I WANT YOU BACK [Chap.5-END]

I WANT YOU BACK [Chap.5-END]

Rating:

PG-13

Length:

Multichapters

Genre:

Romance, Sad

Main Characters:

(SHINee) Jonghyun & (OC) Im Sangmi

Minor Characters:

(OC) Han Seoyoung, (FX) Luna & (B1A4) Baro

Disclaimer:

FF ini terinspirasi dari lagu Secret – I Want You Back. Sebuah karya fiksi yang ditulis untuk hiburan. Jika ada kejadian yang sama dengan fiksi lain, di luar sepengetahuan saya. The plot and the OC is purely mine! Other characters belong to themselves, God, their parents and their agency.

Warning:

(Mungkin) ada typo(s) yang nyempil, OOC, AU, alur membosankan, cerita tidak jelas, dll.

A/N1:

Annyeonghaseyo. Gamsahamnida buat reader(s) yang udah ikutin FF ini dari awal sampai akhir. Jeongmal gamsahamnida buat reader(s) yang udah RCL-in FF ini. You’re the best reader(s). Semoga suka sama ending chapter-nya, ya.^^

HAPPY READING ^^

Suara riuh tepuk tangan dari para tamu terdengar seiring aku mundur perlahan, keluar dari kerumunan. Pelan-pelan, aku keluar dari Restoran tanpa memberitahu siapa-siapa, termasuk Luna yang sekarang entah ada dimana. Sebelum aku benar-benar meninggalkan restoran, aku masih  melihat Jonghyun dan Seoyoung saling pamer kemesraan di depan para tamu.

Oh… my.

Aku pun berjalan meninggalkan restoran. Sama seperti malam itu, aku berjalan sendirian mengikuti arah kemana kakiku membawaku. Udara malam yang dingin sedikit menusuk kulitku, apalagi mini-dress yang aku kenakan tanpa lengan. Huft.

“Tiiiin… tiiiiiin….”

Bunyi klakson bersahut-sahutan kala aku melewati daerah yang rawan kemacetan. Sedikit menusuk telinga memang, tapi… aku sedikit menikmatinya. Setidaknya, suara bising dari klakson itu bisa mengalahkan keheningan malam yang aku rasakan beberapa saat lalu.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berjalan. Yang pasti, saat ini aku telah duduk di salah satu halte bis. Hanya ada 4 orang yang ada di halte ini selain aku: dua orang wanita yang kelihatannya adalah pegawai kantoran, seorang mahasiswa yang mungkin baru pulang mengerjakan tugas di rumah temannya dan seorang pria berjaket kulit warna cokelat.

Huh~

Aku menghela nafas pelan.

Sungguh, aku merasa diriku seorang pengecut saat ini. Seharusnya, aku ikut berbahagia dengan mereka, Jonghyun dan Seoyoung. Tapi, yang aku lakukan adalah lari. Lari dari kenyataan bahwa Jonghyun sudah menemukan yeoja yang… yang lebih baik dariku.

Ya, dia sudah menemukannya, Han Seoyoung.

Sementara aku?

Aku bahkan belum bisa berpaling.

Aku keduluan satu langkah darinya.

Haha… ha.

Aku  benar-benar sudah ia buang dari hatinya. Sama seperti kaleng minuman yang ia buang ke tempat sampah tempo hari, saat kami berdua berbicara di tepi Sungai Han.

Ya…, mungkin ini karma. Karma yang diberikan untukku karena dengan mudahnya aku mengucapkan kata ‘putus’ 7 tahun yang lalu. Cih!

@@@@@

Bis yang aku tumpangi perlahan menepi, berhenti tepat di halte berikutnya. Sama seperti beberapa penumpang lainnya, aku turun di halte tersebut. Tidak lama setelah aku turun, bis pun melaju perlahan meninggalkan halte. Lalu, kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Uh, sudah jam 10 lewat 27 menit.

Kulangkahkan kaki kananku berjalan menuju rumah yang jaraknya tidak jauh dari halte. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku menyusuri badan jalan sambil memikirkan apa yang telah aku lakukan hari ini dan harus bagaimana aku besok.

Aku kan pulang tanpa pamit.

Aish!

Aku harus mengatakan apa pada Luna dan juga… Jonghyun?

Aaarrgh! Sangmi-ya, neon babo!

@@@@@

Keesokan paginya, aku datang terlambat. Bukan, ini bukan karena aku sengaja, tapi… entahlah, sepertinya hari ini aku memang ditakdirkan untuk terlambat bekerja. Begitu melihat batang hidungku yang telah nampak di Restoran, Luna langsung menyergapku, berniat menginterogasi perihal ‘hilang’-nya aku semalam.

“Kau kemana semalam, eoh? Aku cari-cari, tapi tidak ada. HP-mu juga kenapa tidak aktif?” gerutunya.

Aku memutar bola mataku, sedikit malas untuk menjawab pertanyaannya.

“Aku mau bekerja dulu,” kataku seraya berlalu dari hadapannya. Kudengar suara dengusan sebalnya padaku yang cukup keras. Ah, sudahlah!

“Ya! Im Sangmi!”

Tidak kepedulikan Luna yang menegurku. Sekarang adalah waktuku untuk bekerja dan melupakan keputusan bodoh (lagi) yang telah aku buat semalam. Melupakan untuk sementara lebih tepatnya, karena aku yakin Luna masih akan menginterogasiku begitu jam kerja selesai.

“Kriiing.”

Suara itu terdengar ketika aku baru saja selesai membawakan pesanan untuk meja nomor 6. Aku yang hendak melangkah menuju dapur, menyempatkan diri untuk menoleh ke arah orang yang membuat bel di atas pintu itu berbunyi.

Ah, Jonghyun.

Ia sempat melihatku, lalu tersenyum sekilas. Setelah itu, ia dengan santainya berjalan menuju ruangannya. Sepertinya dia tidak menyadari aku pulang lebih cepat tadi malam. Baguslah…, aku tidak perlu bersusah payah merangkai kata maaf untuknya.

Sudahlah, Im Sangmi. Untuk apa kau memikirkan Jonghyun lagi? Dia sudah menjadi milik Seoyoung.

“GLETAK.”

“Ah, Nona, bisa tolong ambilkan garpu yang baru?” seru seorang pelanggan di meja nomor 4 yang sukses membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh padanya, lalu mengangguk.

“Biar aku yang ambilkan,” cegat Baro yang entah muncul dari mana. “Oh, ya, kau dipanggil Bos Kim,” katanya.

“Aku?”

Ne, kau. Ppalli!”

Aku pun berjalan ke ruangan Jonghyun. Saat melewati meja kasir, aku sempat menoleh ke arah Luna yang juga menoleh ke arahku. Kami sempat bertatapan untuk sepersekian detik. Sama-sama bertanya untuk apa Jonghyun menyuruhku ke ruangannya.

“Tok… tok….”

Suara ketukan pintu menandakan yeoja itu, Sangmi, telah berada di depan pintu ruangan Jonghyun. Setelah terdengar sahutan dari dalam, barulah jemari lentik yeoja itu menyentuh gagang pintu, mendorongnya pelan sampai terdapat celah yang lebar untuk ia masuk ke dalam ruangan.

“BLAM.”

Yeoja itu baru saja merapatkan pintu yang beberapa saat lalu dibukanya. Memandang ke arah namja yang dengan tekun membaca buku, seolah tidak sadar dengan kehadirannya. Padahal, namja itu menyahut tadi.

“Ada apa memanggilku?” tanya Sangmi langsung. Ia berdiri di depan meja, berhadapan dengan Jonghyun.

Namja itu pun mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya ke arah yeoja cantik yang berdiri di hadapannya. Kacamata ber-frame cokelat yang dipakainya dilepas, lalu diletakkan di atas meja.

“Kau kemana semalam? Kenapa cepat pulang, eoh?”

Sangmi mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Tidak kemana-mana. Hanya… aku kurang enak badan. Jadi, aku langsung pulang.”

“Tanpa pamit?”

“Untuk apa? Kau terlihat sangat bahagia semalam. Aku tidak mau mengganggu,” jawab Sangmi, masih melihat ke arah lain.

Jonghyun diam. Sangmi pun diam. Keduanya seolah meresapi keheningan yang perlahan menghampiri mereka. Belum lagi, suasana ruangan yang memang hening. Hanya hembusan angin lembut yang masuk ke dalam ruangan melalui ventilasi yang bisa terdengar. Terlalu hening di sini. Tapi, belum ada tanda-tanda salah satu dari mereka yang membuka mulut.

Keheningan itu perlahan membuat Sangmi gelisah, tidak tahan berada di suasana yang tengah dihadapinya sekarang ini.

“Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku permisi,” ucap Sangmi, meemcah keheningan. Ketika ia hendak berbalik, Jonghyun langsung bersuara.

Mianhae…, aku tidak memberitahukan padamu sebelumnya,” ujarnya lirih sambil memandangi Sangmi yang memunggunginya.

Sangmi tersenyum lirih. Ya, sakit rasanya saat mendengar Jonghyun meminta maaf, padahal Jonghyun tidak sepantasnya mengucapkan kata itu. Bukankah bertunangan dengan Seoyoung merupakan hak Jonghyun?

Gwaenchana. Aku… aku mengerti,” balas Sangmi, berusaha menahan rasa sesak yang mulai menyerang dadanya. Kedua bola matanya mulai berkca-kaca, tapi… untunglah Jonghyun tidak bisa melihatnya.

“Seo-Seoyoung…, Seoyoung tidak tahu tentang… em, tentang hubungan kita… dulu,” ucap Jonghyun lagi. Terselip keraguan pada nada suaranya, tidak tahu apakah salah atau benar keputusannya tidak memberitahu Seoyoung.

“O-Oh,” balas Sangmi singkat. Tubuhnya gemetar dan terdengar suara isakan kecil. Buru-buru ia menghapus air matanya sebelum cairan bening itu merusak make-up di wajahnya. Melihat itu, Jonghyun beranjak dari duduknya, menghampiri Sangmi, berdiri tepat di belakang yeoja itu.

Pelan, tangan kanan namja itu menyentuh pundak kiri Sangmi, memutar tubuh yeoja itu hingga posisi mereka berhadapan. Terlihat jelas di mata Jonghyun kalau yeoja di depannya ini sedang menangis.

Dan entah mendapat bisikan dari siapa, namja itu, Kim Jonghyun, dengan lembut menarik Sangmi ke dalam pelukannya. Suara isakan yeoja itu pun terdengar jelas di telinga Jonghyun, bahkan…, vest berwarna hijau lumut yang dikenakan Jonghyun sedikit basah di bagian dada karena terkena air mata yeoja itu.

Mianhae, Sangmi-ya. Jeongmal mianhae,” ucap Jonghyun lirih sambil mengelus lembut pundak Sangmi. Setitik cairan bening nampak di sudut mata kanan namja tampan itu.

Tubuh Sangmi semakin bergetar mendengar kata maaf itu. “A-Aniya, Jonghyun-ah. Bukan kau yang salah. Bukan kau…. Aku,” balas Sangmi dalam pelukan Jonghyun. Yeoja itu memeluk erat namja-nya, mantan namja-nya jika ingin dicari kata yang lebih tepat. Melepas semua rasa rindu dan rasa sesal yang telah membebaninya selama 7 tahun. Sedangkan Jonghyun, ia diam saja. Tidak tega melonggarkan pelukan yeoja itu pada tubuhnya atau… ia juga masih menyimpan rindu pada yeoja-nya, ehm, mantan yeoja-nya.

-Flashback-

11 Years Ago

Jangan mendorongku!” kata Sangmi, si yeoja berumur 15 tahun itu ketika beberapa temannya mendorong tubuh ringkihnya ke arah ‘sang pangeran’, Jonghyun, yang mengajak yeoja itu pulang sekolah bersama.

Yeoja berumur 15 tahun itu tampak malu. Malu karena menjadi bahan ceng-cengan teman-temannya. Tapi, di lain sisi, ia juga mau. Mau menerima ajakan Jonghyun untuk pulang bersama.

“Ayo, Sangmi.” Jonghyun, namja berumur 15 tahun itu menarik lengan Sangmi lembut, kemudian perlahan tangannya turun dan menggenggam tangan Sangmi.

Kim Jonghyun dan Im Sangmi. Di kelas mereka, tidak ada satu orang pun yang tidak tahu kalau Sangmi menyukai Jonghyun dan begitu pula sebaliknya. Maka, ketika ‘sang pangeran’ mengajak ‘sang puteri’ pulang bersama, seluruh ‘warga kerajaan’ terlihat bahagia.

Jonghyun dan Sangmi. Keduanya berjalan di atas trotoar dengan tautan tangan mereka yang sengaja diayunkan dengan lembut. Menampakkan bahwa sedang bahagia, walaupun mereka belum mengatakan rasa suka pada msing-masing.

Di bawah langitu biru dan sinar matahari yang cerah siang itu, Jonghyun mengajak Sangmi ke sebuah taman bermain di dekat sekolah mereka. Masih lengkap dalam balutan seragam sekolah Ulsan Middle School, keduanya bermain-main di taman itu. Bercanda tawa bersama. Berlarian kesana-kemari, saling mengejar satu sama lain.

“Uh, aku lelah,” keluh Sangmi, menumpu tangannya pada masing-masing lututnya.

“Oh, ayo kita istirahat di sana,” ajak Jonghyun seraya menunjuk salah satu pohon rindang yang ditanam di sisi taman.

Keduanya pun berjalan ke arah pohon yang dimaksud Jonghyun. Setibanya di sana, keduanya duduk di atas rerumputan, menyandarkan punggung mereka pada batang pohon tersebut. Angin siang pun bertiup sepoi-sepoi. Membelai lembut wajah muda mereka.

“Sangmi-ya,” panggil Jonghyun, menoleh ke arah Sangmi yang duduk di sampingnya, menatap secara detail setiap lekukan wajah milik yeoja tersebut.

Sang yeoja menoleh dan lembut menyahut, “Ne?”

“Johahaeyo. Saranghae,” ucap namja berumur 15 tahun itu lancar. Suaranya terdengar tulus, begitu pun dengan tatapannya.

Mendengar apa yang diucapkan Jonghyun—ucapan yang sudah lama dinantikannya, yeoja itu pun menyunggingkan sebuah lengkungan sabit di bibirnya. “Nado,” jawabnya singkat, namun membuat perasaan keduanya lega.

“Berjanjilah kalau kita akan bersama selamanya,” kata Jonghyun seraya mengangkat kelingking kanannya.

“Ne, aku berjanji,” balas Sangmi sambil menautkan kelingking kanannya pada kelingking kanan Jonghyun.

Dan tautan kelingking itu pun menjadi symbol dari awal hubungan mereka. Tautan kelingking yang hanya bisa bertahan sampai 4 tahun. Hanya 4 tahun….

-End Of Flashback-

Sangmi melepaskan pelukan Jonghyun, menjauhkan sedikit tubuhnya dari tubuh namja itu. Kedua tangannya langsung bergerak menyeka air mata yang membasahi pipinya. Yeoja itu lalu menghela nafas panjang, menenangkan dirinya. Lalu, ia mendongak, menatap Jonghyun yang berada dihadapannya.

“Huff… chukaeyo, Jonghyun-ah,” sahut Sangmi sambil mengulurkan tangannya. Ia berusaha berlapang dada untuk menerima kenyataan. Jonghyun is not hers anymore. Terlihat sedikit memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Gamsahamnida,” balas Jonghyun, menjabat tangan Sangmi.

Keduanya kembali terdiam dengan tangan yang masih bertautan. Potongan-potongan kenangan masa lalu terputar kembali di pikiran masing-masing. Mengingat masa-masa dimana mereka pertama kali jadian, mengingat pertama kali mereka bertengkar, mengingat pertama kali mereka baikan setelah bertengkar, mengingat kencan pertama mereka, mengingat teman-teman sekolah yang selalu menggoda mereka, mengingat… ah, terlalu banyak kenangan yang masih mereka ingat.

Lalu, keduanya tiba-tiba tertawa kecil, seperti keduanya sedang memikirkan hal yang sama. Dan, keduanya saling memandang satu sama lain.

“Kita masih bisa berteman, kan?” tanya Jonghyun, melepas tautan tangan keduanya, lalu mengangkat jari kelingking kanannya.

Sangmi mengangguk, lalu tersenyum. Sepersekian detik setelahnya, ia menautkan jari kelingking kanannya ke jari kelingking Jonghyun. “Tentu saja,” jawabnya.

“Kau yakin tidak akan melanggar janji kita kali ini?” tanya Jonghyun lagi.

Ne, aku yakin.”

Dan tautan kelingking itu menjadi awal yang baru bagi keduanya. Merupakan langkah awal untuk terus bergerak walaupun keduanya tidak bersama lagi sejak lama. Im Sangmi dan Kim Jonghyun…. Pada akhirnya, mereka adalah sepasang sahabat yang pernah terjebak dalam hubungan cinta. Sayang, mereka berdua tidak ditakdirkan untuk berjodoh.

@@@@@

6 Months Later

Aku mematut diriku di depan cermin yang berada di dalam kamarku. Dengan tubuh yang dibalut gaun berwarna broken white serta pita putih di kepala, kupuji diriku dengan satu kata: cantik. Lalu, aku pun menoleh ke arah jam dinding di kamarku. Ah, 20 menit lagi acaranya dimulai.

Bergegas aku menyingkir dari depan cermin. Berjalan keluar kamar sambil memegang clutch bag yang baru saja kusambar dari atas meja, lalu mengenakan sebuah higheels berwarna hitam dengan hiasan pita dari kulit berwarna putih.

“Tiiin… tiiin….”

Suara klakson mobil di depan rumah memaksaku bergerak lebih cepat. Aku berlari kecil saat menghampiri sebuah audi hitam yang telah parkir di depan pagar rumahku.

“Kau cantik sekali, Sangmi,” puji Luna.

Ppalli! Nanti kita terlambat,” seru Baro yang duduk di belakang kemudi, bersampingan dengan Luna. Hah, tumben mereka berdua akur. Aku pun segera masuk ke dalam mobil milik Baro—mungkin—duduk di jok tengah.

Perlahan, Baro pun melajukan audi hitam ini.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 15 menit di perjalanan, akhirnya kami—aku, Luna dan Baro—tiba di depan sebuah hotel mewah. Aku dan Luna berjalan duluan memasuki hotel, sedangkan Baro masih harus memarkirkan mobilnya.

Dentingan piano semakin terdengar jelas ketika aku dan Luna berjalan beriringan memasuki ballroom hotel. Setibanya di ballroom, suasana penuh cinta terasa kental. Ballroom yang didominasi warna putih dengan hiasan-hiasan bunga di sana-sini tampak cantik. Benar-benar didesain untuk sebuah acara pernikahan.

“Sangmi-ya, kita duduk di sana,” ajak Luna. Kuikuti langkah Luna yang berjalan menuju sebuah meja yang dikelilingi dengan 3 kursi yang masih kosong.

Dan di sinilah aku dan Luna, duduk sambil memperhatikan tamu undangan yang mulai banyak berdatangan. Sesekali saling menyapa kepada tamu yang kebetulan adalah rekan kami di Bling-Bling Restoran.

Ya, hari ini adalah hari pernikahan Jonghyun dan Seoyoung. Hari dimana kedua orang itu akan mengikat cinta mereka dengan tali suci pernikahan. Saling mengucapkan janji setiap sehidup semati pada pasangan masing-masing.

Aku sudah merelakan semua. Aku sudah bisa menerima kenyataan. Dan, aku pun harus turut berbahagia, mengingat hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam kehidupan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Kim Jonghyun.

Waktu terus berlalu dan kedua mempelai pun telah berada di hadapan penghulu. Berdua, mereka dalam balutan busana berwarna putih. Jonghyun terlihat sangat gagah dengan tuxedo yang membalut tubuh atletisnya. Tak jauh berbeda dengan Seoyoung yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang membalut tubuh langsingnya.

Ketika mereka berdua selesai mengucapkan janji pernikahan di depan penghulu dan ratusan tamu yang hadir, resmilah mereka menjadi sepasang suami istri. Sepasang makhluk Tuhan yang telah memenuhi takdir mereka sebagai 2 manusia yang berjodoh.

Dan…

Di sinilah aku menyadari kalau… mantan kekasih adalah jodoh seseorang yang tidak sengaja pernah singgah di hati kita*. Ketika ia telah menemukan seseorang yang memang telah diciptakan untuk melengkapi hidupnya, hanya satu yang bisa kita lakukan: MOVE ON!

-THE END \(^o^)/-

 Anditia Nurul ©2012

Do not claim this as yours

Do not re-blog without permission

And, thanks for reading.

A/N2: Bagaimana? Mianhae kalau ending-nya mengecewakan.

Oh, ya, quote(?) yang ada tanda *-nya itu bukan bikinan author. Itu author dapat waktu lagi iseng menjarah inbox HP temannya author… hahaha (ada gunanya juga kebiasaan(?) author menjarah inbox HP temen XP). Entah siapa yang bikin quote itu, tapi cocok aja ma FF ini, jadi author masukin. XD

Iklan

8 thoughts on “I WANT YOU BACK [Chap.5-END]

  1. hmm, baru kali ini instingku(?) salah..
    ternyata mereka berdua tidak kembali bersama, ternyata mereka berdua tidak berjodoh, ternyata mereka… #pusing ah mikir’a..
    yg jelas crita kali ini ckup mengecohku..u_u

  2. jeng jeng. akhirnya agak mengejutkanku unn. padahal di detik2 terakhir aku masih menyangka kalau sangmi bakalan ama Jonghyung(biasalah unn otakku otak drama haha) tapi endingnya bagus lo unn berasa kaya dapet kekuatan gitu setelah baca ff ini, quotenya itu juga bagus banget. Siph pokoknya xD

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s