5 MEN 5 STORIES [FOURTH-THAT XX]

5 MEN 5 STORIES [FOURTH-THAT XX]

5 MEN 5 STORIES1

Rating: PG-13

Length: Series

Genre: Romance, Friendship, School-life

Main Characters: (SuJu) Ryeowook & (OC) Jang Chaeri

Minor Characters: (SuJu) Sungmin, (B1A4) Jinyoung, (EXO-M) Tao, (T-Ara) Boram, (Miss A) Min & (Infinite) Sunggyu.

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is inpirated by the lyric of That XX which sang by G-Dragon. The characters belong to God, themselves, their parents and their agencies.

Attention: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Suasana kampus di sore hari masih cukup ramai. Terutama…, di tempat aku berada sekarang, di taman baca kampus. Ditemani beberapa teman, aku mengerjakan tugas yang diberikan oleh Dosen Im. Tapi, begitu aku melihat jam di sudut kanan notebook-ku, aku buru-buru menyudahi pekerjaanku.

“Ya! Tugasmu sudah selesai, eoh?” tanya Sunggyu ketika melihat aku memasukkan notebook ke dalam tas.

Aku menoleh ke arahnya. “Belum. Tapi, ini sudah sore. Aku harus ke supermarket untuk belanja bahan makanan untuk makan malam,” kataku.

“Oh, geurae.”

“Ya, sudah, yeorobeun, aku duluan, ya~” pamitku.

Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari area kampus menuju halte bis. Sekitar 5 menit kemudian, bis yang aku akan aku tumpangi, datang. Bergegas aku masuk ke dalam bis tersebut, memilih tempat duduk paling belakang, di sebelah kanan dekat jendela. Tidak lama, bis pun mulai melaju.

@@@@@

Setelah sesi belanja selesai, aku pun bergegas menuju apartemen. Huff, beginilah susahnya ketika kau harus tinggal dengan orang-orang yang… menganggap kau sebagai ‘ibu’ mereka. Hahaha, ne, hampir sebagian besar pekerjaan masak-memasak di apartemen dilimpahkan padaku. Itu karena… yah, bisa dibilang keahlian memasakku di atas rata-rata untuk pria pada umumnya.

Sambil membawa sebuah kantong belanja, lagi aku berjalan menuju halte. Setibanya di sana, aku duduk menunggu bis. Sambil  menunggu, aku memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku. Tapi, tiba-tiba mataku terpaku pada seseorang yang sangat aku kenali. Kupicingkan kedua mataku untuk memastikan penglihatanku benar.

Aigoo, itu benar-benar Tao!” gumamku. Cih! Sudah kuduga, dia itu bukan pria baik-baik.

Tao. Dia adalah namjachingu dari Jang Chaeri, sahabatku. Atau…, mungkin sebaiknya kusebut, Jang Chaeri, yeoja yang… aku cintai. Ne, aku mencintai seorang yeoja yang telah memiliki namjachingu. Tapi, namjachingu-nya itu… malah bermain dengan yeoja lain, seperti yang aku lihat saat ini.

Ini bukan pertama kalinya aku melihat Tao merangkul seorang yeoja dengan gaya mesra. Mungkin ini yang… ketiga atau… keempat kalinya. Sejak awal, aku memang tidak setuju Chaeri berpacaran dengan Tao. Oke, mungkin dari segi wajah, Tao itu tampan. Sangat tampan malah. Postur tubuhnya juga bagus. Dia… ehm… tinggi. Sayangnya, hati namja itu tidak sama dengan wajahnya.

Aku sudah pernah mengatakan pada Chaeri kalau Tao itu tidaklah sebaik yang ia lihat. Tapi…, yeoja itu terlalu polos. Entah apa yang ada di pikirannya. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk tidak membahas tentang namja itu lagi. Aku… tidak ingin menyakitinya.

Hingga kemarin, Chaeri—dengan wajah sedih—mengatakan padaku kalau… belakangan ini Tao jarang menemuinya lagi.

SEE?

Pasti namja itu sibuk dengan yeoja lain.

“TIIIN.”

Suara klakson membuyarkan lamunanku, membuatku sadar kalau bis sudah berada di depan mataku. Segera aku beranjak memasuki bis tersebut, menyudahi kegiatanku melihat namja b*****k itu.

@@@@@

Next Day

Mworago? Kau bilang kau melihat Tao merangkul yeoja lain kemarin?” ulang Chaeri memastikan, setelah beberapa menit lalu aku menceritakan kejadian kemarin padanya.

Ne.”

Saat ini aku dan Chaeri berada di dalam kelas, menunggu dosen yang mungkin sebentar lagi akan datang. Chaeri duduk di bangku kesukaannya seperti biasa, bangku yang berada di barisan kedua, dekat jendela. Sementara aku duduk di bangku yang berada di depannya, sengaja kuubah posisi bangku itu menghadap ke arah Chaeri.

“Tao tidak mungkin melakukan itu, Wookie!” elak Chaeri dengan nada suara bergetar.

“Tapi, aku benar-benar melihatnya, Chaeri-ya. Aku melihat Tao merangkul seorang yeoja kemarin sore. Tao itu selingkuh, Chaeri-ya! Dia selingkuh!”

“Aku juga sudah berulang kali mengatakan padamu kalau Tao tidak mungkin melakukan hal itu. Dia itu namja yang baik, Wookie. Sampai kapan kau mau berpikiran buruk padanya, eoh!?” ujar Chaeri kesal.

“Tapi, aku—”

“CUKUP, WOOKIE-YA!” potong Chaeri dengan sebuah bentakan. “Aku tidak mau mendengar kau berkata seperti itu lagi tentang Tao! Sekali lagi kau mengatakan hal itu padaku, kau bukan temanku lagi!” tegas Chaeri, membuatku terdiam. Terlihat setitik cairan bening di sudut mata kirinya.

Tidak lama setelah itu, dia beranjak dari bangku kesukaannya. Aku rasa… dia marah padaku. Ne, lihat saja, sekarang dia memilih duduk di bangku yang posisinya jauh dariku. Hah! Aku tidak tahu apa yang dilakukan Tao pada Chaeri sehingga Chaeri begitu mempercayainya.

Aku pun beranjak menghampiri Chaeri. Begitu aku duduk di hadapannya, ia sengaja memalingkan wajahnya dariku.

“Chaeri-ya, mianhae. Aku salah. Sepertinya…, kemarin aku salah lihat. Benar katamu, Tao… tidak mungkin melakukan itu,” ucapku dengan nada lirih.

Chaeri pun memalingkan wajahnya mengahadapku. “Ne. Tapi, lain kali… kau jangan berkata seperti itu lagi. Aku tidak suka!”

Ne, Chaeri. Ne.”

Kemarin itu aku benar-benar melihat Tao dengan seorang yeoja. Dan seperti yang kau tahu, Chaeri, ini bukan yang pertama kalinya aku bercerita seperti itu. Tapi, melihatmu marah…, aku terpaksa berbohong. Ne, Chaeri, kau harus tahu kalau barusan aku berbohong padamu. Tolong maafkan aku. Aku… bukan teman yang baik. Aku telah berbohong padamu.

Tidak lama kemudian, Chaeri pun mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Ia pun membaca buku itu seolah dia memberitahu bahwa saat ini ia ingin menyudahi pembicaraan tentang Tao. Geurae, Chaeri… aku tidak akan membahas hal ini lebih jauh. Aku… tidak ingin melihat mengeluarkan air mata hanya karena namja sialan itu.

@@@@@

2 Days Later…

Mata kuliah terakhir hari ini baru saja usai. Satu per satu teman-teman beranjak dari bangkunya, menimbulkan suara yang sedikit berisik. Aku pun melakukan hal yang sama, namun… sebelum beranjak, aku melihat jam tanganku dulu. Uh, pantas saja aku lapar, sekarang sudah jam makan siang.

“Wookie-ya, kau mau langsung pulang, eoh?” tanya Chaeri, menghampiriku.

Aku menggeleng pelan. “Ani. Aku mau ke kantin dulu. Aku lapar sekali.”

Jincca? Kebetulan. Kalau begitu kita ke kantin sama-sama, ya?” Aku mengangguk.

Kami berdua pun berjalan menuju kantin yang letaknya agak jauh dari gedung fakultas seni musik. Sambil berjalan, kami saling mengobrol satu sama lain. Dari gelagatnya hari ini, kelihatannya Chaeri tidak lagi sedih. Baguslah. Mungkin… ia sudah sadar kalau namja seperti Tao tidak pantas untuk ditangisi.

“Kau tahu, Wookie. Kemarin, Tao mengajakku ke sebuah café untuk candle light dinner,” cerita Chaeri dengan nada suara riang dan mimik wajah bahagia. Oh! Jadi, itu yang membuatmu bahagia sekarang, Chaeri?

“Katanya, itu sebagai permintaan maafnya karena belakangan ini dia jarang menemuiku,” lanjut Chaeri. Jangan bilang kau memaafkan namja itu, Jang Chaeri. Apa pun yang ia lakukan untukmu, tidak akan pernah sebanding dengan air mata yang kau keluarkan untuknya.

“Belakangan ini, dia sibuk dengan kegiatan di kampusnya, Wookie. Jadi, aku rasa… kau benar-benar salah orang. Yang kau lihat 2 hari yang lalu bukan Tao!” tambahnya. Dan kau percaya itu, Chaeri?

Karena obrolan yang sebagian besar pembahasannya adalah tentang namja b******k itu, aku sampai tidak sadar kalau… kami sudah tiba di kantin. Sayangnya, meja-meja di kantin sudah penuh semua hingga—

“Chaeri-ya! Wookie-ya!” seseorang memanggil kami berdua. Aku dan Chaeri menoleh ke asal suara tersebut dan mendapati Boram—sahabat kami—sedang melambaikan tangannya. Aku dan Chaeri pun menghampiri meja dimana Boram berada.

“Kalian mau makan, eoh?” tanya Boram begitu aku dan Chaeri duduk semeja dengannya. Tidak hanya semeja dengan Boram, tapi ada Sunggyu dan Min juga.

Ne.”

Aku, Chaeri, Boram, Min dan Sunggyu adalah sahabat semenjak kami SMA. Ne, tentu saja mereka juga mengenal Sungmin Hyung yang notabene adalah senior kami dulu. Aku, Chaeri dan Sunggyu berada di fakultas yang sama, namun… Sunggyu mengambil jurusan yang berbeda. Boram kuliah di fakultas ekonomi dan Min kuliah di fakultas sastra.

“Sudah lama kita tidak kumpul berlima,” celetuk Min.

Ne~” seru Chaeri riang.

Tidak lama kemudian, Sunggyu berdiri. “Ya! Kalian berempat mau makan apa, eoh? Biar aku yang pesankan.”

“Huwaa… Sunggyu-ssi, kau baik sekali~” goda Boram.

“Baru tahu, eoh? Aku ini memang baik sejak dulu,” balas Sunggyu membuat kami terkekeh. Satu per satu dari kami pun menyebutkan pesanan masing-masing. Setelah itu, Sunggyu pun beranjak meninggalkan meja.

“Oh ya, Chaeri-ya” ujar Min, “Bagaimana hubunganmu dengan Tao?” tanyanya. Aku melirik Chaeri yang duduk di sebelahku.

Ne, bagaimana hubunganmu dengan namja itu, eoh?” tambah Boram.

“Hubungan kami baik-baik saja,” jawab Chaeri, lalu tersenyum.

Sepersekian detik setelahnya, Chaeri, Boram dan Min pun mulai membicarakan tentang namja itu. Ne, pembicaraan khas yeoja yang… ah, aku malas menceritakannya padamu.

“Semakin hari, aku semakin mencintai namja itu. Dia baik sekali,” ujar Chaeri dengan mimik wajah bahagia.

“Hmm… ne, semoga kau bahagia dengan namja itu,” doa Boram dan Min. Kedua yeoja itu pun melirikku.

Ne, gomawo,” ujar Chaeri, membuat Boram dan Min kembali fokus pada Chaeri, “Aku percaya kalau Tao adalah orang yang akan mendampingiku nanti.”

Mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Chaeri, hatiku terasa dihujam oleh sebuah belati yang tajam. Sakit. Sakit sekali rasanya. Ck! Chaeri benar-benar mengharapkan namja b******k itu yang akan menjadi suaminya kelak. Seseorang tolong katakan bahwa aku salah dengar!

Oh, ayolah Chaeri! Tolong berhenti berharap kisah cintamu dengan Tao akan berakhir seperti cerita dongeng. Happily ever after. Dari luar, dia memang sosok pangeran yang sempurna. Tapi, hatinya benar-benar tidak menunjukkan kalau dia adalah pangeran yang cocok untuk hidup bahagia dengan seorang putri sepertimu.

Aku menghela nafas. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Chaeri… benar-benar sudah jauh terperangkap dalam jerat namja itu. Benar-benar tidak bisa ditolong lagi.

“Ini makanan kalian~” kata Sunggyu membuyarkan lamunanku. Kulihat Sunggyu membawa sebuah nampan dengan 2 mangkuk ramyeon di atasnya. Lalu di dekatnya, ajumma pemilik kantin ikut mengantarkan sebuah nampan dengan 3 mangkuk ramyeon.

“Selamat makan semuanya~~~” ujar kami berlima nyaris bersamaan. Setelah itu, kami mulai menyantap makan siang masing-masing.

Suasana seperti ini sangat aku rindukan. Suasana di saat kami berlima berkumpul dan saling bertukar cerita. Terlebih, aku juga bisa melihat Chaeri tertawa lepas. Sungguh, aku sangat bahagia melihat yeoja ini bahagia. Aku berharap ia bisa seperti ini seterusnya. Tapi…, jika ia masih bersama namja itu, entahlah… aku… tidak yakin.

Suara tawa pun mendadak reda ketika sebuah HP berdering. Dari nadanya, aku yakin HP yang berdering itu adalah HP milik Chaeri.

Yoboseyo?” sapa Chaeri pada seseorang yang meneleponnya.

“Uh? Jagiya, kau sudah ada di depan, eoh? Mmm…, geurae, aku akan ke sana sekarang.” Chaeri pun memasukkan HP-nya ke dalam tas.

“Telepon dari siapa?” tanya Min.

Chaeri tersenyum. “Dari Tao. Dia sudah ada di depan kampus,” jawabnya. “Mmm… yeorobeun, aku pulang duluan, ya~” pamit Chaeri.

“Kau tidak menghabiskan makananmu dulu?” tanyaku.

Chaeri menoleh ke arahku, lalu menggeleng. “Aniya. Nanti Tao menunggu terlalu lama,” katanya, membuat hatiku kembali terasa ngilu.

Sebegitu khawatirnyakah kau pada Tao? Kau begitu takut dia menunggu 10 menit agar kau bisa menghabiskan ramyeon-mu. Sedangkan aku? Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, tapi kau… tidak pernah menyadarinya, Chaeri-ya. Wae? Kenapa kau begitu mementingkan namja itu, eoh?

“Sudah, ya, aku duluan. Bye~” Chaeri pun beranjak keluar dari area kantin.

Sepeninggal Chaeri, Min dan Boram langsung menyambarku dengan sebuah pertanyaan yang membuatku merasa seperti orang yang tengah diinterogasi. “Kau belum memberitahu Chaeri soal Tao?”

Aku menatap Min dan Boram bergantian. “Sudah!”

Ne, di antara kami berlima, hanya Chaeri saja yang tidak tahu seperti apa Tao sebenarnya. Min, Boram, Sunggyu… mereka sudah tahu semuanya. Mereka tahu Tao selingkuh dengan yeoja lain. Mereka tahu bahwa Tao tidak hanya memacari Chaeri saja, tapi ada juga yeoja lain.

Lucu rasanya mengingat Chaeri adalah orang yang paling dekat dengan Tao, tapi… kenapa malah dia yang tidak tahu seperti apa Tao yang sebenarnya? Benar-benar Jang Chaeri, si yeoja polos. Dan kepolosannya itu benar-benar dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Tao. Cih!

“Lalu kenapa dia masih bersama namja itu, eoh?” ujar Min.

Aku menggidikkan bahu. “Molla!” jawabku cuek, lalu mengambil segelas air putih kemasan. Baru aku ingin meneguk isi air tersebut, Boram langsung merebut gelasku.

“Jangan bicara seperti itu, Kim Ryeowook!” bentaknya.

“Ya! Ya! Kalian bertiga makanlah dulu. Nanti saja membahas masalah Chaeri.” Sunggyu mencoba menengahi.

Min menatapnya tajam “Ya! Sunggyu-ya, kau tega melihat sahabatmu diperlakukan seperti ini oleh namja hidung belang itu, eoh?”

Sunggyu pura-pura tidak mendengar ucapan Min, malah sibuk dengan semangkuk ramyeon di hadapannya.

Tidak lama, Boram bersuara, “Wookie-ya, lakukanlah sesuatu, eoh. Kalau begini terus, bisa-bisa… Chaeri semakin disakiti oleh namja itu. Aku tidak mau Chaeri sedih.”

Aku menghela nafas. “Lalu aku harus bagaimana, eoh? Aku sudah berkali-kali memberi tahu Chaeri kalau Tao itu tidak sebaik yang ia kira. Tapi, apa? Chaeri malah memarahiku! Bahkan dia pernah mengancam akan memutuskan hubungan pertemanan kami kalau aku membahas tentang hal itu lagi.”

“Dan kau benar-benar tidak pernah membahas tentang namja itu lagi?” tanya Min. Aku mengangguk pelan hingga membuat Min tersenyum kecut.

Wae? Bukankah kau… mencintai Chaeri?”

Aku diam. Kulirik Boram dan Sunggyu yang tengah menatapku saat ini ketika mendengar Min mengajukan pertanyaan barusan. Ne, semuanya tahu kalau aku… mencintai Chaeri. Semuanya, kecuali… Chaeri.

Dengan nada lirih, aku menjawab pertanyaan Min. “Kau tidak dengar apa yang dikatakan Chaeri tadi? ‘Aku percaya kalau Tao adalah orang yang akan mendampingiku nanti.’”

Boram menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Huh, aku tidak tahu apa yang dilihat Chaeri dari namja itu sampai ia mau menerima Tao sebagai namjachingu-nya,” ucapnya tidak percaya.

Nado. Bahkan sampai sekarang pun, aku tidak tahu sisi baik apa yang dimiliki Tao. Aneh!” tambah Min.

“Ya! Kalian itu tidak mengerti, eoh?” ujar Sunggyu, “Cinta itu buta! Ketika seseorang sedang jatuh cinta, kau tidak akan pernah bisa melihat sisi buruk dari orang yang kau cintai,” jelas Sunggyu.

“Tapi, Chaeri itu terlalu buta!” celetukku.

Sunggyu, Boram dan Min menatapku.

Wae?

Aku benar, kan?

Jang Chaeri terlalu buta!

Bagaimana bisa ia tetap percaya pada namja yang jelas-jelas belakangan ini tidak pernah memberi kabar untuknya. Lalu, ketika namja itu berkata, “Aku sibuk”, kenapa Chaeri dengan mudah percaya, eoh? Kenapa Chaeri lebih percaya pada namja itu dari pada kami, sahabat-sahabatnya. Terlebih…, aku… orang yang selama ini mencintainya dan… menunggunya.

Mau sampai kapan kau menutup matamu, Chaeri?

Mau sampai kapan kau dibutakan oleh cinta yang seharusnya tidak pantas kau berikan pada namja itu?

Sampai kapan?

@@@@@

A Week Later

Selamat ulang tahun yang ke-21, Jang Chaeri.

Ne, hari ini 21 Mei 2013 adalah hari ulang tahun Chaeri yang ke-21. Yeoja cantik itu mengadakan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahunnya sore ini di rumahnya. Saat ini, aku, Sunggyu dan Min telah berada di rumah Chaeri bersama dengan tamu-tamu lainnya. Boram sendiri masih berada di jalan menuju ke tempat ini.

“Kalian… belum melihat Tao?” tanya Chaeri yang baru keluar dari rumahnya. Tampak cantik dengan gaun berwarna orange pastel.

Aku, Sunggyu dan Min menggeleng.

“Dia bilang mau datang, eoh?” tanya Min.

Chaeri yang dari tadi tampak cemas sambil melihat ke arah pagar—menunggu Tao—pun mengalihkan pandangannya ke arah Min. “Ne. Dia sudah janji kalau dia akan datang,” jawab Chaeri. Kini, jemarinya dengan lincah memencet-mencet keypad HP-nya, lalu merapatkan benda itu ke telinga kirinya.

“Ish! Nomornya tidak aktif!” gerutu Chaeri.

“Mungkin… dia sedang di jalan,” kata Min, berusaha untuk membuat Chaeri tenang.

Chaeri menghela nafas. “Ya, sudah. Oh ya, kalian di sini dulu, ya. Masih ada yang harus aku urus di dalam.”

Ne,” ucap kami bertiga nyaris bersamaan.

Sepeninggal Chaeri, Boram pun datang menghampiri kami. “Dimana Chaeri?” tanyanya.

“Baru saja masuk,” jawab Sunggyu.

“Dia menunggu Tao yang belum datang. Padahal, sebentar lagi acaranya dimulai,” tambah Min.

Namja itu tidak akan datang,” kata Boram, membuat kami bertiga menatap antusias ke arahnya. “Kalian tahu, sewaktu dalam perjalanan ke sini, kulihat namja itu memasuki sebuah restoran dengan seorang yeoja.”

“Cih!” gumamku. “Namja itu memilih bersenang-senang dengan namja lain daripada menghadiri ulang tahun yeojachingu-nya sendiri!? Huh!”

Seharusnya, acara ulang tahun Chaeri sudah dimulai. Waktu telah menunjukkan pukul 5 lewat 10 menit, padahal di undangan…, acara ini dimulai pukul 5. Tapi, Chaeri sengaja menundanya beberapa saat HANYA UNTUK MENUNGGU TAO YANG TIDAK KUNJUNG DATANG!

“Chaeri-ya, ayo, jagi… acaranya dimulai sekarang. Tamu-tamu sudah menunggu,” bujuk Jang Ajumma. Saat ini Chaeri sedang berdiri bersama kami berempat—aku, Min, Boram dan Sunggyu.

“Mm… ne,” ujar Chaeri lirih.

Kami pun beranjak ke tempat dimana pesta diadakan, di halaman samping rumah Chaeri. Walaupun bibirnya melukiskan senyum, namun… raut wajahnya menunjukkan kalau dia… tengah bersedih. Ne, sedih karena… namjachingu-nya tidak datang.

Huh, ayolah, Chaeri.

Apa lagi yang kau harapkan dari namja itu, eoh?

Dia bahkan tidak menghadiri acara ulangtahunmu!

Kau tahu Chaeri, mungkin aku benar-benar seorang teman yang tidak baik untukmu. Aku berharap kau… segera berpisah dengan namja itu. Begitu Chaeri acara usai, ia pun menghampiri aku dan yang lainnya yang tengah duduk di sebuah meja.

“Ya! Chaeri-ya, kenapa wajahmu murung seperti itu, eoh? Hari ini kan hari ulang tahunmu. Utseyo~” kataku ketika kulihat Chaeri duduk di antara Min dan Sunggyu. Wajahnya tampak muram dan… aku sudah tahu itu karena apa.

Yap, apalagi kalau bukan karena si Tao itu tidak datang.

Chaeri memaksakan dirinya untuk tersenyum. “N-Ne.”

“Ehm!” Boram berdehem. “Apa… Tao bilang dia akan ke sini, eoh?”

Chaeri mengalihkan pandangannya ke arah Boram, lalu mengangguk. “Ne, dia bilang begitu, tapi… dia… tidak datang.”

Boram melirikku, Min dan Sunggyu bergantian. Sepertinya…, Boram ingin mengatakan pada Chaeri mengenai apa yang dilihatnya saat dalam perjalanan menuju ke sini.

“Chaeri-ya?” panggilnya.

Ne?”

“Mm… aku tahu kenapa Tao tidak datang,” ucap Boram.

Sudah aku duga. Yah, mungkin Chaeri akan percaya kalau Boram yang mengatakan semuanya. Selain sama-sama perempuan, Boram… juga cukup dekat dengan Chaeri.

Jincca?” Chaeri terkejut. “Wae?”

Boram menghela nafas. “Tao… pergi ke sebuah restoran bersama yeoja lain.”

Semuanya pun terdiam.

Kuperhatikan mimik wajah Chaeri yang menegang. Terlihat sangat terkejut. Kedua bahunya perlahan naik turun, tampak mengatur nafas. Yah, pasti dia sangat terkejut mendengar perkataan Boram padanya.

A-Aniya, Boram-ah!” elak Chaeri. Bisa kulihat kedua matanya berkaca-kaca. “Tao tidak mungkin melakukan itu. Kau pasti salah orang!”

“Tapi, Chaeri-ya,” tambah Min, “Bukan hanya Boram. Kami semua pernah melihat Tao berjalan dengan yeoja lain.”

Air mata Chaeri menetes. Dengan kepala yang menggeleng, Chaeri tetap bersikeras bahwa yang kami lihat itu bukanlah Tao, tapi orang lain. “Ani. Kalian semua salah orang. Aku yakin yang kalian bukan Tao. Bukan Tao!”

Boram ingin meyakinkan Chaeri sekali lagi. “Tapi—”

“CUKUP!” Chaeri berdiri, memotong ucapan Boram. “AKU MOHON KALIAN BERHENTI MENGATAKAN HAL BURUK TENTANG TAO! DIA BUKAN NAMJA SEPERTI ITU! AKU PERCAYA PADANYA! DIA TIDAK DATANG HARI INI PASTI KARENA ADA ALASAN LAIN! BUKAN KARENA DIA PERGI DENGAN SEORANG YEOJA KE SEBUAH RESTORAN! KALIAN SEMUA PASTI SALAH LIHAT!” Chaeri emosi. Air mata mulai membasahi kedua pipinya.

“Kalian pulanglah. Aku ingin sendiri,” sahutnya seraya mengalihkan wajahnya dari kami.

Geurae, kami semua akan pulang,” ucapku mewakili yang lainnya. “Tapi, kau harus tahu satu hal, Chaeri, kami… sahabatmu… tidak akan pernah tega melihatmu disakiti oleh namja itu.”

Setelah mengatakan hal tersebut, aku dan ketiga temanku pun pulang ke rumah masing-masing. Huh! Sungguh, aku benar-benar bingung dengan Chaeri. Kenapa dia masih tetap percaya pada Tao? Kenapa dia masih tetap percaya pada si b******k itu?

Sekitar 10 menit perjalanan dari rumah Chaeri, aku pun tiba di bagian depan gedung apartemen. Melangkah memasuki gedung apartemen itu dengan perasaan yang… bisa dibilang cukup kacau mengingat tadi…, Chaeri mati-matian menyangkal semua perkataan Boram.

Ah! Benar kata orang, cinta itu benar-benar bisa membuat orang menjadi buta!

“CKLEK!”

“YEEE!”

Aku baru membuka pintu ruang apartemen dimana aku tinggal, tapi… aku langsung disambut oleh suara teriakan yang berasal dari ruang TV. Uh? Ada apa?

“Oh! Wookie sudah datang!” seru Sungmin Hyung, orang yang pertama kali menyadari keberadaanku.

Aku agak terkejut melihat meja makan yang penuh dengan makanan. Tumben! Biasanya…, kalau bukan aku yang memasak, di atas meja hanya akan ada panci ramyeon dengan 5 mangkuk dan 5 pasang sumpit.

“Siapa yang memasak sebanyak ini, eoh?” tanyaku, menunjuk ke arah meja.

Hyung terlambat pulang, sih! Tadi yeojachingu Onew Hyung datang membawakan semua makanan ini untuk kita~” jawab Sandeul, lalu memasukkan sesuap soondaeguk ke dalam mulutnya.

Yeojachingu?” Aku menoleh ke arah Onew.

Namja itu tersenyum malu.

Ne, Hyung. Kau tahu siapa yeojachingu-nya? Yoon-Hye-Sa! Yeoja sunbae paling cantik di Yonsei!” kata Jinyoung.

“Oh, chukaeyo, Onew-ah,” kataku. Bertambah satu lagi penghuni apartemen yang memiliki yeojachingu. Sekarang…, tinggal aku dan Sandeul saja yang tidak punya yeojachingu.

“Oh, ya, bagaimana pesta ulang tahun Chaeri?” tanya Sungmin Hyung.

Aku diam sejenak. “Uh? Ra-ramai, Hyung. Menyenangkan.”

Setelah menjawab pertanyaan Sungmin Hyung, aku pun beranjak menuju kamar, namun sebelumnya, Onew menawariku untuk ikut makan. “Kau tidak makan, Hyung?”

Aku menggeleng pelan. “Ani. Sudah kenyang. Kalian saja!” Aku pun melangkah menuju kamarku. Mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.

@@@@@

Keesokan harinya, begitu tiba di kampus, aku bergegas menuju kelas. Ne, entah kenapa… hari ini aku sangat mencemaskan Chaeri. Kemarin…, aku tidak pernah meliha Chaeri semarah itu pada aku, Boram, Min dan Sunggyu.

Begitu aku hendak berbelok menaiki tangga, aku bertemu Min dan Boram. “Uh, kalian?” seruku.

“Chaeri tidak ada di kelas,” ucap Min, seolah tahu aku sedang mencari Chaeri.

Aku diam sejenak, menenangkan diri sambil memikirkan… dimana kira-kira Chaeri berada. Di kampus ini…, tempat favorit Chaeri adalah… mm… tempat favorit Chaeri adalah… ah! Aku tahu!

“Ya! Kim Ryeowook, kau mau kemana, eoh?” tanya Boram ketika aku beranjak meninggalkan mereka.

“Menemui Chaeri!” jawabku. “Aku tahu dimana dia!”

Ne, tempat favorit Chaeri di kampus adalah… taman belakang kampus. Taman belakang yang jarang dikunjungi orang. Taman belakang dimana ada sebuah kolam ikan yang cukup besar di sana. Chaeri pernah mengatakan padaku… kalau… dia sangat suka melihat ikan-ikan berenang. Hal itu membuatnya terasa lebih tenang.

“Chaeri-ya!” seruku ketika sosok yeoja yang tengah jongkok di samping kolam ikan. Yeoja itu menoleh padaku dan… ya, aku benar, dia… Jang Chaeri. Bergegas aku menghampirinya.

“Untuk apa kau ke sini, eoh?” tanyanya terdengar agak sinis ketika aku berdiri di sampingnya. Ia bahkan tidak melihat wajahku saat berbicara.

“Tentu saja mencarimu.”

“Untuk apa mencariku?”

“Aku mencemaskanmu,” jawabku.

Mendengar jawabanku, Chaeri pun berdiri, lalu menoleh padaku. “Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau cemaskan!” jawabnya. Yah, mungkin dia berkata bahwa dia baik-baik saja, tapi… kedua matanya berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu.

Gojitmal!” bantahku. “Aku tahu kau tidak baik-baik saja!”

Chaeri mendengus. “Ya, bagus kalau kau tahu.”

“Karena Tao, kan?”

Chaeri tidak menjawab, hanya membiarkan kedua matanya itu menatapku.

“Dengar, Jang Chaeri, aku tidak tahu apa yang kau lihat dari Tao sehingga kau begitu mempercayainya, tapi… kau harus membuka matamu. Dia itu tidak sebaik yang kau kira, eoh! Lihat saja, kemarin dia bahkan tidak datang ke ulang tahunmu!”

“Dia sibuk dengan kegiatan kampusnya!” ucap Chaeri seraya memalingkan wajahnya ke arah kolam.

“Dan kau percaya itu, eoh? Kau percaya kalau dia sibuk dengan kegiatan kampusnya? Ya! Jang Chaeri, dia itu sibuk dengan yeoja lain, eoh! Aku bahkan tidak yakin kalau dia sempat memikirkan tentang kuliahnya!”

“CUKUP, WOOKIE! AKU SUDAH BERKALI-KALI BILANG PADAMU, BERHENTI BERPRASANGKA BURUK PADA TAO! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANGNYA!”

“JUSTRU KAU YANG TIDAK TAHU APA-APA, CHAERI!” balasku dengan nada tinggi. Aku sudah tidak tahan. Aku benci Chaeri yang selalu membela namja yang telah menyakitinya. “TAO HANYA MEMPERMAINKANMU, CHAERI! DIA TIDAK BENAR-BENAR MENCINTAIMU! JADI, AKU MOHON, BUKA MATAMU, CHAERI! BUKA MATAMU! LIHAT APA YANG SEBENARNYA NAMJA ITU LAKUKAN PADAMU!” ucapku, membuat nafasku tersengal-sengal.

“PLAAAK!” Chaeri menampar wajahku. Tidak lama setelah itu dia bicara, “Dengar baik-baik, Kim Ryeowook! MULAI SEKARANG, KAU BUKAN TEMANKU LAGI!” ucapnya tegas, lalu beranjak meninggalkanku.

@@@@@

Semenjak hari itu, Chaeri tidak pernah lagi mengajakku bicara. Di dalam kelas, ia tidak lagi duduk di dekatku. Setiap berpapasan denganku, ia pura-pura tidak melihatku. Ne, dia benar-benar marah padaku kali ini.

“Jadi, sampai sekarang kau belum berbaikan dengan Chaeri?” tanya Sunggyu. Saat ini, aku dan Sunggyu sedang berada di halte depan kampus.

Ne, begitulah. Sudah seminggu dia seperti itu padaku.”

“Lalu…, apa Chaeri masih terlihat bersama namja itu?” tanya Sunggyu lagi.

Aku menggidikkan bahu. “Molla. Aku tidak ingin membahas hal itu.”

Walaupun belakangan ini aku bersikap acuh tak acuh pada hubungan Chaeri dengan Tao di depan Sunggyu, Min dan Boram, tapi… sebenarnya aku sangat peduli pada hubungan mereka. Oh, mungkin lebih tepatnya kalau… aku peduli pada perasaan Chaeri.

Sejak Tao tidak muncul di hari ulang tahunnya, Chaeri selalu terlihat murung. Kupikir hubungan mereka semakin memburuk. Di satu sisi, aku benar-benar merasa senang kalau hak itu benar-benar terjadi, tapi… di sisi lain, aku juga tidak tega melihat Chaeri sedih. Rasanya… sakit sesuatu di dalam dada ini begitu sakit melihat yeoja itu… tidak lagi menampakkan senyum manisnya seperti biasa.

“Ya! Bisnya sudah datang!” tegur Sunggyu, membuyarkan lamunanku. Begitu bis berhenti, aku dan Sunggyu pun masuk ke dalam bis, duduk di bangku paling belakang. Sunggyu berencana pergi ke sebuah toko musik langganannya. Aku menawarkan diri untuk menemaninya. Yah…, hanya sekedar jalan-jalan.

Perjalanan yang kami tempuh cukup singkat. Tepat 5 menit duduk di dalam bis, aku dan Sunggyu akhirnya tiba di Myeong-dong. Sunggyu tampak antusias saat kami berjalan dari halte menuju toko yang ia maksud.

Namun, saat tengah berjalan menuju toko tersebut, aku… lagi-lagi melihat Tao dengan yeoja lain. Yeoja kali ini berbeda dengan yeoja yang aku lihat waktu itu.

“Ya! Sunggyu-ya, lihat… itu Tao!” kataku.

Sunggyu mengikuti arah pandanganku. “Aigoo…, namja itu benar-benar b******k.”

“Aku… mau bicara dengan namja itu!” kataku.

Sunggyu terkejut. “Mwo? Ya! Apa yang ingin kau lakukan Wookie? Jangan bertindak gegabah!”

Ani!” Aku menoleh ke arah Sunggyu. “Aku hanya ingin bicara dengan namja itu. Aku ingin… aku ingin dia… memperlakukan Chaeri sebagaimana mestinya. Aku… aku tidak tega melihat Chaeri… menangis hanya karena namja itu!”

“Aku ikut denganmu!”

Andwae! Biar aku sendiri saja.”

Setelah berkata seperti itu, Sunggyu pun tidak membalas ucapanku lagi. Bergegas aku berjalan ke arah namja itu, mengikutinya dari belakang. Aku… hanya ingin mencari kesempatan agar bisa bicara empat mata dengannya.

@@@@@

Namja itu—bersama yeoja-nya—masuk ke dalam sebuah café. Keduanya tampak mesra sekali. Cih! Dasar namja tidak tahu diri. Tega-teganya dia bermesraan seperti itu dengan yeoja lain, sementara yeojachingu-nya sendiri ia biarkan menangis. Tidak bisa dimaafkan!

Aku pun ikut masuk ke dalam café yang sama, duduk di tempat yang agak berjauhan darinya, meja nomor 7. Sambil sesekali menyesap latte yang aku pesan, kedua mataku tidak lepas dari sosok namja itu. Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang ia punya sehingga banyak wanita yang masuk ke dalam perangkapnya.

“Wookie-ya?” seseorang memanggilku.

“Uh? Hyung? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku sedikit terkejut melihat Sungmin Hyung kini duduk berhadapan denganku.

Sungmin Hyung menjawab. “Pulang jalan-jalan. Neo?”

“Uh… itu… aku… aku… pulang mengerjakan tugas di rumah teman dan… singgah di sini sebentar… hehe,” jawabku agak gelagapan. Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku sedang mengikuti seseorang.

“Apartemen kosong, Hyung?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Ani. Ada Jinyoung.”

“Oh~” balasku.

Tidak lama setelah itu, seorang pelayan pun menghampiri meja. Sungmin Hyung memesan minuman yang sama denganku. Begitu si pelayan pergi, Sungmin Hyung pun bertanya padaku. “Bagaimana hubunganmu dengan Chaeri, eoh? Aku tidak pernah mendengar kau membicarakan yeoja itu lagi.”

Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaan Sungmin Hyung. “Oh, mm… hubungan kami sekarang tidak begitu baik.”

Sungmin Hyung terkejut. “Wae? Bukannya… kalian dekat, eoh?”

“Kami… sedikit bertengkar, Hyung,” jawabku lirih.

Sungmin Hyung tidak bicara lagi. Ketika latte-nya sudah diantarkan oleh si pelayan, Sungmin Hyung pun menyesap sedikit latte-nya, lalu… entah karena melihat apa, ia buru-buru meletakkan cangkir latte-nya ke tempat semula. Tidak lama setelah itu, ia menghubungi seseorang yang aku yakin… adalah Kang Miina.

Sungmin Hyung tidak lama duduk di café bersamaku. Begitu ia selesai menelepon Miina, lalu menghabiskan latte-nya, ia pun pamit meninggalkanku. Beberapa menit setelah Sungmin Hyung beranjak, kulihat Tao juga beranjak.

Tidak! Namja itu tidak beranjak keluar dari café. Ia beranjak menuju toilet. Ini kesempatanku! Aku harus bicara dengan namja itu.

Kuikuti namja itu ke toilet. Ketika ia masuk, aku menunggunya di luar. Kurang dari 5 menit, namja itu pun keluar dari toilet.

“Tao-ya!” panggilku ketika ia berjalan melewatiku. Mendengar namanya disebut, ia pun berbalik menghadapku.

“Kau memanggilku?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Ne. Aku memanggilmu.”

Nuguya?” tanyanya. Ya, dia memang tidak mengenalku. Tidak satu pun di antara sahabat-sahabat Chaeri yang ia kenal.

“Wookie. Sahabat Chaeri,” jawabku.

“Oh, jadi kau yang bernama Wookie, eoh? Chaeri cukup banyak bercerita tentangmu. Ada apa, eoh? Kau ada perlu denganku?” tanyanya tanpa nada bersalah sedikit pun. Cih!

“Putuskan Chaeri!” ucapku lantang.

Tao tertawa. “Hahaha… kau ini lucu sekali, Wookie-ssi. Kau menyuruhku memutuskan Chaeri, eoh? Memangnya kau siapa? Kau hanya sahabatnya! Kau tidak punya hak untuk menyuruhku melakukan itu.”

“Ya! Dengar Tao, kau tidak tahu belakangan ini Chaeri sering menangis karenamu. Karena kau tidak datang ke pesta ulang tahunnya! Karena kau jarang menghubunginya! Kau pikir aku tega melihat dia seperti itu, eoh?”

Tao memutar kedua bola matanya. “Ah, ne, tolong sampaikan maafku padanya karena ketidakhadiranku di hari ulang tahunnya. Aku terlalu sibuk dengan urusan la—”

“BUUKK!” Refleks aku memukul wajahnya, membuat ia sedikit kehilangan keseimbangan.

“Kau terlalu sibuk bermain dengan yeoja lain sehingga kau lupa padanya. Kau pikir aku tidak tahu, eoh? Aku sering melihatmu jalan dengan yeoja lain, Tao! Dan aku…, aku tidak terima kau memperlakukan Chaeri seperti itu! Dia itu yeoja yang baik. Dia tidak pantas berdiri dengan namja sepertimu!”

“Cih!” Namja itu mengelap sedikit darah yang keluar di sudut kanan bibirnya. “Ya! Kau pikir aku juga tidak tahu, eoh? Aku tahu kau menyukai Chaeri. Dari cerita Chaeri tentangmu, cukup mudah menebak kalau kau menyukainya. Aku benar, kan?”

Aku terdiam.

Ne, memang benar.
Aku mencintai Jang Chaeri.
Aku mencintainya sejak kami di bangku SMA.
Tapi…, kenapa dia malah memilih kau, Tao?

“Hahaha… Aku benar! Ternyata kau memang mencintai Chaeri-ku,” kata Tao dengan nada meledek. Dia lalu berjalan ke arahku, berdiri sekitar beberaoa centimeter di depanku. “Tapi kau lihat? Chaeri memilih bersamaku. Sebenarnya mudah saja bagiku untuk memutuskan yeoja polos itu. Sayangnya…, dia tidak mau putus dariku. Dan kau tahu kenapa?” Tao memamerkan senyum kemenangan. “Karena dia mencintaiku. Dia mencintaiku. Bukan kau!”

Setelah mengatakan kalimat tersebut di depan wajahku, namja b******k itu pun beranjak. Sebelum ia berbelok kembali ke ruang utama café, ia berkata padaku. “Ya! Sampaikan pada Chaeri, besok aku akan memutuskan hubunganku dengannya. Setelah dipikir-pikir, aku juga sudah bosan dengan dia!”

B******K!

@@@@@

Next Day

Seperti yang diucapkan oleh Tao kemarin, dia benar-benar memutuskan hubungannya dengan Chaeri. Aku senang karena… namja itu sudah melepaskan Chaeri, tapi… yang membuatku sedih adalah… Chaeri. Bisa kau tebak apa akibat dari keputusan Tao terhadap Chaeri?

Ne, johta!

Chaeri menangis!

Di kampus, saat jam mata kuliah berlangsung, kuperhatikan Chaeri tidak fokus. Berkali-kali aku melihat ia melamun. Bahkan, sesekali aku melihat ia menyeka air mata. Chaeri-ya, apa sebegitu sakitnya perasaanmu ditinggalkan oleh namja seperti Tao, eoh?

Dan sekarang…, aku berdiri memandangi Chaeri yang tengah berjongkok di depan kolam ikan di taman belakang. Aku tahu… dia pasti sedang menangis saat ini. Menangisi namja yang… yang sebenarnya tidak pantas untuk ia tangisi.

“Ya! Uljima~” tegurku saat aku sudah berdiri di sampingnya. Ne, sama dengan posisi kemarin.

Chaeri tidak menjawab. Hanya suara isak tangisnya yang terdengar. Sungguh aku tidak tahu apa yang Chaeri tangisi dari namja itu. Seharusnya saat ini Chaeri tersenyum. Ne, dia harusnya tersenyum karena namja itu tidak akan menyakitinya lagi. Tapi, kenapa dia menangis?

Kau benar-benar mencintai namja itu, Chaeri-ya?

“Ya! Chaeri-ya, uljima.”

“Untuk apa kau ke sini, eoh? Pergi! Aku ingin sendiri!” usirnya.

“Cih! Pasti kau menangisi namja itu lagi, kan? Kali ini apa yang dia lakukan padamu?”

Chaeri berdiri dari posisinya, lalu menghadap ke arahku. Kedua sorot matanya menatapku tajam. Tampak kilatan emosi di sana. “Apa penting bagimu mengetahui apa yang dilakukan Tao padaku, eoh? Apa itu penting bagimu?” tanya Chaeri dengan air mata yang berlinang dan bibir gemetaran. “Tao sudah memutuskan hubungannya denganku. Sekarang… dia bukan namjachingu-ku lagi. Kau senang sekarang, hah? KAU SENANG, KIM RYEOWOOK?” Air mata Chaeri semakin lancar menyusuri kedua belah pipinya.

Aku mendengus. “Ne, kau tahu aku senang, Chaeri. Aku senang namja itu sudah memutuskan hubungannya denganmu. Karena itu, berhentilah menangisinya. Dia sama sekali tidak pantas untuk kau tangisi, Chaeri!” ucapku dengan nada tinggi.

“Memangnya apa pedulimu, hah? Apa pedulimu? Hubunganku dan Tao sama sekali bukan urusanmu, arasseo?”

Lagi, aku mendengus. “Ne, aku tahu hubunganmu dan Tao bukanlah urusanku. Tapi, kau pikir aku akan tinggal diam melihat namja itu menyakitimu, eoh? Kau pikir aku tega melihat dia memperlakukanmu seperti itu? Menyakitimu?”

Chaeri diam. Hanya menatapku dengan air mata yang masih mengalir dari kedua bola matanya.

“Tidak, Chaeri! Sedikit pun aku tidak tega melihat kau diperlakukan seperti itu. Dan kau tahu kenapa? Karena aku mencintaimu, Chaeri. Aku mencintaimu.”

“….”

“Dengar, Chaeri. Dengarkan ucapanku baik-baik,” kataku menahan tangis. “Aku sudah menyukaimu sejak lama. Tapi, kenapa kau tidak menyadarinya, hah? Kenapa kau malah memilih namja yang jelas-jelas tidak mencintaimu, Chaeri?”

“….”

Kuraih kedua tangan Chaeri, lalu kugenggam dengan lembut. “Jadi, tolong, Chaeri. Tolong buka matamu dan lihat aku baik-baik. Aku… mencintaimu. Aku bisa memperlakukanmu jauh lebih baik dari namja itu. Karena itu, Chaeri, aku mohon… berhentilah menangisi namja itu. Dia sama sekali tidak pantas untukmu,” ucapku lirih.

Tidak lama setelah mendengar ucapanku, Chaeri melepaskan tangannya dari genggamanku. Ia menghela nafas panjang, lalu dengan suara serak, ia berkata, “Mianhae, Wookie. Tapi, aku tidak mencintaimu. Mianhae. Aku… aku belum bisa… menggantikan posisi Tao dengan siapapun. Aku… sangat mencintainya. Mianhae.”

Dan setelah mengucapkan hal yang membuat dadaku terasa sangat sesak, Chaeri pun meninggalkanku sendiri. Aku… aku benar-benar tidak mengerti dengan, Chaeri. Apa yang ia sukai dari Tao sehingga ia tidak bisa menerimaku? Apa yang dimiliki Tao yang tidak ada padaku, eoh? Apa? Apa? APA?

“Geu saekkiboda naega motan ge mwoya
[Apa yang si brengsek itu miliki dan tak ada padaku?]
Dodaeche wae naneun gajil su eomneun geoya
[Kenapa aku tak bisa memilikimu?]
Geu saekkineun neoreul saranghaneun ge anya
[Si brengsek itu tidak mencintaimu]
Eonjekkaji babogachi ulgoman isseul geoya
[Sampai kapan kau akan menangisinya seperti orang bodoh?]”

-END OF RYEOWOOK’S STORY \^O^/-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Iklan

19 thoughts on “5 MEN 5 STORIES [FOURTH-THAT XX]

  1. tu c chaeri emg udh buta sama cinta ya,,
    kan kasian ryeowook,,
    oppa, kl chaeri ga mau ama aq aja dech.. ^^ #ngayaldotcom
    bener2 tu c tao, bikin esmosi aja..
    semoga asli’a ga kaya gitu ya..
    wookppa, udh jgn pikirin c chaeri lagi ya.. 🙂
    kan udah ada aq.. #peluk ryeowook n_n

  2. haha.
    kukira sunggyu nongolnya cuman bentar unn, ternyata lumayan. makasih ya unn #peluk unni.
    jujur pas crita ini tuh ak ngerasa kesel banget sama chaeri ._.v pengen banget njitakin dia biar sadar haha.
    eniwei aku mau bicara soal typo unn, tpi karena udah ad yang jelasin ya ga jadi xD
    ditunggu critanya onew ya unn^^ fighting!!

    1. Hehehe… oke, cheonmaneyo.
      Haha… yah… silakan jitak Chaeri #eh? ._.a
      Aaaah… di sini banyak typo, ya? Aduh, mianhae… >/\<

      Oke, saeng. Gomawo udah RC^^
      Ne, fighting ^^9

      1. engga ko unn, cuman satu itu kayanya its oke unn, unni kan jarang typo ga kaya seseorang*nunjuk diri sendiri*
        haha

  3. FF yang ini lebih panjang ya saeng dari yang lain?
    lagi-lagi ending FFnya bikin nyesek deh. 😦

    typo saengie~
    ini yang pertama:
    “Namja itu memilih bersenang-senang dengan namja . . . .”
    seharusnya yeoja kan? hehehe ^^ kecuali klo ini FF yaoi saeng *mian* *bow*

    ini yang kedua dan sepertinya udah gak ada lagi ^^
    kalau hak itu benar-benar terjadi. yang bener ‘hal’ saeng.

    Aku harus menanti lagi last seriesnya, my favorit cast 😀
    dadah bubye..see you next week *gandeng onew dikanan* *gandeng jinyoung dikiri* #plak

    1. Iya eonni ^^
      Ini lebih panjang dikiiiit dari cerita yang lain ^^v

      Typo again? O.O!
      Hehehe… ini FF straight kok, eonni. Gomawo udah di-review-in ^^
      Aaah… ne. Yang bener hal. Habis huruf L dan huruf K di keyboard itu deketan sih #alasan #plak

      Ehehehe… ne. Yang terakhir itu si abang Dubu, #poke

      Oke, eonni.
      Gomawo udah RCL ^^

  4. yee. betul tebakanku ^^/
    huhuhu #puk puk puk wookie T..T
    cinta itu memang buta 😐 terlalu absurd tapi ada 😐 ini endingnya nyesekk eonni u_u
    dari awal kope sama yg di SENSOR itu *ehh ._. tapi aq akhirnya terjawab sudah.itu kata2 mutiara ala bakor atau lirik lagu eon ?

    next .. onew #hohohoho 😀

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s