ONE FOR ME

ONE FOR ME

Rating                               : PG-13

Genre                                : Romance

Length                               : Oneshot-Songfic (One for me by SHINee)

Characters                         : (SHINee) Minho & Park Minjung (OC)

Disclaimer                         : The plot is based on lyric of One For My by SHINee. The OC is mine.

Summary                           : Minho mencintai sahabatnya, Minjung. Tetapi Minjung telah memiliki seorang namjachingu. Suatu hari, Minjung putus dengan namjachingunya. Minho mengambil kesempatan itu untuk membuktikan kepada Minjung bahwa ia mencintai Minjung.

@@@@@

RECOMMENDED: Baca FF ini sambil dengar lagu ‘One For Me’nya SHINee

Gamsahamnida…”, ucapku kepada pelanggan yang baru saja membeli di toko kue milik Eommaku.

Setelah pelanggan itu pergi, aku mengelap meja-meja yang kotor. Tak lama setelah itu, seorang yeoja membuka pintu dan masuk ke dalam toko.

Oso oseyo…”, sambutku sembari tersenyum ramah kepada pelanggan tersebut. Ia membalas senyumku dengan senyum manisnya seperti biasa. Ne, dia adalah pelanggan setia di tokoku ini.

“Hari ini kau mau beli apa, Minjung-ah??”,tanyaku seraya berjalan menghampirinya yang sedang melihat-lihat kue yang terpajang di etalase. Tiba-tiba ia menunjuk sebuah kue tart kecil berbentuk hati.

“Minho-ya, aku mau kue tart itu…”, sahutnya.

Aku segera mengambil kue tart itu dari etalase, memasukkannya ke dalam kotak lalu memberikannya kepada Minjung. Minjung kemudian mengikutiku berjalan ke meja kasir.

Eolmayeyo??”, tanyanya.

“12.000 won!!”, jawabku.

Minjung segera membuka tas dan mengeluarkan dompetnya. Kemudian beberapa lembar uang dari dompetnya ia serahkan padaku. Aku menerima uangnya dan memberikan uang kembalian.

“Biar aku tebak, pasti kue itu untuk Donghae!!”, tebakku. Ia tersenyum malu.

Ne, kue ini untuk Donghae Oppa. Hari ini dia akan bertanding sepakbola. Aku…Aku ingin memberikan kue ini untuknya agar dia lebih bersemangat…”, jawabnya.

Tampak kedua pipinya merona merah saat mengatakan kata-kata. Hah…Namja bernama Donghae itu benar-benar sangat beruntung bisa memiliki yeojachingu yang baik hati dan perhatian seperti Minjung. Andai aku-lah namja beruntung itu…Aish, Minho-ya, apa yang kau pikirkan?? Baboya!!

“Minho-ya, gwaenchana??”, Minjung terlihat cemas melihat tingkahku yang memukul-mukul kepalaku sendiri. Aku langsung salah tingkah.

A-Aniyo. Mianhae…”

Ne. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya?! Sugohaseyo, chingu-ya”, ucapnya seraya berlalu dari hadapanku.

-Flashback-

Minjung berlari ke arah toko kueku. Wajah cantiknya tampak berseri-seri, senyuman di wajahnya mengembang lebar dan tidak menunjukkan sedikitpun senyum itu akan berubah. Begitu dia memasuki toko, ia langsung berjalan ke arahku yang sedang duduk di meja kasir.

“Minho-ya…Hari ini aku sangat bahagia!!!”, ucapnya dengan nada yang sangat jelas terdengar bahagia.

“Jincca? Apa yang terjadi??”, tanyaku penasaran. Ia tersenyum aneh, tatapannya padaku juga terkesan sedikit aneh.

“Mulai hari ini, aku dan Donghae resmi berpacaran…Gyaa!!!”, ucapnya sambil melompat-lompat tidak jelas, seperti seorang anak yang baru saja mendapatkan boneka.

“Chukaeyo…Aku ikut bahagia”, ucapku. Tapi jauh di dalam hatiku, aku merasa sedih. Sedih karena yeoja yang aku sukai kini telah menjadi milik orang lain. Aish, andai aku punya cukup keberanian untuk mengatakan “Minjung-ah, saranghaeyo…”. Sayang, kata-kata itu hanya bisa aku ucapkan dalam hati.

-End Of Flashback-

@@@@@

Keesokan harinya…

Akhirnya matakuliah hari ini berakhir dan sekarang aku harus bekerja menjaga toko roti Eomma. Segera aku langkahkan kakiku menuju halte bis. Tiba-tiba…

“Geunyeoui eopae yeongwonhi gyeote

Nae jaril mandeuleo nugoseo chingu anin

Namjaro byeonhae seulpeumeun eobdeoreok

Jikeojul georago anajumyeo malhaelgeoya”

Aku mendengar HPku berdering. Aku merogoh saku celanaku dan melihat tulisan yang tertera di layar: ‘Minjung calling’. Segera aku menekan tombol berwarna hijau kemudian merapatkan HP di telingaku.

Beberapa saat kemudian…

Aku berjalan cepat menuju sebuah taman tempat Minjung berada sekarang. Entah apa yang terjadi padanya sehingga ia memintaku untuk menemaninya hari ini. Jika aku tebak dari nada suaranya tadi, sepertinya ia sedang sedih. Mungkin ia sedang ada masalah.

Aku telah tiba di taman, tempat dimana dia seharusnya berada. Aku melihat ke sekelilingku, mencari sosok yeoja itu. Tiba-tiba mataku menangkap sosok yeoja yang tengah duduk di bawah pohon. Kepalanya ia rapatkan di kedua lututnya yang tertekuk. Sepertinya dia Minjung.

Aku berjalan perlahan menghampiri yeoja itu. Dan setiap aku melangkah, semakin jelas aku mendengar suara isak tangis yang berasal dari yeoja tersebut.

“Minjung-ah, gwaenchana??”, tanyaku seraya duduk di sampingnya. Minjung mengangkat kepalanya dan menoleh padaku. Kedua matanya yang indah kini terlihat mengeluarkan butiran-butiran cairan bening yang harus kuhentikan. Ia berusaha tenang.

“Minho-ya, kemarin…”, ucapnya menggantung.

Ne, waeyo??”, tanyaku penasaran.

“A-Aku…Aku melihat Donghae Oppa dengan yeoja lain…”,jawabnya sambil terisak. Cairan bening dari kedua matanya semakin mengalir. Aku mengeluarkan selembar sapu tangan dari sakuku dan memberikannya kepada Minjung.

“Aku tidak tahu apa salahku?! Kenapa Donghae Oppa begitu tega padaku…!!!”, tambahnya. “Dan kemarin, hubungan kami berakhir…”, ucapnya lirih.

Jincca??”, tanyaku kaget. Ia mengangguk pelan. Aku turut bersedih melihat Minjung bersedih, tapi jauh di dalam hatiku, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Minjung kini bukan milik Donghae lagi.

Jujur, dia terlihat jauh lebih cantik saat menangis. Aura seorang yeoja yang memiliki hati yang lembut terpancar dengan jelas dari wajahnya. Aura kelembutan yang aku sukai sejak pertama kali aku bertemu dengannya di lapangan bola.

Mianhae…”, ucapnya tiba-tiba.

“Untuk apa?”

“Karena aku sudah menyusahkanmu hari ini…”, sesalnya sambil menatap ke langit biru.

Gwaenchana…”, balasku.

Gomawo, kau memang teman baikku…”, ucapnya lalu tersenyum padaku.

Teman terbaikku, kata-kata itu yang sering dia ucapkan padaku. JUST FRIEND?? NOTHING ELSE?? Tiap aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya, hatiku terasa sakit. Benarkah aku hanya bisa menjadi seorang teman untukmu, Minjung??

“Ya!! Kau mau jalan-jalan??”, tawarku seraya berdiri dari dudukku. Ia mendongak.

Ne..”, jawabnya sambil tersenyum. Segera aku mengulurkan tangan kananku untuk membantunya berdiri, dia menyambut tanganku.

@@@@@

Aku dan Minjung berada di sebuah lapangan sepak bola di dekat tokoku. Sebelumnya aku mampir ke tokoku untuk menyimpan tas dan mengambil bola sepak milikku. Minjung duduk di bangku dimana para pelatih dan pemain cadangan biasanya duduk menyaksikan pertandingan, sementara aku berada di tengah lapangan bermain bola seorang diri.

“HAHAHAHA….”, tawa Minjung meledak di tepi lapangan saat melihatku salah menyundul bola yang akhirnya malah mengenai wajahku, bukan dahiku.

“Ya!! Kau menertawakanku??”, kataku sebal seraya berjalan menghampirinya.

Babo-ya!! Lihat wajahmu jadi kotor karena bola…”, ucapnya lalu berjalan menghampiriku. Tak lama ia mengelap wajahku dengan sapu tangan yang aku berikan tadi.

Dengan telaten ia mengelap wajahku, membersihkan tanah yang melengket. Aku hanya bisa memperhatikannya melakukan hal itu padaku. Tiba-tiba aku melihat cairan bening itu menggenang di pelupuk matanya.

“Minjung-ah, waeyo??”, tanyaku cemas. Ia tetap tidak peduli pada kata-kataku, ia masih saja sibuk mengelap wajahku yang aku rasa sudah tidak ada lagi kotoran yang menempel.

“Kau ingat Donghae, ya?!”, tebakku dan membuatnya berhenti mengelap wajahku lalu memberikan sapu tangan itu kepadaku. Ia segera berjalan kembali ke bangku dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya.

“Minjung-ah…”, panggilku. Dia tidak menggubrisku dan sekarang terdengar lagi suara isakan.

“Minjung-ah…”, panggilku sekali lagi.

Entah apa yang merasukiku sehingga aku langsung memegang kedua telapak tangan yang menutup wajahnya itu kemudian menurunkannya sehingga wajahnya yang merah padam karena tangisan terlihat. Aku mengelap air matanya menggunakan kedua ibu jariku.

“Kau jangan sedih, Minjung-ah?! Lupakan Donghae…Aku yakin kau pasti bisa melupakan namja itu…”, kataku. Dia semakin terisak.

“Minho-ya, boleh aku pinjam bahumu sebentar??”, tanyanya dengan suara parau. Aku mengangguk pelan lalu mendekatkan tubuhku padanya. Setelah itu, ia langsung merebahkan kepalanya di bahu kananku.

Aku sudah lama menunggu hari ini. Hari dimana aku bisa meminjamkan bahuku kepada yeoja ini, hari dimana aku bisa menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya. Aku ingin selamanya bisa berada di sampingnya. Mendapat tempat dimana dia bisa melihatku sebagai seorang namja yang mencintainya, bukan sebagai seorang teman.*

Beberapa menit telah berlalu, Minjung mulai merasa tenang. Suara isakannya tidak terdengar lagi. Setelah itu, ia menegakkan kembali menegakkan lehernya dan tersenyum padaku.

Gomawo…”, ucapnya singkat. “Mianhae, aku benar-benar menyusahkanmu hari ini. Apalagi aku terus-terusan menangis. Minho-ya, jeongmal mianhae…”, tambahnya.

Gwaenchana…”, balasku.

“Kau mau ke pantai??”, ajakku lagi. Dia menggeleng.

Waeyo?”, tanyaku. Ia tersenyum simpul.

Aniyo, hari ini kau sudah menemaniku. Nanti Choi Ajumma marah padamu karena kau tidak membantunya menjaga toko…”, jawabnya.

Gwaenchana. Aku sudah mengatakan pada Eomma bahwa hari ini aku tidak bisa membantunya menjaga toko…”, ucapku. “Jadi, kau mau menemaniku ke pantai, kan??”, tanyaku sekali lagi.

Geurae…”, jawabnya.

@@@@@

Aku dan Minjung telah tiba di pantai. Kami duduk di salah satu bangku di bawah pohon di tepi pantai. Minjung menatap jauh ke depan, melihat ombak berkejar-kejaran. Sedangkan aku memperhatikan sosoknya dari samping, melihat sosok perempuan yang tengah rapuh karena cinta.* ceileeh bahasaQ*

“Hancur…”, gumamnya.

“Eh? Apa yang hancur??”, tanyaku. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum. Lalu jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah istana pasir yang hancur di terjang ombak.

“Istana pasir itu hancur seperti…”, ucapnya sambil melihat ke arah istana pasir yang sudah tidak jelas bentuknya. Hening. Hanya terdengar suara angin dan gemuruh ombak.

“Kau ingin membuat istana yang baru??”, tanyaku. Dia menoleh padaku sambil mengernyitkan dahinya.

Ne, apa kau ingin membuat istana yang baru?? Kalau kau mau, aku akan membuatkannya untukmu…”, jelasku. “Istana pasir yang tidak akan runtuh”, tambahku.

“Minho-ya…”, gumamnya.

Ini saatnya!! Aku harus bisa mengatakannya sekarang juga.

Aku berganti posisi, berlutut dihadapannya. Dia terlihat bingung dengan tindakanku yang tiba-tiba. Segera aku menggenggam kedua tangannya dan menatap matanya dalam.

Saranghaeyo…”, ucapku mantap. Minjung terkejut.

“Minho-ya?!”, ia menyahut.

Ne, nan neol saranghaeyo…”

Hajiman…”

Ne, aku tahu kau hanya menganggapku sebagai seorang teman biasa, bukan seseorang yang istimewa, aku tahu itu. Tapi hari ini, aku ingin kau tahu bahwa Choi Minho yang sejak tadi menemanimu bukanlah Choi Minho teman baikmu tetapi Choi Minho, namja yang mencintaimu…”, kataku panjang. Minjung tertegun.

“Karena itu, Minjung-ah, ijinkan aku menjadi tempat yang bisa membuatmu nyaman, menjadi namja yang bisa kau percaya…”, tambahku.

“M-Minho-ya…”, gumamnya. Lagi-lagi aku melihat cairan bening itu di sudut matanya.

Reflek aku berdiri lalu duduk di sampingnya. Kedua tanganku merangkul tubuh mungilnya sehingga dia masuk ke dalam pelukanku. Dia menangis lagi.

“Sssh…Kau jangan menangis, Minjung-ah. Aku berjanji aku akan menjagamu, aku janji akan setia padamu..”, kataku mencoba menghiburnya.

“Kau tahu, Minjung-ah, hanya cinta yang baru yang dapat menghapus cinta yang lama…”,tambahku.

Beberapa saat kemudian, Minjung melepas pelukanku. Ia lalu menatapku dalam.

“Kau akan menepati janjimu itu, kan?!”, tanyanya ragu.

Ne, trust me!! Aku akan menepati semua janji yang keluar dari mulutku…”, kataku yakin.

Geurae…”, ucapnya.

“M-Maksudmu…kau..mau…”

Ne, mulai hari ini aku tidak akan menganggapmu sebagai Choi Minho teman baikku, tetapi sebagai Choi Minho, namja yang mencintai Park Minjung…”, jelasnya. Aku langsung memeluknya erat, erat sekali.

“Ya! Katamu, kau ingin membuatkan istana pasir untukku. Apa sekarang kau masih ingin membuatnya??”, tanyanya di dalam pelukanku. Segera aku melepas pelukanku dan mengangguk cepat. Setelah itu aku segera membuatkan sebuah istana pasir untuknya.

Beberapa saat kemudian…

“Sudah jadi~~~”, teriakku riang.

Minjung segera berjalan menghampiriku dan istana pasir yang aku buatkan untuknya. Ia kemudian jongkok dan memperhatikan istana pasir buatanku.

“Minho-ya, ternyata kau berbakat juga menjadi tukang bangunan. Aku kira kau hanya bisa menjadi pemain bola dan penjaga toko…”, ucapnya lalu terkekeh. Aku lalu berjongkok disampingnya lalu mengacak-ngacak rambutnya.

“Istana pasir yang aku buat untukmu ini adalah istana pasir yang tidak bisa dihancurkan oleh apapun dan siapa pun. Walaupun ombak menerjangnya, istana ini akan menjadi istana yang kuat yang tidak akan pernah bisa runtuh. Istana yang akan membuatmu merasa nyaman…”, jelasku.

“Minho-ya…”, gumamnya tersipu.

You’re the one for me. Trust me…” balasku.

-Author’s POV-

Setelah mengucapkan kata-kata itu, kedua tangan Minho lalu merengkuh dagu Minjung. Perlahan, Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Minjung. Begitu pun Minjung, perlahan ia menutup kedua mata indahnya itu dan…

“YA!! ANAK MUDA, KALIAN SEDANG APA???”, seorang ahjussi berteriak di dekat mereka. Reflek, Minho dan Minjung menjauhkan tubuh mereka satu sama lain, keduanya lalu berdiri.

Aigoo~, kalian ini masih muda sudah berani melakukan hal itu, hah?!”, sesal ahjussi. “Kalian pulang sana, sebentar lagi orang-orang dari Dinas Pariwisata akan datang melihat tempat ini…”, usir ahjussi penjaga pantai.

Waeyo, ahjussi?? Kami masih ingin di pantai ini…”, tolak Minho.

“Huusssh…Sana-sana!! Kalian pulang saja…Saya mau membersihkan tempat ini..”, usir Ahjussi sambil mendorong-dorong tubuh Minho. Setelah Minho dan Minjung menjauh, ahjussi penjaga pantai merusak istana pasir buatan Minho sampai rata dengan pasir-pasir lainnya.

“Hancur lagi…”, gumam Minjung saat ia menoleh untuk melihat keadaan istana pasirnya.

Gwaenchana, aku sedang membuat istana pasir yang baru. Istana pasir yang benar-benar kuat!!”, kata Minho, tenang.

Jincca? Eodiya??”, tanya Minjung bingung karena ia sama sekali tidak melihat Minho membuat istana pasir yang baru untuknya.

“Di hatimu, jagiya~…”, ucap Minho membuat Minjung tersipu. (Author senyam-senyum sendiri ngebayangin Minho ngomong di adegan ini!! Ha13x)

Minho kemudian menggenggam tangan kiri Minjung erat.

“Aku akan menjagamu, Minjung-ah. Aku tak akan melepaskanmu. Aku janji!!!”, gumam Minho dalam hati.

-THE END \(^_^)/-

* = ‘One for Me’ chorus part in Indonesian translate. CMIIW..^^

Iklan

11 thoughts on “ONE FOR ME

  1. waah.. keren eon ! ^o^ akhirnya aq nemuin FF castnya Minho, soalnya jarang aq nemu Minho di FF ^^
    dan akhirnya cinta Minho terbalaskan, yay ! ^o^/ good job eon ! keep writing !

  2. uwaaa~~~ kerennnn bangettt feellnyaaa dapett
    sering2 ya buat ff castnya minho #plak! *ditimpuksendalauthor*

    Fighthing!!

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s