THE WINGS OF LOVE

THE WINGS OF LOVE

Rating :

PG-13

Genre :

Romance
Sad *dikit*

Length :

Oneshot

Characters :

(SuJu) Leeteuk/Jungsoo
Jang Leera (OC)

Disclaimer:

FF ini asli punya author dan OC-nya punya teman author. Kalau ada kesamaan dengan FF lain yang ada diluar, itu tidak disengaja. Typo everywhere.

Summary :

Seorang pria bernama Park Jungsoo mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pilot di salah satu maskapai penerbangan di Incheon karena suatu alasan. Setelah mengundurkan diri, ia pindah ke Busan dan bekerja sebagai seorang karyawan. Di tempat itulah ia menemukan seseorang yang ia yakini sebagai pemilik sepotong sayap cintanya yang lain, Jang Leera.

NO SIDERS! NO PLAGIAT! JUST RCL.

@@@@@

Seorang pria tengah duduk dihamparan rumput hijau di tepi danau. Hembusan angin sore membelai lembut pipinya. Matanya menatap sebuah benda berbentuk lingkaran yang sedang ia pegang saat ini. Ia mendesah pelan. Disudut matanya terdapat cairan bening yang hendak keluar dari mata sipitnya.

Pria itu bernama Park Jungsoo. Dia seorang pilot muda di sebuah maskapai penerbangan ternama di Korea Selatan. Hari ini, cincin yang ia pegang sekarang seharusnya tersemat di jari manis seorang wanita yang sangat ia cintai. Namun, semua itu tidak terjadi.

Tepat seminggu yang lalu, Min Hyera, calon istrinya meninggal dunia karena tabrakan. Hyera sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi takdir Tuhan berkata lain, Hyera meninggal di tengah perjalanan menuju rumah sakit.

-Jungsoo’s POV-

Aku menggenggam erat cincin ini. Cincin yang seharusnya menjadi pengikat antara aku dan Hyera. Aku tidak tahu apa salahku sehingga Tuhan mengambil orang yang sangat aku cintai disaat kami berdua akan bersatu.

Aku memandang sekelilingku, mencari sesuatu yang bisa membuatku terhibur. Ya, itu yang aku butuhkan saat ini. Tiba-tiba aku melihat seekor burung kecil dengan bulu berwarna kebiru-biruan. Cantik sekali. Ia tengah meminum air di tepi danau. Tidak lama kemudian, aku mendengar kicauannya yang merdu lalu ia terbang, mengepakkan kedua sayap kecilnya.

Ah, aku jadi teringat akan kata-kata Hyera padaku, sewaktu ia masih hidup. Kata-kata itu ia dengar entah dari siapa. Kata-kata itu seperti ini: “untuk dapat terbang, seorang manusia harus berpasangan dengan seorang manusia yang lain, karena ia hanya punya 1 sayap sehingga ia harus melengkapinya dengan sayap milik seorang yang lain.” (Luciano Crescenzo)

Kalau memang setiap manusia itu diandaikan memiliki sepotong sayap, apakah Hyera bukan pemilik dari sepotong sayapku yang lain?? Apa karena itu Tuhan mengambilnya dariku?? Karena Hyera bukan diciptakan untukku. Benarkah?? Kalau memang benar, lalu siapa pemilik sepotong sayapku yang sebenarnya??

-End Of Jungsoo’s POV-

-Author’s POV-

Jungsoo beranjak dari tempat itu menuju Audi putih-nya yang terparkir di tepi jalan. Ia membuka pintunya kemudian masuk lalu duduk di jok. Tangan kanannya segera menggerakkan tuas yang berada di samping dan kakinya menginjak pedal gas di bawah. Perlahan Audi putih itu melaju.

@@@@@

One Year Later

-Jungsoo’s POV-

Sejak 1 bulan lalu, aku melepas pekerjaanku sebagai pilot di Incheon karena aku tidak mau terus-menerus hidup dalam bayang-bayang Hyera. Ne, Hyera dulunya adalah pramugari di maskapai yang sama denganku. Bekerja di tempat itu membuatku tidak bisa melupakan Hyera.

Sekarang aku tinggal di Busan, menjadi seorang karyawan kantoran biasa. Yah, aku cukup merasa nyaman berada di tempatku sekarang walaupun aku tahu gajinya sangat jauh berbeda dengan gajiku ketika masih menjadi pilot dahulu. Tapi itu semua cukup untuk membiayai hidupku seorang diri di Busan.

“Jungsoo-ya, annyeong…,”sapa Leera, teman sekantorku, ketika ia baru saja datang di kantor.

Annyeong…,” balasku. Aku melihat ia duduk di mejanya—yang terletak di samping mejaku—lalu mulai mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya kemudian mengetikkan sesuatu ke dalam computer yang ada di hadapannya.

Sejauh ini, Leera cukup menarik perhatianku. Ia manis, baik, dan pekerja keras. Dia seperti Hyera, hanya saja wajah mereka berbeda. Tapi sudahlah, bukan waktunya aku membandingkan antara Hyera dan Leera. Aku harus bekerja sekarang.

-End Of Jungsoo’s POV-

Lunch time…

-Author’s POV-

Satu per satu teman-teman sekantor Jungsoo menghentikan kegiatannya dan beranjak untuk mengisi perut mereka sebelum bekerja lagi. Jungsoo pun menghentikan kegiatannya lalu ia pun melirik Leera di sampingnya.

“Yaa!! Kau tidak makan??” tanya Jungsoo kepada Leera yang masih sibuk mengetik.

“Sebentar lagi…,” jawab Leera. Kedua matanya menatap lurus layar monitor, tidak menoleh sedikit pun. “Kau duluan saja…,” lanjut Leera.

Ani…Aku akan menunggumu…,” sahut Jungsoo. Leera menoleh sejenak ke arah Jungsoo lalu menyunggingkan senyumnya.

Geurae….”

Sekitar 15 menit kemudian, Leera telah menyelesaikan pekerjaanya. Segera, ia dan Jungsoo pergi mencari makanan untung membungkam perut mereka.

Jungsoo dan Leera tiba di sebuah rumah makan di dekat kantor mereka. Keduanya memilih duduk di dekat jendela untuk melihat suasana Busan di siang hari, ramai. Tidak lama, seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka.

“Jungsoo-ya, dulu kau kerja dimana??” tanya Leera membuka pembicaraan setelah pelayan itu pergi.

“Aku dulu kerja di bandara….”

“Heh? Maksudmu kau dulu calo tiket??”sahut Leera sambil terkekeh.

“Ya!! Memang aku punya tampang calo tiket, hah?! Aku dulu seorang pilot…,” jelas Jungsoo. Leera sedikit terkejut mendengar penjelasan Jungsoo.

Mwo?? Neo? Mantan pilot?? Aigoo, aku sungguh tidak percaya, ternyata kau dulu pilot!!” sahut Leera yang masih terkejut. “Lalu, kenapa kau pindah ke Busan dan memilih bekerja sebagai pegawai kantoran??” tanya Leera lagi.

“Mm…Itu karena sesuatu yang tidak bisa kujelaskan padamu…,” jawab Jungsoo.

Ne, gwaenchana…”, balas Leera sedikit kecewa.

Seetelah mengobrol beberapa saat, seorang pelayan pun mengantarkan pesanan mereka. Keduanya pun sibuk dengan makanan masing-masing.

-End Of Author’s POV-

@@@@@

-Leera’s POV-

Hhh…Hari ini benar-benar melelahkan. Lagi-lagi aku harus lembur. Entah ini sudah ke berapa kalinya aku lembur bulan ini. Aiissh!! Aku melirik meja di sampingku. Aigoo, Jungsoo terpaksa tidur di mejanya karena ingin menemaniku?? Aku jadi tidak enak padanya.

“Jungsoo-ya, bangun!! Ayo pulang…,” kataku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. Dia tidak bergeming.

“Ya!! Ayo bangun,” ucapku sekali lagi.

Akhirnya ia bangun. Ia mengucek-ngucek kedua matanya lalu mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali.

“Ah, mianhae, aku ketiduran….”

Gwaenchana. Seharusnya aku yang minta maaf karena membuatmu tertidur karena kelelahan menungguku. Lain kali, sebaiknya kau pulang duluan saja…,” kataku. Dia tersenyum.

Ani…Mana mungkin aku tega meninggalkan teman pertamaku di kantor seorang diri di malam hari seperti ini. Apa lagi kau itu perempuan…,” balas Jungsoo.

Geurae…Gomawo…,” ucapku. Aku segera mengemasi barang-barangku lalu segera pulang berjalan menuju depan kantor, menunggu taksi bersama Jungsoo.

Park Jungsoo. Dia pria yang baik dan perhatian. Senyumnya juga sangat manis dengan lesung pipinya. Hmm…Andai saja aku punya sedikit keberanian untuk menanyakan apa dia sudah punya pacar atau belum?! Aissh, Leera-ya, apa yang kau pikirkan?!

-End Of Leera’s POV-

-Back to Author’s POV-

Leera dan Jungsoo berdiri di depan kantor untuk menunggu taksi yang telah mereka telepon sebelumnya. Sesekali keduanya melihat jam tangan masing-masing, pukul 23.15.

“Hemmm,” Leera menahan rasa kantuk yang menyerangnya.

“Kau pasti lelah, ya?!” tebak Jungsoo. Leera hanya mengangguk pelan.

Keduanya pun diam. Tidak lama kemudian, Jungsoo mengajak Leera untuk duduk di tepi pot yang memanjang di halaman kantor.

“Ya! Besok kau lembur tidak??” tanya Jungsoo sambil memandangi Leera yang duduk di sampingnya.

“Mm…Sepertinya tidak. Wae??” tanya Leera balas menatap Jungsoo.

“Aku mau kau menemaniku melihat-lihat Busan. Itu kalau kau tidak punya acara lain…,” kata Jungsoo sedikit ragu.

Ne, akan aku usahakan untuk menemanimu melihat Busan…” sahut Leera. Sebuah senyum  mengembang di wajah Jungsoo.

Lalu sebuah taksi memasuki halaman kantor. Leera dan Jungsoo segera berdiri. Keduanya pun berjalan menghampiri taksi yang telah berhenti itu.

“Jungsoo-ya, kau pulang naik apa??” tanya Leera saat ia hendak membuka pintu taksi yang akan mengantarnya pulang.

“Aku…Aku naik bis,” jawab Jungsoo.

“Kau pulang denganku saja. Rumahmu searah dengan rumahku, kan?!”, tawar Leera kepada Jungsoo.

Ani…Kau….”

“Sudahlah…Kali ini kau harus mengikuti kata-kataku!!” kata Leera lalu menyuruh Jungsoo masuk ke dalam taksi bersamanya. Setelah mereka duduk di jok belakang, taksi pun melaju.

@@@@@

Next day…

07.17 p.m

Jungsoo terlihat berdiri di depan pintu sebuah rumah yang tidak begitu besar namun kelihatan nyaman untuk ditinggali. Ia terlihat menarik dengan setelan kasualnya. Tidak lama kemudian, seorang yeoja dengan setelan pink loose blouse dan skinny jeans membuka pintu rumah itu.

Mianhae, aku membuatmu menungguku…,” sesal Leera.

Aniyo, gwaenchana. Ayo…,” ajak Jungsoo.

Leera dan Jungsoo tiba di Busan Tower, tempat yang paling bagus—menurut Leera—untuk  melihat Busan di malam hari. Keduanya duduk di bangku yang ada di sekitar menara. Sambil menyesap kopi yang telah mereka beli tadi, Leera dan Jungsoo melihat-lihat sekeliling mereka.

“Busan ternyata ramai, ya?!”, celetuk Jungsoo sambil melihat orang-orang berlalu lalang di hadapannya.

Ne…,” balas Leera singkat.

Tiba-tiba terdengar suara dengungan pesawat yang melintas di atas mereka. Jungsoo dan Leera mendongakkan  kepala mereka untuk melihat pesawat itu.

“Pesawat itu kecil, ya?!” celetuk Leera lalu terkekeh, masih mendongakkan kepalanya, menatap langit. Jungsoo hanya tersenyum mendengar celetukan asal itu.

“Hmm…, Aku jadi rindu pekerjaanku dulu…,” sahut Jungsoo yang juga masih menatap langit.

“Kau tau tidak, dulu waktu aku kecil, aku pernah bercita-cita menjadi pramugari,” ucap Leera lalu mengalihkan pandangannya ke Jungsoo.

“Lalu? Kenapa kau malah menjadi pegawai kantoran??”

“Ya!! Apa kau pura-pura tidak tau atau memang kau tidak tau??”

“Maksudmu??”

“Kau liat, kan?! Tinggiku…,” kata Leera.

“Ah, araseo. Kau pendek!!” sahut Jungsoo lalu tertawa. Leera langsung merengut sebal.

-End Of Author’s POV-

-Jungsoo’s POV-

Aku jadi teringat akan Hyera. Dia juga dulu adalah pramugari di maskapai yang sama denganku. Aku masih ingat tiap kali aku dan Hyera bertugas di satu pesawat yang sama, teman-teman kami yang lain pasti langsung menggoda kami. Itu membuat Hyera menjadi kesal setiap kali dia bertugas denganku.

Hyera-ya…Jagiya…Apa kau baik-baik saja di atas sana?? Nan neol bogoshippoyo….

-End of Jungsoo’s POV-

-Leera’s POV-

Dia menangis. Tiba-tiba saja Jungsoo menangis. Entah apa yang ia pikirkan, tapi aku yakin hal itu pasti berkaitan dengan masa lalunya, masa ketika ia menjadi pilot. Mungkin ia rindu untuk duduk dibalik mesin kemudi pesawat.

-End Of Leera’s POV-

“Jungsoo-ya?? Gwaenchana??” tanya Leera, cemas.

A-Aniyo. Nan gwaenchana,” jawab Jungsoo sambil menggelengkan kepalanya cepat.

“Kau…Kau pasti rindu dengan teman-temanmu di Incheon, ya?!” tebak Leera.

Ne…Aku rindu pada mereka,” sahut Jungsoo lalu menunduk. Dipandangi cairan kopi yang ada di dalam gelas plastik yang dipegangnya.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak kembali saja ke Incheon. Mumpung kau masih baru di Busan…,” kata Leera sambil menatap Jungsoo. Jungsoo menoleh ke arah Leera.

“Aku tidak bisa…,” sahut Jungsoo pelan.

Wae?”

Mianhae, aku tidak bisa menceritakan alasannya sekarang. Tapi aku janji, aku akan menceritakannya suatu saat kepadamu…,” kata Jungsoo sambil tersenyum.

Geurae. Oya, kau mau naik ke menara??”, tanya Leera. Jungsoo belum sempat menjawab, tapi Leera langsung saja menarik tangan Jungsoo. Keduanya segera masuk ke dalam menara, melihat Busan dari puncaknya.

@@@@@

6 months later…

-Jungsoo’s POV-

Pagi ini, ketika aku hendak sarapan, aku mendapatkan sepucuk surat dari maskapai tempatku bekerja dulu. Di surat itu tertulis bahwa pimpinan perusahaan maskapai memintaku kembali karena kurangnya pilot di maskapai setelah  mereka melakukan penambahan pesawat.

Aissh, ottokhae?? Apa aku harus kembali Incheon?? Tapi aku sudah merasa nyaman di tempatku sekarang. Ottokhae??

-End Of Jungsoo’s POV-

-Author’s POV-

Mwo? Kau diminta untuk kembali ke Incheon??” seru Leera kaget setelah Jungsoo menceritakan kejadian tadi pagi di sela-sela pekerjaan mereka.

Ne~. Dan aku diminta mengirim surat balasan 1 minggu lagi jika aku setuju untuk kembali…,” kata Jungsoo.

“La-Lalu, apa keputusanmu??”

Mollayo. Aku tidak tahu apakah aku harus kembali atau tidak….”

“Ah, ne. Sebaiknya kau memikirkannya baik-baik…,” nasehat Leera. Jungsoo mengangguk pelan.

-Leera’s POV-

Ottokhae?? Bagaimana kalau Jungsoo menerima tawaran itu?? Aku tidak akan bisa bertemu dengan dia lagi?? Ottokhae? Aissh, kenapa aku selalu mengalami hal ini?? Setiap aku mulai menyukai seorang namja, pasti ada saja halangannya. Tuhan..waeyo?? Apa Jungsoo tidak kau ciptakan untukku??

­-End Of Leera’s POV-

-Author’s POV-

Jungsoo dan Leera kembali sibuk dengan pekerjaan dan…pikiran masing-masing. Dilema!! Jelas itu yang dialami Jungsoo sekarang. Dia rindu dengan orang tua dan teman-temannya di Incheon. Tapi di sisi lain, di Busan, di tempat ini ia merasa telah menemukan sepotong sayap yang benar-benar diciptakan untuknya. Jang Leera.

1 week later…

Dia terlihat keluar dari kantor pos. Ia berhenti sejenak untuk memantapkan hatinya bahwa keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang terbaik. Kembali ke Incheon!! Ne, Jungsoo memutuskan untuk kembali ke pekerjaannya dahulu. Tidak lama setelah itu, ia berjalan menuju tempat dimana ia masih bekerja sekarang sambil membawa sebuah amplop coklat berukuran sedang. Itu pasti adalah surat pengunduran diri.

“K-Kau menerima tawaran itu?!” ucap Leera. Ada sedikit nada kecewa saat ia mengucapkan kata-kata itu kepada Jungsoo yang duduk di meja kerjanya.

Ne. Aku sudah putuskan untuk kembali…,” balas Jungsoo. Dada Leera sedikit sesak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jungsoo.

“La-lalu, kapan kau akan kembali??” tanya Leera. Suaranya sedikit serak karena menahan kesedihannya.

“2 hari lagi. Aku ingin mengemasi semua barang-barangku dulu….”

“Oh…,” ucap Leera, lirih. Kembali ia berkonsentrasi dengan monitor di hadapannya, tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan Jungsoo.

@@@@@

Next Day…

-Leera’s POV-

Beberapa menit yang lalu Jungsoo mengirimiku sebuah pesan singkat yang isinya ia menyuruhku untuk menemuinya di Pantai Haeundae. Hemph, untuk apa ia ke pantai padahal besok ia akan kembali ke Incheon!?

Aku telah tiba di pantai Haeundae. Aku melihat dia berdiri di tepi pantai sambil menatap pantai di depannya. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ombak telah membuat celananya basah. Burung-burung camar terlihat terbang kesana-kemari di atas pantai, membuat suasana menjadi sedikit lebih ramai.

“Jungsoo-ya,” panggilku setelah aku berdiri di sampingnya.

Gomawo, kau sudah mau datang menemuiku…,” ucapnya. Ia tidak melirikku sedikit pun. Hanya pantai Haeundae yang tergambar di kedua matanya itu.

“Ada apa??” tanyaku sambil mengikutinya, melihat pantai di hadapanku.

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan sebelum aku pergi ke Incheon besok,” ucapnya. Aku tertegun lalu menoleh ke arahnya. Penasaran!! Itu yang aku rasakan sekarang. Apa yang ingin ia katakan??

Mwo??”

Aku melihatnya menundukkan kepalanya lalu menatapku. Itu membuatku sedikit kaget karena perlakuannya yang menurutku sedikit aneh.

“Kau masih ingat kalau aku pernah berjanji padamu untuk menceritakan alasan mengapa aku pindah ke Busan dan melepas pekerjaanku sebagai pilot disana??”

Ne, aku masih ingat,” kataku mantap. “Lalu apa alasanmu??”, tanyaku.

“Setahun sebelum aku aku pindah ke Busan, aku akan menikah dengan temanku yang seorang pramugari. Namanya Min Hyera,” kata Jungsoo.

“Dia pasti wanita yang sangat cantik…,” sahutku. Ah, jadi ini jugakah alasan Jungsoo menerima tawaran itu?? Karena ia ingin bertemu dengan yeojachingu-nya yang bernama Min Hyera itu??

Ne. Dia sangat cantik. Tapi, rencana pernikahan kami gagal karena…karena ia mengalami kecelakaan seminggu sebelum upacara pernikahan kami,” ucap Jungsoo lirih. Ia kembali menundukkan kepalanya. Aku membungkam mulutku seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkannya barusan. J-Jadi, Min Hyera itu telah meninggal??

“Jungsoo-ya…,” gumamku. Dia menangis. Dia pasti sangat mencintai wanita itu. Hhh, Hyera sangat beruntung karena ia sempat memiliki Jungsoo sebelum ia dipanggil oleh Tuhan.

Mianhae…Tidak seharusnya aku menangis seperti ini,” ucap Jungsoo setelah tangisannya mereda.

Gwaenchana. Aku bisa memaklumi itu…,” kataku sambil tersenyum.

“Aku yakin Hyera pun sangat mencintaimu seperti kau mencintainya sampai saat ini…,” kataku.

Tidak lama kemudian, Jungsoo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna biru tua. Ia kemudian membuka kotak itu yang ternyata isinya adalah sepasang cincin pasangan dengan sayap diatasnya. Cincin yang sangat indah.

“Ini adalah cincin yang rencananya akan kusematkan di jari Hyera saat kami menikah…,” ucap Jungsoo sambil menatapku.

Neomu areumdawo…,” gumamku menatap kedua benda itu.

“Tapi aku masih ingin menyematkan cincin ini di jari seseorang meskipun dia bukan Hyera,” kata Jungsoo. Aku diam.

“Leera-ya, nawa kyeoronaejullae??”, ucap Jungsoo sambil berlutut di hadapanku. A-Aku tidak percaya. Dia melamarku??

“Jungsoo-ya….”

Wae? Kau tidak mau??”

A-Aniyo. A-Aku mau. Aku bersedia…,” ucapku.

Jungsoo lalu berdiri kemudian menyematkan salah satu cincin itu di jari manisku. Perlahan air mataku menetes. Aku bahagia. Sangat bahagia. Tuhan, terima kasih….

-End Of Leera’s POV-

@@@@@

3 months later…

Incheon…

-Jungsoo’s POV-

Setelah selesai mandi, aku langsung mengenakan seragam pilotku yang terletak rapi di atas tempat tidur. Hmm, senang rasanya bisa memakai seragam ini lagi. Setelah selesai berpakaian, aku segera keluar dari kamar untuk sarapan.

“Kali ini kau masak apa??”, tanyaku pada Leera, istriku. Sebulan yang lalu aku resmi menikah dengannya.

“Sandwich…,” jawabnya.

Aku segera duduk di kursi dan menyantap sandwich di hadapanku. Ia pun duduk menemaniku sarapan. Akhirnya, aku menemukan sepotong sayapku. Sayap yang benar-benar diciptakan Tuhan untukku. Kini aku merasa bisa terbang menggapai langit bersama Leera dan buah cinta kami. Ya, dia tengah hamil sekarang.

“Aku berangkat sekarang…,” ucapku setelah menghabiskan sandwich dan segelas susu hangat.

Aku berjalan ke pintu depan diikuti Leera. Setelah mengenakan sepatu Leera memberikan topi pilotku yang hampir saja terlupa.

Gomawo…,” ucapku sambil tersenyum.

Ne. Hati-hati!! Jangan sampai kau menjatuhkan pesawat…,” candanya. Aku terkekeh.

“Tidak akan. Kalau pun terjadi, aku kan bisa terbang…,” balasku. Kini gantian ia yang terkekeh.

“Kau kan tidak punya sayap, yeobo….”

“Aku punya. Kau saja yang tidak melihatnya…,” balasku.

“Aissh. Sudahlah, nanti kau terlambat….”

“Aku tidak mau berangkat kalau kau belum percaya aku punya sayap.”

Ne, geurae. Aku percaya, yeobo~~~,” ucapnya, pasrah. Hahaha….

“Nah, begitu. Aku berangkat…”, kataku. Ketika aku hendak membuka pintu, ia memanggilku.

Yeobo-ya….”

Aku menoleh dan melihat tingkahnya yang sedang hormat kepadaku. “Pilotku, semoga harimu menyenangkan…,” ucapnya.

Aku membalas hormatnya sambil tersenyum. “Ne, semoga harimu juga menyenangkan….”

-THE END \(^_^)/-

 

A/N: Mianhae kalo FF comeback(?)-nya tidak memuaskan. >/\<

 

Iklan

14 thoughts on “THE WINGS OF LOVE

  1. Annyeong author… Reader baru yang tidak sengaja mampir karena tadi blogwalking ke blognya Nana dan nemu blog ini, terus nemu FF uri Ori… Kang Minhwa imnida atau Nana imnida…

    Hihihihi sedikit sulit membayangkan si bebek itu jadi pilot, tapi kalau misalnya kejadian pasti tambah ganteng deh…

    Ceritanya bagus karena castnya my hubby Jungsoo Oppa hehehehehehe… 😉

        1. Hehehe… aku baru aja main ke blog Eonni.
          Tapi baru numpang intro, sih, Eonni… heheheh ^^

          Wah, dengan senang hati, Eonni. Pintu(?) selalu terbuka untuk Eonni. ^^

  2. wow aku suka sekali ceritanya
    apalagi itu kan castnya leeteuk
    berasa aja gimana sweetnya
    meski sempat sedih
    tapi akhirnya jungsoo berhasil menemukan apa yang selama ini ia cari

    nice story
    nice plot ^^

  3. So sweet strory, finally Jungsoo oppa find the real wings to accompany him forever. Sedihnya wkt baca di awal ternyata Hyera nya meninggal seminggu sblm pernikahan mereka berdua. Ternyata sayap penyeimbang kehidupan Jungsoo oppa adalah Leera. Great author. Thanks

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s