.

“Annyeong. Sungmin imnida. Mm… sekarang aku akan memperdengarkan lagu ciptaanku kepada kalian semua. Semoga kalian menyukainya….

“Neega neomu gomabjanha
Oh baby
Neega neomu yeppujanha
oh~~~
Nuneul pel suga eobso
Nae nunen neoman boyeo
Neoman gyesok bara bogo sipjanha nan
Oh jeongmal
Oh~~~baby.”

“Mm… yang aku nyanyikan tadi itu hanya bagian reff-nya hehehe. Mmm… lagu ini aku ciptakan khusus untuk seorang yeoja yang sangat berarti untukku. Seseorang yang membuatku terinspirasi untuk menciptakan lagu ini, Cho Sena, nae yeojachingu. Aku harap dia juga menyukai lagu ini. Sena-ya, saranghaeyo~”

“I-Ini….” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Kutatap satu per satu wajah oppadeul.

Ne. Itu rekaman terakhir Sungmin sebelum dia… mengalami kecelakaan itu…,” jelas Jungmo Oppa.

Air mataku yang sudah menggenang di pelupuk mata kini mengalir membentuk aliran sungai kecil di pipiku. Jungmo Oppa, member Oppa Band yang paling dekat denganku selain Sungmin Oppa, mendekatiku dan mengelus punggungku.

“Sudahlah Sena-ya. Kenapa kau menangis, hah?! Sungmin pasti tidak akan senang kalau tahu setelah kau mendengar lagu ciptaannya, kau malah menangis,” kata Jungmo Oppa.

“Sungmin Oppa… huhu… Sungmin Oppa…,” isakku.

Beberapa saat kemudian, aku mulai tenang. Segera aku pamit kepada oppadeul mengingat Jinki Sunbae mungkin masih menungguku di luar. Begitu aku keluar ruangan, Jinki sunbae berbalik melihatku sambil tersenyum. Sepersekian detik kemudian—mungkin menyadari mataku terlihat sembab, ia pun bertanya.

“Kau habis menangis, ya?!”

Aku menggeleng. “Aniyo. Mm… mianhae membuat sunbae lama menungguku…,” balasku.

“Kau ini! Matamu sembab begitu masih berani bilang tidak menangis,” ucap Jinki sunbae. Aku hanya bisa tersenyum kikuk.

Ne, geurae… aku memang menangis tadi,” ucapku akhirnya.

“Sebaiknya kau segera cuci muka lalu kembali ke kelasmu!” perintahnya. “O ya, setelah kuliahmu selesai, segera ke aula. Kita rapat hari ini, arasseo??”, tambahnya.

Ne…,” balasku. Jinki sunbae kemudian pergi ke ruang musik dan aku segera ke toilet wanita. 10 menit lagi mata kuliah berikutnya akan masuk.

@@@@@

Tidak terasa 1 hari lagi bazaar kampus akan di selenggarakan. Sejak 5 tahun lalu, kampus ini mengadakan bazaar tiap tahunnya. Bazaar khusus para mahasiswa-mahasiswi Myungji University agar semakin akrab satu sama lain. Selain itu, hasil dari bazaar ini juga sebagian di sumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan dan sebagiannya lagi digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan.

Siang ini setelah matakuliah berakhir dan sebelum rapat panitia bazaar dimulai, Aku, Sooyoung dan Bomi duduk-duduk di kantin sambil menikmati segelas jus.

“Hah~ Rasanya aku capek rapat terus,” gerutu Sooyoung, lalu menyeruput jus jeruknya.

“Haha… Itu sudah resiko jadi panitia,” balas Bomi.

“Yee… tugasmu kan enak, cuma dokumentasi. Foto-foto sana-sini, merekam sana-sini dan sana-sini lainnya,” kata Sooyoung sedikit gaje di bagian akhirnya. “Aku kan seksi konsumsi. Huaa~ Mana makanan yang mau dibuat itu banyak. Aissshh!” tambahnya.

“Tapi di seksi konsumsi juga enak, kan?! Kau bisa makan gratis?!” balasku sambil nyengir. Sooyoung menatapku tajam.

“Iya, sih… Hahaha.” Kami bertiga tertawa renyah.

“Eh, anyway, Sena-ya, bagaimana? Kau sudah meminta Oppa Band mengisi acara hiburan?” tanya Bomi, lalu menyeruput jus melonnya. Aku mengangguk.

Ne. Untung ada Jinki Sunbae yang mau menemaniku…,” kataku, lalu menyeruput jus alpukatku. Sooyoung dan Bomi saling bertatapan, kemudian keduanya menatapku. Apa lagi yang ada di pikiran mereka?

“Yaa! Akhir-akhir ini aku lihat kau dekat dengan Jinki Sunbae,” celetuk Bomi.

“Heh?! Dia kan ketua seksi panitia acara dan aku anggotanya. Tentu saja kami dekat akhir-akhir ini…,” balasku.  Sepertinya aku tahu apa yang mereka pikirkan.

Jeongmalyo?” selidik Sooyoung.

Ne. Memang kalian pikir aku sama Jinki sunbae ada hubungan lain?” tanyaku. Mereka mengangguk. Sudah kuduga!

“Ya! Mana mungkin aku punya hubungan istimewa dengan Jinki sunbae. Yang ada cuma hubungan sunbaehoobae, arasseo?” kataku. Sooyoung dan Bomi menggidikkan bahunya. Hah, sudahlah! Mereka berdua memang begitu orangnya.

Beberapa saat kemudian…

Chingudeul, sudah waktunya. Ppali, kita ke aula…,” ajak Sooyoung.

Segera kami beranjak menuju aula. Ketika kami memasuki aula, kami berpencar mencari seksi masing-masing. Dari kejauhan, aku  melihat seseorang melambai padaku. Ah, itu dia! Jinki Sunbae. Aku segera  melangkahkan kakiku menuju tempat Jinki Sunbae. Begitu aku tiba, aku segera mengambil tempat duduk. Tak lama setelah itu, rapat dimulai.

Satu per satu ketua seksi melaporkan sejauh mana kesiapan mereka dalam menyelenggarakan bazaar  tahun ini. Hmm, bazaar tahun ini sepertinya akan sangat meriah daripada bazaar di tahun-tahun sebelumnya.

@@@@@

Akhirnya hari ini tiba juga. Di pelataran kampus telah berdiri sebuah panggung. Di depan panggung terdapat banyak kursi dan meja tempat tamu bazaar duduk sambil menikmati hiburan. Di sekitarnya juga berdiri stand-stand makanan dan minuman. Panitia berseliweran kesana kemari mengurusi segala sesuatunya. 4 jam lagi pukul 19.00.

“Ya! Apa yang kau lakukan di sini? Ppali, ada hal penting yang akan kusampaikan!” Entah dari mana datangnya, Jinki Sunbae langsung menarik tanganku menuju ruang musik.

Di ruang musik, beberapa teman-temanku berkumpul. Gawat! Sepertinya ada masalah serius! Jinki sunbae berdiri di tengah-tengah kami. Dari raut wajahnya, dia sedikit panik.

Mianhamnida, saya meminta teman-teman untuk berkumpul di sini karena ada hal penting yang harus saya sampaikan. Mungkin kalian semua belum tahu bahwa Lee Sunkyu, teman kita yang bertugas untuk menyanyi, baru saja mengalami kecelakaan saat dia akan ke kampus,” teman-temanku mulai ikut panik.

“Hhmm, kalian tahu kan kalau acara hiburan tidak boleh ada waktu yang kosong seperti permintaan ketua panitia. Jadi, ada yang punya usul untuk masalah ini?” tanya Jinki Sunbae kepada kami.

Sunbae, bagaimana kalau kita cari mahasiswa seni untuk menganggantikan Sunkyu?” usul Choi Minho, mahasiswa fakultas olahraga, semester 3.

Ne, itu juga sudah saya pikirkan. Tapi, waktunya sangat mepet.  Mmm… apa di antara kalian tidak ada yang bisa menggantikan Sunkyu?” tanya Jinki Sunbae. Otomatis kami semua saling pandang satu sama lain.

Menyanyi? Di depan umum?

NO!!!

“Cho Sena, bagaimana kalau kau saja!!!” tunjuk Jinki sunbae. Semua mata tertuju padaku.

“Hah? Aku? Mianhamnida, aku tidak bisa, Sunbae….” Hiiyy, hal itu sangat tidak bisa aku lakukan!

Waeyo?  Aku dengar oppa-mu itu penyanyi. Pasti kau juga pernah diajar menyanyi, kan?!”  Ya! Meskipun Kibum Oppa itu penyanyi, tapi dia tidak pernah satu kali pun mengajariku teknik vokal.

H-Hajiman….”

“Sena-ssi, ayolah….” Teman-temanku mulai mengharapkanku. HUAA! Ottokhae? Aku benar-benar tidak bisa! Please, help me! I can’t do it!

“Hanya kali ini, Sena. Jebal~” Jinki sunbae ikutan. Aisssh!

Kenapa semua jadi begini?

Kupandang wajah teman-temanku bergantian. Mereka semua menatapku, memelas. Sedikit terpaksa, akhirnya ku mengangguk lesu. Hah, mau apa lagi? Semua sepertinya sangat berharap padaku.

“Bagus! Sekarang kau latihan menyanyikan lagu ini!” Jinki Sunbae memberikan kertas yang dilipat kepadaku. Aku membuka lipatan kertas itu dan membaca liriknya dalam hati.

Uh?

Lagu ini kan…

-Flashback-

Sungmin Oppa’s Home

Aku, Sungmin Oppa dan member Oppa Band lainnya berada di teras. Aku berdiri di tengah-tengah mereka yang duduk di lantai membentuk lingkaran sambil memegang gitar Sungmin Oppa. Aissh, Sungmin Oppa mengerjaiku! Ugh! Kenapa dia malah menyuruh para member Oppa Band datang ke rumahnya saat aku ingin latihan menyanyi untuk praktek seni?

“Ya, kenapa kau diam saja? Ayo menyanyi!” perintah Sungmin Oppa.

Aku mendengus sebal. “Oppa-ya, kenapa aku harus menyanyi di hadapan Oppadeul, eoh?! Aku gugup,” kataku jujur sambil menundukkan kepalaku. Oppadeul tertawa. Aissh!!

“Baboya! Ini latihan agar kau tidak gugup, arasseo?! Lagi pula, mereka semua ini sudah kau anggap oppamu, kan?! Masa kau malu pada mereka?” kata Sungmin Oppa. Grrr… dia ini benar-benar!

“Ne, anggap saja kami ini hanya patung,” timpal Jungmo Oppa. Hah! Semudah itukah menganggap kalian adalah patung?

“Ppalliwa!” perintah Sungmin Oppa.

“Ne…,” kataku pasrah. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Aku menelan ludah.

“Sena-ya, kau bisa!” Jaehoon Oppa memberiku dukungan.

Beberapa saat kemudian…

Aku telah selesai menyanyikan lagu dari Westlife  yang berjudul Try Again. Kuperhatikan wajah  oppadeul satu per satu. Menyebalkan! Mereka semua malah cekikikan! Memang ada yang lucu?

“Ppffttt… kau ini benar-benar memalukan! Suaramu benar-benar fals! Dan lagi, kau menyanyi sambil gemetaran. Aigoo…, kau ini bisa ditertawakan oleh teman-temanmu!” ledek Sungmin Oppa. Aku memanyunkan bibirku.

“Mau bagaimana lagi? Suaraku memang fals dan aku juga demam panggung!” kataku lesu, lalu duduk di samping Sungmin Oppa. Sungmin Oppa merebut gitar dari tanganku, kemudian berdiri di tengah-tengah kami.

“Aku akan tunjukkan bagaimana orang menyanyi dengan benar…,” kata Sungmin Oppa. Oppadeul yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

Hmm… suaranya benar-benar sangat merdu. Caranya menyanyi pun penuh penghayatan sampai-sampai aku bisa merasakan maksud dari lagu itu.

“Kau lihat? Penampilanku bagus kan?” tanyanya padaku. Aku mengangguk.

“Sena-ya, kau tahu, Sungmin ini juga pernah tampil memalukan sepertimu tadi,” celetuk Dongyup Oppa.

“Jincca? Eonje?” tanyaku penasaran. Aku menatap Sungmin Oppa yang tengah menggaruk kepalanya. Dia kutuan-kah?

“Waktu kelas 1 SMA. Penampilannya bahkan lebih buruk dari pada penampilanmu tadi…,” jawab Dongyup Oppa.

“Haa~~ Ternyata oppa pernah melakukan hal yang lebih parah dariku…hahahaha.” Aku tertawa. Sungmin Oppa mendelik.

GLEK!

“Ya! Tapi, kau lihat tadi, kan?! Aku sudah jauh lebih baik karena aku terus latihan!” timpalnya.

“Hmm… kau harus banyak latihan, dongsaeng-ah…,” nasihat Jungmo Oppa. Aku mengangguk mantap.

-End Of Flashback-

Sunbae-ya, apa aku harus menyanyikan lagu ini? Apa tidak ada lagu yang lain?” tanyaku sambil menunjukkan wajah memelasku.

Mianhae, Sena-ya. Kita sudah tidak bisa mengganti lagu itu. Kita tidak punya cukup waktu untuk latihan dengan lagu baru,” jelas Jinki sunbae.

“Apa yang mengiringiku nanti adalah sunbae??”

Namja itu mengangguk. “Ne… aku akan mengiringimu dengan piano. Kau… tidak keberatan, kan?” tanya Jinki Sunbae. Aku menggeleng. Hmm… ottokhae? Lagu ini mengingatkanku pada… Sungmin Oppa. Ottokhae?

@@@@@

Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu ini. Sementara itu, saat ini di atas panggung sedang berlangsung penampilan Oppa Band. Uuhh, suara penonton riuh sekali. Hmm, Oppa Band masih tetap Band terbaik di Myungji.

Waeyo? Kau gugup?” tanya Jinki sunbae yang tiba-tiba mengampiriku dan duduk di sampingku.

Aku mengangguk pelan. “Ne….”

“Kau tenang saja. Kau bisa!” ucap Jinki sunbae sambil memegang tangan kananku.

Sedikit merasa risih, aku menjawab, “N-Ne.

Beberapa saat kemudian…

“Woooaaaah! Penampilan yang sudah lama tidak kita lihat. OPPA BAND!!!” seru Minho yang ditugaskan menjadi MC bersama Choi Sulli.

Aisssh! Sudah tiba saatnya! Ayo, Sena, kau bisa! Kau bisa!

Aku menyemangati diriku. Jantungku semakin berdegup keras ketika kedua MC di atas panggung itu menyebut namaku dan Jinki sunbae. Aigoo!! Please help me.

Aku telah berdiri di atas panggung. Jinki sunbae juga sudah duduk di depan pianonya. Aku menatap ke depan. Aigoo, banyak orang yang memperhatikanku. Aku melihat ke sudut kiri dan di sana ada personil Oppa Band yang sedang istirahat. Jungmo Oppa terlihat memberikan semangat padaku. Geurae, Sena, ayo mulai.

I remember*

I remember…

The way you glanced at me, yes I remember

I remember…

When we caught a shooting star, yes I remember

I remember

All the things that we shared

And the promise we made, just you and I

I remember…

All the laughter we shared

All the wishes we made, upon the roof at dawn

Do you remember?

When we were dancing in the rain in that December

And I remember…

When my father thought you were a burglar

I remember

All the things that we shared

And the promise we made, just you and I

I remember…

All the laughter we shared

All the wishes we made, upon the roof at dawn

I remember…

The way you read your books

Yes, I remember…

The way you tied your shoes

Yes I remember…

The cake you loved the most

Yes I remember…

The way you drank your coffee

I remember…

The way you glanced at me

Yes I remember…

When we caught a shooting star

Yes I remember…

When we were dancing in the rain in that December

And the way you smile at me

Yes I remember…

 “Prokk…prookk…prookk..prookkk….”

Tepuk tangan dari tamu bazaar menggema. Aku bisa! Aku tidak percaya ternyata aku bisa. Jinki Sunbae berdiri di sampingku dan membisikkan sesuatu padaku.

“Aku benar, kan?! Kau bisa!”

Setelah mengucapkan terima kasih, aku dan Jinki Sunbae segera turun panggung. Bomi yang saat itu sedang berada di belakang panggung langsung memelukku.

“Ya! Kenapa kau tidak bilang kalau kau ikut mengisi acara, hah?” tanyanya. Aku hanya tersenyum. Aku melirik Jinki Sunbae yang sedang berkumpul dengan teman-teman panitia lainnya.

“Jinki Sunbae memintaku untuk menggantikan Sunkyu…,” jawabku.

“Ooh.., Jinki Sunbae, ya?!” Bomi mengangguk-angguk sendiri.

Hmm…Jinki Sunbae.  Aku rasa Jinki sunbae menyembunyikan sesuatu dariku. Aku heran, kenapa dia sepertinya mengetahui banyak hal tentangku? Mulai dari Oppa Band, Sungmin Oppa dan Kibum Oppa. Dia seperti orang yang sudah lama mengenalku. Tapi bagaimana bisa? Aku bahkan baru mengenalnya saat masuk di panitia bazaar ini. Hmm, sebaiknya aku tanyakan saja pada Jinki sunbae.

“Bomi-ya, permisi. Ada sesuatu yang harus aku lakukan…,” pamitku pada Bomi.

Ne…, aku juga harus memotret lagi!” kata Bomi lalu memotretku. Aisshh!

Segera kuhampiri Jinki Sunbae yang kebetulan sedang duduk sambil memencet-mencet tombol HP-nya di dekat booth minuman.

“Jinki Sunbae…,” panggilku. Jinki sunbae mendongak, lalu tersenyum.

Ne, waeyo, Sena-ya?” tanyanya. Aku lalu duduk di bangku kosong yang berada di sampingnya.

“Ada… ada yang ingin aku tanyakan…,”jawabku agak ragu. Jinki sunbae tersenyum lagi.

“Apa yang ingin kau tanyakan? Jangan sungkan begitu….”

“Mmm… aku… aku ingin tanya apa sunbae sudah lama mengenalku?” tanyaku. Jinki Sunbae terlihat sedikit bingung dengan pertanyaanku. “M-Maksudku…Aku rasa sunbae mengetahui banyak hal tentangku. Oppa Band, Sungmin Oppa, Oppa-ku yang seorang penyanyi dan lain-lainnya. Aku penasaran kenapa sunbae bisa tahu sebanyak itu padahal kita baru bertemu di kepanitiaan bazaar ini…,” jelasku.

“Ohh… itu maksudmu??” Dia bertanya balik. Aku mengangguk.

Jinki Sunbae berdehem. “Mungkin kau harus tahu satu hal…,” ucapnya, membuatku penasaran.

“Apa itu, Sunbae?” tanyaku antusias. Jinki Sunbae menatapku.

“Sungmin Hyung adalah kakak sepupuku…,” jawabnya.

EEEHHH?

MWOYA?

“J-Jadi—” Aku balas menatapnya.

Namja itu mengangguk pelan. “Ne, aku tahu kau dari Sungmin Hyung. Saat pertama kali aku kuliah di sini, aku tinggal di rumah Sungmin Hyung…,” terang Jinki sunbae.

“Tapi, kenapa Sungmin Oppa tidak pernah menceritakannya padaku? Dan aku tidak pernah melihat sunbae saat aku ke rumah Sungmin Oppa?!” tanyaku.

“Aku yang menyuruhnya agar tidak menceritakan tentang keberadaanku pada teman-temannya, termasuk padamu. Mmm… kalau masalah kau tidak pernah melihatku itu karena aku selalu bersembunyi di kamarku saat kau datang.”

“Bersembunyi? Ta-Tapi, kenapa… kenapa kau bersembunyi?”

Jinki Sunbae tersenyum. Senyum yang tidak bisa aku mengerti. Tidak lama, ia pun berkata, “It’s my big secret.” Lalu, ia pun beranjak meninggalkanku.

Heh?! Aneh… kenapa dia malah bersembunyi dariku? Aku kan tidak memakan orang. Apalagi orang sebaik dia. Apa mungkin… dia orang yang pemalu?

Atau mungkin… ia suka padaku?

-THE END \(^_^)/-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

A/N: Pas iseng ngacak2 folder FF, aku nemu FF ini. FF yang udah lamaaaaaa banget aku tulis, tapi gak aku publish juga. Ya, dari pada ini FF lumutan, aku post sekarang aja… hehehe ^^v

Oh, ya, lagu Remember di FF ini aslinya dinyanyikan oleh Mocca. ^^

Iklan

6 thoughts on “REMEMBER

  1. wuah, nice..
    aq iri padamu saeng..
    kpan aq bisa bikin ff sebagus ff-mu ya??
    1 ff ja ga kelar2.. -_-
    tapi koq gantung c crita’a??
    knp ga jdian aja sekalian Jinki sama Sena’a??
    huft, sempet mewek juga tadi yg bagian Sena liat rekaman dr Sungmin.. #ambil tisu :’)

  2. WHOOOOAA.. FF ini berhasil membuatku menangis saat Cho Sena sedang mengingat Sungmin Oppa! Ini FF pemenang kedua yg berhasil membuatku menangis setelah FF Hero & Heroine. Hihii..
    Fighting Eonni-ya. Aku selalu menunggu karya-karyamu. #plak. Eheheeh. 😀

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s