MY FRIEND’S LOVE STORY

MY FRIEND’S LOVE STORY

MY FRIEND'S LOVE STORY

Rating:

PG-13

Length:

Oneshot *maybe longshot -.-“*

Genre:

Romance, Teenager-life, a little bit Marriage-life

Main Characters:

(SHINee) Onew/Jinki & (OC) Song Yongra—Noerul Siie Echin

Minor Characters:

(OC) Cho Junmi *saya nongol lagi XP* & (B1A4) Sandeul/Junghwan

Disclaimer:

FF ini dibuat untuk hiburan. Plot is mine! Jika ada kesamaan nama, tempat, adegan dan lain-lain itu hanya kebetulan. Onew/Jinki & Sandeul/Junghwan is mine too. Protes? Sendal melayang. XP

Warning:

AU, OOC, typo(s) bertebaran, alur membosankan & tidak jelas, feel kurang dapat dan lain-lain.

A/N:

FF ini untuk memenuhi request-an Nurul Saeng. Hope you like itu, saengie. Maaf atas segala kekurangan yang ada di dalam FF ini.

HAPPY READING \^O^/

In A Home

After Dinner

Aku duduk di atas kursi, berhadapan dengan sebuah laptop yang berada di atas meja. Lembar kerja Micsoft Word telah terpampang di layar laptopku, siap untuk menampung imajinasi yang mungkin sebentar lagi akan terlintas di otakku.

Berdiam diri beberapa saat, menatap layar putih dengan banyak tool di atasnya—bermaksud untuk mencari inspirasi—tiba tiba sebuah suara gaduh dari ruang kerja suamiku terdengar. Sepersekian detik setelahnya, ia berteriak, “Yeobo~~~”

Aish! Ne? Waeyo?” teriakku sedikit kesal. Tidak lama kemudian, aku bergerak menuju ruang  kerjanya.

Waeyo?” tanyaku sekali lagi setelah kubuka pintu kerjanya yang tertutup rapat. Begitu aku masuk, aku dikagetkan oleh buku-buku dan dokumen-dokumen yang berserakan di lantai. Kulihat suamiku yang tengah kerepotan membereskan satu per satu barang-barang yang berantakan itu.

“Kenapa bisa begini, eoh? Apa yang oppa lakukan?” tanyaku padanya sambil ikut membantunya .

“Aku mau mengambil buku ini,” ia menunjukkan sebuah buku padaku, “Tapi letaknya tinggi sekali. Aku kehilangan keseimbangan dan… seperti ini setelahnya,” lanjutnya.

Aku tidak bertanya lagi dan bergerak lebih cepat agar aku bisa melanjutkan apa yang aku lakukan tadi. Namun, saat aku mau meletakkan buku-buku yang telah aku susun itu kembali ke tempatnya, ada selembar foto yang jatuh dari salah satu buku.

Ah! Itukan foto saat aku,Youngra, Jinki Oppa dan suamiku di stasiun 10 tahun lalu.

Begitu aku selesai dengan buku-buku tersebut, aku langsung memungut foto itu, memperhatikannya beberapa saat.

“Ya! Apa yang kau lihat, eoh? Buku-buku masih banyak berserakan. Ppalliwa, bantu aku!” tegur suamiku.

Aku memperhatikan satu per satu wajah yang tercetak di atas selembar kertas foto yang aku pegang. Tring! Bagaikan ada sebuah bohlam 20 watt yang muncul di atas kepalaku.

Mianhae, Yeobo. Sepertinya aku tidak bisa membantumu,” kataku lalu berlari keluar dari ruang kerjanya sambil membawa foto tersebut menuju tempat laptop—yang aku log off—berada. Aku masih bisa mendengar teriakannya, memanggilku, ketika aku telah duduk di tempatku semula.

Kutatap selembar foto yang kuletakkan di samping laptopku. Seperti yang aku katakan tadi, di foto itu ada aku, Yongra, Jinki Oppa dan suamiku. Tapi, yang di antara keempat wajah-wajah muda 10 tahun lalu itu, ada 2 orang yang menginspirasiku untuk menulis kisah mereka dalam sebuah novel.

Bukan… bukan kisahku dan suamiku.

Tapi….

Yongra dan Jinki Oppa.

Siapa mereka?

Baiklah, akan aku perkenalkan.

Yongra. Song Yongra. Dia adalah sahabatku, teman sekelasku, sekaligus salah satu orang yang berjasa karena membuatku bertemu dengan suamiku, tepatnya… seorang namja yang tidak kuduga akan menjadi suamiku.

Oke, kembali ke Yongra. Dia seorang putri tunggal di keluarganya. Kau tahu bagaimana sifat seorang putri tunggal dari sebuah keluarga yang berada? Benar. Dia tidak ubahnya seorang putri dari negeri dongeng yang hidup di abad 21. Tapi, jangan pernah berpikir dia benar-benar berwujud seperti seorang putri yang cantik, cerdas dan lemah lembut. Dia memang cantik, dia juga cerdas tapi sikapnya jauh dari kata lemah lembut. Dia yeoja yang sangat-sangat galak jika kau melakukan apa yang tidak disukainya. Setidaknya, hal itu berlangsung sampai seorang namja berhasil mengubah sifatnya itu.

Lee Jinki atau Jinki Oppa. 10 tahun yang lalu, dia adalah seorang mahasiswa semester 5 yang diminta oleh Dosen Song—appa Yongra—untuk menjadi mentor private bagi Yongra. Mungkin kalian heran, untuk apa seorang Yongra membutuhkan mentor, padahal tadi aku mengakuinya sebagai yeoja yang pintar? Nanti kalian akan tahu.

Jinki Oppa seorang namja yang lembut, tapi bisa menjadi sangat galak ketika kau membuatnya kecewa. Jujur, sifat galaknya itu sempat terlihat tidak matching di mataku untuk wajahnya yang tampan dan sepasang mata yang membentuk bulan sabat kala ia tersenyum. Namun, karena ketidak-matching-annya itu, seorang yeoja rela mengubah sifatnya.

Ah, sepertinya aku sudah siap untuk menuliskan kisah mereka.

@@@@@

“Biologi 60, Fisika 45, Kimia 55 dan  Matematika… 10!”

Aku hanya bisa mendesah pelan ketika kulihat Jinki Oppa melotot pada Yongra setelah melihat lembaran hasil ulangan yeoja itu.

Saat ini, aku, Jinki Oppa dan Yongra berada di taman kecil di samping rumah si Tuan Putri. Tempat dimana Yongra selalu menjalankan les privat-nya. Kami duduk di atas kursi semen yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat seperti bekas pohon yang ditebang. Aku ada di sini karena diminta oleh Yongra. Mm… mungkin lebih tepatnya, dipaksa oleh Yongra agar dia punya teman saat les privat ini berlangsung.

“Ya! Aku sudah berusaha semampuku untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan. Salahkan gurunya, kenapa dia memberi soal ujian yang bentuk dan cara kerjanya berbeda dengan yang dia jelaskan!

Jinki Oppa semakin melotot.

“Huh! Itu karena kau yang tidak pernah memperhatikan aku atau sonsaengnim-mu saat menjelaskan materi pelajaran!”

“Sudahlah! Jangan marah-marah seperti itu di depanku, eoh! Kau ini baru mengajarku privat selama 1 bulan, tapi kau sudah berani membentak-bentakku seperti itu!”

Jinki Oppa memalingkan wajahnya ke arah kolam yang berada di dekat kami. Rahangnya sedikit bergetar dan kedua bahunya naik-turun. Aku rasa… dia marah. Sepersekian detik setelahnya, ia kembali menatap Yongra.

“Dengar gadis manja!” sahut Jinki Oppa, mengambil jeda beberapa detik, “Aku mengajarmu karena aku diminta langsung oleh Dosen Song, dosen yang sangat aku hormati. Aku tidak mau mengecewakan beliau, karena itu aku berusaha keras untuk mendidikmu,” lanjutnya.

Kulihat Yongra tertegun.

“Cih! Aku tidak peduli kau tidak mau mengecewakan appa atau tidak! Yang jelas, aku tidak suka dipaksa dan aku tidak suka dibentak!” Yongra pun beranjak meninggalkan aku dan Jinki Oppa yang memandanginya berlari masuk ke dalam rumahnya.

“Anak itu keras kepala!” gumam Jinki Oppa.

On The Night

Yongra’s Room

Aku masih berada di rumah Yongra. Begitu insiden tadi sore selesai, Jinki Oppa pamit pulang. Duduk di atas kursi putar sambil memandangi si pemilik kamar yang berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk.

“Junmi-ya, apa tadi aku salah karena telah memarahinya?” tanya Yongra yang sekarang mengambil posisi duduk menghadapku.

“Aku rasa… ne.”

Yongra menghembuskan nafasnya. Melihat gurat wajah yang seperti itu, aku rasa dia menyesal telah membentak mentornya sendiri.

“Jadi, aku harus bagaimana?” tanyanya lagi. Nada suaranya melemah. Anak ini benar-benar menyesal.

Aku beranjak dari kursi, berjalan menyusuri sebuah rak boneka di kamarnya. Hap! Kuambil salah satu boneka teddy bear yang memegang hati bertuliskan kata ‘Sorry’.

“Kau harus minta maaf,” jawabku sambil melemparkan boneka itu padanya. Yongra memandangi boneka tersebut cukup lama.

“Ya! Aku mau pulang.” Aku menginterupsi. Ia hanya mengangguk pelan.

@@@@@

At Saturday

Aku yang sedang asiknya menekuni novel milik Yongra, mendadak sedikit merasa terganggu dengan tingkah gelisahnya. Berulang kali ia melirik jam tangan berwarna pink yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

“Ya! Kenapa Jinki belum juga datang, eoh?” Ia bertanya padaku.

Aku menggidikkan bahu, “Mana aku tahu.”

Ia mendecak sebal, bahkan kali ini menendang-nendang kaki meja dengan flat shoes mahalnya. Aku memutar bola mataku.

“Dia sudah terlambat 30 menit! Dia itu mau datang atau tidak?” gerutunya. Kembali aku menekuni novel miliknya.

“Junmi-ya!”

“Mm?”

“Kita ke rumahnya!”

Aku menutup novel yang kubaca, lalu memandang yeoja itu dengan sebuah tatapan terkejut bercampur heran. Aku tidak salah dengar?

“Kau… serius?” tanyaku.

Ia menunjukkan sebuah wajah serius miliknya padaku. Melihat wajahnya yang sedikit mengerikan ketika serius seperti itu, aku mendesah pelan.

Geurae.”

Dan di sinilah kami berdua.

Berdiri di depan pintu sebuah rumah yang berada di Gangnam-gu. Rumah yang tidak begitu besar, namun sepertinya terlihat nyaman untuk ditinggali.

“Ya! Junmi-ya, kau yang memencet bel!” perintah Yongra padaku.

Ne, ne,” balasku dengan nada sedikit kesal. Kutekan tombol bel yang di pasang di bingkai pintu.

“Ting… tong….” Seperti itu bunyinya. Aku dan Yongra menunggu beberapa saat sampai terdengar suara langkah seseorang yang mendekat ke pintu. Sepersekian detik kemudian, seorang namja berbaju kuning muncul dari balik pintu.

Bukan… namja itu bukan Jinki Oppa.

“Cari siapa?” tanyanya, lalu tersenyum. O-Omo.

Tiba-tiba aku merasa gugup. Aduh, kenapa aku mau saja menerima suruhan Yongra untuk berbicara? Padahal, orang yang punya urusan dengan Jinki Oppa kan dia? Bukan aku!

“A-Anu… Apa… Jinki Oppa ada?”

“Junghwan-ah…, nugu?” Kudengar suara teriakan Jinki Oppa dari dalam rumah.

Namja itu menoleh ke dalam rumah, lalu berteriak, “Dua orang yeoja mencarimu!” Kemudian ia menoleh pada kami, “Ayo, masuk.”

Aku tersenyum kikuk, “N-Ne.”

Setelah namja itu membuka pintu lebar-lebar, aku dan Yongra pun masuk. Namja yang kudengar bernama Junghwan itu pun meninggalkan kami setelah ia mempersilakan kami untuk duduk.

“Lho? Kalian? Ada apa?” Jinki Oppa dengan pakaian kasual yang membalut tubuhnya menghampiri kami. Aku menyenggol lengan Yongra. Jabatanku sebagai juru bicaranya telah selesai.

Yongra menggaruk-garuk pipinya.

“Kenapa… kenapa kau tidak datang ke rumah?” tanya Yongra, melihat ke arah Jinki Oppa yang duduk berhadapan dengannya.

“Ini… aku baru mau berangkat ke rumahmu,” jawab Jinki Oppa sekenanya.

Yongra terlihat semakin kikuk.

“Jangan-jangan kau mengira aku tidak datang ya, sampai-sampai kau datang ke rumahku?”

Yongra mengangguk.

Ne, a-aku… aku pikir… aku pikir kau marah karena hari itu aku membentakmu,” jawab Yongra. “Jweisonghamnida.”

Jinki Oppa tersenyum.

Gwaenchana,” sahut Jinki Oppa, lalu berdiri. “Ng… kalian… mau belajar di sini?” tanya Jinki Oppa yang akhirnya menyadari kalau aku dan Yongra menggendong sebuah ransel di punggung masing-masing.

Ne, Oppa,” jawab Yongra.

Aku dan Jinki Oppa melihat ke arah Yongra yang menundukkan kepalanya. Apakah terjadi sesuatu pada anak ini? Dia… memanggil Jinki dengan sebutan oppa? Omo… jangan-jangan yeoja ini….

Ah, mustahil!

“Oh, geurae. Ayo, kita belajar di beranda kamarku saja.”

Aku dan Yongra berjalan di belakang Jinki Oppa, mengikuti namja itu menuju beranda kamarnya. Rumah Jinki Oppa memang benar-benar nyaman untuk ditinggali. Tidak hanya tampak luarnya saja yang bagus.

“Junghwan-ah, tolong buatkan minuman untuk mereka!” perintah Jinki Oppa pada namja yang sedang asik menonton siaran televisi saat kami melewati ruangan itu. Si Junghwan itu pun bergerak dari tempatnya menuju dapur.

“I-Itu… siapa, Oppa?” tanyaku ingin tahu.

Sambil terus berjalan, Jinki Oppa menoleh padaku, “Sepupuku, Lee Junghwan.”

@@@@@

Tuesday

Yongra’s Home

Sesuatu yang aneh semakin menimpa Yongra ketika kami selesai belajar di rumah Jinki Oppa. Aku tidak tahu apa, tapi yang jelas… dia tidak lagi seperti Yongra yang dulu. Yongra yang setiap les privat, lebih sering memandangi layar Blackberry-nya dibanding white board penuh tulisan spidol yang berada di depannya, sekarang menatap white board dengan serius. Yongra yang selalu mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh Jinki Oppa dengan sesantai-santainya, sekarang terlihat seperti orang yang sedang mengerjakan ujian akhir Negara.

“Ini…! Sudah selesai!” Yongra menyerahkan bindernya pada Jinki Oppa.

“Kau… tidak apa-apa, kan?” tanya Jinki Oppa heran, menyadari keanehan yang ada pada Yongra, namun tangan kanannya tetap terjulur untuk mengambil binder biru milik Yongra.

Yongra mengangguk mantap, “Aku yakin benar semua.”

Jinki Oppa memandang penuh curiga yeoja tersebut, kemudian pandangannya teralihkan pada serangkaian jawaban Yongra dari latihan soal yang diberikannya beberapa menit lalu.

“Ayo, Junmi, semangat!” Yongra memberi semangat atau mungkin meledekku yang baru mengerjakan 3 dari 5 soal yang diberikan Jinki Oppa.

“Yongra-ya,” panggil Jinki Oppa.

Ne?”

“Jawabanmu…,” Jinki Oppa menggantungkan ucapannya. Sepersekian detik kemudian, ia memperlihatkan hasil pengoreksiannya terhadap pekerjaan Yongra, “Salah semua!”

Kulihat lembar jawaban Yongra yang diberikan tanda silang di sisi jawaban akhir setiap nomor soal. Yongra kemudian menjulurkan tangannya, mengambil bindernya dari Jinki Oppa. Ah, sebentar lagi dia pasti marah.

“Ah, ne. Baiklah, akan aku ulangi lagi.”

Aku dan Jinki Oppa menatap yeoja yang sekarang sedang serius mengerjakan soalnya pada selembar kertas buram.

Dia… tidak marah?

Dia tidak protes?

Aigoo!

Apa yang terjadi padamu, Yongra???

A Month Later

“Aku rasa… aku suka pada Jinki Oppa.”

MWOYA?”

Saat ini aku dan Yongra berada di taman depan kelas, di antara dua gelas strawberry milkshake, sebungkus tortilla pedas milik Yongra dan sebungkus kentang goreng milikku. Nyaris saja aku memuncratkan kentang yang tengah kukunyah saat yeoja itu menjawab pertanyaan yang aku ajukan padanya.

Ne. Sepertinya… aku tertarik padanya.” Yongra diam sebentar sambil memandangi tortilla pedas di hadapannya. “Dia… sangat bertanggungjawab. Dia bahkan tidak pernah protes saat aku tidak memanggilnya ‘oppa’. Aku suka dia… yang dewasa.”

Segera kuraih milkshake milikku, lalu kusedot isinya sampai tersisa setengah gelasnya saja.

“Lalu, karena itu kau berubah?”

Yongra tidak langsung menjawab pertanyaanku, melainkan menyedot milkshakenya sedikit. Setelah itu, barulah ia menjawab.

“Kau ingat waktu kita di rumahnya? Waktu kau ingin ke toilet dan Jinki Oppa mengantarmu menuju toilet di rumahnya?

Aku mengangguk.

“Aku hanya sendiri saat itu. Aku tidak tahu kenapa, seperti ada suatu keingintahuan yang besar dalam diriku tentang Jinki Oppa. Kau bisa tebak apa yang aku lakukan?”

Mwo?”

“Aku lancang membuka laci mejanya yang ada di kamar. Di dalam laci itu, aku menemukan banyak sekali amplop-amplop berwarna pink dengan bau yang wangi dan tulisan yang rapi.”

“Surat dari wanita?!” tebakku.

“Benar! Lalu aku penasaran dan membuka salah satu dari sekian banyak amplop yang ada di laci itu.”

Aigoo, Yongra-ya, kau….”

Ne, aku tahu. Dan saat aku baca surat dari yeoja itu, tiba-tiba aku merasa cemburu. Rasanya aku ingin merobek-robek surat yang aku pegang. Lalu, di situlah aku mulai sadar kalau aku… menyukai Jinki Oppa.”

Yongra pun tertunduk malu.

@@@@@

Yongra’s Home

Afternoon

Yeoja cantik itu masih menundukkan kepalanya, malu, setelah beberapa saat lalu dengan nekadnya dia menyatakan rasa sukanya pada Jinki Oppa. Namja yang sebenarnya sudah mau pulang itu, menatap ‘murid’-nya tidak percaya.

Ah, baiklah… akan aku ceritakan pada kalian tentang kejadian beberapa saat lalu.

“Kalau ingin mencari titik pusat hiperbola, gunakan rumus yang ini atau yang ini. Kalian tinggal memperhatikan sumbunya sejajar sumbu x atau y. Dan kalau ingin mencari titik asimtot-asimtot-nya gunakan rumus yang ini, ara?” jelas Jinki Oppa yang baru saja selesai menjelaskan materi hiperbola pada mata pelajaran matematika.

Ne, Oppa,” jawabku dan Yongra hampir bersamaan.

“Baiklah. Hari ini oppa tidak memberi latihan. Oppa harus cepat pulang, ada urusan.” Jinki Oppa lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam sebuah tas ransel hitam yang biasa dia bawa saat datang mengajar.

J-Jamkanman!” cegah Yongra.

Aku yang saat itu sedang memasukkan bukuku ke dalam tas, langsung menoleh ke arah yeoja cantik yang hari ini rambut panjang sepunggungnya dikuncir. Jinki Oppa menoleh padanya.

Ne?”

Yongra menggigit bibir. Satu kebiasaannya saat ia sedang ragu atau gugup.

“Aku… Aku menyukaimu, Oppa.”

Mulutku menganga saat kudengar kalimat itu keluar dari bibir mungil berwarna pink milik Yongra. Jinki Oppa membalasnya dengan sebuah senyuman. Wah, jangan-jangan Jinki Oppa juga menyukai Yongra. Gayung bersambut, rupanya.

Ne, aku juga menyukaimu, Yongra Yeodongsaeng.”

Ternyata, aku salah duga.

A-Aniya! Bukan itu maksudku, Oppa,” sergah Yongra. “Aku… aku menyukaimu sebagai namja, bukan sebagai yeodongsaeng.”

Yongra menundukkan kepalanya, malu. Sementara, Jinki Oppa diam, mungkin bingung harus merespon seperti apa. Tidak lama setelah keheningan itu, Jinki Oppa pun bersuara.

“Dengar Yongra-ya…, aku ini tidak cocok untukmu, eoh? Kau tidak ingat, ya, aku selalu memarahimu? Masa kau suka pada namja yang selalu memarahimu?”

Aku melihat Yongra, ia pun menegakkan lehernya, menatap Jinki Oppa.

“Karena itu aku menyukaimu, Oppa. Karena kau selalu memarahiku. Bukankah itu artinya kau menyayangiku? Kau memarahiku karena tidak mau melihatku jelek, kan? Aku benar, kan, Oppa?” Bisa kulihat setitik cairan bening di sudut mata kanan yeoja itu.

Aku kembali melihat ke arah Jinki Oppa. Namja berambut cokelat itu terlihat bingung. Buktinya, ia menggaruk-garuk belakang lehernya yang aku yakin tidak gatal sama sekali dan matanya yang tidak fokus menatap Yongra.

N-Ne, kau memang benar, tapi….”

“Apa karena appa-ku?”

“Bu-Bukan itu juga, tapi….”

“Tapi apa?” desak Yongra. “Apa… karena aku bodoh, eoh? Karena oppa tidak mau memiliki yeojachingu bodoh?”

A-Aniya. Aku tahu kau sebenarnya anak yang pintar.”

Ne, Song Yongra memang yeoja yang pintar. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama, rangkingnya selalu masuk dalam 10 besar. Tapi, semenjak yeoja ini masuk SMA dan mengikuti kegiatan cheers, pelan-pelan nilainya mulai menurun. Sampai pada saat penerimaan rapor semester 3 (kelas 2 semester 1) beberapa bulan lalu, dia berada di rangking 28 dari 30 siswa di kelas kami.

Aku rasa ini sebabnya Jinki Oppa diminta oleh Song Ajussi untuk menjadi guru privat Yongra.

“Lalu, apa masalahnya, Oppa?”

Jinki Oppa menghela nafas.

Geurae, aku mau menjadi yeojachingu-mu kalau kau bisa mendapatkan 3 nilai 90 di 3 mata pelajaran yang aku ajarkan padamu.”

Ini sama saja dengan menolak Yongra.

Mendapat nilai 90 untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi itu… sangat susah.

“Ji-Jinki Oppa, a-apa persyaratanmu itu….”

Jinki Oppa menoleh padaku, “Kalau dia benar-benar menyukaiku,” ia melirik Yongra, “Dia pasti bisa memenuhi syarat yang kuajukan,” lanjutnya, lalu menatap Yongra.

Geurae! 3 nilai 90 di rapor. Aku akan mendapatkannya!” seru Yongra lantang.

Ne, bagus kalau kau optimis seperti itu!”

Jinki Oppa pun menggotong ranselnya, lalu pamit pulang. Sepeninggal namja itu, Yongra memintaku untuk pulang juga. Pertama kalinya aku yang disuruh pulang, biasanya juga aku yang diminta untuk tinggal sampai jam makan malam. Waktu aku tanya ‘Wae?’ Dengan penuh penekanan dia menjawab, “Aku mau belajar!”

Sebegitu inginnya kah dia menjadikan Jinki Oppa sebagai namjachingu-nya?

@@@@@

Rangkaian ujian akhir kenaikan kelas baru saja berakhir. Terlihat kelegaan di wajah-wajah teman-temanku yang berjalan menuju gerbang, bersiap untuk menyambut liburan yang sebentar lagi akan menyapa kami. Namun, terselip sedikit kekhawatiran di wajah-wajah muda itu tentang hasil ujian. Berharap, kali ini kami—aku dan mereka—tidak mengikuti ujian perbaikan nilai.

Ah, aku rasa… yeoja yang berjalan di sisiku pun berharap seperti itu. Karena kalau ia mengikuti ujian perbaikan, maka sampai jumpa nilai 90 dan selamat datang nilai standar 75.

Otte? Kau yakin bisa mendapat 3 nilai 90 di rapor?” tanyaku pada yeoja itu, Yongra.

Masih berjalan, ia menoleh padaku, “Tentu.”

Walaupun mulutnya mengatakan ‘tentu’, tapi nadanya menyiratkan kepesimisan. Aku agak heran, kenapa dia harus pesimis? Sejak hari itu, hari dimana Jinki Oppa memberikan syarat tersebut, Yongra semakin giat belajar. Bahkan, aku ajak ke mall untuk sekedar membeli kado ulang tahun, dia menolak.

Harusnya dia optimis!

“Ya! Kau pasti mendapatkan 3 nilai 90. Hwaiting!”

Ia tersenyum sekilas, lalu mengucapkan, “Hwaiting!” Lengkap dengan dua tangan yang dikepal.

Seminggu waktu yang diberikan oleh kepala sekolah dan para sonsaengnim untuk melakukan ujian perbaikan nilai telah lewat. Jika aku menjadi Yongra, aku akan sangat khawatir. Bagaimana tidak? Satu dari 4 mata pelajaran yang diajarkan Jinki Oppa, ada 1 pelajaran yang membuat Yongra terpaksa mengikuti ujian perbaikan nilai karena nilainya tidak mencapai standar. Matematika!

“Kau masih yakin bisa mendapat 3 nilai 90?” tanyaku ragu. Aku tidak tahu kenapa, aku mulai pesimis terhadap Yongra. Ah! Sahabat macam apa aku ini?

Ne, tentu saja! Walaupun aku harus mengikuti 1 ujian perbaikan nilai, tapi kau lihat, kan? Aku lulus di 3 mata pelajaran lainnya.”

“Tapi, itu kan….”

“Ya, aku tahu. Meskipun aku lulus, bukan berarti nilaiku 90. Bisa saja di bawahnya.”

“Lalu, kenapa kau masih terlihat begitu optimis? Bahkan lebih optimis dari sebelumnya.”

Ia menatapku, lalu tersenyum. Sedetik kemudian, dia menjawab, “Entahlah. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang menyuruhku untuk percaya diri.”

Aku tertegun.

Sejak kapan bicaranya seperti itu?

@@@@@

Mwo? Yang benar?”

Aku yang sedang duduk di bangku taman depan kelas sambil membaca majalah sekolah, langsung menoleh ke arah Yongra yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Dari nada suara Yongra, sepertinya ia baru mendapatkan kabar buruk. Seburuk apa kabar itu, aku tidak tahu. Tapi, semoga saja tidak seburuk hasil ujian yang sebentar lagi akan dibagikan.

Nugu?” tanyaku pada Yongra, ketika yeoja itu memasukkan HP-nya ke dalam saku rok. Kulihat raut wajah yang penuh semangat saat ia menjejakkan kaki di sekolah, kini berubah sendu.

“Junghwan Oppa.”

“Jung… hwan… Oppa?” Aku mengingat-ingat nama yang pernah aku dengar itu. “Maksudmu, Lee Junghwan sepupu Jinki Oppa?”

Yongra mengangguk pelan. “Katanya… katanya… hari ini Jinki Oppa akan ke Busan.”

“Bu-Busan? Untuk apa?”

“Dia… mau pindah ke… ke sana,” jawab Yongra dengan suara lirih.

“Ha? Kenapa tiba-tiba sekali?” Yongra menggeleng.

“Tapi, hari ini kan… hari penentuan semuanya….”

“Karena itu… aku….”

“Jam berapa dia akan pergi?”

“Jam 10, kata Junghwan Oppa,” jawab Yongra.

Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sekarang jam 9 pagi, pembagian rapor akan dimulai jam 10 pagi.

O-Omo….”

“Huh! Dia itu mau lari ternyata! Dasar!” Nada suara Yongra yang tadinya lirih, berubah menjadi sebuah gerutuan.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan, eoh?”

“Tentu saja, aku akan menyusulnya. Begitu aku mendapatkan raporku, aku akan segera  menyambanginya di stasiun!”

“Kau yakin kau akan bertemu dengannya di stasiun nanti? Bukannya jam pembagian rapor dan jam Jinki Oppa berangkat ke Busan itu sama?”

“Aku yakin!”

“Kenapa kau bisa seyakin itu?”

“Kata hatiku yang menyuruhku seperti itu!”

Lagi-lagi aku tertegun.

Cha Sonsaengnim, wali kelas kami akhirnya memasuki ruang kelas dengan membawa 30 buku rapor yang baru saja diletakkan oleh beliau di atas meja guru. Kami pun mulai berbisik-bisik, harap-harap cemas tentang bagaimana hasil belajar kami selama satu semester terakhir.

Satu per satu, Cha Sonsaengnim memanggil si pemilik rapor untuk naik mengambil rapornya. Tidak lupa diberikan sedikit ‘ceramah’, terutama bagi mereka yang nilainya kurang memuaskan.

“Cho Junmi.” Ah, sudah giliranku.

“Nilaimu bagus seperti biasa. Pertahankan!” Aku tersenyum. Yaay!

Aku kembali ke tempat dudukku, lalu membuka raporku. Ada 2 nilai 90 tertera di sana. Ah, bagus.

“Song Yongra.”

Yongra yang duduk di sampingku, langsung beranjak dari tempatnya begitu mendengar namanya disebut. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Cha Sonsaengnim padanya, tapi melihat mimik wajah sonsaengnim yang kelihatan bangga, sepertinya nilai Yongra mengalami kenaikan. It’s a good news so far.

“Junmi-ya, kita ke stasiun sekarang,” bisik Junmi begitu ia kembali ke tempatnya dengan membawa rapor yang belum dilihatnya.

“Bukankah sebaiknya kau melihat isi rapormu dulu. Yah… maksudku, untuk memastikan ada 3 nilai 90 di dalam,” usulku.

Aniya. Aku ingin Jinki Oppa menjadi ornag pertama yang melihatnya. Ayo.”

“Ta-tapi, bagaimana dengan Cha….”

“Aku sudah minta izin pulang duluan tadi. Ppalli!”

Sepersekian detik kemudian, Yongra memanggul ranselnya, kemudian beranjak dari tempatnya duduknya. Aku segera menyusulnya. Menaiki taksi di depan sekolah, menghabiskan waktu 10 menit di jalan, akhirnya kami tiba di stasiun kereta.

“Ya! Tunggu aku!” Aku mengejar Yongra yang berlari sambil celingak-celinguk mencari sosok Jinki Oppa.  Aissh!

Aku masih mengejar Yongra, celingukan mencari yeoja itu yang entah terselip dimana di antara kerumunan orang-orang yang berada di stasiun. Fiuh, untunglah baju seragam sekolah kami cukup mencolok. Kulihat yeoja itu akhirnya berdiri di depan Jinki Oppa. Di dekat mereka terdapat beberapa koper—yang aku rasa milik Jinki Oppa—dan seorang namja berbaju biru muda yang mungkin saja si namja bernama Lee Junghwan itu.

“Dasar! Oppa mau pergi ke Busan, tapi tidak pamit padaku!” gerutuan pertama yang aku dengar keluar dari mulut Yongra begitu aku bergabung dengan ketiga orang tersebut.

Mianhae, Yongra-ya, aku tidak bermaksud kabur. Tapi, aku memang harus bergegas ke Busan,” jelas Jinki Oppa.

Kereta yang akan ditumpangi Jinki Oppa ke Busan sedikit mengalami gangguan sehingga harus ditunda keberangkatannya selama 15 menit. Yah, begitu kata si Junghwan ketika aku menanyainya, “Kenapa Jinki Oppa belum berangkat?”

Ne, tapi setidaknya kau bisa memberitahuku, kan? Kau… kau… pasti tidak mau menjadi namjachingu-ku. Benar, kan?” Cairan bening bernama air mata itu kini mengalir pelan di pipi kanan Yongra.

Jinki Oppa menghela nafas.

“Apa kau berhasil mendapatkan 3 nilai 90?” Jinki Oppa malah bertanya balik sesaat setelah ia melirik rapor yang dipegang Yongra. Yeoja itu buru-buru menyeka air matanya, lalu menyerahkan buku bersampul hitam itu kepada Jinki.

“Aku belum melihat nilaiku. Oppa saja yang duluan melihatnya dan katakan padaku seperti apa hasilnya.”

Jinki Oppa menerima buku itu sambil menatap Yongra. Bisa kulihat jemari lelaki itu sedikit gemetar saat menyentuh buku rapor yeoja yang berada di depannya. Aku tahu ini sebenarnya tidak ada hubungannya denganku, tapi… aku juga deg-degan ketika kulihat Jinki Oppa membuka rapor milik Yongra.

Kulirik Yongra yang mulai menggigiti bibir bawahnya. Jari-jemarinya bertautan tidak jelas saking gugupnya. Bahkan, peluh sebesar biji jagung pun mulai nampak di keningnya. Cemas. Ya, pasti itu yang dirasakannya.

“Yongra-ya…,” panggil Jinki Oppa setelah melihat nilai yang di tertera di rapor Yongra.

Mianhae… kau… tidak berhasil.” Jinki Oppa memperlihatkan rapor Yongra pada kami semua.

Ne, yeoja ini tidak berhasil. Ah, akan lebih baik terdengar jika aku katakan kalau yeoja ini nyaris berhasil. Di sana, di rapor itu tertera angka 75 pada pelajaran Matematika, nilai 90 pada mata pelajaran Biologi dan Kimia dan… 85 pada mata pelajaran Fisika.

Jinki Oppa menyerahkan rapor itu pada Yongra dengan hati-hati. Takut jika tiba-tiba Yongra menangis atau marah. Tapi adegan yang terjadi, Song Yongra menerima buku rapornya sambil tersenyum. Walaupun tersenyum, tapi raut wajahnya menunjukkan dia kecewa.

“Gagal, ya?” sahutnya lirih. Ia menatap satu per satu angka yang ada di rapornya.

N-Ne,” jawab Jinki Oppa terbata.

Yongra menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya, yeoja itu sedang berusaha untuk menguatkan hatinya.

Geurae. Aku mengerti, Oppa. Gomawo karena sudah mau mengajariku. Jeongmal gamsahamnida, Jinki… Sonsaengnim,” ucap Yongra lirih, lalu membungkuk 90 derajat di depan Jinki.

Kulihat Jinki Oppa tertegun begitu kata ‘oppa’ di belakang namanya telah diganti dengan ‘sonsaengnim’ oleh Yongra.

“PERHATIAN-PERHATIAN! DITUJUKAN BAGI PENUMPANG KTX NOMOR 123 JURUSAN KOTA BUSAN DIHARAP UNTUK SEGERA NAIK. KERETA AKAN BERANGKAT 5 MENIT LAGI. GAMSAHAMNIDA.”

“Aku… harus segera berangkat,” kata Jinki Oppa begitu pengumuman selesai. Ia hendak menarik kopernya, tapi kemudian dicegah oleh sepupunya.

Jamkanman! Bagaimana kalau kita berfoto bersama dulu, eoh? Kenang-kenangan. Aku yakin suatu saat kau pasti rindu pada kedua muridmu dan sepupumu ini,” katanya.

Jinki Oppa mengangguk.

Setelah mengambil posisi, aku, Yongra, Jinki Oppa dan Junghwan Oppa bersiap untuk dipotret oleh seseorang yang entah siapa—tapi mau saja dimintai tolong oleh Junghwan Oppa untuk memotret kami.

“CKREK.”

Gomapta, Ajussi,” sahut kami nyaris bersamaan kepada fotografer dadakan yang kami jumpai di stasiun itu.

Dan…, beberapa saat setelahnya, Jinki Oppa pun masuk ke dalam kereta. Untunglah tempat duduknya berada di dekat jendela sehingga kami—aku, Yongra dan Junghwan Oppa—masih bisa melihatnya ketika kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun.

“Sampai jumpa, Jinki Sonsaengnim~” teriak Yongra seraya melambaikan tangannya.

Jinki Oppa di dalam kereta balas melambaikan tangan.

Hmph~

Sayang sekali, Yongra gagal.

Padahal….

Tinggal sedikit lagi.

@@@@@

“Apa yang kau tulis itu, eoh? Kisah cinta Yongra dan Jinki?” tegur suamiku. Kalian sudah bisa menebak siapa suamiku, kan? Ne, dia… Lee Junghwan.

“Memangnya kenapa?” balasku.

Begitu Junghwan Oppa selesai membereskan di ruang kerjanya, ia menghampiriku yang sejak tadi asik mengetik tanpa mempedulikan dia yang terus menerus berteriak dari ruang kerjanya. Dengan dua gelas cangkir teh yang ia buat, ia duduk di sampingku, memperhatikan sekaligus membaca kata demi kata yang telah aku ketikkan ke dalam lembar kerja Ms. Word. Dia ini sudah seperti asisten editor pribadiku.

“Bukankah lebih baik kalau kau menuliskan kisah cinta kita dari pada kisah cinta orang lain,” katanya. Aku mengalihkan pandanganku dari layar laptop ke arahnya yang tengah menyesap teh hangat buatannya.

Oppa pikir kisah cinta kita menarik?”

Dia menatapku.

“Tentu saja. Memang kau pikir tidak menarik, eoh?” Nada suaranya mulai terdengar sewot.

Ne. Aku tidak mau pembaca novelku tahu kisah cintaku dengan seorang namja yang ceroboh.”

M-MWO? Kau mengatakan aku ceroboh??”

Ne,” jawabku dengan nada suara santai sambil memalingkan kembali wajahku menghadap layar laptop.

“Heh, kalau kau menganggapku ceroboh, kenapa kau mau saja menerima lamaranku? Kenapa kau mau menikah denganku?” tanyanya semakin sewot. Aku terkikik geli.

“Entahlah. Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh hatiku,” jawabku sambil berusaha untuk menahan otot-otot bibirku agar tidak tersenyum di depannya. Kulirik suamiku dan kudapati ia menatapku sambil tersenyum.

“Ah~ Yeobo~”

3 Months Later

Aku berada di sebuah toko buku yang cukup besar di Kota Seoul. Hari ini adalah hari perilisan novel yang aku tulis 3 bulan lalu dan aku berada di sini untuk menandatangani langsung novel yang telah dibeli oleh pembacaku.

Gamsahamnida,” kataku pada seorang yeoja yang baru saja kuberi tanda tanganku. Huff, antriannya masih panjang.

Gamsahamnida….”

Gamsahamnida….”

Gamsahamnida….”

Entah telah berapa kali aku mengucapkan kata itu hari ini.

“Ini, tolong tanda tangani novel ini,” kata seseorang yang tidak sempat aku lihat wajahnya karena aku langsung menandatangani novel yang ia sodorkan padaku.

“Jangan lupa, kau harus membagi hasilnya denganku.”

MWOYA?

Aku mendongak dan kudapati sepasang suami istri dimana istrinya sedang hamil muda. Mereka bukan orang lain, tapi mereka adalah dua orang yang kisahnya aku tuangkan dalam sebuah novel yang baru saja aku tanda tangani.

“Yongra? Jinki Oppa? Sejak kapan kalian di Seoul?”

“Sejak Junghwan memberitahuku kalau kau menuliskan kisah kami dalam sebuah novel,” jawab Jinki Oppa. Hmph, orang itu benar-benar tidak bisa menjaga rahasia! Dulu juga, dia suruh oleh Jinki Oppa untuk tidak memberitahukan keberangkatannya ke Busan, eh, dia malah menelepon Yongra.

“Ohehehehe. Mianhae….”

“Kalau sudah selesai, bergabunglah dengan kami di café di sebelah, ara? Sudah lama kita tidak mengobrol.”

Ne.” Keduanya pun berlalu dari hadapanku.

Waktu terus berlalu dan tidak terasa, aku yang tadinya berada di toko buku, sekarang berada di ambang pintu café tempat dimana Yongra dan Jinki Oppa menungguku. Kulihat Jinki Oppa dan Yongra duduk bersampingan di kursi yang paling sudut. Kurasa, mereka berdua baru saja makan karena kulihat dua buah piring yang makanannya telah habis di meja mereka.

Oops….

Bahkan, sebuah adegan manis baru saja terpampang di kedua mataku.

Dengan lembutnya Jinki membersihkan sesuatu di sudut bibir Yongra dengan ibu jarinya, lalu mengelus pipi wanita itu. Tidak cukup dengan itu, Jinki Oppa mengelus perut Yongra yang mulai membuncit, membisikkan sesuatu yang membuat Yongra tersenyum.

Entahlah… mungkin kata-kata dari seorang calon appa pada calon anaknya.

Chup~

Dan Jinki Oppa mengecup perut buncit itu.

Kalau Junghwan Oppa yang melakukan itu padaku, mungkin aku akan memukulnya karena melakukan hal tersebut di tempat umum. Tapi, tidak dengan Yongra. Dia terlihat biasa-biasa saja, seolah Jinki Oppa sudah sering melakukannya. Sepersekian detik setelahnya, sebuah lengkungan manis nampak di wajah sang calon eomma.

Mianhae, kalian pasti lama menungguku, ya?” tanyaku saat kuhampiri mereka.

Gwaenchana.” Keduanya sedikit terkejut, namun langsung tersenyum begitu melihatku.

Aku pun melirik perut Yongra.

“Sudah berapa bulan?” tanyaku, menunjuk ke arah perutnya.

Yongra tersenyum malu, “3 bulan.”

“Whoa, chukaeyo.”

Keduanya menunjukkan senyumnya yang tulus. Kulihat Jinki Oppa menggenggam tangan Yongra erat, menunjukkan betapa sayangnya ia pada istrinya itu. Syukurlah Yongra, aku senang kau dan Jinki Oppa akhirnya bisa bersama.

Ya, begitu aku dan Yongra menyelesaikan pendidikan di bangku SMA, yeoja itu memilih untuk kuliah di Busan. Hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh hatinya, hal itu yang selalu diucapkan oleh Yongra semenjak ia menyukai Jinki Oppa.

Jika kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang, yakinlah… suatu saat kau akan mendapatkannya. Kau hanya perlu menunggu, melakukan apa yang dikatakan oleh hatimu dan… pada akhirnya kau akan mendapatkannya.

Seperti Song Yongra.

Walaupun 10 tahun lalu, ia tidak berhasil menjadikan Jinki Oppa sebagai namjachingu-nya. Tapi, kau bisa lihat sekarang, kan? Dia bahkan mendapatkan yang lebih baik. Jinki Oppa menjadi suaminya.

Ne, karena semua akan indah pada waktunya.

-THE END \(^o^)/-

Iklan

15 thoughts on “MY FRIEND’S LOVE STORY

  1. aigooo~ ini manis sekaliiii 😳
    ga nyangka akhirnya bakalan kayak gini, kirain bang ayam beneran ninggalin yongra… ehhh akhirnya yongra yg nyusul.
    naisseuuuu ^^b

  2. ~kyyaaa~~~ author *cakep* judul/cerita/alur/kata-kata/bahasa/cast/romance apalagi ^_____^.Request dong FF nya abang bebek aka uri prince duck aka lee jung hwan aka member/lead vokal BA14 aka suami author~menurutniicerita~~ (>…<"*SUMPAH..JEALOUS)) !! sama slah satu member APink *jebal-jebal-jebal* [puppyeyes~~]

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s