BEAUTIFUL MEMORIES IN MOKPO [Prolog]

BEAUTIFUL MEMORIES IN MOKPO [Prolog]

Rating:

PG-13

Length:

Multichapters

Genre:

Marriage-life, Fluff, Happy Happy Joy Joy

Main Characters:

(SuJu) Donghae

You ( ___)

Minor Characters:

(SuJu) Eunhyuk/Hyukjae

          (SNSD) Jessica

Disclaimer:

FF ini dibuat untuk hiburan semata. Alur dalam FF ini pun asli punya author. Jika ada kesamaan adegan, tempat, dll, dengan FF lain, itu hanya kebetulan semata. 

Warning: AU & typo(s). Juga bahaya bagi penderita diabetes(?)

A/N:

Oke, FF ini adalah bentuk pelampiasan(?) terhadap Donghae yang beberapa waktu terakhir sempat menggoda iman(?) author. Tak lain dan tak bukan karena Donghae di teaser SFS & MV SFS sangat kece… hehe. Dan author nyaris menjadi seorang RYEOSOMNIA MURTAD(?) begitu sampul SFS versi B keluar ^^v. Donghae kece gila di situ >.<

Oia, yang dikosongin itu isi dengan nama Korea kalian (nama Indonesia juga boleh, sih. Suka2 kamu aja).

Summary:

Donghae dan kamu menikah karena perjodohan dan baru pertama kali bertemu secara langsung di hari pernikahan. Karena itu, kalian berdua menjadi kurang akrab. Suatu waktu, Donghae pun mengajakmu mengunjungi Mokpo, kampung halamannya. Di tempat itulah, kamu dan Donghae membuat banyak kenangan manis.

HAPPY READING \(^o^)/

@@@@@

Suasana bahagia telah menyelimuti seluruh sudut ruangan suatu gedung yang didominasi warna putih. Bunga-bunga mawar berwarna putih pun ikut menghiasi beberapa tempat di ruangan itu. Lembut, suara dentingan piano yang dimainkan oleh seorang pianis, menemani para tamu undangan yang tengah duduk di kursi masing-masing.

Ya, sebentar lagi sepasang anak manusia akan bersatu dalam tali suci pernikahan. Sepasang pria-wanita, yang baru akan  bertemu, saat keduanya akan mengucap janji suci sehidup semati sesaat lagi.

Pengantin pria kini berdiri di dekat altar. Memakai setelan tuxedo putih dengan setangkai mawar merah yang tersemat di bagian dada kanannya. Sesekali ia mengatur nafasnya. Sangat jelas bahwa pria itu tengah gugup menanti seorang wanita yang wajahnya hanya ia lihat melalui selembar foto, sebulan sebelum hari ini tiba. Begitu juga dengan kau, sang pengantin wanita.

Suara dentingan piano kini beradu dengan gesekan senar biola yang dimainkan oleh seorang violin tatkala kau—bersama Appa-mu—berjalan di atas karpet merah yang mengarah ke altar. Wajahmu belum tampak jelas, selembar tudung tipis menutupi seraut wajah milikmu. Seluruh pasang mata undangan yang hadir, melihat ke arahmu. Appa-mu yang memegang tangan kanan putrinya itu hanya melempar senyum sambil terus berjalan menuju pengantin pria yang sebentar lagi akan menggantikan dirinya menjagamu.

Sekitar 5 langkah dari altar, kau—dengan tangan kiri memegang sebuket bunga—bersama Appa-mu berhenti. Pengantin pria pun menghampiri dan sedetik kemudian, tangan kananmu itu telah dipegang oleh sang pengantin pria.

Kontak fisik pertama kalian.

Pria itu pun menuntunmu berjalan ke depan altar, dimana seorang penghulu telah siap untuk menikahkan kalian. Tanpa menunggu lama, sang penghulu mulai mengucapkan janji-janji yang harus diikuti oleh kedua mempelai. Dan, kurang dari 5 menit, kau dan pria itu pun telah resmi menjadi sepasang suami istri.

Kalian pun saling berhadapan, bersiap untuk menyemat cincin pernikahan di jari manis kanan masing-masing. Namun, sebelumnya, pria itu hendak membuka tudung yang sedari tadi menutupi wajahmu, membuatnya penasaran. Jari-jemari pria itu menyentuh ujung kain tudung, mengangkatnya perlahan lalu menyibaknya ke belakang kepalamu. Mata kalian bertemu.

Pertemuan pertama kalian.

Inikah wanita yang bernama  ___!?

Sepasang mata yang indah. Kedua pipi yang merah merona. Bibir mungil nan merah delima. Hidung mancung bagai bunga yang tengah kuncup. Alis yang tebal nan hitam bagai semut yang berjejeran. Cantik.

Inikah pria yang bernama Lee Donghae!?

Tinggi. Sepasang mata yang memancarkan keteduhan. Sebuah senyum yang menandakan ketulusan seorang pria dewasa. Hidung yang mancung. Alis yang rapi. Tampan.

Beberapa saat kalian saling mendeskripsikan pasangan masing-masing di dalam hati, hingga sang penghulu berbisik, “Waktunya kalian untuk menyematkan cincin.”

Kalian tersadar.

Donghae pun mengambil sebuah cincin yang berada di dalam kotak yang tersedia di dekatnya, kemudian menyematkan benda itu ke jari manismu. Begitu juga kau. Mengambil satu cincin yang tersisa di dalam kotak, lalu menyematkannya ke jari manis Lee Donghae.

Kalian benar-benar telah menjadi sepasang suami-istri.

Saat yang ditunggu-tunggu dari serangkaian upacara pernikahan tiba.

“Kau boleh mencium pengantinmu.”

Mata kalian terbelalak lebar, bahkan pupil kalian membesar. Kaget. Tentu saja itu yang menyebabkan mata kalian terbelalak. Bagaimana mungkin aku harus berciuman dengan seseorang yang baru aku temui hari ini?! Batin kalian bersuara.

“Tunggu apa lagi?” penghulu seolah mendesak Lee Donghae.

Donghae tampak ragu untuk menciummu dan kelihatannya, ia juga bisa membaca apa yang ada dipikiranmu.

“Bi-bisakah kami melakukan itu nanti saja? Eum… di rumah kami? Kami malu jika harus berciuman di depan kalian,” ucap Donghae, lalu menatapmu. Dia tampak setuju-setuju saja, batin Donghae.

Rangkaian acara pernikahan kemudian dilanjutkan, hingga tiba saatnya dimana kalian pulang. Pulang ke rumah kalian yang baru, bukan ke rumah orang tua kalian.

@@@@@

Gwangjin-gu, Gwangjang-dong

Your new home

Suasana di dalam rumah model minimalis yang bagian luar dindingnya dicat dengan warna ungu pastel terasa sepi. Dibagian depan rumah itu, terdapat taman kecil yang ditumbuhi beberapa jenis bunga. Sebuah kolam ikan pun juga ada di taman itu.Dari luar…, rumah baru kalian tampak sangat nyaman untuk ditinggali.

Rumah minimalis, di dalamnya terdapat dua buah kamar, satu kamar utama—yang ukurannya lebih besar—dan satu lagi kamar biasa—ukurannya sedikit lebih kecil dari kamar utama. Sebagai seorang pria gentle, turun dari mobil sedan hitam yang kini terparkir di halaman rumah, Donghae membantu mengeluarkan kopermu dari bagasi. Kau dan Donghae sudah mengganti gaun-tuxedo dengan baju bergaya kasual.

Gomawo,” ucapmu lembut dan malu-malu.

Cheonma,” balas Donghae.

Kau pun menarik kopermu menuju teras rumah, berdiri di depan pintu, menunggu Donghae yang sekarang menarik koper miliknya ke arahmu. Donghae lalu mengeluarkan kunci rumah dari saku jeans-nya, kemudian membuka pintu.

“Silakan masuk,” Donghae mempersilahkanmu.

Kau pun berjalan memasuki rumah barumu, rumah barumu dan suamimu, tepatnya. Suara gesekan roda kopermu dan roda koper Donghae dengan lantai menjadi suara keributan pertama di rumah ini.

“Donghae Oppa!” Kau berhenti, berbalik menghadap Donghae yang berdiri tepat di belakangmu. Sedikit terkejut karena kau tiba-tiba berhenti.

W-Wae?”

“Bisakah… eum… kita… tidak tidur sekamar dulu?” tanyamu ragu-ragu. Mimik wajahmu terlihat takut-takut, namun segera berubah lega setelah Donghae berkata, “Ne.”

“Kau….”

“Kau boleh di kamar yang besar,” potong Donghae cepat, seolah tahu apa yang akan kau ucapkan tadi. Kau tersenyum. Manis.

Donghae berjalan mendahuluimu, membukakan pintu kamar besar yang ia serahkan padamu. Setelah pintu kamarmu terbuka, ia pun menyuruhmu masuk dan beristirahat. Sementara itu, Donghae berjalan ke kamarnya, tepat di sebelah kamarmu.

In your room

-Your POV-

Kututup pintu kamar bercat ungu muda itu. Lalu, aku berjalan menuju tempat tidur, setelah kuletakkan koperku di samping meja rias. Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur berukuran king size yang telah dilapisi sprei berwarna dasar putih dengan motif berbentuk hati berwarna merah.

Ini adalah hal yang paling absurd yang mungkin pernah kalian ketahui. Aku, ___, menikah dengan seorang Public Relation Manager sebuah perusahaan obat yang cukup ternama di Korea. Pria yang wajahnya pertama kali aku tahu lewat sebuah foto yang dikirimkan Appa ke e-mail-ku, saat aku sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan studi S3-ku di Belanda. Untunglah, aku sudah diwisuda dan karena itu, aku baru tiba di Seoul 3 hari yang lalu.

Saat kami di mobil, dalam perjalanan menuju rumah ini, aku dan Donghae Oppa baru berkenalan secara resmi. The most absurd thing, jika sepasang pengantin yang baru menikah, kemungkinan akan bermesraan saat di mobil, maka aku dan Donghae Oppa saling bertanya, ‘Umurmu berapa? Sedang sibuk apa? De es be.’ Dan dari perkenalan singkat di mobil, aku tahu dia lebih tua satu tahun dariku.

Yang jadi pikiranku sekarang, apa yang harus aku lakukan sebagai ISTRI seorang LEE DONGHAE? Ayolah, aku bahkan belum begitu akrab dengan suamiku sendiri. Jincca!

-End Of Your POV-

In Donghae’s Room

-Donghae’s POV-

Kuhempaskan tubuhku di atas springbed berukuran medium size tanpa seprei. Ne, ne, neEomma pasti berpikir kalau aku dan ___ akan tidur sekamar. Ya, yang benar saja. Masa aku langsung tidur satu ranjang dengan wanita yang  baru aku lihat secara langsung saat upacara pernikahan tadi.

Aku tidak pernah membayangkan Appa dan Eomma akan menjodohkanku dengan seorang wanita, dokter ahli jantung, lulusan S1 Kedokteran terbaik di Seoul University 6 tahun lalu. Wajahnya saja baru aku lihat secara langsung saat upacara pernikahan tadi. Untung dia itu cantik… heheheh.

Sekarang aku telah menjadi suaminya. Dia sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku. Tapi, aku belum begitu akrab dengannya. Hah, malam pertamaku dengannya aku rasa masih sangat lama. #poor Hae #slapped

-End Of Donghae’s POV-

@@@@@

Next Day

-Author’s POV-

Setelah mandi, kau pun segera membuat sarapan untuk kau dan Donghae. Dua potong sandwich baru saja selesai kau buat. Tidak lupa, dua gelas susu cokelat hangat yang menemani 2 porsi sandwich di atas meja makan.

Kau melirik pintu kamar Donghae yang tertutup rapat. Apa dia belum bangun? Perlahan-lahan, kau melangkah dari marah meja makan menuju kamar Donghae.

“Tok… tok….” Kau mengetuk pintu kamarnya.

Ne, masuk, tidak dikunci,” sahut Donghae dari dalam.

Kau pun membuka pintu perlahan, lalu masuk. Di dalam, hal yang pertama kau lihat adalah Donghae—dengan tubuh dibalut kemeja biru yang sedikiti nge-pas ditubuh atletisnya dan bawahan celana bahan berwarna hitam—tengah kesulitan mengikatkan seutas dasi bewarna hitam di lehernya.

“Ada apa?” tanyanya yang berdiri di depan cermin, melirikmu sekilas.

“Aku sudah siapkan sarapan…,” jawabmu lembut seraya memperhatikan Donghae.

“Oh… eh… ne. Tunggu sebentar, setelah ini selesai, aku akan ke meja makan,” kata Donghae, masih kesulitan dengan dasinya.

Kau menghela nafas pendek. Keliatannya ia tidak akan selesai dalam waktu cepat, pikirmu. Seolah ada dorongan dari dalam, naluri seorang istri, kau berinisiatif untuk membantunya.

Oppa?”

Ne?” sahutnya tanpa menoleh padamu. “Aaaah, kenapa ini tidak mau terikat rapi!!!” gerutunya.

“Boleh aku bantu?” tanyamu, membuat Donghae langsung menengok. Ia melepas tangannya dari memegang dasi, pertanda ia menerima bantuanmu.

Kau pun melangkah ke hadapannya. Hmm… wangi, batinmu, saat indera penciumanmu mencium bau tubuh dari seorang Lee Donghae. Bau itu perlahan-lahan membuatmu pikiranmu melayang kemana-mana, bahkan kau sempat memejamkan matamu. Kelihatan sekali kau sangat menyukai bau itu.

“___-ah/-ya, gwaenchana?” tegur Donghae, menghancurkan kenikmatan sesaat yang kau rasakan.

Ah, bahkan saat menutup mata pun sangat cantik, pikir Donghae, sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap wajahmu.

“Ah, eh… nannan gwaenchana,” balasmu salah tingkah. Bahkan, detak jantung lebih cepat 2 kali lipat dibanding biasanya. Seolah ingin melompat keluar dari rongga dadamu.

Cepat-cepat kau memakaikan dasi ke leher suamimu. Terlihat seperti sepasang suami-istri sungguhan. Oops, kalian kan memang suami-istri sungguhan.

“Su-sudah selesai,” ucapmu seraya menunduk, menyembunyikan semburat kemerahan yang perlahan-lahan muncul di wajahmu.

Go-gomawo…,” sahut Donghae singkat seraya menggosok pelan bagian belakang lehernya. Terlihat kikuk, bahkan untuk seorang pria dewasa yang sudah memiliki seorang istri.

Takut jantungmu benar-benar melompat, kau langsung berlari keluar dari kamar Donghae. Berlari menuju kamarmu yang bersebelahan dengan kamarnya.

“BLAM!” Kau menutup pintumu sedikit kencang hingga menimbulkan suara yang sedikit keras.

Donghae yang melihat tingkahmu, bingung. Ia berjalan menuju kamarmu, berdiri tepat di depan pintu. Menghela nafas sejenak, lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamarmu.

“___-ah/-ya, gwaenchana??”

Gwaenchana, Oppa. Oppa sarapan duluan saja,” sahutmu dari dalam.

Donghae mendesah pelan. Ia menyingkir dari depan pintu kamarmu, menuju meja makan. Setibanya di meja makan, ditariknya satu kursi lalu duduk di atasnya. Dihadapannya, terdapat sandwich dan susu cokelat yang telah kau sediakan, juga sepasang sendok-garpu.

Donghae mulai memakan sandwich buatanmu. Enak! Lalu, ia meminum sedikit susu buatanmu. Namun, belum setengah porsi dari sandwich yang kau buat, masuk ke dalam perutnya, ia meletakkan sendok dan garpunya.

“Memang tidak enak kalau makan sendiri,” gumamnya.

Donghae beranjak, berjalan menuju kamarmu. Menghela nafas panjang, lalu mengangkat tangannya, mengetuk pintu kamarmu sekali lagi.

“Tok… tok….”

Ne?” sahutmu dari dalam kamar.

“Ya! Bi-bisakah kau ikut makan bersamaku??” Hening sesaat. “Aku… aku tidak biasa makan sendiri…,” lanjut Donghae.

Tidak cukup semenit, kau sudah membuka pintu kamarmu, keluar. Masih dalam pakaian yang kau kenakan saat memasak tadi—baju kaos pink lengan panjang dan rok rempel biru selutut lengkap dengan avron biru muda—kau dan Donghae berjalan ke meja makan.

Duduk saling berhadapan, kau dan Donghae masih tampak belum akrab satu sama lain. Makan sambil menundukkan kepala masing-masing, menatap piring berbentuk lingkaran berwarna putih dengan sepotong sandwich di atasnya.

“Ehm…,” Donghae berdehem, “Kau… belum mulai kerja di rumah sakit Abonim?” tanya Donghae padamu, mencoba menghilangkan kecanggungan yang mengantarai kalian. Kau mendongak.

Ajik,” jawabmu, singkat. Ne, Appa-mu adalah pemilik dari salah satu dari sekian rumah sakit swasta yang ada di Seoul.

“O-Oh~”

“Kata Appa, aku… aku baru boleh menjadi dokter di rumah sakitnya setelah kita….”

“Kita… apa?” tanya Donghae penasaran sambil menatapmu.

“Eum… punya… eum… punya a-anak.”

“UHUK!” Donghae langsung terbatuk mendengar ucapanmu yang ragu-ragu itu. Kau memperhatikan Donghae meneguk habis segelas air putih yang baru saja diambilnya dari dispenser.

A-Abonim mengatakan itu?” kata Donghae tidak percaya. Kau hanya mengangguk.

Hah? Yang benar saja? Bisa-bisa, ___ kehilangan pengetahuan kedokteranmu jika harus menunggu sampai mereka punya anak. Belum ada tanda-tanda kalian akan tidur di satu kamar yang sama.

“O, Oh.” Donghae tidak tahu harus memberi respon seperti apa.

Selesai makan, Donghae beranjak dari kursinya, lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas dan jas kantornya. Kemudian, ia berjalan menuju pintu depan untuk memakai sepatunya.

“Eh? Apa yang kau lakukan…?” tanya Donghae terkejut mendapatimu sedang berjongkok membelakanginya sambil mengelap sepasang sepatu pantofel hitamnya. Mendengar suaranya, kau menengok, lengkap dengan jari-jarimu yang sedikit kehitaman karena terkena semir.

“Kenapa repot-repot seperti ini?” tanya Donghae merasa tidak enak. Ia pun merebut sepatu kanannya yang masih kau pegang.

G-Gwaenchana… Aku… aku hanya melakukan tugasku,” jawabmu polos, namun berhasil membuat sebuah lengkungan sabit yang manis di wajah suamimu.

“Lain kali, biar aku saja,” kata Donghae, lalu meletakkan sepatu kanannya di lantai. Ia kemudian mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku celananya. “Aku tidak mau istriku jadi terlihat seperti gembel,” ucap Donghae seraya membersih noda kehitaman yang ada di wajahmu, juga mengelap jari-jarimu.

Aku rasa… kau terlihat butuh tabung oksigen. Hihihi.

Diperlakukan seperti itu oleh suamimu, kau seolah kesulitan untuk bernafas. Tampak sekali dadamu kembang kempis, berupaya menghirup oksigen sebanyak-banyak. Daaaan… begitu juga dengan Donghae. Saat membersihkan wajah dan jari-jarimu, jari-jarinya terlihat gemetar.

Heum… aku rasa… benih-benih cinta kalian mulai tumbuh. Ciyeeeh.

Donghae telah selesai dengan kegiatannya. Kembali, ia memasukkan sapu tangan kotor itu ke sakunya. Entah… dia sengaja atau tidak. Kemudian, ia pun memakai sepatu yang sekarang terlihat begitu mengkilat.

“Aku… berangkat dulu,” pamit Donghae.

N-Ne…,” balasmu.

Donghae baru melangkah satu kali, namun….

“O-Oppa-ya, kau belum….” Donghae menengok ke arahmu, menatapmu. Namun, kau tiba-tiba tidak melanjutkan apa yang ingin kau ucapkan.

Ne?”

“Ah, gwaenchanagwaenchana…,” katamu sambil menggeleng cepat. Kau belum mengecup keningku, batinmu. Donghae hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.

Donghae berbalik kembali, tangannya memegang pintu lalu membukanya. Kau masih berdiri di tempatmu, menunggu Donghae keluar. Namun, sedetik kemudian, dia menengok ke arahmu. Ah…, aku ingin berbalik dan mengecup keningnya, tapi… Apa dia tidak keberatan??, batin Donghae, menatapmu.

Oppa-ya? Apa ada yang terlupa?” tanyamu bingung.

A-Aniya….”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Donghae pun pergi ke kantornya dengan mobil yang kalian gunakan kemarin. Hhh, apa yang terjadi padaku tadi? Aissh, jincca!, batin Donghae, saat menyetir mobilnya.

@@@@@

Tiba di kantor, seluruh temannya tampak heran melihat Donghae yang seharusnya belum berada di kantor. Tidak sedikit yang bertanya, ‘bagaimana malam pertama kalian?’. Donghae hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman tipis. Ah, ne, semua tahu kalau PR Manager di kantor mereka ini adalah orang yang agak pemalu.

“Lho? Manajer Lee? Kenapa Anda datang ke kantor? Bukannya Anda diberi cuti seminggu?” tanya sekretaris Donghae, Jessica Jung, saat Donghae hendak masuk ke ruangannya.

“Hehe… Ne, Sekretaris Jung. Tapi, hari ini ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” jawab Donghae bohong. Jessica hanya tersenyum, namun mimik wajahnya masih kebingungan.

Donghae pun masuk ke ruang kerjanya. Berjalan menuju kursi yang berada di balik meja, lalu duduk di atasnya. Donghae manatap dokumen-dokumen di atas mejanya yang tampak rapi. Keadaannya persis seperti 3 hari yang lalu, sebelum ia mengambil cuti.

“CKLEK.”

Pintu ruangan Donghae terbuka, lalu seorang namja masuk. Dengan gummy smile yang mengembang di wajahnya, ia berjalan menuju sepasang kursi kosong yang berhadapan dengan Donghae. Donghae menengok ke arah namja itu.

“Ya! Pengantin baru, apa yang kau lakukan di kantor, hah!? Kau tidak pergi bulan madu dengan istrimu yang cantik itu?” tanya namja itu, Marketing Manager yang terkenal sebagai cassanova kantor, Lee Hyukjae. Dia duduk bersandar sambil menaikkan kaki kanannya di atas paha kirinya. Donghae memutar bola matanya. Orang ini pasti ingin mendengar cerita malam pertama.

“Bagaimana malam pertamu, hah!?” Benar, kan, apa yang aku bilang?

“Hyukjae-ya, kalau kau ingin mendengar cerita seperti itu, kau salah tempat!”

Waeyo?” tanya Hyukjae terkejut bercampur kecewa. “Kau belum melakukan malam pertama, hah!?” Donghae menggeleng.

“CK! Payah!”

“Ya! Ya! Lee Hyukjae, apa kau bilang? Payah? Ya! Coba kalau kau yang ada di posisiku. Apa kau berani melakukan itu pada yeoja yang baru kau temui secara langsung saat upacara pernikahan??”

“Tentu saja!” jawab Hyukjae mantap. Donghae menghela nafas panjang. “Jadiiii, kau belum akrab dengan yeoja yang sekarang menjadi istrimu itu, hah!?” Donghae mengangguk, sementara Hyukjae tertawa kecil.

“Hah, jincca! Kau benar-benar payah, Lee Donghae!” ledek Hyukjae.

“Ya! Berhenti menyebutku payah, Lee Hyukjae!”

“Hahahah… oke, oke. Lalu, apa rencanamu?” Hyukjae mencondongkan tubuhnya, mendekat ke meja. Kedua tangannya dilipat di atas meja kerja Donghae.

“Pertama-tama, aku ingin kami saling akrab satu sama lain. Tapi, aku rasa….”

“Rasa apa? Rasa jeruk? Hahaha.”

“Ya! Berhenti bercanda Lee Hyukjae! Ish! Aku heran kenapa presdir mengangkatmu sebagai marketing manager!” kata Donghae kesal karena di saat ia serius, temannya malah bercanda.

“Ya! Ya! Jadi kau meragukan kemampuanku sebagai salah satu manajer, hah!?” Hyukjae menanggapi.

“Aisssh! Sudahlah, kau ke ruanganmu saja kalau begitu!”

“Ya! Ya! Lee Donghae, geurae, mianhae… Nan jeongmal mianhae. Nah, sekarang lanjutkan apa yang ingin kau katakan tadi?” Hyukjae mengembalikan pembicaraan ke topik semula.

“Hmm… Aku rasa… ___ itu yeoja yang pemalu.”

“Hah! Bagus! Pasangan suami istri yang sama-sama pemalu. Benar-benar payah!”

“Ya!” tegur Donghae. Entah sudah berapa kali ia menegur Hyukjae hari ini.

“Lalu, kenapa kau tidak mengajak yeoja itu jalan-jalan, hm!? Melakukan kegiatan berdua…,” usul Hyukjae yang langsung membuat wajah Donghae terlihat cerah. Seolah mendapat ide.

“Hah! Kau benar! Jalan-jalan berdua!”

Donghae langsung beranjak dari duduknya, mengambil tas kerjanya yang diletakkan di atas meja, lalu buru-buru keluar dari ruangannya. Saat sekretarisnya, Jessica, menanyakan dia mau pergi kemana, Donghae menjawab, ”Menghabiskan masa cutiku!”

Lagi-lagi Jessica dibuat heran. Begitu juga dengan Hyukjae yang saat ini berdiri di depan pintu ruangan Donghae, berdekatan dengan meja Jessica. Mereka menatap namja yang sedang terburu-buru itu.

“Hari ini bosmu sangat aneh, Sekretaris Jung,” komentar Hyukjae.

N-Ne, Manajer Lee.”

Sementara itu, Donghae telah melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir kantor menuju suatu tempat.

@@@@@

In Our House

-Donghae’s POV-

Aku memarkir mobilku di garasi rumah kita. Hem… rumah tampak sepi dari luar. Setelah keluar dari mobil, aku buru-buru masuk ke dalam rumah. Kudapati kau sedang tertidur di sofa panjang sambil memegang remot TV, sementara TV masih menyala. Aku ingin membangunkanmu, tapi… tampaknya kau tertidur sangat pulas.

“Engh…,” gumammu sambil mengubah posisi tidurmu yang semula bagian depan tubuh menghadap ke atas, kini menyamping ke kanan. Jika kau bergerak ke kenan satu kali lagi, bisa kupastikan kau akan jatuh dari sofa berwarna cokelat itu.

Setelah puas melihat wajah tidurmu yang jauh lebih cantik dari wajah Putri Tidur yang diceritakan dalam dongeng, aku beranjak ke kamarku untuk mengganti baju. Tidak perlu waktu lama, tubuhku telah dibalut kaos oblong biru dengan celana panjang panjang. Aku berjalan menuju ruang tengah, tempat dimana kau tertidur, lalu duduk di salah satu sofa kosong yang berada di dekatmu.

Perlahan, kuambil remot TV dari genggamanmu. Dan… hal itu sukses membuatmu terjaga.

“Oh, aigoo.” Kau buru-buru mengambil posisi duduk, merapikan rambutmu yang sedikit acak-acakan.  “OOppa-ya, kapan kau datang?” tanyamu, menatapku.

“Baru saja,” jawabku, lalu tersenyum.

W-Wae?” Aku memperbaiki posisi dudukku, menghadapmu.

“Eum… selama 3 hari ke depan kau ada acara?” tanyaku ragu.

“Acara? Obsoyo. Wae?”

“Eum… kau… kau tidak keberatan kalau besok kita pergi ke Mokpo?” Kulihat wajahmu sedikit terkejut bercampur bingung.

“M-Mokpo?” ulangmu, memastikan. “I-Itu… tempat lahir Oppa, kan!?” Aku mengangguk.

Ottokhae?”

N-Ne… Ka-kalau itu mau Oppa, aku… tidak keberatan….”

Aku tersenyum lebar setelah mendengar kata-katamu. Kemudian, aku pun mulai mempersiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Mokpo besok. Hah~~, aku berharap setelah pulang dari Mokpo, kita bisa akrab.

-TBC (^/\^)-

Anditia Nurul ©2012

-Do not repost/reblog without my permission

-Do not claim this as yours

Iklan

21 thoughts on “BEAUTIFUL MEMORIES IN MOKPO [Prolog]

  1. Halooo 😀
    Unik, belum pernah ketemu tapi udah nikah. Kalo di dunia ada ga mgkn tuh pernikahan di gereja kaya gitu.
    Anyway, kl menurut KBBI nih ya peng·hu·lu kl n 1 kepala; ketua: —
    kampung; — negeri; — kawal; 2
    kepala adat; 3 kepala urusan
    agama Islam di kabupaten atau
    kota madya; 4 penasihat urusan
    agama Islam di pengadilan

    1. Halo juga ^^

      Hehe… kalo di dunia nyata sih, gak ada mungkin, ya. Tapi kalo fiksi, ada-adain aja dah XD

      Ohh… begitu, ya? Salah penggunaan, dong? Hehe (/.\)
      Makasih banget atas informasinya ^^
      Makasih juga uda baca dan komen ^^

  2. anyeong falah imnida line.. takut ketuaan aku kasih klu aja ya *padahal mang udah tuwir hehe* satu tahun di bawah kyuppa..

    mianhe telah terdampar di blogmu *hmm enakan manggil apa ya* saeng aja kali ya biar akrab *sksd* 🙂 dan aku reader baru di sini *gak nanya* #bug

    cast di ff ini adalah my fav namja eheemm..dan kayana aku akan mulai mengobok2 blogmu saeng *ikan kali #itu julukan my fishy hehe..dan dirimu tak boleh ngamuk harus ikhlas ya *maksa

    ya sudah itu saja perkenalana the last gomawo moga berkenan.. bye2 *culik donge masuk karung* 🙂

    1. Annyeong, eonni.
      Welcome~
      Ohh… hehehe… belum tuwir2 amat kok, eonni #kicked

      gapapa, eonni. saya senang kalo ada yang terdampar di sini. XD
      Ne, eonni panggil saeng aja, gapapa. Ohehe, udah keliatan dari ID-nya eonni ada fishy2-nya. XD

      Wehehe… silakan eonni. Mau diobok-obook, diacak-acak atau dibom sekalian, silakan~ ^___^

      Cheonmaneyo, eonni ^^
      Semoga eonni senang di blog ini.

  3. waw seru ff nya, ternyata dia dan Donghae oppa baru saling bertemu di hari h pernikahan dan belum akrab sama sekali.. So cute couple, sama2 pemalu lagi.. kyeopta.. Sepertinya ide nya Donghae oppa mengajak istrinya ke Mokpo adalah ide yg bagus untuk saling mengakrabkan..

  4. unni aku datang lagi 😀
    asik kali ini Hae ku jadi cast 😀
    kkk, akhirnya Unni, menyadari kekecean Hae juga.
    ff nya bagus Unn, bahasanya pas dan oke. aku suka, next part ditunggu ya Unn.

      1. yaah Unni sih telat , Hae emang udah kece dari lahir kkkk. ^^v
        ayo Unn setelah ini sadari kekece an Kyu juga ya? biar aku dibuatin ff nya Kyu juga :p #modus.
        oke deh Unn.

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s