100 DAYS WITH YOU [OUR APPA’S PROMISE-Chap.2]

100 DAYS WITH YOU [OUR APPA’S PROMISE-Chap.2]

Annyeong…^^

Mianhae, kali ini author agak sedikit telat nge-post FF. Maunya sih nge-post pagi, tapi berhubung lagi UAS, terpaksa nge-post malam. Gapapa, ya~…hehehe

Yaudah, semoga kalian suka lanjutan FF sebelumnya.

Happy read…^^

A/N: Di FF ni mungkin ada yang bikin reader kesel ma author (terutama reader yang MVP…hehehe). So, kalau mau marahin author, ya marahin aja. Apa lagi kalau MVP, gpp deh, soalnya yang jadi bulan-bulanan author di FF ini si bebeh Nyunyu…kekeke


Sirheo…!!!”, ucap Jinki dan Junmi bersamaan lagi. Mereka berdua saling bertatapan kemudian saling membuang muka.

-Jinki’s POV-

Hah?! Jadi karena perjodohan ini aku disuruh ikut?? Karena perjodohan ini aku disuruh tinggal di Korea?? Aigoo~, kalau aku tahu sejak dulu, aku akan menolak pindah ke Korea. Dan aku dijodohkan dengan yeoja ini?? Yeoja menjengkelkan yang pernah ada!! Kejadian waktu itu benar-benar membuatku kesal pada yeoja ini.

-Flashback-

Incheon International Airport

5 years ago

Aku baru saja tiba di Korea. Setelah turun dari pesawat dan mengambil barang-barang bawaanku, aku berjalan keluar area bandara untuk mencari taksi. Aku menoleh ke kanan dan kiri tapi tidak ada satu pun taksi yang kosong, semua sudah memiliki penumpang. Tidak lama kemudian dari kejauhan aku melihat sebuah taksi kosong menuju ke arahku. Saat taksi itu makin dekat, tiba-tiba ada seseorang yang menabrakku dari belakang.

“BRUKK…!!!”

Aku terjungkal di atas aspal. Seluruh isi tas kecil yang aku gunakan untuk menyimpan HP, dompet, I-Podku dan barang-barang kecil lainnya berhamburan.

“Mianhae…Mianhae…Aku tidak sengaja”, ucapnya sambil membungkuk berkali-kali lalu membantuku memungut barang-barang yang keluar dari tasku. 

Aku kemudian berdiri dan membersihkan kotoran yang melengket di bajuku. Ya Tuhan, aku baru pertama kali ke Korea tapi aku sudah sial begini?? Aissh, kalau bukan karena permintaan Otosan dan Okasan, aku tidak mau melanjutkan studiku di sini.

“Ini milikmu. Mianhae aku menabrakmu…Aku tidak sengaja”, ucapnya lalu menyerahkan tas milikku. Walaupun baru pertama di Korea, tapi sejak kecil Otosan sudah mengajariku sedikit-sedikit bahasa Korea sehingga aku tidak begitu kesulitan memahami apa yang dikatakan yeoja ini.

Setelah menyerahkan tasku, ia segera berlari menghampiri seorang namja yang tertawa melihat tingkah yeoja itu.

“Permisi Tuan, Anda mau kemana??”, suara supir taksi mengagetkanku. Aku segera masuk ke dalam taksi kemudian menunjukkan pada supirnya sebuah alamat yang ditulis Okasan di secarik kertas. Tak lama kemudian, supir mobil melajukan taksinya.

Hampir 15 menit perjalanan, akhirnya aku tiba di depan sebuah rumah yang kecil, memang cocok untuk dihuni hanya untuk satu orang. Inikah rumah yang disewa Okasan untuk aku tinggali sampai mereka menyusulku ke Korea?? Omo, bahkan kamarku di Jepang jauh lebih luas dari rumah ini.

Aku segera mengalihkan pandanganku dari rumah itu ke argo taksi. 15 ribu won. Aku segera membuka tas kecilku untuk mengambil dompet tapi…dompetku dimana?? Kenapa tidak ada di dalam tas ini?? Hanya HP, I-Pod, sapu tangan. Dompetku??

Hah!! Jangan-jangan dompetku diambil oleh yeoja itu. Aku yakin dia pasti sengaja tidak memasukkannya kedalam tasku. Ciih, pasti dia berkomplot dengan namja yang menertawakannya tadi.

“Tuan…Cepat bayar!!!”, perintah supir taksi. Aku harus bayar pakai apa??”

“Mm..Mi..anhae..Ahjussi. Dompetku hilang…”, kataku, gugup. Supir taksi ini pasti akan memarahiku.

“MWO?? Kau jangan mencari alasan!! Bilang saja kau tidak punya uang!!!”, bentaknya padaku.

“Ahjussi, dompetku benar-benar hilang…”, kataku memelas.

“Kalau begitu bayar pakai jam tanganmu saja!!”, kata Ajussi itu.

Dengan terpaksa aku memberikan jam tangan hadiah dari Okasan kepada supir taksi itu. Setelah itu, aku segera turun.

“Ya! Kalau kau tidak punya uang, sebaiknya jangan naik taksi…”, ucap supir taksi lalu meninggalkanku.

HUH!! Ini semua karena yeoja sialan itu. Awas saja, kalau suatu saat aku bertemu dengannya, aku akan minta ganti rugi!!

-End of Flashback-

-End of Jinki’s POV-

­­­-Junmi’s POV-

Huwaaa!!! Appa tega padaku!! Kenapa aku harus dijodohkan dengan namja galak ini?? Aissh, Appa benar-benar jahat!! Kenapa dia dan Lee Ajussi harus membuat perjanjian bodoh sepeti itu?? Dan kenapa harus aku yang kena?? Kenapa bukan Kyuhyun Oppa saja?! Huh!! Sama sekali aku tidak menyangka harus dijodohkan dengan namja ini. Gara-gara dia, aku jadi malu pada semua sunbae di kampus!!!

-Flashback-

Changwoon University

Ospek Mahasiswa Baru, 4 bulan yang lalu…

Aku dan mahasiswa-mahasiswa baru lainnya telah berbaris rapi di halaman Changwoon University. Seperti biasanya saat tahun ajaran baru, pasti semua MaBa akan merasakan OSPEK. Aissh, aku paling benci masa-masa ini. Para sunbae akan sesuka hatinya mengerjai kami, para hoobae.

“Ya!! Neo…!!”, tegur seorang sunbae padaku. Sunbae itu kemudian berdiri dihadapanku.

“Kau masih ingat aku??”, tanyanya membuatku bingung. Jangankan ingat, aku bahkan tidak mengenal sunbae ini.

“Aniyo…”, jawabku. Setelah itu ia marah-marah tidak jelas padaku dan memerintahku untuk melakukan hal-hal bodoh. Salah satunya, aku disuruh menyatakan cinta padanya di depan semua mahasiswa baru dan sunbaedeul. OMG…!!!

Dia segera menyeretku ke depan sehingga membuat seluruh maba dan sunbaedeul memperhatikanku.

“ada apa ini??”, tanya salah seorang rekannya sesama sunbae panitia OSPEK. Dia kemudian membisikkan sesuatu di telinga temannya itu dan tak lama temannya itu tersenyum mengerti.

“Ya! Cepat lakukan!!!”, perintahnya. Aku hanya diam saja. Aku melirik sekitarku. Aigoo…semua orang melihatku. Otte?? Bahkan Kyuhyun Oppa hanya mengeluarkan evil-laughnya saat melihatku dikerjai habis-habisan oleh temannya sesama panitia OSPEK. Huwaa…!!! Dia benar-benar Raja Iblis!!! Kejaaaaamm!!

“Ya!! Ppalli!!”, perintahnya. Aissh, otte??

“Ya!! Kau hanya perlu mengucapkan dua kata : sunbae saranghaeyo…”, tambahnya. Sunbae ini benar-benar menjengkelkan!!!

“S-Sunbae…Saranghae…”, ucapku pelan.

Tiba-tiba sunbae itu berteriak ,” Apa kalian mendengar apa yang dia ucapkan??”. Serempak semuanya menjawab ,”Aniyo!!!”

“Ulangi lebih keras!!!”, perintahnya. Ulangi?? Hah, yang tadi saja aku sudah mati-matian menahan rasa malu. Sekarang dia menyuruhku untuk mengucapkannya lebih keras?? Dia ini mengerjaiku atau dendam padaku, sih??

“SUNBAE SARANGHAEYO~~~”, teriakku diikuti koor “Woo” dari para ‘penonton’. Segera aku berlari ke barisanku sambil menundukkan kepalaku. Sunbae ini sepertinya benar-benar dendam padaku…!!! Dasar!! Aku kan tidak punya salah apa-apa padanya!! Huh!! Menjengkelkan.

-End Of Flashback-

-End Of Junmi’s POV-

Junmi dan Jinki saling meledek satu sama lain di depan kedua orang tua mereka sampai akhirnya Changjun menghentikan sikap kekanak-kanakan mereka.

“STOP!! Kalian jangan bersikap seperti itu. Pokoknya kalian berdua dijodohkan!! Karena itu kalian harus akur, arasseo??, tegas Changjun. Junmi dan Jinki saling pandang lagi lalu membuang muka.

@@@@@

Keesokan harinya…

Changwoon University, Canteen

Junmi duduk di salah satu kursi di dalam kantin. Kedua jempolnya dengan lincah menekan keypad  di HPnya. Sesekali ia menengok ke arah luar, siapa tahu Minsu atau Charim sudah datang ke kampus. Hari ini Junmi bangun lebih cepat dari biasanya sehingga dia pergi ke kampus 30 menit lebih awal dari biasanya.

“Ya!!”, suara seorang namja masuk ke telinga Junmi. Junmi mendongak dan ia mendapati Jinki berdiri di dekatnya. Tak lama kemudian, Jinki duduk di kursi yang berhadapan dengan Junmi.

Mwo??”, tanya Junmi dengan nada sedikit galak.

“Ya!! Aku kesini cuma mau bilang kalau sampai kapan pun aku tidak mau menikah denganmu!!!”, tegas Jinki.

“Kau pikir aku mau menikah dengan namja sepertimu, hah?! Cuiih…Tidak sudi!!!”, balas Junmi membuat Jinki sedikit kesal.

“Heh!! Baguslah kalau begitu!! Karena itu, kau harus mengatakan pada Appamu bahwa kau menolak perjodohan ini, arasseo??”, kata Jinki yang hendak beranjak dari tempatnya.

Ne…Akan aku katakan pada Appa bahwa aku tidak mau menikah dengan namja yang giginya seperti gigi kelinci!!!”, ledek Junmi lalu tersenyum sinis.

Mwo? Apa kau bilang?? Ne, aku juga akan mengatakan pada Appaku kalau aku tidak mau menikah dengan yeoja yang bodinya seperti telur dadar!!!”, balas Jinki lalu tersenyum menang.

Mwo? Telur dadar??”

Ne, te-lur-da-dar!!! Mana ada yeoja yang bodinya depan belakang rata semua!!”, jelas Jinki dengan nada mengejek membuat Junmi menggembungkan pipinya karena sebal.

“Oya?! Dan mana ada namja yang giginya besar-besar?? Aigoo, pasti kau yang paling banyak menghabiskan odol di rumahmu, kan!!!”, balas Junmi tidak mau kalah.

“Telur dadar!!”

“Gigi kelinci!!”

“Telur dadar!!”

“Gigi kelinci!!”

“Telur dadar!!”

“Gigi kelinci!!”

“STOOOPPP!!!!”, tiba-tiba sebuah suara menghentikan mereka. Ternyata pemilik suara itu tidak lain adalah pemilik kantin yang merasa terganggu dengan keberadaan Junmi dan Jinki.

Pemilik kantin segera mengusir Jinki dan Junmi. Setelah mereka keluar dari kantin, mereka masih saling mengejek sampai seseorang memanggil mereka berdua.

“Onew Hyung…!!!”, panggil Taemin yang tengah berjalan mendekati Jinki dan Junmi. Keduanya segera berhenti dan melihat ke arah Taemin.

“Apa yang kau lakukan dengan Junmi disini??”, tanya Taemin sambil memandang wajah Jinki dan Junmi bergantian. Jinki dan Junmi diam.

“aku ke kelas dulu…”, ucap Junmi mencoba menghindari pertanyaan Taemin. Taemin hanya mengangguk bingung.

“Ada apa, sih, hyung??”, Taemin bertanya pada Jinki.

“Aku juga mau ke kelas…”, kata Jinki lalu berjalan menuju kelasnya, meninggalkan Taemin yang masih berdiri di tempat dalam keadaan bingung.

@@@@@

Dinner

Cho Family’s house

Changjun dan istrinya telah duduk di meja makan menunggu Kyuhyun dan Junmi. Beberapa menit kemudian, Kyuhyun berjalan menghampiri meja makan. Segera ia menarik kursi dan duduk di atasnya.

“Mana dongsaengmu?? Kenapa dia tidak turun??”, tanya Changjun kepada Kyuhyun.

“Di kamarnya, Appa…”, jawab Kyuhyun sambil membalik piring makannya.

Changjun kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju lantai atas. Begitu ia tiba di depan pintu kamar Junmi, segera ia mengetuknya.

“Junmi-ya…”, panggilnya.

Tak lama kemudian, Junmi membuka pintu kamarnya. Raut wajahnya kusut seperti baju yang belum disetrika. Beberapa majalah dan bungkuksan snack tergeletak di lantai dan di atas tempat tidurnya. Junmi kemudian berjalan lalu duduk di tepi tempat tidurnya dan berpura-pura membaca salah satu majalah yang tergeletak di atas tempat tidurnya.

“Kau tidak makan??”, tanya Changjun.

“Aku sudah kenyang”, jawab Junmi singkat sambil membolak-balik lembaran majalah.

“Kau marah karena Appa menjodohkanmu dengan Jinki??”, tanya Changjun. Junmi tidak menjawab.

Changjun kemudian berjalan memasuki kamar Junmi lalu duduk di dekat Junmi. Changjun kemudian membelai rambut anak perempuannya itu.

“Junmi-ya…Kau marah pada Appa, hah??”, tanya Changjun lagi. Junmi masih tidak menjawab.

“Junmi-ya…”, panggil Changjun tapi tetap Junmi tidak menggubrisnya. Berkali-kali Changjun memanggil Junmi sampai akhirnya Junmi membuka mulut.

Ne, aku marah pada Appa!! Aku marah karena Appa menjodohkan dengan namja itu. Appa tidak tahu, kan?! Dia itu galak, dingin, sombong!! Kenapa Appa menjodohkanku dengan orang seperti dia?? Aku tidak mau Appa!!!”, kata Junmi. Changjun tersenyum.

Jincca?? Kau tahu darimana kalau Jinki orangnya seperti itu?? Kau sudah lama mengenalnya??”, tanya Changjun.

“A-Aku memang baru mengenalnya kemarin!! Tapi dia memang galak, Appa!! Waktu aku di OSPEK, dia yang paling sering mengerjaiku. Dia menyuruhku lari keliling lapangan, menyapu ruang kelas dan parahnya lagi, dia menyuruhku menyatakan cinta padanya di depan semua sunbae dan mahasiswa baru!! Aku benci orang itu, Appa!!!”, jawab Junmi. Changjun tersenyum lagi.

“Ya!! Kalau Appa lihat, Jinki bukan namja seperti itu. Appa lihat dia persis seperti Appanya, Daejin…”, ucap Changjun. “Appa yakin dia tidak seperti apa yang kau katakan tadi. Karena itu, Appa yakin dia cocok untukmu…”, tambah Changjun. Junmi mengerucutkan bibirnya.

“Hah, sudahlah. Appa tidak perlu membelanya. Gara-gara Appa, sekarang aku jadi lapar!!!”, kata Junmi lalu berjalan keluar kamarnya menuju lantai bawah. Changjun tersenyum melihat tingkah anaknya itu lalu beranjak menyusul Junmi ke lantai bawah.

Lee Family’s House

Daejin, Yukiko dan Jinki sedang menyantap makan malam masing-masing. Sejak tadi, Jinki makan dengan cepat. Suara garpu dan sendoknya yang bersentuhan dengan piring terdengar nyaring memenuhi ruang makan di rumahnya. Beberapa kali Yukiko memperingatkan Jinki untuk makan dengan pelan agar tidak tersedak tetapi Jinki tidak menghiraukan kata-kata Eommanya.

“Aku sudah selesai…”, ucap Jinki lalu meninggalkan meja makan. Tidak seperti biasanya dia meninggalkan meja makan sebelum Appa dan Eommanya selesai.

Yeobo, Jinki menjadi aneh…”, sahut Yukiko sembari memperhatikan Jinki yang berjalan menuju pintu depan.

Beberapa saat kemudian…

Setelah selesai makan malam, Daejin segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu depan. Ketika tiba di teras, Daejin mendapati Jinki sedang duduk bersandar di tiang yang menyangga balkon kamarnya di lantai atas. Jinki melihat Appanya sesaat lalu berpaling melihat ke arah lain.

“Jinki-ya…”, panggil Daejin. Jinki tidak menggubrisnya. Jinki merogoh saku celananya dan mengeluarkan HP miliknya. Jinki pura-pura sibuk dengan HPnya untuk menghindari Appanya.

“Ya!! JINKI-YA!!!”,bentak Daejin, akhirnya.

Mwo?? Kalau Appa ingin membicarakan tentang perjodohanku dengan yeoja itu, aku tidak tertarik!!”, balas Jinki sambil menatap wajah Appanya.

Waeyo? Kenapa kau tidak mau??”, tanya Daejin.

“Aku tidak mau karena aku tidak mencintainya. Aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak aku cintai, Appa. Lagi pula, dia itu menyebalkan!!”, jawab Jinki.

“Kalau suatu saat kau mencintainya dan dia bukan gadis menyebalkan, apa kau menikah dengan Junmi??”, tanya Daejin lagi membuat Jinki sedikit kesal.

“Hah!! Sampai kapan pun aku tidak akan jatuh cinta pada yeoja seperti dia, Appa!! Appa tahu, gara-gara dialah, aku jadi susah ketika pertama kali datang ke Korea. Karena dia menghilangkan dompetku, aku hampir seharian tidak makan!! Pokoknya dia itu menyebalkan dan aku tidak mau menikah dengan yeoja menyebalkan!!!”, jawab Jinki sedikit emosi.

Untuk beberapa saat Daejin terdiam. Dia teringat akan masa lalunya saat dia baru saja berkenalan dengan yeoja Jepang yang menjadi istrinya sekarang, Yukiko. Pada awalnya, Daejin dan Yukiko saling bermusuhan hingga akhirnya mereka berdua sama sekali tidak menyangka bahwa mereka berjodoh. Daejin tertawa kecil mengingat masa-masa itu.

Waeyo? Apanya yang lucu, Appa??”, tanya Jinki kesal.

AniyoAppa hanya teringat masa saat Appa baru berkenalan dengan Eommamu. Awalnya Appa juga membenci Eommamu. Apalagi dia sempat menjadi rival Appa saat kuliah. Tapi kau lihat sekarang, kan?? Kami berdua malah menjadi suami-istri…”, jelas Daejin.

“Ah, itu cuma kebetulan. Kali ini beda, Appa!!”, kata Jinki. “Dia bukan Eomma dan aku bukan Appa. Jadi, mana mungkin aku dan dia akan berakhir seperti Appa dan Eomma. Hah, itu tidak akan pernah terjadi!!”, tambah Jinki.

“Apanya yang beda?? Menurut Appa sama saja. Junmi itu tidak seperti yang kau pikirkan!! Appa yakin…”, balas Daejin berusaha meyakinkan putranya.

“Terserah Appa mau bilang apa. Tapi aku tidak akan pernah dan tidak akan mau dijodohkan dengan yeoja itu!!!”, tegas Jinki lalu beranjak masuk ke dalam rumah.

@@@@@

One week later…

Lunch time, Delicious Restaurant

Changjun dan Daejin duduk berhadapan di dalam restoran itu sambil mengobrol. Dua buah cangkir berisi kopi terhidang di hadapan mereka. Sesekali keduanya menyesap kopi masing-masing.

“Changjun-ah, otte?? Sepertinya kita harus membatalkan perjanjian kita dulu…”, kata Daejin.

Ne. Sepertinya kita memang harus membatalkan perjanjian itu. Junmi tidak mau dijodohkan dengan Jinki…”, kata Changjun. Keduanya menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.

“Sama, Jinki juga tidak mau dijodohkan dengan Junmi…”

“Kata Junmi, anakmu itu galak, makanya dia tidak mau…”, sahut Changjun. Daejin mengernyitkan dahinya.

Mwo? Jincca?? Jinki anakku tidak seperti itu!! Yah, dia akan galak kalau sedang marah…Tapi sebenarnya dia itu kalem untuk anak laki-laki…”, tepis Daejin. “Jinki juga mengatakan anakmu itu menyebalkan!! Sama sepertimu…hahahaha”, canda Daejin lalu menyesap kopinya.

Mwo?? Aku dan anakku tidak menyebalkan. Ceroboh, iya!! Hahaha”, keduanya tertawa.

“Hah!! Ternyata mereka berdua belum saling mengenal betul!!”, sahut Changjun diikuti anggukan Daejin.

“Dasar remaja!!”, tambah Changjun.

“Ya! Aku punya ide!!”, kata Daejin tiba-tiba. Changjun menatap wajah Daejin sesaat lalu menyesap kopinya.

Mwo?”, tanya Changjun penasaran.

Daejin segera berpindah tempat duduk di samping Changjun. Tak lama kemudian dia membisikkan sesuatu di telinga Changjun.

“Bagaimana?? Kau setuju??”, tanya Daejin.

“Asal kau mau mengatur semuanya, aku setuju-setuju saja!!”, jawab Changjun membuat Daejin tersenyum lega.

“Beres!! Kau serahkan saja padaku!!”, kata Daejin, yakin.

Geurae!! Aku serahkan padamu, Lee Daejin. Semoga rencana ini berhasil!!”, kata Changjun lalu menundukkan kepalanya kepada Daejin.

Ne…Gomawo atas kepercayaanmu, Cho Changjun”, balas Daejin lalu menundukkan kepalanya pula.

Setelah membayar makan siang, keduanya segera keluar restaurant menuju kantor masing-masing. Sepanjang perjalanan kembali ke kantornya, Daejin terus memikirkan rencana yang dia buat sendiri agar perjanjian yang ia lakukan dengan Changjun dulu bisa dilaksanakan.

­-TBC (^/\^)-

Iklan

19 thoughts on “100 DAYS WITH YOU [OUR APPA’S PROMISE-Chap.2]

  1. ah, ternyata permasalahan antara dua bocah Jun-Ji itu dijelasin’a disini toh??
    ckckckck,,
    ayo tuan Cho & tuan Lee, aq mendukung rencana apapun yg kalian buat.. #muncul tanduk dikepala 3:)

  2. sepertinya rencana yng akan dilakukan kedua appa itu akan merugikan jinki dan junmi
    Hahah sabar yaaaa jinki dan junmi , semua pasti akan indah kok akhirnya *soktau* hehe

  3. hmmm..fto siapa tuch dsmpng onew?kyk knl(kyk prnh lht dmnaaaa g2)*dpsr sntrl.bhaha
    #dlempar sandl ma noe.
    ok dtnggu crt slnjtx:)

.: A-Yo, Komen. A-Yo... A-Yo :.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s