100 DAYS WITH YOU [OUR APPAS’ PROMISE-Chap.14]

100 DAYS WITH YOU [OUR APPAS’ PROMISE-Chap.14]

Rating                                  : PG-13

Genre                                   : Fluff, Friendship, Family

Length                                  : Multichpaters

Main Casts                          : Jinki/ Onew, Cho Junmi (OC) & Key

Supported Casts               : Kang Minsu (OC), Jang Charim (OC), Lee Daejin (OC), Cho Changjun (OC), Jonghyun, Minho, & Taemin.

@@@@@

-Still Jinki’s POV-

Aku berdiri dengan perasaan gelisah di depan kelasku. Sesekali aku mengintip suasana ujian yang tengah berlangsung di dalam. Aissh, kertas jawaban mereka semua sudah terisi beberapa nomor sedangkan aku belum ada sama sekali. Aku melihat jam tanganku, sudah 20 menit berlalu sejak aku dikeluarkan dari kelas. Aku menunduk lesu.

Tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah yang semakin mendekar ke arahku. Aku menoleh ke asal suara itu dan mendapati Tel…Eh, maksudku Junmi sedang berlari ke arahku.

“Mana kartu ujianku??”, tanyaku begitu ia tiba di hadapanku.

“Hhh…I-Ini…hhh”, ucapnya dengan nafas yang tersengal sambil memberikan kartu ujianku. Aku langsung menyambar benda itu.

Gomawo…”, ucapku lalu segera melangkah menuju pintu kelasku.

J-Jamkanman..!!”, serunya membuatku berhenti dan berbalik melihatnya.

“Ada apa lagi?”, tanyaku sedikit jengkel. Dia tidak tahu apa kalau aku harus segera  masuk dan mengerjakan ujian!?

Hwaiting…hehehe”, sahutnya lalu menyengir lebar. Aku tersenyum singkat.

Gomawo…”

Aku kembali melangkah memasuki ruang kelasku. Aku menghampiri dosen pengawas dan memperlihatkan kartu ujianku. Setelah itu, ia memberiku lembar soal dan jawaban dan menyuruhku duduk di bangku kosong yang berada di depannya. Hh…Gwaenchana. Aku sudah belajar tadi malam. Soal-soal ini pasti bisa aku kerjakan dengan baik. Jinki-ya, hwaiting!!!

-End Of Jinki’s POV-

Meanwhile…

Canteen

-Junmi’s POV-

Aku duduk di salah satu kursi sambil menikmati tteokbokki sebagai sarapanku. Aku melihat jam tanganku, hmph, masih 1,5 jam lagi. Aku kemudian membuka tasku untuk mengambil buku catatan sambil tetap mengunyah tteokbokki. Masih ada beberapa hal yang ingin kupelajari sebelum ujian nanti.

“Belajar?”, suara itu terdengar saat aku sedang asyik membaca bukuku. Aku mendongakkan kepalaku dan menatap wajah pemilik suara itu.

Ne, Oppa…”, jawabku singkat. Key Oppa terkekeh.

Baboya, kalau sebentar lagi ujian sebaiknya kau jangan belajar!! Biarkan otakmu itu merasa segar sebelum nanti harus berjuang saat ujian!!”, nasihat Key Oppa.

“Ya! Kalau tidak belajar sekarang, aku mana bisa menjawab soal ujian nanti!?”, protesku lalu kembali membaca bukuku. Tiba-tiba Key Oppa menarik bukuku ke hadapannya dan menutupnya.

Oppa-ya…”, gerutuku kesal sembari menatapnya sementara Key Oppa hanya memamerkan senyum manisnya itu. “Huh! Ya sudah…”, gumamku lagi lalu memalingkan wajahku ke arah lain.

“Oya, kenapa kau datang cepat?? Ujian berikutnya kan jam 10??”, tanya Key Oppa. Aku menoleh ke arahnya.

“Jinki lupa membawa kartu ujiannya dan dia menyuruhku untuk membawa kartunya. Karena itu aku datang cepat”, jawabku. “Oppa sendiri??”

“Aku sudah selesai ujian…”, jawabnya enteng. Aku terkejut.

Mwo? Kau menjawab soal-soal ujianmu hanya 30 menit?? Apa soalnya mudah??”, tanyaku dengan nada sedikit kaget.

Aniyo…Aku bebas final untuk mata kuliah yang diujiankan hari ini…”, jawabnya. Aku mengangguk pelan. Enak sekali dia, ada mata kuliahnya yang bebas final. Sedangkan aku? Semua harus mengikuti final. Aissh, menyebalkan!!

“Mm…Ngomong-ngomong ini hari ke berapa kau tinggal dengan Onew hyung??”, tanyanya lagi. Aku diam sejenak. Iya, ya?? Ini sudah hari ke berapa? Aku lupa menghitungnya karena sibuk mengerjakan tugas.

“Mm…Kalau tidak salah hari ini hari ke-90…ah, ini hari ke-93!!”, jawabku.

“Tinggal satu minggu lagi…”, celetuk Key Oppa membuatku terdiam. Ne, tinggal satu minggu lagi aku tinggal dengan Lee Jinki. Tidak terasa, 100 hari itu akan segera habis. Dan aku…aku belum mengatakan apa-apa pada namja itu.

“Junmi-ya, kenapa kau diam?”, tegur Key Oppa membuatku tersadar.

A-Aniyo, Oppa…”

“Kau…Kau sedih karena sebentar lagi kau tidak bisa tinggal dengan Onew hyung??”, tebak Key Oppa sembari menatap mataku.

“Eh? Ah…A-Aniyo. Aku hanya merasa waktu berlalu begitu cepat sampai-sampai aku tidak merasakan kalau 100 hari ini akan segera selesai. Itu saja…”, jawabku berbohong karena sejujurnya yang dikatakan Key Oppa benar.

Geurae…”, gumam Key Oppa kemudian.

Aku sedikit merasa bersalah pada Key Oppa. Aku sudah berkata bohong padanya. Tapi, kalau pun dia tahu, toh ini juga bukan hal yang penting untuknya. Hmph, Key Oppa, mianhae.

“Oya, kau masih ingin disini??”, tanya Key Oppa lagi. Aku mengangguk.

Geuraeyo. Aku mau pulang sekarang, ya~!?”, kata Key Oppa lalu berdiri dari duduknya. “Semoga ujianmu lancar, Telur Dadar…”, ujar Key Oppa sambil mengacak-acak rambutku.

Oppa!”, gumamku kesal. Key Oppa hanya membalasnya dengan senyum lalu berjalan meninggalkanku. Kedua mataku terus mengikutinya sampai ia benar-benar keluar dari kantin. Ah, dia namja yang baik. #dikasi uang sama Key Oppa…kekeke.

-End Of Junmi’s POV-

@@@@@

The 98th Day

After last examination

Chungwoon Reading Park

Ketiga yeoja terlihat di duduk membentuk lingkaran di atas rerumputan di taman baca Chungwoon University. Ketiganya tampak lega begitu menyelesaikan ujian terakhir mereka semester ini. Sambil menikmati snack yang mereka beli di kantin sebelumnya, mereka mulai membicarakan liburan yang akan dimulai besok.

“Kali ini kalian mau kemana??”, tanya Junmi pada Minsu dan Charim.

“Hh…Kalau aku tetap di Seoul. Tapi tidak tinggal di rumahku, aku disuruh tinggal di rumah haraboji-ku di Eunpyeong-gu.”,jawab Minsu dengan nada lesu.

“Oh…Haraboji-mu yang galak itu, kan!?”, celetuk Charim membuat Minsu menatapnya sinis.

“Ya! Walaupun galak, beliau tetap haraboji-ku…”, balas Minsu.

Mianhae…”, gumam Charim.

“Kalian sendiri??”, Minsu balik bertanya.

“Aku liburan di rumah Eonni-ku di Ulsan…”,jawab Charim. Minsu dan Charim pun menatap Junmi.

Neo?”, tanya mereka bersamaan.

“Aku harus menghabiskan 2 hari liburku di Dongjak-gu kemudian aku baru bisa kembali ke Yongsan-gu…”, jawabnya.

“Eh? Jadi kau dan Onew Oppa tinggal 2 hari lagi tinggal bersama??”, tanya Minsu. Junmi mengangguk pelan.

Ottokhae? Aku…Aku merasa tidak ingin berpisah dengannya…”, ujar Junmi lirih. Minsu dan Charim saling berpandangan satu sama lain lalu menatap Junmi.

“Kalau begitu cepat katakan kalau kau menyukainya. Dengan begitu, kalian tidak akan terpisah jauh. Bukankah kalian juga dijodohkan!? Harusnya kau tidak perlu sekhawatir ini…”, kata Minsu. Junmi menghela nafas pelan.

Ne, tapi perjanjiannya, kalau salah satu atau pun kami berdua tidak saling menyukai, maka perjodohan ini batal…tal..tal…”, jelas Junmi. “Dan pastinya, Jinki tidak mencintaiku…Dan itu artinya aku tidak punya harapan lagi.”, tambah Junmi.

“Ya! Darimana kau tahu kalau Onew Oppa tidak menyukaimu?”, tanya Charim sedikit bingung.

“Sudah jelas, kan!? Dia itu selalu memarahiku, selalu membuatku kesal dan masih banyak lagi. Semua itu sudah cukup membuktikan kalau dia tidak suka padaku…”, jawab Junmi. “Dari awal pun, dia memang terlihat tidak senang padaku. Mana mungkin dia punya perasaan yang sama sepertiku??”, tambah Junmi lagi. Kedua matanya berkaca-kaca.

“Junmi-ya…”, gumam Charim.

“Fuuh, sudahlah…Sejak awal aku tahu kalau kami memang tidak ditakdirkan bersama. Aku cari yang lain saja…”, ucapnya lalu menyeka air di sudut matanya.

“Yaa!!! Kenapa semudah itu kau mau mencari orang lain?? Semua yang kau katakan tadi belum tentu membuktikan kalau dia tidak suka padamu!! Kau harus berusaha dulu…!”, kata Minsu. “Kau harus mengatakan perasaanmu pada Onew!”, tegas Minsu.

“Tapi…”

“Junmi sayang…, kalau kau hanya berdiam diri seperti ini, kau tidak akan tahu apa-apa. Bisa saja kau mendapat keajaiban, Onew menyukaimu dan kalian berpacaran. Bisa saja, kan!?”, kata Minsu memberi semangat.

“Apa aku benar-benar harus mengatakannya?”

“Lebih baik kau katakan daripada nanti kau menyesal. Lagi pula kau harus ingat, sebentar lagi SHINee akan ke Jepang…”, ujar Minsu. Junmi menundukkan kepalanya.

“Aissh!! Waeyo? Kenapa saat aku menyukai seorang namja malah jadi seperti ini?? Padahal ini pertama kalinya aku jatuh cinta tapi terpaksa harus bertepuk sebelah tangan. Huh! Sial sekali nasibku!! Huhuhu.”, ujarnya dalam hati.

“Ya! Sebelum hari ke-100 itu tiba, kau harus mengatakan pada Onew kalau kau mencintainya”, tegas Minsu pada Junmi.

“Paling tidak sebelum mereka pergi ke Jepang…”, tambah Charim. Junmi menatap kedua wajah sahabatnya itu.

“Aku…Aku ingin menangis…”, ucapnya membuat Minsu dan Charim heran. Tidak lama setelah itu, Junmi benar-benar menangis. Ia menekuk kedua lututnya dan membenamkan kepalanya pada lututnya itu. Minsu dan Charim menjadi salah tingkah karena beberapa mahasiswa yang lewat di sekitar mereka melirik Junmi dengan tatapan aneh.

“Ya! Junmi-ya…Kau kenapa menangis disini? Uljima…!!”, kata Minsu yang semakin panic ketika makin banyak saja mahasiswa yang lewat di dekat mereka.

“Minsu-ya, Charim-ah, apa begini rasanya orang yang tidak bisa mengungkapkan cintanya?? Kenapa begitu menyakitkan?? A-Apa lagi sebentar lagi aku harus berpisah dengan namja itu…huhuhu. Waeyo? Padahal ini cinta pertamaku?? Kenapa cinta pertamaku malah seperti ini?? Huhuhu…Waeyo??”

Junmi bergumam sendiri disela tangisnya tanpa ia sadari, Key, telah duduk di dekatnya sejak tadi.

“Dia kenapa?”, desis Key. Minsu dan Charim hanya menggidikkan bahu sembari menggelengkan kepalanya.

“Huuaaa…Kenapa aku harus jatuh cinta pada si Gigi Kelinci?? Waeyoo??”, gumam Junmi yang masih tidak menyadari keberadaan Key didekatnya.

“Kau jatuh cinta pada Onew hyung??”, ucap Key terkejut. Junmi mendengar suaranya pun segera mendongak dan menoleh. Kedua matanya terbelalak ketika melihat Key berada didekatnya.

“O-Oppa, sejak kapan kau??”, tanyanya terkejut dengan suara serak. “K-Kalian kenapa tidak memberitahuku…”,protesnya pada Minsu dan Charim.

“Benar kau suka pada Onew hyung??”, tanya Key memastikan.

“Apa Oppa mendengar yang kukatakan tadi?”, Junmi malah bertanya balik. Key mengangguk.

“Hmph…Ne, aku suka pada Jinki”, ujar Junmi pasrah. “Tapi Oppa jangan katakan ini pada member SHINee manapun termasuk Jinki, arachi???”, pinta Junmi. Key diam.

“Bagaimana, ya!? Kalau tidak aku katakan, berarti aku bukan adik yang baik untuk Onew hyung…”

“Tapi kalau Oppa mengatakannya, Oppa bukan Oppa yang baik untukku!!”, potong Junmi cepat membuat Key terkejut.

“Ya! Kenapa bicaramu seperti itu??”, protes Key. “Geurae, aku tidak akan mengatakannya pada Onew hyung…”

“Hufft…Gomawo, Oppa…”, sahut Junmi lega.

“Jangan bernafas lega dulu, aku kesini mau mengatakan kalau malam ini kami mau membuat acara di rumahmu dan Onew hyung…”, sahut Key membuat ketiga yeoja disekitarnya bingung.

“Kami?”, Charim mewakili kedua temannya.

Ne, aku dan member SHINee lainnya…”

MWO??”, kata Junmi terkejut sambil menatap Key.

“Jangan khawatir. Kami tidak akan membuat rumah kalian hancur…”, kata Key tenang lalu beranjak meninggalkan Junmi, Minsu dan Charim.

Ottokhae?”, gumam Junmi.

@@@@@

At home

Dinner time

-Junmi’s POV-

Hari ini benar-benar hari yang sangat membingungkan untukku. Pertama, aku bingung tentang apa yang harus aku lakukan pada si Gigi Kelinci. Apa iya aku harus mengutarakan perasaanku padanya?? Tapi aku kan perempuan?? Kalau nanti ditolak kan malu. Dan yang kedua, aku masih tidak tahu kenapa member SHINee datang ke rumah ini untuk makan malam bersama??

“Junmi-ya, kenapa diam saja?? Ayo ambil makanannya…”, tegur Key Oppa yang duduk di sampingku. Aku melihat kelima namja disekitarku, mereka sudah mulai makan duluan =..=. Tiba-tiba Key Oppa mengambil mangkuk nasiku yang masih kosong. Ia kemudian menurunkan nasi ke dalam mangkukku dan menaruh sepotong kecil ayam di atasnya.

“Makan yang banyak!”, perintahnya.

“Ya! Kenapa kau mengambilkan makananan untuknya? Dia kan bukan anak kecil lagi!!”, protes Jinki. Cish, memang kenapa?? Key Oppa kan memang baik, tidak sama sepertimu. Aku menggumam dalam hati.

“Ya!! Hyung ini bagaimana?? Bukankah kalian sudah berteman? Kenapa masih ada protes segala?? Lagi pula kalian sebentar lagi akan menyelesaikan 100 hari perjanjian, baik-baiklah sedikit…!!”, kata Key Oppa membelaku. Dalam hati aku menyetujuinya. Ne, Jinki-ssi, baik-baiklah sedikit padaku!!

Aku melirik Jinki di hadapanku, ia tidak memperdulikan kata-kata Key Oppa. Aissh, jincca!! Dia masih tidak menyukaiku sama seperti pertama kali kami tinggal serumah. Sepertinya aku memang harus mempersiapkan diriku untuk menerima kenyataan bahwa cinta pertamaku terpaksa harus bertepuk sebelah tangan. Aku menghela nafas.

Gwaenchana??”, tanya Key Oppa. Aku menoleh padanya lalu menggeleng.

Kenapa Jinki tidak bisa bersikap seperti Key Oppa?? Seandainya dia bisa seperti Key Oppa, baik, hangat dan perhatian. Tapi dia? Dingin dan menyebalkan!! Untuk beberapa hal, dia cukup perhatian padaku. Aissh, kenapa sekarang aku malah membanding-bandingkan Key Oppa dan Jinki?? Jelas mereka berbeda!!

After dinner

Terrace

Aku duduk melantai di teras sendiri sambil menatap langit malam sambil mendengarkan lagu yang aku putar melalui HPku. Hmph, aku ingin menikmati hari-hari terakhirku di rumah ini. Rumah yang mempunyai banyak kenangan dalam sejarah hidupku. Aku masih ingat waktu pertama aku menapakkan kakiku di rumah ini. Hmm, aku sangat-sangat tidak menyukai rumah ini. Bahkan aku menjulukinya neraka…hahaha.

“PLUUKK!!”

“Aww…”

Aku mengaduh ketika seseorang melemparkan remasan kertas dan mengenai kepalaku. Aku meraih remasan kertas yang terpental di sampingku lalu menoleh dan hendak melemparkan kembali remasan kertas itu pada pemiliknya. Aku mengurungkan niatku begitu melihat siapa pemiliknya, Key Oppa.

“Apa yang kau lakukan disini??”, tanyanya lalu duduk di sampingku.

Aniyo…Hanya ingin menyendiri saja…”, jawabku sambil tetap memegang remasan kertas itu.

“Aku sudah mengatakannya pada Onew hyung”, ucap Key Oppa santai.

MWO??”, sahutku terkejut. Reflek aku melemparkan remasan kertas itu hingga mengenai kepalanya. Ia meringis.

Oppa-ya, kenapa kau melakukan itu?? Kau kan sudah janji padaku tadi kalau kau tidak akan mengatakannya pada siapapun termasuk Jinki. Kenapa kau melanggar janjimu?? Aissh, ottokhae??”, gerutuku panjang lebar sementara Key Oppa hanya tertawa kecil.

Gotcha!”, celetuknya membuatku heran. J-Jadi, dia hanya membohongiku??

“Ya!! Kau membohongiku!”, gerutuku. Key Oppa melanjutkan kembali tawanya yang sempat terputus. Cish!!

“Kenapa kau segitu takutnya?? Memang kenapa kalau Onew hyung tahu?? Justru bagus, kan??”, ujar Key Oppa setelah tawanya berhenti.

“Bagus apanya?? Pokoknya aku tidak mau kalau sampai dia tahu!!”, tegasku.

“Kalau kau segitu takutnya, kenapa kau tidak mencoba untuk mencari tahu seperti apa perasaan Onew hyung padamu?? Bisa saja Onew hyung juga punya perasaan yang sama…”, ucap Key Oppa membuat rasa percaya diriku sedikit naik.

“Ya! Apa Jinki tidak pernah cerita sedikit pun tentangku padamu? Mungkin saja dia pernah bercerita pada Oppa dan siapa tahu itu tanda kalau dia juga menyukaiku!!”,kataku bersemangat. Key Oppa diam, mencoba mengingat-ingat.

“Ah, dia pernah cerita…”,ucap Key Oppa menggantung.

Jeongmal? Cerita apa?”, tanyaku antusias. Ayolah…Cerita yang baik-baik.

“Dia pernah cerita kenapa dia memanggilmu dengan nama Telur Dadar!!”, jawab Key Oppa lalu menoleh padaku. Mwo?

“Hah!?”, aku kecewa mendengarnya. Kenapa dia malah cerita yang itu?? Menyebalkan!!

Waeyo? Kecewa?”, tanya Key Oppa.

“Tentu saja! Aku kira dia menceritakan hal lain…”

“Memang kau ingin dia cerita apa?”, tanya Key Oppa.

“Yaah…Misalnya, dia cerita bagaimana aku merawatnya waktu dia sakit. Atau bagaimana aku rela memotong waktu tidurku hanya untuk membawakan kartu ujiannya yang ketinggalan…”, kataku membuat Key Oppa tertawa keras.

“AHAHAHAHA…BABO!! Neomu babo!! Aissh, kau ini!! Jincca!!”, kata Key Oppa lalu mengacak-ngacak rambutku. Aku tertawa kecil. Ne, aku memang bodoh.

“EHEM!!”, suara deheman itu membuatku dan Key Oppa berhenti tertawa lalu menoleh ke asal suara. Terlihat Jinki dan member SHINee lainnya berdiri di depan pintu. Sepertinya, Jonghyun Oppa, Minho Oppa dan Taemin ingin mengajak Key Oppa pulang.

“Apa yang kalian lakukan disini?? Berisik sekali?”, tanya Jonghyun Oppa.

Aniyo…Kami hanya mengobrol biasa saja. Iya, kan, Junmi!?”, sahut Key Oppa. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, ayo kita pulang sekarang!!”, ajak Minho Oppa pada Key Oppa.

“Cepat sekali…”, gumam Key Oppa lalu berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya.

Beberapa saat kemudian, Jonghyun Oppa, Key Oppa, Minho Oppa dan Taemin pulang. Aku dan Jinki masih berdiri di teras sampai ke-4 namja itu masuk ke dalam taksi yang akan mengantar mereka ke rumah masing-masing. Setelah mereka benar-benar pulang, aku berbalik dan melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah. Tapi…

“Ya! Apa yang kau bicarakan dengan Key tadi??”, Jinki tiba-tiba bertanya padaku. Aku berhenti tanpa melihat ke arahnya yang berdiri di dekatku. Dan entah kenapa, jantungku tiba-tiba berdetak lebih keras. Ini pasti efek dari kata-kata Key Oppa yang mengerjaiku tadi. Baru mendengar suaranya saja aku jadi salting begini. Aissh!!

A-Aniyo. Hanya mengobrol biasa saja…”, jawabku lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah sebelum ia bertanya macam-macam lagi.

-End Of Junmi’s POV-

-Jinki’s POV-

Aku memandangi punggung anak itu sampai ia masuk ke dalam rumah. Hhh, akhir-akhir ini dia terlihat saaa~ngat aneh. Dia tiba-tiba terlihat salah tingkah kalau aku berada di dekatnya. Dasar yeoja aneh! Aku pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu, aku berjalan menuju kamarku.

Jinki’s room

Aku berbaring di atas tempat tidur sambil menggunakan kedua tanganku sebagai bantal. Aku menatap langit-langit kamarku. Hmmhp, dua hari lagi aku harus tinggal di rumah ini. Rumah yang membuatku menderita, tapi di sisi lain, rumah ini juga membuatku bahagia.

Hh, tempat ini juga jadi ‘arena’ perkelahian antara aku dan Junmi, yeoja yang dijodohkan denganku itu. Aku masih ingat saat aku terpaksa harus menggunakan gorden untuk turun dari lantai dua dan memanjat tangga kayu untuk naik kembali. Benar-benar kejadian yang tidak bisa aku lupakan.

Aku mengambil beranjak dari tempat tidurku kemudian menyalakan radio. Aku merasa malam ini sangat sepi karena si Tel…Eh, maksudku Junmi tidak menonton malam ini. Nah, aku baru ingat keanehan lain. Si penggila TV itu sudah tidak pernah menonton sejak kami pulang dari Jeju. Aneh, kan?? Padahal dia orang yang tidak pernah absen menonton TV sejak peraturan ‘wilayah kekuasaan’ yang kami buat tempo hari dihapus. Dia benar-benar semakin aneh!!

Oke, yeorebeun, ini lagu terakhir di program kita hari ini, Kim Ryeowook- Insomnia.Saya DJ Leeteuk pamit. Annyeong!”

Suara DJ yang baru saja menutup program radio yang ia bawakan terdengar begitu aku menyalakan radio.

I never thought that I’d fall in love, love, love, love

But it grew from a simple crush, crush, crush, crush

Being without you girl, I was all messed up, up, up, up

When you walked out, said that you’d had enough-nough-nough-nough

Intro lagu itu mulai terdengar. Aku kembali berbaring di atas tempat tidurku lalu memejamkan kedua mataku, mendengar dengan seksama lagu itu.

Because I can’t sleep till you’re next to me

No I can’t live without you no more

Oh I stay up till you’re next me

Till this house feels like it did before

Fells like insomnia ah ah~

Fells like insomnia ah ah~

Ah, I just can’t go to sleep

Cause it feels like I’ve fallen for you

It’s getting way to deep

And I know that it’s love

Aku masih memejamkan kedua mataku, berusaha untuk tidur, agar besok aku bisa lebih cepat membereskan barang-barangku. Cish, sejak tadi aku berusaha untuk tidur tapi tetap saja tidak bisa. Tiba-tiba saja kejadian beberapa waktu lalu terlintas di pikiranku. Kejadian saat Junmi dan Key berbicara berdua di teras.

Huh! Mereka selalu saja seperti itu. Selalu berdua, bermesraan seperti orang yang sedang pacaran. Padahal, tiap kali aku menanyai mereka tentang hal itu, mereka selalu bilang,” Kami tidak pacaran, kok!” atau semacamnya. Menyebalkan! Mereka berdua itu sangat menyebalkan!!

Aissh!! Kenapa aku malah memikirkan mereka?? Arrggh!! Key, Junmi! Kalian berdua menyebalkaaaaaaaaaaannnn!!!!!

The 99th Day

Still in Jinki’s room

10. 12 a.m

Besok adalah hari ke-100, hari dimana hasil dari 100 hari ini akan diketahui. Apakah perjodohan ini berlanjut atau dibatalkan. Hari ini aku mulai mengepak semua barang-barangku dan memasukkan baju-bajuku ke dalam koper. Dengan telaten aku mengeluarkan baju dari lemari dan menyusunnya di dalam koper. Aku kembali teringat suatu kejadian saat aku hendak memasukkan jaket putih yang dibelikan Junmi di Myeong-dong. Kejadian saat aku mencuri HPnya dan menukarnya denngan jaket putih ini. Hhh, dia belum tahu kalau sebenarnya aku yang mencuri HPnya itu. Aku tersenyum memandangi jaket itu lalu memasukkannya ke dalam koper.

-End Of Jinki’s POV-

-Junmi’s POV-

Junmi’s room

Aku duduk di kursi sambil menatap box dan koper yang tersusun di dalam kamarku. Box itu berisi semua benda-bendaku selama tinggal di rumah ini dan koper itu berisi semua pakaian-pakaianku. Sedih! Itu yang aku rasakan saat memandangi tumpukan box dan koper itu. Hhh, besok adalah hari terakhir. Rasanya…Rasanya begitu cepat berlalu. 100 hari ini…berakhir besok dan aku belum mengatakan apapun pada Jinki.

Aaa~, waeyo?? Kenapa perasaanku padanya harus berubah secepat ini?? Aku tidak mengerti kenapa rasa benci itu malah berubah menjadi cinta!! Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkaaaaaannnnn!!! Aissh, apa Tuhan sedang memberi karma padaku?? Karena dulu aku begitu membenci Jinki, sekarang aku malah…malah jatuh cinta padanya. Hhh, menyebalkan!

After dinner

Aku melangkah menaiki tangga menuju lantai dua sambil membawa nampan dengan 2 piring pancake  dan 2 gelas coklat hangat di atasnya. Aku berjalan perlahan mendekati kamar Jinki lalu mengetuk pintunya.

Lebih baik kau katakan daripada nanti kau menyesal.

Kata-kata Minsu itu yang membuatku memberanikan diri untuk menemui Jinki saat ini. Aku…harus…bisa…mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Jinki. Hmph, hwaiting!!

“Jinki-ssi, kau di dalam?”, tanyaku. Tidak ada jawaban. Namun sebuah suara nyanyian yang berasal dari beranda lantai dua membuatku sedikit terkejut. I-Itu suara Jinki. Kemudian, aku pun berjalan menuju beranda dan mendapati Jinki sedang duduk di kursi sambil memetik gitarnya. Ia terkejut dengan keberadaanku.

“Ada perlu apa?”, tanyanya langsung. Aku merasa jantungku kembali berdetak kencang. Ottokhae? Belum apa-apa aku sudah gugup begini! Aissh!

“A-Anu…I-Itu…Aku…Aku cuma mau membawakan ini.”,kataku lalu meletakkan nampan itu di atas meja yang berada di dekatnya. Ia melihat makanan yang berada di atas nampan itu sejenak kemudian menatapku yang masih berdiri di depan meja.

“Pancake?”, tanyanya. Terlihat sedikit gurat kebingungan di wajahnya. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku membawakan makanan ini untuknya.

Ne…”, ucapku singkat. Ia masih menatapku, meminta penjelasan lebih.

“A-Aku…Aku ingin kau mencoba pancake buatanku ini…”, kataku kemudian. Ia mengernyitkan dahinya, heran.

“Apa rasanya enak?”, tanyanya.

“Kalau menurutku sih, rasanya lumayan…”, jawabku lalu tersenyum simpul. Ayolah, makan saja! Jangan bertanya terus!!

“Kapan kau membuatnya?”, tanyanya lagi. Aissh!!

“Sore tadi…I-Ini resep yang diajarkan Key Oppa”, jawabku. Ia melirik pancake yang masih belum tersentuh itu! Ayolah, makan~~! Dan katakan kalau itu enak!!

-End Of Junmi’s POV-

-Jinki’s POV-

Key lagi! Key lagi! Sedikit-sedikit, KEY! Sebentar-sebentar, KEY! Apa-apa, KEY! Semuanya KEY! Aissh, kenapa dia selalu saja berkaitan dengan Key?? Apa dia suka pada Key?? Lalu kenapa dia membuatkan makanan ini untukku?? Huh, jangan-jangan mau pamer lagi! Memamerkan betapa Key hebat dalam segala hal!! Cish!!

“Ya! Waeyo? Apa kau tidak mau memakannya??”, tanyanya padaku. Aku kembali menatapnya. Hmph, sepertinya dia sangat ingin aku memakan pancake ini.

“Ini tidak ada racunnya, kan??”, tanyaku hanya untuk bercanda. Ia tersentak.

“Ya! Tentu saja tidak ada racunnya!! Memang kau pikir aku ini mau membunuhmu apa?? Aku juga tidak sejahat itu!!”, jawabnya panjang. Aku menghela nafas. Tangan kananku meraih garpu kecil kemudian memotong sedikit pancake itu lalu memasukkannya ke mulutku.

Otte?”, tanyanya antusias pada saat aku masih mengunyah pancake-nya itu.

“Lumayan…”, jawabku. Ia bernafas lega seolah jawaban yang aku berikan sangat sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia lalu duduk di kursi yang berada di dekatku.

“Syukurlah. Aku pikir tidak enak!!”, sahutnya.

“Oya, aku mau tanya, kenapa kau membuat pancake ini untukku?? Kenapa tidak aku buatkan untuk Key?”, tanyaku sembari menatapnya.

“Ah…I-Itu…Aku membuatnya sebagai tanda permintaan maaf karena aku pernah memasukkan obat pencahar ke minumanmu sampai-sampai kau jadi sakit beberapa hari…”, jawabnya gugup. Ia menundukkan kepalanya, takut melihatku. Hmph, jadi dia penyebab aku menjadi sakit waktu itu.

“Ya! Kenapa kau menurunkan obat pencahar waktu itu? Kau benar-benar ingin membunuhku??”, tanyaku dengan suara lantang sambil menatapku tajam.

“I-Itu karena salahmu juga! Kau kan yang mencuri HP-ku lalu menyuruhku menggantinya dengan jaket yang harganya menguras setengah isi dompetku waktu itu!!”, jelasnya dengan suara tak kalah lantang. Ah, ne, jaket itu. Eh, jamkanman! Dari mana dia tahu kalau aku yang melakukan semua itu?

“Y-Ya! Kau tahu dari mana kalau aku yang melakukan itu?? Apa Key yang mengatakannya??”, tanyaku curiga. Awas kau, Key!

Aniyo. Aku tahu waktu kau menyuruhku untuk bersembunyi di kamarmu. Kau meletakkan jaket itu di bawah bantal dan akku tidak sengaja menemukannya!!”, jelasnya. “Tentu saja aku jadi kesal!”, tambahnya.

GeuraeMianhae. Aku telah mencuri HP-mu dan meyuruhmu membeli jaket mahal untukku….”, kataku. Ia hanya mengangguk pelan.

“S-Sebenarnya…Aku ingin membuat ayam panggang! Tapi…Aku takut kalau nanti gagal lagi seperti waktu itu. Jadi aku buat pancake saja…”, ucapnya kemudian. Aku sedikit terkejut mendengarnya. Jadi, ayam gosong waktu itu dia buat untukku??

“J-Jadi…”

Ne, ayam panggang yang aku buat waktu itu sebenarnya aku buat untukmu. Kata Key Oppa, kau sangat menyukai ayam. Jadi aku ingin mencoba memasak ayam panggang. Sayang, hasilnya gagal!!”, ucapnya lalu menunduk pada saat ia mengatakan kata ‘gagal’.

Gwaenchana. Tidak usah diingat lagi. Pancake yang kau buatkan untukku ini pun rasanya cukup enak…”, hiburku. Ia menatapku sambil tersenyum.

“Ngomong-ngomong, malam ini seperti malam pengakuan dosa saja…”, sahutku.

Ne, kau benar.”, balasnya.

Hening. Aku dan Junmi tidak bicara lagi. Tiba-tiba Junmi berdiri dan berjalan menuju pagar beranda. Aku terus menatapnya. Ia memejamkan kedua matanya, membiarkan angin malam membelai wajahnya. Junmi.

-End Of Jinki’s POV-

-Back to Junmi’s POV-

Aku harus mengatakannya sekarang juga. Aku harus bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya sebelum besok tiba, sebelum Jinki mengatakan dia menolakku sebagai pengantin wanitanya kelak.

“J-Jinki-ssi…”, panggilku seraya menoleh padanya yang masih duduk di tempatnya, tidak beranjak sedikit pun.

Mwo?”, tanyanya sambil menatapku. Aku berusaha menenangkan diriku.

“A-Apa aku…Apa aku boleh tahu apa yang akan kau katakan pada Appamu besok??”, tanyaku. Aku malah mengikuti saran Key Oppa, mencari tahu bagaimana sebenranya perasaan Jinki padaku.

“M-Maksudmu?”, tanyanya bingung.

“Yaah…Aku ingin tahu apa yang ingin kau katakan besok. A-Apa kau m-menerima perjodohan ini??”, sahutku penuh keraguan. Ia diam sejenak.

“Kau akan tahu besok!”, ucapnya. Aku mulai merasa tidak enak. Aku yakin dia pasti menolak perjodohan ini. Ottokhae?? Huaa…Aku tidak mau hari ke-100 itu tiba!!

Neo?”, dia bertanya balik.

“Kau juga akan tahu besok…”, balasku lalu berlari meninggalkannya menuju kamarku. Aku bisa merasakan air mataku mengalir saat aku menuruni tangga dan berlari menuju kamarku. Waeyo? Kenapa aku harus mengalami hal ini??

-End Of Junmi’s POV-

@@@@@

The 100th Day

10.12 a.m

Guest room

Appa Junmi, Appa Jinki, Jinki dan Junmi telah duduk di sofa ruang tamu. Jinki dan Junmi duduk berdampingan, berhadapan dengan Appa mereka. Inilah saatnya mereka mengetahui hasil dari 100 hari Junmi dan Jinki tinggal di rumah yang sama.

“Seperti yang kami katakan saat pertama kali kalian tinggal disini, kami ingin mengetahui jawaban kalian setelah 100 hari. Dan kalian tahu, hari ini adalah hari ke-100 itu. Appa harap kalian memberikan jawaban seperti yang kami harapkan…”, Appa Jinki memulai pembicaraan. Junmi dan Jinki diam.

“Jinki-ya…Kau yang menjawab terlebih dahulu!”, sahut Appanya.

-Jinki’s POV-

Ah, kenapa aku yang harus menjawab pertama?? Appa ini bagaimana?? Membuatku anaknya sendiri susah!

“A-Aku…”

Apa yang harus aku katakan??

Ne?”

“Aku…Jawabanku masih sama, Appa. Aku menolak perjodohan ini. A-Aku sama sekali tidak mencintai Junmi. Sedikit pun perasaanku tidak berubah…”, ucapku lalu melirik ke arah Junmi. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang salah padaku dan pada Junmi saat aku melihatnya. Dia terlihat kecewa. A-Apa mungkin dia menyukaiku??

“Lalu kau Junmi?”, tanya Appanya. Aku menatapnya dari samping. Ia menatap wajah Appanya.

-End Of  Jinki’s POV-

-Junmi’s POV-

Benar! Ternyata dugaanku benar! Dia sama sekali tidak menyukaiku. Ia masih tetap membenciku. Hhh…Apa yang harus aku katakan sekarang?? Haruskah aku berbohong pada Appa dan Lee Ajussi?? Tapi kalau aku jujur, bagaimana dengan Jinki? Bagaimana dengan perjodohan ini? Hah, menyebalkan!

“Junmi-ya, otte?”, desak Appaku.

N-Nado. A-Aku juga t-tidak mencintai J-Jinki…”, ucapku akhirnya.

Rasanya aku ingin menangis sekarang juga. Aku telah membohongi diriku sendiri, membohongi Appa dan Lee Ajussi. Membohongi perasaan yang ada di hatiku ini. Ahh!

Beberapa saat kemudian

Aku, Appa, Jinki dan Lee Ajussi berdiri berada teras, bersiap untuk meninggalkan rumah ini. Bibi Nam telah lebih dulu meninggalkan rumah ini beberapa saat lalu. Lee Ajussi baru saja selesai mengunci pintu rumah ini.

“Hmm…Geurae, seperti perjanjian, perjodohan ini batal…”, kata Lee Ajussi seraya berjalan menghampiri aku, Appa dan Jinki.

Ne, ini seperti harapan kalian berdua, bukan?!”, sahut Appaku. Aku dan Jinki diam saja.

“Junmi-ya, apa ada yang ingin kau katakan pada Jinki sebelum kita pulang??”, tanya Appaku membuatku sedikit terkejut. Aku harus bilang apa??

N-Ne…”, ucapku singkat lalu berjalan menghampiri Jinki. “J-Jinki-ssi, senang bisa tinggal bersamamu…”, ucapku seraya menyodorkan tangan kananku, bermaksud untuk berjabat tangan dengannya.

Ne, n-nado…”, ucapnya seraya menjabat tanganku. Aku lalu tersenyum simpul, menahan air mataku yang rasanya ingin kutumpahkan sekarang.

“Jinki-ya, gomawo sudah menjaga Junmi selama ini…”, tambah Appaku.

Ne, Ajussi…”, balasnya. Aku berjalan kembali ke arah Appaku.

“Daejin-ah, Jinki-ya, kami duluan…”, kata Appa lalu berjalan menuju mobil sambil menarik koperku. Aku berjalan mengikuti Appa tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, menoleh ke arah Jinki. Hingga aku dan Appa naik ke mobil, aku hanya memandangi Jinki dari kaca spion. Good bye, Jinki. Good bye, my first love.

-End Of Junmi’s POV-

-Jinki’s POV-

Aku memandangi mobil berwarna biru itu yang perlahan melaju keluar dari halaman rumah. Hah, aku harusnya merasa senang hari ini. Aku tidak tinggal serumah lagi dengan Junmi. Tapi mengapa aku malah merasakan hal yang sebaliknya?? Kenapa aku merasa sedih? Hah!! Kenapa dengan diriku ini??

“Jinki-ya, ayo kita pulang juga…”, ajak Appaku. Aku mengangguk pelan.

Appa berjalan menuju mobilnya diikuti oleh aku yang berjalan di belakangnya. Aku berhenti sejenak kemudian memandangi rumah yang akan aku tinggalkan ini. Rumah yang penuh kenangan bersama yeoja paling menyebalkan sedunia, Junmi.

“Jinki-ya, ayo…”, ajak Appaku. Aku segera berjalan menuju mobil dan duduk di jok depan bersama Appa. Aku tidak henti memandangi rumah ini dari dalam mobil sampai mobil Appa keluar dari halamannya. Telur Dadar, good bye.

-TBC (^/\^)-

Iklan

9 thoughts on “100 DAYS WITH YOU [OUR APPAS’ PROMISE-Chap.14]

  1. huwaaaaa mereka berpisah , jangan dong ayooo jinki nyatakan perasaanmu pd junmi
    biar kalian bersatu dan tak terpisah 🙂

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s