PRINCE SIWON VS PRINCE KYUHYUN SIDE STORY: THE BLUE GIRL

PRINCE SIWON VS PRINCE KYUHYUN SIDE STORY: THE BLUE GIRL

Rating                                   : PG-13

Genre                                   : Fluff & Friendship

Length                                  : Oneshot

Main characters                   : (SHINee) Jonghyun & Oh Haneul (OC)

Supported characters          : (Super Junior) Shindong, (SuJu-M) Henry, & f(x)-Sulli

Disclaimer                             : I own the plot & the OC

Summary                                : Jonghyun berkenalan dengan seorang yeoja bernama Haneul, yeoja yang sangat mirip dengan Aoi.

@@@@@

Aku berada di sebuah tempat yang tidak aku ketahui. Sebuah tempat yang penuh dengan warna biru. Rumputnya, bunga-bunganya, kupu-kupunya, semua hal di tempat ini berwarna biru. Aku terus berjalan dan berjalan mengitari tempat ‘biru’ ini. Tiba-tiba, aku melihat sosok yeoja berbaju biru dengan rambut panjang sepunggung sedang mengelus seekor kuda biru yang mirip unicorn.

“Aoi??” gumamku saat aku semakin dekat dengan yeoja itu.

Yeoja itu menyadari keberadaanku. Tiba-tiba ia berlari meninggalkan kuda yang dielusnya tadi. Aku segera mengejar yeoja itu, tapi larinya cukup cepat. Ia berada jauh di depan. Aku tidak putus asa mengejarnya. Aku berusaha menambah kecepatan lariku, tapi tetap saja aku tidak bisa menyusulnya. Hingga aku tidak sadar kalau diriku jatuh di jurang.

“AAAAAAAAAAAA~~~~~”

“BRUKK”

Aku terbangun dari tidurku setelah jatuh dari tempat tidur. Syukurlah ternyata hal tadi hanyalah mimpi. Entah bagaimana nasibku jika aku benar-benar jatuh di jurang. Aku lalu berdiri sambil menggosok-gosok wajahku yang dengan mulus mendarat di lantai beberapa saat lalu, kemudian melirik jam weker di meja, 07.43.

MWO?

Hhh, gara-gara mimpi tadi, aku jadi kaget-kagetan sekarang. Ada apa dengan diriku ini?? Kenapa aku masih juga belum bisa melupakan peri cantik itu?? Sampai-sampai aku membawanya ke alam mimpi. Jincca!

Ngomong-ngomong tentang Aoi, aku jadi teringat Siwon. Sekitar 3 hari yang lalu, dia datang menemuiku di sekolah. Dia bilang dirinya telah menjadi raja bersama dengan Cho Sonsaengnim. Tapi, yang membuatku lebih terkejut lagi adalah dia juga telah menikah dengan Park Sonsaengnim. Hah, usahanya tidak sia-sia. Selain itu, ia juga datang untuk membayar uang sewa yang ia janjikan saat pertama kali ia berada di rumahku.

Aku pun berjalan pelan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigiku. Setelah itu, aku keluar dari kamar untuk mengisi ‘bahan bakar’.  Di meja makan, Eomma telah menyajikan nasi goreng.

“Jonghyun-ah, semalam kau tidur jam berapa, hah!? Kenapa bangun terlambat??” tegur Eomma-ku sambil membawa sebuah rantang dan selembar kain berwarna hijau dari dapur. Lagi-lagi aku terkejut.

“Tadi malam aku kerja PR, Eomma. Kerja PR…makanya aku terlambat bangun…,” kataku. Hah, kerja PR apanya? Tadi malam aku asik main game online sampai lupa waktu.

“Oya, bawakan kimchi ini ke rumah Ajumma di Seongpa-gu setelah kau sarapan…,” perintah Eomma yang baru saja selesai membungkus rantang berisi kimchi. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku ingat kalau aku tadi telah berbohong jadi anggap saja ini sebagai permintaan maafku kepada Eomma.

Ne…,” jawabku singkat.

Beberapa saat kemudian…

Aku telah selesai sarapan. Aku berjalan ke kamarku untuk mengambil jaket lalu kembali ke meja makan untuk mengambil rantang kimchi yang harus aku antar ke Seongpa-gu. Hah, andai saja rantang ini bisa jalan sendiri, aku tidak perlu bersusah payah mengantarnya.

“Hati-hati, jangan sampai kimchi-nya jatuh…,” pesan Eomma sebelum aku berangkat. Eomma lebih mengkhawatirkan kimchi ini daripada aku?? -.-“

Ne…,” kataku.

Aku berjalan keluar rumah dan aku mendapati Appa yang dengan santainya duduk di kursi teras sambil membaca koran ditemani segelas kopi.

Appa tidak sarapan?”

Ani. Nanti saja…,” jawab Appa yang masih serius dengan korannya.

Setelah memakai sandal, aku berjalan menuju garasi sambil menenteng bungkusan hijau di tangan kananku. Aku pun mengeluarkan sepedaku dari garasi kemudian aku duduk di sadelnya. Tangan kiriku memegang rantang sementara tangan kananku memegang stir sepeda.

Yaaah, sepedaku ini memang tidak ada keranjangnya. Sepeda yang punya keranjang di depan itu kan sepeda yeoja. Dan lagi, aku tidak mau mengikat rantang ini di sadel belakang. Selain takut nanti jatuh, mengikat rantang di sadel belakang membuatku mirip pengantar makanan dari sebuah warung. Perlahan aku pun mengayuh sepedaku keluar dari halaman rumah.

In Seongpa-gu

Aku membelokkan sepedaku memasuki sebuah rumah minimalis bercat ungu muda. Akhirnya, setelah beberapa menit bersepeda, aku tiba di rumah Ajumma, adik dari Appa-ku. Aku membiarkan sepedaku tergelatak begitu saja di halaman.

Gomawo, Haneul-ah…,” terdengar suara Ajumma yang berjalan ke pintu keluar.

Tidak lama kemudian, seorang yeoja berbaju biru dengan rambut panjang sepunggung keluar dari rumah Ajumma, diikuti Ajumma di belakangnya. Aku terkesima begitu mataku melihat wajah milik yeoja itu. WAJAHNYA MIRIP WAJAH AOI.

“Lho? Jonghyun? Sejak kapan kau disitu? Kenapa tidak masuk??” tanya Kim Ajumma.

“I-Ini aku baru mau masuk, Ajumma…,” jawabku gugup.

Ajumma, aku pulang dulu…,” pamit yeoja itu sambil membungkuk sekilas kepada Kim Ajumma. Lalu ia pun berjalan menuju pagar, namun tidak lupa ia sedikit membagikan senyumnnya saat ia melewatiku.

Setelah yeoja itu pergi, Ajumma mengajakku masuk ke dalam rumahnya.

Ajumma, yeoja tadi siapa?” tanyaku penasaran.

Aku mengikuti Kim Ajumma berjalan menuju dapur.

“Dia Haneul. Oh Haneul. Anak tetangga baru di sebelah…,”

Namanya Haneul? Nama yang indah. Seindah orangnya…heheheh.

“Kenapa kau senyam-senyum?” tegur Ajumma yang menyadari aku bertingkah aneh.

A-Ani…,” jawabku. “Oya, Ajumma, ini kimchi dari Eomma…,” aku mengalihkan topic pembicaraan sambil memberikan bungkusan hijau kepada Ajumma.

“Ah, ne. Gomawo…,” ucap Ajumma.

Ajumma lalu membuka kain hijau yang menyelimuti rantang itu kemudian memindahkan isi rantang ke wadah lain. Sementara Kim Ajumma sibuk memindahkan kimchi, aku berjalan menuju halaman rumah. Siapa tahu aku bisa melihat yeoja bernama Haneul itu sekali lagi.

“Jonghyun-ah, Ajumma cari-cari di dalam ternyata kau ada disini!” tegur Ajumma membuatku kaget lagi. Huft.

Ini…berikan ini pada Eommamu, arachi? Di dalam ada soondaeguk. Jangan sampai tumpah!!” pesan Kim Ajumma.

Ne…,” kataku sambil celingak-celinguk mencari-cari sosok Haneul itu.

“Cari siapa, hah?? Apa kau punya teman yang tinggal di sekitar sini??”

A-Aniya…”, kataku.

Sudahlah, mungkin hari ini aku tidak beruntung. Lain kali, aku akan ke sini lagi untuk mengenal yeoja itu. Kemudian, aku pun pamit kepada Ajumma lalu mengayuh sepedaku menuju rumah.

@@@@@

Sore harinya aku mengajak Henry dan Shindong menonton di sebuah bioskop yang berada di kawasan sebuah mall. Yah, hari ini aku sedang berbaik hati mentraktir mereka. Lagi pula, aku juga harus membagi rezeki yang diberikan Tuhan padaku. Ne, uang yang aku pakai hari ini adalah uang dari Siwon yang baru saja aku ambil dari ATM beberapa saat lalu.

Kalian mungkin akan terkejut begitu tahu berapa jumlah uang yang diberikan Siwon padaku. Tapi, aku tidak ingin memberitahu kalian berapa jumlah tepatnya. Yang pasti, jumlah nol-nya lebih banyak dari pada jumlah jari-jari tangan kalian.

“Nonton apa kita?” tanya Henry yang berdiri di pintu masuk bioskop.

“Sherlock Holmes,” jawabku singkat.

Henry mengangguk singkat lalu mengajak kami segera masuk ke dalam bioskop. Henry menyuruhku dan Shindong untuk duduk sementara ia dengan senang hati mengantri untuk membeli tiket ‘Sherlock Holmes: A Game of Shadows’. Sejak ia terpilih menjadi siswa teladan se-Paran High School dua hari yang lalu, ia menjadi sangat baik hati. Hahah.

Sementara Henry berdiri di deretan paling belakang dari antrian pembelian tiket, aku dan Shindong melihat-lihat sekaligus membaca tulisan yang tertera di poster tulisan yang di pajang di setiap dinding bioskop.

“Hhh…” suara desahan seseorang yang baru saja duduk di dekatku membuatku menoleh ke arahnya.

Jamkanman! D-Dia kan Haneul!

Aku memperhatikan dengan seksama yeoja yang memakai sweater yang (lagi-lagi) berwarna biru itu. Ia sedang memasukkan dompetnya ke dalam tas, namun tanpa sengaja, tiket yang ia pegang terjatuh ke lantai. Segera aku menunduk kemudian meraih tiketnya yang terjatuh bersamaan dengan ia yang juga ikut menununduk. Tapi, aku lebih dulu mendapatkan tiketnya.

Aku membaca tulisan yang tertera di tiket itu, Alvin and the Chipmunks: Chip-Wrecked. Ah, dia ingin menonton film para chipmunk yang bisa menyanyi itu. Aku kemudian menegakkan tubuhku, begitu juga dengan Haneul.

“Ini tiketmu…,” kataku sambil menyerahkan selembar tiket itu padanya.

Ne, gomawo…,” ucapnya lalu tersenyum.

Melihat Haneul dari jarak dekat seperti ini membuat dia benar-benar sangat mirip dengan Aoi. Matanya, hidungnya, bibirnya…, semua mirip Aoi. Hanya saja pipi Haneul sedikit lebih berisi dari pipi Aoi.

“Kau…namja yang datang ke rumah Kim Ajumma kemarin, kan!?” tebaknya. Rupanya dia masih mengingatku.

Ne. Aku keponakannya. Nan Jonghyun imnida…,” kataku memperkenalkan diri.

“Ya! Kau mengenal yeoja itu?” Shindong yang sempat aku lupakan, berbisik di telingaku.

Ne, tetangga Ajummaku di Seongpa-gu…,” jawabku sambil berbisik juga di telinganya.

“Namamu Haneul, kan?!” ujarku. Ia mengangguk.

“Kau sendiri ke sini??” tanyaku lagi. Ia hanya menjawabku dengan sebuah anggukan lagi.

Tanpa bertanya lagi, aku langsung berlari menuju antrian tiket Alvin and the Chipmunks: Chip-Wrecked. Shindong yang melihatku beranjak langsung berteriak memanggilku, begitu juga dengan Henry yang langsung menghadangku saat ia baru saja selesai membeli tiket film Sherlock.

“Mau kemana?” tanya Henry.

“Beli tiket,” jawabku singkat.

“Ya! Ini tiketnya…,” ujar Henry sambil menunjukkan 3 lembar tiket di depan wajahku.

“Aku tidak jadi menonton film itu. Aku mau nonton film lain…,” balasku lalu melewati Henry.

“Ya! Lalu satu tiket ini untuk siapa??” teriak Henry. Aissh, apa dia tidak sadar kita ini sedang di tempat umum?! Aku tidak mempedulikan ucapannya.

Beberapa saat kemudian…

Aku baru saja mendapatkan selembar tiket film yang sama dengan milik Haneul. Kemudian, aku bergegas kembali ke tempat semula, namun kulihat disana hanya ada Shindong dan Henry yang duduk di tempatku tadi. Tidak ada Haneul. Kemana dia?

“Ya! Apa kalian melihat yeoja yang tadi duduk disini?” tanyaku pada Shindong dan Henry sambil menunjuk kursi yang tadi diduduki oleh Haneul.

“Oh..Itu…,” jawab Henry sambil menunjuk ke seorang yeoja yang tengah berjalan menuju ruang tonton.

Aku melihat ke arah yang ditunjukkan Henry. Oh, syukurlah…yeoja itu benar Haneul. Aku hendak berlari menghampiri Haneul, tapi lagi-lagi aku dicegat. Kali ini Shindong pelakunya.

“Ya! Ya! Mau kemana?” tanyanya.

“Nonton…,”

“Nonton apa, hah!? Ini tiket bagianmu…,” kata Henry sambil menyerahkan tiket film Sherlock bagianku.

A-aniya…aku tidak jadi menonton film itu,” tolakku sambil mejauhkan tangan Henry yang memegang tiket dari hadapanku. “Sudahlah, filmnya hampir mulai. Aku duluan…,” kataku lalu meninggalkan Henry dan Shindong.

Aku bergegas menyusul Haneul masuk ke dalam ruang nonton. Sayangnya, aku tidak bisa duduk berdekatan dengannya, huft! Selama film di mulai, kedua mataku tidak tertuju pada layar besar di depan, melainkan ke arah Haneul yang duduk di kursi barisan depan.

Begitu film selesai, buru-buru aku mengejar Haneul yang hendak keluar ruangan. Tapi, jalannya cepat sekali. Aku bahkan tidak melihat ke arah mana ia berjalan. Aku berjalan keluar ruangan sambil celingak-celinguk mencari Haneul. Aissh, kemana yeoja itu!?

Aku kemudian berjalan keluar dari area bioskop menuju area mall. Siapa tahu dia sedang jalan-jalan. Aku terus mencari dan mencari sosok bersweater biru itu daan…

“Haneul-ah!” aku berteriak memanggil yeoja yang tengah berdiri memegang pagar pembatas sambil melihat orang-orang di lantai bawah. Yeoja itu menoleh.

“Hhh…jalanmu cepat sekali. Aku dari tadi mencarimu kemana-mana…,” kataku sambil mengatur nafasku yang tersengal. Yeoja itu menatapku heran.

“Mencariku? Wae?” tanyanya bingung.

 “A-Ani…aku…aku hanya ingin mentraktirmu,” jawabku gugup.

“Mentraktirku?!” Ia masih bingung.

“Sebagai tanda perkenalan. Heheh…,” tambahku. Ia pun mengangguk.

Aku pun mengajaknya mencari café di area mall. Setelah mendapatkan café, aku segera mengajaknya masuk kemudian duduk di salah satu tempat kosong di dalam. Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan kami.

“Haneul-ah, kata Ajummaku kau orang pindahan, ya!? Pindahan dari mana?” tanyaku memulai pembicaraan di café sembari menunggu pesanan.

“Dari Sokcho,” jawabnya kemudian tersenyum.

“Lalu sekarang kau sekolah dimana?”

“Shinhwa High School. Neo?”

“Paran…,” jawabku.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan membawakan pesanan kami kemudian menghidangkannya di atas meja. Setelah aku suruh, Haneul baru menyentuh makanannya. Hmm, yeoja yang sopan. Sepertinya aku tidak salah pilih.

At Night

Jonghyun’s Room

Aku baru pulang dari mall beberapa saat lalu. Penyebabnya, aku sempat melupakan dua sahabatku, Henry dan Shindong. Ne, aku meninggalkan mereka yang saat itu masih menonton dan malah pergi makan di café bersama Haneul. Sialnya, mereka mendapatiku di café itu. Jadilah mereka berdua menyuruhku mentraktir mereka makanan sampai ada beberapa makanan yang mereka bawa pulang ke rumah. Dasar!

Tapiiiii, di satu sisi, aku mendapat keberuntungan. Aku berhasil mendapatkan nomor HP Haneul. Yaah, anggap saja itu sebagai hadiah dari Tuhan karena aku berbaik hati pada Henry dan Shindong hari ini. Setelah beristirahat sebentar, aku kemudian menghubungi Haneul. Waktunya PDKT! Wkwkwkwk….

@@@@@

Five weeks later…

Lima minggu waktu berlalu, aku dan Haneul semakin akrab. Yah, walau aku belum mengungkapkan rasa suka padanya karena aku pikir ini masih terlalu cepat. Lagi pula, Haneul itu sepertinya tipe yeoja polos. Kalau aku mengatakan hal itu sekarang, bisa-bisa dia kaget. Heheheh….

Hari ini Haneul memintaku untuk menemaninya ke department store. Karena itu, kami janjian bertemu di depan rumah Ajumma-ku. Aku duduk di atas motor yang aku parkir di depan rumah Ajumma. Untung, hari ini Ajumma sedang ikut arisan di rumahku. Gawat kalau dia melihatku ada di depan rumahnya.

“Jonghyun-ah…,” suara Haneul terdengar saat aku sedang bercermin pada spion motor. Aku menoleh ke arah yeoja itu lalu tersenyum.

“Sudah lama?” tanyanya lalu tersenyum. Hmm…, setiap melihat ia tersenyum, aku semakin sadar kalau Haneul itu sangat mirip dengan Aoi.

Ani…Aku baru saja tiba….,” jawabku. Ia mengangguk pelan. “Berangkat sekarang?”

Ne…,” jawabnya singkat.

Aku segera menyalakan mesin motorku lalu menyuruh Haneul naik ke boncengan. Setelah ia duduk dengan nyaman, aku segera melajukan motorku menuju sebuah department store di Seongpa-gu.

In a department store…

-Haneul’s POV-

Aku berjalan menyusuri sebuah toko baju yang ada di department store. Aku mencari-cari dress yang akan aku gunakan di acara ulang tahun sekolah minggu depan. Untunglah, Jonghyun mau menemaniku karena aku belum punya banyak teman di Seoul.

“Bagaimana kalau ini?” Jonghyun menunjukkan sebuah dress berwarna ungu padaku. Dress itu cantik, tapi aku tidak suka warnanya. Aku hanya suka pada warna biru.

Ani…,” tolakku lembut. Jonghyun terlihat sedikit kecewa. Ia pun meletakkan kembali dress itu di tempatnya semula.

Aku jalan lagi menyusuri toko itu dan Jonghyun tetap berjalan di sampingku. Akhirnya, aku menemukan sebuah dress biru kobalt selutut dengan tali dari pita berwarna putih. Ditambah dengan hiasan bunga berwarna putih di bagian dada sebelah kanan, dress itu tampak manis.

Areumdawoo…,” celetuk Jonghyun ketika aku melihat lebih detail dress itu.

Jeongmal? Ah, sudah kuduga…,” kataku.

Aku pun berjalan menuju fitting room sementara Jonghyun menunggu di dekat fitting room.

-End Of Haneul’s POV-

Setelah beberapa menit Haneul masuk ke dalam ruangan kecil di sudut toko itu, ia pun keluar dengan mengenakan dress berwarna biru yang dipilihnya beberapa saat lalu.

Otte?” tanyanya.

Neoooomuuuu yeppeo! Haneul terlihat sangat cantik memakai dress itu. Dia bahkan belum memakai make-up, dia sudah cantik begini.

Ye-Yeppeora…,” pujiku.

Gojitmal…,” Haneul menatapku ragu.

Aniyaa…Kau benar-benar cantik. Aku tidak bohong…,” ujarku.

Haneul pun kembali masuk ke fitting room untuk melepaskan dress itu lalu memakai bajunya semula. kemudian, kami pun ke kasir untuk membayar harga dress biru itu. Lalu, Haneul pun mengajakku masuk ke dalam sebuah toko es krim.

Hmm, lagi-lagi dia memesan es krim yang ada ‘biru’nya, Blueberry Ice Cream.

“Ya! Kenapa kau begitu menyukai warna biru, hah!?” tanyaku saat kami duduk menikmati es krim pesanan masing-masing.

“Menurutku warna biru itu cantik,” jawabnya.

“Tapi kan ada banyak warna lain yang juga cantik. Merah muda misalnya. Kebanyakan yeoja suka warna itu…,”

Molla. Pokoknya aku suka warna biru,” tegasnya.

Juliette! yeonghoneul bachilkkeyo
Juliette! jebal nal bada jwoyo
Juliette! dalkomhi jom deo dalkomhage
Soksagyeo naui serenade

HP Haneul berbunyi. Haneul segera merogoh saku celananya kemudian membuka flip HP-nya untuk menjawab panggilan.

“Ya! Katanya kau mau membantuku mencari pasangan dansa. Ottokhae?” keluh Haneul pada orang yang menelponnya sekarang.

Mwoya? Ya! Kau tau kan aku ini baru sebulan lebih di Seoul. Aku mana punya namjachingu?? Kau ini bagaimana??” lanjut Haneul.

“Aish! Sudahlah, aku tidak usah pergi!” kata Haneul kesal lalu segera menutup flip HP-nya kasar.

Waeyo?” tanyaku. Haneul menatapku.

“Hmph. Temanku janji akan mencarikan seseorang untuk jadi pasangan dansaku di acara ulang tahun sekolah nanti. Tapi, dia tidak berhasil mendapatkan seorang pun. Huft!!” Haneul memasang wajah yang super kesal.

Jamkanman. Dia tidak punya pasangan?? YA! KIM JONGHYUN, it’s your chance.

“Haneul-ah, bagaimana kalau aku saja??” tawarku.

“Kau…Kau mau?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk yakin.

Jincca?”

Ne,” Ia pun tersenyum.

“Ah…Gomawoyo, Jonghyun-ah…,” sahutnya riang.

@@@@@

Shinhwa High School’s Birthday

06.47 p.m

Aku duduk di dalam sebuah taksi yang mengantarku menuju rumah Haneul. Aku duduk di jok belakang sambil melihat pemandangan di luar. Kemudian, aku teringat akan sebuah benda yang sejak siang tadi aku persiapkan. Aku mengeluarkan sebuah kotak panjang dan ramping dari saku celanaku, kotak yang berisi benda itu. Aku memandangi benda tersebut sambil tersenyum. Sebuah benda yang mengingatkanku pada seseorang…, mm…maksudku, sesuatu.

“Sudah sampai…,” kata Ajussi supir taksi. Buru-buru aku menutup kotak itu lalu memasukkannya kembali ke dalam sakuku.

Ajussi, bisa tunggu sebentar? Aku mau memanggil temanku dulu baru kita ke Shinhwa…,” sahutku. Ajussi itu pun mengangguk.

Aku segera keluar dari taksi lalu menghubungi Haneul dan mengatakan aku telah berada di depan rumahnya. Beberapa saat kemudian, kulihat sosok yeoja yang keluar dari rumahnya lalu berjalan dengan anggun menghampiriku.

“Jonghyun-ah…,” gumamnya sembari memperhatikanku dari atas ke bawah. Ia kemudian tersenyum.

Wae?” tanyaku. Jangan-jangan ada yang aneh.

Aniya…, hanya kaget melihat penampilanmu…,” jawabnya. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal lalu tersenyum malu.

“Ya! Kita berangkat sekarang, ya!? Acaranya sebentar lagi…,” ajak Haneul. Aku pun mengangguk.

Kemudian, aku membukakan pintu taksi untuk Haneul dan mempersilahkannnya masuk. Setelah ia duduk dengan nyaman di dalam, barulah aku masuk dan menutup pintu taksi. Setelah itu, taksi kami pun melaju menuju Shinhwa High School.

In Shinhwa’s Hall

Setelah tiba di Shinhwa, Haneul segera mengajakku menuju aula. Di sana sudah banyak sekali siswa-siswi Shinhwa yang hadir bersama pasangannya masing-masing. Ada beberapa di antara siswa-siswi Shinhwa yang aku kenal, mereka teman SMP-ku dulu. Juga beberapa pasangan dari mereka ada yang berasal dari Paran sama sepertiku.

“Haneul-ah…,” panggil seorang yeoja pada Haneul. Haneul menoleh ke arah yeoja yang tengah berdiri di depan meja minuman.

“Jonghyun-ah, kita kesana…,” ajak Haneul sembari menarik tanganku lalu berjalan ke arah yeoja itu.

“Ya! Nugu??” tanya yeoja itu pada Haneul sambil melirikku. Aku hanya tersenyum.

“Sulli-ya, ini Jonghyun. Jonghyun-ah, ini sahabatku, Sulli…,” kata Haneul memperkenalkan. Tiba-tiba yeoja bernama Sulli itu berbisik di telinga Haneul. Entah apa yang ia bisikkan, tapi hal itu bisa membuat wajah Haneul memerah.

A-Aniya…,” ujar Haneul setelah mendengar bisikan Sulli. “Lalu, mana pasanganmu?” tanya Haneul.

“Disana…,” Sulli menunjuk seorang namja yang tengah berbincang dengan beberapa namja lain.

“Ya! Bukankah dia Choi Minho, sepupumu??” tanya Haneul memastikan. Sulli mengangguk.

“Kau benar! Dari pada aku tidak punya pasangan dan kebetulan dia sedang tidak ada kerjaan malam ini, apa salahnya kalau aku mengajak dia!?” terang Sulli. Haneul mengangguk.

Tidak lama kemudian, acara pun dimulai. Kepala sekolah Shinhwa naik ke atas panggung untuk memberikan kata sambutan. Lalu beberapa saat kemudian, sebuah kue tart yang diletakkan di atas meja beroda di dorong oleh beberapa guru dari samping panggung.

Serentak para tamu undangan pun menyanyikan lagu ulang tahun seiring dengan pria tua itu memotong kue tart. Setelah acara pemotongan kue, acara yang dinanti siswa pun dimulai. Dentingan piano mulai terdengar diiringi dengan beberapa alat music lainnya sehingga melantunkan sebuah irama lembut yang terkesan romantis.

Beberapa pasangan pun mulai masuk ke lantai dansa, sementara yang lainnya termasuk Haneul hanya berdiri di pinggir lantai dansa sambil memerhatikan mereka yang mulai berdansa.

“Kau tidak mau dansa?” tanyaku. Haneul menoleh.

“Setelah dipikir-pikir, aku tidak begitu pandai berdansa. Kita menonton saja, ya…,” pinta Haneul.

“Ya! Kita coba saja…,” ajakku. Haneul terlihat sedang memikirkan kata-kataku.

Hajiman…,”

“Ayolah…,” desakku.

Geurae…,” pasrah Haneul.

Aku pun menggandeng Haneul masuk ke lantai dansa. Kemudian, dengan perlahan aku memegang pinggang Haneul dengan kedua tanganku. Kulihat Haneul sedikit kaget.

Wae?” tanyaku sembari menarik tubuh Haneul agar lebih mendekat ke tubuhku.

A-Aniya…,” jawabnya lalu menundukkan kepalanya. Aku pun meraih kedua tangannya lalu merangkulkan kedua tangan itu di leherku. Haneul mendongak menatapku.

“Santai saja…,” sahutku. Haneul mengangguk pelan lalu menundukkan kepalanya lagi. Sementara aku mulai bergerak perlahan.

-Haneul’s POV-

Aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang dan hal itu membuatku gugup. Aissh, jincca! Apa ini karena pertama kalinya aku berdekatan dengan namja?? Tapi namja di hadapanku ini kan Jonghyun. Seharusnya aku sudah terbiasa berada di dekatnya, tapi kenapa aku merasa gugup.

Tiba-tiba aku merasakan tangan Jonghyun menyentuh daguku lalu mengangkatnya.

“Jangan menunduk terus…,” ucapnya sambil menatap kedua mataku. Omona~~

Waktu terus berlalu dan berlalu. Aku, Jonghyun dan pasangan lain semakin larut dalam gerakan dansa masing-masing. Hingga tanpa kusadari, aku menyandarkan kepalaku di bahu kanan Jonghyun sambil terus berdansa.

-End of Haneul’s POV-

Aigoo, sejak tadi aku merasa gugup. Dan semakin gugup begitu Haneul menyandarkan kepalanya di bahuku. Kemudian, aku pun teringat benda yang aku lihat di taksi tadi tadi.

“Haneul-ah…,” bisikku di telinga Haneul.

Ne?”

“Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu…,” kataku.

Haneul tidak lagi menyandarkan kepalanya di bahuku, tetapi saat ini ia memandangku penasaran.

Mwo?”

Aku pun berhenti bergerak sehingga membuat Haneul ikut menghentikan gerakannya. Aku pun mengeluarkan kotak dari saku celanaku, membukanya lalu mengeluarkan isinya. Sebuah kalung, kalung yang selalu melingkar dengan indah di leher Aoi.

Igeo mwoya?” tanya Haneul heran sambil memandang kalung yang masih di tanganku.

Aku tidak menjawab. Tanpa permisi, aku melingkarkan kalung berwarna biru safir itu di leher Haneul. Setelah kalung itu terpasang, Haneul menatapku. Aku menarik Haneul kembali mendekat padaku lalu melanjutkan dansa kami yang tertunda.

“Jonghyun-ah, apa maksudnya kalung ini…,” Haneul meminta penjelasan.

“I-Itu…hadiah untukmu…,” kataku.

“Hadiah? Untuk apa kau memberiku hadiah?”

“Karena kau mengingatkanku pada seseorang…,” Haneul semakin bingung.

“Seseorang? Nugu?”

“Orang yang aku cintai…dulu,”

“Dulu?” tanya Haneul lirih. Aku mengangguk.

Wae?” tanyanya lagi.

“Karena aku telah menemukan seseorang…” jawabku. “Yaitu kau…,” lanjutku.

Na??” tanya Haneul kaget. Aku mengangguk pelan.

Otte? Would you be my girlfriend?”

Haneul tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya lagi. Setelah beberapa saat, music dansa pun berhenti, namun Haneul belum memberiku jawaban. Ia berjalan ke meja minuman lalu mengambil segelas sirup yang ada di atas meja itu. Aku pun menghampirinya.

“Kau kenapa?” tanyaku. Ia hanya menggeleng.

Setelah ia meminum hampir setengah gelas minumannya, ia mengajakku pulang. Padahal, acaranya masih belum selesai. Lagu yang mengalun lembut yang menemani dansa kami pun telah digantikan dengan lagu yang bergenre rock, membuat siswa-siswi melompat-lompat.

Di taksi, Haneul terus diam. Ia hanya bicara jika aku bertanya padanya dan itu pun, ia hanya menjawab singkat. Apa aku salah karena telah memintanya menjadi pacarku? Ya! Aku rasa itu bukan kesalahan. Itu KEWAJIBAN! Kewajiban bagi seseorang yang memendam rasa dan wajib mengungkapkannya. Hmm, yaaah, walau aku tahu itu hak-nya mau menjawab atau tidak. Tapi…,

“Jonghyun-ah…,” panggilnya sambil menunduk.

“Besok, pagi-pagi sekali datanglah ke rumah Kim Ajumma…,” ujarnya.

“Untuk?”

“Jika kau melihat ada kain biru terikat di pagarnya, itu artinya aku mau menjadi yeojachingumu. Tetapi, jika kau melihat warna lain, itu artinya aku menolakmu, arasseo?!” jelasnya lalu menoleh padaku. Aku mengangguk.

Taksi pun tiba di depan rumah Haneul. Segera ia turun dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Sementara taksi ini melaju ke arah rumahku.

@@@@@

Next Day

05.12 a.m

Langit masih gelap dan suhu udara di sekitarku masih dingin menyentuh kulit. Aku mengayuh sepedaku dengan cepat menuju rumah Kim Ajumma. Tinggal sedikit lagi aku tiba daaaan…aku tersenyum melihat adegan yang terjadi di hadapanku. Haneul mengikat selembar kain berwarna BIRU di pagar Ajummaku. Ia bahkan masih memakai piyama. Aku mengendap-endap menghampiri Haneul yang terlihat begitu serius mengikat kain itu.

“Haneul-ah…,” panggilku. Haneul terkejut namun ia masih tetap membelakangiku.

“Kau…kau mau menjadi yeojachinguku?” tanyaku. Kulihat Haneul menganggukkan kepalanya pelan. Segera aku membalik tubuhnya menghadapku lalu memeluknya.

Gomawo…,” ujarku.

Ani…Aku yang harusnya berterima kasih padamu,” kata Haneul lalu melepaskan pelukanku.

“Untuk apa? Memang seharusnya aku yang berterima kasih…,”

Aniya, kau salah. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau masih menjaga kalung ini dan mengembalikannya padaku,” aku tidak mengerti dengan apa yang ia katakan barusan.

“Mengembalikannya padamu!? Maksudnya?”

Haneul menyentuh kalung biru safir yang masih melingkar di lehernya sembari menutup kedua matanya perlahan. Tiba-tiba, kalung itu berpendar-pendar seiring dengan asap putih mengepul, mengelilingi tubuh Haneul. Beberapa saat kemudian, asap itu pun menghilang dan sesuatu yang aneh terjadi.

Piyama Haneul berganti dengan pakaian yang sama saat aku pertama kali melihat Aoi di kamar waktu itu.

Jamkanman! Heh, ini tidak mungkin. B-Bagaimana bisa kau…,” ujarku ragu. Haneul tidak mungkin Aoi. Mereka berbeda. Aoi adalah peri sedangkan Haneul adalah manusia. Ini benar-benar tidak mungkin terjadi!

Ne, aku Aoi. Peri milik Pang…mm…maksudku Raja Siwon,” sahutnya.

“Tapi bagaimana bisa kau…, tolong jelaskan semuanya padaku,” pintaku.

Aoi pun menjelaskan bagaimana dirinya bisa berubah menjadi seorang manusia, yeoja bernama Haneul. Ternyata, ini adalah hadiah dari ratu peri karena Aoi rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Pang…eh, Raja Siwon. Karena itu, Ratu Peri memberikan satu permintaan kepada Aoi. Dan inilah yang dimintanya, ia ingin menjadi manusia.

“Mengapa kau memilih menjadi seorang manusia? Kenapa kau tidak memilih untuk menjadi peri seperti dirimu semula?” tanyaku.

Wae? Kau tidak suka kalau Haneul ternyata adalah Aoi? Kau tidak suka kalau aku menjadi manusia?” ia bertanya balik sambil menatapku.

A-Aniya…bukan i…” ia langsung memotong ucapanku.

“Karena di negeri manusia, ada seseorang yang mencintaiku. Ada seseorang yang ingin menjagaku. Sayangnya, semua itu terhalang karena dulu aku adalah peri. Dan sekarang, aku memilih menjadi manusia untuk menemui orang itu. Orang yang masih mencintaiku dan masih ingin menjagaku,” jelasnya panjang.

“Karena kau, aku memilih menjadi manusia…,” lanjutnya.

Aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan sekarang. Aku…aku bahagia. HANEUL ADALAH AOI. Pantas saja mereka begitu mirip. Mereka sama. Dan itu artinya, aku bisa bersama dengan Aoi, peri biru yang aku cintai dulu, sekarang dan selamanya.

-THE END \(^_^)/-

a/N: Karena FF ini udah terbit, author mau hiatus dulu. Author balik lagi tanggal 14 Februari 2012. Mianhaeyoooo~~~

Iklan

10 thoughts on “PRINCE SIWON VS PRINCE KYUHYUN SIDE STORY: THE BLUE GIRL

  1. wah..akhirnya jonghyun-aoi ketemu lg..so sweet deh..tp aku masih kangen waktu jonghyun masih sama 3 sahabatnya waktu zhoumi masih hidup..:)

  2. so sweet banget deh, sumpah ><v

    kalo jonghyun diganti onew, truz aoi nya aku pasti lbh so sweet lagi deh #plak #ditabokauthor

    10 jempol buat author! *4 minjem onew, 2 minjem umin* XD

      1. oh…yang ini?
        ini sidestory-nya, saeng. Berhubung FF-nya tamat, tapi bagian Jonghyun-nya masih kurang, jadi dibikinin side-story dari cerita utama.
        PRINCE SIWON VS PRINCE KYUHYUN itu judul cerita utama. =D

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s